Anda di halaman 1dari 19

10.

Elmo Saviro Herprananda

04121401097

Skenario A Blok 27

Dr. Thamrin, dokter di RSUD yang terletak sekitar 40 km dari Palembang. Sekitar 100 meter dari RSUD,
terjadi kecelakaan lalu lintas. Mobil minibus yang melaju dengan kecepatan tinggi menabrak pohon
bering. Bagian depan mobil hancur, kaca depan pecah. Sang sopir, satu-satunya penumpang mobil
terlempar keluar melalui kaca depan.

Dr. thamrin yang mendengar tabrakan langsung pergi ke tempat kejadian dengan membawa perlatan
tatalaksana trauma seadanya. Di tempat kejadian, terlihat sang sopir, laki-laki 30 tahun, tergeletak dan
merintih mengeluh dadanya sesak, nyeri di dada kanan dan nyeri paha kiri.

Melalui pemeriksaan sekilas, didapatkan gambaran:

- Pasien sadar tapi terlihat bingung, cemas dan kesulitan bernafas


- Tanda vital : RR : 40x/menit; Nadi: 110x/menit, lemah; TD: 90/50 mmHg
- Wajah dan bibir pucat
- Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin
- Terlihat deformitas di paha kiri
- GCS : 13 (E:3, M:6, V:4)

Setelah melakukan penanganan seadanya, dr. Thamrin langsung membawa sang sopir ke UGD, setelah
penanganan awal di UGD RSUD, pasien dipersiapkan untuk dirujuk ke RSMH.

Pemeriksaan tambahan

- Kepala
Inaspeksi : terdapat luka lecet di dahi dan pelipis kanan diameter 2 – 4 cm. Yang lain dbn.
- Thoraks
Inspeksi : Gerak dada asimetris, kanan tertinggal frekuensi 40x/menit. Tampak memar disekitar
dada kanan bawah sampai kesamping. JVP distensi. Trakea bergeser ke kiri
Auskultasi : suara napas kanan melemah, bising napas kiri terdengar jelas. Bunyi jantung
terdengar jelas cepat frekuensi 110x/menit.
Palpasi : Nyeri tekan pada dada kanan bawah sampai ke samping (lokasi memar). Krepitasi pada
kosta 9, 10, 11 kanan depan.
Perkusi : hipersonor di dada kanan, sonor di dada kiri
- Abdomen
Inspeksi : dinding perut datar
Auskultasi : bising usus normal
Palpasi : nyeri tekan (-)
- Ekstremitas
Inspeksi : deformitas, lebam/memar, hematom pada paha tengah kiri
Palpasi : nyeri tekan
ROM : pasif dan aktif terdapat limitasi gerakan

KLARIFIKASI ISTILAH

1. Merintih : suara yang dalam, oanjang yang menunjukkan rasa sakit atau
rasa tidak menyenangkan
2. Sesak : kesulitan bernafas
3. Trauma : luka atau cedera, baik fisik atau psikis
4. Sianosis : discolorisasi kebiruan dari kulit dan membrane mukosa akibat
konsentrasi hemoglobin tereduksi yang berlebihan dalam darah
5. Deformitas : perubahan bentuk tubuh sebagian atau umum
6. GCS : Glasgow coma scale, pengukuran yang digunakan untuk
melihat tingkat kesadaran pada pasien, dilihat dari mata, pergerakan, dan omongan
7. Minibus : sebuah kendaraan dengan kapasitas penumpang 5 – 9 orang,
termasuk pengemudi, mesinnya 1000 – 2000 cc posisi stir minibus sejajar dada
8. RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah unit kerja atau SKPD pemerintah
daerah yang paling sering diubah menjadi BLUD (Badan Layanan Umum Daerah)
9. Nyeri paha : sensasi tidak nyaman pada daerah paha
10. Nyeri dada : sensasi tidak nyaman pada daerah dada atau thorax
11. Peralatan tatalaksana trauma : beberapa peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan sebagai
pertolongan dalam penatalaksanaan kedaruratan medik

IDENTIFIKASI MASALAH

1. kronologi kecelakaan 100 meter dari RSUD, mobil minibus melaju dengan kecepatan tinggi
menabrak pohon beringin. Bagian depan mobil hancur, kaca depan pecah. Sang supir, satu-
satunya penumpang mobil terlempar keluar melalui kaca depan.
2. Dr. thamrin, pergi ke tempat kejadian dengan peralatan tatalaksana trauma seadanya.
3. Sopir laki-laki 30 tahun tergeletak merintih, mengeluh dadanya sesak, nyeri dada kanan dan
nyeri paha kiri.
4. PEMERIKSAAN SEKILAS
5. Pasien dirujuk ke RSMH setelah dilakukan penanganan di UGD RSUD tersebut.

