Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kematian ibu adalah kematian seorang wanita yang terjadi saat hamil, atau dalam 42
hari setelah akhir kehamilanya, tanpa melihat usia dan letak kehamilanya, yang
diakibatkan oleh sebab apapun yang terkait dengan atau diperburuk dengan
kehamilannya atau penangannya, tetapi bukan disebabkan oleh insiden atau kecelakaan
Angka kematian ibu merupakan jumlah kematian ibu (15-49) tahun per 100.000
perempuan per tahun. Kematian bayi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
kematian yang terjadi dibawah usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun
tertentu. Di indonesia kematian ibu melahirkan masih merupakan masalah utama hingga
saat ini masih sulit diatasi.

Data World Health Organization (WHO) mengenai status kesehatan nasional pada
capaian target Sustainable Development Goals (SDGs) menyatakan secara global
sekitar 830 wanita meninggal setiap hari karena komplikasi selama kehamilan dan
persalinan, dengan tingkat AKI sebanyak 216 per 100.000 kelahiran hidup (WHO,
2017: 29) Sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah kehamilan, persalinan atau
kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio AKI masih dirasa cukup tinggi
sebagaimana ditargetkan menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030
(WHO, 2017).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KEMATIAN IBU


2.1.1 Definisi

Menurut International Statistical Classification of Disease,Injuries and


Causes of Death, Edisi X (ICD-X, WHO), kematian ibu adalah kematian seorang
wanita yang terjadi selama kehamilan, sampai dengan 42 hari setelah
berakhirnya kehamilan, tanpa memperhatikan lama dan tempat terjadinya
kehamilan, yang disebabkan oleh atau dipicu oleh kehamilannya, atau
penanganan kehamilannya, tetapi bukan karena kecelakaan.

2.1.2 Penyebab Kematian Ibu

Penyebab kematian ibu dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni:

1. Penyebab langsung
Penyebab langsung adalah penyebab obstetri dari kematian ibu. Penyebab
langsung didefinisikan sebagai apabila kematian disebabkan oleh komplikasi
dalam masa kehamilan, proses persalinan, atau masa nifas dan oleh karena
intervensi, kelalaian, kesalahan dalam pengelolaan, maupun oleh suatu sebab
yang ditimbulkan salah satu faktor tersebut.

Penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, preeclampsia dan


eklampsia serta infeksi.

2. Penyebab tidak langsung

Penyebab tidak langsung kematian ibu adalah penyebab kematian non-


obstetri. Penyebab tidak langsung dapat berupa penyakit yang telah ada
sebelumnya atau yang muncul dan berkembang selama masa kehamilan,
persalinan, atau nifas yang diperparah dengan adanya adaptasi fisiologik
dalam kehamilan atau sebaliknya, yakni memperberat kehamilan dan
meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. Persentase kematian ibu oleh
sebab indirek di Indonesia adalah 22

3.1 PERDARAHAN

Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum


dan perdarahan postpartum.

3.1.1 Perdarahan Antepartum

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas


28 minggu atau lebih.

Karena perdarahan antepartum terjadi pada umur kehamilan diatas 28


minggu maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga.
Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut :

1. Previa Plasenta
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi di segmen bawah
rahim yang dapat memberikan dampak yang sangat merugikan ibu maupun
janin berupa perdarahan.
Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya
terjadi pada trimester ketiga kehamilan . Karena pada saat itu segmen
bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin
tuanya kehamilan. Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta
previa dapat sejak kehamilan berusia 20 minggu. Pada usia kehamilan ini
segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai menipis. Makin tua usia
kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan serviks membuka.
Dengan demikian plasenta yang berimplitasi di segmen bawah uterus
tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi dan akan
menimbulkan perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, bersumber pada
sinus uterus yang atau robekan sinis marginali dari plasenta.
Perdarahan dapat menimbulkan gangguan peredaran darah janin dan
sirkulasi ibu sehingga terjadi anemia dan dapat jatuh dalam keadaan syok.
Sebagian besar terjadi tanpa sebab dan timbul mendadak, terjadi tanpa rasa
sakit bahkan sering terjadi pada saat tidur.

2. Solusio plasenta

Solusio plasenta, adalah lepasnya plasenta dari dinding Rahim bagian


dalam sebelum proses persalinan, baik seluruhnya maupun sebagian.

