Anda di halaman 1dari 18

Format T-1

TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

D.2 Desain Balok Anak Pada Atap


D.2.1 Balok Anak Balok B3-C3
Balok anak ini merupakan representatif untuk balok anak B13-C13, B5-C5, dan B11-C11. Data
yang diberikan pada balok anak ini ialah sebagai berikut :
D.2.1.1. Data
Tinggi (h) = 200 mm
Lebar (b) = 150 mm
Mutu baja tulangan (fy) = 210 MPa
Mutu beton (fc’) = 30 Mpa
Jenis tulangan = Ulir
Diameter tulangan longitudinal = 16 mm
Diameter tulangan begel = 8 mm
Panjang balok = 2500 mm
Faktor reduksi (Ø) = 0.8

D.2.1.2 Pembebanan
1. Beban Mati
a. Beban mati dari pelat
 Berat spesifik plat beton bertulang [PPIUG 1983, Tabel 2.1, Hal.11] = 2400 kg/m3
Tebal pelat yang diasumsikan = 12 cm = 0,12 m
Berat pelat beton bertulang lantai 2 = 2400 x 0,12
= 288 kg/m2
= 288 kg/m2

2 3 5

2,50

3,00 2,00

Gambar D.2.1.1 Daerah Tributaris Balok B3-C3


Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

Karena daerah tributaris berbentuk trapesium dan segitiga, maka :


- Daerah Tributaris Trapesium
L1 = 0.50 m
L2 = 2.50 m
X1 = L2 – 0.5 L1
= 2.25 m
X2 = 0.5L2 - (1/3)L1
= 1.08 m
X3 = L2 - L1
= 2.00 m
X4 = 2X1L2 - X2L1 - X3
= 8.71 m
Qek-trap = QaX4(L1/(L22)
= 288 x 8.71 (0.50/2.502)
= 200.64 kg/m
- Daerah Tributaris Segitiga
1
Qek = 3 x Qd x L
1
= 3 x 288 x 2.5

= 240.00 kg/m

Karena terdapat 2 pelat balok anak, sehingga beban merata areal dari pelat yang
dikonversi menjadi beban merata linier adalah
Qd pelat = 200.64 + 240.00
= 440.64 kg/m

b. Beban mati linier sepanjang balok


Tinggi Balok = 0,20 m
Lebar Balok = 0,15 m
Berat balok = 2400 x 0,20 x 0,15
= 72.00 kg/m
Jadi, Qd total = Qd pelat + Berat balok
= 440.64 + 72.00
= 512.64 kg/m
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

2. Beban Hidup
Beban hidup pada atap (PPIUG 1983, pasal 3.2. (2), Hal. 13), yaitu : beban hidup pada atap
dan/atau bagian atap serta pada struktur tudung (canopy) yang dapat dicapai dan dibebani
oleh orang, harus diambil minimum sebesar 100 kg/m2 bidang datar.
Beban merata areal perlu dikonversi menjadi merata linier sesuai dengan daerah tributaris.
Karena daerah tributaris berbentuk trapesium dan segitiga, maka :
- Daerah Tributaris Trapesium
L1 = 0.50 m
L2 = 2.50 m
X1 = L2 – 0.5 L1
= 2.25 m
X2 = 0.5L2 - (1/3)L1
= 1.08 m
X3 = L2 - L1
= 2.00 m
X4 = 2X1L2 - X2L1 - X3
= 8.71 m
Qek-trap = QaX4(L1/(L22)
= 100 x 8.71 (0.50/2.502)
= 69.67 kg/m
- Daerah Tributaris Segitiga
1
Qek = 3 x Qd x L
1
= 3 x 100 x 2.5

= 83.33 kg/m
Karena terdapat dua daerah tributaries yang berasal dari 2 pelat sehingga beban
merata areal dari pelat dikonversi menjadi beban merata linier
QL pelat = 69.67 + 83.33
= 153.00 kg/m

D.2.1.3 Kombinasi Pembebanan


Beban di atas akan dihitung menurut kombinasi pembebanan yang dianjurkan dalam SNI-03-
2847-2002 yaitu pada BAB 11, pasal 11.2, sehingga kombinasi pembebanan adalah sebagai
berikut :
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

qu = 1.2 D + 1.6 L
qu = 1.2 (5512.64) + 1.6 (153.00) = 859.97 kg/m = 8.60 N/mm

D.2.1.4 Analisa Struktur


Berdasarkan pembebanan diatas, maka akan dianalisa struktur balok anak dengan
menggunakan perhitungan manual, seperti berikut :
1
Mu(+) = 24quL2
1
= (8.60)(2.52)
24

= 2.2395 kNm
1
Mu(-) = 12quL2
1
= 12(8.60)(2.52)

= 4.4790 kNm
1
Vu = 2quL
1
= 2(8.60)(2.5)