ANALISIS MASALAH
1. kronologi kecelakaan 100 meter dari RSUD , mobil minibus melaju dengan kecepatan tinggi
menabrak pohon beringin. Bagian depan mobil hancur, kaca depan pecah. Sang supir, satu-
satunya penumpang mobil terlempar keluar melalui kaca depan.
a. Bagaimana mekanisme trauma yang dialami? 1-10

Mekanisme trauma mengacu pada bagaimana proses orang mengalami trauma.

Benturan frontal adalah tabrakan / benturan dengan benda didepan kendaraan, yang
secara tiba-tiba mengurangi kecepatannya, sehingga secara tiba-tiba kecepatannya
berkurang.

Pada suatu tabrakan frontal dengan penderita tanpa sabuk pengaman, penderita akan
mengalami beberapa fase sebagai berikut :

Fase 1

Bagian bawah penderita tergeser kedepan, biasanya lutut akan menghantam dash
board dengan keras yang menimbulkan bekas benturan pada dashboard tersebut.
Kemungkinan cedera yang akan terjadi :

1. Patah tulang paha karena menahan beban berlebihan


2. Dislokasi sendi panggul karena terdorong kedepan sehingga
lepas dari mangkuknya.

3. Dislokasi lutut atau


bahkan Patah tulang lutut Karena benturan yang keras pada

dash board
Fase 2

Bagian atas penderita turut tergeser kedepan sehingga dada dan atau perut akan
menghantam setir. Kemungkinan cedera yang akan terjadi :

1. Cedera abdomen sampai terjadinya perdarahan dalam karena


terjadinya perlukaan/ruptur pada organ seperti hati, limpa,

lambung dan usus.

2. Cedera dada seperti patah tulang rusuk dan tulang dada.


3. Selain itu ancaman terhadap organ dalam rongga dada seperti
paru-paru, jantung, dan aorta.

Fase 3

Tubuh penderita akan naik, lalu kepala membentur kaca mobil bagian depan atau
bagian samping.Kemungkinan cedera yang akan terjadi :

1. Cedera kepala (berat, sedang, ringan)


2. Patah tulang leher (fraktur servikal)

Fase 4

Setelah muka membentur kaca, penderita kembali terpental ketempat duduk. Perlu
mendapat perhatian khusus apabila kursi mobil tidak tersedia head rest karena kepala
akan melenting dibagian atas sandaran kursi. Kondisi akan semakin parah apabila
penderita terpental keluar dari kendaraan Kemungkinan cedera yang akan terjadi :

1. Patah tulang belakang (servikal-koksigis) karena proses duduk


yang begitu cepat sehingga menimbulkan beban berlebih pada

tulang belakang.

2. Patah tulang leher karena tidak ada head rest


3. Multiple trauma apabila penderita terpental keluar dari
kendaraan.

Sehingga dapat disimpulkan berdasarkan skenario


Mobil melaju kencang  menabrak pohon  bagian depan mobil hancur dan kaca
pecah sopir terlempar keluar melalui kaca depan  multipel trauma
2. Dr. thamrin, pergi ke tempat kejadian dengan peralatan tatalaksana trauma seadanya.
a. Apa saja peralatan utama tatalaksana trauma ?1,3,5,7,9
b. Bagaimana tatalaksana trauma awal di tempat kejadian? 2,4,6,8,10

Perinsip tatalaksana kasus ini sesuai dengan inisial assesment pra- Rumah Sakit:
1. Triase: nilai keadaan umum pasien pasien sadar tapi bingung, nyeri dada, sesak
napas, tanda fraktur dan jejas di beberapa bagian tubuh
2. Primary survey: airway, breathing,circulation, disability, exposure
a. Airway
Nilai jalan nafas: tidak ada obstruksi(pasien dapat bicara, mengeluh daerah sakit),
gerakan udara pada hidung, mulut, pergerakan dada bersihkan jalan nafas dari
darah

