Anda di halaman 1dari 25

A.

Anatomi Abdomen dan Femur


1. Anatomi Abdomen
Abdomen merupakan bagian tubuh yang terletak di antara toraks dan pelvis. Rongga
abdomen yang sebenarnya dipisahkan dari rongga toraks di sebelah atas oleh diafragma dan
dari rongga pelvis di sebelah bawah oleh suatu bidang miring yang disebut pintu atas
panggul. Dapat dikatakan bahwa pelvis termasuk bagian dari abdomen, dan rongga abdomen
meliputi juga rongga pelvis. Rongga abdomen meluas ke atas sampai mencapai rongga toraks
setinggi sela iga kelima. Jadi sebagian rongga abdomen terletak atau dilindungi oleh dinding
toraks. Sebagian dari hepar, gaster dan lien terterdapat di dalamnya. Rongga abdomen atau
cavitas abdominis berisi sebagian besar organ sistem digestivus, sebagian organ urinarium,
sistem genitalia, lien, glandula suprarenalis, dan plexus nervorum. Juga berisi peritoneum
yang merupakan membrane serosa dari sistem digestivus. Kadang-kadang ada organ sistem
digestivus yang sebagian atau sementara terletak di dalam rongga pelvis, misalnya ileum dan
sebaliknya kadang-kadang organ genitalia terdapat di dalam rongga abdomen, misalnya
uterus yang membesar. Untuk menentukan lokalisasi yang lebih teliti dari rasa nyeri,
pembengkakan atau letak suatu organ, maka abdomen dibagi menjadi sembilan region oleh
dua bidang horizontal yaitu bidang subcostalis dan bidang transtubercularis serta dua bidang
vertikal yang melalui linea midklavikularis kanan dan kiri.

Anatomi dalam dari abdomen meliputi 3 regio:


a. Rongga Peritoneal
Rongga peritoneal dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1) Rongga Peritoneal Atas
Rongga peritoneal atas dilindungi oleh bagian bawah dari dinding thorax yang
mencakup diafragma, hepar, liean, gaster, dan colon transversum. Bagian ini juga
disebut sebagai komponen thoracoabdominal dari abdomen. Pada saat diafragma
naik sampai sela iga IV pada waktu ekspirasi penuh, setiap terjadi fraktur iga
maupun luka tusuk tembus di bawah garis intermammaria bisa mencederai organ
dalam abdomen.
2) Rongga Peritoneal Bawah
Rongga peritoneal bawah berisikan usus halus, bagian colon ascendens dan colon
descendens, colon sigmoid, dan pada wanita, organ reproduksi internal.

b. Rongga Pelvis
Rongga pelvis, yang dilindungi oleh tulang-tulang pelvis, sebenarnya merupakan
bagian bawah dari rongga intraperitoneal, sekaligus bagian bawah dari rongga
retroperitoneal. Di dalamnya terdapat rectum, vesika urinaria, pembuluh-pembuluh iliaca,
dan pada wanita, organ reproduksi internal. Sebagaimana halnya bagian
torakoabdominal, pemeriksaan organ-organ pelvis terhalang oleh bagian-bagian tulang di
atasnya.
c. Rongga Retroperitoneal
Rongga yang potensial ini adalah rongga yang berada di belakang dinding
peritoneum yang melapisi abdomen. Di dalamnya terdapat aorta abdominalis, vena cava
inferior, sebagian besar dari duodenum, pancreas, ginjal dan ureter, serta sebagian
posterior dari colon ascendens dan colon descendens, dan bagian rongga pelvis yang
retroperitoneal. Cedera pada organ dalam retroperitoneal sulit dikenali karena daerah ini
jauh dari jangkauan pemeriksaan fisik yang biasa, dan juga cedera di sini pada awalnya
tidak akan memperlihatkan tanda maupun gejala peritonitis. Rongga ini tidak termasuk
dalam bagian yang diperiksa sampelnya Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL).
Untuk membantu menetapkan suatu lokasi di abdomen, yang paling sering
dipakai adalah pembagian abdomen oleh dua buah bidang bayangan horizontal dan dua
bidang bayangan vertikal. Bidang bayangan tersebut membagi dinding anterior abdomen
menjadi sembilan daerah (regiones). Dua bidang diantaranya berjalan horizontal melalui
setinggi tulang rawan iga kesembilan, yang bawah setinggi bagian atas crista iliaca dan
dua bidang lainnya vertikal di kiri dan kanan tubuh yaitu dari tulang rawan iga kedelapan
hingga ke pertengahan ligamentum inguinale. Regio abdomen tersebut adalah: 1)
hypocondriaca dextra, 2) epigastrica, 3) hypocondriaca sinistra, 4) lumbalis dextra, 5)
umbilical, 6) lumbalis sinistra, 7) inguinalis dextra, 8) pubica/hipogastrica, 9) inguinalis
sinistra (Gambar 1)