= 10.7496 kN
A. Perhitungan Untuk Tulangan Longitudinal
Penulangan Arah Momen Positif
1. Titik berat tulangan tarik ke tepi serat beton tarik, ds.
ds1= ds= Sb + diameter tulangan begel +½ diameter tulangan longitudinal
= 40 + 8 + 16/2 = 56 mm ≈ 60 mm
2. Tinggi efektif penampang balok, d
d = h – ds= 200 – 60 = 140 mm
3. Jumlah tulangan maksimal per baris, m
𝑏−2×𝑑𝑠1 150−2 𝑥 60
𝑚= +1= + 1 = 1.73 ≈ 1 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔
𝐷+𝑆𝑛 16+25

4. Faktor momen pikul maksimal, Kmaks


Dengan fc’= 30 MPa dan fy= 210 MPa, maka Kmaks dapat dihitung sebagai berikut:
382,5. 𝛽1 . 𝑓𝑐′ (600 + 𝑓𝑦 − 225. 𝛽1 )
𝐾𝑚𝑎𝑘𝑠 = 2
(600 + 𝑓𝑦 )
Karena fc’ = 30 MPa, maka faktor β1= 0.85

382.5(0.85)(30)(600+210−225(0.85))
Kmaks = = 9.198 𝑀𝑃𝑎
(600+210)2
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

5. Faktor rasio tulangan


Dengan fc’= 30 MPa < 31,36 MPa dan fy= 210 MPa, maka rasio tulangan minimum dapat
dihitung
1.4 1.4
ρmin= = 210 = 0.0067
𝑓𝑦

a. Mu(+) = 2.2395 kNm = 2.2395 x 106 Nmm


Momen pikul, K :
𝑀𝑢 (+) 2.2395 x 106
𝐾= = = 0.95217 𝑀𝑃𝑎
Ф. 𝑏. 𝑑2 0.8(150)(140)2
Nilai K ≤ Kmaks → 0.95217 MPa ≤ 9.198 MPa, maka perhitungan tulangan
longitudinal digunakan tulangan tunggal.
Tinggi blok tegangan beton tekan persegi ekivalen, a :

2. 𝐾 2(0.95217)
𝑎 = (1 − √1 − ) . 𝑑 = (1 − √1 − ) 140
0,85. 𝑓𝑐 ′ 0.85(30)

= 5.32901 𝑚𝑚

Luas tulangan perlu, As,u


0,85.𝑓𝑐′ .𝑎.𝑏 0.85(30)(5.33)(150)
As= = = 97.0624 𝑚𝑚2
𝑓𝑦 210

As min= ρmin.b.d = ( 0.0067)(150)(140) = 140.70 𝑚𝑚2

Dipakai luas tulangan perlu (As,u) yang terbesar antara As dan Asmin, sehingga
As,u = 140.70 mm2

Jumlah tulangan, n
𝐴𝑠,𝑢 140.70
n= 1 = = 0.70 ≈ 1 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
.𝜋.𝐷 2 0.25(3.14)(16)2
4

maka digunakan
Tulangan tarik As= 1D16= 200.96 mm2 ≥ As,u = 140.00 mm2 (OK)
Tulangan tekan As’= 2D16= 401.92 mm2 (ditambahkan untuk ikatan tulangan geser).

Penulangan Arah Momen Negatif


1. Titik berat tulangan tarik ke tepi serat beton tarik, ds.
ds1= ds= Sb + diameter tulangan begel +½ diameter tulangan longitudinal
= 40 + 8 + 16/2 = 56 mm ≈ 60 mm
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

2. Tinggi efektif penampang balok, d


d = h – ds= 200– 60 = 140 mm
3. Jumlah tulangan maksimal per baris, m
𝑏−2×𝑑𝑠1 150−2 𝑥 60
𝑚= +1= + 1 = 1.73 ≈ 1 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔
𝐷+𝑆𝑛 16+25

4. Faktor momen pikul maksimal, Kmaks


Dengan fc’= 30 MPa dan fy= 210 MPa, maka Kmaks dapat dihitung sebagai berikut:
382,5. 𝛽1 . 𝑓𝑐′ (600 + 𝑓𝑦 − 225. 𝛽1 )
𝐾𝑚𝑎𝑘𝑠 = 2
(600 + 𝑓𝑦 )
Karena fc’ = 30 MPa, maka factor β1= 0.85
382.5(0.85)(30)(600 + 210 − 225(0.85))
𝐾𝑚𝑎𝑘𝑠 = = 9.198 𝑀𝑃𝑎
(600 + 210)2
5. Faktor rasio tulangan
Dengan fc’= 30 MPa < 31,36 MPa dan fy= 210 MPa, maka rasio tulangan minimum dapat
dihitung
1.4 1.4
ρmin= = 210 = 0.0067
𝑓𝑦

b. Mu(-) = 4.4790 kNm = 4.4790 x 106 Nmm


Momen pikul, K :
𝑀𝑢 (−) 4.4790 x 106
𝐾= = = 1.90434 𝑀𝑃𝑎
Ф. 𝑏. 𝑑 2 0.8(150)(140)2
Nilai K ≤ Kmaks → 1.90434 MPa ≤ 9.198 MPa, maka perhitungan tulangan
longitudinal digunakan tulangan tunggal.
Tinggi blok tegangan beton tekan persegi ekivalen, a :

