Anda di halaman 1dari 36

RUMAH SAKIT “RAUDHAH”

Alamat : Jl. Lintas Sumatera Km. 1 Bukit Aur Bangko


Kabupaten Merangin - Propinsi Jambi
Telp/Fax.(0746) 322834 E-mail: rs.raudhah_bko@yahoo.co.id

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT RAUDHAH BANGKO

NOMOR: /SK-Dir/RSR/VI/2016

TENTANG

KEBIJAKAN PELAYANAN PASIEN FASE TERMINAL

DIREKTUR RUMAH SAKIT RAUDHAH BANGKO

Menimbang :

a. bahwa pelayanan pasien fase terminal di rumah sakit, maka diperlukan pelayanan pasien
fase terminal yang terkait pelayanan kesehatan Rumah Sakit;

b. bahwa agar pelayanan pasien fase terminal terlaksana dengan baik, perlu adanya kebijakan
Direktur Rumah Sakit Raudhah Bangko

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan b,perlu ditetapkan


dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit Raudhah Bangko

Mengingat :

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

3. Peraturan Pemerintah Nomor PP 10/1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran.

4. Permenkes Nomor: 290/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.

5. Permenkes Nomor: 1691/2011,tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

6. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety), 2008


MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

Kesatu : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT RAUDHAH BANGKO


TENTANG PELAYANAN PASIEN FASE TERMINAL

Kedua : Kebijakan pelayanan pasien fase terminal di Rumah Sakit Raudhah Bangko
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.

Ketiga : Pembinaan dan pengawasan pelayanan pasien fase terminal dilaksanakan oleh
Direktur Rumah Sakit Raudhah Bangko

Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila di kemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di :Bangko
Pada tanggal :

Direktur,
Rumah Sakit Raudhah Bangko

Dr. Mirnawati
NIK. 150201523171189
Lampiran
Peraturan Direktur RS Raudhah
Nomor : / SK-Dir/RSR/VI/2016
Tanggal : 01 Juni 2016

KEBIJAKAN UMUM:
1. Pelayanan pasien fase terminal adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan
rumah sakit secara utuh dan berorientasi kepada pelayanan yang berkualitas dan
mengutamakan keselamatan pasien;
2. Rumah sakit mendukung hak pasien untuk mendapat pelayanan yang menghargai dan
penuh kasih sayang pada akhir kehidupannya;
3. Pasien yang sedang menghadapi kematian mempunyai kebutuhan yang unik untuk untuk
pelayanan yang penuh hormat dan kasih-sayang;
4. Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek pelayanan
pada tahap akhir kehidupan;
5. Kebutuhan ini meliputi pengobatan terhadap gejala primer dan sekunder, manajemen
nyeri; respon terhadap aspek psikologis, sosial, emosional, agama dan budaya pasien dan
keluarganya serta keterlibatannya dalam keputusan pelayanan.

KEBIJAKAN KHUSUS:
1. Rumah sakit mengetahui bahwa pasien yang menghadapi kematian mempunyai kebutuhan
yang unik;
2. Staf rumah sakit menghargai hak pasien yang sedang menghadapai kematian, memiliki
kebutuhan yang unik dan dinyatakan dalam proses asuhan

Direktur,
Rumah Sakit Raudhah Bangko

Dr. Mirnawati
NIK. 150201523171189
PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

Ditetapkan
Direktur,
STANDAR TanggalTerbit
OPERASIONAL
PROSEDUR Dr.Mirnawati
NIK. 150201523171189
Pengertian Pasien Tahap Terminal adalah pasien dengan kondisi terminal yang
makin lama makin memburuk.
Tujuan Agar pasien yang dalam proses kematian mempunyai kebutuhan
khusus untuk dilayani dengan penuh hormat dan kasih. Perhatian
terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek
asuhan selama stadium akhir hidup.
Kebijakan Tentang Asesmen Pelayanan Pasien Tahap Terminal Oleh Dokter pada
Nomor: /SK-Dir/RSR/VI/2016

Prosedur Kerja 1. Intervensi keperawatan :


1.1 Pertahankan kebersihan tubuh, pakaian dan tempat tidur
pasien.
1.2 Atur posisi tidur yang nyaman untuk pasien
1.3 Lakukan “suction”bila terjadi penumpukan secret pada
Jalan nafas.
1.4 Berikan nutrisi dan cairan yang adekuat.
1.5 Lakukan perawatan mata agar tidak terjadi
kekeringan/infeksikornea.
1.6 Lakukan oral hygiene.
1.7 Lakukan reposisi tidur setiap 2 jam sekali dan lakukan
masase pada daerah penonjolan tulang dengan
menggunakan minyak kayu putih untuk mencegah
dekubitus.
1.8 Lakukan manajemen nyeri yang memadai.
1.9 Anjurkan keluarga untuk mendampingi dan mengajak
pasien berdoa
1.10 Tunjukkan perhatian dan empati serta dukungan kepada
keluarga yang berduka.
1.11 Ajak keluarga untuk berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan terhadap asuhan pasien, seperti penghentian
bantuan hidup (with drawing lifesupport )atau penundaan
PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

Prosedur Kerja 2. Intervensi Medis :


2.1 Tindakan resusitasi jantung paru otak (rjpo)
2.2 Pemakaian alat ventilasi mekanik (ventilator)
2.3 Pemberian nutrisi :
a. Feeding tube
b. Parenteral nutrition
2.4 Tindakan dialisis
2.5 Pemberian antibiotik.
2.6 Penghentian bantuan hidup (with drawing life support) dan
penundaan bantuan hidup (with holding life support)
Unit terkait - Ruang perawatan
- ICU
- Perinatologi
ASESMEN PASIEN TAHAP TERMINAL

NO. DOKUMEN NO. REVISI HALAMAN

Ditetapkan
Direktur,
STANDAR Tanggal Terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR
Dr.Mirnawati
Pengertian Pasien Tahap Terminal adalah pasien dengan kondisi terminal yang
makin lama makin memburuk.
Tujuan Agar pasien yang dalam proses kematian mempunyai kebutuhan
khusus untuk dilayani dengan penuh hormat dan kasih. Perhatian
terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek
asuhan selama stadium akhir hidup.
Kebijakan Tentang Asesmen Pasien Tahap Terminal Oleh Dokter pada Nomor:
/SK-Dir/RSR/VI/2016