Gambar 1. Pembagian anatomi abdomen berdasarkan lokasi organ yang ada di dalamnya
(Griffith, 2003)
Proyeksi letak organ dalam abdomen
Hipokondrium kanan Epigastrium Hipokonrium kiri
 Lobus kanan dari hepar  Pilorus gaster  Lambung
 Kantung empedu  Duodenum  Limpa
 Sebagian dari duodenum  Pankreas  Bagian kaudal dari
 Fleksura hepatik dari  Sebagian dari hepar pankreas
kolon  Fleksura lienalis dari
 Sebagian dari ginjal kolon
kanan  Kutub atas dari ginjal
 Kelenjar suprarenal kiri
kanan  Kelenjar suprarenal kiri
Lumbal Kanan Umbilikal Lumbal Kiri
 Kolon asendens  Omentum  Kolon desendens
 Bagian bawah dari ginjal  Mesenterium  Bagian bawah dari
kanan  Bagian bawah dari ginjal kiri
 Sebagian dari duodenum duodenum  Sebagian jejenum dan
dan jejenum  Jejenum dan ileum ileum
Inguinal kanan Hipogastrium Inguinal kiri
 Sekum  Ileum  Kolon sigmoid
 Apendiks  Kandung kemih  Ureter kiri
 Bagian akhir dari ileum  Uterus (pada kehamilan)  Ovarium kiri
 Ureter kanan

Dengan mengetahui proyeksi organ intra-abdomen tersebut, dapat memprediksi organ


mana yang kemungkinan mengalami cedera jika dalam pemeriksaan fisik ditemukan kelainan
pada daerah atau regio tersebut (Griffith, 2003).
Untuk kepentingan klinis rongga abdomen dibagi menjadi tiga regio yaitu : rongga
peritoneum, rongga retroperitoneum dan rongga pelvis. rongga pelvis sebenarnya terdiri dari
bagian dari intraperitoneal dan sebagian retroperitoneal. Rongga peritoneal dibagi menjadi
dua yaitu bagian atas dan bawah. rongga peritoneal atas, yang ditutupi tulang tulang toraks,
termasuk diafragma, liver, lien, gaster dan kolon transversum. Area ini juga dinamakan
sebagai komponen torako-abdominal dari abdomen. Sedangkan rongga peritoneal bawah
berisi usus halus, sebagian kolon ascenden dan descenden, kolon sigmoid, caecum, dan organ
reproduksi pada wanita (Trauma, 2012).
Rongga retroperitoneal terdapat di abdomen bagian belakang, berisi aorta abdominalis,
vena cava inferior, sebagian besar duodenum, pancreas, ginjal, dan ureter, permukaan
paskaerior kolon ascenden dan descenden serta komponen retroperitoneal dari rongga pelvis.
Sedangkan rongga pelvis dikelilingi oleh tulang pelvis yang pada dasarnya adalah bagian
bawah dari rongga peritoneal dan retroperitoneal. Berisi rektum, kandung kencing, pembuluh
darah iliaka, dan organ reproduksi interna pada wanita (Griffith, 2003)