b. Breathing
Nilai ventilasi dan oksigenasi, buka leher dan dada, observasi perubahan pola
pernapasan: tentukan laju dan dalam pernafasan, dan look, listen, feel (diketahui
tanda-tanda pneumotoraks) dekompresi segera dan penanggulangan awal
dengan insersi jarum yang berukuran besar(needle thoraco syntesis) pada ICS 2
dilinea mid clavikula
c. Circulation
Nilai TD, nadi, warna kulit dan sumber perdarahan.
Bersihkan dan Tutup luka di kepala dengan perban .
d. Disability
Niali GCS: 13 cedera otak sedang
e. Exposure
Berdasarkan pengamatan klinis diduga,
Fraktur femur: pasang bidai, apabila tidak ada bebat anggota gerak yang sakit ke
anggota gerak yang sehat.
Fraktur iga: diberi analgesik dosis rendah IV agar tidak nyeri sehingga
mempermudah pernafasan.
3. Nilai sementara, pindahkan ke tandu dengan metode “log Roll”, bawa ke UGD
puskesmas(100meter) dengan tandu.

3. Sopir laki-laki 30 tahun tergeletak merintih, mengeluh dadanya sesak, nyeri dada kanan dan
nyeri paha kiri.
a. Bagaimana mekanisme :
-merintih, 1.3,9
-dada sesak, 2,4, 10

Kemungkinan penyebab:

a. Sesak nafas kardiak


b. Obstruksi jalan nafas
c. Sesak nafas pada prenkim paru difus
d. Emboli paru
e. Kelainan vaskular
f. Gangguan transport oksigen
g. Kelainan pleura dan mediastinum (pneumotoraks, hemotoraks, tension
pneumotoraks)
h. Fraktur pada costae

Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapatnya udara pada rongga potensial
diantara pleura visceral dan pleura parietal. Pada keadaan normal rongga pleura
dipenuhi oleh paru – paru yang mengembang pada saat inspirasi disebabkan karena
adanya tegangan permukaaan ( tekanan negatif ) antara kedua permukaan pleura,
adanya udara pada rongga potensial di antara pleura visceral dan pleura parietal
menyebabkan paru-paru terdesak sesuai dengan jumlah udara yang masuk kedalam
rongga pleura tersebut, semakin banyak udara yang masuk kedalam rongga pleura akan

menyebabkan paru –paru menjadi kolaps karena terdesak akibat udara yang masuk
meningkat tekanan pada intrapleura. Secara otomatis terjadi juga gangguan pada proses
perfusi oksigen kejaringan atau organ, akibat darah yang menuju kedalam paru yang
kolaps tidak mengalami proses ventilasi, sehingga proses oksigenasi tidak terjadi.

Mekanisme pada kasus:

Kecelakaan lalu lintas  dada membentur stir dan dashboard  trauma tumpul rongga
toraks  Fraktur costae 9,10,11  udara dari dalam paru bocor ke dalam rongga pleura
 udara tidak dapat keluar dari pleura (fenomena ventil)  tekanan dalam pleura
meningkat  paru kolaps  pertukaran udara menjadi tidak adekuat  hipoksia 
kesulitan bernafas (dada sesak).
-nyeri dada kanan 5,7
-nyeri paha kiri 6, 8

4. PEMERIKSAAN SEKILAS dan Pemeriksaan Tambahan


a. Interpretasi dan mekanisme abnormal ?
Pemeriksaan sekilas

- Pasien sadar tapi terlihat bingung, cemas dan kesulitan bernafas 1, 10, 2
- Tanda vital : RR : 40x/menit; Nadi: 110x/menit, lemah; TD: 90/50 mmHg 2, 9, 3
- Wajah dan bibir pucat 3, 8, 4
- Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin 4. 7, 5
- Terlihat deformitas di paha kiri 5. 6, 7
- GCS : 13 (E:3, M:6, V:4) 6, 5, 8

a.

