Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU

DENGAN KETERATURAN BALITA KE POSYANDU DI


POSYANDU“BOUGENVILLE V” PERUMAHAN
TIBAN HOUSING KECAMATAN SEKUPANG
KELURAHAN TIBAN BARU
KOTA BATAM
TAHUN 2014

Yuliana Minanti
Fakultas Kedokteran Universitas Batam

ABSTRAK
Yuliana Minanti, 61111014, 2014. Hubungan antara Pendidikan dan
Pengetahuan Ibu dengan Keteraturan Balita ke Posyandu di Posyandu
Bougenville V Kecamatan Sekupang Kelurahan Tiban Baru Kota Batam . Skripsi.
Fakultas Kedokteran Universitas Batam.
Latar Belakang: Posyandu merupakan program pemerintahan Indonesia yang
berfungsi untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita setiap bulan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pendidikan dan
pengetahuan ibu dengan keteraturan balita ke posyandu.
Metode: Teknik Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan
pengambilan sampel subjek penelitian secara accidental sampling. Penelitian ini
dilakukan pada tanggal 7 oktober 2014. Analisis data terdiri dari analisis univariat
dan analisis bivariat.
Hasil: Dari penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan pendidikan dengan
keteraturan balita ke posyandu p value = 0,351 ≥ 0,05 yang artinya dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan
keteraturan balita ke posyandu dan hubungan pengetahuan ibu dengan keteraturan
balita ke posyandu p value = 0,02 ≤ 0,05 yang artinya dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan keteraturan balita ke
posayndu.
Simpulan: Mayoritas ibu berpendidikan tinggi yaitu SMA dan Perguruan tinggi
sebanyak 35 orang (74,5%) sedangkan jumlah ibu yang berpendidikan rendah
yaitu SD dan SMP berjumlah 12 orang (25,5%). Mayoritas ibu berpengetahuan
rendah yaitu sebanyak 24 orang (51,5%), sedangkan yang berpengetahuan tinggi
sebanyak 23 orang (48,9%). Gambaran keteraturan balita di posyandu bougenville
v yaitu teratur sebanyak 17 orang (36,2%), sedangkan yang tidak teratur sebanyak
30 orang (63,8%). Dari hasil penelitian menggunakan chi square yang mana tidak
ditemukan hubungan bermakna dari pendidikan dengan keteraturan balita ke
posyandu dinyatakan dalam nilai p value = 0,351 ≥ 0,05 sedangkan terdapat
hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan keteraturan balita ke
posyandu dinyatakan dalam nilai p value = 0,02 ≤ 0,05.

