Anda di halaman 1dari 21

Revisi

Referat

Prinsip Pelayanan Kesehatan Primer

Oleh :
Natasha Bharat Sindunata, S.Ked

Pembimbing :
DR. dr. H. Syamsul Arifin, M.Pd, DLP

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
Juli, 2019
DAFTAR ISI

Halaman Judul.......................................................................................................... i

Daftar Isi................................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN........................................................................................ 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Kesehatan Nasional.............................................................. 3

B. Pelayanan Kesehatan Primer ....................................................................... 5

C. Prinsip Dasar Pelayanan Kesehatan Primer....................................... 6

D. Implementasi PHC di Indonesia ...................................................... 12

BAB III KESIMPULAN .......................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 16

2
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Menurut peraturan presiden nomor 72 tahun 2012, menyatakan

bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) harus dilaksanakan secara

berjenjang di pusat dan daerah. SKN menjadi acuan dalam penyusunan

dan pelaksanaan pembangunan kesehatan dari kegiatan perencanaan

sampai dengan kegiatan monitoring dan evaluasi1

Sistim berjenjang yang dimaksud disini adalah masyrakat ke pelayanan

kesehatan primer lalu pelayanan sekunder dan terakhir ke pelayanan

tersier.

Pelayanan Kesehatan Primer atau Primary Health Care (PHC)

adalah pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada metode dan

teknologi praktis, ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik

oleh individu maupun keluarga dalam masyarakat melalui partisipasi

mereka sepenuhnya, serta dengan biaya yang dapat terjangkau oleh

masyarakat dan negara untuk memelihara setiap tingkat perkembangan

mereka dalam semangat untuk hidup mandiri dan menentukan nasib

sendiri. Pelayanan kesehatan primer juga sebagai “Gatekeeper”, sebagai

kontak pertama pada pelayanna kesehatan formal dan penapis rujukan.

1
2

Pelayanan kesehatan primer sendiri melingkupi Upaya Kesehatan

Masyarakat (UKM) dan Upaya kesehatan perorangan. Agar tujuan dari

pelayanan kesehatan primer berhasil maka dibuatlah beberapa prinsip

pelayanan kesehatan primer. Prinsip-prinsip inilah yang akan dibahas

lebih lanjut pada makalah ini.


3

BAB II

TINJAUAAN PUSTAKA

A. Sistem Kesehatan Nasional

Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah pengelolaan kesehatan yang

diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan

saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat

yang setinggi-tingginya. Sistim pelayanan kesehatan sendiri dibagi menjadi

dua Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan

Perseorangan (UKP) Pengelolaan kesehatan menurut SKN harus

dilaksanakan secara berjenjang.1


4

Gambar 2.1 Piramida Sistim Pelayanan Kesehatan

Sistim berjenjang dimulai dari :

a. Individu atau keluarga datang ke komunitas (masyarakat) contohnya ke

posyandu untuk dilakukan skrining kesehatan

b. Kemudian apabila masyarakat ada keluhan, maka akan dilanjutkan ke

pelayanan primer ( puskesmas dan pembantunya, praktek dokter umum,

klinik pratama, bidan)

c. Apabila masalah tidak dapat ditangani pada pelayanan primer, maka akan

dirujuk ke pelayanan sekunder (Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta

kelas C dan D, klinik spesialis, dan praktek dokter spesialis)

d. Apabila belum bisa ditangani pada pelayanan sekunder, maka akan

dirujuk ke pelayanan tersier ( Rumah Sakit Kelas A dan B, klinik

subspesialis, dan praktek dokter subspesialis).2

Sehingga berdasarkan jenjangan diatas, maka puskesmas sebagai “gatekeeper”,

sebagai kontak pertama pada pelayanan kesehatan formal dan penapis rujukan.