Prosedur Kerja 1. Dokter melakukan assessment pasien tahap terminal


2. Dokter mengajak keluarga pasien untuk terlibat dalam asesmen
pasien tahap terminal.
3. Dokter mempersilahkan keluarga pasien untuk mengambil
keputusan dalam manajemen pasien tahap terminal,yaitu:
3.1 Keluarga memutuskan untuk menghentikan pengobtan dan
pasien di bawa pulang sehingga pasien bisa meninggal
dengan bermartabat di rumah.
3.2 Keluarga memutuskan untuk tetap di rawat di ruang
perawatan.
3.3 Keluarga memutuskan untuk di pindah keruang ICU.
4. Dokter memerintahkan pada staf medis untuk menghormati
keputusan keluarga pasien dan melakukan penatalaksanaan
selanjutnya.
5. Mendokumentasikan semuanya dalam rekam medis pasien.
Unit terkait - Ruang perawatan
- ICU
- Perinatologi
MATI BATI OTAK (MBO)

NO. DOKUMEN NO.REVISI HALAMAN

Ditetapkan,
STANDAR Direktur
OPERASIONAL
Tanggal Terbit
PROSEDUR

Dr.Mirnawati
NIK. 150201523171189
Pengertian 1. Mati Batang Otak (MBO) adalah: suatu keadaan yang
ditandai oleh menghilangnya fungsi batang otak.
2. Diskontinuitas system neuronal saraf perifer ke kortek
(syaraf mutlak untuk kesadaran).
Tujuan Untuk memfasilitasi penanganan dan pelayanan yang nyaman
dalam proses penghentian. Kebijakanini berlaku untuk pasien
yang telah dinyatakan DNR atau dinyatakan akan dihentikan
support kehidupannya.

Kebijakan tentang mati batang otak (MBO) No: SK-Dir/RSR/VI/2016

Prosedur 1. Sebelum Tes Refleks Batang Otak


1.1 Harust anda-tanda fungsi batang otak telah hilang
1.1.1 Pasien koma
1.1.2 Tidak ada sikap abnormal dekortikasi atau
deserebrasi
1.1.3 Tidak ada refleks batang otak : reflek
sokulosefalik
MATI BATI OTAK(MBO)

NO. DOKUMEN NO.REVISI HALAMAN


2/2

1.1.4 Tidak ada sentakan epileptik


1.1.5 Tidak ada nafas spontan
1.1.6 Bila salah satu positif, batang otak masih
hidup, maka tidak perlu tes refleks batang
otak.
2. Lima Tes Refleks Batang Otak
2.1 Tidak ada respon terhadap cahaya
2.2 Tidak ada refleks kornea
2.3 Tidak ada refleks vestibulo– okuler
2.4 Tidak ada respon motorik dalam distribusi saraf cranial
terhadap rangsang adekuat pada area somatik
2.5 Tidak ada refleks muntah (gang refleks) atau refleks
batuk terhadap rangsang oleh kate terisap yang
dimasukkan kedalam trakea.
3. Tes Apneu
3.1 Preoksigenasi dengan 100 % O2 selama 10 menit.
3.2 Beri 5% dalam 95% selama 5 menit berikutnya untuk
menjamin PaCO2 awal : 53 Kpa (40 torr).
4. Pengulangan Tes
4.1 Tes ulang perlu dilakukan untuk mencegah kesalahan
pengamatan dan perubahan tanda-tanda.
4.2 Interval waktu 25 menit–24 jam tergantung rumah sakit
dan rekomendasi yang dianut.
Unit Terkait - Unit Rawat Inap
- IGD
- ICU

8
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT IBU RAUDHAH BANGKO
NOMOR: SK-Dir/RSR/VI/2016

TENTANG

KEBIJAKAN PANDUAN PELAYANAN PASIEN FASE TERMINAL


DIREKTUR RUMAH SAKIT RAUDHAH BANGKO

Menimbang :
d. bahwa pelayanan pasien fase terminal di rumah sakit, maka diperlukan panduan
pelayanan pasien fase terminal yang terkait pelayanan kesehatan Rumah Sakit;
e. bahwa agar panduan pelayanan pasien fase terminal terlaksana dengan baik, perlu
adanya kebijakan Direktur Rumah Sakit Raudhah Bangko
f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan b,perlu ditetapkan
dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit Raudhah Bangko

Mengingat :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor PP 10/1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran.
4. Permenkes Nomor: 290/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.
5. Permenkes Nomor: 1691/2011,tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
6. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety), 2008

MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

Kesatu : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT RAUDHAH BANGKO


TENTANG PANDUAN PELAYANAN PASIEN FASE TERMINAL

9
Kedua : Kebijakan panduan pelayanan pasien fase terminal di Rumah Sakit Raudhah
bangko sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.

Ketiga : Pembinaan dan pengawasan panduan pelayanan pasien fase terminal


dilaksanakan oleh Direktur Rumah Sakit Raudhah Bangko

Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila di kemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di :Bangko
Pada tanggal :

Direktur,
Rumah Sakit Raudhah Bangko

Dr. Mirnawati
NIK. 150201523171189

1
0
PANDUAN PELAYANAN PASIEN FASE TERMINAL
RUMAH SAKIT RAUDHAH BANGKO

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Definisi
Kondisi Terminal adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh cedera
atau penyakit dimana terjadi kerusakan organ multiple yang dengan
pengetahuan dan teknologi kesehatan terkini tak mungkin lagi dapat
dilakukan perbaikan sehingga akan menyebabkan kematian dalam rentang
waktu yang singkat.
Pasien Tahap Terminal adalah pasien dengan kondisi terminal yang
makin lama makin memburuk.
Pengelolaan Akhir Kehidupan
1. Pengelolaan akhir kehidupan meliputi penghentian bantuan hidup
(withdrawing life support) dan penundaan bantuan hidup (withholding life
support).
2. Keputusan withdrawing / withholding dilakukan pada pasien yang dirawat
diruang rawat intensif (ICU). Keputusan penghentian atau penundaan
bantuan hidup adalah keputusan medis dan etis.
3. Keputusan untuk penghentian atau penundaan bantuan hidup dilakukan
oleh 3 (tiga) dokter yaitu dokter spesialis anestesiologi atau dokter lain
yang memiliki kompetensi dan 2 (dua) orang dokter lain yang ditunjuk
oleh komite medis rumah sakit.