Kata Kunci: pendidikan, pengetahuan, keteraturan balita


Pendahuluan terjadinya hal tersebut adalah
ketidaktahuan ibu tentang manfaat
Latar belakang menimbangkan anaknya di
posyandu, sehingga perlu diadakan
Generasi penerus bangsa kuat
adanya suatu upaya untuk
dan berkualitas dapat diwujudkan
menyadarkan agar tahu manfaat
melalui upaya-upaya yang terarah,
penimbangan di posyandu
sehingga dapat dihasilkan anak-anak
(Djaiman,2009).
sehat yang merupakan modal dasar
Angka Kematian Balita
untuk pembentukan generasi yang
(AKABA) adalah jumlah anak yang
diharapkan. Tetapi kenyataannya
dilahirkan pada tahun tertentu dan
pada masa sekarang ini masalah yang
meninggal sebelum mencapai usia 5
dihadapi adalah masih tingginya
tahun, dinyatakan sebagai angka per
angka kematian anak (DepKes RI,
1.000 kelahiran hidup.
1999).
Kecenderungan kematian bayi dana
Krisis ekonomi telah
kematian balita sejak SDKI 1991.
melemahkan aktivitas posyandu
Angka kematian anak turun dari 44
sekaligus meningkatkan kasus gizi
kematian per 1.000 kelahiran hidup
buruk terutama di daerah miskin
pada SDKI 2007 menjadi 40
karena masyarakat/kader/relawannya
kematian per 1.000 kelahiran hidup
kekurangan sumber daya guna
pada SDKI 2012 (DinKes Kepri,
melaksanakan kegiatan posyandu.
2012).
Untuk mengatasinya perlu segera
Posyandu (Pusat Pelayanan
dilakukan revitalisasi Posyandu,
Terpadu) merupakan sarana
yaitu upaya pemberdayaan Posyandu
kesehatan milik masyarakat yang
untuk mengurangi dampak krisis
dikelola secara swadaya oleh
ekonomi terhadap penurunan status
masyarakat. Posyandu berasal dari
gizi dan kesehatan ibu dan anak.
masyarakat. Posyandu memiliki 5
Secara menyeluruh, revitalisasi
(lima) program pokok yaitu
Posyandu tertuang dalam Surat
Kesehatan ibu dan anak, KB,
Edaran Mendagri Nomor :
Imunisasi, Program gizi dan
411.3/536/SJ tanggal 3 Maret 1999
Penanggulangan diare untuk
beserta petunjuk pelaksaannya.
memudahkan akses masyarakat
Sumber dana revitalisasi Posyandu
terhadap program kesehatan ini.
tersedia di berbagai sektor
Rasio posyandu dilihat dari jumlah
(Azwar,1999).
balita yang ada, idealnya setiap 100
Fakta menunjukkan bahwa
balita terdapat 1 (satu) Posyandu.
keaktifan, masyarakat dengan
Jumlah Posyandu dan penyebaran
melakukan monitoring pertumbuhan
serta kualitas pelayanan sangat
terhadap anaknya di posyandu
menunjang keberhasilan upaya
semakin hari semakin menurun.
kesehatan. Tahun 2012 jumlah
Salah satu faktor yang mendorong
posyandu telah mencapai 360
posyandu yang tersebar diseluruh 2013 di dapatkan 3 balita yang
wilayah Kota Batam (Profil mengalami gizi buruk (Data Based
Kesehatan Kota Batam, 2012). Posyandu, 2013).
Di Kota Batam dari 360 Dari uraian di atas di
Posyandu dengan strata posyandu wilayah Posyandu Bougenville V
didapatkan Posyandu Mandiri 24 kecamatan Tiban Baru merupakan
(6,02%), Posyandu Purnama 78 salah satu daerah dengan tingkat
(23,8%), Posyandu Madya 232 keberhasilan program Posyandu serta
(61,45%), dan Posyandu Pratama 26 peran serta masyarakat untuk datang
(8,73%). Target nasional, untuk ke posyandu belum mencapai target
Posyandu mandiri/purnama adalah yang diharapkan oleh Dinas
