Anda di halaman 1dari 50

REFLEKSI KASUS

TRAUMATOLOGI PADA KASUS OTOPSI JENAZAH DI


RSUD WONOSOBO 30 MEI 2019

Diajukan guna memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh program
pendidikan profesi dokter

Oleh :

Chiendo Yurinda Maharsi 30101407157


Muhammad Rizal Nur F. 30101507502
Nafiatul Aliah 30101407262
Nuthfah Puspita Rini 30101507532
Panji Achsan Wijaya 30101507535

Pembimbing :

Dr. dr. Setyo Trisnadi, Sp.KF, S.H.

KEPANITERAAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019

1
LEMBAR PENGESAHAN

TRAUMATOLOGI PADA KASUS OTOPSI JENAZAH DI


RSUD WONOSOBO 30 MEI 2019

Diajukan guna memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh program
pendidikan profesi dokter

Disusun oleh :

Chiendo Yurinda Maharsi 30101407157


Muhammad Rizal Nur F. 30101507502
Nafiatul Aliah 30101407262
Nuthfah Puspita Rini 30101507532
Panji Achsan Wijaya 30101507535

Semarang, Juni 2018

Pembimbing,

Dr. dr. Setyo Trisnadi, Sp.KF, S.H.

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat

rahmat dan izin-Nya, maka tugas pembuatan Refleksi Kasus dengan judul “Luka

Lecet dan Luka Memar” dapat selesai pada waktunya. Pembuatan laporan kasus

ini merupakan salah satu tugas wajib yang harus dikerjakan dalam rangka

kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di

Rumah Sakit Bhayajngkara Semarang, periode 12 November – 8 Desember 2018.

Pada kesempatan ini pula penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. dr. Setyo Trisnadi, Sp.KF, S.H.

2. Dokter-dokter Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di Rumah

Sakit Bhayangkara Semarang dan Rumah Sakit Islam Sultan Agung

Semarang.

3. Serta teman-teman dan pihak-pihak yang telah membantu baik secara

langsung maupun tidak langsung.

Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna,

oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Penulis

berharap agar apa yang disajikan dalam laporan kasus ini bermanfaat bagi kita

semua.

Semarang, Juni 2019

Penulis

3
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


REFLEKSI KASUS ............................................................................................... 1
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 3
DAFTAR ISI .............................................................................................................
................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN .................................................................................................. 5
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 7
2.12Definisi Luka Lecet....................... Error! Bookmark not defined.
2.12Mekanisme Luka Lecet ............................................................... 27
2.12Jenis Luka Lecet .......................................................................... 27
2.12Tahap Dalam Penyembuhan Luka Lecet .................................. 29
2.12Perbedaan luka lecet post mortem ............ Error! Bookmark not
defined.
2.12Definisi Luka memar .................... Error! Bookmark not defined.
2.12Mekanisme luka memar............... Error! Bookmark not defined.
2.11Perubahan Warna dan Umur Luka Memar ... Error! Bookmark
not defined.
2.12Perbedaan Luka Memar dengan Lebam Mayat ............... Error!
Bookmark not defined.
LAPORAN KASUS .............................................................................................. 31
3.1 Identitas Korban .......................................................................... 31
3.2 Kronologi Kejadian ..................................................................... 31
3.3 Visum et Repertum....................... Error! Bookmark not defined.
PEMBAHASAN ................................................................................................... 41
KESIMPULAN ..................................................................................................... 47
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 48

4
5
BAB I
PENDAHULUAN

Traumatologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari


tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan kekerasan terhadap jaringan tubuh
serta cedera dan luka serta hubungannya dengan kekerasan. Traumatologi berasal
dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan atas jaringan tubuh yang
masih hidup (living tissue) sedangkan logos berarti ilmu. Sehingga pengertian
dari traumatologi adalah ilmu yang mempelajari semua aspek yang berkaitan
dengan kekerasan terhadap jaringan tubuh manusia yang masih hidup. Sedangkan
yang dimaksud dengan luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan
tubuh akibat kekerasan. Kegunaannya selain untuk kepentingan pengobatan juga
dalam kepentingan forensik sebab dapat diaplikasikan guna membantu penegak
hukum dalam rangka membuat terang tindak pidana kekerasan yang menimpa
tubuh seseorang (Dahlan, 2007).
Trauma tumpul merupakan salah satu trauma mekanik yang dapat
menyebabkan kerusakan pada organ. Trauma tumpul dapat menimbulkan tiga
macam luka, yaitu luka memar (kontusi), luka lecet (abrasi), dan luka
robek/terbuka (vulnus laceratum). Akibat fatal yang disebabkan oleh benda
tumpul adalah patah tulang (Dahlan, 2015).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan RI menunjukkan bahwa memar merupakan
salah satu proporsi terbesar dari luka yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas
yaitu sebesar 49%. Dari sebuah penelitian pada tahun 2012 menunjukan bahwa
dari 197 kasus kematian akibat kecelakaan lalu lintas, luka lecet menempati
prosentase luka yang paling banyak dialami oleh korban kecelakaan lalu lintas
yaitu sebanyak 192 kasus (97,4%) lalu luka memar sebanyak 159 kasus (80,7%),
luka terbuka 116 kasus (58.8%), kasus, patah tulang 98 kasus (49,7%). Korban
paling banyak berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 146 kasus, kelompok usia
paling banyak adalah kelompok usia muda usia 20-30.

6
Selain luka memar, luka lecet dapat mengungkapkan peristiwa yang
sebenarnya terjadi. Misalnya suatu luka lecet akibat jatuh ke aspal jalanan atau
tanah, terdapat aspal atau debu yang menempel di luka tersebut. bila telah
dilakukan pemeriksaan yang teliti ternyata tidak dijumpai benda asing tersebut,
dapat dipikirkan bahwa penyebab luka tersebut bukan terjadi akibat jatuh ke
aspal/tanah, tetapi akibat tindak kekerasan (Amir, 2005).

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Traumatologi


Pengertian trauma dari aspek medikolegal sedikit berbeda dengan
pengertian medis. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan
adalah hilangnya kontinuitas dari jaringan. Dalam pengertian medikolegal
trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba terganggu
kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan
kecederaan. Aplikasinya dalam pelayanan kedokteran forensik adalah
untuk membuat terang suatu tindakan kekerasan yang terjadi pada
seseorang (Amir, 2005).
2.2 Klasifikasi Trauma
a. Mekanik
1. Kekerasan Tajam
2. Kekerasan Tumpul
3. Kekerasan akibat senjata api
b. Fisika
1. Suhu
2. Listrik dan petir
c. Kimia
1. Asam kuat
2. Basa kuat

2.2.1. Mekanik
2.2.1.1. Kekerasan Tajam
Kekerasan tajam disebabkan pisau, pedang, silet, gunting,
kampak, bayonet dan lain-lain. Senjata ini dapat menyebabkan luka
sayat, luka tikam dan luka bacok (Amir, 2005). Pada Kematian
yang disebabkan oleh benda tajam, walaupun tetap harus

8
difikirkan kemungkinan karena suatu kecelakaan, tetapi pada
umumnya karena suatu peristiwa pembunuhan atau peristiwa
bunuh diri (Dahlan, 2007).
Luka yang disebabkan oleh benda tajam dapat dibedakan
dari luka yang disebabkan oleh benda lainnya, yaitu dari keadaan
sekitar luka yang tenang tidak ada luka lecet atau luka memar, tepi
luka yang rata dan dari sudut-sudutnya yang runcing seluruhnya
atau hanya sebagian yang runcing serta tidak adanya jembatan
jaringan (Dahlan, 2007).
a. Luka Iris
Luka karena irisan senjata tajam yang menyebabkan luka
terbuka dengan pinggir rata, menimbulkan perdarahan banyak,
jarang disertai memar di pinggir luka, semua jaringan otot,
pembuluh darah, saraf dalam luka terputus, juga rambut.
Dalam pemeriksaan ini dibedakan dengan luka robek, sebab
pada luka robek jaringan ini masih ada yang utuhdan
disebut jembatan jaringan. Ukuran lebar luka sayat lebih
dari pada ukuran dalamnya luka (Dahlan, 2007). Luka sayat
tidak begitu berbahaya, kecuali luka sayat mengenai pembuluh
darah yang dekat ke permukaan seperti di leher, siku
bagian dalam, pergelangan tangan dan lipat paha (Apuranto,
2010).
b. Luka Tusuk
Luka yang mengenai tubuh melalui ujung pisau dan
benda tajam lainnya, dimana dalamnya luka melebihi lebar
luka. Pinggir luka dapat menunjukkan bagian yang tajam
(sudut lancip) dan tumpul (sudut tumpul) dari pisau berpinggir
tajam satu sisi (Amir, 2005).
c. Luka Bacok
Senjata tajam yang berat dan diayunkan dengan tenaga
akan menimbulkan luka menganga yang lebar disebut luka

9
bacok. Luka ini sering sampai ke tulang. Bentuknya hampir
sama dengan luka sayat tapi dengan derajat luka yang lebih
berat dan dalam. Luka terlihat terbuka lebar atau ternganga.
Perdarahan sangat banyak dan sering mematikan (Dahlan,
2007).