4. Prosedur pemberian atau penghentian bantuan hidup


ditetapkan berdasarkan klasifikasi setiap pasien di ICU, yaitu:

1
1
a. Bantuan total dilakukan pada pasien sakit atau cedera kritis yang
diharapkan tetap dapat hidup tanpa kegagalan otak berat yang menetap.
Walaupun system organ vital juga terpengaruh, tetapi kerusakannya
masih reversibel. Semua usaha yang memungkinkan harus dilakukan
untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas.
b. Semua bantuan kecuali RJP(Resusitasi Jantung Paru)
(DNAR=Do Not Attempt Resuscitation), dilakukan pada pasien-pasien
dengan fungsi otak yang tetap ada atau dengan harapan pemulihan otak,
tetapi mengalami kegagalan jantung, paru atau organ yang lain, atau
dalam tingkat akhir penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c. Tidak dilakukan tindakan-tindakan luar biasa, pada pasien-pasien yang
jika diterapi hanya memperlambat waktu kematian dan bukan
memperpanjang kehidupan. Untuk pasien ini dapat dilakukan
penghentian atau penundaan bantuan hidup. Pasien yang masih sadar
tapi tanpa harapan, hanya dilakukan tindakan terapeutik / paliatif agar
pasien merasa nyaman dan bebas nyeri.
d. Semua bantuan hidup dihentikan pada pasien dengan kerusakan fungsi
batang otak yang ireversibel. Setelah kriteria Mati Batang Otak (MBO)
yang ada terpenuhi, pasien ditentukan meninggal dan disertifikasi MBO
serta semua terapi dihentikan. Jika dipertimbangkan donasi organ,
bantuan jantung paru pasien diteruskan sampai organ yang diperlukan
telah diambil. Keputusan penentuan MBO dilakukan oleh 3 (tiga)
dokter yaitu dokter spesialis anestesiologi atau dokter lain yang
memiliki kompetensi, dokter spesialis saraf dan 1 (satu) dokter lain
yang ditunjuk oleh komite medis rumah sakit.

1.2 Tujuan
1.3.1 Menghargai nilai yang dianut pasien, agama, dan preferensi budaya.
1.3.2 Mengikut sertakan pasien dan keluarga dalam aspek pelayanan
kesehatan.
1.3.3 Memberikan respon pada hal psikologis, emosional, spiritual, dan
1
2
budaya dari pasien dan keluarganya.
1.3.4 Diharapkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam
kaitannya dengan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
1.3.5 Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
“CaraMenangani Pasien Yang Sakaratul Maut atau Hampir
Meninggal”.

1
3
BAB II
RUANG LINGKUP

2.1 Ruang Lingkup


2.1.1 Aspek Keperawatan

Banyak masalah yang melingkupi kondisi terminal pasien, yaitu


mulai dari titik yang actual dimana pasien dinyatakan kritis sampai
diputuskan meninggal dunia atau mati. Seseorang dinyatakan meninggal /
mati apabila fungsi jantung dan paru berhenti, kematian sistemik atau
kematian system tubuh lainnya terjadi dalam beberapa menit, dan otak
merupakan organ besar pertama yang menderita kehilangan fungsi yang
ireversibel, selanjutnya organ-organ lain akan mati.
Respon pasien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung
kondisi fisik, psikologis, social yang dialami, sehingga dampak yang
ditimbulkan pada tiap individu juga berbeda. Hal ini mempengaruhi tingkat
kebutuhan dasar yang ditunjukan oleh pasien terminal.
Menurut Elisabet Kübler-Ross,M.D.,ada 5 fase menjelang
kematian, yaitu:

a. Denial (fase penyangkalan / pengingkaran diri)


Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia menderita penyakit yang
parah dan dia tidak dapat menerima informasi ini sebagai kebenaran dan
bahkan mungkin mengingkarinya. Penyangkalan ini merupakan mekanis
pertahanan yang acapkali ditemukan pada hampir setiap pasien pada saat
pertama mendengar berita mengejutkan tentang keadaan dirinya.
b. Anger ( fase kemarahan )
Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa
ia akan meninggal. Masanya tiba dimana ia mengakui, bahwa kematian
memang sudah dekat. Tetapi kesadaran ini sering kali disertai dengan
munculnya ketakutan dan kemarahan. Kemarahan ini sering kali
Diekspresikan dalam sikap rewel dan mencari kesalahan pada pelayanan di

1
4
Rumah sakit atau di rumah. Umumnya pemberi pelayanan tidak
menyadari, bahwa tingkah laku pasien sebagai ekspresi dari frustasi yang
dialaminya. Sebenarnya yang dibutuhkan pasien adalah pengertian, bukan
argumentasi-argumentasi dari orang-orang yang tersinggung oleh karena
kemarahannya.
c. Bargaining (fase tawar menawar ).
Ini adalah fase dimana pasien akan mulai menawar untuk dapat
hidup sedikit lebih lama lagi atau dikurangi penderitaannya. Mereka bisa
menjanjikan macam-macam hal kepada Tuhan, "Tuhan, kalau Engkau
menyatakan kasih-Mu, dan keajaiban kesembuhan-Mu, maka aku akan
mempersembahkan seluruh hidupku untuk melayani Mu."
d. Depresion (fase depresi)
Setelah ternyata penyakitnya makin parah, tibalah fase depresi.
Penderita merasa putus asa melihat masa depannya yang tanpa harapan.
e. Acceptance (fase menerima / pasrah)
Tidak semua pasien dapat terus menerus bertahan menolak
kenyataan yang ia alami. Pada umumnya, setelah jangka waktu tertentu
mereka akan dapat menerima kenyataan, bahwa kematian sudah dekat.
Mereka mulai kehilangan kegairahan untuk berkomunikasi dan tidak
tertarik lagi dengan berita dan persoalan-persoalan disekitarnya. Pasien
dalam kondisi terminal akan mengalami berbagai masalah baik fisik,
psikologis, maupun sosio-spiritual, antaralain:
a. Problem oksigenisasi; nafas tidak teratur, cepat atau lambat, pernafasan
cheynestokes, sirkulasi perifer menurun, perubahan mental; agitasi
gelisah, tekanan darah menurun, hypoksia, akumulasi sekret, nadi
ireguler.
b. Problem eliminasi; Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat
peristaltik, kurang diet serat dan asupan makanan juga mempengaruhi
konstipasi, inkontinensia fekal bisa terjadi oleh karena pengobatan atau
kondisi penyakit (misalnya Ca Colon), retensi urin, inkontinensia urin
terjadi akibat penurunan kesadaran atau kondisi