Keadaan Normal Interpretasi Mekanisme


korban

Sadar tapi Sadar Penurunan Suplai O2 ke otak berkurang 


terlihat sepenuhnya kesadaran gangguan fungsi otak 
bingung (delirium) penurunan kesadaran  delirium
dan cemas

Kesulitan Tidak ada Gangguan Trauma tumpul pada thorax,


bernafas kesulitan pernapasan udara dari dalam paru-paru bocor
ke rongga pleura  udara tidak
dapat keluar lagi dari rongga
pleura (one-way valve)  tekanan
intrapleural meningkat  paru-
paru kolaps  pertukaran udara
tidak adekuat  hipoksia 
kesulitan bernafas

RR: 16 – 24 x / menit takipneu Hipoksia  meningkatkan usaha


40x/menit pernafasan  laju respirasi
meningkat
Nadi 110 60-100 x/menit Takikardia Cardiac output menurun 
x/menit kompensasi jantung 
peningkatan denyut jantung 
takikardia

TD: 90/50 120/80 mmHg hipotensi Kecelakaan lalu lintas  dada


mmHg menumbur setir  trauma tumpul
pada thorax  udara dari dalam
paru-paru bocor ke rongga pleura
 udara tidak dapat keluar lagi
dari rongga pleura (one-way valve)
 tekanan intrapleural meningkat
 mediastinum terdorong ke arah
yang berlawanan  menekan
aliran balik vena  output jantung
menurun  syok non hemoragik
 hipotensi

Wajah dan Tidak ada Sianosis Hipoksia  penurunan suplai O2


bibir kebiruan  peningkatan kadar hemoglobin
terlihat yang tidak terikat dengan O2 
kebiruan hemoglobin tereduksi 
diskolorisasi yang tampak pada
wajah dan bibir sebagai kebiruan

Kulit pucat, Tidak pucat & Kurang Hipoksia  penurunan perfusi O2


dingin, dan dingin perfusi O2 di ke jaringan perifer  kulit pucat,
berkeringat perifer dingin, berkeringat dingin.
dingin

Pemeriksaan Tambahan
- Kepala 7, 4, 6
Inaspeksi : terdapat luka lecet di dahi dan pelipis kanan diameter 2 – 4 cm. Yang lain dbn.
- Thoraks 8, 3, 1
Inspeksi : Gerak dada asimetris, kanan tertinggal frekuensi 40x/menit. Tampak memar disekitar
dada kanan bawah sampai kesamping. JVP distensi. Trakea bergeser ke kiri
Auskultasi : suara napas kanan melemah, bising napas kiri terdengar jelas. Bunyi jantung
terdengar jelas cepat frekuensi 110x/menit.
Palpasi : Nyeri tekan pada dada kanan bawah sampai ke samping (lokasi memar). Krepitasi pada
kosta 9, 10, 11 kanan depan.
Perkusi : hipersonor di dada kanan, sonor di dada kiri
- Abdomen 9,2, 10
Inspeksi : dinding perut datar
Auskultasi : bising usus normal
Palpasi : nyeri tekan (-)
- Ekstremitas 10, 1. 9
Inspeksi : deformitas, lebam/memar, hematom pada paha tengah kiri
Palpasi : nyeri tekan
ROM : pasif dan aktif terdapat limitasi gerakan

Kepala

Luka lecet didahi dan pelipis kanan , diameter 2 – 4 cm Laserasi jaringan lunak

Leher

JPV meningkat Menandakan Tension


Pneumothorax
Trakea bergeser kekiri

Thorax

Inspeksi: Gerakan dada asimetris , kanan tertinggal Tension Pneumothorax

Tampak memar disekitar dada kanan bawah sampai ke


samping

Auskultasi: Bunyi napas kanan melemah

Bising nafas kiri terdengar jelas

Bunyi jantung jelas dan cepat

Palpasi: Nyeri tekan dada kanan bawah sampai ke


samping; Krepitasi pada costa 9,10,11 kanan depan Fraktur os costae IX, X, XI

Perkusi

Kanan : hipersonor
Kiri : sonor Tension pneumothorax
pada dada kanan

Abdomen

Inspeksi : dinding perut datar Abdomen normal.

Auskultasi : bising usus normal

Palpasi : Nyeri tekan (-)

Ekstremitas Paha kanan:

Inspeksi : tampak deformitas, memar, hematoma Ada Fraktur Femur

Palpasi : nyeri tekan, krepitasi

ROM : pasif : limitasi gerakan, aktif : limitasi gerakan

b. Mekanisme kompensasi hypoxia? 1,6,7

5. Pasien dirujuk ke RSMH setelah dilakukan penanganan di UGD RSUD yang terletak 40 km dari
Palembang.
a. Bagaimana perinsip penanganan trauma di UGD? 2,5, 8, 10