2.2.1.2. Kekerasan Tumpul


Benda tumpul yang sering mengakibatkan luka antara lain:
batu, besi, sepatu, tinju, lantai, jalan dan lain-lain. Kekerasan
tumpul dapat terjadi karena 2 sebab:
 Alat atau senjata yang mengenai atau melukai orang yang
relatif tidak bergerak.
 Orang bergerak kearah objek atau alat yang tidak bergerak.
Dalam bidang medikolegal kadang-kadang hal ini perlu
dijelaskan walaupun terkadang sulit dipastikan (Amir,
2005). Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat
menyebabkan luka, yaitu luka lecet, memar, dan luka robek
atau luka terbuka. Dan bila kekerasan benda tumpul tersebut
sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan patah tulang
(Apuranto, 2010).
a. Luka Memar
Luka memar adalah suatu keadaan dimana terjadi
pengumpulan darah dalam jaringan yang terjadi sewaktu orang
masih hidup, dikarenakan pecahnya pembuluh darah kapiler
akibat kekerasan benda tumpul (Dahlan, 2007). Perdarahan
atau ekimosis ini berwarna biru kehitaman dan kadang-
kadang disertai pembengkakan. Pada orang kulit gelap warna
biru kehitaman akibat memar kadang kadang sulit terlihat,
sehingga pembengkakan bisa dipakai sebagai petunjuk (Amir,
2005).

10
Bila kekerasan benda tumpul yang mengakibatkan luka
memar terjadi pada jaringan longgar, seperti di daerah mata,
leher, atau pada orang lanjut usia, maka luas memar yang
tampak seringkali tidak sebanding dengan kekerasan,
dalam arti seringkali lebih luas, dan adanya jaringan
longgar tersebut memungkinkan berpindahnya ‘memar’
kedaerah yang lebih rendah, berdasarkan gravitasi (Dahlan,
2007).
Salah satu bentuk luka memar yang dapat memberikan
informasi mengenai bentuk dari benda tumpul, ialah apa
yang dikenal dengan dengan istilah ‘Perdarahan tepi’
(marginal hemorrhages), misalnya bila tubuh korban
terlindas ban kendaraan, dimana pada tempat dimana
terdapat tekanan justru tidak menunjukkan kelainan,
perdarahan akan menepi sehingga terbentuk perdarahan tepi
yang bentuknya sesuai dengan bentuk celah antara kedua
kembang ban yang berdekatan (Dahlan, 2007).
Luka Memar di punggung tangan dan jari memberi
petunjuk suatu luka tangkis (defensif, bertahan) pada
perkelahian. Luka memar di leher bisa sebagai petunjuk
pencekikan (Amir, 2005). Bersamaan dengan perjalanan
waktu, luka memar menyembuh dan terjadi perombakan zat
warna hemoglobin. Perubahan warna dalam penyembuhan
pada mayat bergerak dari tepi ke tengah yang memberikan
arti bahwa perlukaan tampak makin mengecil (Amir, 2005).
Memperkirakan umur luka memar :
 Hari ke 1 : terjadi pembengkakan warna merah kebiruan
 Hari ke 2 – 3 : warna biru kehitaman
 Hari ke 4 – 6 : biru kehijauan–coklat
 > 1 minggu-4 minggu : menghilang / sembuh

11
Lebam mayat atau livor mortis sering salah
diinterpretasikan dengan luka memar. Livor mortis merupakan
perubahan warna ungu kemerahan pada area mengikuti posisi
tubuh disebabkan oleh akumulasi darah oleh pembuluh darah
kecil secara gravitasi. Berikut ini perbedaan luka memar
dengan lebam mayat : (Vincent dan Dominick, 2001).

Tabel 1. Perbedaan Luka Memar dan Lebam Mayat


LUKA MEMAR LEBAM MAYAT
Di sembarang tempat Bagian tubuh yang terendah
Pembengkakan (+) Pembengkakan (-)
Tanda Intravital (+) Tanda Intravital (-)
Ditekan tidak menghilang Ditekan Menghilang
Diiris : tidak menghilang Diiris : dibersihkan dengan
kapas menjadi bersih

b. Luka Lecet (abrasi)


Luka pada kulit yang superfisial dimana epidermis
bersentuhan dengan benda yang kasar permukaannya. Arah
luka dapat ditentukan dari penumpukan epidermis yang
terseret ke satu posisi. Bentuk luka lecet kadang-kadang dapat
menunjukkan bentuk alat yang dipakai (Amir, 2005). Luka
lecet pada kasus penjeratan atau penggantungan, akan tampak
sebagai suatu luka lecet yang berwarna merah-coklat,
perabaan seperti perkamen, lebarnya dapat sesuai dengan
alat penjerat dan memberikan gamabaran/cetakan yang
sesuai dengan bentuk permukaan alat penjeratnya, seperti
jalinan tambang, tali pinggang . luka lecet tekan dalam kasus
penjeratan sering juga dinamakan “jejas jerat”, khususnya bila
alat penjerat masih tetap berada pada leher korban (Dahlan,
2007).

12
Memperkirakan umur luka lecet :
- Hari ke 1 – 3 : warna coklat kemerahan
- Hari ke 4 – 6 : warna pelan-pelan menjadi gelap dan
lebih suram
- Hari ke 7 – 14 : pembentukan epidermis baru
- Beberapa minggu : terjadi penyembuhan lengkap
Luka lecet juga harus dibedakan terjadinya, apakah
ante mortem atau post mortem. Berikut ini tabel yang
menunjukkan perbedaan dari keduanya :
Tabel 2. Perbedaan Luka Lecet Ante Mortem dan Post Mortem
ANTE MORTEM POST MORTEM
Coklat kemerahan Kekuningan
Terdapat sisa sisa-sisa epitel Epidermis terpisah sempurna dari dermis
Tanda intravital (+) Tanda intravital (-)
Sembarang tempat Pada daerah yang ada penonjolan tulang

c. Luka Robek (laserasi)


Luka robek adalah luka luka terbuka akibat trauma
tumpul yang kuat. Mudah terbentuk bila dekat ke dasar
bagian yang bertulang. Luka ini umumnya tidak
menggambarkan bentuk dan ukuran alat yang digunakan. Ciri-
cirinya berbentuk tidak teratur, pinggir tidak rata, bengkak,
sering kotor (sesuai benda penyebab), perdarahan tidak banyak
dibanding luka sayat, terdapat jembatan jaringan, antara kedua
tepi luka (otot, pembuluh darah, serabut saraf), rambut
tebenam kedalam luka, sering disertai memar dan luka lecet
(Amir, 2005).
Bila luka robek tersebut salah satu tepinya membuka
kekanan misalnya, maka kekerasan atau benda tumpul
datang dari arah kiri. Jika membuka kedepan maka kekerasan
benda tumpul datang dari arah belakang. Perlukisan yang

13
cermat dari luka terbuka akibat benda tumpul dengan
demikian dapat sangat membantu penyidik khususnya
sewaktu dilakukannya rekonstruksi, demikian pula sewaktu
dokter dijadikan saksi di muka hakim (Dahlan, 2007).

2.2.1.3. Kekerasan Akibat Senjata Api


Luka tembak ialah luka yang disebabkan adanya
penetrasi anak peluru atau persentuhan peluru dengan tubuh.
Untuk memahami akibat luka tembak pada tubuh harus
dimulai dari pengetahuan tentang apa yang keluar dari mulut
laras pada waktu senjata api meletus. Yang keluar dari mulut
laras adalah :
- Anak Peluru
- Sisa mesiu yang tidak terbakar
- Api
- Asap
- Gas
Masing - masing komponen akan menimbulkan akibat pada
sasaran (manusia). Anak peluru akan menyebabkan terjadinya luka
(luka masuk dan bisa luka keluar) dengan saluran luka didalam
tubuh. Sisa mesiu yang tidak terbakar akan menyebabkan
terjadinya penyebaran tatto disekitar luka masuk. Pada jarak
tembak yang sangat dekat dengan sasaran akan api dapat
menyebabkan luka bakar. Begitu pula asap akan meninggalkan
jelaga disekitar luka masuk (Amir, 2005).
Gas hanya menimbulkan akibat bila mulut laras kontak
menempel pada dengan jaringan tubuh. Bila luka tembak tempel
dekat ke permukaan tulang dimana kulit dan otot dekat ke tulang,
maka gas akan memantul keluar dan membuat luka masuk menjadi
luas, sering pecah seperti bintang (stellate). Bila jaringan
ditempat luka masuk hanya jaringan lunak, efek yang

