Anda di halaman 1dari 38

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. ANATOMI

Gambar 1. Anatomi Faring.10

Faring sendiri berbentuk seperti pipa corong yang ukurannya menyempit ke

arah distal. Otot-otot faring terdiri atas tiga otot konstriktor faringeus dan tiga otot

yang berorigo pada proc. Styloideus. Otot-otot ini berperan dalam proses

deglutition atau menelan. Faring kemudian menyatu dengan esofagus setinggi

vertebra C6. Faring terdiri atas tiga lapisan pembentuk, yaitu: mucose, yang tersusun

atas epitel squamous pseudokompleks bersilia pada bagian atas dan epitel

squamous kompleks di bagian bawah; submucose; fibrous, yang membentuk fascia

3
4

faringobasilaris yang melekat pada basis cranii; dan muscular, yang terdiri atas otot

sirkular dan longitudinal; soft connective tissue, yang membentuk fascia

buccofaringeal. Faring mempunyai dinding musculomembranosa yang tidak

sempurna di bagian depan. Di tempat ini, jaringan musculomembranosa diganti

oleh apertura nasalis posterior (choanae), isthmus faucium (permukaan ke rongga

mulut), dan aditus larynx. Melalui tuba auditiva, membrana mucosa juga

berhubungan dengan membrana mucosa dari cavitas tymphani.9

Gambar 2. Anatomi Faring.10

Faring terletak di belakang cavum nasi, cavum oris, dan laring dan dibagi

menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Nasofaring

Terletak di posterior cavum nasi, di superior Pallatum molle. Dibentuk oleh corpus

ossis sfenoidalis dan pars basilaris ossis occipitalis pada bagian atap. Di dalam

submukosa atap terdapat kumpulan jaringan limfoid yang disebut tonsila faringeus.
5

2. Orofaring,

Terletak di posterior cavum oris. Dibentuk oleh sepertiga posterior lidah dan celah

antara lidah dan epiglotis pada bagian dasar, sedangkan atap dibentuk oleh

permukaan bawah palatum molle dan isthmus faringeus. Pada dinding lateral

terdapat arcus palatoglossus dan palatofaringeus yang di antaranya terdapat tonsila

palatina. Arcus palatoglossus kiri dan kanan membentuk celah yang merupakan

batas antara rongga mulut dan faring yang kemudian disebut isthmus faucium.

3. Laringofaring.

Terletak di belakang aditus laringeus dan permukaan posterior laring. Dinding

posterior berada setinggi corpus vertebra C3-6. Dinding lateral dibentuk oleh

cartilago thyroidea dan membrana thyrohyoidea.

II.1.1. Vaskularisasi

Vaskularisasi faring sebagian besar berasal dari cabang a. carotis externa, a.

faringeal ascendens, ramus dorsal a. lingualis, ramus tonsillaris a. fascialis, dan

ramus palatine a. maksillaris. Aliran vena bermuara ke pleksus venous faringeus,

yang kemudian bermuara ke v. Jugularis interna.9

II.1.2. Innervasi

Innervasi faring berasal dari pleksus faringeus yang dibentuk oleh cabang-

cabang N. glossopharyngeus, N.vagus dan N. symphaticus. Persarafan motorik

berasal dari Pars cranialis N. acessorius. Sedangkan persarafan sensorik terutama

dari N. maxillaries untuk membran mucosa Nasopharynx, N.glossopharyngeus


6

untuk membran mukosa Oropharynx dan N. ramus laryngeus internus serta n.vagus

untuk membrane mukosa di sekitar aditus laryngeus.12

II.2. FISIOLOGI6

1. Sebagai jalan makanan dan udara pada respirasi

2. Jalan udara ke tuba eustachii

3. Resonator

4. Sebagai drainage sinus paranasal, kavum timpani, dan hidung.

5. Sistem pertahanan tubuh (tonsila palatina).

II.3. DEFINISI

Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan karsinoma yang muncul pada

daerah nasofaring (area di atas tenggorokan, dan di belakang hidung), yang

menunjukkan bukti adanya diferensiasi skuamosa mikroskopik ringan atau

ultrastruktur.12 Karsinoma ini terbanyak merupakan keganasan tipe sel skuamosa.

Karsinoma nasofaring juga didefinisikan sebagai karsinoma yang muncul pada

daerah nasofaring, yang menunjukkan bukti adanya diferensiasi skuamosa

mikroskopik ringan atau ultrastruktur.13

II.4. EPIDEMIOLOGI

KNF mempunyai daerah distribusi endemik yang tidak seimbang antara

berbagai negara, maupun yang tersebar dalam lima benua. Tetapi, insiden KNF

lebih rendah dari 1/105 di semua area. Ras mongoloid merupakan faktor dominan
7

timbulnya KNF, sehingga kekerapan cukup tinggi pada penduduk Cina bagian

Selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Insiden tertinggi di Cina bagian Selatan (termasuk Hongkong), dan insiden ini

tertinggi di Provinsi Guangdong. Pada laki-laki mencapai 20-50/100.000

penduduk. Berdasarkan data Internaational Agency for Research on Cancer

(IARC) tahun 2002 ditemukan sekitar 80.000 kasus baru KNF diseluruh dunia, dan

sekitar 50.000 kasus meninggal dengan jumlah penduduk Cina sekitar 40%.

Ditemukan pula cukup banyak kasus pada penduduk lokal Asia Tenggara, Eskimo

di Artik dan penduduk di Sfrika Utara dan Timur Tengah.14,15

Secara global, berdasarkan GLOBALCAN tahun 2012 diperkirakan terdapat

87.000 kasus baru karsinoma nasofaring muncul setiap tahunnya, dengan 61.000

kasus baru terjadi pada laki-laki dan 26.000 kasus baru pada perempuan. Selain itu,

didapatkan juga 51.000 kasus kematian akibat karsinoma nasofaring dimana 36.000

kasus pada laki-laki dan 15.000 pada perempuan.13

Di Indonesia, frekuensi pasien hampir merata di setiap daerah dimana KNF

merupakan salah satu jenis keganasan yang sering ditemukan dan berada pada

urutan ke-4 karsinoma terbanyak di Indonesia setelah karsinoma payudara,

karsinoma rahim, dan karsinoma paru.4 Prevalensi di Indonesia adalah 3,9 per

100.000 penduduk setiap tahun. Di Rumah Sakit H. Adam Malik Medan, rovinsi

Sumatera Utara, enderita KNF ditemukan pada lima kelompok suku. Suku yang

paling banyak menderita KNF adalah suku Batak, yaitu 46,7% dari 30 kasus. Di

RSUN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta saja ditemukan lebih dari 100 kasus
8

setahun, RS Hasan Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus, Ujung Pandang 25 kasus,

Palembang 25 kasus, dan 11 kasus di Padang dan Bukit Tinggi.14

Tumor ini lebih sering ditemukan pada pria dibanding wanita dengan rasio

2:1 dan apa sebabnya , masih belum dapat diungkapkan dengan pasti, mungkin ada

hubungannya dengan faktor genetik, kebbiasaan hidup, pekerjaan dan lain-lain.