B. Prinsip Tatalaksana Gangguan Pernafasan

Prioritas pertama adalah membebaskan jalan nafas dan mempertahankannya agar tetap bebas.
1. Bicara kepada pasien
Pasien yang dapat menjawab dengan jelas adalah tanda bahwa jalan nafasnya bebas.
Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan jalan nafas buatan dan bantuan pernafasan.
Penyebab obstruksi pada pasien tidak sadar umumnya adalah jatuhnya pangkal lidah ke
belakang. Jika ada cedera kepala, leher atau dada maka pada waktu intubasi trakhea
tulang leher (cervical spine) harus dilindungi dengan imobilisasi in-line.
2. Berikan oksigen dengan sungkup muka (masker) atau kantung nafas ( selfinvlating)
3. Menilai jalan nafas
Tanda obstruksi jalan nafas antara lain :
a. Suara berkumur
b. Suara nafas abnormal (stridor, dsb)
c. Pasien gelisah karena hipoksia
d. Bernafas menggunakan otot nafas tambahan / gerak dada paradoks
e. Sianosis
Waspada adanya benda asing di jalan nafas. Cara membebaskan jalan nafas diuraikan
pada Appendix 1 Jangan memberikan obat sedativa pada pasien seperti ini.
4. Menjaga stabilitas tulang leher
5. Pertimbangkan untuk memasang jalan nafas buatan.
Indikasi tindakan ini adalah :
a. Obstruksi jalan nafas yang sukar diatasi
b. Luka tembus leher dengan hematoma yang membesar
c. Apnea
d. Hipoksia
e. Trauma kepala berat
f. Trauma dada
g. Trauma wajah / maxillo-facial Obstruksi jalan nafas harus segera diatasi
Pengelolaan Nafas (Ventilasi)
Prioritas kedua adalah memberikan ventilasi yang adekuat.
a. Inspeksi / lihat frekwensi nafas (LOOK)
Adakah hal-hal berikut :
 Sianosis
 Luka tembus dada
 Flail chest
 Sucking wounds .
 Gerakan otot nafas tambahan
b. Palpasi / raba (FEEL).
 Pergeseran letak trakhea
 Patah tulang iga
 Emfisema kulit
 Dengan perkusi mencari hemotoraks dan atau pneumotoraks
c. Auskultasi / dengar (LISTEN)
 Suara nafas, detak jantung, bising usus
 Suara nafas menurun pada pneumotoraks
 Suara nafas tambahan / abnormal
d. Tindakan Resusitasi
Jika ada distres nafas maka rongga pleura harus dikosongkan dari udara dan darah
dengan memasang drainage toraks segera tanpa menunggu pemeriksaan sinar X.
Jika diperlukan intubasi trakhea tetapi sulit, maka kerjakan krikotiroidotomi.

Catatan Khusus
 Jika dimungkinkan, berikan oksigen hingga pasien menjadi stabil
 Jika diduga ada tension pneumotoraks, dekompresi harus segera dilakukan dengan
jarum besar yang ditusukkan menembus rongga pleura sisi yang cedera. Lakukan
pada ruang sela iga kedua (ICS 2) di garis yang melalui tengah klavikula.
Pertahankan posisi jarum hingga pemasangan drain toraks selesai.
 Jika intubasi trakhea dicoba satu atau dua kali gagal, maka kerjakan
krikotiroidotomi. Tentu hal ini juga tergantung pada kemampuan tenaga medis
yang ada dan kelengkapan alat.

C. Prinsip Tatalaksana Lanjut Abdomen dan Fraktur


1. Abdomen
Pada abdomen Prinsip umum pengobatan peritonitis adalah mengistirahatkan
saluran cerna dengan menenangkan pasien, pemberian antibiotik yang sesuai, dekompresi
saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal, penggantian cairan dan
elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pembuangan fokus septik
(apendiks) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar
dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.
Prinsip umum dalam menangani infeksi intraabdominal ada 4, antara lain: (1)
kontrol infeksi yang terjadi, (2) membersihkan bakteri dan racun, (3) memperbaiki fungsi
organ, dan (4) mengontrol proses inflamasi.
Eksplorasi laparatomi segera perlu dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis.
2. Ekstremitas
Tatalaksana fraktur :
a) Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan klinis, dan radiologis.
b) Reduction, reduksi fraktur apabila perlu.
c) Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari.
d) Retention, imobilisasi fraktur.
e) Rehabilitation, mengembalikan aktivitas fungsional semaksimal mungkin.
Analisis Masalah
1. Tn. K berusia 22 tahun, saat melaju dengan kecepatan tinggi di jembatan musi IV dari
arah berlawanan muncul mobil pick up. Karena tidak siap menghindar terjadi kecelakaan
th. K terhempas ke sisi jalan. Korban langsung dibawa ke puskesmas terdekat
a. Trauma apa saja yang mungkin terjadi pada kasus?
Berdasarkan system dan regio, trauma yang mungkin dapat terjadi pada Tn. K adalah
i. Trauma Kepala
ii. Trauma Dada/Thoraks
iii. Trauma Abdominal
Pada trauma ganda atau multipel, abdomen merupakan bagian yang tersering
mengalami cedera. Organ yang tersering cedera pada trauma tembus adalah
hepar/hati dan pada trauma tumpul adalah lien/limpa.
iv. Trauma Ekstremitas

