Anda di halaman 1dari 11

ARTIKEL KESEHATAN

Di Susun Oleh

Honsa Sri Wahyuni 318049

PRODI PROFESI NERS KEPERAWATAN KELAS B

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN

PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA

JAWA BARAT

2019

FUNGSI & PRINSIP KERJA VENTILATOR


( ALAT BANTU PERNAPASAN )
Pengertian Ventilator

Ventilator adalah peralatan elektrik dan memerlukan sumber listrik. Beberapa


ventilator, menyediakan back up batere, namun batere tidak didesain untuk
pemakaian jangka lama. Ventilator adalah suatu metode penunjang/bantuan hidup
(life – support). Maksudnya adalah jika ventilator berhenti bekerja maka pasien
akan meninggal. Oleh sebab itu harus tersedia manual resusitasi seperti ambu bag
di samping tempat tidur pasien yang memakai ventilator, karena jika ventilator
berhenti bekerja dapat langsung dilakukan manual ventilasi.

1. Tujuan Indikasi Pemasangan Ventilator

Ada beberapa hal yang menjadikan tujuan dan manfaat penggunaan ventilasi
mekanik ini dan juga beberapa kriteria pasien yang perlu untuk segera dipasang
ventilator.
Tujuan Ventilator antara lain adalah sebagai berikut :

 Mengurangi kerja pernapasan.


 Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien.
 Pemberian MV yang akurat.
 Mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi.
 Menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat.

Dan berikut adalah kriteria indikasi pemasangan ventilasi mekanik

1. Pasien Dengan Gagal Nafas. Pasien dengan distres pernafasan gagal nafas,
henti nafas (apnu) maupun hipoksemia yang tidak teratasi dengan
pemberian oksigen merupakan indikasi ventilasi mekanik. Idealnya pasien
telah mendapat intubasi dan pemasangan ventilasi mekanik sebelum
terjadi gagal nafas yang sebenarnya. Distres pernafasan disebabkan
ketidakadekuatan ventilasi dan atau oksigenasi. Prosesnya dapat berupa
kerusakan paru (seperti pada pneumonia) maupun karena kelemahan otot
pernafasan dada (kegagalan memompa udara karena distrofi otot).
2. Insufisiensi jantung. Tidak semua pasien dengan ventilasi mekanik
memiliki kelainan pernafasan primer. Pada pasien dengan syok
kardiogenik dan CHF, peningkatan kebutuhan aliran darah pada sistem
pernafasan (sebagai akibat peningkatan kerja nafas dan konsumsi oksigen)
dapat mengakibatkan jantung kolaps. Pemberian ventilasi mekanik untuk
mengurangi beban kerja sistem pernafasan sehingga beban kerja jantung
juga berkurang.
3. Disfungsi neurologis. Pasien dengan GCS 8 atau kurang yang beresiko
mengalami apnoe berulang juga mendapatkan ventilasi mekanik. Selain itu
ventilasi mekanik juga berfungsi untuk menjaga jalan nafas pasien serta
memungkinkan pemberian hiperventilasi pada klien dengan peningkatan
tekanan intra cranial.
4. Tindakan operasi. Tindakan operasi yang membutuhkan penggunaan
anestesi dan sedative sangat terbantu dengan keberadaan alat ini. Resiko
terjadinya gagal napas selama operasi akibat pengaruh obat sedative sudah
bisa tertangani dengan keberadaan ventilasi mekanik.
GCS (GLASGOW COMA SCALE) dan Cara Menilai Kesadaran -
"GCS" (GLASGOW COMA SCALE)
Adalah skala yang dipakai untuk menentukan atau menilai tingkat kesadaran
pasien, mulai dari keadaan sadar penuh hingga keadaan Coma.

Pemeriksaan Kesadaran atau GCS ada 3 fungsi yaitu :


E - Eeyes/mata nilai total 4
V - Verbal nilai total 5
M - Motorik Nilai toral 6
yang hurus diperiksa, masing-masing fungsi mempunyai nilai yang berbeda-beda.