14
ditimbulkan tekanan gas tidak sehebat yang dekat ke tulang (Amir,
2005). Dengan memahami akibat dari kelima komponen di
atas, maka dokter dapat melaporkan hasil pemeriksaan dan
kesimpulannya dalam VeR.
a. Luka Tembak Masuk
Bagian yang penting dalam pemeriksaan luka tembak
adalah pemeriksaan luka tembak masuk. Karena pengertian
luka tembak adalah penetrasi anak peluru kedalam tubuh,
maka perlu dikaji tentang yang terjadi pada waktu peluru
menembus kulit (Amir, 2005).
Selain luka masuk yang merobek tubuh, maka di pinggir
luka akan terbentuk cincin memar di sekeliling luka masuk
(contusion ring). Sebetulnya ini lebih tepat disebut luka lecet.
Diameter luka memar ini menggambarkan kaliber peluru yang
menembus. Oleh karena itu perlu diukur dengan teliti. Bila
cincin memar bulat berarti peluru menembus tegak lurus. Bila
lonjong maka peluru menembus miring. Arah dan sudut
kemiringan luka tembak masuk dapat ditentukan dari bagian
yang lebih lebar dari cincin memar (Amir, 2005).
Bentuk cincin memar bisa tidak teratur. Ini bisa
dihubungkan dengan kemungkinan peluru yang menembus
kulit tidak bulat lagi karena berubah bentuk, misalnya peluru
rikoset karena mengenai benda lain dulu seperti dinding,
pohon dan lain lain atau peluru mekar/memuai karena panas
atau peluru yang ujungnya sengaja dibelah (peluru dum – dum)
(Apuranto, 2010).
Pada penembakan yang mengenai tulang gepeng misalnya
tulang tengkorak, sternum, ilium, lubang luka berbentuk
corong dimana luka masuk lebih kecil dari luka keluar. Luka
tembak masuk pada tulang tengkorak terlihat lubang luka
pada tabula eksterna lebih kecil dibanding luka pada tabula

15
interna. Bila peluru keluar lagi maka lubang luka tabula interna
lebih kecil dari pada lubang luka pada tabula eksterna (Amir,
2005). Tembakan pada tulang panjang walaupun tidak
memberi gambaran yang khas tetap dapat merupakan petunjuk
dari mana peluru datang, yaitu dengan melihat fragmen tulang
yang terangkat atau terdorong, bila peluru datang dari sebelah
kanan maka peluru akan terdorong ke sebelah kiri Amir,
2005).
b. Luka Tembak Keluar
Bila tidak ditemukan cincin memar disekitar lubang luka,
maka ini merupakan patokan sebagai luka keluar. Pada luka
keluar bisa didapati jaringan lemak menghadap keluar,
walaupun kadang-kadang sulit memastikannya. Bentuk dan
besar luka keluar beragam, tergantung posisi peluru keluar
dan kecepatan menembus kulit. Lebih mudah memastikan bila
didapati serpihan tulang apalagi bila dibantu foto rontgent
(Amir, 2005).
Beberapa kemungkinan dapat terjadi :
- Luka tembak masuk lebih kecil dari luka keluar
Ini lebih sering karena waktu keluar,
daya tembus mengebor dari peluru berkurang
oleh adanya hambatan jaringan, sehingga membuat
luka lebih besar. Apalagi bila serpihan tulang ikut
melukai (Amir, 2005).
- Luka masuk dan keluar sama besar
Terjadi bila daya tembus peluru masih tinggi
dan hanya mengenai jaringan lunak (Amir, 2005).
- Luka masuk lebih besar dari luka keluar.
Dapat terjadi dimana sesuadah peluru
menembus masuk ke tubuh, daya tembusnya sangat

16
berkurang dan tenaga peluru keluar hanya cukup
untuk menembus kulit (Amir, 2005).

Berdasarkan jaraknya luka tembak dapat dibagi menjadi


Peluru yang menembus tubuh bisa ditembakkan dari
berbagai jarak. Untuk kepentingan medikolegal
penentuan jarak luka tembak ini sangat penting, jarak
luka tembak ini dibagi atas 4 yaitu:
a. Luka tembak tempel
Terjadi bila laras senjata menempel pada kulit. Luka
masuk biasanya berbentuk bintang (stellate). Pada luka
didapati jejas laras yaitu bekas ujung laras yang ditempelkan
pada kulit. Gas dan mesiu yang tidak terbakar didapati dalam
jaringan luka. Didapati kadar CO yang tinggi dalam jaringan
luka. Luka tembak tembel biasanya didapati pada kasus bunuh
diri. Oleh karena itu sering didapati adanya kejang mayat
(cadaveric spasme). Luka tembak tempel sering ditemui
dipelipis, dahi atau dalam mulut (Amir, 2005)
b. Luka tembak sangat dekat
Luka tembak masuk jarak sangat dekat (close wound)
sering disebabkan pembunuhan. Dengan jarak sangat dekat (±
15 cm), maka akan didapati cincin memar, tanda-tanda luka
bakar, jelaga dan tatto disekitar lubang luka masuk (Amir,
2005).
c. Luka tembak dekat
Luka dengan jarak dibawah 70 cm akan meninggalkan
lubang luka, cincin memar dan tatu di sekitar luka masuk.
Biasanya karena pembunuhan (Amir, 2005).
d. Luka tembak jauh
Disini tidak ada kelim tatto, hanya ada luka tembus
oleh peluru dan cincin memar. Jarak penembakan sulit atau

17
hampir tdk mungkin ditentukan secara pasti. Tembakan dari
jarak lebih dari 70 cm dianggap sebagai tembakan jarak
jauh, karena partikel mesiu biasanya tidak mencapai sasaran
lagi (Amir, 2005).
2.2.2. Fisika
2.2.2.1. Suhu
a. Terpapar suhu panas (Luka bakar)
Luka bakar terjadi akibat kontak kulit dengan benda
bersuhu tinggi. Kerusakan kulit yang terjadi bergantung
pada tinggi suhu dan lama kontak. Kontak kulit dengan
uap air panas selama 2 detik mengakibatkan suhu kulit pada
kedalaman 1 mm dapat mencapai 66 derajat celcius,
sedangkan pada ledakan bensin dalam waktu singkat
mencapai suhu 47 derajat celcius. Luka bakar sudah dapat
terjadi pada suhu 43-44 derajat celcius bila kontak terjadi
cukup lama (Apuranto, 2010)
Luka bakar dapat dikategorikan menjadi 4 derajat
yaitu :
- Derajat I eritema
- Derajat II vesikel dan bulla
- Derajat III nekrosis koagulatif
- Derajat IV karbonisasi
Kematian pada luka bakar dapat terjadi melalui
berbagai mekanisme :
- Syok neurogen, commotio neuro-vascularis
- Gangguan permeabilitas akibat pelepasan histamin dan
kehilangan NaCl kulit yang cepat (dehidrasi)
b. Terpapar suhu dingin
Kekerasan oleh benda bersuhu dingin biasanya dialami
oleh bagian tubuh yang terbuka; seperti misalnya tangan,
kaki, telinga atau hidung. Mula-mula pada daerah tersebut

18
akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah superfisial
sehingga terlihat pucat, selanjutnya akan terjadi paralisis
dari vasomotor kontrol yang mengakibatkan daerah tersebut
menjadi kemerahan. Pada keadaan yang berat dapat menjadi
gangrene (Apuranto, 2010)

2.2.2.2. Listrik dan Petir


Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan
luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi energi
panas. Besarnya pengaruh listrik pada jaringan tubuh tersebut
tergantung dari besarnya tegangan (voltase), kuatnya arus
(ampere), besarnya tahanan (keadaan kulit kering atau basah),
lamanya kontak serta luasnya daerha terkena kontak. Bentuk luka
pada daerah kontak (tempat masuknya arus) berupa kerusakan
lapisan kulit dengan tepi agak menonjol dan disekitarnya terdapat
daerah pucat dikelilingi daerah hiperemis. Sering ditemukan
adanya metalisasi (Apuranto, 2010)
Pada tempat keluarnya arus dari tubuh juga sering
ditemukannya luka. Bahkan kadang-kadang bagian dari baju atau
sepatu yang dilalui oleh arus listrik ketika meninggalkan tubuh
juga ikut terbakar. Kematian dapat terjadi akibat fibrilasi ventrikel,
kelumpuhan otot pernapasan atau pusat pernapasan. Sedang faktor
yang sering memperngaruhi kefatalan adalah kesadaran seseorang
akan adanya arus listrik pada benda yang dipegangnya. Petir
terjadi karena adanya loncatan arus listrik di awan yang
tegangannya dapat mencapai 10 mega Volt dengan kuat arus
sekitar 100.000 A ke tanah. Luka-luka karena sambaran petir
pada hakekatnya merupakan luka-luka gabungan akibat listrik,
panas dan ledakan udara (Apuranto, 2010)
Luka akibat panas berupa luka bakar dan luka akibat
ledakan udara berupa lukaluka yang mirip dengan akibat

19
persentuhan dengan benda tumpul. Dapat terjadi kematian akibat
efek arus listrik yang melumpuhkan susunan syaraf pusat,
menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kematian juga dapat terjadi
karena efek ledakan atau efek dari gas panas yang ditimbulkannya.
Pada korban mati sering ditemukan adanya arborescent mark
(percabangan pembuluh darah terlihat seperti percabangan pohon),
metalisasi benda-benda dari logam yang dipakai, magnetisasi
benda-benda dari logam yang dipakai. Pakaian korban terbakar
atau robek-robek.Luka akibat radiasi dan trauma akustik
sangat jarang terjadi dan umumnya tidak berkaitan dengan ilmu
kedokteran forensic (Apuranto, 2010)

2.2.3. Kimiawi
Trauma kimia sebenarnya hanya merupakan efek korosi
dari asam kuat dan basa kuat. Asam kuat sifatnya
mengkoagulasikan protein sehingga menimbulkan luka korosi
yang kering, keras seperti kertas perkamen, sedangkan basa
kuat bersifat membentuk reaksi penyabunan intra sel
sehingga menimbulkan luka yang basah, licin dan kerusakan
akan terus berlanjut sampai ke dalam. Karena biasanya bahan
kimia asam atau basa terdapat dalam bentuk cair (larutan pekat),
maka bentuk luka biasanya sesuai dengan mengalirnya bahan
cair tersebut (Dahlan, 2007).