2. Tanda vital: frekuensi napas 30xmenit, denyut nadi 1x/menit; lemah, tekaan darah 70/50
mm Hg, GCS : 13 (E=3, V=5, M=6), ISS score 40
a. Bagaimana prosedur pemeriksaan ISS?
Injury Severity Score (ISS)
Injury Severity Score merupakan sistem skoring yang menilai secara
menyeluruh pasien yang memiliki cedera multipel. Tiap cedera dinilai dengan
menggunakan skor Abbreviated Injury Score (AIS). Sistem skoring ini diperkenalkan
oleh Baker et al pada tahun 1974.
Abbreviated Injury Score (AIS) adalah sistem skoring anatomik yang
diperkenalkan pada tahun 1969. Sistem skoring ini terus menerus diperbarui dan
diperbaiki sejak pertama kali diperkenalkan. Versi terbarunya dikeluarkan pada tahun
1998. Pemantauan sistem ini dilakukan oleh scaling committee dari Association for
The Advancement of Automotive Medicine. AIS bukan merupakan skala trauma.
Dalam skor ini, derajat keparahan cedera dibagi menjadi 6 skala dari 1-6,
dengan skala 1 berarti cedera minor, 5 cedera berat, dan 6 cedera yang tidak dapat
ditangani. Skala-skala ini mewakili seberapa besar ancaman kematian pasien,
berhubungan dengan cedera yang dialaminya, serta menggambarkan derajat
keparahan trauma secara keseluruhan.
Tabel 1. Skoring menggunakan metode AIS
Cedera Skor AIS
1 Minor
2 Moderate
3 Serious
4 Severe
5 Critical
6 Unsurvivable

Penilaian AIS didapat dari 6 regio tubuh (kepala, wajah, dada, perut,
ekstremitas termasuk pelvis, serta eksternal). Tiga regio dengan derajat tertinggi
dikuadratkan dan dijumlahkan untuk mendapatkan skor ISS.
Contoh penghitungan skor ISS dapat dilihat pada tabel 2:
Tabel. 2. Contoh perhitungan skor ISS
Region Deksripsi trauma AIS Ku adrat dari
tiga skor
tertinggi
Kepala dan leher Kontusio serebral 3 9
Wajah Tidak terdapat trauma 0
Dada Flail chest 4 16
Perut Kontusio minor hepar 2 25
Rupture lien 5
Ekstremitas Fraktur femur 3
Eksternal Tidak terdapat trauma 0
Injury severity score: 50

Skor ISS berkisar dari 0 sampai 75. Jika sebuah trauma diidentifikasi dengan
skor AIS berjumlah total skor 6 (trauma yang tidak dapat ditangani), skor ISS secara
otomatis berjumlah 75. Skor ISS ini digunakan dalam system scoring anatomis serta
dapat digunakan untuk memperkirakan kematian, keparahan, rawat rumah sakit, serta
pengukuran derajat keparahan yang lain.
Kelemahan dari system ini adalah jika terdapat kesalahan dalam scoring AIS
maka tingkat kesalahan ISS juga meningkat. Bentuk trauma yang berbeda dapat
menghasilkan skor ISS yang sama. Selain itu deskripsi trauma yang lengkap tidak
dapat diketahui. Oleh karena itu, dibandingkan sistem penilaian anatomis lain, ISS
tidak dapat digunakan sebagai alat triase. Kelemahan yang lain adalah terdapatnya
keterbatasan untuk menghitung trauma multipel pada region tubuh yang sama.

