Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Tuberkulosis merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh

basil Mycobacterium tuberculosis yang biasanya mempengaruhi organ paru- paru

namun dapat juga mempengaruhi organ lain selain paru-paru. Penyakit ini dapat

menular melalui udara dari orang yang terinfeksi ke orang lain, salah satunya

melalui batuk. Menurut laporan World Health Organization, pengobatan

terhadap penyakit Tuberkulosis telah menghindari 49 juta kematian di seluruh

dunia. (WHO. dalam Eka F, dkk, 2017). Berdasarkan Global Report 2015 dari

9,6 juta kasus-kasus tuberculosis baru pada tahun 2014, terdapat 58% berada di

daerah Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Lebih dari separuh kasus tuberculosis

di dunia (54%) terjadi di China, India, Indonesia, Nigeria dan Pakistan. Di antara

kasus baru, diperkirakan 3,3% adalah multidrug-resistant tuberculosis (MDR

TB), merupakan tingkat yang tetap tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir

(WHO, 2016)

Penyakit tuberkulosis menjadi salah satu indikator penyakit menular

yang pengendaliannya menjadi perhatian dunia internasional.Penyakit

tuberkulosis termasuk dalam penyakit menular kronis.WHO menetapkan bahwa

tuberkulosis merupakan kedaruratan global (global emergency) bagi

kemanusiaan sejak tahun 1993. Kondisi ini menyebabkan penyakit tuberkulosis

paru sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di

1
2

negara-negara berkembang. Berdasarkan data dari “World Health Statistic

2013” menunjukkan tingginya angka prevalensi tuberkulosis per 100.000

penduduk di beberapa negara ASEAN dan SEAR (Kemenkes RI dalam Dea

N,R,2015).

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh

infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Melalui droplet pada orang yang

terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosis, penyakit tuberculosis dapat

menyebar secara luas dan cepat. MDGs memberikan komitmen secara global

pada pengendalian penyakit HIV/AIDS, malaria dan tuberculosis (Depkes RI

dalam Saflin, A & Chatarina U, W, 2017).

Dalam pelayanan kesehatan khususnya tuberculosis limfadenitis, tidak

terlepas dari keterlibatan keluarga sebagai orang yang terdekat dengan pasien.

Keluarga merupakan unit pelayanan kesehatan yang terdepan dalam

meningkatkan derajat kesehatan keluarga. Apabila setiap keluarga sehat, akan

tercipta keluarga yang sehat. Masalah kesehatan yang dialami oleh salah satu

anggota keluarga dapat mempengaruhi anggota keluarga yang lain. Jadi peran

keluarga sangat diperlukan karena dalam pelayanan kesehatan khusunya pada

penyakit tuberculosis kelenjar tidak terlepas dari keterlibatan keluarga sebagai

orang yang terdekat dengan pasien. Hal tersebut harus dibagi dengan pengetahuan

yang akan sangat menentukan keberhasilan pengobatan tuberculosis kelenjar dan

mencegah penularannya (Wahid, I, dalam Leo, R, 2016).

Fungsi keluarga dalam upaya kesehatan terdiri dari dua aspek yaitu

pemeliharaan kesehatan dan peningkatan kesehatan.Pemeliharaan kesehatan


3

mencakup upaya kuratif (pengobatan penyakit), rehabilitatif (pemulihan

kesehatan setelah sembuh dari sakit).Peningkatan kesehatan mencakup kesehatan

preventif (pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan) oleh sebab

itu, kesehatan promotif harus selalu diupayakan mengandung makna kesehatan

seseorang kelompok individu dan harus selalu diupayakan sampai tingkat

kesehatan yang optimal (Leo,R, 2016).