2.3 Derajat Kualifikasi Luka


Pengertian kualifikasi luka disini semata-mata pengertian Ilmu
Kedokteran Forensik sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP) Bab XX pasal 351 dan 352 serta Bab IX pasal 90.
Pasal 351

20
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang
bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana
Pasal 352
(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka
penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam,
sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama
tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya,
atau menjadi bawahannya.
(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 90
Luka berat berarti:
(1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan
akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut
(2) Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan
atau pekerjaan pencarian;
(3) Kehilangan salah satu pancaindera;
(4) Mendapat cacat berat;
(5) Menderita sakit lumpuh;
(6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
(7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan (KUHP).

21
2.4 Konteks Peristiwa Penyebab Luka
Latar belakang terjadinya luka dapat disebabkan peristiwa
permbunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan (Dahlan, 2007).
a. Pembunuhan
Ciri - ciri lukanya adalah :
- Lokasi luka di sembarang tempat, yaitu di daerah mematikan
maupun tidak mematikan
- Lokasi tersebut didaerah yang dapat dijangkau maupun yang
tidak dapat dijangkau oleh korban
- Pakaian yang menutupi daerah luka ikut robek terkena senjata
- Dapat ditemukan luka tangkisan (defensive wounds), yaitu pada
korban yang sadar ketika mengalami serangan. Luka tangkisan
tersebut terjadi akibat refleks menahan serangan sehingga
letak luka tangkisan biasanya pada lengan bawah bagian luar.
b. Bunuh diri
Ciri-ciri lukanya adalah:
- Lokasi luka pada daerah yang dapat mematikan secara cepat
- Lokasi tersebut dapat dijangkau oleh tangan yang bersangkutan
- Pakaian yang menutupi luka tidak ikut robek oleh senjata
- Ditemukan luka-luka percobaan (tentative wounds)
Luka percobaan dapat terjadi karena yang bersangkutan
massih ragu-ragu atau karena sedang memilih letak senjata yang
pas sambil mengumpulkan keberaniaaannya, sehingga
ciri-ciri luka percobaan adalah :
- Jumlahnya lebih dari satu
- Lokasinya disekitar luka yang mematikan
- Kualitas lukanya dangkal
- Tidak mematikan
c. Kecelakaan
Jika ciri-ciri luka yang ditemukan ridak
menggambarkan pembunuhan atau bunuh diri maka

22
kemungkinannya adalah akibat kecelakaan. Untuk lebih
memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan di tempat kejadian
(Dahlan, 2007).

2.5 Waktu Terjadinya Trauma


Waktu terjadinya trauma merupakan hal yang sangat penting bagi
keperluan penuntutan oleh penuntut umum, pembelaan oleh penasehat hukum
terdakwa serta untuk penentuan keputusan oleh hakim. Dalam banyak kasus
informasi tentang waktu terjadinya kekerasan akan dapat digunakan sebagai
bahan analisa guna mengungkapkan banyak hal, teerutama yang berkaitan
dengan alibi seseorang. Masalahnya ialah, tidak seharusnya seseorang
dituduh atau dihukum jika pada saat terjadinya tindak pidana ia berada di
tempat yang jauh dari tempat kejadian perkara (Dahlan, 2007).
Dengan melakukan pemeriksaan yang teliti akan dapat ditentukan :
- Luka terjadi ante mortem atau post mortem
- Umur luka
a. Luka ante mortem atau post mortem
Jika pada tubuh jenazah ditemukan luka maka pertanyaannya
ialah luka itu terjadi sebelum atau sesudah mati. Untuk menjawab
pertanyaan tersebut perlu dicari ada tidaknya tanda-tanda intravital.
Jika ditemukan berarti luka terjadi sebelum mati dan demikian
pula sebaliknya (Dahlan, 2007).
Tanda intravital itu sendiri pada hakekatnya merupakan tanda
yang menunjukkan bahwa :
1. Jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma.
Tanda-tanda bahwa jaringan yang terkena trauma masih
dalam keadaan hidup ketika terjadi trauma antara lain :
a. Retraksi jaringan
Terjadi karena serabut-serabut elastis di bawah
kulit terpotong dan kemudian mengkerut sambil menarik
kulit di atasnya. Jika arah luka memotong serabut secara

23
tegak lurus maka bentuk luka akan menganga, tetapi jika
arah luka sejajar dengan serabut elastis maka bentuk luka
tidak begitu menganga (Dahlan, 2007).
b. Retraksi vaskuler.
Bentuk retraksi vaskuler tergantung dari jenis
trauma, yaitu:
1. Pada trauma suhu panas, bentuk reaksi
intravitalnya berupa : Eritema (kulit berwarna
kemerahan), Vesikel atau bulla.
2. Pada trauma benda keras dan tumpul, bentuk
intravital berupa : Kontusio atau memar (Dahlan,
2007).
c. Reaksi mikroorganisme (infeksi)
Jika tubuh dari orang masih hidup mendapat trauma
maka pada daerah tersebut akan terjadi aktivitas biokimiawi
berupa : Kenaikan kadar serotinin (kadar maksimal terjadi
10 menit sesudah trauma). Kenaikan kadar histamin (kadar
maksimal terjadi 20-30 menit sesudah trauma). Kenaikan
kadar enzim yang terjadi beberapa jam sesudah trauma
sebagai akibat dari mekanisme pertahanan jaringan
(Dahlan, 2007).
2. Organ dalam masih berfungsi saat terjadi trauma
Jika organ dalam (jantung atau paru) masih dalam
keadaan berfuungsi ketika terjadi trauma maka tanda-
tandanya antara lain :
a. Perdarahan hebat (profuse bleeding)
Trauma yang terjadi pada orang hidup akan
menimbulkan perdarahan yang banyak sebab jantung masih
bekerja terus-menerus memompa darah lewat luka.
Berbeda dengan trauma yang terjadi sesudah mati sebab
keluarnya darah secara pasif karena pengaruh gravitasi

24
sehingga jumlah lukanya tidak banyak. Perdarahan pada
luka intravital dibagi 2, yaitu :
- Perdarahan internal
Mudah dibuktikan karena darah tertampung
dirongga badan (rongga perut, rongga panggul,
rongga dada, rongga kepala dan kantong
perikardium) sehingga dapat diukur pada waktu
otopsi (Dahlan, 2007).
- Perdarahan eksternal
Darah yang tumpah di tempat kejadian, yang
hanya dapat disimpulkan jika pada waktu otopsi
ditemukan tanda-tanda anemis (muka dan organ-
organ dalam pucat) disertai tanda-tanda limpa
melisut, jantung dan nadi utama tidak berisi
darah (Dahlan, 2007).
b. Emboli udara
Terdiri atas emboli udara venosa (pulmoner) dan
emboli udara arterial (sistemik). Emboli udara venosa
terjadi jika lumen dari vena yang terpotong tidak
mengalami kolap karena terfiksir dengan baik, seperti
misalnya vena jugularis eksterna atau subclavia. Udara
akan masuk ketika tekanan di jantung kanan negatif.
Gelembung udara yang terkumpul di jantung kanan dapat
terus menuju ke daerah paru-paru sehingga dapat
mengganggu fungsinya (Dahlan, 2007).
Emboli arterial dapat terjadi sebagai kelanjutan
dari emboli udara venosa pada penderita foramen ovale
persisten atau sebagai akibat dari tindakan pneumotorak
artifisial atau karena luka-luka yang menembus paru-paru.
kematian dapat terjadi akibat gelembung udara masuk
pembuluh darah koroner atau otak (Dahlan, 2007).