3. Abdomen:
Nyeri pada bagian perut dan terdapat jejas abdomen
Bising usus melemah
Nyeri ketok pada perut kiri atas
Terdapat defans muskular
a. Apa saja regio pada abdomen dan apa saja kemungkinan organ yang terganggu?
Regio pada abdomen adalah: 1) hypocondriaca dextra, 2) epigastrica, 3)
hypocondriaca sinistra, 4) lumbalis dextra, 5) umbilical, 6) lumbalis sinistra, 7)
inguinalis dextra, 8) pubica/hipogastrica, 9) inguinalis sinistra

4. Ekstremitas
Terlihat deformitas di paha kanan berupa angulasi, shorthening dan discrepancy, memar,
hematom, nyeri tekan.
terdapat limitasi gerakan dengan ROM aktif dan pasif: limitasi gerakan.
a. Apa kemungkinan penyebab keluhan pada kasus?
Deformitas tertutup menandakan adanya fraktur tulang femur yang tertutup.
Memar dan hematom menandakan adanya cedera akibat trauma di daerah tersebut.
Nyeri tekan menandakan adanya cedera di daerah tersebut, kemungkinan
karena fraktur.
ROM yang terdapat limitasi gerakan menandakan adanya inflamasi sehingga
menghambat terjadinya pergerakan oleh tulang, sendi, dan otot. Hal ini biasanya
terjadi pada fraktur tulang.
5. Pemeriksaan Laboratorium
Hb: 5 gr/dL, lactat: 4
a. Bagaimana mekanisme abnormal pemeriksaan laboratorium pada kasus?
Hb: 5 gr/dL,
lactat: 4 Ketika perfusi di jaringan menjadi tidak adekuat, maka terjadilah
metabolisme anaerob untuk menghasilkan beberapa energi meskipun dalam jumlah
yang sedikit. Pada kasus ini, piruvat di metabolisme menjadi laktat, yang akhirnya
menghasilkan ATP yang lebih sedikit (2 vs 36) dibandingkan dengan proses normal
yaitu melalui mekanisme aerob. Produksi laktat terjadi pada semua jaringan, yaitu
musculoskeletal, otak, sel- sel darah merah, dan ginjal. Meskipun dalam kondisi dibawah
normal yaitu disaat kaya akan oksigen, proses ini tetap terjadi dalam kadar yang sama.
Lampiran
Liver Injury Scale
Grade* Description AIS-90
I Hematoma Subcapsular, <10% surface area 2
Laceration Capsular tear, <1 cm parenchymal depth 2
II Hematoma Subcapsular, 10-50% surface area 2
Laceration Intraparenchymal, <10 cm in diameter 2
Capsular tear, 1-3 cm parenchymal depth, <10 cm length 2
III Hematoma Subcapsular, >50% surface area or expanding 3
Laceration Ruptured subcapsular or parenchymal hematoma 3
Intraparenchymal hematoma >10 cm or expanding 3
>3 cm parenchymal depth 3
IV Laceration Parenchymal disruption involving 25-75% of hepatic lobe or 4
1-3 Couinaud’s segments within a single lobe
V Laceration Parenchymal disruption involving >75% of hepatic lobe or 5
Vascular >3 Couinaud’s segments within single lobe 5
Vascular Juxtahepatic venous injuries; i.e., retrohepatic vena 6
cava/central major hepatic veins
Hepatic avulsion

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multipel dengan batas tingkat III

Spleen Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Hematoma Subcapsular, <10% surface area 2
Laceration Capsular tear, <1 cm parenchymal depth 2
II Hematoma Subcapsular, 10-50% surface area 2
Laceration Intraparenchymal, <5 cm in diameter 2
Capsular tear, 1-3 cm parenchymal depth which does not 2
involve a trabecular vessel
III Hematoma Subcapsular, >50% surface area or expanding 3
Laceration Ruptured subcapsular or parenchymal hematoma 3
Intraparenchymal hematoma >5 cm or expanding 3
>3 cm parenchymal depth or involving trabecular vessels 3
IV Laceration Laceration involving segemental or hilar vessels producing 4
major devascularization (>25% of spleen)
V Laceration Completely shattered spleen 5
Vascular Hilar vascular injury which devascularizes spleen 5

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multipel dengan batas tingkat III

Small Bowel Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Hematoma Contusion or hematoma without devascularization 2
Laceration Partial thickness, no perforation 2
II Laceration Laceration <50% of circumference 3
III Laceration Laceration >50% of circumference without transection 3
IV Laceration Transection of small bowel 4
V Laceration Transection of small bowel with segmental tissue loss 4
Vascular Devascularized segment 4

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multipel dengan batas tingkat III

Colon Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Hematoma Contusion or hematoma without devascularization 2
Laceration Partial thickness, no perforation 2
II Laceration Laceration <50% of circumference 3
III Laceration Laceration >50% of circumference without transection 3
IV Laceration Transection of the colon 4
V Laceration Transection of the colon with segmental tissue loss 4
* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat III