Distribusi umur pasien dengan KNF berbeda-beda pada daerah dengan insiden yang

bervariasi. Pada daerah dengan insiden rendah, insiden KNF meningkat sesuai

dengan meningkatnya umur, pada daerah dengan insiden tinggi KNF meningkat

setelah umur 30 tahun, puncaknya pada umur 40-50 tahun dan menurun

setelahnya.15

II.5. ETIOLOGI

Karsinoma nasofaring terjadi akibat gabungan dari faktor predisposisi

genetik, faktor lingkungan dan infeksi Epstein-Barr.

II.5.1. Genetik

Analisis genetik pada populasi endemik menunjukkan orang-orang dengan

kelemahan pada gen HLA memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk menderita

karsinoma nasofaring.14-6

II.5.2. Lingkungan

Penelitian-penelitian menunjukkan konsumsi makanan yang mengandung

volatile nitrosamine (misalnya ikan asin), paparan formaldehide, akumulasi debu

kapas, asam, caustic, proses pewarnaan kain, merokok, nikel, alkohol, dan infeksi
9

jamur pada cavum nasi akan meningkatkan risiko terjadinya karsinoma

nasofaring.14-16

II.5.3. Virus Epstein-Barr

Infeksi EBV pada manusia bermanifestasi menjadi beberapa bentuk

penyakit. Virus ini dapat menyebabkan infkesi mononukleosis, limfoma burkit dan

karsinoma nasofaring. Infeksi EBV-1 dan EBV-2 telah dihubungkan dengan

kejadian karsinoma nasofaring di Cina Selatan, Asia Tenggara, Mediterania,

Afrika, dan Amerika Serikat. Dijumpainya EBV pada hampir semua kasus KNF

telah mengaitkan terjadinya karsinoma ini dengan keadaan virus tersebut. Pada

1966, seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV dan

KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV, capsid antigen dan early antigen.

Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Namun, virus ini

juga seringkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya, bahkan dapat

pula dijumpai menginfkesi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit.

Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu tidak akan menimbulkan proses

keganasan.14-16

EBV bereplikasi dalam sel-sel epitel dan menjadi laten dalam limfosit B.

Infeksi EBV terjadi pada dua tempat utama, yaitu sel epitel kelenjar saliva dan sel

limfodit. EBV memulai infkesi pada limfosit B dengan cara berikatan dengan

reseptor virus, yaitu komponen komplemen C3d (CD21 dan CR2). Glikoprotein

(gp350/220) pada kasul EBV berkaitan dengan CD21 dipermukaan limfosit B3.

aktivitas ini merupakan rangkaian yang berantai dinilai dari masuknya EBV ke

DNA limfosit B dan selanjutnya menyebabkan limfosit B menjadi immortal.


10

Sementara itu, sampai saat ini mekanisme masuknya EBV ke dalam sel epitel

nasofaring belum dapat dijelaskan dengan pasti. Namun demikian, ada dua reseptor

yang diduga berperan dalam masuknya EBV ke dalam sel epitel nasofaring, yaitu

CR2 dan RIGR (Polimorpic Immunoglobulin Receptor). Sel yang terinfeksi oleh

virus bila terinfeksi dengan EBV dan virus mengadakan replikasi, atau EBV yang

menginfeksi sel dapat mengakibatkan kematian virus sehingga sel kembli menjadi

normal atau dapat terjadi perubahan sifat sel sehingga terjadi transformasi sel yaitu

interaksi antara sel dan virus. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan

sifat sel, sehingga terjadi transformasi sel menjadi ganas dan terbentuklah sel

karsinoma.14-16

Gen EBV yang diekspresiken pada penderita KNF adalah gen letal, yaitu

EBERs, EBNA1, LM1, LM2A dan LMP2B. Protein EBNA1 berperan dalam

mempertahankan virus pada infeksi laten. Protein transmembran LMP2A dan

LMP2B menghambat sinyal tyrosine kinase yang dipercaya dapat menghambat

siklus litik virus. Diantara gen-gen tersebut, gen yang paling berperan dalam

transformasi sel adalah gen LMP1. Struktur protein LMP1 terdiri atas 368 asam

amino yang terbagi menjadi 20 asam amino pada ujung N-6 segmen protein

transmembran (166 asam amino) dan 200 asam amino pada ujung karboksi (C).

Protein transmembran LMP1 menjadi perantara auntuk sinyal TNF (Tumor

Necrosis Factor) dan meningkatkan regulasi sitokin IL-10 yang memproliferasi sel

B dan menghambat respon imun lokal.14-16

Berbeda halnya dengan jenis karsinoma kepala dan leher lain, KNF jarang

dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol, tetapi dikaitkan


11

dengan EBV, predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Meskipun demikian,

ada penelitian yang mencoba menghubungkannya dengan merokok, dimana secara

umum terhadap risiko terhadap KNF pada perokok 2-6 kali dibandingkan dengan

bukan perokok.14-16

II.6. PATOFISIOLOGI

Patologi pada KNF dapat ditinjau secara makroskopis dan miskroskopis.