Cara Menilai Kesadaran

No Jenis pemeriksaan Nilai Respon


1 Eye (mata)
a. spontan 4 Mata terbuka secara spontan
b. rangsangan suara 3 Mata terbuka terhadap perintah
verbal
c. rangsangan nyeri 2 Mata terbuka terhadap
rangsangan nyeri
d. tidak ada 1 Tidak membuka mata terhadap
rangsangan apapun
2 Respon verbal
a. orientasi baik 5 Orientasi baik dan mampu
berbicara
b. bingung 4 Disorientasi dan bingung
c. mengucapkan kata” yang tidak 3 Mengulang kata-kata yang tidak
tepat tepat secara acak
d. mengucapkan kata-kata yang 2 Mengeram atau merintih
tidak jelas
e. tidak ada 1 Tidak ada respon
3 Respon motorik
a. mematuhi perintah 6 Dapat bergerak mengikuti
perintah
b. melokalisasi 5 Dapat melokalisasi
nyeri (gerakan terarah dan
bertujuan ke arah rangsang
nyeri)
c. menarik 4 Fleksi atau menarik saat di
rangsang nyeri contoh: menarik
tangan saat kuku di tekan
d. fleksi abnormal 3 Membentuk posisi dekortikasi.
Contoh: fleksi pergelangan
tangan
e. ekstensi abnormal 2 Membentuk posisi
deserebrasi.contoh : ekstensi
pergelangan tangan
f. tidak ada 1 Tidak ada respon, hanya
berbaring lemah, saat di
rangsang apapun

Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam


simbol E…V…M… Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang
tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1.
Kesimpulan :
 Composmentis : 15-14
 Apatis : 13-12
 Delirium : 11-10
 Somnolen : 9-7
 Stupor : 6-4
 Coma : 3
Oksigenasi

merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar yang digunakan untuk
kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktivitas
berbagai organ dan sel tubuh.

Keberadaan oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam
proses metabolism dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-
sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2 setiap
kali bernapas dari atmosfer. Oksigen (O2) untuk kemudian diedarkan ke seluruh
jaringan tubuh.

Tujuan
1. Memberikan oksigen dengan konsentrasi relatif rendah saat kebutuhan
oksigen minimal.
2. Memberikan oksigen yang tidak terputus saat klien makan atau minum.
(Aryani, 2009:54)
Indikasi
Klien yang bernapas spontan tetapi membutuhkan alat bantu nasal kanula untuk
memenuhi kebutuhan oksigen (keadaan sesak atau tidak sesak). (Suparmi,
2008:67)
Prinsip
a. Nasal kanula untuk mengalirkan oksigen dengan aliran ringan atau
rendah,

b. biasanya hanya 2-3 L/menit.


c. Membutuhkan pernapasan hidung
d. Tidak dapat mengalirkan oksigen dengan konsentrasi >40 %.
(Suparmi, 2008:67)
Macam Bentuk Masker :
e. Simple face mask mengalirkan oksigen konsentrasi oksigen 40-
60% dengan kecepatan aliran 5-8 liter/menit.

b. Rebreathing mask mengalirkan oksigen konsentrasi oksigen 60-80% dengan


kecepatan aliran 8-12 liter/menit. Memiliki kantong yang terus mengembang baik,
saat inspirasi maupun ekspirasi. Pada saat inspirasi, oksigen masuk dari sungkup
melalui lubang antara sungkup dan kantung reservoir, ditambah oksigen dari
kamar yang masuk dalam lubang ekspirasi pada kantong. Udara inspirasi sebagian
tercampur dengan udara ekspirasi sehingga konsentrasi CO2 lebih tinggi daripada
simple face mask. (Tarwoto&Wartonah, 2010:37)
Indikasi : klien dengan kadar tekanan CO2 yang rendah. (Asmadi,
2009:33)

c. Non rebreathing mask mengalirkan oksigen konsentrasi oksigen sampai 80-


100% dengan kecepatan aliran 10-12 liter/menit. Pada prinsipnya, udara inspirasi
tidak bercampur dengan udara ekspirasi karena mempunyai 2 katup, 1 katup
terbuka pada saat inspirasi dan tertutup saat pada saat ekspirasi, dan 1 katup yang
fungsinya mencegah udara kamar masuk pada saat inspirasi dan akan membuka
pada saat ekspirasi. (Tarwoto&Wartonah, 2010:37). Indikasi : klien dengan kadar
tekanan CO2 yang tinggi. (Asmadi, 2009:34)
INSTRUKSI KERJA
PEMBERIAN TERAPI OKSIGENASI

