Anda di halaman 1dari 37

Nilai :

Tanda tangan :

LAPORAN KASUS
APPENDISITIS AKUT

Disusun Oleh :
Fitriani Rahmawati
03014072

Pembimbing :
dr. Tjatur Budi W, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA DR. ESNAWAN ANTARIKSA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA
PERIODE 10 JUNI – 17 AGUSTUS 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Presentasi Kasus yang berjudul:


“APPENDISITIS AKUT”

Yang disusun oleh

Fitriani Rahmawati

030.14.072

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing:

dr. Tjatur Budi W, Sp.B

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan
Antariksa

Periode 10 Juni – 17 Agustus 2019

Jakarta, Juli 2019

Pembimbing

dr. Tjatur Budi W, Sp.B

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
presentasi kasus yang berjudul "Appendisitis Akut” dengan baik dan tepat waktu.
Presentasi kasus ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan
pendidikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Angkatan Udara Dr.
Esnawan Antariksa.

Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada dr. Tjatur


Budi W, Sp.B sebagai pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan
pikirannya untuk memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi kepada penulis.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan rekan-rekan sejawat
yang telah memberikan dukungan, saran, dan kritik yang membangun.
Keberhasilan penyusunan laporan kasus ini tidak akan tercapai tanpa adanya
bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak-pihak tersebut.

Jakarta, Juli 2019

Fitriani Rahmawati

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Apendisitis Akut adalah inflamasi pada dari vermiform appendiks dan ini
merupakan kasus operasi intraabdominal tersering yang memerlukan tindakan
bedah. Penyebab pasti dari appendisitis belum diketahui pasti.1
Apendisitis akut merupakan radang bakteri yang dicetuskan berbagai
faktor, diantaranya adalah hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks dan
cacing ascaris dapat juga menimbulkan penyumbatan. Insiden apendisitis akut
lebih tinggi pada negara maju dibandingkan dengan negara berkembang. Namun
dalam tiga sampai empat tahun terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100
kasus tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini
mungkin disebabkan oleh perubahan pola makan.2
Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun.3
Semua kasus appendisitis memerlukan tindakan pengangkatan dari
appendix yang terinflamasi, baik dengan appendiktomi, laparotomi maupun
dengan laparoscopy. Apabila tidak dilakukan tindakan pengobatan, maka angka
kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena peritonitis dan shock. Reginald
Fitz pada tahun 1886 adalah orang pertama yang menjelaskan bahwa appendisitis
akut merupakan salah satu penyebab utama terjadinya akut abdomen di seluruh
dunia.4

1
BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ety Haryati
Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 01 Juli 1978
Usia : 41 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : TNI AU
Status Pernikahan : Menikah
Pendidikan Terakhir : D3
Alamat : Jl. Menteng Bodas Tengah No. 8
RT 008/RW 006
Kelurahan Pasarmanggis
Kecamatan Setiabudi
Jakarta Selatan
Nomor Rekam Medik : 012106
Tanggal Masuk RS : 03 Juli 2019 ; 21.15 WIB

B. ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis di IGD RS Angkatan Udara Dr. Esnawan
Antariksa pada tanggal 03 Juli 2019 pukul 21.15 WIB.
Keluhan Utama :
Nyeri di daerah perut kanan bawah sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Keluhan Tambahan :
Mual, muntah, bab cair, nafsu makan menurun
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RS Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa dengan
keluhan nyeri di daerah perut kanan bawah sejak 1 hari sebelum masuk

2
rumah sakit. Nyeri perut dirasakan awalnya samar-samar, mula-mula nyeri
dirasakan daerah ulu hati kemudian semakin nyeri di daerah perut kanan
bawah seperti ditusuk-tusuk. Nyeri semakin lama dirasakan semakin tajam.
Semakin diperberat dengan posisi tidur miring, menekuk kaki, dan berjalan.
Pasien juga mengeluh mual dan muntah. Muntah dalam sehari sudah lebih
dari tiga kali berisi air dan makanan. Kemudian pasien mengeluh BAB cair
sejak pagi sebelum masuk rumah sakit kurang lebih sudah 5 kali, ampas (+),
lendir (-), darah (-). Perut pasien terasa mules. Nafsu makan pasien menjadi
menurun. BAK tidak ada keluhan. Demam disangkal oleh pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat nyeri di daerah perut kanan bawah sebelumnya disangkal oleh
pasien. Riwayat penyakit asma (+), hipertensi (-), diabetes melitus (-).
Riwayat operasi sebelumnya disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien menyangkal anggota keluarga yang mengalami penyakit serupa.
Riwayat diabetes mellitus, penyakit jantung dan hipertensi keluarga juga
disangkal oleh pasien. Riwayat penyakit asma (+).

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 147/103 mmHg
Nadi : 100 x/menit, regular, kuat, isi cukup
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,5°C
SpO2 : 98%

Status Generalis :
Kepala : Normochephali
Rambut : Hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut

3
Mata : Pupil bulat, isokor 3mm/3mm, Konjungtiva
anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya
tidak langsung +/+
Hidung : Sekret (-), darah (-), hipertrofi concha (-)
Mulut : Kering (-), sianosis (-)
Tenggorokan : T1/T1, arcus faring hiperemis (-)
Leher :Tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah
bening dan tiroid
Thorax :
Paru-paru depan belakang
Inspeksi : Simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis,
tidak ada bagian dada yang tertinggal, tidak tampak retraksi sela iga
Palpasi : Vocal fremitus kanan kiri teraba sama kuat, nyeri
tekan (-), benjolan (-)
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing
(-/-)
Cor
Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba pada ICS V, linea
midclavicularis kiri
Perkusi :
Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra
Batas atas : ICS II linea sternalis sinistra
Batas kiri : ICS V 1/3 lateral dari linea
midclavicularis sinistra
Batas bawah : ICS VI linea midclavicularis
sinistra
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