40%. Proporsi strata posyandu masih Kesehatan Kota Batam tahun 2014.
belum mencapai target yang Maka dari permasalahan ini, penulis
diharapkan (Profil Kesehatan Kota tertarik untuk menyusun skripsi dan
Batam, 2012). mengangkat judul Hubungan Tingkat
Dari hasil pendataan Dinas Pendidikan dan Pengetahuan Ibu
Kependudukan & catatan sipil Kota dengan Keteraturan Balita Ke
Batam tahun 2010 di kelurahan Posyandu di Posyandu “Bougenville
Tiban Baru terdapat 27.789 jiwa V” Perumahan Tiban Housing
penduduk dan mayoritas penduduk Kecamatan Tiban Baru Kota Batam
berpendidikan rendah. Tahun 2014.
Dari data laporan
tahunan, hasil penimbangan tingkat Metode
kecamatan di wilayah kerja Jenis penelitian ini adalah
Puskesmas Tiban Baru Tahun 2013 observasional analitik yang mana
terdapat 13 posyandu yang aktif, bertujuan untyk mengetahui
yang mana terbagi menjadi 2 hubungan tingkat pendidikan dengan
kelurahan yaitu kelurahan Tiban pengetahuan ibu dengan keteraturan
Baru dan Tiban Lama yang masing- balita ke posyandu. Lokasi dan
masingnya terdapat 7 dan 6 waktu penelitian dilaksanakan di
posyandu dengan peran serta wilayah posyandu bougenville V
masyarakat yang masih relatif rendah pada tanggal 7 oktober 2014. Dengan
(Profil Puskemas Tiban Baru 2013). besar sampel yaitu 62 ibu, yang
Dari data tahunan yang mana setelah penelitian didapatkan
diperoleh dari laporan pengantar beberapa ibu yang masuk ke dalam
posyandu di posyandu Bougenville kriteria eksklusi sehingga hanya
V kecamatan Tiban Baru didapatkan sekitar 47 ibu yang bias dimasukkan
11 kader yang mana terdiri dari ke dalam data responden. Instrument
ketua, wakil ketua, sekretaris, penelitian yang digunakan adalah
bendahara dan memiliki 7 anggota. kuesioner yang mana bentuk
Jumlah ibu yang mempunyai balita pertanyaan yang digunakan yaitu
di wilayah kerja Posyandu pertanyaan multiple choice dan
Bougenville V sebanyak 240 ibu dan checklist. Analisa data yang
yang aktif datang ke Posyandu setiap digunakan adalah univariat dan
bulannya hanya 50-60 orang. Dari bivariat yang mana pada analisis
data di dapatkan pula pada tahun digunakan chi square.
Hasil Frekuensi Percent
Jumlah Posyandu yang Pengetahuan
berada unit kerja puskesmas Tiban (n) (%)
Baru ini terbagi berdasarkan < Mean 24 51,5
kelurahannya yang mana ada dua
kelurahan besar yaitu kelurahan tiban >Mean 23 48,9
baru dan kelurahan tiban lama yang
mana jumlah seluruh posyandu yang
Total 47 100
berada di bawah naungan puskesmas
Tiban baru adalh sebanyak 26
Dari tabel 4.2 dapat dilihat
posyandu.
bahwa jumlah pengetahuan rendah
yaitu berjumlah 24 orang
(51,5%), sedangkan jumlah sampel
Univariat pengetahuan tinggi sebanyak 23
orang (48,9%).
Penelitian dilakukan terhadap
47 objek penelitian yang terdiri dari Tabel 4.3
47 responden yang mana merupakan Distribusi respondenmenurut
ibu yang tinggal di daerah wilayah Keteraturan Balita ke Posyandu
posyandu Bougenville V.
Keteraturan
Tabel 4.1 Frekuensi Persen
balita ke
Distribusi responden menurut (n) (%)
Pendidikan Ibu posyandu
Tidak
30 63,8
Frekuensi Percent Teratur
Pendidikan
(n) (%) Teratur 17 36,2