Rectum Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Hematoma Contusion or hematoma without devascularization 2
Laceration Partial thickness laceration 2
II Laceration Laceration <50% of circumference 3
III Laceration Laceration ≥50% of circumference 4
IV Laceration Full-thickness laceration with extension into the perineum 5
V Laceration Devascularized segment 5

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat III

Diaphragm Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Contusion 2
II Laceration ≤2 cm 3
III Laceration 2-10 cm 3
2
IV Laceration >10 cm with tissue loss ≤25 cm 3
2
V Laceration with tissue loss >25 cm 3

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat III

Duodenum Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Hematoma Involving single portion of duodenum 2
Laceration Partial thickness, no perforation 3
II Hematoma Involving more than one portion 2
Laceration Disruption <50% circumference 4
III Laceration Disruption 50-75% circumference of 2nd portion 4
Disruption 50-100% circumference of 1st, 3rd, 4th portion 4
IV Laceration Disruption >75% circumference of 2nd portion 5
Involving ampulla or distal common bile duct 5
V Laceration Massive disruption of duodenopancreatic complex 5
Vascular Devascularization of duodenum 5

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat III

Pancreas Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Hematoma Minor contusion without duct injury 2
Laceration Superficial laceration without duct injury 2
II Hematoma Major contusion without duct injury or tissue loss 2
Laceration Major laceration without duct injury or tissue loss 3
III Laceration Distal transection or parenchymal / duct injury 3
IV Laceration Proximal transection or parenchymal injury involving 4
ampulla
V Laceration Massive disruption of pancreatic head 5

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat II

Kidney Injury Scale


Grade* Description AIS-
90
I Contusion Microscopic or gross hematuria 2
Hematoma Subcapsular, nonexpanding without parenchymal laceration 2
II Hematoma Nonexpanding perirenal hematoma confined to renal 2
retroperitoneum 2
Laceration <1 cm parenchymal depth of renal cortex without urinary
extravasation
III Laceration <1 cm parenchymal depth of renal cortex without collecting 3
system rupture or urinary extravasation
IV Laceration Parenchymal laceration extending through the renal cortex, 4
Vascular medulla, and collecting system 4
Main renal artery or vein injury with contained hemorrhage
V Laceration Completely shattered kidney 5
Vascular Avulsion of renal hilum which devascularizes kidney 5

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat III

Ureter Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Hematoma Contusion or hematoma without devascularization 2
II Laceration <50% transection 2
III Laceration >50% transection 3
IV Laceration Complete transection with <2 cm devascularization 3
V Laceration Avulsion with >2 cm devascularization 3

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat III
Bladder Injury Scale
Grade* Description AIS-90
I Hematoma Contusion, intramural hematoma 2
Laceration Partial thickness 3
II Laceration Extraperitoneal bladder wall laceration <2 cm 4
III Laceration Extraperitoneal (>2 cm) or intraperitoneal (<2 cm) bladder 4
wall laceration
IV Laceration Intraperitoneal bladder wall laceration >2 cm 4
V Laceration Intraperitoneal or extraperitoneal bladder wall laceration 4
extending into the bladder neck or ureteral orifice (trigone)

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat III
Urethra Injury Scale
Grade* Injury Type Description AIS-
90
I Contusion Blood at urethral meatus; urethrography normal 2
II Stretch Injury Elongation of urethra without extravasation on 2
urethrography
III Partial Extravasation of urethrography contrast at injury site with 2
Disruption contrast visualized in the bladder
IV Complete Extravasation of urethrography contrast at injury site 3
Disruption without contrast visualization in the bladder; <2 cm of
urethral separation
V Complete Complete transection with >2 cm urethral separation, or 4
Disruption extension into the prostate or vagina

* Dinaikkan satu tingkat untuk trauma multiple dengan batas tingkat III

Abdominal Vascular Injury Scale*


Grade† Description AIS-90
I Non-named SMA or SMV branches NS
Non-named IMA or IMV branches NS
Phrenic artery / vein NS
Lumbar artery / vein NS
Gonadal artery / vein NS
Ovarian artery / vein NS
Other non-named small arterial or venous structures requiring ligation NS
II Right, left, or common hepatic artery 3
Splenic artery/vein 3
Right or left gastric arteries 3
Gastroduodenal artery 3
IMA or IMV trunk 3
Primary named branches of mesenteric artery or vein 3
Other named abdominal vessels requiring ligation/repair 3