4
Abdomen
Inspeksi : Bentuk perut buncit, warna kulit sawo matang,
benjolan (-), bekas operasi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal 5x per menit
Palpasi : Supel, defens muskular (-), nyeri tekan daerah
McBurney (+), Rovsing’s sign (-), nyeri lepas Blumberg (-), massa (-),
undulasi (-), Psoas sign (-), Obturator sign (+), nyeri ketok CVA (-), nyeri
tekan daerah epigastrium (+)
Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen, ascites (-)
Ekstremitas : Akral hangat (+), oedem (-), CRT <3”

D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
NILAI
HASIL SATUAN
PEMERIKSAAN RUJUKAN

HEMATOLOGI
13,2 g/dl 14,0-18,0
Hemoglobin
16 10˄3/uL 5,0-10,0
Leukosit
41 % 40-52%
Hematokrit
338 mm3 150-440
Trombosit
ribu/mm3
3 Menit 1-3 menit
Waktu Perdarahan
5 Menit 1-7 menit
Waktu Pembekuan

URINALISA

Negatif Negatif
Protein

5
Reduksi Positif ++ Negatif

Bilirubin Negatif Negatif

Urobilin Positif Positif

Leukosit 8-10 /LBP 1-5/LBP

Eritrosit 0-1 /LBP 0-1/LBP

Silinder Negatif Negatif

Epitel Positif ++ Positif

Kristal Negatif Negatif

KIMIA

Glukosa sewaktu 184 mg/dl <120 mg/dl

E. RESUME
Pasien datang ke IGD RS Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa dengan
keluhan nyeri di daerah perut kanan bawah sejak 1 hari sebelum masuk
rumah sakit. Nyeri perut dirasakan awalnya samar-samar, mula-mula nyeri
dirasakan daerah ulu hati kemudian semakin nyeri di daerah perut kanan
bawah seperti ditusuk-tusuk. Nyeri semakin lama dirasakan semakin tajam.
Semakin diperberat dengan posisi tidur miring, menekuk kaki, dan berjalan.
Pasien juga mengeluh mual dan muntah. Muntah dalam sehari sudah lebih
dari tiga kali berisi air dan makanan. Kemudian pasien mengeluh BAB cair
sejak pagi sebelum masuk rumah sakit kurang lebih sudah 5 kali, ampas (+),

6
lendir (-), darah (-). Perut pasien terasa mules. Nafsu makan pasien menjadi
menurun. BAK tidak ada keluhan. Demam disangkal oleh pasien.

Pada pemeriksaan didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang,


kesadaran compos mentis. Tekanan darah 147/103 mmHg, nadi 100
x/menit, regular, kuat, isi cukup, pernapasan 20 x/menit, suhu 36,5°C, spO2
98%. Pada pemeriksaan status generalis dari kepala, mata, hidung, leher,
thorax dan ekstremitas dalam batas normal.
Pemeriksaan abdomen didapatkan bentuk perut buncit, warna kulit sawo
matang, bising usus (+) normal 5x per menit. Pada pemeriksaan palpasi
didapatkan supel, nyeri tekan daerah McBurney (+), rovsing’s sign (-), nyeri
lepas blumberg (-), psoas sign (-), obturator sign (+), nyeri tekan daerah
epigastrium (+).

Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan hasil leukosit 16.000 mm3.


Hemoglobin, hematokrit, trombosit dalam batas normal. Pada pemeriksaan
urinalisa reduksi positif ++, leukosit 8-10/LBP, dan epitel positif ++.

F. DIAGNOSA KERJA
Appendisitis Akut

Dasar diagnosa ( Alvarado Score ) :

7
G. DIAGNOSA BANDING
Kolesistitis Akut
Pankreatitis

H. PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan hitung jenis
Pemeriksaan USG abdomen

I. TATALAKSANA
Medika mentosa :
Puasakan
Antiemetik
Antibiotik preop
Non medika mentosa :
Edukasi kepada pasien mengenai indikasi dan kemungkinan tindakan
operasi yang harus dilakukan
Rujuk ke spesialis bedah umum agar segera dilakukan tindakan sesuai
kondisi pasien

J. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

1. ANATOMI
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10cm
(kisaran 3- 15cm), dan berpangkal di caecum. Lumennya sempit di bagian
proksimal dan melebar di bagian distal. Pada 65% kasus, apendiks terletak
intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang
geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada
kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang
caecum, di belakang colon ascendens, atau di tepi lateral colon ascendens.
Gejala klinis appendicitis ditentukan oleh letak apendiks.

Gambar 1. Anatomi appendix

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti


a.mesenterica superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis
berasal dari n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada appendisitis
bermula di sekitar umbilicus. Pendarahan apendiks berasal dari

9
a.apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini
tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi apendiks akan
mengalami gangren.5

2. FISIOLOGI
Apendiks merupakan suatu jaringan limfoid. Jaringan limfoid adalah
jaringan yang memproduksi, menyimpan atau memproses limfosit.
Apendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per hari, yang dikeluarkan
ke dalam lumen dan mengalir ke sekum. Imunoglobulin yang dihasilkan
oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang
saluran cerna termasuk apendiks ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif
sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan
apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan
limfoid disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran
cerna dan di seluruh tubuh. 6

3. HISTOLOGI
Gambaran mikroskopos appendix vermiformis secara struktural mirip
kolon. Terdapat empat lapisan yaitu mukosa, submukosa, tunika muskularis
dan tunika serosa. Terdapat beberapa kesamaan antara mukosa appendix
dan kolon yaitu epitel pelapis dengan banyak sel goblet; lamina propria
dibawahnya yang mengandung kelenjar intestinal (kripti lieberkuhn) dan
mukosa muskularis. Kelenjar interstinal pada appendix kurang berkembang,
lebih pendek, dan sering terlihat berjauhan letaknya. Jaringan limfoid diffus
didalam lamina propria sangat banyak dan sering terlihat sampai ke
submukosa berdekatan. Disini terdapat sangat banyak limfonoduli dengan
pusat germinal dan sangat khas untuk appendix. Noduli ini berawal di
lamina propria namun karena ukurannya besar, nodu ini meluas dari epitel
permukaan sampai ke submukosa. Di tunika muskularis terdapat empat
pertemuan gabungan dari taenia coli. Submukosa nya sangat vaskular
dengan banyak pembuluh darah. Muskularis eksterna terdiri atas lapisan