25
c. Emboli lemak
Emboli lemak dapat terjadi pada trauma tumpul
yang mengenai jaringan berlemak atau trauma yang
mengakibatkan patah tulang panjang. Akibatnya jaringan
jaringan lemak akan mengalami pencairan dan kemudian
masuk kedalam pembuluh darah vena yang pecah menuju
atrium kanan, ventrikel kanan dan dapat terus menuju
daerah paru-paru (Apuranto, 2007).
d. Pneumotorak
Jika dinding dada menderita luka tembus atau paru-
paru menderita luka, sementara paru-paru itu sendiri tetap
berfungsi maka luka berfungsi sebagai ventil. Akibatnya,
udara luar atau udara paru-paru akan masuk ke rongga
pleura setiap inspirasi. Semakin lama udara yang masuk
ke rongga pleura semakin banyak yang pada akhirnya
akan menghalangi pengembangan paru-paru sehingga pada
akhirnya paruparu menjadi kolaps (Erlando, 2013).
e. Emfisema kulit
Jika trauma pada dada mengakibatkan tulang iga
patah dan menusuk pau-paru maka pada setiap ekspirasi
udara, paru-paru dapat masuk ke jaringan ikat di
bawah kulit. Pada palpasi akan terasa ada krepitasi
disekitar daerah trauma. Keadaan seperti ini tidak
mungkin terjadi jika trauma terjadi sesudah orang
meninggal (Dahlan, 2007).
b. Umur Luka
Untuk mengetahui kapan kapan terjadi kekerasan, perlu
diketahui umur luka. Tidak ada satupun metode yang digunakan
untuk menilai dengan tepat kapan suatu kekerasan (baik pada
korban hidup atau mati) dilakukan mengingat adanya faktor
individual, penyulit (misalnya infeksi, kelainan darah, atau

26
penyakit defisiensi) (Dahlan, 2007). Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk memperkirakannya, yaitu dengan melakukan :
1. Pemeriksaan Makroskopik
2. Pemeriksaan mikroskopik
3. Pemeriksaan histokemik

2.6 Luka Lecet


Luka lecet atau abrasi adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau
lepasnya lapisan luar dari kulit, yang ciri-cirinya adalah :
 Bentuk luka tidak teratur
 Batas luka tidak teratur
 Tepi luka tidak rata
 Kadang-kadang ditemukan sedikit perdarahan
 Permukaan tertutup oleh krusta (serum yang telah mongering)
 Warna coklat kemerahan
 Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya beberapa bagian
yang masih ditutupi epitel dan reaksi jaringan
Bentuk luka lecet kadang-kadang dapat memberi petunjuk tentang
benda penyebabnya; seperti misalnya kuku, ban mobil, tali atau ikat
pinggang. Luka lecet juga dapat terjadi sesudah orang meninggal dunia,
dengan tanda tanda sebagai berikut :
 Warna kulit mengkilat
 Lokasi biasanya didaerah penonjolan tulang
 Pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan adanya sisa-sia epitel
dan tidak ditemukan reaksi jaringan
Luka lecet dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja yang
terkena, lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis) atau lebih dalam lagi
sampai ke jaringan lunak bawah kulit. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari
lapisan epidermis pembuluh darah dapat terkena sehingga terjadi
perdarahan. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan
luka. Dua tanda yang dapat digunakan yaitu diantaranya tanda yang pertama

27
adalah arah dimana epidermis bergulung, tanda yang kedua adalah
hubungan kedalaman pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda
yang mengenainya.
2.6.1 Mekanisme Luka Lecet
Lecet sering dihasilkan dari pergerakan permukaan epidermis kulit ke
permukaan yang lebih kasar atau runcing, contohnya pukulan tangensial
dengan arah horizontal vertikal atau diseret di atas permukaan yang kasar.
Dengan demikian luka epidermis superfisial yang mengerut pada salah satu
ujung luka, dapat menunjukkan arah perjalanan permukaaan epidermis dari
permukaan lawan.

Gambar 1. Mekanisme terjadinya abrasi.

Pola dari luka lecet lebih jelas daripada memar karena luka lecet sering
terlihat cukup jelas terhadap bentuk objek yang menyebabkan luka yang sekali
ditimbulkan.
2.6.2. Jenis Luka Lecet
Sesuai mekanisme terjadinya luka lecet dibagi menjadi 3 jenis:
a. Luka lecet gores (scratch)
Diakibatkan oleh benda runcing, misal kuku jari, yang menggeser lapisan
permukaan kulit (epidermis) dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat
sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.

28
b. Luka lecet serut (graze)
Variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan
permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak
tumpukan epitel.

Gambar 2. Road rash

c. Luka lecet tekan (impression, impact abrasion)


Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul terhadap kulit. Karena kulit
adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka belum tentu sama dengan
permukaan benda, tetapi masih mungkin untuk mengidentifikasi benda penyebab
yang mempunyai bentuk khas, misal kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan, dsb.
Gambaran yang ditemukan adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih
gelap dari sekitarnya.

Gambar 3.Luka lecet tekan pada sisi depan jari kaki kiri.

29
d. luka lecet geser (friction abrasion)
luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linear pada kulit disertai gerakan
bergeser, misalnya luka pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut.

2.6.3. Tahap Dalam Penyembuhan Luka Lecet


Pemeriksaan histologi luka lecet untuk menentukan usia luka
memungkinkan untuk dilakukan. Robertson dan Hodge menyediakan metode
pendekatan yang paling logikal. Mereka mengungkapkan empat tahap pada
penyembuhan luka lecet :
1. Pembentukan Keropeng
Serum, sel darah merah, dan fibrin didepositkan pada abrasi. Hal
ini tidak digunakan untuk menunjukkan penuaan, tetapi menunjukkan
kelangsungan hidup setelah cedera. Infiltrasi sel polimorfonuklear pada
pembentukan perivaskular menandakan bahwa lamanya cederasekitar 4-6
jam. Waktu awal untuk setiap reaksi seluler adalah 2 jam, tetapi biasanya
tidak terlihat jelas sampai 4-6 jam. Setelah 8 jam, dasar dari keropeng
ditandai oleh zona infiltrasi sel polimorfonuklearyang mendasari daerah
epitel yang cedera. Setelah 12 jam, telah terbentuk tiga lapisan: zona
permukaan terdiri dari fibrin dan sel darah merah (atau epitel hancur dalam
kasus lecet tubrukan), zona yang lebih dalam terdiri dari infiltrasi sel
polimorfonuklear, dan lapisan abnormal kolagen yang rusak. Setelah 12
sampai 18 jam berikutnya, zona terakhir ini semakin disusupi oleh sel-sel
polimorfonuklear.
2. Regenerasi Epitel
Regenerasi sel epitel muncul di folikel rambut dan di tepi
abrasi.Pertumbuhan epitel dapat muncul pada 30 jam pertama pada luka
lecet superficial dan terlihat jelas setelah 72 jam pada kebanyakan luka
lecet.
3. Granulasi Subepitel dan hiperplasia epitel
Hal ini menjadi lebih jelas selama 5 sampai 8 hari. Hal ini terjadi
hanya setelah penutupan epitel dari sebuah abrasi.Infiltrasi perivascular

30
dan sel inflamasi kronis sekarang mulai muncul.Epitel atasnya menjadi
semakin hiperplastik, dengan pembentukan keratin. Tahap ini yang paling
menonjol selama 9 sampai 12 hari setelah cedera.
4. Regresi dari epitel dan granulasi jaringan
Tahap ini dimulai sekitar 12 hari. Selama fase ini,epitel
diremodelling dan menjadi lebih tipis dan bahkan atrofik. Serat kolagen,
yang mulai muncul di fase granulasi subepidermal terlambat, sekarang
mulai muncul.Mula-mula bekuan darah mengisi luka dan anyaman fibrin
terbentuk. Granulosit dan monosit fagositik mulai proses pembersihan.
Tunas kapiler dan fibroblast dengan cepat berproliferasi ke bekuan darah.
Tumas kapiler mengeluarkan enzim litik untuk memecah fibrin dan
memungkinkan pembentukan anyaman. Tunas itu kemudian mengalami
kanalisasi, membentuk lengkung vaskuler yang menghasilkan penyediaan
darah yang kaya zat gizi, oksigen, granulosit, dan monosit yang
dibutuhkan untuk menghilangkan jaringan mati dan bekuan darah. Sel
polimorfonuklear yang banyak dalam jaringan intersisiel menghasilkan
perlawanan primer terhadap infeksi dan juga ikut mengeluarkan nanah dari
jaringan granulasi pada saat sel mati dibersihkan. Fibroblast yang
berproliferasi menyertai pembuluh ini dan mulai menimbun kolagen.
Dalam waktu 4-6 hari, jaringan granulasi sehat berwarna merah
muda membentuk dasar untuk menyokong dan memberi makan epitelium
yang meluas (atau cangkokan kulit). Sejalan dengan waktu, fibroplasia
akan terus berlangsung dan terjadi ikatan. Banyak pembuluh darah yang
atropi. Dengan adanya penyembuhan akhir, akan terbentuk jaringan parut
putih yang tertutup selapis tipis epitelium.

31
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Korban


Nama : DWAK
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 42 tahun
Agama : Islam
Alamat : Jalan Karang Baru No.19 RT/RW 05/03 Kecamatan
Kesambi Kota Cirebon
Pekerjaan : Karyawan Swasta

3.2 Kronologi Kejadian


Tanggal 27 Mei 2019 pukul 16.00 WIB korban bersama tiga orang
temannya mendaki Gunung Sikembang melalui Desa Lengkong
Kecamatan Garung, sebelum sampai pos tiga pendakian pada pukul 21.00
WIB korban jatuh dan tidak sadarkan diri ketiga teman sempat melakukan
pertolongan berupa mendekatkan badan korban ke api unggun tapi korban
tidak juga terbangun. Kepala Desa Lengkong menerima laporan adanya
pendaki terjatuh pada Selasa 28 Mei 2019 pukul 01.00 WIB. Kemudian
Kepala Desa dan warga setempat mengevakuasi korban dan dibawa ke
lapangan Desa Lengkong, Kepala Desa kemudian menghubungi polsek
dan Puskesmas Garung untuk melakukan pemeriksaan. Petugas medis
puskesmas garung menyatakan korban telah meninggal dunia.

