Anda di halaman 1dari 5

OTITIS EKSTERNA

No. Dokumen : 445/289/SOP/PKM-DS/2018


No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 21/03/2018
SOP
Halaman : 1/3

UPF PUSKESMAS drg. Rani Astira


KEDAUNG NIP.195801251988032001

1. Pengertian Otitis eksterna adalah radang pada liang telinga luar.


Klasifikasi otitis eksterna (OE):
 OE akut
1. OE akut difus
2. OE akut sirkumskripta, yaitu infeksi folikel rambut yang
menimbulkan furunkel di liang telinga luar.
 OE kronik
 OE ekzematoid, yang merupakan manifestasi dari kelainan
dermatologis, seperti dermatitis atopik, psoriasis, atau SLE.
 OE nekrotikans
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanakan Otitis Eksterna dan mencegah
terjadinya komplikasi untuk semua pasien yang menderita Otitis Eksterna
yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas Kedaung.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Duren Seribu No 445/01/SK/PKM-DS/2018 tentang
Jenis – Jenis dan Jadwal Pelayanan Kesehatan
4. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan Primer Edisi
Revisi tahun 2014
5. Prosedur / 1. Petugas menerima pasien
Langkah- 2. Petugas melakukan anamnesa pada pasien, petugas menanyakan
langkah keluhan utama pada pasien.
3. Petugas menanyakan apakah terdapat rasa sakit pada telinga
(otalgia), yang bervariasi dari ringan hingga hebat, terutama saat daun
telinga disentuh dan mengunya, Rasa penuh pada telinga,
pendengaran dapat berkurang, terdengar suara mendengung
(tinnitus). Keluhan biasanya dialami pada satu telinga dan sangat
jarang mengenai kedua telinga dalam waktu bersamaan
4. Petugas menanyakan apakah ada keluhan penyerta lain yang dapat
timbul yaitu demam atau meriang, telinga terasa basah.
5. Petugas menanyakan ada faktor risiko yang memicu, seperti riwayat
sering beraktifitas di air, misalnya: berenang, berselancar, mendayung,
riwayat trauma yang mendahului keluhan, misalnya: membersihkan
liang telinga dengan alat tertentu, memasukkan cotton bud,
memasukkan air ke dalam telinga, atau riwayat penyakit sistemik,
seperti: diabetes mellitus, psoriasis, dermatitis atopik, SLE, HIV.
6. Petugas melakukan pemeriksaan keadaan umum, kesadaran dan
tanda vital (nadi, suhu, dan frekuensi pernapasan).
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik apakah terdapat nyeri tekan
pada tragus dan nyeri tarik daun telinga
8. Petugas melakukan pemeriksaan Otoskopi:
 OE akut difus: liang telinga luar sempit, kulit liang telinga luar
hiperemis dan edem dengan batas yang tidak jelas, dan dapat
ditemukan sekret minimal.
 OE akut sirkumskripta: furunkel pada liang telinga luar
9. Petugas melakukan pemeriksaan garputala; apakah normal atau tuli
konduktif.
10. Petugas mencuci tangan setelah melakukan pemeriksaan pasien
11. Petugas menegakkan diagnosa otitis eksterna yang didapat dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik.
12. Petugas menerangkan kepada pasien bahwa pasien perlu dirujuk jika
otitis eksterna disertai komplikasi atau mengarah ke otitis eksterna
maligna.
13. Petugas memberikan terapi untuk pengobatan otitis eksterna:
 Non medikamentosa: 1) Membersihkan liang telinga secara hati-hati
dengan pengisap atau kapas yang dibasahi dengan H 2O2 3%. 2)
Bila terdapat abses, dilakukan insisi dan drainase.
 Medikamentosa:
1) Topikal; yaitu:
a) larutan antiseptik povidon iodine
b) OE akut sirkumskripta pada stadium infiltrat:
o Salep ikhtiol, atau
o Salep antibiotik: Polymixin-B, Basitrasin.
c) OE akut difus: Tampon yang telah diberi campuran Polimyxin-
B, Neomycin, Hidrocortisone, dan anestesi topikal.
2) Sistemik
a) Antibiotik sistemik diberikan bila infeksi cukup berat.
b) Analgetik, seperti Paracetamol atau Ibuprofen dapat
diberikan.
14. Petugas memberikan penjelasan mengenai rencana terapi kepada
keluarga pasien. Petugas mengedukasi keluarga pasien; 1) Tidak
mengorek telinga baik dengan cotton bud atau alat lainnya, 2) Selama
pengobatan pasien tidak boleh berenang, 3) Penyakit dapat berulang