III SMV trunk 3


Renal artery/vein 3
Iliac artery vein 3
Hypogastric artery/vein 3
Vena cava, infrarenal 3
IV SMA trunk 3
Celiac axis proper 3
Vena cava, suprarenal and infrahepatic 3
Aorta, infrarenal 4
V Portal vein 3
Extraparenchymal hepatic vein 3/5
Vena cava, retrohepatic or suprahepatic 5
Aorta, suprarenal, subdiaphragmatic 4

*Sistem klasifikasi ini dapat digunakan untuk trauma vaskular extraparenkim. Jika trauma
vaskular berada 2 cm di dalam parenkim organ, gunakan skala yang spesifik terhadap trauma
organ tersebut

Chest Wall Injury Scale*


Grade† Injury Description AIS-
Type 90
I Contusion Any size 1
Laceration Skin and subcutaneous 1
Fracture <3 ribs, closed; nondisplaced clavicle closed 1-2
II Laceration Skin, subcutaneous and muscle 1
Fracture ≥3 adjacent ribs, closed 2-3
Open or displaced clavicle 2
Nondisplaced sternum, closed 2
Scapular body, open or closed 2

III Laceration Full thickness including pleural penetration 2


Fracture Open or displaced sternum, flail sternum 2
Unilateral flail segment (<3 ribs) 3-4
IV Laceration Avulsion of chest wall tissues with underlying rib 4
Fracture fractures 3-4
Unilateral flail chest (≥3 ribs)
V Fracture Bilateral flail chest (≥3 ribs on both sides) 5
* Skala ini digunakan khusus untuk dinding dada saja dan tidak menentukan trauma
intatorakal atau abdominal
† Untuk trauma multipel ditingkatkan satu tingkat dengan batas tingkat III

Extrahepatic Biliary Tree Injury Scale


Grade* Description AIS-90
I Gallbladder contusion/hematoma 2
Portal triad contusion/hematoma 2
II Partial gallbladder avulsion from liver bed; cystic duct intact 2
Laceration or perforation of the gallbladder 2
III Complete gallbladder avulsion from liver bed 3
Cystic duct laceration 2-3
IV Partial or complete right hepatic duct laceration 2-3
Partial or complete left hepatic duct laceration 2-3
Partial common hepatic duct laceration (<50%) 3
Partial common bile duct laceration (<50%) 3
V >50% transection of common hepatic duct 4
>50% transection of common bile duct 4

*Untuk trauma multipel ditingkatkan satu tingkat dengan batas tingkat III
Heart Injury Scale
Grade* Description AIS-
90
I Blunt cardiac injury with minor ECG abnormality (nonspecific ST or T 3
wave changes, premature atrial or ventricular contraction or persistent 3
sinus tachycardia)
Blunt or penetrating pericardial wound without cardiac injury, cardiac
tamponade, or cardiac herniation
II Blunt cardiac injury with heart block (right or left bundle branch, left 3
anterior fascicular, or atrioventricular) or ischemic changes (ST 3
depression or T wave inversion) without cardiac failure
Penetrating tangential myocardial wound up to, but not extending through,
endocardium, without tamponade
III Blunt cardiac injury with sustained (≥5 beats/min) or multifocal ventricular 3-4
contractions 3-4
Blunt or penetrating cardiac injury with septal rupture, pulmonary or 3-4
tricuspid valvular incompetence, papillary muscle dysfunction, or distal 3-4
coronary arterial occlusion without cardiac failure 3
Blunt pericardial laceration with cardiac herniation
Blunt cardiac injury with cardiac failure
Penetrating tangential myocardial wound up to, but not extending through,
endocardium, with tamponade
IV Blunt or penetrating cardiac injury with septal rupture, pulmonary or 3
tricuspid valvular incompetence, papillary muscle dysfunction, or distal 3
coronary arterial occlusion producing cardiac failure 5
Blunt or penetrating cardiac injury with aortic mitral valve incompetence
Blunt or penetrating cardiac injury of the right ventricle, right atrium, or
left atrium
V Blunt or penetrating cardiac injury with proximal coronary arterial 5
occlusion 5
Blunt or penetrating left ventricular perforation 5
Stellate wound with <50% tissue loss of the right ventricle, right atrium, or
left atrium