Dalam menjalankan upaya peningkatan kesehatan keluarga mempunyai

tugas dan fungsi yaitu mengenal masalah kesehatan dan merawat anggota

keluarga yang sakit. Keluarga perlu mengenal kesehatan dan perubahan-

perubahan yang dialami oleh anggota keluarganya. Apabila menyadari adanya

perubahan dan fungsi perawatan kesehatan yaitu memberikan perawatan

kesehatan yang bersifat preventif dan secara bersama-sama merawat anggota

keluarga yang sakit. Jadi peran keluarga sangat diperlukan karena dalam

pelayanan kesehatan khusunya pada penyakit tuberculosis paru tidak terlepas dari

keterlibatan keluarga sebagai orang yang terdekat dengan pasien terutama pasien

tuberculosis paru. Hal tersebut harus dibagi dengan pengetahuan yang akan sangat

menentukan keberhasilan pengobatan tuberculosis paru, dan mencegah

penularannya (Leo,R, 2016).

Tahun 2015 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengemukakan

bahwa jumlah kasus tuberkulosis sebanyak 330.910 kasus di indonesia.

Sedangkan jumlah kasus baru TB pada tahun 2017 meningkat sebanyak 420.994

(data per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin jumlah kasus TBC tahun 2017

pada laki-laki 1,4 kali lenih besar dibandingkan perempuan. Hal ini terjadi
4

kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada fakto risiko TBC misalnya

merokok dan kurangnya ketidakpatuhan minum obat (Infodatin, 2018)

Menurut BPS Kota Banda Aceh tahun 2018, jumlah rata-rata kasus TB

di Kota Banda Aceh mencapai 790 kasus untuk tahun 2017, hal ini terjadi

peningkatan dari tahun 2015 yang terdapat 572 kasus. Hasil survei penelitian

pendahuluan di UPTD Puskesmas Ulee Kareng didapatkan jumlah total penderita

tuberkulosis kelenjar getah bening/limfadenitis sebanyak 2 orang pada tahun 2016

dan meningkat sebanyak 3 orang pada tahun 2017 dan 4 orang pada tahun 2018.

Berdasarkan beberapa data tersebut, maka peneliti tertarik untuk

menganalisis ketepatan asuhan keperawatan keluarga pada pasien TB Kelenjar di

UPTD Puskesmas Ulee Kareng.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana proses asuhan keperawatan keluarga dengan tuberkulosis

limfadenitis pada pasien di UPTD Puskesmas Ulee Kareng Banda Aceh?

2. Apakah penatalaksanaan asuhan keperawatan keluarga dengan pasien

tuberkulosis limfadenitis sudah sesuai dengan Pedoman Nasional

Penanggulangan Tuberkulosis tahun 2007 yang digunakan di UPTD

Puskesmas Ulee Kareng Banda Aceh?


5

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran asuhan keperawatan keluarga pada pasien

dengan penyakit tuberculosis limfadenitis di wilayah kerja UPTD

Puskesmas Ulee Kareng

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1. Mendapatkan gambaran pengkajian asuhan keperawatan

keluarga pada pasien dengan kasus tuberculosis limfadenitis

1.3.2.2. Mendapatkan gambaran diagnosa keperawatan pada pasien

dengan kasus tuberculosis limfadenitis

1.3.2.3. Mendapatkan gambaran rencana keperawatan pada pasien

dengan kasus tuberculosis limfadenitis

1.3.2.4. Mendapatkan gambaran implementasi pada pasien dengan

kasus tuberculosis limfadenitis

1.3.2.5. Mendapatkan gambaran evaluasi pada pasien dengan kasus

tuberculosis limfadenitis

1.4. Manfaat Penulisan

1.4.1. Bagi Pasien/Keluarga/Masyarakat

Dapat menjadi bahan masukan bagi pasien dan keluarga untuk dapat

menjaga kesehatan dan menambah pengetahuan tentang penyakit

tuberculosis limfadenitis.
6

1.4.2. Bagi Puskesmas

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang

bergunan tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien

tuberkulosis limfadenitis

1.4.3. Bagi Iinstitusi Pendidikan

Dapat mengevaluasi sejauh mana mahasiswa dalam menguasai asuhan

keperawatan pada pasien dengan masalah tuberkulosis limfadenitis.

1.4.4. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan dan informasi bagi penulis tentang asuhan

keperawatan dengan masalah tuberkulosis limfadenitis selain itu karya

tulis ilmiah ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara penulis dalam

mengaplikasikan ilmu yang di peroleh di dalam perkuliahan.