Gatekeeper Concept adalah konsep sistem pelayanan kesehatan dimana fasilitas

kesehatan tingkat pertama yang berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan

dasar berfungsi optimal sesuai standar kompetensinya dan memberikan pelayanan

kesehatan sesuai standar pelayanan medik.3


5

B. Pelayanan Kesehatan Primer

Pelayanan Kesehatan Primer atau Primary Health Care (PHC) adalah

pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada metode dan teknologi

praktis, ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh individu

maupun keluarga dalam masyarakat melalui partisipasi mereka sepenuhnya,

serta dengan biaya yang dapat terjangkau oleh masyarakat dan negara untuk

memelihara setiap tingkat perkembangan mereka dalam semangat untuk

hidup mandiri dan menentukan nasib sendiri.4

Pada tahun 1978, konferensi di Alma Ata menetapkan Primary Health

care (PHC) sebagai pendekatan atau strategi global untuk mencapai kesehatan

bagi semua (KBS) atau Health for All by The Tear 2000 (HFA 2000).

Menurut Deklarasi Alma Ata (1978) PHC adalah kontak pertama individu,

keluarga, atau masyarakat dengan sistem pelayanan. Pengertian ini sesuai

dengan definisi Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2009, yang

menyatakan bahwa Upaya Kesehatan Primer adalah upaya kesehatan dasar

dimana terjadi kontak pertama perorangan atau masyarakat dengan pelayanan

kesehatan.5

Pelayanan Kesehatan Primer di Indonesia menganut Gatekeeper.

Pelayanan Kesehatan primer sendiri dibagi menjadi dua yaitu Upaya

Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP),

yang termasuk pelayanan kesehatan UKP adalah puskesmas dan

pembantunya, praktek dokter umum, klinik pratama dan bidan. Sementara

yang termasuk sistim UKM adalah puskesmas dan pembantunya yang


6

dimiliki oleh pemerentah kota atau daerah setempatnya. UKP dan UKM ini

harus saling bekerjasama, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Pada tahun 2014

dimulai sistim Universal dan diberlakukan sistem rujukan secara nasionl.

Sistim rujukan dan rujukan balik nasional ini berdasarkan daftar diagnosis

yang terdaftar dalam pelayanan kesehatan online yang membantu dokter

untuk menentukan yang mana penyakit yang boleh dirujuk atau penyakit

yang harus ditangani di tingkat pertama. Terdapat 3 unsur utama yang

terkandung dalam pelayanan kesehatan primer (1) Mencakup upaya-upaya

dasar kesehatan (promotif,preventif, kuratif dan Rehabilitatif); (2) Melibatkan

Peran serta masyarakat; (3) Melibatkan kerjasama lintas sektoral. 2,5

C. Prinsip Pelayanan kesehatan Primer

Menurut Panduan Praktis Gatekeeper Concept Faskes BPJS Kesehatan,

Konsep Gatekeeper konsep sistem pelayanan kesehatan dimana fasilitas

kesehatan tingkat pertama yang berperan sebagai pemberi pelayanan

kesehatan dasar berfungsi optimal sesuai standar kompetensinya dan

memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar pelayanan medik.3

Fasilitas kesehatan tingkat pertama yang berfungsi optimal sebagai

gatekeeper biasanya akan memberikan iuran kualitas kesehatan yang lebih

baik kepada peserta, akan mengurangi beban negara dalam pembiayaan

kesehatan karena mampu menurunkan angka kesakitan dan mengurangi

kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan serta terdistribusi lebih besar

dibandingkan dengan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan sehingga akses

masyarakat terhadap pelayanan kesehatan lebih tinggi.3


7

Empat prinsip pokok Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama sebagai

Gatekeeper :

1. Kontak pertama pelayanan (First Contact)

2. Pelayanan berkelanjutan (Continuity)

3. Pelayanan paripurna (Comprehensiveness)

4. Koordinasi pelayanan (Coordination).3

First Contact

Fasilitas kesehatan tingkat pertama merupakan tempat pertama yang

dikunjungi peserta setiap kali mendapat masalah kesehatan. Pelayanan

Kesehatan Primer sebagai gatekeeper menjadi sangat penting sebagai kontak

pertama dan penapis rujukan. 3

Continuity

Hubungan fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan peserta dapat

berlangsung secara berkelanjutan/kontinyu sehingga penanganan penyakit

dapat berjalan optimal. 3

Implementasi continuity dengan cara, fasilitas kesehatan memiliki Family

folder atau informasi kesehatan per keluarga, dengan tujuan:

1) Pelayanan kesehatan berorientasi pada keluarga (family centeredness)

2) Pelayanan kesehatan menjadi lebih terfokus kepada peserta dan bukan

pada penyakit yang diderita. Keterlibatan pasien dalam pengambilan

keputusan akan membuat pelayanan lebih efektif


8

3) Fasilitas kesehatan lebih mengenal pasien secara individu dan keluarga

sehingga dokter lebih mudah mengetahui permasalahan dan penanganan

kesehatan

4) Fasilitas kesehatan dapat menjalankan program promotif dan preventif

yang lebih baik dan terfokus pada individu.3

Comprehensiveness

Fasilitas kesehatan tingkat pertama memberikan pelayanan yang

komprehensif terutama untuk pelayanan promotif dan preventif. Kementerian

Kesehatan sedang dalam proses melakukan Revitalisasi Puskesmas untuk

penetapan fungsi Puskesmas yang dapat menjawab arah kebijakan

pembangunan kesehatan yang mengutamakan promotif dan preventif dengan

tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.3,10

Sedangkan pendekatan pelaksanaannya melalui 3 level of prevention

yaitu health promotion and specific protection, early detection and prompt

treatment, serta rehabilitation and disability limitation. Pada tingkatan

Puskesmas level 1 dan 2 yang lebih dominan, dimana untuk level 3 tetap

dilaksanakan sesuai dengan kompetensi dan fungsi Puskesmas. Sehingga

perlu adanya dukungan pada tingkatan rujukan atau pelayanan sekunder,

dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Rumah Sakit.10

Coordination

Fasilitas kesehatan tingkat pertama melakukan koordinasi pelayanan

dengan penyelenggara kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan


9

kesehatan kepada peserta sesuai kebutuhannya. Dokter yang bertugas

berfungsi sebagai pengatur pelayanan (care manager)3

a. Koordinasi antar fasilitas kesehatan tingkat pertama

1) Fasilitas kesehatan Tingkat pertama dengan Jejaringnya, koordinasi

antara dokter dengan jejaringnya (dokter gigi, laboratorium, apotek,

bidan, perawat, paramedis maupun non medis lainnya) berfungsi dengan

optimal

2) Antar fasilitas kesehatan tingkat pertama satu dengan yang lain.3

b. Koordinasi fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan fasilitas kesehatan

rujukan.

Fasilitas kesehatan tingkat pertama melakukan koordinasi dengan dokter spesialis

di fasilitas kesehatan rujukan, petugas BPJS Kesehatan Center dan Kantor

Cabang /Kantor Operasional Kabupaten/ Kota BPJS Kesehatan setempat.3

D. Implementasi

PHC di Indonesia

Primary Health Care (PHC) diperkenalkan oleh World Health Organization

(WHO) sekitar tahun 70-an, dengan tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat
10

terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Di Indonesia, PHC memiliki 3

(tiga) strategi utama, yaitu :

1. Kerjasama multisektoral.

2. Partisipasi masyarakat.

3. Penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dengan pelaksanaan

di masyarakat.5

Menurut Deklarasi Alma Ata (1978) PHC adalah kontak pertama individu,

keluarga, atau masyarakat dengan sistem pelayanan. Pengertian ini sesuai dengan

definisi Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2009, yang menyatakan bahwa

Upaya Kesehatan Primer adalah upaya kesehatan dasar dimana terjadi kontak

pertama perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan. Dalam

mendukung strategi PHC yang pertama, Kementerian Kesehatan RI mengadopsi

nilai inklusif, yang merupakan salah satu dari 5 nilai yang harus diterapkan dalam

pelaksanaan pembangunan kesehatan, yaitu pro-rakyat, inklusif, responsif, efektif,

dan bersih.5

Tujuan atau goal dari Pelayanan kesehatan primer harus dicapai agar

dapat terjadi jangkauan universal. Agar tujuan tersebut tercapai maka ada 5

prinsip dasar pelayanan kesehatan primer :