1
5
Penyakit misalnya trauma medulla spinalis, oliguri terjadi seiring
penurunan intake cairan atau kondisi penyakit misalnya gagal ginjal.
c. Problem nutrisi dan cairan; asupan makanan dan cairan menurun,
peristaltic menurun, distensi abdomen, kehilangan BB, bibir kering dan
pecah-pecah, lidah kering dan membengkak, mual, muntah, cegukan,
dehidrasi terjadi karena asupan cairan menurun.
d. Problem suhu; ekstremitas dingin, kedinginan sehingga harus memakai
selimut
e. Problem sensori; Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang
saat mendekati kematian, menyebabkan kekeringan pada kornea,
Pendengaran menurun, kemampuan berkonsentrasi menjadi menurun.
Penglihatan kabur, pendengaran berkurang, sensasi menurun.
f. Problem nyeri; ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan
secara intra vena, pasien harus selalu didampingi untuk menurunkan
kecemasan dan meningkatkan kenyamanan
g. Problem kulit dan mobilitas; seringkali tirah baring lama menimbulkan
masalah pada kulit sehingga pasien terminal memerlukan perubahan
posisi yang sering.
h. Masalah psikologis; pasien terminal dan orang terdekat biasanya
mengalami banyak respon emosi, perasaaan marah dan putus asa.
2.1.2 Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif bertujuan mencapai quality of life dan quality of
death. Perawatan paliatif menyangkut psikologis, spiritualis, fisik, keadaan
sosial. Terkait hal ini, memberikan pemahaman bagi keluarga dan pasien
sangat penting agar keluarga mengerti betul bahwa pasien tidak akan
sembuh, sehingga mereka akan memberikan perhatian dan kasih sayang
diakhir kehidupan pasien tersebut.
2.1.3 Aspek Medis
Kebanyakan kalangan dalam dunia kedokteran dan hukum sekarang
ini mendefinisikan kematian dalam pengertian mati otak (MO) walaupun
jantung mungkin masih berdenyut dan ventilasi buatan
(ventilator) dipertahankan. Akan tetapi banyak pula yang memakai konsep
1
6
Mati batang otak (MBO) sebagai pengganti MO dalam penentuan mati.
Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang
kedokteran maka banyak pilihan pengobatan yang berguna memberi
bantuan hidup terhadap pasien tahap terminal.
Pilihan ini sering kali menimbulkan dilema terutama bagi keluarga
pasien karena mereka menyadari bahwa tindakan tersebut bukan upaya
penyembuhan dan hanya akan menambah penderitaan pasien. Keluarga
menginginkan sebuah proses dimana berbagai intervensi medis (misalnya
pemakaian ventilator) tidak lagi diberikan kepada pasien dengan harapan
bahwa pasien akan meninggal akibat penyakit yang mendasarinya.
Ketika keluarga / wali meminta dokter menghentikan bantuan hidup
(withdrawing life support) atau menunda bantuan hidup (withholding life
support) terhadap pasien tersebut, maka dokter harus menghormati pilihan
tersebut.

Pada situasi tersebut, dokter memiliki legalitas dimata hokum


dengan syarat sebelum keputusan penghentian atau penundaan bantuan
hidup dilaksanakan, tim dokter telah memberikan informasi kepada
keluarga pasien tentang kondisi terminal pasien dan pertimbangan
keputusan keluarga / wali tertulis dalam informed consent.

1
7
BAB III
TATA LAKSANA

3.1 Tata Laksana


3.1.1 Aspek Keperawatan
Perawat dapat berbagi penderitaan pasien menjelang ajal dan
mengintervensi dengan melakukan asesmen yang tepat sebagai berikut:
A. Asesmen tingkat pemahaman pasien dan keluarga
a. Closed Awareness: pasien dan keluarga percaya bahwa pasien akan
segera sembuh.
b. Mutual Pretense keluarga mengetahui kondisi terminal pasien dan
tidak membicarakannya lagi. Kadang keluarga menghindari
percakapan tentang kematian demi menghindarkan dari tekanan.
c. Open Awareness: keluarga telah mengetahui tentang proses
kematian dan tidak merasa keberatan untuk memperbincangkan nya
walaupun terasa sulit dan sakit. Kesadaran ini membuat keluarga
mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan masalah-masalah,
bahkan dapat berpartisipasi dalam merencanakan pemakaman. Pada
tahapan ini, perawat atau dokter dapat menyampaikan isu yang
sensitif bagi keluarga seperti autopsy atau donasi organ.
B. Asesmen factor fisik pasien
Pada kondisi terminal atau menjelang ajal, pasien dihadapkan pada
berbagai masalah menurunnya fisik, perawat harus mampu mengenali
perubahan fisik yang terjadi pada pasien terminal meliputi:
1) Pernapasan ( breath)
a) Apakah teratur atau tidak teratur.
b) Apakah ada suara napas tambahan seperti ronki, wheezing,
stridor, crackles.
c) Apakah terjadi sesak napas
d) Apakah ada batuk, bila ada apakah produktif atau tidak