1. Persiapan alat
Menyiapkan alat antara lain :
1. Nasal kanul / masker sederhana / masker NRBM, sesuai ukuran pasien
2. Selang oksigen
3. Tabung oksigen dengan manometernya
4. Humidifier
5. Water steril (aquadest) / air matang / air mineral
6. Flowmeter (pengukur aliran)
7. Plester
8. Gunting plester
9. Alat tulis

2. Persiapan pasien
Pembukaan
a. Memberikan salam dan memperkenalkan diri
b. Menempatkan pasien / keluarga dalam kondisi nyaman dan kondusif

3. Mengonfirmasikan tujuan dan prosedur pemberian terapi oksigenasi

Menjelaskan tujuan dan proses pemberian terapi oksigenasi pada keluarga pasien

4. Menilai kesiapan pasien

Petugas menyiapkan inform concent untuk ditandatangani

5. Prosedur Pemasangan
Mengorganisasikan tindakan pemberian terapi oksigenasi
Cara Pemasangan :
1. Alat-alat didekatkan pasien
2. Cuci tangan
3. Pasang manometer pada tabung oksigen
4. Pasang flowmeter dan pastikan alirannya mati terlebih dahulu
5. Pasang botol humidifier
6. Sambung selang oksigenasi dengan humidifier
7. Buka aliran flowmeter untuk mengecek aliran oksigen
8. Atur aliran oksigen sesuai indikasi
9. Pasang alat terapi oksigen pada pasien
10. Amati respon pasien
11. Pasang plester untuk fiksasi
12. Rapikan pasien dan alat-alat
13. Dokumentasikan prosedur dan respon pasien
No. KATEGORI SKOR
NILAI
1. EKSPRESI WAJAH

Netral, relaks Tak tampak kontraksi otot wajah 0

Dahi mengerut, alis mata menurun, orbital dan


levator mengencang atau perubahan lain seperti
Tegang 1
membuka mata atau menangis selama prosedur
dilakukan

Semua gerakan di atas ditambah kelopak mata


Meringis 2
menutup rapat

2. GERAKAN TUBUH

Posisi normal Tidak bergerak sama sekali 0

Perlindungan Gerakan lambat berusaha menyentuh daerah nyeri 1

Berusaha menarik tabung atau mencabut selang,


berusaha duduk, menggerakkan kaki dan meronta,
Gelisah / agitasi 2
tidak mengikuti perintah, menyerang perawat,
berusaha keluar dari tempat tidur

3. MENGIKUTI VENTILATOR (TERINTUBASI)

Ventilator toleransi
Alarm tidak berbunyi, ventilasi lancer 0
terhadap pergerakan

Batuk tapi masih


Batuk, alarm bunyi tetapi berhenti sendiri 1
toleransi

Melawan ventilator Asinkron, ventilator terhambat, alarm sering bunyi 2

KETEGANGAN OTOT (dengan cara mengevaluasi pada saat melakukan fleksi dan
4.
ekstensi pasif ekstremitas atas saat pasien istirahat atau pindah posisi)

Relaks Tidak melawan saat dipindah-posisikan 0


Tegang, kaku Melawan saat dipindah-posisikan 1

Melawan dengan sangat kuat saat dipindah-


Sangat tegang, kaku 2
posisikan

TOTAL

Pengukuran Skala Nyeri Dengan CPOT

Keterangan :

Skor 0 = tidak nyeri

Skor 1-2 = nyeri ringan

Skor 3-4 = nyeri sedang

Skor 5-6 = nyeri berat

Skor 7-8 = nyeri sangat berat

PENGGUNAAN ADRENALIN DALAM


PENGOBATAN ANAFILAKSIS

Ø Apa itu anafilaksis?