Secara makroskopis, pertumbuhan KNF dibedakan menjadi tiga bentuk:15,17

1. Ulseratif

Biasanya berupa lesi kecil disertai jaringan nekrotik. Terbanyak dijumpai di

dinding posterior nasofaring atau fossa rossenmuller yang lebih dalam dan sebagian

kecil dinding lateraal. Tipe ini sering tumbuh progresif infiltraf, meluas pada bagian

lateral, ata nasofaring dan tulang basis kranium. Lesi ini juga sering merusak

foramen laserum dan meluas pada fossa serebralis media melibatkan beberapa saraf

kranial (II, III, IV, V, VI) yang menimbulkan kelainan neurogenik.15,17

2. Nodular

Biasanya berbentuk anggur atau polipoid tanpa adanya ulserasi tetapi

kadang-kadang terjadi ulserasi kecil. Lesi terbanyak muncul di area tuba eustachius

sehingga menyebabkan sumbatan tuba. Tumor dapat meluas pada retrospenoidal

dan tumbuh disekitar saraf kranial namun tidak menimbulkan gangguan neurologik.

Pada stadium lanjut tumor dapat meluas pada fossa serebralis media dan merusak

basis kranium atau meluas ke daerah orbita melalui fossa orbitalis inferior dan dapat

menginvasi sinus maksilaris melalui lubang ethmoid.15,17


12

3. Eksofitik

Biasanya non-ulseratif, tumbuh pada satu sisi nasofaring, kadang-kadang

bertangkai dan permukaan licin. Tumor muncul dari bagian atap, mengisi kavum

nasi dan menimbulkan penyumbatan hidung. Tumor ini mudah nekrosis dan

berdarah sehingga menyebabkan epitaksis. Tumor bentuk ini cepat mencapapai

sinus maksilaris dan rongga orbita, sehingga menyebabkan eksoftalmus unilateral.

Tipe ini jarang melibatkan saraf kranial.15,17

Secara mikroskopis pertumbuhan KNF dibedakan menjadi:15,17

a. Perubahan pra keganasan.

Perubahan ini merupakan konndisi dari jaringan atau organ yang

tumbuh menjadi ganas secara perlahan. Penelitian yang dilakukan Teoh pada

tahun 1957 mendapatkan bahwa metaplasia skuamosa merupakan keadaan

yang paling bermakna untuk terjadinya KNF. Dari penelitian Lidan Chen tahun

1976 ditemukan juga adanya hiperplasia dari sel-sel nasofaring yang

berkembang kearah keganasan. Dari berbagai penelitian diatas menyokong

bahwa metaplasia dan diperplasia nasofaring merupakan perubahan pra

keganasan dari karsinoma nasofaring.15,17

b. Perubahan patologik pada mukosa nasofaring

 Reaksi radang

Radang akut dan kronis sering dijumpai pada mukosa nasofaring. Bentuk

perubahan ini biasanya dihubungkan dengan tukak mukosa yang

mengandung sejumlah leukosit PMN, sel plasma dan eosinofil. Pada

peradangan kronis akan dijumpai limfosit dan jaringan fibrosis. Ada


13

anggapan yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara proses

regenerasi pada ulserasi epitel nasofaring dengan perubahan metaplasia dan

displasia dari epitel tersebut.15,17

 Hiperplasia

Hiperplasia yang sering terlihat pada lapisan sel mukosa kelenjar dan

salurannya maupun pada jaringan limfoid. Hiperplasia kelenjar sering

dihubungkan dengan proses radang. Sedang hiperplasia jaringan limfoid

dapat terjadi dengan atau tanpa proses radang.15,17

 Metaplasia

Sering terlihat metaplasia pada epitel kolumnar nasofaring berupa

perubahan kearah epitel skuamosa bertingkat.15,17

 Neoplasia

Liang pada tahun 1962 menemukan bahwa neoplasia mulai tumbuh di

bagian basal lapisan sel epitel. Lapisan basal ini yaang mulanya sangat kecil

akan bertambah besar, jumlah sel bertambah banyak dan bentuknya akan

menjadi bulat atau pleomorfik.15,17

II.7. KLASIFIKASI

Klasifikasi berdasarkan klasifikasi TNM dapat ditentukan dengan menilai

karakteristik massa tumor, kelenjar getah bening yang terlibat, dan metastasis ke

organ lain. Klasifikasi ditunjukkan melalui tabel-tabel berikut:12,13


14

Tabel 1. Tumor Primer (T)


Tx Tumor primer tidak dapat dinilai T0. Tidak terdapat primer Tis Carcinoma in situ
Tumor terbatas pada nasopharynx, atau meluas ke oropharynx tau cavum nasi tanpa
T1 perluasan ke parapharyngeal.

T2 Tumor dengan perluasan ke paraphyaryngeal.


T3 Tumor melibatkan struktur tulang dari basis cranii dan atau sinus paranasalis.
Tumor dengan perluasan intracranial dan atau keterlibatan nervus cranial, hipopharynx,
T4 orbita, atau dengan perluasan ke fossa infratemporal/mastictor space.

Tabel 2. Kelenjar getah bening regional (N)


Nx KGB regional tidak dapat dinilai.
N0 Tidak terdapat metastasis ke KGB regional.
N1 Metastasis unilateral di KGB, 6 cm atau kurang di atas fossa supraclavicular.
Metastasis bilateral di KGB, 6 cm atau kurang dalam dimensi terbesar di atas fossa
N2 supraclavicular

Metastasis di KGB, ukuran >6 cm N3a sedangkan ukuran >6 cm N3b perluasan ke fossa
N3 supraclavicular.

Tabel 3. Metastasis jauh (M)


Mx Metastasis jauh tidak dapat dinilai.

M0 Tidak terdapat metastasis jauh.

M1 Terdapat metastasis jauh.