Rendah 12 25,5 Total 47 100

Tinggi 35 74,5 Dari tabel 4.3 dapat dilihat


bahwa jumlah sampel
Total 47 100
berdasarkan keteraturan balita ke
posyandu yaitu yang tidak
Dari tabel 4.1 dapat dilihat teratur sebanyak 30 orang
bahwa jumlah pendidikan rendah (63,8%), teratur sebanyak 17
yaitu berjumlah 12 orang (25,5%), orang (36,2%).
sedangkan jumlah sampel pendidikan
tinggi sebanyak 35 orang (74,5%).
Bivariat
Tabel 4.2 Analisis Bivariat
Distribusi responden menurut disesuaikan dengan variabel
Pengetahuan Ibu penelitian yang mana Variabel
independen dalam penelitian ini
adalah pendidikan dan
pengetahuan sedangkan variabel
dependen adalah keteraturan pendidikan dengan keteraturan
balita ke posyandu balita ke posyandu.

1. Hubungan pendidikan dengan 2.Hubunganpengetahuan


keteraturan balita ke posyandu denganketeraturan balita ke
posyandu
Tabel 4.4
Distribusi responden berdasarkan Tabel 4.4
Hubungan Pendidikan dengan Distribusi responden
keteraturan balita ke posyandu berdasarkan Hubungan
pengetahuan dengan
Keteraturan balita ke keteraturan balita ke
posyandu posyandu
Variabel Total
Tidak
Teratur Keteraturan
teratur
Jumla balita ke
9 3 12 Tota
Ren h Variabel posyandu
l
dah Tidak Teratu
Pendidi % 75,0% 25,0% 100%
teratur r
kan ibu Jumla
Ting 21 14 35 Jumlah 19 5 24
h <
gi Mean 100
% 60% 40% 100% Penge % 79,2% 20,8%
%
Jumla tahua
30 17 47 n ibu Jumlah 11 12 23
Total h >
% 63,8% 36,2% 100% Mean 100
% 47,8% 52,2%
%
Jumlah 30 17 47
Total 100
Hasil Analisis pada Tabel % 63,8% 36,2%
%
4.4 menunjukkan bahwa dari 47
ibu didapatkan 9 ibu (75,0%) dari Hasil Analisis pada Tabel
12 ibu berpendidikan rendah dan 4.5 menunjukkan bahwa dari 47
dinyatakan kedalam kelompok ibu didapatkan 19 ibu (79,2%)
tidak teratur mengunjungi dari 24 ibu berpengetahuan
posyandu sedan didapatkan 3 ibu rendah atau kurang dari Mean
(25,0%) dari 12 ibu berpendidikan (rata-rata) dinyatakan kedalam
rendah dinyatakan dalam kelompok tidak teratur
kelompok teratur mengunjungi mengunjungi posyandu dan
posyandu. Serta didapatkan 35 didapatkan 5 ibu (20,8%) dari 24
orang ibu yang berpendidikan ibu berpengetahuan rendah atau
tinggi dari 47 ibu yang mana ada kurang dari Mean (rata-rata)
21 ibu (60,0%) yang dinyatakan dinyatakan dalam kelompok
dalam kelompok tidak teratur dan teratur mengunjungi posyandu.
14 ibu (40,0%) dinyatakan dalam Serta didapatkan 11 ibu yang
kelompok teratur. . Dari hasil uji berpengetahuan tinggi atau lebih
statistik dengan Chi square dari Mean (rata-rata) dari 47 ibu
diperoleh nilai p value = 0,351 ≥ yang mana ada 11 ibu (47,8%)
0,05 yang artinya dapat yang dinyatakan dalam kelompok
disimpulkan bahwa tidak ada tidak teratur dan 12 ibu (23,0%)
hubungan yang signifikan antara dinyatakan dalam kelompok
teratur. Dari hasil uji statistik
dengan Chi square diperoleh nilai dan akibat yang terjadi (Fida dan
p value = 0,025 ≤ 0,05 yang Maya,2012).
artinya dapat disimpulkan bahwa Kegiatan Posyandu
ada hubungan yang signifikan diharapkan dapat mencakup sasaran,
antara pengetahuan dengan yaitu bayi, anak, balita, ibu hamil,
keteraturan balita ke posyandu. ibu menyusui, dan wanita PUS
(Pasangan Usia Subur). Sasaran ini
memperoleh pelayanan sesuai
Pembahasan dengan kondisinya masing-masing,
Periode penting dalam misalnya bayi dan balita ditimbang
tumbuh kembang anak adalah masa BB-nya dan diisikan ke KMS (Kartu
balita. Pada masa ini, pertumbuhan Menuju Sehat), mendapatkan
dasar akan mempengaruhi dan imunisasi, diberi oralit bila menderita
menentukan perkembangan anak diare, dan mendapatkan pelayanan
selanjutnya. Selain itu, perihal kesehatan dari petugas bila
perkembangan, kemampuan menderita sakit (aritonang,1994).
berbahasa, kreativitas, kesadaran Fakta menunjukkan bahwa
sosial, emosional dan intelegensia keaktifan masyarakat dalam
anak pada masa ini berjalan sangat melakukan monitoring pertumbuhan