32
Lampiran Visum et Repertum

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH JAWA TENGAH
BIDANG KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
JL. Majapahit No. 140 Semarang, Telp: (024) 6716273

PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM
Nomor : R/19/VER/X/2018/Biddokkes

Atas permintaan tertulis dari Kepala Kepolisian Resor ………. melalui suratnya tanggal …..
2019 Nomor Polisi: ......... yang ditandatangani oleh ………., NRP …….. dan diterima tanggal
……. 2019, maka dengan ini saya, AKBP dr. Ratna Relawati, Sp.KF, M.Si. Med, sebagai dokter
yang bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang Polda Jawa Tengah menerangkan bahwa
pada tanggal 30 Mei 2019, pukul 07.30 WIB, bertempat RSUD KRT Setjonegoro Jalan Rumah
Sakit Nomor 1, Kelurahan Wonosobo Baru, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo,
Provinsi Jawa Tengah, telah memeriksa jenazah, yang berdasarkan surat tersebut melakukan
penyidikan pada mayat laki-laki dengan identitas yang ditemukan di Gunung Sikembang Desa
Lengkong Kecamatan ………, Kabupaten Wonosobo pada hari Selasa tanggal 28 Mei 2019,
sekira pukul 01.00 WIB.---------------------------------------------------------------------------------------
---------------

HASIL PEMERIKSAAN: ------------------------------------------------------------------------------------


Dari pemeriksaan luar dan dalam atas tubuh jenazah tersebut di atas ditemukan fakta-fakta
sebagai berikut:-------------------------------------------------------------------------------------------------
-
A. FAKTA YANG BERKAITAN DENGAN IDENTITAS JENAZAH: ---------------------------
1. Identitas Umum Jenazah: ------------------------------------------------------------------------------

33
a. Jenis kelamin: laki-laki. --------------------------------------------------------------------------
b. Umur: kurang lebih empat puluh sampai lima puluh tahun. --------------------------------
c. Panjang badan: seratus lima puluh tujuh sentimeter. -----------------------------------------
d. Warna kulit: sawo matang. -----------------------------------------------------------------------
e. Ciri rambut: warna hitam, lurus, pendek. ------------------------------------------------------
2. Identitas Khusus: ------------------------------------------------------------------------------------
a. Tato: tidak ada.-----------------------------------------------------------------------------------
b. Jaringan parut: tidak ada.-----------------------------------------------------------------------
c. Cacat fisik: tidak ada.----------------------------------------------------------------------------
d. Tahi Lalat: tidak ada.---------------------------------------------------------------------------
e. Pakaian: tidak ada ------------------------------------------------------------------------------
f. Perhiasan: tidak ada.-----------------------------------------------------------------------------
g. Pembungkus jenazah:----------------------------------------------------------------------------
1) Jenazah terbungkus kain kafan dengan enam tali ikatan, bahan katun, warna putih:
a) Tali pertama panjang seratus empat belas sentimeter, lebar enam sentimeter.--
b) Tali kedua berukuran panjang seratus lima puluh enam sentimeter, lebar enam
sentimeter.---------------------------------------------------------------------------------
c) Tali ketiga berukuran panjang dua ratus dua puluh sembilan sentimeter, lebar
enam sentimeter.-------------------------------------------------------------------------
d) Tali keempat berukuran panjang seratus tujuh belas sentimeter, lebar enam
sentimeter.---------------------------------------------------------------------------------
e) Tali kelima berukuran panjang seratus delapan belas sentimeter, lebar lima
sentimeter.---------------------------------------------------------------------------------
f) Tali keenam berukuran panjang seratus lima belas sentimeter, lebar lima
sentimeter.---------------------------------------------------------------------------------
2) Terdapat kain pembungkus jenazah bahan katun, warna putih:------------------------
a) Pembungkus pertama ukuran panjang dua ratus lima puluh empat sentimeter,
lebar seratus empat belas sentimeter.--------------------------------------------------
b) Kain pembungkus kedua ukuran panjang dua ratus empat puluh tujuh
sentimeter, lebar seratus dua belas sentimeter.---------------------------------------
c) Kain pembungkus keempat ukuran panjang seratus lima belas sentimeter,

34
lebar dua puluh lima sentimeter. ------------------------------------------------------
d) Kain pembungkus kelima ukuran panjang seratus tiga belas sentimeter, lebar
seratus dua belas sentimeter. -----------------------------------------------------------
e) Kain pembungkus keenam ukuran panjang seratus enam puluh tujuh
sentimeter, lebar seratus lima belas sentimeter terdapat lubang dengan panjang
enam puluh enam sentimeter, lebar enam belas sentimeter.----------------------
f) Kain ketujuh ukuran panjang seratus sebelas sentimeter, lebar lima puluh
delapan sentimeter.-----------------------------------------------------------------------
h. Perhiasan : tidak ada.----------------------------------------------------------------------------
i. Lain-lain : terdapat kapas pada leher, dada, perut, alat kelamin, dan anggota gerak.---
B. FAKTA YANG BERKAITAN DENGAN WAKTU TERJADINYA KEMATIAN :-------
1. Lebam Mayat: pada tengkuk, punggung, pinggang, bokong dan anggota gerak, tidak
hilang dengan penekanan ------------------------------------------------------------------------------
2. Kaku Mayat: pada kelopak mata, rahang bawah, anggota gerak atas dan bawah.------------
3. Pembusukan: terdapat tanda pembusukan lanjut berupa, warna kehitaman pada wajah,
pelebaran pembuluh darah pada wajah, leher, dan dada, pengelupasan kulit ari di
beberapa bagian tubuh, tampak cairan pembusukan pada hidung dan mulut.----------------
C. FAKTA DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN LUAR: -------------------------------------
1. Permukaan Kulit Tubuh:-------------------------------------------------------------------------------
a. Kepala: ----------------------------------------------------------------------------------------------
1) Daerah berambut: tidak ada tanda kekerasan. ---------------------------------------------
2) Wajah: ------------------------------------------------------------------------------------------
a) Dahi : terdapat beberapa luka lecet pada dahi sisi kiri, luka lecet terbesar,
bentuk tidak teratur dengan ukuran panjang tiga sentimeter, lebar nol koma
lima sentimeter batas tidak tegas warna merah kehitaman. Luka lecet
terkecil, bentuk tidak teratur dengan ukuran panjang nol koma tiga
sentimeter, lebar nol koma dua sentimeter batas tidak tegas, warna merah
kehitaman. --------------------------------------------------------------------------------
b) Pelipis : terdapat dua buah luka lecet pada pelipis kiri.----------------------------
i. Luka lecet pertama, bentuk tidak teratur, dengan ukuran panjang tujuh
sentimeter, lebar nol koma dua sentimeter, batas tidak tegas, warna merah

35
kehitaman.---------------------------------------------------------------------------
ii. Luka lecet kedua, bentuk tidak teratur, dengan ukuran panjang empat
sentimeter, lebar nol koma dua sentimeter, batas tidak tegas warna merah
kehitaman. --------------------------------------------------------------------------
b. Leher: tidak didapatkan tanda kekerasan ------------------------------------------------------
c. Bahu: tidak didapatkan tanda kekerasan. ------------------------------------------------------
d. Dada: tidak didapatkan tanda kekerasan. ------------------------------------------------------
e. Punggung: tidak didapatkan tanda kekerasan. ------------------------------------------------
f. Pinggang: tidak didapatkan tanda kekerasan.-------------------------------------------------
g. Perut: tidak didapatkan tanda kekerasan. ------------------------------------------------------
h. Bokong: tidak didapatkan tanda kekerasan. ---------------------------------------------------
i. Dubur: -----------------------------------------------------------------------------------------------
1) Lingkaran dubur: tidak ada tanda kekerasan. ----------------------------------------------
2) Liang dubur: tidak ada tanda kekerasan.---------------------------------------------------
j. Anggota gerak:-------------------------------------------------------------------------------------
1) Anggota gerak atas: jaringan luar kuku berwarna kehitaman. --------------------------
a) Kanan : tidak didapatkan tanda kekerasan.------------------------------------------
b) Kiri : tidak didapatkan tanda kekerasan.----------------------------------------------
2) Anggota gerak bawah: -----------------------------------------------------------------------
a) Kanan : terdapat kulit berwarna kehitaman dari lutut hingga ibu jari tungkai
kanan, bentuk tidak teratur, dengan ukuran panjang lima puluh tiga
sentimeter, lebar sembilan sentimeter, disertai pengelupasan kulit dengan
jaringan dibawah kulit berwarna pucat. ----------------------------------------------
b) Kiri : terdapat tiga buah luka lecet pada mata kaki kiri bagian dalam.------------
i. Luka lecet pertama, bentuk tidak teratur, dengan ukuran panjang satu
koma lima sentimeter, lebar nol koma sembilan sentimeter, batas tidak
tegas, warna merah kehitaman. ---------------------------------------------------
ii. Luka lecet kedua, bentuk tidak teratur, dengan ukuran panjang nol koma
empat sentimeter, lebar nol koma tiga sentimeter, batas tidak tegas, warna
merah kehitaman. -------------------------------------------------------------------
iii. Luka lecet ketiga, bentuk tidak teratur, dengan ukuran panjang nol koma