Tabel 4. Klasifikasi stadium


Stadium T N M
0 Tis N0 M0
I T1 N0 M0
II T1 N1 M0
T2 N0-N1

III T1-T2 N2 M0
T3 N0-N2
IVA T4 B0-N2 M0
IVB T1-T4 N3 M0
IVC T1-T4 N0-N3 M1

II.8. MANIFESTASI KLINIS

Karsinoma nasofaring bukanlah penyakit yang dapaat disembuhkan, maka

diagnosis dan pengobaatan yang sedini mungkin sehingga memegang peranan


15

penting untuk mengetahui gejala dini KNF dimana tumor terbatas di rongga

nasofaring.12-14,18

II.8.1. Gejala telinga

1. Sumbatan tuba eustachius

Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa berdengung kadang-kadang

disertai dengan gangguan pendengaran. Gejala ini merupakan gejala yang sangat

dini.12-14,18

2. Oklusi tuba eustachius yang berkembang menjadi Otitis media

Keadaan ini merupakan kelainan lanjutan yang terjadi akibat penyumbatan

muara tuba, dimana rongga telinga tengah akan terisi cairan. Cairan yang

diproduksi makin lama makin banyak, dan pada akhirnya terjadi perforasi membran

timpani serta akan mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran.12-14,18

II.8.2. Gejala hidung

1. Epistaksis

Dinding tumor biasanya rapuh, ssehingga oleh rangsangan dan sentuhan

dapat terjadi perdarahan hidung atau epitaksis. Keluarnya darah ini biasanya

berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus,

sehingga berwarna kemerahan.12-14,18

2. Sumbatan hidung

Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam

rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pielk kronis, kadang-

kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental.12-14,18


16

Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk

penyakit ini, karena juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya pilek kronis,

sinusitis, dan lain-lain. Epitaksis juga sering terjadi pada anak yang sedang

menderita radang. Hal ini menyebabkan keganasan nasofaring sering tidak

terdeteksi pada stadium dini.12-14,18

II.8.3. Gejala lanjut

1. Pembesaran kelenjar limfe leher

Tidak semua benjolan leher menandakan penyakit ini. Yang khas jika

timbulnya di daerah samping leher, 3-5 cm di bawah daun telinga dan tidak nyeri.

Benjolan biasanya berada di level II-III dan tidak dirasakan nyeri, karenanya sering

diabaikan oleh pasien. Sel-sel karsinoma dapat berkembang terus, menembus

kelenjar dan mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya menjadi lekat ada otot dan

sulit digerakkan. Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut. Pembesaran

kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke

dokter.12-14,18

2. Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar

Nasofaring berhubungan dengan rongga tenggorok melalui beberapa

lubang, maka gangguan persarafan otak dapat terjadi, seperti penjalaran tumor

melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI dan dapat

mengenai saraf otak ke V, sehingga dapat terjadi penglihatan ganda (diplopia).

Proses karsinoma nasofaring yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan

XIII jika perjalaran melalui foramen jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh

di nasofaring. Gangguan ini sering disebut dengan sindrom Jackson. Bila sudah
17

mengenai seluruh saraf otak, disebut sindrom unilateral. Dapat juga disertai dengan

destruksi tulang tengkorak dan bila sudah terjadi demikian, biasanya prognosis

buruk.12-14,18

3. Gejala Metastasis jauh

Sel-sel karsinoma dapat ikut bersama aliran limfe atau darah, mengenai

organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal ini disebut metastasis jauh.

Paling sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi menandakan suatu

stadium dengan prognosis sangat buruk.12-14,18

II.9. DIAGNOSIS

II.9.1. Anamnesis

Banyak yang perlu digali dari anamnesis karena gejala yang muncul pada

karsinoma nasofaring sangatlah beragam, gejala yang dapat muncul antara lain

gejala hidung, gejala telinga, gejala mata dan saraf, serta gejala metastasis/leher.

Gejala tersebut mencangkup hidung tersumbat, lendir bercampur darah, tinitus,

telinga terasa penuh, otalgia, diplopia dan neuralgia trigeminal (nervus III, IV, V,

VI) dan muncul benjolan pada leher.12,13

II.9.2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan yang perlu dilakukan antara lain:12,13

a. Pemeriksaan status generalis dan status lokalis

b. Pemeriksaan nasopharynx dapat dilakukan dengan rhinoskopi posterior,

nasopharyngoscope (fiber/rigid) dan laryngoscope.


18

Menurut Formula Digsby, setiap simptom mempunyai nilai diagnostik dan

berdasarkan jumlah nilai, dapat ditentukan adanya karsinoma nasofaring.12,13

Tabel 5. Formula Digsby


Gejala Nilai
Massa terlihat pada nasofaring 25
Gejala khas di hidung 15
Gejala khas pendengaran 15
Sakit keala unilateral atau bilateral 5
Gangguan neurologik saraf kranial 5
Eksoftalmus 5
Limfodenopati leher 25

Bila jumlah nilai mencapai 50, diagonosis klinis karsinoma nasofaring dapat

ditegakkan. Sekalipun secara klinik jelas karsinoma nasofaring, namun biopsi

tumor primer mutlak dilakukan, selain untuk konfirmasi diagnosis histopatologi,

juga untuk menentukan subtipe histopatologi yang erat kaitannya dengan

pengobatan dan prognosis.

II.9.3. Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dialkukan adalah hematologik berupa

pemeriksaan darah perifer, LED, hitung jenis, alkali fosfatase, LDH, dan fungsi

liver seperti SGPT-SGOT.12

2. Biopsi nasofaring

Diagnosis pasti dari KNF ditentukan dengan diagnosis klinis ditunjang

dengan diagnosis histologik atau sitologik. Diagnosis histologik atau sitologik

dapat ditegakkan bila dikirim suatu material hasil biopsy cucian, hisapaan

(aspirasi), atau sikatan (brush), biopsy dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dari
19

hidung atau dari mulut. Biopsi tumor nasofaring umumnya dilakukan dengan

anestesi topikal dengan xylocain 10%.

Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind

biopsy). Cunam biopsy dimasukan melalui rongga hidung menyelusuri konka

media ke nasofaring, kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan

biopsy.12,13

Biopsi melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang

dimasukkan melalui hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik

keluar dan diklem bersama-sama ujung katetr yang dihidung. Demikian juga kateter

yang dari hidung disebelahnya, sehingga palatum mole tertarik ke atas. Kemudian

dengan kaca laring, dilihat nasofaring. Biopsy dilakukan dengan melihat tumor

melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukkan melalui

mulut, massa tumor akan terlihat lebih jelas.12,13

Bila dengan cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan, maka

dilakukan pengerokkan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam nekrosis.12,13

3. Sitologi dan Histopatologi

Klasifikasi WHO tahun 1978 untuk karsinoma nasofaring.12,13

a. Keratinizing squamous cell carcinoma, ditandai dengan adanya keratin

atau intracellular bridge atau keduanya.

b. Non keratinizing squamous cell carcinoma yang ditandai dengan batas sel

yang jelas (pavament cell pattern).