1. Pemerataan upaya kesehatan

2. Penekanan pada upaya preventif

3. Menggunakan teknologi tepat guna

4. Melibatkan peran serta masyarakat

5. Melibatkan kerjasama Lintas sektoral. 6


11

1. Pemerataan Upaya Kesehatan

Distribusi perawatan kesehatan menurut prinsip ini yaitu perawatan

primer dan layanan lainnya untuk memenuhi masalah kesehatan utama dalam

masyarakat harus diberikan sama tiap individu. Hal ini juga bisa dilihat pada

Peraturan menteri Kesehatan nomor 75 tahun 2014 , Bab II pasal 3 nomor 5

yang menyatakan “Berdasarkan prinsip pemerataan sebagaimana pada ayat

(1) huruf d, Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang dapat

diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya secara

adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya dan

kepercayaan”. 6,7

Ada juga beberapa upaya yang dilakukan pemerintah untuk mendapatkan

pemerataan contohnya seperti upaya pemenuhan dan pemerataan fasilitas

kesehatan serta upaya pemenuhan dan pemerataan tenaga kesehatan.

a. Upaya pemenuhan dan pemerataan fasilitas

Pada Peraturan mentri Kesehatan nomor 75 bab III pasal 9, disebutkan

bahwa (1) Puskesmas harus didirikan pada setiap kecamatan, hal ini

membantu dalam penyebaran fasilitas kesehatan primer.

Nomor (2), dalam kondisi tertentu, pada satu kecamatan dapat didirikan

lebih dari satu puskesmas dan nomor (3) Kondisi tertentu ditetapkan

berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan, jumlah penduduk dan

aksebilitas. Hal ini akan membantu agar pemerataan fasilitas

kesehatan, akan disesuaikan dengan jumlah dan kepadatan penduduk

sehingga pelayanan faskes tingkat pertama di tempat tersebut memiliki


12

tanggungan yang kurang lebih sama dengan faskes tingkat pertama di

tempat lain.7,8

b. Upaya pemenuhan dan pemerataan Tenaga Kesehatan

Hal ini diatur juga pada Peraturan Mentri Kesehatan nomor 75 tahun 2014

pada pasal 16. Pada peraturan menteri Kesehatan diatur standar tenaga

minimal puskesmas, hal ini diharapkan agar faskes tingkat pertama

menyesuaikan standar tenaga minimal puskesmas sehingga terjadi

pemerataan dari tenaga Kesehatan di Indonesia.7,8

2. Penekanan Pada Upaya Preventif

Upaya preventif adalah upaya kesehatan yang meliputi segala usaha,

pekerjaan dan kegiatan memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan

dengan peran serta individu agar berperilaku sehat serta mencegah

berjangkitnya penyakit. Pada Peraturan Mentri Keshatan nomor 75 tahun

2014, terdapat prinsip penyelenggaraan yaitu paradigma sehat.6,7

Prinsip dari paradigma Sehat itu sendiri yaitu mengutamakan

promotif-preventif, dari 100% masyarakat terdpat 70% yang sehat dan

30% nya sakit. Masyarakat yang sehat bisa menjadi sakit dan akhirnya

presentase masyarakat yang sakit akan bertambah, maka darri itu

dilakukan lah promotif dan preventif untuk mencegah terjadinya kenaikan

presentase pada orang sakit. Kegiatan promotif dan preventif yang dapat

dilakukan adalah KIE dan Self care promosi Kesehatan. Fasilitas tingkat

pertama mempunyai peranan penting yaitu dengan membuat suatu fasilitas

untuk melakukan KIE dan Self care promosi kesehatan tersebut, contoh
13

dedngan UKMB Posyandu, Posyandu Lansia, Posbindu PTM, Polides,

dll.6

Pada faskes tingkat pertama pun terdapat Upaya Puskesmas, Upaya

Kesehatan masyarakat yang esensial meliputi Pelayanan Promosi

Kesehatan, Pelayanan Kesehatan Lingkungan, Pelayanan KIA-KB,

Pelayanan Gizi dan Pelayanan Pencegahan dan pengendalian penyakit, dan

ada juga upaya kesehatan masyarakat pengembangan, hal ini tergantung

dari kebutuhan faskes tingkat pertama. Upaya-upaya ini merupakan

beberapa contoh kegiatan puskesmas dalam melakukan program promotif-

preventif.7

3. Menggunakan Teknologi Tepat Guna

Teknologi tepat guna adalah Teknologi tepat guna adalah teknologi

yang didesain dengan mempertimbangkanaspek lingkungan, etik budaya,

sosial dan ekonomi bagi komunitas. Ciri-ciri teknologi adalah "(1) mudah

diterapkan; (2) mudah dimodifikasi; (3) untuk kegiatanskala kecil; (4)

padat karya; (5) sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat; (6)

bersumber dari nilai tradisional; (7) adaptif terhadap perubahan

lingkungan. Menurut peraturan mentri kesehatan nomor 75 tahun 2014

pada pasal 3 nomor 6 menyatakan puskesmas menyelenggarakan

pelayanan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang

sesuai dengan kebutuhan pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak

berdampak buruk bagi lingkungan.7


14

Hal mengenai teknologi tepat guna ini diatur dalam ruang pelayanan

dan alat kesehatan di puskesmas. Setiap ruangan di puskesmas memiliki

alat kesehatan yang wajib di masing-masing tempat.6

Tabel 2.2 Tabel Ruangan di puskesmas dan Alat Kesehatan yang wajib ada

di masing-masing ruangan

4. Melibatkan peran serta masyarakat

Partisipasi masyarakat adalah proses dimana individu dan keluarga

bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri dan orang-orang di

sekitar mereka dan mengembangkan kapasitas untuk berkontribusi dalam

pengembangan masyarkat. Partisipasi lebih mudah di tingkat lingkungan

atau desa karena masalah heterogenitas yang minim.

Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat

musyawarah, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan

masyarakat, agar mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi, potensi

yang dimiliki, merencanakan dan melakukan penyelesaiannya dengan

memanfaatkan potensi masyarakat setempat. Kegiatan yang dapat


15

melibatkan masyarakat dalam penanggulangan krisis kesehatan, antara

lain: 9

a. Peningkatan Kesadaran masyarakat.

Membantu menyebarkan informasi, membantu membuat kajian tentang

kesehatan, menyusun rencana pengurangan risiko kesehatan

b. Pengembangan Kemampuan masyarakat.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara melatih kader, memberi orientasi dan

sosialisasi pada tokoh formal, menyelenggarakan pelatihan

pengurangan risiko kesehatan, melatih kepala desa/ lurah

c. Pengorganisasian masyarakat

Menguatkan dan memperkya kelompok yang sudah ada berkaitan dengan

penanggulanga krisis kesehatan, menggalang relawan, membuat forum

pengurangan risiko kesehata, atau bergabung dalam forum yang sudah

ada

d. Peningkatan upaya advokasi dalam rangka mendukung masyarakat

engurangi risiko krisis kesehatan

e. Penggalangan Kemitraan dan partisipasi lintas sektor terkait, swasta,

dunia usaha dan pemangku kepentingan

f. Peningkatan pemanfaatan potensi dan dumber daya berbasis kearifan

lokal baik dana dan tenaga serta budaya.9

5. Melibatkan Kerjasama Lintas Sektoral


16

Kesehatan tidak dapat diperbaiki oleh intervensi hanya dalam sektor

kesehatan formal, sektor lainnya juga sama pentingnya dalam

mempromosikan kesehatan dan kemandirian masyarakat.

Sebagian dari masalah kesehatan adalah merupakan masalah nasional

yang tidak dapat terlepas dari berbagai kebijakan dari sector lain sehingga

upaya ini harus sacara strategis melibatkan sector terkait. Isu utama

tersebut adalah bagaimana upaya meningkatkan kerjasama lintas sector

yang lebih efektif karena kerjasama lintas sector dalam pembangunan

kesehatan selama ini sering kurang berhasil, banyak program nasional

yang terkait dengan kesehatan, tetapi pada akhirnya tidak atau kurang

berwawasn kesehatan.