Primary survey
1) Airway : jaga jalan napas tetap paten. Bila diperlukan
lakukan pemasangan intubasi ETT (dengan bantuan auskultasi pada 5
titik) dan pemberian oksigen dengan ambu bag (resusitasi oksigen), NGT
dapat dipasang untuk mencegah aspirasi.
2) Breathing : Inspeksi dada, auskultasi paru dan jantung, perkusi,
palpasi

Untuk tatalaksana lanjut tension pneumothoraks dilakukan pemasangan chest tube:


 Antiseptik daerah insersi chest tube
 Penyuntikan anastesi pada dinding dada intercostals 5 (intramuscular, pleura
parietal, permukaan periosteal iga 5)
 Incisi dengan skapel
 Pemasukan chest tube (ukuran 24 -26 french)
 Fiksasi chest tube
3) Circulation : Pemberian kristaloid (RL 4500 – 6000 cc /
jam) caliber besar yang telah dihangatkan, melalui IV
(resusitasi cairan)
4) Exposure : membuka keseluruhan pakaian pasien (digunting)
tetapi cegah hipotermia

Untuk tatalaksana fraktur iga

 Pemberian analgesia untuk mengurangi nyeri dan membantu pengembangan dada:


Morphine Sulfate. Hidrokodon atau kodein yang dikombinasi denganaspirin atau
asetaminofen setiap 4 jam.
 Blok nervus interkostalis dapat digunakan untuk mengatasi nyeri berat akibat fraktur
costae
- Bupivakain (Marcaine) 0,5% 2 sampai 5 ml, diinfiltrasikan di sekitar n. interkostalis
pada costa yang fraktur serta costa-costa di atas dan di bawah yang cedera
- Tempat penyuntikan di bawah tepi bawah costa, antara tempat fraktur dan
prosesus spinosus. Jangan sampai mengenai pembuluh darah interkostalis dan
parenkim paru
Pengikatan dada yang kuat tidak dianjurkan karena dapat membatasi pernapasan

Jika pasien telah stabil kita lakukan secondary survey.


1) Monitoring (kesadaran, vital sign, cairan urin, ABG, dll)
2) Anamnesis SAMPLE (Sensation, Allergic, Past illness, Last meal, Event)
3) Pemeriksan head to toe untuk mengetahui kemungkinan ada trauma lain. Semua prosedur
yang dilakukan harus dicatat dengan baik. Pemeriksaan dari kepala sampai ke jari kaki
(head-to-toe examination) dilakukan dengan perhatian utama :
Pemeriksaan kepala
Kelainan kulit kepala dan bola mata, telinga bagian luar dan membrana timpani, cedera
jaringan lunak periorbital

Pemeriksaan leher

Emfisema subkutan,deviasi trachea, vena leher yang mengembang

Pemeriksaan neurologis

Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Scale (GCS), penilaian rasa raba / sensasi dan
refleks

Pemeriksaan dada

Clavicula dan semua tulang iga, suara napas dan jantung, pemantauan ECG (bila tersedia)

Pemeriksaan rongga perut (abdomen)

cari luka, memar dan cedera lain, pasanglah pipa nasogastrik pada pasien trauma tumpul
abdomen kecuali bila ada trauma wajah. Periksa dubur (rectal toucher), pasang kateter
kandung seni jika tidak ada darah di meatus externus

Pelvis dan ekstremitas

Cari adanya fraktura (pada kecurigaan fraktur pelvis jangan melakukan tes gerakan apapun
karena memperberat perdarahan), cari denyut nadi-nadi perifer pada daerah trauma, cari
luka, memar dan cedera lain

Evaluasi fungsi neurologis


Untuk evaluasi berat dan luasnya cedera, jika pasien sadar tanyakan dengan jelas apa yang
dirasakan dan minta pasien untuk melakukan gerakan agar dapat dievaluasi fungsi motorik
dari ekstremitas atas dan bawah.