10
sirkular dalam dan longitudinal luar. Ketebelan lapisan otot ini bervariasi.
Ganglia parasimpatis pleksus meisenterikus auerbach terlihat di antara
lapisan sirkular dalam dan longitudinal luar. Lapisan terluar appendix
adalah serosa.7

Gambar 2. Histologi appendix

4. DEFINISI APPENDISITIS
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan merupakan
penyebab nyeri akut abdomen yang paling sering. Apendisitis akut
merupakan radang bakteri yang dicetuskan berbagai faktor,
diantaranya adalah hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks dan
cacing ascaris dapat juga menimbulkan penyumbatan.1

5. EPIDEMIOLOGI APPENDISITIS
Terdapat sekitar 250.000 kasus appendisitis yang terjadi di Amerika Serikat
setiap tahunnya dan terutama terjadi pada anak usia 6-10 tahun.
Appendisitis lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan
dengan perbandingan 3:2. Bangsa Caucasia lebih sering terkena

11
dibandingkan dengan kelompok ras lainnya. Appendisitis akut lebih sering
terjadi selama musim panas.
Insidensi Appendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara
berkembang, tetapi beberapa tahun terakhir angka kejadiannya menurun
secara bermakna. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan
makanan berserat dalam menu sehari-hari. Appendisitis dapat ditemukan
pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang
dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu
menurun. Insidensi pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding,
kecuali pada umur 20-30 tahun, insidensi lelaki lebih tinggi.8

6. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


a. Obstruksi
Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta.
Fecalith merupakan penyebab umum obstruksi Appendix yaitu sekitar 20%
pada anak dengan Appendicitis akut dan 30-40% pada anak dengan
perforasi Appendix. Penyebab yang lebih jarang adalah hiperplasia
jaringan limfoid di sub mukosa Appendix, barium yang mengering
pada pemeriksaan sinar X, biji-bijian, gallstone, cacing usus terutama
Oxyuris vermicularis. Reaksi jaringan limfatik, baik lokal maupun
generalisata, dapat disebabkan oleh infeksi Yersinia, Salmonella, dan
Shigella; atau akibat invasi parasit seperti Entamoeba, Strongyloides,
Enterobius vermicularis, Schistosoma, atau Ascaris. Appendicitis juga
dapat diakibatkan oleh infeksi virus enterik atau sistemik, seperti
measles, chicken pox, dan cytomegalovirus. Insidensi Appendicitis juga
meningkat pada pasien dengan cystic fibrosis. Hal tersebut terjadi karena
perubahan pada kelenjar yang mensekresi mukus. Obstruksi Appendix
juga dapat terjadi akibat tumor carcinoid, khususnya jika tumor
berlokasi di proksimal. Selama lebih dari 200 tahun, corpus alienum seperti
pin, biji sayuran, dan batu cherry dilibatkan dalam terjadinya Appendicitis.

12
Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya Appendicitis adalah trauma,
stress psikologis,dan herediter.
Frekuensi obstruksi meningkat sejalan dengan keparahan proses inflamasi.
Fecalith ditemukan pada 40% kasus Appendicitis acuta sederhana,
sekitar 65% pada kasus Appendicitis gangrenosa tanpa perforasi, dan
90% pada kasus Appendicitis acuta gangrenosa dengan perforasi.

Gambar 3. Appendisitis obtruksi

Obstruksi lumen akibat adanya sumbatan pada bagian proksimal dan sekresi
abnormal mukosa Appendix segera menyebabkan distensi. Kapasitas lumen
pada Appendix normal 0,1 mL. Sekresi sekitar 0,5 mL pada distal sumbatan
meningkatkan tekanan intraluminal sekitar 60 cm H2O. Distensi
merangsang akhiran serabut saraf aferen nyeri visceral,
mengakibatkan nyeri yang samar-samar, nyeri difus pada perut tengah atau
di bawah epigastrium. Distensi berlanjut tidak hanya dari sekresi mukosa,
tetapi juga dari pertumbuhan bakteri yang cepat di Appendix. Sejalan
dengan peningkatan tekanan organ melebihi tekanan vena, aliran kapiler dan
vena terhambat menyebabkan kongesti vaskular. Akan tetapi aliran arteriol
tidak terhambat. Distensi biasanya menimbulkan refleks mual, muntah,dan
nyeri yang lebih nyata. Proses inflamasi segera melibatkan serosa Appendix
dan peritoneum parietal pada regio ini, mengakibatkan perpindahan nyeri
yang khas ke RLQ.

13
Mukosa gastrointestinal termasuk Appendix, sangat rentan terhadap
kekurangan suplai darah. Dengan bertambahnya distensi yang melampaui
tekanan arteriol, daerah dengan suplai darah yang paling sedikit akan
mengalami kerusakan paling parah.
Dengan adanya distensi, invasi bakteri, gangguan vaskuler, infark jaringan,
terjadi perforasi biasanya pada salah satu daerah infark di batas
antemesenterik. Di awal proses peradangan Appendix, pasien akan
mengalami gejala gangguan gastrointestinal ringan seperti berkurangnya
nafsu makan, perubahan kebiasaan BAB, dan kesalahan pencernaan.
Anoreksia berperan penting pada diagnosis Appendicitis, khususnya pada
anak-anak. Distensi Appendix menyebabkan perangsangan serabut saraf
visceral yang dipersepsikan sebagai nyeri di daerah periumbilical. Nyeri
awal ini bersifat nyeri tumpul di dermatom Th 10. Distensi yang semakin
bertambah menyebabkan mual dan muntah dalam beberapa jam setelah
timbul nyeri perut. Jika mual muntah timbul mendahului nyeri perut, dapat
dipikirkan diagnosis lain.
Appendix yang mengalami obstruksi merupakan tempat yang baik
bagi perkembangbiakan bakteri. Seiring dengan peningkatan tekanan
intraluminal, terjadi gangguan aliran limfatik sehingga terjadi oedem yang
lebih hebat. Hal-hal tersebut semakin meningkatan tekanan intraluminal
Appendix. Akhirnya, peningkatan tekanan ini menyebabkan gangguan
aliran sistem vaskularisasi Appendix yang menyebabkan iskhemia jaringan
intraluminal Appendix, infark, dan gangren. Setelah itu, bakteri melakukan
invasi ke dinding Appendix; diikuti demam, takikardia, dan
leukositosis akibat pelepasan mediator inflamasi karena iskhemia
jaringan. Ketika eksudat inflamasi yang berasal dari dinding Appendix
berhubungan dengan peritoneum parietale, serabut saraf somatik akan
teraktivasi dan nyeri akan dirasakan lokal pada lokasi Appendix, khususnya
di titik Mc Burney’s. Jarang terjadi nyeri somatik pada kuadran kanan
bawah tanpa didahului nyeri visceral sebelumnya. Pada Appendix yang
berlokasi di retrocaecal atau di pelvis, nyeri somatik biasanya tertunda