2/2
sehingga harus menjaga liang telinga agar dalam kondisi kering dan
tidak lembab
15. Petugas menulis hasil pemeriksaan fisik, diagnosis dan terapi ke
dalam rekam medik
16. Petugas menandatangani rekam medis
6. Diagram -

Alir

1. Poli Umum
7. Unit Terkait
2. Poli KIA-KB
1. Status pasien (Rekam Medis)
8. Dokumen
2. Lembaran resep
Terkait
3. Form resep umum luar
Tanggal mulai
No Yang diubah Isi perubahan
9. Rekaman diberlakukan
Historis
perubahan

DAFTAR TILIK KEJANG DEMAM

No Tidak
Langkah Kegiatan Ya Tidak
Berlaku
1 Apakah Petugas memanggil pasien sesuai nomor urut?

3/3
2 Apakah Petugas melakukan anamnesa pada pasien apakah
pasien mengeluhkan demam terutama malam hari, nyeri
kepala, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi
atau diare?
3 Apakah Petugas menanyakan apakah terdapat demam sebelum
kejang, sudah berapa kali menderita kejang, bila lebih
dari 2 kali apakah ada yang berlangsung lebih atau sama
dengan 15 menit, bagaimana jenis kejang?
4 Apakah Petugas menanyakan ada faktor risiko menjadi epilepsy

5 Apakah Petugas menanyakan apakah disertai dengan penurunan


kesadaran, tanyakan kesehatan anak sebelum sakit
sekarang, apakah disertai mencret, batuk, sesak nafas,
dan bagaimana buang air kecilnya?
6 Apakah Petugas melakukan pemeriksaan keadaan umum,
kesadaran dan tanda vital (nadi, suhu, dan frekuensi
pernapasan)?
7 Apakah Petugas melakukan pemeriksaan fisik apakah terdapat
mikro atau makro sefali?
8 Apakah Petugas melakukan pemeriksaan pada ubun-ubun,
apakah ada ubun-ubun menonjol?
9 Apakah Petugas melakukan pemeriksaan conjungtiva anemis,
anemis atau tidak?
10 Apakah Petugas melakukan pemeriksaan saraf kanial,
pemeriksaan rangsal meningeal (kaku kuduk atau
brudzinki I-II)?
11 Apakah Petugas melakukan pemeriksaan jantung, paru,
abdomen, apa ditemukan tanda-tanda penyebab infeksi?
12 Apakah Petugas memeriksa apakah ada kelumpuhan pada
ekstremitas atas atau bawah, reflex fisiologis, dan tonus
otot?
13 Apakah Petugas mencuci tangan setelah melakukan pemeriksaan
pasien?
14 Apakah Bila diperlukan petugas membuat permintaan
pemeriksaan darah rutin/ lengkap dan urin rutin?
15 Apakah Petugas menegakkan diagnosa kejang demam yang
didapat dari gejala, pemeriksaan fisik dan hasil
laboratorium ?
16 Apakah Petugas menerangkan kepada pasien bahwa pasien perlu
dirujuk jika kejang berlanjut?
18 Apakah Petugas memberikan terapi sesuai SOP?

19 Apakah Petugas memberikan penjelasan mengenai rencana


terapi dan prognosis kepada keluarga pasien ?

2/2
20 Apakah Petugas mendokumentasikan ke dalam rekam medic?

CR : …………………………%.
Depok,…………………….
Pelaksana / Auditor

(……………………..)

3/3