36
empat sentimeter, lebar nol koma empat sentimeter, batas tidak tegas,
warna merah kehitaman. ------------------------------------------------------------
2. Bagian Tubuh Tertentu: --------------------------------------------------------------------------------
a. Mata: ------------------------------------------------------------------------------------------------
1) Alis mata: warna hitam, tidak ada kelainan. -----------------------------------------------
2) Bulu mata: warna hitam, tidak ada kelainan. ----------------------------------------------
3) Kelopak mata: tidak ada kelainan. ----------------------------------------------------------
4) Selaput kelopak mata: tidak ada kelainan. -------------------------------------------------
5) Selaput bening mata: tidak ada kelainan. ---------------------------------------------------
6) Selaput biji mata: tidak ada kelainan. -------------------------------------------------------
7) Manik mata: bentuk bundar, tidak ada kelainan -------------------------------------------
8) Pelangi mata: warna coklat kehitaman. -----------------------------------------------------
b. Hidung: ---------------------------------------------------------------------------------------------
1) Bentuk hidung: tidak ada kelainan. ---------------------------------------------------------
2) Permukaan kulit hidung: tidak didapatkan tanda kekerasan. ----------------------------
3) Lubang hidung: tidak didapatkan tanda kekerasan. ---------------------------------------
c. Telinga: ---------------------------------------------------------------------------------------------
1) Bentuk telinga: tidak ada kelainan.----------------------------------------------------------
2) Permukaan kulit telinga: tidak didapatkan tanda kekerasan. ----------------------------
3) Lubang telinga: tidak didapatkan tanda kekerasan. ---------------------------------------
d. Mulut: -----------------------------------------------------------------------------------------------
1) Bibir: tidak didapatkan tanda kekerasan. --------------------------------------------------
2) Selaput lendir mulut : tidak didapatkan tanda kekerasan.. -------------------------------
3) Lidah: tidak didapatkan tanda kekerasan.--------------------------------------------------
e. Gigi geligi: -----------------------------------------------------------------------------------------
1) Rahang atas :---------------------------------------------------------------------------------
a. Kanan : lengkap, jumlah delapan buah, gigi geraham belakang ketiga ada.----
b. Kiri : lengkap, jumlah delapan buah, gigi geraham belakang ketiga ada.-------
2) Rahang bawah : ------------------------------------------------------------------------------
a. Kanan : tidak lengkap, jumlah tujuh buah, gigi geraham belakang pertama
tidak ada, gigi geraham belakang ketiga ada.---------------------------------------

37
b. Kiri : tidak lengkap, jumlah tujuh buah, gigi geraham kedua tidak ada, gigi
geraham belakang ketiga ada.---------------------------------------------------------
f. Alat Kelamin: laki-laki. --------------------------------------------------------------------------
1) Pelir: sudah disunat, tidak ada kelainan.---------------------------------------------------
2) Kantung pelir: teraba dua buah biji pelir dalam kantong pelir, tidak ada kelainan.--
3. Tulang-Tulang: -----------------------------------------------------------------------------------------------------
a. Tulang tengkorak: tidak didapatkan tanda kekerasan. ---------------------------------------
b. Tulang belakang: tidak didapatkan tanda kekerasan. ----------------------------------------
c. Tulang dada: tidak didapatkan tanda kekerasan. ----------------------------------------------
d. Tulang punggung: tidak didapatkan tanda kekerasan. ---------------------------------------
e. Tulang panggul: tidak didapatkan tanda kekerasan.------------------------------------------
f. Tulang anggota gerak: tidak didapatkan tanda kekerasan. ----------------------------------
D. FAKTA DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN DALAM: ----------------------------------
1. Rongga Kepala: -----------------------------------------------------------------------------------------
a. Kulit kepala bagian dalam: tidak ada kelainan. -----------------------------------------------
b. Selaput keras otak : tidak ada kelainan.-------------------------------------------------------
c. Otak besar: permukaan licin, perabaan kenyal. Terdapat resapan darah hampir pada
pada seluruh bagian otak besar, dengan ukuran panjang dua puluh dua sentimeter,
lebar delapan belas sentimeter, tinggi lima sentimeter, pada pengirisan terdapat bintik
perdarahan.----------------------------------------------------------------------------------------
d. Otak kecil: warna putih, permukaan licin, perabaan lunak. Dengan ukuran panjang
tujuh sentimeter, lebar enam sentimeter, tinggi dua sentimeter, pada pengirisan
terdapat bintik perdarahan. ---------------------------------------------------------------------
2. Leher Bagian Dalam: -----------------------------------------------------------------------------------
a. Lidah : tidak ada kelainan.-----------------------------------------------------------------------
b. Kulit leher bagian dalam : tidak terdapat tanda kekerasan ----------------------------------
c. Otot leher bagian dalam : tidak terdapat tanda kekerasan. ----------------------------------
d. Pembuluh darah besar : tampak kosong.-------------------------------------------------------
e. Tulang pangkal lidah : tidak ada tanda kekerasan.-------------------------------------------
f. Tulang rawan gondok ; tidak ada tanda kekerasan.-------------------------------------------
g. Kerongkongan : tidak ada kelainan.------------------------------------------------------------

38
h. Tenggorokan : tidak ada kelainan. -------------------------------------------------------------
1. Rongga Dada: -------------------------------------------------------------------------------------------
a. Kulit bagian dalam : tidak terdapat tanda kekerasan.-----------------------------------------
b. Otot dinding dada : tidak terdapat tanda kekerasan.------------------------------------------
c. Tulang dada : tidak terdapat tanda kekerasan..------------------------------------------------
d. Tulang-tulang iga : tidak terdapat tanda kekerasan.------------------------------------------
e. Paru: tidak ada tanda kekerasan.----------------------------------------------------------------
1) Kanan : terdiri dari tiga baga, warna merah kehitaman, perabaan seperti spons,
dengan ukuran panjang lima belas sentimeter, lebar enam sentimeter , tinggi
empat koma lima sentimeter, pada pengirisan tampak buih bercampur darah
warna kehitaman.----------------------------------------------------------------------------
2) Kiri : terdiri dari dua baga, warna merah kehitaman, perabaan seperti spons,
dengan ukuran panjang lima belas sentimeter, lebar enam setimeter, tinggi empat
koma lima sentimeter. Pada pengirisan tampak buih campur darah warna
kehitaman.------------------------------------------------------------------------------------
f. Jantung : warna merah kecokelatan, perabaan lunak. Tampak pelebaran pembuluh,
dengan ukuran panjang tujuh belas sentimeter, lebar dua belas sentimeter, tinggi
empat sentimeter. --------------------------------------------------------------------------------
1) Kandung jantung: terdapat cairan kandung jantung warna merah kehitaman
sebanyak dua mililiter.---------------------------------------------------------------------
2) Jantung kanan: katup antara serambi dan bilik kanan berjumlah tiga buah katup,
dengan ukuran lingkar katup kanan empat belas sentimeter. Tebal otot jantung
kanan satu sentimeter. Katup pembuluh nadi paru berjumlah tiga buah katup,
dengan ukuran lingkar katup pembuluh nadi paru enam sentimeter. ----------------
3) Jantung kiri: tampak bercak keputihan pada jantung., katup antara serambi dan
bilik kiri berjumlah dua buah katup, dengan ukuran lingkar katup jantung kiri
delapan sentimeter. Tebal otot jantung kiri dua sentimeter. Katup pembuluh nadi
utama berjumlah dua buah katup, dengan lingkar katup pembuluh nadi utama
enam sentimeter.-----------------------------------------------------------------------------
2. Rongga Perut: -------------------------------------------------------------------------------------------
a. Kulit perut bagian dalam : tidak terdapat tanda kekerasan.--------------------------------------