1
8
e) Apakah ada sputum, bila ada bagaimana jumlah, warna, bau dan
jenisnya
f) Apakah memakai ventilasi mekanik ( ventilator ) atau tidak
2) Kardiovaskuler (blood )
a) Bagaimana irama jantung, apakah regular atau ireguler
b) Bagaimana akral, apakah hangat, kering, merah, dingin, basah
dan pucat
c) Bagaimana pulsasi, apakah sangat kuat, kuat teraba, lemah
teraba, hilang timbul atau tidak teraba
d) Apakah ada pendarahan atau tidak, bila ada dimana lokasinya
e) Apakah ada CVC atau tidak, bila ada berapa ukurannya dalam
CmH2O
f) Berapa tensi dan MAP dalam ukuran mmHg
3) Persyarafan ( brain )
a) Bagaimana ukuran GCS total untuk mata, verbal, motorik dan
kesadaran pasien
b) Berapa ukuran ICP dalam CmH2O
c) Apakah ada tanda TIK seperti nyeri kepala atau muntah
proyektil
d) Bagaimana konjungtiva, apakah anemis atau kemerahan
e) Lain– lain bila ada
4) Perkemihan ( blader )
a) Bagaimana area genital, apakah bersih atau kotor
b) Berapa jumlah cairan masuk dalam hitungan cc/hari
c) Bagaimana cara buang air kecil, apakah spontan atau dengan
bantuan dower kateter
d) Bagaimana produksi urin, berapa jumlah cc/jam, bagaimana
warnanya, bagaimana baunya
5) Pencernaan ( bowel )
a) Bagaimana nafsu makan, apakah baik atau menurun
b) Bagaimana porsi makan,habis atau tidak
c) Minum berapa cc/hari, dengan jenis cairan apa
10
d) Apakah mulut bersih, kotor danberbau
e) Apakah ada mual atau muntah
f) Buang air besar berapa kali sehari, apakah teratur atau tidak,
bagaimana konsistensi, warna dan bau dari feses
6) Muskuloskeletal / intergumen
a) Bagaimana kemapuan pergerakan sendi, bebas, atau terbatas
b) Bagaimana warna kulit, apakah ikterus, sianotik, kemerahan,
pucat atau hiperpigmentasi
c) Apakah ada odema atau tidak, bila ada dimana lokasinya
d) Apakah ada dekubitus atau tidak, bila ada dimana lokasinya
e) Apakah ada luka atau tidak bila ada dimana lokasinya dan apa
jenis lukanya
f) Apakah ada kontraktur atau tidak, bila ada dimana lokasinya
g) Apakah ada fraktur atau tidak, bila ada dimana lokasinya dan
apa jenis frakturnya
h) Apakah ada jalur infus atau tidak bila ada dimana lokasinya
C. Asesmen tingkat nyeri pasien
Lakukan asesmen rasa nyeri pasien. Bila nyeri sangat
mengganggu, maka segera lakukan menajemen nyeri yang memadai.
D. Asesmen faktor kulturo psikososial
1) Tahap Denial: Asesmen pengetahuan pasien, kecemasan pasien dan
penerimaan pasien terhadap penyakit, pengobatan dan hasilnya.
2) Tahap Anger: pasien menyalahkan semua orang, emosi tidak
terkendali, komunikasi ada dan tiada, orientasi pada diri sendiri.
3) Tahapan Bargaining: pasien mulai menerima keadaan dan berusaha
untuk mengulur waktu, rasa marah sudah berkurang.
4) Tahapan Depresi: Asesmen potensial bunuh diri, gunakan kalimat
terbuka untuk mendapatkan data dari pasien
5) Tahapan Acceptance : Asesmen keinginan pasien untuk
istirahat / menyendiri

11
E. Asesmen factor spiritual
Asesmen kebutuhan pasien akan bimbingan rohani atau seseorang
yang dapat membantu kebutuhan spiritualnya, biasanya pada saat
pasien sedang berada di tahapan bargaining.
3.1.2 Intervensi keperawatan
a. Pertahankan kebersihan tubuh, pakaian dan tempat tidur pasien
b. Atur posisi tidur yang nyaman untuk pasien
c. Lakukan “suction”bila terjadi penumpukan secret pada jalan nafas
d. Berikan nutrisi dan cairan yang adekuat
e. Lakukan perawatan mata agar tidak terjadi kekeringan / infeksi
kornea
f. Lakukan oral hygiene
g. Lakukan reposisi tidur setiap 2 jam sekali dan lakukan masase pada
daerah penonjolan tulang dengan menggunakan minyak kayu putih
untuk mencegah dekubitus
h. Lakukan manajemen nyeri yang memadai
i. Anjurkan keluarga untuk mendampingi dan mengajak pasien berdoa
j. Tunjukkan perhatian dan empati serta dukungan kepada keluarga
yang berduka
k. Ajak keluarga untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
terhadap asuhan pasien, seperti penghentian bantuan hidup (with
drawing life support) atau penundaan bantuan hidup(with holding
life support).

3.1.3 Aspek Medis


3.1.3.1 Intervensi Medis

Ketika pasien mengalami cedera berat atau sakit yang serius, maka
beberapa intervensi medis dapat memperpanjang hidup pasien, sebagai
berikut:
a. Tindakan Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO)
Pemberian bantuan hidup dasar dan lanjut kepada pasien yang

12
mengalami henti napas atau henti jantung. RJPO diindikasikan untuk

Pasien yang tidak bernapas dan tidak menunjukan tanda –tanda


sirkulasi, dan tanpa instruksi DNR di rekam medisnya.
b. Pemakaian Alat Ventilasi Mekanik (Ventilator)
Pemakaian ventilator, ditujukan untuk keadaan tertentu karena
penyakit yang berpotensi atau menyebabkan gagal napas.
c. Pemberian Nutrisi
a. Feeding Tube, Sering kali pasien sakit terminal tidak bisa
mendapatkan makanan lewat mulut langsung, sehingga perlu
dilakuan pemasangan feeding tube untuk memenuhi nutrisi pasien
tersebut
b. Parenteral Nutrition, adalah sebuah upaya untuk mengirim nutrisi
secara langsung kedalam pembuluh darah, yang berguna untuk
menjaga kebutuhan nutrisi pasien.
d. Tindakan Dialisis
Tindakan dialysis diberikan pada pasien terminal yang mengalami
penurunan fungsi ginjal, baik yang akut maupun yang kronik dengan
LFG <15 mL / menit. Pada keadaan ini fungsi ginjal sudah sangat
menurun sehingga terjadi akumulasi toksin dalam tubuh yang
disebut sebagai uremia.
e. Pemberian Antibiotik
Pasien terminal, memiliki risiko infeksi berat 5-10 kali lebih tinggi
dibandingkan pasien lainnya. Infeksi berat ini paling sering
ditemukan pada saluran pernapasan, saluran kemih, peredaran darah,
atau daerah trauma / operasi. Infeksi tersebut menyebabkan
peningkatan morbiditas dan mortalitas, pemanjangan masa
perawatan, dan pembengkakan biaya perawatan. Penyebab
meningkatnya risiko infeksi ini bersifat multifaktorial, meliputi
penurunan fungsi imun, gangguan fungsi barrier usus, penggunaan
antibiotic spektrumluas, katekolamin, penggunaan preparat darah,
atau dari alat kesehatan yang digunakan (seperti ventilator). Pasien
menderita penyakit terminal dengan prognose yang buruk hendaknya
13
diinformasikan lebih dini untuk menolak atau menerima bila
dilakukan resusitasi maupun ventilator.
3.3.2 With drawing life support & with holding life support
Pengelolaan akhir kehidupan meliputi penghentian bantuan hidup
(with drawing life support) dan penundaan bantuan hidup (with
holding life support) yang dilakukan pada pasien yang dirawat diruang
rawat intensef care (IRIR dan ROII). Keputusan with drawing / with
holding adalah keputusan medis dan etis yang dilakukan oleh 3 (tiga)
dokter yaitu dokter spesialis anestesi ologi atau dokter lain yang
memiliki kompetensi dan 2 (dua) orang dokter lain yang ditunjuk oleh
komite medis rumah sakit.
Adapun persyaratan with drawing life support & with holding life
support sebagai berikut :