20

c. Undifferentiated carcinoma ditandai oleh pola pertumbuhan syncitial, sel-

sel poligonal berukuran besar atau sel dengan bentuk spindel, anak inti

yang menonjol dan struktur ruangan infiltrasi sel-sel radang limfosit.

Sedangkan klasifikasi WHO tahun 1991 membagi karsinoma nasofaring

menjadi keranitizing squamous cell carcinoma, non-keratinizing squamous cell

carcinoma yang terdiri atas differentiated dan undifferentiated, serta basaloid

carcinoma. Tipe tanda diferensiasi dan tanpa keratinisasi mempunyai sifat yang

sama, yaitu radiosensitif. Sedangkan jenis dengan keratinisasi tidak begitu

sensitif.14,16,18

Dalam pemeiksaan Sitologi, didapatkan hasl:

a. Squamous cell carcinoma

Inti squamous cell carcinoma bentuknya lebih “spindel” dan lebih

memanjang dengan kromatin inti yang padat dan tersebar tidak merata. Pleomorfik

dari inti dan membran inti lebih jelas. Selalu terlihat perbedaan (variasi) yang jelas

dalam derajat kromasia di antara inti yang berdampingan. Nukleoli bervariasi dalam

besar dan jumlahnya. Sitoplasma lebih padat, berwarna biru dan batas sel lebih

mudah dikenal. Keratinisasi meruapakan indikasi yang paling dapat dipercaya

sebagai tanda adanyaa diferensiasi ke arah squamous cell. Bila keratinisasi tidak

terlihat maka dijumpainya halo pada sitoplasma di sekitar inti dan kondensasi

sitoplasma pada bagian pinggir sel, merupakan penutun yang sangat menolong

untuk mengenal lesi tersebut sebagai squamous cell carcinoma.14,16,18


21

Gambar 3. Cytology smear showing clusters of keratinizing squamous


carcinoma indicating metastasis in the lymph node.12

b. Undifferentiated carcinoma

Gambaran sitologi yang dapat dijumpai pada undifferentiated carcinoma

berupa kelompokan sel-sel berukuran besar yang tidak berdiferensiasi, inti yang

membesar dan khromatin pucat, terdapat anak inti yang besar, sitoplasma sedang,

dijumpai latar belakang sel-sel radang limfosit diantara sel-sel epitel. Dijumpai

gambaran mikroskopis yang sama dari aspirat yang berasal dari lesi primer dan

metastase pada kelenjar getah bening regional.14,16,18


22

Gambar 4. Kelompokan sel-sel epitel undifferentiated, dengan latar belakang


limfosit. Tampak sitoplasma yang eosinofilik dan anak inti yang prominen.12

Dalam pemeriksaan histopaogi, didapatkan hasil:

a. Keratinizing Squamous Cell Carcinoma

Pada pemeriksaan histopatologi non keratinizing squamous cell carcinoma

memperlihatkan gambaran stratified dan membentuk pulau-pulau.Sel-sel

menunjukkan batas antar sel yang jelas dan terkadang dijumpai intercellular bridge

yang samar-samar. Dibandingkan dengan undifferentiated carcinoma ukuran sel

lebih kecil, rasio inti sitoplasma lebih kecil, inti lebih hiperkhromatik dan anak inti

tidak menonjol.14,16,18
23

Gambar 5. Non Keratinizing Squamous Cell Carcinoma.12

b. Undifferentiated Carcinoma

Pada pemeriksaan undifferentiated carcinoma memperlihatkan gambaran

sinsitial dengan batas sel yang tidak jelas,inti bulat sampai oval dan vesikular,

dijumpai anak inti. Sel-sel tumor sering tampak terlihat tumpang tindih6. Beberapa

sel tumor dapat berbentuk spindel. Dijumpai infiltrat sel radang dalam jumlah

banyak, khususnya limfosit, sehingga dikenal juga sebagai lymphoepithelioma.

Dapat juga dijumpai sel-sel radang lain, seperti sel plasma, eosinofil, epitheloid dan

multinucleated giant cell (walaupun jarang). 14,16,18

Terdapat dua bentuk pola pertumbuhan tipe undifferentiated yaitu tipe

Regauds, yang terdiri dari kumpulan sel-sel epiteloid dengan batas yang jelas yang

dikelilingi oleh jaringan ikat fibrous dan sel-sel limfosit. Yang kedua tipe

Schmincke, sel-sel epitelial neoplastik tumbuh difus dan bercampur dengan sel-sel

radang. Tipe ini sering dikacaukan dengan large cell malignant lymphoma.14,16,18
24

Gambar 6. Undifferentiated Carcinoma terdiri dari sel-selyang membentuk sarang-


sarang padat ( “Regaud type”). 12

Gambar 7. Undifferentiated Carcinoma terdiri sel-sel yang tumbuh membentuk


gambaran syncytial yang difus (Schmincke type). 12

Pemeriksaan yang teliti dari inti sel tumor dapat membedakan antara

karsinoma nasofaring dan large cell malignant lymphoma, dimana inti dari

karsinoma nasofaring memiliki gambaran vesikular, dengan pinggir inti yang rata

dan berjumlah satu, dengan anak inti yang jelas berwarna eosinophil. Inti dari

malignant lymphoma biasanya pinggirnya lebih iregular, khromatin kasar dan anak
25

inti lebih kecil dan berwarna basofilik atau amphofilik. Terkadang undifferentiated

memiliki sel-sel dengan bentuk oval atau spindle.14,16,18

c. Basaloid Squamous Cell Carcinoma

Bentuk mikroskopis lain yang jarang dijumpai adalah basaloid squamous

cell carcinoma. Tipe ini memiliki dua komponen yaitu sel-sel basaloid dan sel-sel

squamous. Sel-sel basaloid berukuran kecil dengan inti hiperkhromatin dan tidak

dijumpai anak inti dan sitoplasma sedikit. Tumbuh dalam pola solid dengan

konfigurasi lobular dan pada beberapa kasus dijumpai adanya peripheral palisading.