Pemeriksaan Tambahan

 Foto Thorax, indikasi : Fraktur iga, Flail chest, Pneumtoraks, Hemotoraks


 Foto Pelvis, indikasi : Curiga fraktur pelvis, fraktur collumna femoris, dll
 Foto femur, indikasi : Fraktur femur
 DPL / USG abdomen, indikasi : curiga perdarahan intra-abdomen, trauma organ
abdominal, nyeri abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnya, trauma pada bagian
bawah dari dada, hipotensi, hematokrit turun tanpa alasan yang jelas, pasien cedera
abdominal dengan gangguan kesadaran (obat,alkohol, cedera otak).
Kriteria Rujukan Antar Rumah Sakit :
1) Bila keadaan rumah sakit tidak mencukupi kebutuhan penderita
2) Keadaan klinis pasien
Susunan saraf pusat
 Trauma kapitis
 Luka tembus atau fraktur impresi
 Luka terbuka, dengan atau tanpa kebocoran cairan serebrospinal
 GCS < 14 atau penurunan GCS lebih lanjut
 Tanda lateralisasi
 Trauma medula spinalis atau fraktur vertebra yang berat
Toraks
 Mediastinum melebar atau curiga cedera aorta
 Cedera dinding dada berat atau kontusio paru
 Cedera jantung
 Penderita yang membutuhkan ventilasi untuk waktu lama
Pelvis/ Abdomen
 Kerusakan pelvis-ring yang tidak stabil
 Kerusakan pelvic ring dengan syok, dan tanda perdarahan lanjut
 Fraktur pelvis terbuka
Ekstremitas
 Fraktur terbuka yang berat
 Traumatik amputasi yang masih mungkin dilakukan re-implantasi
 Fraktur intra-artikulat yang rumit
 Crush injury yang berat
 Iskemia
Cedera multi-sistem
 Trauma kapitis disertai trauma wajah, toraks, abdomen atau pelvis
 Cedera pada lebih dari 2 anggota tubuh
 Luka bakar berat, atau luka bakar dengan cedera lain
 Fraktur tulang panjang proksimal pada lebih dari satu tulang
Faktor komorbid
 Umur > 55 tahun
 Anak-anak
 Penyakit jantung atau pernapasan
 Insulin dependent diabetes melitus, obesitas morbid
 Kehamilan
 Imunosupresi
Penurunan kesadaran lebih lanjut (late sequele)
 Diperlukan ventilasi mekanik
 Sepsis
 Kegagalan organ tunggal atau multipel (penurunan keadaan susunan saraf
pusat, jantung, pernapasan, hepar, ginjal, atau sistem koagulasi)
 Nekrosis jaringan yang luas

b. Apa yang perlu dipersiapkan untuk merujuk pasien ke RSMH? 3,4, 9

HIPOTESIS

Supir laki-laki 30 tahun, diduga mengalami fraktur tertutup os femur disertai syok.