39
b. Rongga perut : tidak terdapat tanda kekerasan.----------------------------------------------------
c. Lambung : warna merah kehitaman, dengan panjang lengkung besar empat puluh dua
sentimeter, panjang lengkung kecil dua puluh sentimeter, lambung berisi makanan yang
sudah membubur warna kehitaman.-----------------------------------------------------------------
d. Tirai usus : tidak terdapat tanda kekerasan.--------------------------------------------------------
e. Usus besar : tampak pucat, tidak terdapat tanda kekerasan. -------------------------------------
f. Usus halus : tampak pucat, tidak terdapat tanda kekerasan. -------------------------------------
g. Hati : warna merah kehitaman, permukaan licin, perbaan kenyal, dengan ukuran panjang
tiga puluh tiga sentimeter, lebar tujuh belas sentimeter, tinggi enam sentimeter, pada
pengirisan tampak buih halus dan darah warna kehitaman.-------------------------------------
h. Limpa : warna merah kehitaman, perabaan kenyal, panjang empat belas sentimeter, lebar
delapan sentimeter, tinggi tiga sentimeter. Pada pengirisan tidak ada kelainan. -------------
i. Kelenjar liur perut : warna kuning pucat, dengan ukuran panjang dua puluh dua
sentimeter, lebar empat koma lima sentimeter, tinggi dua sentimeter. Pada pengirisan
tidak ada kelainan.-------------------------------------------------------------------------------------
j. Ginjal : selaput pembungkus ginjal mudah dilepas, warna merah pucat, perabaan kenyal.-
1) Kanan : ukuran panjang sebelas sentimeter, lebar lima koma lima sentimeter, tinggi
dua sentimeter. Pada pengirisan tidak ada kelainan. -----------------------------------------
2) Kiri : ukuran panjang sebelas koma lima sentimeter, lebar enam sentimeter, tinggi dua
koma lima sentimeter. Pada pengirisan tidak ada kelainan.---------------------------------
k. Anak ginjal: --------------------------------------------------------------------------------------------
1) Kanan : warna kuning, dengan ukuran panjang delapan sentimeter, lebar dua
sentimeter, tinggi satu sentimeter. Tidak ada kelainan.--------------------------------------
2) Kiri : warna kuning, dengan ukuran panjang tujuh koma lima sentimeter, lebar tiga
sentimeter, tinggi satu sentimeter. Tidak ada kelainan.-------------
E. FAKTA DARI PEMERIKSAAN PENUNJANG: ---------------------------------------------------
Untuk menambah fakta – fakta yang diperlukan, maka saya mengambil sampel dari jenazah
untuk pemeriksaan: --------------------------------------------------------------------------------------------
1. Darah : darah dalam pembuluh darah lipat paha kiri, dan darah dalam jantung ---------
2. Pemeriksaan patologi anatomi : paru-paru, selaput otak keras, selaput otak lunak, otak
besar, otak kecil, bagian jantung dengan bercak keputihan, bagian jantung dengan

40
bitnik kemerahan, kulit tungkai bawah bagian depan kanan, hati, limpa, ginjal kanan,
ginjal kiri, anak ginjal.-----------------------------------------------------------------------------
--------
3. Pemeriksaan toksikologi: cairan isi lambung, otak besar.------------------------------------

KESIMPULAN -------------------------------------------------------------------------------------------------
Dari fakta- fakta yang didapatkan dari pemeriksan luar dan dalam atas jenazah tersebut maka
saya simpulkan bahwa telah diperiksa jenazah seorang laki-laki, usia kurang lebih empat puluh
tahun hingga lima puluh tahun, kulit sawo matang. Dari hasil pemeriksaan didapatkan luka
akibat kekerasan tumpul berupa lecet pada dahi, pelipis dan anggota gerak bawah. Didapatkan
perdarahan pada otak besar, terdapat bercak putih dan bintik perdarahan pada jantung.
Didapatkan tanda pembusukan lanjut. Sebab kematian akibat perdarahan otak yang
menyebabkan kerusakan otak. Perkiraan waktu kematian dua puluh empat jam sampai empat
puluh delapan jam sebelum pemeriksaan dilakukan. ------------------------------------------------------

PENUTUP --------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Demikianlah keterangan tertulis itu saya buat dengan sesungguhnya, dengan mengingat sumpah
sewaktu menerima jabatan sebagai dokter. ------------------------------------------------------------------

Semarang, 30 Mei 2019

Dokter yang Memeriksa

dr. Ratna Relawati, Sp.KF, M.Si, Med

41
BAB IV
PEMBAHASAN

1. Pada pemeriksaan luar kasus ini di temukan tanda – tanda kekerasan tumpul
pada dahi, pelipis, anggota gerak bawah.
a. Pada dahi terdapat beberapa luka lecet pada dahi sisi kiri, luka lecet
terbesar, bentuk tidak teratur dengan ukuran panjang tiga sentimeter,
lebar nol koma lima sentimeter batas tidak tegas warna merah kehitaman.
Luka lecet terkecil, bentuk tidak teratur dengan ukuran panjang nol koma
tiga sentimeter, lebar nol koma dua sentimeter batas tidak tegas, warna
merah kehitaman.

b. Pada pelipis terdapat dua buah luka lecet pada pelipis kiri. Luka
lecet pertama, bentuk tidak teratur, dengan ukuran panjang tujuh
sentimeter, lebar nol koma dua sentimeter, batas tidak tegas,
warna merah kehitaman.

42
Luka lecet terkecil, bentuk tidak teratur dengan ukuran panjang
nol koma tiga sentimeter, lebar nol koma dua sentimeter batas
tidak tegas, warna merah kehitaman.

c. Pada anggota gerak bawah kanan terdapat kulit berwarna


kehitaman dari lutut hingga ibu jari tungkai kanan, bentuk tidak
teratur, dengan ukuran panjang lima puluh tiga sentimeter, lebar
sembilan sentimeter, disertai pengelupasan kulit dengan
jaringan dibawah kulit berwarna pucat.

43
d. Pada anggota gerak bawah kiri terdapat tiga buah luka lecet
pada mata kaki kiri bagian dalam. Luka lecet pertama, bentuk
tidak teratur, dengan ukuran panjang satu koma lima sentimeter,
lebar nol koma sembilan sentimeter, batas tidak tegas, warna
merah kehitaman. Luka lecet kedua, bentuk tidak teratur,
dengan ukuran panjang nol koma empat sentimeter, lebar nol
koma tiga sentimeter, batas tidak tegas, warna merah kehitaman.
Luka lecet ketiga, bentuk tidak teratur, dengan ukuran panjang
nol koma empat sentimeter, lebar nol koma empat sentimeter,
batas tidak tegas, warna merah kehitaman.

44
2. Pada pemeriksaan dalam kasus ini di temukan kelainan pada otak besar, otak
kecil dan jantung
a. Otak besar, permukaan licin, perabaan kenyal. Terdapat resapan
darah hampir pada pada seluruh bagian otak besar, dengan
ukuran panjang dua puluh dua sentimeter, lebar delapan belas
sentimeter, tinggi lima sentimeter, pada pengirisan terdapat
bintik perdarahan.

45
b. Otak kecil, warna putih, permukaan licin, perabaan lunak.
Dengan ukuran panjang tujuh sentimeter, lebar enam sentimeter,
tinggi dua sentimeter, pada pengirisan terdapat bintik
perdarahan

c. Jantung : warna merah kecokelatan, perabaan lunak. Tampak


pelebaran pembuluh, dengan ukuran panjang tujuh belas
sentimeter, lebar dua belas sentimeter, tinggi empat sentimeter.
 Jantung kanan: katup antara serambi dan bilik kanan
berjumlah tiga buah katup, dengan ukuran lingkar katup
kanan empat belas sentimeter. Tebal otot jantung kanan
satu sentimeter. Katup pembuluh nadi paru berjumlah tiga
buah katup, dengan ukuran lingkar katup pembuluh nadi
paru enam sentimeter.
 Jantung kiri: tampak bercak keputihan pada jantung., katup
antara serambi dan bilik kiri berjumlah dua buah katup,
dengan ukuran lingkar katup jantung kiri delapan

46
sentimeter. Tebal otot jantung kiri dua sentimeter. Katup
pembuluh nadi utama berjumlah dua buah katup, dengan
lingkar katup pembuluh nadi utama enam sentimeter

47
BAB V
KESIMPULAN

1. Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dari pemeriksaan jenazah


tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa identitas jenazah adalah seorang
laki-laki, umur kurang lebih tujuh belas sampai dua puluh lima tahun, kulit
sawo matang.
2. Didapatkan luka akibat kekerasan tajam berupa luka tusuk pada dada kiri,
perut kiri dan kanan, punggung kanan belakang.
3. Didapatkan tanda mati lemas.
4. Didapatkan tanda-tanda perdarahan hebat yaitu organ-organ dalam pucat,
pembuluh darah besar kosong.
5. Sebab kematian adalah kekerasan tajam berupa luka tusuk pada perut kiri
yang mengenai usus dan menyebabkan perdarahan.
6. Perkiraan waktu kematian lebih dari dua puluh empat jam sebelum
pemeriksaan dilakukan.

48
DAFTAR PUSTAKA

Apuranto, H dan Hoediyanto. 2010. Ilmu Kedokteran Forensik Dan


Medikolegal, Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
FK Unair.

A Joseph . Accidental Sharp Force Injury Fatalities, The American


Journal of Forensic Medicine and Pathology, 2001, hal 1-9.

Dahlan, Sofwan. Petunjuk Praktikum Pembuatan Visum Et Repertum,


Balai Penerbit FK UNDIP.

Dahlan, Sofwan. 2007. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter


dan Penegak Hukum. Semarang : Badan Penerbit UNDIP.

Erlando, Nerchan, Johannis F. Mallo, Nola T. S. Mallo. 2013 Pola Luka


Pada Kematian Akibat Kekerasan Tajam Di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Dan Medikolegal Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2013. Manado

Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. Soetomo


Surabaya. Buku Register Jenazah 2014-2017. Surabaya. 2017

Kaushik, Vijay Kumar. Sheikh, M. Which is the Cause of Death? - A Case


Report. Ntl J of Community Med 2017.

Pal Singh V, Sharma B.R, Harish D, Vij Krishan. A Critical Analysis of


Stab Wound On The Chest A Case Report. JIAFM, 2004; 26(2).

Shkrum M.J. , Ramsay D.R. 2007. Forensic Pathology Of Trauma.


Totowa : Humana Press.

49
50