Komponen sel-sel squamous dapat in situ atau invasif. Batas antara komponen

basaloid dan squamous jelas.14,16,18

Gambar 8. Basaloid Squamous Cell Carcinoma pada nasofaring.Sel-sel basaloid


menunjukkan festoonin growth pattern, sel-sel basaloid berselang-seling dengan
squamous differentiaton. 12
26

4. Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan radiologi pada kecurigaan KNF merupakan pemeriksaan

penunjang diagnostic yang penting. Tujuan utama pemeriksaan radiologik tersebut

adalah:14,16,18

1) Memberikan diagnosis yang lebih pasti pada kecurigaan adanya tumor

pada daerah nasofaring

2) Menentukan lokasi yang lebih tepat dari tumor tersebut

3) Mencari dan menetukan luasnya penyebaran tumor ke jaringan

sekitarnya.

Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:14,16,18

a. CT-Scan atau MRI

Saat ini untuk mendiagnosa secara pasti CT Scan dan MRI merupakan suatu

modalitas utama. Melalui CT Scan dan MRI dapat dilihat secara jelas ada tidaknya

massa dan sejauh apa penyebaran massa tersebut, hingga dapat membantu dalam

menentukan stadium dan jenis terapi yang akan dilakukan.14,16,18

Pemeriksaan radiologik berupa CT scan nasofaring mulai setinggi sinus

frontalis sampai dengan klavikula, potongan koronal, aksial, dan sagital, tanpa dan

dengan kontras. Teknik pemberian kontras dengan injector 1-2cc/kgBB, delay time

1 menit. CT berguna untuk melihat tumor primer dan penyebaran ke jaringan

sekitarnya serta penyebaran kelenjar getah bening regional.14,16,18


27

b. USG abdomen

Untuk menilai metastasis organ-organ intra abdomen. Apabila dapat

keraguan pada kelainan yang ditemukan dapat dilanjutkan dengan CT Scan

Abdomen dengan kontras.14,16,18

c. Foto Thoraks

Untuk melihat adanya nodul di paru atau apabila dicurigai adanya kelainan

maka dilanjutkan dengan CT Scan Thoraks dengan kontras.14,16,18

d. Bone Scan

Untuk melihat metastasis tulang.14,16,18

5. Pemeriksaan neurologis

Karena nasofaring berhubungan dekat dengan rongga tengkorak melalui

beberapa foramen, maka gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi sebagai gejala

lanjut KNF ini.14,16,18

6. Pemeriksaan serologi

Pemeriksaan serologi IgA anti EA (early antigen) dan IgA anti VCA (capsid

antigen) untuk infeksi virus E-B telah menunjukan kemajuan dalam mendeteksi

karsinoma nasofaring. IgA anti EA sensitivitasnya 100% tetapi spesifitasnya hanya

30,0%, sehingga pemeriksaan ini hanya digunakan untuk menentukan prognosis

pengobatan, titer yang didapat berkisar antara 80 sampai 1280 dan terbanyak

160.14,16,18
Gambar 9. Alogaritma Diagnosis KNF.13
28
29

II.10. DIAGNOSIS BANDING

1. Hiperplasia adenoid

Biasanya terdapat pada anak-anak, jarang pada orang dewasa. Pada anak-

anak hyperplasia ini terjadi karena infeksi berulang. Pada foto polos akan terlihat

suatu massa jaringna lunak pada aatap nasofaring umumnya berbatas tegas dan

umunya simetris serta struktur-struktur sekitarnya tak tampak tanda- tanda infiltrasi

seperti tampak pada karsinoma.14,16,18

2. Angiofibroma juvenilis

Biasanya ditemui pada usia relative muda dengan gejala-gejala menyerupai

KNF. Tumor ini kaya akan pembuluh darah dan biasnya tidak infiltrative. Pada

foto polos akan didapat suatu massa pada atap nasofairng yang berbatas tegas.

Proses dapat meluas seperti pada penyebaran karsinoma, walaupun jarang

menimbulkan destruksi tulang hanya erosi saja karena penekanan tumor. Biasanya

ada pelengkungan ke arah depan dari dinding belakang sinus maksilaris yang

dikenal sebgai antral sign. Karena tumor ini kaya akan vascular maka arterigrafi

carotis eksterna sangat diperlukan sebab gambaranya sangat karakteristik. Kadang-

kadang sulit pula membedakan angiofibroma juvenils dengan polip hidung pada

foto polos.14,16,18

3. Tumor sinus sphenoidalis

Tumor ganas primer sinus sphenoidalis adalah sangat jarang dan biasanya

tumor sudah sampai stadium agak lanjut waktu pasien datang untuk pemeriksaan

pertama.14,16,18
30

4. Neurofibroma

Kelompok tumor ini sering timbul pada ruang faring lateral sehingga

menyerupai keganasan dinding lateral nasofaring. secara CT-Scan, pendesakan

ruang para faring kearah medial dapat membantu membedakan kelompok tumor ini

dengan KNF.14,16,18

5. Tumor kelenjar parotis

Tumor kelenjar parotis terutama yang berasal dari lobus yang terletak agak

dalam mengenai ruang para faring dan menonjol kearah lumen nasofaring. pada

sebagian besar kasus terlihat pendesakan ruang parafaring kearah medial yang

tampak pada pemeriksaan CT Scan.14,16,18

6. Meningioma basis kranii

Walaupun tumor ini agak jarang tetapi gambarannya kadang-kadang

menyerupai KNF dengan tanda-tanda sklerotik pada daerah basis kranii. Gambaran

CT meningioma cukup karakteristik yaitu sedikit hiperdense sebelum penyuntikan

zat kontras dan akan menjadi sangat hiperdense setelah pemberian zat kontras

intravena. Pemeriksaan arteiografi juga sangat membantu diagnosis tumor ini.14,16,18

II.11. KOMPLIKASI

Metastasis ke kelenjar limfa dan jaringan sekitar merupakan suatu

komplikasi yang selalu terjadi. Pada KNF, sering kali terjadi komplikasi ke arah

nervus kranialis yang bermanifestasi dalam bentuk:13,14,19


31

1. Petrosphenoid sindrom

Tumor tumbuh ke atas ke dasar tengkorak lewat foramen laserum sampai sinus

kavernosus menekan saraf N. III, N. IV, N.VI juga menekan N.II. yang

memberikan kelainan:13,14,19

a. Neuralgia trigeminus ( N. V ) : Trigeminal neuralgia merupakan suatu

nyeri pada wajah sesisi yang ditandai dengan rasa seperti terkena aliran

listrik yang terbatas pada daerah distribusi dari nervus trigeminus.13,14,19

b. Ptosis palpebra ( N. III )

c. Ophthalmoplegia ( N. III, N. IV, N. VI )