a. Informed Consent
Pada keadaan khusus, dimana perlu adanya tindakan penghentian /
penundaan bantuan hidup (with drawing / with holding life support)
pada seorang pasien, maka harus mendapat persetujuan keluarga
terdekat pasien. Persetujuan penghentian / penundaan bantuan hidup
oleh keluarga terdekat pasien harus diberikan secara tertulis (written
consent) dalam bentuk pernyataan yang tertuang dalam Formulir
Pernyataan Pemberian Informasi Kondisi Terminal yang disimpan
dalam rekam medis pasien, dimana pernyataan tersebut diberikan
setelah keluarga mendapat penjelasan dari tim DPJP yang
bersangkutan mengenai beberapa hal sebagai berikut:
1) Diagnosis :
a. Temuan klinis dan hasil pemeriksaan medis sampai saat tersebut
b.Indikasi dan keadaan klinis pasien yang membutuhkan
with drawing / with holding life support

2) Terapi yang sudah diberikan


3) Prognosis:
a. Prognosis tentang hidup-matinya (advitam).

14
b. Prognosis tentang fungsinya(ad functionam).
c. Prognosis tentang kesembuhan (ad senationam).

b. Kondisi Terminal
Tidak dilakukan tindakan-tindakan luar biasa, pada pasien-pasien
yang jika diterapi hanya memperlambat waktu kematian dan bukan
memperpanjang kehidupan. Untuk pasien ini dapat dilakukan
penghentian atau penundaan bantuan hidup. Pasien yang masih sadar
tapi tanpa harapan, hanya dilakukan tindakan terapeutik / paliatif agar
pasien merasa nyaman dan bebas nyeri.
c. Mati Batang Otak (MBO )
Semua bantuan hidup dihentikan pada pasien dengan kerusakan
fungsi batang otak yang ireversibel. Setelah kriteria Mati Batang
Otak (MBO) yang ada terpenuhi, pasien ditentukan meninggal dan
disertifikasi MBO serta semua terapi dihentikan. Jika
dipertimbangkan donasi organ, bantuan jantung paru pasien
diteruskan sampai organ yang diperlukan telah diambil. Keputusan
penentuan MBO dilakukan oleh 3 (tiga) dokter yaitu dokter spesialis
anestesi ologi atau dokter lain yang memiliki kompetensi, dokter
spesialis saraf dan 1 (satu) dokter lain yang ditunjuk oleh komite
medis rumah sakit dengan prosedur pengujian MBO sebagai berikut
1) Memastikan hilangnya refleks batang otak dan henti nafas yang
menetap (ireversibel). yaitu:
a. Tidak ada respons terhadap cahaya
b. Tidak ada refleks kornea
c. Tidak ada refleks vestibule-okular
d. Tidak ada respon motorik terhadap rangsang adekuat pada area
somatic
e. Tidak ada refleks muntah (gagreflex) atau refleks batuk karena
rangsang oleh kateter isap yang dimasukkan kedalam
trakea.
15
f. Tes henti nafas positif.
2) Bila tes hilangnya refleks batang otak dinyatakan positif, tes
diulang lagi 25 menit kemudian
3) Bila tes tetap positif, maka pasien dinyatakan mati walaupun
jantung masih berdenyut, dan ventilator harus segera dihentikan.
4) Pasien dinyatakan mati ketika batang otak dinyatakan mati dan
bukan sewaktu mayat dilepas dari ventilator atau jantung berhenti
berdenyut.
Pada tata laksana pelayanan pada pasien yang mengalami tahap terminal
dan sakaratul maut ini dapatdilihat hal-hal yang berkaitan seperti :Diskripsi
Rentang Pola Hidup Sampai Menjelang Kematian

Pandangan pengetahuan tentang kematian yang dipahami oleh seseorang


berbeda-beda. Adapun seorang ahli yang mengemukakan pendapat nya
tentang deskripsi rentang pola hidup sampai menjelang kematian adalah
Martocchio. Menurut Martocchio, rentang pola hidup sampai menjelang
kematian sebagai berikut:
1. Pola Puncak dan lembah
Pola ini karakteristik periodic yang sangat tinggi (puncak) dan
periode krisis (lemah). Pada kondisi puncak, pasien benar-benar merasakan
harapan yang tinggi atau besar. Sebaliknya pada periode lemah, klien
merasa sebagai kondisi yang menakutkan sampai bisa menimbulkan
depresi.
2. Pola dataran yang turun
Karakteristik dari pola ini adalah adanya sejumlah tahapan dari
kemunduran yang terus bertambah dan tidak terduga, yang terjadi selama
atau setelah periode kesehatan yang stabil serta berlangsung pada waktu
yang tidak bisa di pastikan.
3. Pola tebing yang menurun
Karakteristik dari pola ini adalah adanya kondisi penurunan yang
menetap atau stabil, yang menggambarkan semakin buruknya kondisi.
Kondisi ini dapat diramalkan dalam waktu yang bisa diperkirakan baik

16
dalam ukuran jam atau hari. Kondisi ini lazim ditemui di unit Khusus
(Intensive Care Unit).
4. Pola landai yang turun sedikit-sedikit
Karakteristik dari pola ini kehidupan yang mulai surut dan hampir
tidak teramati sampai akhirnya mengebat menuju maut.