Sesungguhnya solusio plasentra merupakan hasil akhir dari suatu


proses yang bermula dari suatu keadan yang mampu memisahkan vili-vili
korialis plasenta dari tempat implantasinya sehingga terjadi perdarahan.
Perdarahan tersebut menyebabkan desidua basalis terlepas kecuali
selapisan tipis yang tetap melekat pada miometrium. Dengan demikian,
pada tingkat permulaan sekali dari proses terdiri atas pembentukan
hematom yang bisa menyebabkan pelepasan yang lebih luas, kompresi dan
kerusakan pada bagian plasenta kecuali terdapat hematom pada bagian
belakang plasenta yang baru lahir.
Hematoma yang terbentuk dengan cepat meluas dan melepaskan
plasenta lebih luas/banyak sampai ke pinggirnya sehingga darah yang
keluar merembes antara selaput ketuban dan miometrium untuk selanjutnya
keluar melalui serviks ke vagina Perdarahan tidak bisa berhenti karena
uterus yang lagi mengandung tidak mampu berkontraksi untuk menjepit
pembuluh arteria spiralis yang terputus. Walaupun jarang, terdapat
perdarahan tinggal terperangkap di dalam uterus

3.2.1 Perdarahan Postpartum


Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam
setelah persalinan berlangsung, perdarahan postpartum dibagi menjadi
perdarahan postpartum primer dan sekunder.
1. Perdarahan postpartum primer

Terjadi dalam 24 jam pertama, penyebab utama adalah atoni uteri,

retensio plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir, terbanyak

dalam 2 jam pertama

a. Atonia Uteri
Atonia Uteri adalah suatu kondisi dimana myometrium tidak
dapat berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari
bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak terkendali. Jika
uterus tidak berkontraksi dengan segera setelah kelahiran plasenta,
maka ibu dapat mengalami perdarahan sekitar 350-500 cc/menit
dari bekas tempat melekatnya plasenta. Kegagalan kontraksi dan
retraksi dari serat miometrium dapat menyebabkan perdarahan
yang cepat dan parah serta syok hipovolemik.
b. Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya
plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir.
Segera setelah anak lahir, uterus berhenti kontraksi namun
secara perlahan tetapi progresif uterus mengecil, yang disebut
retraksi, pada masa retraksi itu lembek namun serabut-serabutnya
secara perlahan memendek kembali. Peristiwa retraksi
menyebabkan pembuluh-pembuluh darah yang berjalan dicelah-
celah serabut otot-otot polos rahim terjepit oleh serabut otot rahim
itu sendiri. Bila serabut ketuban belum terlepas, plasenta belum
terlepas seluruhnya dan bekuan darah dalam rongga rahim bisa
menghalangi proses retraksi yang normal dan menyebabkan banyak
darah hilang
c. Sisa Plasenta
Sisa Plasenta Sewaktu suatu bagian dari plasenta tertinggal,
maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan
ini dapat menimbulkan perdarahan.
d. Robekan Jalan Lahir
Robekan jalan lahir dapat terjadi bersamaan dengan atonia
uteri. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang
berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks
atau vagina. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum,
vagina, serviks, dan robekan uterus (ruptura uteri). Perdarahan
dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan
perdarahan bersifat arterill atau pecahnya pembuluh darah vena

2. Perdarahan postpartum sekunder

Terjadi setelah 24 jam pertama, penyebab utama adalah robekan jalan

lahir dan sisa plasenta atau membran.

4.1 PREEKLAMSIA / EKLAMPSIA

4.1.1 Preeklampsia

Preeklampsia adalah kondisi yang terjadi pada kehamilan yang memasuki


usia minggu ke-20, ditandai dengan tingginya tekanan darah tinggi walaupun
ibu hamil tersebut tidak memiliki riwayat hipertensi. Preeklampsia
biasanya disertai dengan gejala proteinuria (protein di dalam urin), dan bengkak
pada kaki dan tangan.