14
karena eksudat inflamasi tidak mengenai peritoneum parietale sebelum
terjadi perforasi Appendix dan penyebaran infeksi. Nyeri pada Appendix
yang berlokasi di retrocaecal dapat timbul di punggung atau pinggang.
Appendix yang berlokasi di pelvis, yang terletak dekat ureter atau
pembuluh darah testis dapat menyebabkan peningkatan frekuensi BAK,
nyeri pada testis, atau keduanya. Inflamasi ureter atau Vesica urinaria akibat
penyebaran infeksi Appendicitis dapat menyebabkan nyeri saat berkemih,
atau nyeri seperti terjadi retensi urine.
Perforasi Appendix akan menyebabkan terjadinya abscess lokal atau
peritonitis difus. Proses ini tergantung pada kecepatan progresivitas ke arah
perforasi dan kemampuan tubuh pasien berespon terhadap perforasi
tersebut. Tanda perforasi Appendix mencakup peningkatan suhu melebihi
38.6°C, leukositosis > 14.000, dan gejala peritonitis pada pemeriksaan fisik.
Pasien dapat tidak bergejala sebelum terjadi perforasi, dan gejala dapat
menetap hingga > 48 jam tanpa perforasi. Peritonitis difus lebih sering
dijumpai pada bayi karena bayi tidak memiliki jaringan lemak omentum,
sehingga tidak ada jaringan yang melokalisir penyebaran infeksi akibat
perforasi. Perforasi yang terjadi pada anak yang lebih tua atau remaja,
lebih memungkinkan untuk terjadi abscess. Abscess tersebut dapat
diketahui dari adanya massa pada palpasi abdomen pada saat pemeriksaan
fisik.
Konstipasi jarang dijumpai. Tenesmus ad ani sering dijumpai.
Diare sering dijumpai pada anak-anak, yang terjadi dalam jangka waktu
yang pendek, akibat iritasi Ileum terminalis atau caecum. Adanya diare
dapat mengindikasikan adanya abscess pelvis.9
b. Bakteriologi
Flora pada Appendix yang meradang berbeda dengan flora Appendix
normal. Sekitar 60% cairan aspirasi yang didapatkan dari Appendicitis
didapatkan bakteri jenis anaerob, dibandingkan yang didapatkan dari 25%
cairan aspirasi Appendix yang normal. Diduga lumen merupakan sumber
organisme yang menginvasi mukosa ketika pertahanan mukosa terganggu

15
oleh peningkatan tekanan lumen dan iskemik dinding lumen. Flora normal
Colon memainkan peranan penting pada perubahan Appendicitis acuta ke
Appendicitis gangrenosa dan Appendicitis perforata. Appendicitis
merupakan infeksi polimikroba, dengan beberapa kasus didapatkan lebih
dari 14 jenis bakteri yang berbeda dikultur pada pasien yang mengalami
perforasi. Flora normal pada Appendix sama dengan bakteri pada Colon
normal. Flora pada Appendix akan tetap konstan seumur hidup kecuali
Porphyomonas gingivalis. Bakteri ini hanya terlihat pada orang dewasa.
Bakteri yang umumnya terdapat di Appendix. Appendicitis acuta dan
Appendicitis perforasi adalah Eschericia coli dan Bacteriodes fragilis.
Namun berbagai variasi dan bakteri fakultatif dan anaerob dan
Mycobacteria dapat ditemukan. Kultur intraperitonal rutin yang dilakukan
pada pasien Appendicitis perforata dan non perforata masih dipertanyakan
kegunaannya. Saat hasil kultur selesai, seringkali pasien telah mengalami
perbaikan. Apalagi, organisme yang dikultur dan kemampuan
laboratorium untuk mengkultur organisme anaerob secara spesifik sangat
bervariasi. Kulturperitoneal harus dilakukan pada pasien dengan keadaan
imunosupresi, sebagai akibat dari obat-obatan atau penyakit lain, dan
pasien yang mengalami abscess setelah terapi Appendicitis.
Perlindungan antibiotik terbatas 24-48 jam pada kasus Appendicitis non
perforata. Pada Appendicitis perforata, antibiotik diberikan 7-10 hari secara
intravena hingga leukosit normal atau pasien tidak demam dalam 24 jam.
Penggunaan irigasi antibiotik pada drainage rongga peritoneal dan
transperitoneal masih kontroversi.10

16
Gambar 4. Bakteri yang ditemukan di appendistis akut

7. MANIFESTASI KLINIS
Gejala Appendicitis acuta umumnya timbul kurang dari 36 jam, dimulai
dengan nyeri perut yang didahului anoreksia. Gejala utama Appendicitis
acuta adalah nyeri perut. Awalnya, nyeri dirasakan difus terpusat di
epigastrium, lalu menetap, kadang disertai kram yang hilang timbul. Durasi
nyeri berkisar antara 1-12 jam, dengan rata-rata 4-6 jam. Nyeri yang
menetap ini umumnya terlokalisasi di RLQ. Variasi dari lokasi anatomi
Appendix berpengaruh terhadap lokasi nyeri, sebagai contoh; Appendix
yang panjang dengan ujungnya yang inflamasi di LLQ menyebabkan nyeri
di daerah tersebut, Appendix di daerah pelvis menyebabkan nyeri
suprapubis, retroileal Appendix dapat menyebabkan nyeri testicular.
Umumnya, pasien mengalami demam saat terjadi inflamasi Appendix,
biasanya suhu naik hingga 38°C. Tetapi pada keadaan perforasi, suhu tubuh
meningkat hingga >39°C. Anoreksia hampir selalu menyertai Appendicitis.
Pada 75% pasien dijumpai munta yang umumnya hanya terjadi satu atau
dua kali saja. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus. Umumnya,
urutan munculnya gejala Appendicitis adalah anoreksia, diikuti yeri perut
dan muntah. Bila muntah mendahului nyeri perut, maka diagnosis
Appendicitis diragukan. Muntah yang timbul sebelum nyeri abdomen
mengarah pada diagnosis gastroenteritis. Sebagian besar pasien mengalami