Perkembangan Persepsi Tentang Kematian

Didalam kehidupan masyarakat dewasa, kematian adalah sesuatu


yang sangat menakutkan. Sebaliknya, pada anak-anak usia 0-7 tahun
kematian itu adalah sesuatu hal yang biasa saja, yang ada dipikirannya
kematian adalah sesuatu hal yang hanya terjadi pada orangtua yang sakit.
Mereka sangat acuh sekali dengan kematian.
Seiring dengan perkembangan usianya menuju kedewasaan, mereka
mengerti tentang apa itu kematian. Karena itu berkembanglah klasifikasi
tentang kematian menurut umur yang didefinisikan oleh Eny Retna
Ambarwati, yaitu :
a. Bayi – 5 tahun
Tidak mengerti tentang kematian, keyakinan bahwa mati adalah tidur
atau pergi yang temporer.
b. 5-9 tahun
Mengerti bahwa titik akhir orang yang mati dapatdihindari.
c. 9-12 tahun
Mengerti bahwa mati adalah akhir dari kehidupan dan tidak dapat
dihindari, dapat mengekspresikan ide-ide tentang kematian yang
diperoleh dari orang tua atau dewasa lainnya.
d. 12-18 tahun
Mereka takut dengan kematian yang menetap, kadang-kadang
memikirkan tentang kematian yang dikaitkan dengan sikap religi.
e. 18-45 tahun
Memiliki sikap terhadap kematian yang dipengaruhi oleh religi dan
keyakinan
f. 45-65 tahun
Menerima tentang kematian terhadap dirinya. Kematian merupakan
17
puncak kecemasan
g. 65-tahun keatas
Takut kesakitan yang lama. Kematian mengandung beberapa makna:
terbebasnya dari rasa sakit dan reuni dengan anggota keluarga yang
telah meninggal.

Ciri-ciri pokok pasien yang akan meninggal


Pasien yang menghadapi sakaratul maut akan memperlihatkan tingkah
laku yang khas antara lain :
1. Penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang
dimulai pada gerakan paling ujung khususnya pada ujung kaki, tangan,
ujung hidung, yang terasa dingin dan lembab.
2. Kulit Nampak kebiru biruan kelabu atau pucat
3. nadi mulai tak teratur lemah dan pucat
4. terdengar suara mendengkur disertai gejala nafas cyene nokes
5. menurunnya tekanan darah peredaran darah perifer menjadi terhenti dan
rasa nyeri bila ada biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat
kekuatan ingatan bervariasi dari individu. Otot rahang menjadi
mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas tampak lebih
pasrah menerima.
Tatalaksana kegiatan pelayanan pada tahap terminal akhir hidup diRS
RAUDHAH terdiri antara lain :

1. Dokter mengasessmen ulang kepada pasien tahap terminal


dengan melibatkan keluarga untuk tetap melanjutkan pengobatan
ataupun tidak melanjutkan pengobatan (sesuai dengan advice dokter,
pasien ataupun keluarganya dapat menentukan kelanjutan perawatan
diperawatan rawat inap, pindah ke ICU, atau memilih pulang
kerumah sehingga pasien dapat meninggal dengan bermartabat di
rumah. apabila pasien dan keluarga memilih untuk di rawat di ruang
ICU Maka akan dapat menentukan pilihan apakah nantinya akan
dilakukan with drawing/with holding pada pasien yang dirawat

18
diruang rawat ICU. Keputusan penghentian atau penundaan bantuan
hidup adalah keputusan medis dan etis. Keputusan untuk penghentian
atau penundaan bantuan hidup dilakukan oleh 3 (tiga) dokter yaitu
dokter spesialis anestesi ologi atau dokterl ain yang memiliki
kompetensi dan 2 (dua) orang dokter lain yang ditunjuk oleh komite
medis rumah sakit.
2. Melakukan asesmen dan pengelolaan yang sesuai terhadap pasien
dalam tahap terminal. Problem yang berkaitan dengan kematian
antara lain:
a. Problem fisik berkaitan dengan kondisi atau penyakit terminalnya
b. problem psychology, ketidak berdayaan, kehilangan kontrol,
ketergantungan, dan kehilangan diri dan harapan.
c. Problem sosial isolasi dan perpisahan
d. problem spiritual
e. ketidak sesuaian antara kebutuhan dan harapan dengan perlakuan
yang didapat ( dokter, perawat, keluarga dan sebagainya)
3. memberikan pelayanan dan perawatan pada pasien tahap terminal
dengan hormat dan respect
4. melakukan intervensi untuk mengurangi rasa nyeri, secara primer
atau sekunder serta memberikan pengobatan sesuai permintaan
pasien dan keluarga
5. menyediakan akses terapi lainnya yang secara realistis diharapkan
dapat memperbaiki kualitas hidup pasien, yang mencakup terapi
alternative atau terapi non tradisional
6. melakukan intervensi dalam masalah keagamaan dan aspek budaya
pasien dan keluarga.
7. Melakukan asesmen status mental terhadap keluarga yang
ditinggalkan serta edukasi terhadap mekanisme penanganannya.
8. Peka dan tanggap terhadap harapan keluarganya

19
9. menghormati hak pasien untuk menolak pengobatan atau tindakan
medis lainnya.
10. Mengikut sertakan keluarga dalam pemberian pelayanan
Layanan tahap akhir dirumah sakit dilakukan di instalasi gawat
darurat dan di unit rawat inap. Adapun proses operasional pelayanan ini
atau asesmen pasien tahap terminal dilakukan oleh perawat / bidan
dengan kualifikasi lulusan D3 / D4 / S1 keperawatan atau kebidanan
yang mempunyai surat tanda registrasi (STR) dan bekerja di RS
RAUDHAH minimal 6 bulan, yang meliputi intervensi atau mengurangi
rasa sakit, gejala primer, dan atau sekunder, mencegah gejala dan
komplikasi sedapat mungkin intensitas dalam hal masalah psikologis,
pasien dan keluarga, masalah emosional dan kebutuhan spiritual
mengenai kematian dan kesusuhan, intervensi dalam masalah
keagamaan dan aspek budaya pasien dan keluarga, serta mengikut
sertakan pasien dan keluarga dalam pemberian pelayanan.