Pembangunan kesehatan yang dijalankan selama ini hasilnya belum

optimal karena kurangnya dukungan lintas sektor. Sebagian dari masalah

kesehatan terutama lingkungan dan prilaku berkaitan erat dengan berbagai

kebijaksanaan maupun pelaksanaan program disektor lain. Untuk itu

diperlukan pendekatan lintas sector yang sangat baik, agar sector terkait

dapat selalu mempertimbangkan kesehatan masyarakat. Untuk

mengoptimalkan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan, diperlukan

kerja sama lintas sektor yang mantap. Demikian pula optimalisasi

pembangunan kesehatan yang mendukung tercapainya tujuan

pembangunan kesehatan, menuntut adanya penggalangan kemitraan lintas

sektor dan segenap potensi bangsa. Kebijakan dan pelaksanaan

pembangunan sektor lain perlu memperhatikan dampak dan mendukung


17

keberhasilan pembangunan kesehatan. Untuk itu upaya sosialisasi

masalah-masalah dan upaya pembangunan kesehatan kepada sektor lain

perlu dilakukan secara intensif dan berkesinambungan. Kerja sama lintas

sektor harus dilakukan sejak perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan

dan pengendalian, sampai pada pengawasandan penilaiannya

BAB III

KESIMPULAN

Fasilitas Kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan

untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik promotif,

preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah,

Pemerintah Daerah, dan/atau Masyarakat. Fasilitas kesehatan berupa Fasilitas

Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan.

Primary Health Care ( PHC ) adalah pelayanan kesehatan pokok yang

berdasarkan kepada metode dan teknologi praktis, ilmiah dan sosial yang dapat

diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga dalam masyarakat

melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta dengan biaya yang dapat terjangkau
18

oleh masyarakat dan negara untuk memelihara setiap tingkat perkembangan

mereka dalam semangat untuk hidup mandiri (self reliance) dan menentukan nasib

sendiri (self determination).

Primary Health Care ini memiliki prinsip dalam terselenggaranya program

PHC ini, yakni : (a) Pemerataan upaya kesehatan; (b) Penekanan pada upaya

prefentif; (c) Penggunaan teknologi tepat guna dalam upaya kesehatan; (d) Peran

serta masyarakat dalam semangat kemandirian; dan (e) Kerjasama lintas sektoral

dalam membangun kesehatan.


DAFTAR PUSTAKA

1. Presiden RI. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun


2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta : Lembaran Negara RI;
2012.

2. Claramita M, Syah NA, Ekawati FM, et al. Primary health care systems
(PRIMASYS): case study from Indonesia, abridged version. Geneva:
World Health Organization; 2017

3. BPJS. Panduan Praktis Gatekeeper Concept Faskes BPJS Kesehatan.


Jakarta: BPJS.

4. World Health Organization. A Vision for Primary Health Care in the 21st
Century Towards Universal Health Coverage and The Sustainable Goals.
Kazakhstan: World Health Organization, 2018.

5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Implementasi Primary Health


Care di Indonesia. Jakarta: DepartemenKesehatan, 2011.

6. Mentri Kesehatan RI. Buku Saku Permenkes Nomor 75 Tahun 2014


Tentang Puskesmas. Jakarta : 2014.

7. Menteri Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
Menteri Kesehatan RI; 2014.

8. Menteri Kesehatan RI. Strategi dan Kebijakan Kementrian Kesehatan


Menuju Universal Coverage dan Pemenuhan Serta Pemerataan Fasilitas
dan Tenaga Kesehatan. Jakarta: Menteri Kesehatan RI, 2011.

9. Menteri Kesehatan RI. Pedoman Pemberdayaan Masyarakat dalam


Penanggulangan Krisis Kesehatan. Jakarta : Menteri Kesehatan RI, 2015.

10. Menteri Kesehatan RI. Pembangunan Kesehatan Berbasis Preventif dan


Promotif. Jakarta: Menteri Kesehatan RI, 2010

16