TEMPLATE

1. How to diagnose 1
2. DD 2
3. WD 3
4. Patogenesis 4
5. Tata laksana 5, 10

Thoraks
1) Pengelolaan penderita terdiri dari:
 Primary survey. Yaitu dilakukan pada trauma yang mengancam jiwa, pertolongan
ini dimulai dengan airway, breathing, dan circulation.
 Resusitasi fungsi vital.
 Secondary survey yang terinci.
 Perawatan definitif  selalu dibutuhkan dengan pemsangan selang dada (chest
tube) pada sela iga ke 5 (garis putting susu) diantara garis anterior dan midaxilaris.
2) Karena hipoksia adalah masalah yang sangat serius pada Trauma thorax, intervensi
dini perlu dilakukan untuk pencegahan dan mengoreksinya.
3) Trauma yang bersifat mengancam nyawa secara langsung dilakukan terapi secepat
dan sesederhana mungkin.
4) Kebanyakan kasus Trauma thorax yang mengancam nyawa diterapi dengan
mengontrol airway atau melakukan pemasangan selang thorax atau dekompresi
thorax dengan jarum.
5) Secondary survey membutuhkan riwayat trauma dan kewaspadaan yang tinggi
terhadap adanya trauma – trauma yang bersifat khusus.
Tindakan:
1) Toraksosentesis jarum
 Catatan: Prosedur ini untuk tindakan penyelamatan pada tension pneumotoraks.
Jika tindakan ini dilakukan pada penderita bukan tension pneumotoraks, dapat
terjadi pneumotoraks dan/ atau kerusakan pada parenkim paru.
 Identifikasi toraks penderita dan status respirasi.
 Berikan oksigen dengan aliran tinggi dan ventilasi sesuai kebutuhan.
 Identifikasi sela iga II, di linea midklavikula di sisi tension pneumotoraks.
 Asepsis dan antisepsis dada.
 Anestesi lokal jika penderita sadar atau keadaan mengijinkan.
 Penderita dalam keadaan posisi tegak jika fraktur servikal sudah disingkirkan.
 Pertahankan Luer-Lok di ujung distal kateter, insersi jarum kateter (panjang 3-6
cm) ke kulit secara langsung tepat di atas iga kedalam sela iga.
 Tusuk pleura parietal.
 Pindahkan Luer-Lok dari kateter dan dengar keluarnya udara ketika jarum
memasuki pleura parietal, menandakan tension pneumotoraks telah diatasi.
 Pindahkan jarum dan ganti Luer-Lok di ujung distal kateter. Tinggalkan kateter
plastik di tempatnya dan ditutup dengan plaster atau kain kecil.
 Siapkan chest tube, jika perlu. Chest tube harus dipasang setinggi puting susu
anterior linea midaksilaris pada hemitoraks yang terkena.
 Hubungkan chest tube ke WSD atau katup tipe flutter dan cabut kateter yang
digunakan untuk dekompresi tension pneumotoraks.
 Lakukan rontgen toraks.
2) Insersi Chest Tube
 Resusitasi cairan melalui paling sedikit satu kateter intravena kaliber besar, dan
monitor tanda-tanda vital harus dilakukan.
 Tentukan tempat insersi, biasanya setinggi puting (sela iga V) anterior linea
midaksilaris pada area yang terkena. Chest tube kedua mungkin dipakai pads
hemotoraks.
 Siapkan pembedahan dan tempat insersi ditutup dengan kin.
 Anestesi lokal kulit dan periosteum iga.
 Insisi transversal (horisontal) 2-3 cm pada tempat yang telah ditentukan dan
diseksi tumpul melalui jaringan subkutan, tepat di atas iga.
 Tusuk pleura parietal dengan ujung klem dan masukkan jari ke dalam tempat insisi
untuk mencegah melukai organ yang lain dan melepaskan perlekatan, bekuan
darah dll.
 KIem ujung proksimal tube toraksostomi dan dorong tube ke dalam rongga pleura
sesuai panjang yang diinginkan.
 Cari adanya “fogging” pada chest tube pada saat ekspirasi atau dengar aliran
udara.
 Sambung ujung tube toraksostomi ke WSD.
 Jahit tube di tempatnya.
 Tutup dengan kain/kasa dan plester.
 Buat Foto ronsen toraks.
 Pemeriksaan analisa gas darah sesuai kebutuhan
Paha
1) Penatalaksanaan awal
Sebelum dilakukan pengobatan definitf pada satu fraktur, maka diperlukan:
 Pertolongan pertama
Pada penderita dengan fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan
jalan napas, menutup luka dengan verban yang bersih dan imobilisasi fraktur
pada anggota gerak yang terkena agar penderita merasa nyaman dan
mengurangi nyeri.
 Penilaian klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, apakah
luka itu luka tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/saraf ataukah ada
trauma alat-alat dalam lainnya.
 Resusitasi
2) Prinsip umum pengobatan fraktur
Ada empat prinsip pengobatan fraktur:
 Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksan klinis dan radiologis.
 Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
 Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari.
 Retention; imobilisasi fraktur
 Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

6. Komplikasi 6
7. Prognosis 7
8. KDU 8, 9

Learning Issue

1. Anatomi thorax dan femur 1,2, 3


2. Fisiologi pernapasan dan sirkulasi 4, 5, 6
3. Tension pneumothorax 7, 8,9, 10

Daftar pustaka :

A Pierce. Dkk. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Penerbit Erlangga. Jakarta.


American Chollage of Surgeon Committe on Trauma. 2004. Advance Trauma Life Support for
Doctors.
Berg, R.A., R. Hemphill, B.S. Abella, T.P. Aufderheide, D.M. Cave, M.F.Hazinski, E.B.Lerner,
T.D. Rea, M.R. Sayre, and R.A. Swor. Part 5: Adult Basic Life Support: 2010 American
Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency
Cardiovascular Care. Circulation. 122:S685-S705.
Bresler, Michael Jay dan George L. Sternbach. 2007. Manual Kedokteran Darurat. Jakarta :
EGC.
Dandy DJ. 1989. Essential Orthopaedics and Trauma. Edinburg, London, Melborue, New York:
Churchill Livingstone.
De Jong, Wim, Buku Ajar Ilmu Bedah Ed.2, Jakarta, EGC, 2004.

Jawaban di kumpul di paling lambat besok hari selasa 15 September 2015 jam 18.00 wib

Ke afiafi26@gmail.com dan alzenadwi24@gmail.com

Yang lewat dari situ atau 2 yang paling terakhir, dapat tugas presentan yaa :”)