Instalasi Gawat Darurat Fasilitas Pelayanan pada tahap terminal


meliputi :
Fasilitas yang ada:
1. Monitor
2. ECG
3. Ambubag (VSM)
4. Masker oksigen & Tabung Oksigen
5. Suctionset
6. Endoctracheal tube
7. Kateter
8. Nasogastric tube (NGT)
9. Disposible Spuit
10. Alkohol swab
11. Injeksi Plug
14. Wingniddle

20
15. Infusset
16. Injeksi analgesic
17. Obat-obatan resusitasi (adrenalin, dopamin, sulfasatropin, dan lain-
lain)

Unit Rawat Inap (termasuk ICU)


Fasilitas yang ada:
1. Monitor (ICU)
2. ECG
3. Ambubag (VSM)
4. Masker oksigen dan tabung oksigen
5. Suctionset
6. Endotrakeal tube
7. Kateter
8. Nasogastric tube (NGT)
9. Disposible spuit
10. Alkohol swab
11. Injeksi Plug
12. Wingniddle
13. Infusset
14. Injeksi Analgesik
15. Obat-obatan resusitasi (adrenalin, dopamin, sulfasatropin, dan lain-
lain).
Unit rawat inap lainnya:
Bila kondisi pasien yang terminal atau sakratul maut menempati
ruang biasa seperti zaal, maka pasien ditempatkan pada bagian pinggir
dekat jendela, dan ditemani oleh keluarga dan dimonitor oleh perawat
sebagai penanggung jawab untuk mengontrol kondisi pasien, dan bila
sewaktu-waktu mengalami perubahan kondisi dan melaporkan pada

21
Dokter Penanggung Jawab Pasien atau dokter jaga ruangan untuk
memastikan kondisi pasien.
Bila pasien meninggal dunia, maka dilakukan tindakan perawatan
pasien setelah meninggal dunia atau perawatan jenazah, dengan tujuan:
Membersihkan dan merapikan jenazah, memberikan penghormatan
terakhir dan rasa puas kepada sesame insani.
Peralatan yang diperlukan :
1. Celemek atau Skort
2. Verban atau kassa gulung
3. Pinset
4. Sarung tangan
5. Gunting perban
6. Bengkok atau piala ginjal 1
7. Baskom 2
8. Waslap 2
9. Kantong plastik kecil (tempat perhiasan)
10. Kartu identitas pasien atau gelang identitas
11. KainKafan
12. Kapas lipat lembab dalam koran
13. Kasa berminyak dalam kom
14. Kapas lipat keringdalam kom
15. Kapas berminyak (Baby oil) dalam kom
16. Kapas alkohol dalam kom
17. Lysol 2-4%
18. Ember bertutup I
Prosedur :
1. Memberitahukan pada keluarga pasien
2. Mempersiapkan peralatan dan dekatkan kejenazah
3. Mencuci tangan
4. Memakai celemek atau skort
5. Memakai hands scoon

22
6. Melepas perhiasan dan benda-benda berharga lain diberikan kepada
keluarga pasien (dimasukkan dalam kantong plastik).
7. Melepaskan peralatan invasive (selang, kateter, NGT tube dan lain-
lain)
8. Membersihkan mata pasien dengan kassa, dan ditutup dengan kapas
berminyak.
9. Membersihkan bagian hidung kassa, dan ditutup dengan kapas
berminyak.
10. Membersihkan bagian telinga dengan kassa, dan ditutup dengan
kapas berminyak.
11. Membersihkan bagian mulut dengan kassa
12. Merapikan rambut jenazah dengan sisir.
13. Mengikat dagu dari bawah dagu sampai keatas kepala dengan
verban gulung.
14. Menurunkan selimut sampai ke bawah kaki
15. Membuka pakaian bagian atas jenazah, taruh dalam ember
16. Melipat tangan dan mengikat pada pergelangan tangan dengan
verban gulung
17. Membuka pakaian bagaian bawah, taruh dalam ember
18. Membersihkan genetalia dengan kassa kering dan waslap
19. Membersihkan bagian anus dengan cara memiringkan jenazah
kearah kiri dengan meminta bantuan keluarga.
20. Memasukkan kassa berminyak ke dalam anus jenazah
21. Melepaskan stick laken dan perlak bersamaan dengan
membentangkan kain kafan, lipat stick laken dan taruh dalam
ember.
22. Mengembalikan keposisi semula
23. Mengikat kaki dibagian lutut jenazah, pergelangan kaki, dan jari-
jari jempol dengan menggunakan verban gulung
24. Mengikatkan identitas jenazah, pada jempol kaki
25. Membuka boven laken bersamaan dengan pemasangan kain kafan
26. Jenazah di rapikan dan dipindahkan ke brankart
23
27. Alat-alat tenun dilepas dan dimasukkan ke dalam ember serta
melipat kasur
28. Merapikan alat
29. Melepas hand scoon
30. Melepaskan celemek
31. Mencuci tangan
Setelah selesai perawatan jenazah, kemudian jenazah dibawa ke
kamar jenazah dan setelah mencapai 2 jam, boleh di bawa pulang
oleh keluarga, dengan serah terima antar perawat dan keluarga,
gelang identitas dilepas.

24
BAB IV
DOKUMENTASI

1. SPO Asesmen Pasien Tahap Terminal.


2. SPOPasienTahapTerminal

25
LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN

1. SPO Asesmen Pasien Tahap Terminal ................................................................ 1

2. SPO Pasien Tahap Terminal ................................................................................ 2

3. SPO Mati Batang Otak ........................................................................................ 4

26
DAFTARPUSTAKA

Sharon,Brehm. Sharon Saul


Kassin(1991).SocialPsychology:UnderstandingHumanInteraction.

GladdingT. Samuel(2000).Conseling L a ComprehensiveProfessio. NewJersey:Prentice


hall.Inc.

Kubler-Rose,E. (1998).On Death and Dying(Kematiansebagai bagian


darikehidupan).JakartaPT.Gramedia Pustaka Utama.

HerlinMegawe.(1998).Addult Development Psychology and Aging. USA: Mc.


GrawHillCompany.

Undang-undangRINo 44 tahun 2009 tentangRumahSakit.

Undang– undangno. 29/2004 pada pasal 46TentangPraktikKedokteran.

PeraturanMenteri Kesehatan
RepublikIndonesiaNomor519/MENKES/PER/III/2011tentangpedoman
penyelenggaraanpelayanananestesiologi dan terapi intensif dirumahsakit

Carpenito, 2005, › Medical ›Nursing › Assessment&Diagnosisbooks.google.comPenentuan


mati , penentuanmati.webs.com/definisimati.htm
Mati Batang Otak,www.freewebs.com/penentuanmati/Euthanasia,

ulasankedokteran.blogspot.com/.../mati-otak-brain-deathEndOfLife
Care;ethicaloverview,Center forBioethicsUniversityofMinnesota2005.

27