17
obstipasi pada awal nyeri perut dan banyak pasien yang merasa nyeri
berkurang setelah buang air besar. Diare timbul pada beberapa pasien
terutama anak-anak. Diare dapat timbul setelah terjadinya perforasi
Appendix.

ALVARADO SCORE

Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit, bila skor >6
maka tindakan bedah sebaiknya dilakukan.
Pada beberapa kasus yang meragukan, pasien dapat diobservasi dulu selama
6 jam. Pada penderita Appendicitis biasanya menunjukkan peningkatan
nyeri dan tanda inflamasi yang khas.
Pada pemeriksaan fisik, perubahan suara bising usus berhubungan dengan
tingkat inflamasi pada Appendix. Hampir semua pasien merasa nyeri pada
nyeri lokal di titik Mc Burney’s. Tetapi pasien dengan Appendix retrocaecal
menunjukkan gejala lokal yang minimal. Adanya psoas sign, obturator sign,
dan Rovsing’s sign bersifat konfirmasi dibanding diagnostik. Pemeriksaan
rectal toucher juga bersifat konfirmasi dibanding diagnostik,
khususnya pada pasien dengan pelvis abscess karena ruptur Appendix.7

18
8. PEMERIKSAAN FISIK
Appendix umumnya terletak di sekitar McBurney. Namun perlu diingat
bahwa letak anatomis Appendix sebenarnya dapat pada semua titik,
360°mengelilingi pangkal Caecum. Appendicitis letak retrocaecal dapat
diketahui dari adanya nyeri di antara costa 12 dan spina iliaca posterior
superior. Appendicitis letak pelvis dapat menyebabkan nyeri rectal. Secara
teori, peradangan akut Appendix dapat dicurigai dengan adanya nyeri pada
pemeriksaan rektum (Rectal toucher). Namun, pemeriksaan ini tidak
spesifik untuk Appendicitis. Jika tanda-tanda Appendicitis lain telah
positif, maka pemeriksaan rectal toucher tidak diperlukan lagi. Secara klinis,
dikenal beberapa manuver diagnostik:
 Rovsing’s sign: dikatakan posiif jika tekanan yang diberikan pada LLQ
abdomen menghasilkan sakit di sebelah kanan (RLQ), menggambarkan
iritasi peritoneum. Sering positif tapi tidak spesifik.

 Psoas sign: dilakukan dengan posisi pasien berbaring pada sisi sebelah kiri
sendi pangkal kanan diekstensikan. Nyeri pada cara ini menggambarkan
iritasi pada otot psoas kanan dan indikasi iritasi retrocaecal dan
retroperitoneal dari phlegmon atau abscess. Dasar anatomis terjadinya psoas
sign adalah appendiks yang terinflamasi yang terletak retroperitoneal akan
kontak dengan otot psoas pada saat dilakukan manuver ini.

19
 Obturator sign: dilakukan dengan posisi pasien terlentang, kemudian
gerakan endorotasi tungkai kanan dari lateral ke medial. Nyeri pada cara ini
menunjukkan peradangan pada M. obturatorius di rongga pelvis. Perlu
diketahui bahwa masing-masing tanda ini untuk menegakkan lokasi
Appendix yang telah mengalami radang atau perforasi.

Dasar anatomis terjadinya obturator sign adalah appendiks yang terinflamasi


yang terletak retroperitoneal akan kontak dengan otot obturator internus
pada saat dilakukan manuver ini.
 Blumberg’s sign: nyeri lepas kontralateral (tekan di LLQ kemudian lepas
dan nyeri di RLQ)

20
 Baldwin test: nyeri di flank bila tungkai kanan ditekuk.
 Defence musculare: bersifat lokal, lokasi bervariasi sesuai letak Appendix.
 Nyeri pada daerah cavum Douglas bila ada abscess di rongga abdomen
atau Appendix letak pelvis.
 Nyeri pada pemeriksaan rectal toucher.
 Dunphy sign: nyeri ketika batuk.

9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Laboratorium
Jumlah leukosit diatas 10.000 ditemukan pada lebih dari 90% anak dengan
appendicitis akut. Jumlah leukosit pada penderita appendicitis berkisar
antara 12.000-18.000/mm. Peningkatan persentase jumlah neutrofil (shift to
the left) dengan jumlah normal leukosit menunjang diagnosis klinis
appendicitis. Jumlah leukosit yang normal jarang ditemukan pada pasien
dengan appendicitis.
Pemeriksaan urinalisis membantu untuk membedakan appendicitis dengan
pyelonephritis atau batu ginjal. Meskipun demikian, hematuria ringan dan
pyuria dapat terjadi jika inflamasi appendiks terjadi di dekat ureter.
 Ultrasonografi
Ultrasonografi sering dipakai sebagai salah satu pemeriksaan untuk
menunjang diagnosis pada kebanyakan pasien dengan gejala appendicitis.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sensitifitas USG lebih dari 85%