4.2.1 Klasifikasi Preeklamsia


Klasifikasi preeklamsia dibagi menjadi 2 golongan :
1) Preeklamsia Ringan
(a) Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg
atau lebih atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih
(b) Proteinuria 0,3 gr/lt atau 1+ atau 2+
(c) Edema pada kaki, jari, muka dan berat badan naik > 1 kg/minggu
2) Preeklamsia Berat
(a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
(b) Proteinuria 5 gr/lt atau lebih
(c) Oliguria ( jumlah urine < 500 cc per jam )
(d) Terdapat edema paru dan sianosis
(e) Adanya gangguan serebral, gangguan visus dan rasa nyeri di
epigastrum

4.3.1 Patofisiologi
Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan
patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh
vasospasme dan iskemia. Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat
mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen (seperti
prostaglandin, tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi
platelet. Penumpukan trombus dan pendarahan dapat mempengaruhi sistem
saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan
kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus
dan proteinuria. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan
nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Manifestasi terhadap
kardiovaskuler meliputi penurunan volume intravaskular, meningkatnya
cardiac output dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. Peningkatan
hemolisis microangiopati menyebabkan anemia dan trombositopeni.

4.4.1 Perubahan pada organ-organ:

1. Perubahan kardiovaskuler.
Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada
preeklampsia dan eklampsia. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya
berkaitan dengan peningkatan afterload jantung akibat hipertensi, preload
jantung yang secara nyata dipengaruhi oleh berkurangnya secara patologis
hipervolemia kehamilan atau yang secara iatrogenik ditingkatkan oleh
larutan onkotik atau kristaloid intravena, dan aktivasi endotel disertai
ekstravasasi ke dalam ruang ektravaskular terutama paru
2. Otak
Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia
pada korteks serebri, pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan
perdarahan
3. Paru-paru
Kematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan
oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa juga karena
terjadinya aspirasi pneumonia, atau abses paru.

4.5.1 Eklampsia

Eklamsia didefinisikan sebagai terjadinya kejang dan / atau koma yang


tidak dapat dijelaskan selama kehamilan atau setelah melahirkan pada pasien
dengan tanda dan gejala preeklamsia.

5.1 INFEKSI PADA KEHAMILAN

Infeksi pada kehamilan adalah infeksi jalan lahir yang terjadi pada
kehamilan muda dan tua. Infeksi pada kehamilan muda adalah infeksi jalan
lahir yang terjadi pada kehamilan kurang dari 20 sampai 22 minggu yang
disebabkan adanya abortus yang terinfeksi. Sedangkan infeksi jalan lahir pada
kehamilan pada kehamilan tua adalah infeksi yang terjadi pada trimester
kedua dan ketiga. Infeksi jalan lahir ini dapat terjadi akibat ketuban pecah
sebelum waktunya, infeksi saluran kencing misalnya sistitis, nefritis atau
akibat penyakit sistemik seperti: malaria, demam tifoid, hepatitis dan lain-lain.
Keadaan ini berbahaya karena dapat menyebabkan terjadinya sepsis yang
dapat menyumbang kematian ibu sebesar 15%.
BAB III
KESIMPULAN

Kematian pada ibu hamil paling sering itu terjadi karena perdarahan,
dimana terdapat perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum, Perdarahan
postpartum paling sering terjadi, setelah perdarahan penyebab paling sering
juga karena preeklampsia dan eklasmsia. Preeklampsia/eklampsia terjadi karena
peningkatan tekanan darah pada ibu hamil secara tiba-tiba yang kalau tidak di
tangani segera dapat menjadi kejang- kejang ( eklampsia). Penyebab Kematian
Terbesar Ketiga yaitu Infeksi pada ibu hamil, dimana terjadi karena adanya
infeksi yang terbentuk akibat ketuban pecah dini atau infeksi saluran kencing
yang bisa mengakibatkan sepsis dan berujung pada kematian.
Daftar Pustaka

1. Harahap R.E., WIKJOSASTRO G.H., Perdarahan dalam kehamilan, Penerbit


Yayasan Dharma Graha, Anonymous, 3-16
2. Klapholz H. Placenta Previa, In:Friedman FA, A Cker DB, Sachs BP,
Obstetrical Decision Making, 2nd ed.Philadelphia :BC Decker inc, 1987; 88-9.
3. Soeharsene.Perdarahan Antepartum. Pelatihan Gawat Darurat Peri natal.
Semarang: Badan Penerbit UNDIP, 1991 ;5-11
4. Soejuneos A, Morbiditas Maternal dan Perinatal. Pelatihan Gawat Darurat
Perinatal Semarang. Badan Penerbit UNDIP 1991, 1-4
11