VI Blunt avulsion of the heart 6


Penetrating wound producing >50% tissue loss of a chamber 6
*Naikkan satu tingkat untuk trauma tusuk multipel pada satu kamar jantung atau trauma
yang melibatkan kamar jantung

Lung Injury Scale


Grade* Injury Type Description AIS-90
I Contusion Unilateral, <1 lobe 3
II Contusion Unilateral, single lobe 3
Laceration Simple pneumothorax 3
III Contusion Unilateral, >1 lobe 3
Laceration Persistent (>72 hrs), air leak from distal airway 3-4
Hematoma Nonexpanding intraparenchymal
IV Laceration Major (segmental or lobar) air leak 4-5
Hematoma Expanding intraparenchymal 3-5
Vascular Primary branch intrapulmonary vessel disruption
V Vascular Hilar vessel disruption 4
VI Vascular Total, uncontained transection of pulmonary hilum 4

*Naikkan satu tingkat untuk trauma multipel hingga tingkat III


Hemothorax dinilai oleh skala trauma vaskular thorax
Thoracic Vascular Injury Scale
Grade* Description AIS-90
I Intercostal artery/vein 2-3
Internal mammary artery/vein 2-3
Bronchial artery/vein 2-3
Esophageal artery/vein 2-3
Hemiazygos vein 2-3
Unnamed artery/vein 2-3

II Azygos vein 2-3


Internal jugular vein 2-3
Subclavian vein 3-4
Innominate vein 3-4
III Carotid artery 3-5
Innominate artery 3-4
Subclavian artery 3-4
IV Thoracic aorta, descending 4-5
Inferior vena cava (intrathoracic) 3-4
Pulmonary artery, primary intraparenchymal branch 3
Pulmonary vein, primary intraparenchymal branch 3
V Thoracic aorta, ascending and arch 5
Superior vena cava 3-4
Pulmonary artery, main trunk 4
Pulmonary vein, main trunk 4
VI Uncontained total transection of thoracic aorta or pulmonary hilum 5

*Naikkan satu tingkat untuk trauma tingkat III dan IV jika >50% keliling pembuluh
darah terkena trauma, serta kurangi satu tingkat untuk truma tingkat IV dan V jika
keliling pembuluh darah <25%.

Head and Neck

Description Region AIS

cerebral injury with headache or dizziness but no loss head and 1


of consciousness neck
whiplash complaint with no anatomical or radiological head and 1
evidence neck

abrasions and contusions of ocular apparatus (lids, head and 1


conjunctivae, cornea, uveal injuries) neck

vitreous or retinal hemorrhages head and 1


neck

fractures and/or dislocation of teeth head and 1


neck

cerebral injury with/without skull fracture, less than 15 head and 2


minutes unconsciousness, no post-traumatic amnesia neck

undisplaced skull or facial bone fractures or compound head and 2


fracture of nose neck

laceration of the eye and appendages head and 2


neck

retinal detachment head and 2


neck

disfiguring lacerations head and 2


neck

whiplash severe complaints with anatomical and head and 2


radiologic evidence neck

cerebral injury with or without skull fracture, with head and 3


unconsciousness more than 15 minutes, without severe neck
neurological signs, brief post-traumatic amnesia (less
than 3 hours)

displaced closed skull fracture without unconsciousness head and 3


or other signs of intracranial injury neck
loss of eye head and 3
neck

avulsion of optic nerve head and 3


neck

displaced facial bone fractures or those with antral or head and 3


orbital involvement neck

cervical spine fractures without cord damage head and 3


neck

cerebral injury with or without skull fracture with head and 4


unconsciousness of more than 15 minutes, with definite neck
abnormal neurological signs; post-traumatic amnesia 3-
12 hours

compound skull fracture head and 4


neck

cerebral injury with or without skull fracture with head and 5


unconsciousness of more than 24 hours; post-traumatic neck
amnesia more than 12 hours

intracranial hemorrhage head and 5


neck

signs of increased intra-cranial pressure (decreasing head and 5


state of consciousness, bradycardia under 60, neck
progressive rise in blood pressure, or progressive pupil
inequality)

cervical spine injury with quadraplegia head and 5


neck

major airway obstruction head and 5


neck