cepat, yang merupakan landasan bagi terhadap anaknya di posyandu
perkembangan selanjutnya semakin hari semakin menurun.
(Danarti,2010). Salah satu faktor yang mendorong
Berhubungan dengan hal itu, terjadinya hal tersebut adalh
perlu diketahui bahwa periode lima ketidaktahuan ibu tentang manfaat
tahun pertama kehidupan anak menimbangkan anaknya di
merupakan ”jendela kesempatan” posyandu, sehingga dirasakan perlu
(window opportunity) atau masa adanya suatu upaya untuk
kritis (critical period). Pada fase ini, meyadarkan agar tahu manfaat
pertumbuhan sekaligus penimbangan di posyandu (Djaiman,
perkembangan tubuh dan otaknya 2009).
berkembang sangat pesat, serta amat Dari hasil penelitian yang
peka terhadap berbagai gangguan dilakukan oleh Rina Dwi Ariyani,
dari lingkungan sekitarnya. Rini Susanti dan Eko
Mengingat periode lima tahun Mardiyaningsih (2012) dengan
pertama relatif pendek dan tidak bisa pendekatan cross sectional di Desa
berulang kembali dalam kehidupan Pilangrejo Kecamatan Wonosalam
anak, seyogianya para orang tua, kabupaten Demak dengan jumlah
pengasuh, pendidik masyarakat, dan 281 balita. Dengan besar sampel 74
tenaga medis memanfaatkan responden menunjukkan bahwa
kesempatan ini untuk membentuk terdapat hubungan antara
anak berkualitas yinggi melalui pengetahuan dan pekerjaan ibu
deteksi dini terhadap aneka dengan frekuensi penimbangan balita
gangguan yang mengancam di posyandu Desa Kabupaten
pertumbuhan dan perkembangannya. Demak, dengan uji statistik
Dengan deteksi dini, sehingga lebih diperoleh pada variabel pengetahuan
meminimalkan gangguan yang ada nilai r2 sebesar 21,286 dengan p-
value 0,000 oleh karena p-value = masyarakat. Meskipun dalam satu
0,000 < α (0,05) dan pada variabel dasa warsa terakhir ini terjadi
pekerjaan p-value 0,003 oleh karena perubahan tatanan kepemerintahan di
p-value 0,003 < α (0,05) yang mana Indonesia, tetapi posyandu masih
menunjukkan adanya hubungan yang tetap ada di tengah-tengah
signifikan antara pengetahuan dan masyarakat kita (pedoman umum
pekerjaan dengan frekuensi pelayanan posyandu,2011).
penimbangan balita di Posyandu Sejak terjadinya krisis ekonomi yang
Desa Pilangrejo Kecamatan berkepanjangan sejak tahun 1997,
Wonosalam Kabupaten Demak. berpengaruh terhadap kinerja
Hasil penelitian ini sesuai posyandu yang turun secara
dengan idil fitriani (2010). Yang bermakna. Dampaknya terlihat pada
mana berdasarkan uji statistik menurunnya status gizi dan
didapatkan p value 1,0 > 0,05 kesehatan masyarakat, terutama
menunjukkan tidak adanya hubungan masyarakat kelompok rentan, yakni
bermakna antara pendidikan ibu bayi, anak balita, dan ibu hamil serta
dengan kunjungan aktif ke posyandu ibu menyusui.
di wilayah poskesdes segayam. Pengintegrasian layanan
Penelitian tentang hubungan sosial dasar di Posyandu adalah suatu
antara pendidikan dan pengetahuan upaya mensinergikan berbagai
dengan keteraturan balita di layanan yang dibutuhkan masyarakat
posyandu Bougenville V kecamatan meliputi perbaikan kesehatan dan
sekupang kelurahan tiban baru kota gizi, pendidikan, dan perkembangan
Batam pada tanggal 7 oktober 2014 anak, peningkatan ekonomi keluarga,
dengan jumlah responden sebanyak ketahanan pangan keluarga dan
65 orang yang kemudian disesuaikan kesejahteraan sosial. Adapun tujuan
dengan kriteria eksklusi dan inklusi dari posayndu adalah sebagai berikut
menjadi 47 responden yang mana :
melalui uji statistik didapatkan 1) Tujuan Umum:
bahwa pada pendidikan nilai p value Menunjang percepatan
= 0,351 ≥ 0,05 yang artinya dapat penurunan Angka Kematian
disimpulkan bahwa tidak ada Ibu (AKI), Angka Kematian
hubungan yang signifikan antara Bayi (AKB) dan Angka
pendidikan dengan keteraturan balita kematian Balita (AKABA) di
ke posyandu. Dan pada pengetahuan Indonesia melalui upaya
didapatkan nilai p value = 0,025 ≤ pemberdayaan masyarakat.