Reaksi anafilaksis adalah suatu sindroma yang terjadi karena adanya peningkatan
permeabilitas dinding pembuluh darah dan penyempitan bronkus yang mendadak.
Reaksi ini dicetuskan oleh beberapa mediator kimiawi endogen seperti : histamin,
serotonin atau lainnya yang segera terbentuk.
Reaksi anafilaksis atau hipersensitivitas jenis cepat adalah reaksi imonopatologik
tipe I, yaitu reaksi jaringan yang terjadi beberapa menit setelah obat manifestasi
kontak antigen dan antibodi. Sebagai antigen adalah IgE.yang disebut
homositotropik.. Anafilaksis dapat menyebabkan syok, gagal nafas, henti jantung
dan kematian mendadak..

Ø Apa Saja Alergen Penyebab Anafilaksis ?


Allergen penyebab Anafilaksis adalah :
· Krustasea: Lobster, udang dan kepiting
· Obat Hormon : Insulin, PTH, ACTH, Vaso-presin, Relaxin
· Enzim : Tripsin,Chymotripsin, Penicillinase, As-paraginase Vaksin dan Darah
· Toxoid : ATS, ADS, SABU Ekstrak alergen untuk uji kulit Dextran
· Antibiotika: Penicillin, Streptomisin, Cephalosporin, Tetrasiklin, Ciprofloxacin,
Amphotericin B, Nitrofurantoin.
· Agent diagnostik-kontras: Vitamin B1, Asam folat Agent anestesi: Lidocain,
Procain,
· Lain-lain: Barbiturat, Diazepam, Phenitoin, Protamine, Aminopyrine, Acetil
cystein , Codein, Morfin, Asam salisilat dan HCT Bisa serangga Lebah Madu,
Jaket kuning, Semut api Tawon (Wasp). Lain-lain Lateks, Karet, Glikoprotein
seminal fluid

Ø Apa Saja Gejala-Gejala Reaksi Anafilaksis ?


Anafilaksis merupakan reaksi sistemik, gejala yang timbul juga menyeluruh.
Gejala-gejala syok anafilaksis sering disertai gejala reaksi hipersensitif lainnya
Manifestasinya bergantung cara masuk antigen atau benda asing, jumlah yang
diabsorpsi dan tingkat hipersensitifitas.
Gejala permulaannya adalah sakit kepala, pusing, gatal dan perasaan panas sistem
organ gejala kulit eritema, urticaria, angoedema, conjunctivitis, pallor dan kadang
cyanosis respirasi bronkospasme, rhinitis, edema paru dan batuk, nafas cepatdan
pendek, terasa tercekik karena edema epiglotis, stridor, serak, suara hilang,
wheezing, dan obstruksi komplit. cardiovaskular hipotensi, diaphoresis, kabur
pandangan, sincope, aritmia dan hipoksia gastrintestinal mual, muntah, cramp
perut, diare, disfagia, inkontinensia urin SSP, Parestesia, konvulsi dan kom Sendi
Arthralgia Haematologi darah, trombositopenia, DIC

Ø Bagaimana Mekanisme Anafilaksis?


Mekanisme anafilaksis terdiri dari dua fase, yaitu :
1. Fase Sensitisasi
Yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan Ig E sampai diikatnya oleh
reseptor spesifik pada permukaan mastosit dan basofil. Alergen yang masuk lewat
kulit, mukosa, saluran nafas atau saluran makan di tangkap oleh Makrofag.
Makrofag segera mempresen-tasikan antigen tersebut kepada Limfosit T, dimana
ia akan mensekresikan sitokin (IL-4, IL-13) yang menginduksi Limfosit B
berproliferasi menjadi sel Plasma (Plasmosit). Sel plasma memproduksi
Immunoglobulin E (Ig E) spesifik untuk antigen tersebut. Ig E ini kemudian
terikat pada receptor permukaan sel Mast (Mastosit) dan basofil.
2. Fase Aktivasi
Yaitu waktu selama terjadinya pemaparan ulang dengan antigen yang sama.
Mastosit dan Basofil melepaskan isinya yang berupa granula yang menimbulkan
reaksi pada paparan ulang . Pada kesempatan lain masuk alergen yang sama ke
dalam tubuh. Alergen yang sama tadi akan diikat oleh Ig E spesifik dan memicu
terjadinya reaksi segera yaitu pelepasan mediator vasoaktif antara lain histamin,
serotonin, bradikinin dan beberapa bahan vasoaktif lain dari granula yang di sebut
dengan istilah Preformed mediators.