21
dan spesifitasnya lebih dari 90%. Gambaran USG yang merupakan kriteria
diagnosis appendicitis acuta adalah appendix dengan diameter
anteroposterior 7 mm atau lebih, didapatkan suatu appendicolith, adanya
cairan atau massa periappendix.
False positif dapat muncul dikarenakan infeksi sekunder appendix sebagai
hasil dari salphingitis atau inflammatory bowel disease. False negatif juga
dapat muncul karena letak appendix yang retrocaecal atau rongga usus yang
terisi banyak udara yang menghalangi appendix.
 CT-Scan
CT scan merupakan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis
appendicitis akut jika diagnosisnya tidak jelas.sensitifitas dan spesifisitasnya
kira-kira 95-98%. Pasien-pasien yang obesitas, presentasi klinis tidak jelas,
dan curiga adanya abscess, maka CT-scan dapat digunakan sebagai pilihan
test diagnostik. Diagnosis appendicitis dengan CT-scan ditegakkan jika
appendix dilatasi lebih dari 5-7 mm pada diameternya. Dinding pada
appendix yang terinfeksi akan mengecil sehingga memberi gambaran
“halo”.8

10. DIAGNOSA BANDING


Diagnosis banding dari Appendicitis dapat bervariasi tergantung dari usia
dan jenis kelamin.
 Pada anak-anak balita: intususepsi, divertikulitis, dan gastroenteritis akut.
Intususepsi paling sering didapatkan pada anak-anak berusia dibawah 3
tahun. Divertikulitis jarang terjadi jika dibandingkan Appendicitis. Nyeri
divertikulitis hampir sama dengan Appendicitis, tetapi lokasinya berbeda,
yaitu pada daerah periumbilikal. Pada pencitraan dapat diketahui adanya
inflammatory mass di daerah abdomen tengah. Diagnosis banding yang
agak sukar ditegakkan adalah gastroenteritis akut, karena memiliki gejala-
gejala yang mirip dengan appendicitis, yakni diare, mual, muntah, dan
ditemukan leukosit pada feses.
 Pada anak-anak usia sekolah: gastroenteritis, konstipasi, infark omentum.

22
Pada gastroenteritis, didapatkan gejala-gejala yang mirip dengan
appendicitis, tetapi tidak dijumpai adanya leukositosis. Konstipasi,
merupakan salah satu penyebab nyeri abdomen pada anak-anak, tetapi tidak
ditemukan adanya demam. Infark omentum juga dapat dijumpai pada anak-
anak dan gejala-gejalanya dapat menyerupai appendicitis. Pada infark
omentum, dapat terraba massa pada abdomen dan nyerinya tidak berpindah
 Pada pria dewasa muda: Crohn’s disease, kolitis ulserativa, dan
epididimitis.
Pemeriksaan fisik pada skrotum dapat membantu menyingkirkan diagnosis
epididimitis. Pada epididimitis, pasien merasa sakit pada skrotumnya.
 Pada wanita usia muda: kondisi-kondisi ginekologik, seperti pelvic
inflammatory disease (PID), kista ovarium, dan infeksi saluran kencing.
Pada PID, nyerinya bilateral dan dirasakan pada abdomen bawah. Pada kista
ovarium, nyeri dapat dirasakan bila terjadi ruptur ataupun torsi.
 Pada usia lanjut
Appendicitis pada usia lanjut sering sukar untuk didiagnosis. Diagnosis
banding yang sering terjadi pada kelompok usia ini adalah keganasan dari
traktus gastrointestinal dan saluran reproduksi, divertikulitis, perforasi
ulkus, dan kolesistitis. Keganasan dapat terlihat pada CT Scan dan gejalanya
muncul lebih lambat daripada appendicitis. Pada orang tua, divertikulitis
sering sukar untuk dibedakan dengan appendicitis, karena lokasinya yang
berada pada abdomen kanan. Perforasi ulkus dapat diketahui dari onsetnya
yang akut dan nyerinya tidak berpindah. Pada orang tua, pemeriksaan
dengan CT Scan lebih berarti dibandingkan dengan pemeriksaan
laboratorium.

11. KOMPLIKASI
1. Appendicular infiltrat:
Infiltrat / massa yang terbentuk akibat mikro atau makro perforasi dari
Appendix yang meradang yang kemudian ditutupi oleh omentum, usus
halus atau usus besar.

23
2. Appendicular abscess:
Abses yang terbentuk akibat mikro atau makro perforasi dari Appendix
yang meradang yang kemudian ditutupi oleh omentum, usus halus, atau
usus besar.
3. Perforasi
4. Peritonitis
Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam
rongga abdomen, biasanya diakibatkan dan peradangan, iskemia, trauma
atau perforasi peritoneal diawali terkontaminasi material. Awalnya material
masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus
peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri.
Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. Cairan dalam
rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein, sel-
sel darah putih, sel-sel yang rusak dan darah. Respon yang segera dari
saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik
dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar.
Gejala dan Tanda
•Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita
peritonitis umum.
•Demam
•Distensi abdomen
•Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum,
tergantung pada perluasan iritasi peritonitis.
•Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah
yang jauh dari lokasi peritonitisnya.
•Nausea
•Vomiting
•Penurunan peristaltik.
5. Syok septik
6. Mesenterial pyemia dengan Abscess Hepar
7. Gangguan peristaltik 9

24
12. TATALAKSANA
Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta yaitu
1. Pemasangan infus dan pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala
klinis dehidrasi atau septikemia.
2. Puasakan pasien, jangan berikan apapun per oral
3. Pemberian obat-obatan analgetika harus denga konsultasi ahli bedah.
4. Pemberian antibiotika i.v. pada pasien yang menjalani laparotomi.
5. Pertimbangkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita usia
subur dan didapatkan beta-hCG positif secara kualitatif. Bila dilakukan
pembedahan, terapi pada pembedahan meliputi; antibiotika profilaksis harus
diberikan sebelum operasi dimulai pada kasus akut, digunakan single dose
dipilih antibiotika yang bisa melawan bakteri anaerob.

Teknik operasi Appendectomy


a. Open Appendectomy
1. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik.
2. Dibuat sayatan kulit:

Horizotal dan Oblique


3. Dibuat sayatan otot, ada dua cara:
a. Pararectal/ Paramedian
Sayatan/ incisi pada vaginae tendinae M. rectus abdominis lalu otot
disisihkan ke medial. Fascia diklem sampai saat penutupan vagina M.
rectus abdominis karena fascianya ada 2 agar tidak tertinggal pada waktu

25
penjahitan. Bila yang terjahit hanya satu lapis fascia saja, dapat terjadi
hernia cicatricalis.
b.Mc Burney/ Wechselschnitt/muscle splitting
Sayatan berubah-ubah sesuai serabut otot.
1. Incisi apponeurosis M. Obliquus abdominis externus dari lateral atas
ke medial bawah.
Satu incisi kulit yang rapi dibuat dengan perut mata pisau. Incisi kedua
mengenai jaringan subkutan sampai ke fascia M. Obliquus
abdominis externus.