2. Retroparidean sindrom

Tumor tumbuh ke depan kearah rongga hidung kemudian dapat menginfiltrasi

ke sekitarnya. Tumor ke samping dan belakang menuju ke arah daerah

parapharing dan retropharing dimana ada kelenjar getah bening. Tumor ini

menekan saraf N. IX, N. X, N. XI, N. XII dengan manifestasi gejala :13,14,19

a. N. IX : kesulitan menelan karena hemiparesis otot konstriktor superior

serta gangguan pengecapan pada sepertiga belakang lidah

b. N. X : hiper / hipoanestesi mukosa palatum mole, faring dan laring disertai

gangguan respirasi dan saliva

c. N XI : kelumpuhan / atrofi oto trapezius , otot SCM serta hemiparese

palatum mole

d. N. XII : hemiparalisis dan atrofi sebelah lidah.

e. Sindrom horner : kelumpuhan N. simpaticus servicalis, berupa

penyempitan fisura palpebralis, onoftalmus dan miosis.


32

3. Metastasis organ jauh

Sel-sel karsinoma dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah,

mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang sering adalah

tulang, hati dan paru. Hal ini merupakan hasil akhir dan prognosis yang buruk.

Dalam penelitian lain ditemukan bahwa karsinoma nasofaring dapat

mengadakan metastase jauh, ke paru-paru dan tulang, masing-masing 20 %,

sedangkan ke hati 10 %, otak 4 %, ginjal 0.4 %, dan tiroid 0.4 %.

II.12. PENATALAKSANAAN

Terapi dapat mencangkup radiasi, kemoterapi, kombinasi keduanya dan

didukung dengan terapi simptomatik, sesuai dengan gejalanya.

Tabel 6. Pedoman penatalaksanaan terapi pasien KNF


Pedoman Modalitas Terapi pada KNF
Stadium dini Stadium I (T1N0M0) Radiasi saja
Stadium intermediet Stadium II (T1-2,N1-2,M0) Kemoterapi konkuren
Stadium lokal lanjut Stadium III IVA, IVB (T3- Kemoterapi konkuren +/-
4,N0-3,M0) kemoterapi adjuvan

Perencanaan terapi radiasi Stadium IVA, IVB (T4 atau Kemoterapi induksi, diikuti
problematik (tumor yang N3) dengan kemoterapi
berbatasan dengan organ at risk, konkuren
misalnya kiasma optikum)

1. Radioterapi

Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dalam

penatalaksanaan KNF. Modalitas utama untuk KNF adalah radioterapi

dengan atau tanpa kemoterapi. Radioterapi adalah metode pengobatan

penyakit maligna dengan menggunakan sinar peng-ion, bertujuan untuk

mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat


33

disekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat. Karsinoma

nasofaring bersifat radioresponsif sehingga radioterapi tetap merupakan

terapi terpenting. Jumlah radiasi untuk keberhasilan melakukan radioterapi

adalah 5.000 sampai 7.000 cGy.13,14,18,20

Dosis radiasi pada limfonodi leher tergantung pada ukuran sebelum

kemoterapi diberikan. Pada limfonodi yang tidak teraba diberikan radiasi

sebesar 5000 cGy, <2 cm diberikan 6600 cGy, antara 2-4 cm diberikan 7000

cGy dan bila lebih dari 4 cm diberikan dosis 7380 cGy, diberikan dalam 41

fraksi 5,5 minggu. Hasil pengobatan yang dinyatakan dalam angka respons

terhadap penyinaran sangat tergantung pada stadium tumor. Makin lanjut

stadium tumor, makin berkurang responsnya. Untuk stadium I dan II,

diperoleh respons komplit 80% - 100% dengan terapi radiasi. Sedangkan

stadium III dan IV, ditemukan angka kegagalan respons lokal dan metastasis

jauh yang tinggi, yaitu 50% - 80%. Angka ketahanan hidup penderita KNF

dipengaruhi beberapa faktor diantaranya yang terpenting adalah stadium

penyakit. Pasien KNF stadium III-IV yang hanya diterapi dengan radiasi,

angka harapan hidup 5 tahun (5 years survival rate) kurang dari 25 %, dan

pada pasien yang telah mengalami metastase ke limfonodi regional, maka

angka tersebut turun sampai 1-2%. 13,14,18,20

2. Kemoterapi

Secara definisi kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat

menghambat pertumbuhan karsinoma atau bahkan membunuh sel

karsinoma. Obat-obat anti karsinoma dapat digunakan sebagian terapi


34

tunggal (active single agents), tetapi pada umumnya berupa kombinasi

karena dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel karsinoma.

Selain itu sel – sel yang resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitive

terhadap obat lainnya. Dosis obat sitostatika dapat dikurangi sehingga efek

samping menurun. Beberapa regimen kemoterapi yang antara lain cisplatin,

5-Fluorouracil, methotrexate, paclitaxel dan docetaxel. Tujuan kemoterapi

untuk menyembuhkan pasien dari penyakit tumor ganas.13,14,18,20

1. Indikasi Kemoterapi

Terapi adjuvan tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi

yaitu bila setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata

:13,14,18,20

a. Karsinomanya masih ada, dimana biopsi masih positif

b. Kemungkinan besar karsinomanya masih ada, meskipun tidak ada

bukti secara makroskopis.

c. Pada tumor dengan derajat keganasan tinggi ( oleh karena tingginya

resiko kekambuhan dan metastasis jauh).

2. Kemoterpi berdasarkan waktu pemberian

Berdasarkan saat pemberiannya kemoterapi adjuvan pada tumor ganas

kepala leher dibagi menjadi :13,14,18,20

a. Neoadjuvant atau induction chemotherapy (yaitu pemberian

kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi)

b. Concurrent, simultaneous atau concomitant chemoradiotherapy

(diberikan bersamaan dengan penyinaran atau operasi)


35

c. Post definitive chemotherapy (sebagai terapi tambahan paska

pembedahan dan atau radiasi)

3. Efek samping kemoterapi

Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor tapi juga sel normal

yang membelah secara cepat seperti sel rambut, sumsum tulang dan Sel pada

traktus gastro intestinal. Akibat yang timbul bisa berupa perdarahan, depresi

sumsum tulang yang memudahkan terjadinya infeksi. Pada traktus gastro

intestinal bisa terjadi mual, muntah anoreksia dan ulserasi saluran cerna.

Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan rambut. Jaringan

tubuh normal yang cepat proliferasi misalnya sum-sum tulang, folikel

rambut, mukosa saluran pencernaan mudah terkena efek obat sitostatika.

Untungnya sel karsinoma menjalani siklus lebih lama dari sel normal,

sehingga dapat lebih lama dipengaruhi oleh sitostatika dan sel normal lebih

cepat pulih dari pada sel karsinoma.13,14,18,20

Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah toksisitas

terhadap jantung, yang dapat dievaluasi dengan EKG dan toksisitas pada

paru berupa kronik fibrosis pada paru. Toksisitas pada hepar dan ginjal lebih

sering terjadi dan sebaiknya dievalusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya.

Kelainan neurologi juga merupakan salah satu efek samping pemberian

kemoterapi.21 Kemoradioterapi kombinasi adalah pemberian kemoterapi

bersamaan dengan radioterapi dalam rangka mengontrol tumor secara

lokoregional dan meningkatkan survival pasien dengan cara mengatasi sel

karsinoma secara sistemik lewat mikrosirkulasi.13,14,18,20


36

4. Manfaat kemoterapi

Manfaat pemberian keoterapi adjuvan antara lain:13,14,18,20

a. Mengecilkan massa tumor, karena dengan mengecilkan tumor akan

memberikan hasil terapi radiasi lebih efektif. Telah diketahui bahwa

pusat tumor terisi sel hipoksik dan radioterapi konvensional tidak

efektif jika tidak terdapat oksigen. Pengurangan massa tumor akan

menyebabkan pula berkurangnya jumlah sel hipoksia.

b. Mengontrol metastasis jauh dan mengontrol mikrometastase.

c. Modifikasi melekul DNA oleh kemoterapi menyebabkan sel lebih

sensitif terhadap radiasi yang diberikan (radiosensitiser).

Terapi kombinasi ini selain bisa mengontrol sel tumor yang

radioresisten, memiliki manfaat juga untuk menghambat pertumbuhan

kembali sel tumor yang sudah sempat terpapar radiasi. Kemoterapi

neoajuvan dimaksudkan untuk mengurangi besarnya tumor sebelum

radioterapi. Pemberian kemoterapi neoadjuvan didasari atas pertimbangan

vascular bed tumor masih intak sehingga pencapaian obat menuju massa

tumor masih baik. Disamping itu, kemoterapi yang diberikan sejak dini dapat

memberantas mikrometastasis sistemik seawal mungkin. Kemoterapi

neoadjuvan pada keganasan kepala leher stadium II–IV dilaporkan overall

response rate sebesar 80%- 90 % dan Complete Response (CR) sekitar 50%.

Kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum terapi definitif berupa

radiasi dapat mempertahankan fungsi organ pada tempat tumbuhnya tumor

(organ preservation).13,14,18,20
37

Secara sinergi agen kemoterapi seperti Cisplatin mampu menghalangi

perbaikan kerusakan DNA akibat induksi radiasi. Sedangkan Hidroksiurea

dan Paclitaxel dapat memperpanjang durasi sel dalam keadaan fase sensitif

terhadap radiasi.13,14,18,20

Kemoterapi yang diberikan secara bersamaan dengan radioterapi

(concurrent or concomitant chemoradiotherapy) dimaksud untuk

mempertinggi manfaat radioterapi. Dengan cara ini diharapkan dapat

membunuh sel karsinoma yang sensitif terhadap kemoterapi dan mengubah

sel karsinoma yang radioresisten menjadi lebih sensitif terhadap radiasi.

Keuntungan kemoradioterapi adalah keduanya bekerja sinergistik yaitu

mencegah resistensi, membunuh subpopulasi sel karsinoma yang hipoksik

dan menghambat recovery DNA pada sel karsinoma yang sublethal.13,14,18,20

5. Kelemahan kemoterapi

Kelemahan cara ini adalah meningkatkan efek samping antara lain

mukositis, leukopeni dan infeksi berat. Efek samping yang terjadi dapat

menyebabkan penundaan sementara radioterapi. Toksisitas Kemoradioterapi

dapat begitu besar sehingga berakibat fatal. Beberapa literatur menyatakan

bahwa pemberian kemoterapi secara bersamaan dengan radiasi dengan

syarat dosis radiasi tidak terlalu berat dan jadwal pemberian tidak

diperpanjang, maka sebaiknya gunakan regimen kemoterapi yang sederhana

sesuai jadwal pemberian. Untuk mengurangi efek samping dari

kemoradioterapi diberikan kemoterapi tunggal (single agent chemotherapy)

dosis rendah dengan tujuan khusus untuk meningkatkan sensitivitas sel


38

karsinoma terhadap radioterapi (radiosensitizer). Sitostatika yang sering

digunakan adalah Cisplatin, 5-Fluorouracil dan MTX dengan response rate

15%-47%.13,14,18,20

3. Operasi

Tindakan operasi pada penderita KNF berupa diseksi leher radikal dan

nasofaringektomi. Diseksi leher dilakukan jika masih terdapat sisa kelenjar

paska radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar dengan syarat bahwa tumor

primer sudah dinyatakan bersih yang dibuktikan melalui pemeriksaan

radiologi. Nasofaringektomi merupakan suatu operasi paliatif yang

dilakukan pada kasus-kasus yang kambuh atau adanya residu pada

nasofaring yang tidak berhasil diterapi dengan cara lain.13,14,18,20

4. Immunoterapi

Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari KNF adalah EBV, maka

pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan imunoterapi.13,14,18,20


Gambar 10. Alogaritma Penatalaksanaan KNF.13
39
40

II.12. PROGNOSIS

Prognosis pasien dengan KNF dapat sangat berbeda antara subkelompok

yang satu dengan subkelompok yang lain. Semakin terlambatnya diagnosis maka

prognosis (angka bertahan hidup 5 tahun) semakin buruk. Perbedaan prognosis dari

tiap stadium KNF berbeda. Prognosis stadium stadium I yaitu 76,9%, stadium II

sebesar 56,0%, stadium III sebesar 38,4% dan stadium IV sebesar 16,4%.14