0,05 yang artinya dapat disimpulkan 2) Tujuan khusus:
bahwa ada hubungan yang a. Meningkatkan
signifikan antara pengetahuan peran masyarakat
dengan keteraturan balita ke dalam
posyandu. penyelenggaraan
Posyandu adalah salah satu upaya kesehatan
bentuk upaya kesehatan berbasis dasar, terutama
masyarakat yang sudah menjadi yang berkaitan
milik masyarakat serta menyatu dengan penurunan
dalam kehidupan dan budaya
AKI, AKB, dan Depkes RI. (1999).Pedoman
AKABA Pelayanan Kesehatan
b. Meningkatkan Perinatal Di wilayah Kerja
peran lintas sektor Puskesmas. Jakarta
dalam
penyelenggaraan Dinas Kesehatan Kepulauan Riau.
Posyandu, terutama (2012). Laporan hasil
berkaitan dengan analisis SKDN provinsi
penurunan AKI, kepulauan riau.kepri, pp :
AKB, AKABA. 54-55.
c. Meningkatkan
Dinas Kesehatan Kota Batam.(2012)
cakupan dan
.Laporan hasil analisis
jangkauan
SKDN kota batam, pp:
pelayanan
132-136.
kesehatan dasar,
terutama yang Djaiman. (2009). Faktor yang
berkaitan dengan berhubungan dengan
penurunan AKI, frekuensi penimbangan
AKB, AKABA balita di posyandu. dalam:
(Pedoman Umum jurnal keperawatan
Pelayanan soedirman 7 (3): 167
Posyandu,2011).
Ernoviana. (2005). Peran kader
Daftar Pustaka dalam penggunaan buku
kesehatan ibu dan anak.
Adiningsih,S. (2010).Waspadai gizi dalam: Kemas 8 (2):100.
balita anda. Jakarta : PT
Alex Media Fida dan Maya. (2012). Pengantar
KomputindoGramedia, pp ilmu kesehatan anak.
:1-3. Banguntapan Yogyakarta :
D-medika (Anggota
Aritonang, I. (1996). Pemantauan IKAPI), pp : 36-41.
pertumbuhan balita.
Yogyakarta : Penerbit Hadisubrata, M.S.(1999).
Kanisius (Anggota Meningkatkan intelegensi
IKAPI), pp : 99-115. anak balita. Jakarta :
Gunung Mulia, p : 69.
Azwar, S. (2007) . Sikap manusia,
teori dan pengukurannya. Hidayat TS, Jahari AB. (2012).
Jakarta : Pustaka Pelajar, Perilaku pemanfaatan
pp : 30-33. posyandu hubungannya
dengan status gizi dan
Danarti, D. (2010). 145Q & A morbiditas balita.40 (1): 3.
(Question & Answer) baby
anf child health. Kementrian Kesehatan RI.(
Yogyakarta : Penerbit G- 2011).Pedoman umum
media, pp : 1-3. pelayanan posyandu.
Jakarta :Kementrian RI, pp Soetjiningsih.(2002). Tumbuh
: 6-28. kembanganak .Penerbit
Buku Kedokteran.Edisike
Media Sains. (2012). Analisis faktor- 2. Jakarta: EGC, p : 124
faktor yang menyebabkan
keengganan ibu balita Sutomo B, Anggraini DY. (2010).
berkunjung ke posyandu di Menu sehat alami untuk
desa jingah habang hilir batita dan balita.
kecamatan karang intan Tangerang; PT AgroMedia
kabupaten banjar,4 (2): Pustaka, p:1.
161.
Supartini, Y. (2004). Buku ajar
Nadzir,M. (2014). Metode konsep dasar keperawatan
penelitian.Bogor :Penerbit anak. Jakarta :Penerbit
Ghalia Indonesia, pp : Buku Kedokteran EGC, p :
154-156, 179-187, 257- 83..
286.
Sudarmoko, AD (2011). Mengenal,
Notoadmodjo,S. (2010). Metodologi mencegah, dan mengobati
penelitian kesehatan. gangguan kesehatan pada
Jakarta : Rineka Cipta, pp : balita. Yogyakarta : Jl. Jati
1-5, 11-13, 83-85, 115-123 109 sambil
egimaguwoharjo, p:1.
Nadzir,M. (2014). Metode
penelitian.Bogor :Penerbit Undang-UndangNomor 20 tahun
Ghalia Indonesia, pp : 2003 tentang Sistem Pendidikan
154-156, 179-187, 257- Nasional.
286.
Undang-UndangNomor 2 tahun 1989
Poerdji, S. 2002. Hubungan tentang Sistem Pendidiksn Nasional.
pendidikan ibu dengan
kunjungan balita Wahab, R. (2011). Membangun
keposyandu, dalam: idil pendidikan bermutu
Fitriani III (2): 11. Indonesia.Yogyakarta
:Laksbang Mediatama
Puksesmas Tiban Baru (.2013).Data Yogyakarta, pp : 5-10.
rekapitulasi cakupan
kunjungan balita dan Zulkifli.(2003). Posyandu dan kader
posyandu kecamatan kesehatan. Medan:
sekupang kelurahan tiban Fakultas Kesehatan
baru,pp : 43-45, 72-73. Masyarakat Universitas
Sumatera Utara, pp : 2-5.
Rumengan, J.(2008). Metodologi
penelitian
kesehatan.Bandung
:Citapustaka Media
Perintis, Pp : 90-99.