2. Splitting M. Obliquus abdominis internus dari medial atas ke lateral


bawah.
Dari tepi sarung rektus, fascia tipis M. obliquus internus diincisi searah
dengan seratnya ke arah lateral.

3. Splitting M. transversus abdominis arah horizontal.


Pada saat menarik M. obliquus internus hendaklah berhati-hati agar tak
terjadi trauma jaringan. Dapat ditambahkan, bahwa N.
iliohipogastricus dan pembuluh yang memperdarahinya terletak di
sebelah lateral di antara M.obliquus externus dan internus. Tarikan
yang terlalu keras akan merobek pembuluh dan membahayakan saraf.

26
4. Peritoneum dibuka
Kasa Laparatomi dipasang pada semua jaringan subkutan
yang terpapar. Peritoneum sering nampak meradang,
menggambarkan proses yang ada di bawahnya. Secuil peritoneum
angkat dengan pinset. Yang nampak di sini ialah pinset jaringan De
Bakey. Asisten juga mengangkat dengan cara yang sama pada sisi di
sebelah dokter bedah. Dokter bedah melepaskan pinset, memasang lagi
sampai dia yakin bahwa hanya peritoneum yang diangkat.

5. Caecum dicari kemudian dikeluarkan kemudian taenia libera


ditelusuri untuk mencari Appendix. Setelah Appendix ditemukan,
Appendix diklem dengan klem Babcock dengan arah selalu ke atas
(untuk mencegah kontaminasi ke jaringan sekitarnya). Appendix
dibebaskan dari mesoappendix dengan cara: Mesoappenddix ditembus
dengan sonde kocher dan pada kedua sisinya, diklem,kemudian
dipotong di antara 2 ikatan.

27
Appendix dengan hati-hati diangkat agar mesenteriumnya teregang.
Klem Babcock melingkari appenddix dan satu klem dimasukkan lewat
mesenterium seperti pada gambar. Cara lainnya ialah dengan mengklem
ujung bebas mesenterium di bawah ujung appenddix. Appendix tak
boleh terlalu banyak diraba dan dipegang agar tidak
menyebarkan kontaminasi.
6. Appendix di klem pada basis (supaya terbentuk alur sehingga ikatan
jadi lebih kuat karena mukosa terputus sambil membuang fecalith
ke arah Caecum). Klem dipindahkan sedikit ke distal, lalu bekas
klem yang pertama diikat dengan benang yang diabsorbsi (supaya bisa
lepas sehingga tidak terbentuk rongga dan bila terbentuk pus akan
masuk ke dalam Caecum).

7. Appendix dipotong di antara ikatan dan klem, puntung diberi betadine.

8. Perawatan puntung Appendix dapat dilakukan dengan cara:


a. Dibuat jahitan tabak sak pada Caecum, puntung Appendix
diinversikan ke dalam Caecum. Tabak sak dapat ditambah dengan
jahitan Z.
b. Puntung dijahit saja dengan benang yang tidak diabsorbsi. Resiko
kontaminasi dan adhesi.

28
c. Bila prosedur a+b tidak dapat dilaksanakan, misalnya bila puntung
rapuh, dapat dilakukan penjahitan 2 lapis seperti pada perforasi
usus.
9. Bila no.7 tidak dapat dilakukan, maka Appendix dipotong dulu, baru
dilepaskan dan mesenteriolumnya (retrograde).
10. Abdomen dijahit lapis demi lapis. 10,11

13. PROGNOSIS
Mortalitas dari Appendicitis di USA menurun terus dari 9,9% per 100.000
pada tahun 1939 sampai 0,2% per 100.000 pada tahun 1986. Faktor- faktor
yang menyebabkan penurunan secara signifikan insidensi Appendicitis
adalah sarana diagnosis dan terapi, antibiotika, cairan i.v., yang
semakin baik, ketersediaan darah dan plasma, serta meningkatnya
persentase pasien yang mendapat terapi tepat sebelum terjadi perforasi.

29
BAB IV
ANALISA KASUS

Pasien datang ke IGD RS Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa dengan


keluhan nyeri di daerah perut kanan bawah sejak 1 hari sebelum masuk rumah
sakit. Nyeri perut dirasakan awalnya samar-samar, mula-mula nyeri dirasakan
daerah ulu hati kemudian semakin nyeri di daerah perut kanan bawah seperti
ditusuk-tusuk. Sesuai dengan gejala utama pada pasien ini dapat dicurigai
Appendisitis Akut, dengan onset penyakitnya <36 jam yang dapat menyatakan
sifat dari appendisitis, yaitu akut.
Pasien juga mengeluh mual dan muntah. Dan didahului dengan penurunan
nafsu makan. Pada 75% pasien dijumpai muntah yang umumnya hanya terjadi
satu atau dua kali saja. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus.
Umumnya urutan munculnya gejala appendisitis adalah anorexia, diikuti nyeri
perut dan muntah. Gejala nyeri semakin lama dirasakan semakin tajam. Semakin
diperberat dengan posisi tidur miring, menekuk kaki, dan berjalan. Karena pada
sikap tersebut caecum cenderung tertekan.
Apendisitis akut merupakan radang bakteri yang dicetuskan berbagai
faktor, diantaranya adalah hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks dan
cacing ascaris dapat juga menimbulkan penyumbatan. Obstruksi lumen adalah
penyebab utama pada Appendicitis akut. Penyebab yang lebih jarang adalah
hiperplasia jaringan limfoid di sub mukosa Appendix, barium yang
mengering pada pemeriksaan sinar X, biji-bijian, gallstone, cacing usus terutama
Oxyuris vermicularis.
Obstruksi lumen akibat adanya sumbatan pada bagian proksimal dan
sekresi abnormal mukosa Appendix segera menyebabkan distensi. Distensi
merangsang akhiran serabut saraf aferen nyeri visceral, mengakibatkan
nyeri yang samar-samar, nyeri difus pada perut tengah atau di bawah epigastrium.
Distensi berlanjut tidak hanya dari sekresi mukosa, tetapi juga dari pertumbuhan
bakteri yang cepat di Appendix. Sejalan dengan peningkatan tekanan organ
melebihi tekanan vena, aliran kapiler dan vena terhambat menyebabkan kongesti

30
vaskular. Akan tetapi aliran arteriol tidak terhambat. Distensi biasanya
menimbulkan refleks mual, muntah,dan nyeri yang lebih nyata.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan Mc Burney positif dan
Obturator sign positif. Nyeri pada cara ini menunjukkan peradangan pada M.
obturatorius di rongga pelvis. Perlu diketahui bahwa masing-masing tanda ini
untuk menegakkan lokasi Appendix yang telah mengalami radang atau perforasi.
Ketika eksudat inflamasi yang berasal dari dinding Appendix berhubungan
dengan peritoneum parietale, serabut saraf somatik akan teraktivasi dan nyeri akan
dirasakan lokal pada lokasi Appendix, khususnya di titik Mc Burney’s. Jarang
terjadi nyeri somatik pada kuadran kanan bawah tanpa didahului nyeri visceral
sebelumnya.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan leukositosis (16.000/mm),
dimana jumlah leukosit pada penderita appendisitis berkisar antara 12.000-
18.000/mm. Pemeriksaan anjuran yang dapat dilakukan selain laboratorium yaitu
USG. Ultrasonografi (USG) sering dipakai sebagai salah satu pemeriksaan untuk
menunjang diagnosis pada kebanyakan pasien dengan gejala appendisitis.
Pemeriksaan anjuran yang lain dapat dilakukan hitung jenis. Pada appendisitis
didapatkan hasil shift to the left.
Dasar diagnosa pasien ini yaitu menggunakan alvarado score. Dimana
hasil alvarado score didapatkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.

31
Total score pada pasien ini yaitu berkisaran 7-8. Bila skor 5-6 dianjurkan untuk
diobservasi di rumah sakit, bila skor >6 maka tindakan bedah sebaiknya
dilakukan.

32
BAB V
KESIMPULAN

Appendisitis adalah peradangan pada Appendix vermicularis. Appendix


merupakan derivat bagian dari midgut, yang lokasi anatomisnya dapat
berbeda tiap individu. Appendisitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang
paling sering ditemukan. Faktor-faktor yang menjadi etiologi dan predisposisi
terjadinya Appendicitis meliputi faktor obstruksi, bakteriologi, dan diet.
Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta. Gejala
klinis Appendicitis meliputi nyeri perut, anorexia, mual, muntah, nyeri
berpindah, dan gejala sisa klasik berupa nyeri periumbilikal kemudian
anorexia/mual/muntah kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian demam yang
tidak terlalu tinggi. Tanda klinis yang dapat dijumpai dan manuver diagnostik
pada kasus Appendicitis adalah Rovsing’s sign, Psoas sign, Obturator sign,
Blumberg’s sign, Wahl’s sign, Baldwin test, Dunphy’s sign, Defence musculare,
nyeri pada daerah cavum Douglas bila ada abscess di rongga abdomen atau
Appendix letak pelvis, nyeri pada pemeriksaan rectal toucher.
Pemeriksaan penunjang dalam diagnosis Appendicitis adalah
pemeriksaan laboratorium, Skor Alvarado, ultrasonografi, dan radiologi.
Diagnosis banding Appendicitis antara lain; Adenitis Mesenterica Acuta,
Gastroenteritis akut, penyakit urogenital pada laki-laki, Diverticulitis Meckel,
Intususseption, Chron’s enteritis,perforasi
ulkus peptikum, Epiploic appendagitis, infeksi saluran kencing, batu urethra,
peritonitis primer, Purpura Henoch–Schonlein, Yersiniosis, serta kelainan–
kelainan ginekologi.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Williams B A, Schizas A M P, Management of Complex Appendicitis.


Elsevier. 2010. Surgery 28:11. p544048.
2. Andersson N, Griffiths H, Murphy J, et al. Is appendicitis familial? Br
Med J 1979 Sep 22; 2: 697e8.
3. Heaton KW. In: Br Med J, Res Clin, eds. Aetiology of acute appendicitis
1987 Jun 27; 294:1632e3.
4. Soybel D. Appendix. In: Norton JA, Barie PS, Bollinger RR, et al. Surgery
Basic Science and Clinical Evidence. 2ndEd. New York: Springer. 2008.
5. De Jong, W., Sjamsuhidajat, R.,(editor). 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi Revisi. EGC: Jakarta.
6. Lally KP, Cox CS, Andrassy RJ, Appendix. In: Sabiston Texbook of
Surgery. 17th edition. Ed:Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM,
Mattox KL. Philadelphia: Elsevier Saunders. 2004: 1381-93
7. Ereschenko, viktor P. Atlas histologi di fiore edisi 9. Jakarta: EGC.2003
8. Jaffe BM, Berger DH. The Appendix. In: Schwartz’s Principles of Surgery
Volume 2.8th edition. Ed: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn
DL, Hunter JG, Pollock RE. New York: McGraw Hill Companies Inc.
2005:1119-34
9. Ellis H, Nathanson LK. Appendix and Appendectomy. In: Maingot’s
Abdominal Operations Vol II.10th edition. Ed: Zinner Mj, Schwartz SI,
Ellis H, Ashley SW,McFadden DW. Singapore: McGraw Hill Co. 2001:
1191-222
10. Soybel DI. Appedix In:Surgery Basic Science and Clinical Evidence Vol
1. Ed: Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass
HI, Thompson RW. New York: Springer Verlag Inc. 2000: 647-62
11. Prinz RA, Madura JA. Appendicitis and Appendiceal Abscess. In: Mastery
of Surgery Vol II. 4th edition. Ed: Baker RJ, Fiscer JE. Philadelphia.
Lippincott Williams & Wilkins. 2001: 1466-78

34