2. 𝐾 2(1.904)
𝑎 = (1 − √1 − ) . 𝑑 = (1 − √1 − ) 140
0,85. 𝑓𝑐 ′ 0.85(30)

= 10.8778 𝑚𝑚
Luas tulangan perlu, As,u
0,85.𝑓𝑐′ .𝑎.𝑏 0.85(30)(10.88)(150)
As= = = 198.131 𝑚𝑚2
𝑓𝑦 210

1.4
As min= ρmin.b.d = 210 (150)(140) = 140.70 𝑚𝑚2

Dipakai luas tulangan perlu (As,u) yang terbesar antara As dan Asmin, sehingga
As,u = 198.131 mm2
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

Jumlah tulangan, n
𝐴𝑠,𝑢 198.131
n= 1 = 0.25(3.14)(16)2 = 0.99 ≈ 1 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
.𝜋.𝐷 2
4

maka digunakan
Tulangan tarik As= 1D16= 200.96 mm2 ≥ As,u = 140.00 mm2 (OK)
Tulangan tekan As’= 2D16= 401.92 mm2 (ditambahkan untuk ikatan tulangan
geser).

B. Perhitungan Untuk Tulangan Geser


Untuk perencanaan tulangan geser, dipakai nilai Vu maksimum untuk angka amannya.
Nilai Vu = 10.7496 kN
Pada daerah lapangan (M+)
Nilai Ф Vc :
Ф = 0,75
1 1
Vc = 6 √𝑓𝑐 ′. 𝑏. 𝑑 = 6 √30. 150.140 = 19170.29 𝑁 = 19.17 𝑘𝑁
1 1
ФVc= Ф 6 √𝑓𝑐 ′. 𝑏. 𝑑 = 0.75 6 √30. 150.140 = 14,38 𝑘𝑁

ФVc/2 = 14,38 /2 = 7,19 kN

Karena ФVc/2 < Vu < ФVc → 7,19 < 10.7496 < 14,38 maka perlu begel minimal per meter
panjang balok (Av,u) yang besar:

75√𝑓 ′ 𝑐.𝑏.𝑆
Av,u = 1200 𝑓𝑦

75√30.150.1000
= 1200 (210)

= 244.52 mm2
𝑏.𝑆
Av,u = 3 𝑓𝑦
150.1000
= 3 𝑥 210

= 238.10 mm2
Maka dipakai Av,u = 244.52 mm2
Begel yang akan digunakan adalah begel dengan jumlah kaki (n)= 2 dan diameter (dp)= 6
mm.
Dengan Spasi begel, s :
1
𝑛 𝜋∅2 𝑆
4
s = Av,u
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

1
2. .𝜋.82 .1000
4
s = 244.52

s = 410.929 mm
𝑑 140
Spasi begel yaitu s = 2 = = 70 𝑚𝑚
2

Spasi begel yang dipakai adalah s = 70 mm


1
𝑛. .𝜋.𝑑𝑝2 .𝑆
Av,u = 4
= 100.53 mm2
𝑠

Jadi dipakai tulangan begel Ø8 –70= 100.53 mm2

C. Perhitungan tulangan torsi


Balok memikul beban dari pelat dalam 2 bidang dengan tributaris yang berbeda
mengakibatkan timbulnya momen puntir, beban pelat yang mengakibatkan momen puntir
pada balok dapat dilihat pada gambar di bawah ini

2 3 5

2,50

3,00 2,00

Bentuk tributaris trapezium dan segitiga


tseg = 2500/2 = 1250 mm
ttrap = 1000 mm
Lseg = 2500 mm
Luas bidang pelat
1
Aseg =3xPxL
1
= 3 x 1250 x 2500

= 1041667 mm2
= 1.04 m2
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

1
Titik berat bidang segitiga = xt
3
1
= 3 x 1250

= 416.667 mm
= 0.42 m
1
Atrapesium = 2 x (jumlah sisi sejajar x tinggi)
1
= 2 x (3000 x 1000)

= 1500000.00 mm2
= 1.50 m2
Titik berat bidang trapesium = (1/3 L.s x t + 1/2 L.p x t)/L.s+L.p
= [1/3(2500 x 1250) + 1/2(2500 x 1250)]/2500 + 2500
= 520.833 mm
= 0.52 m
Sehingga besarnya momen punter yang terjadi pada balok dapat dihitung dengan beban
pelat dikalikan dengan jarak pusat titik berat pelat terhadap balok.
Dari perhitungan sebelumnya diketahui:
Qd = 288 kg/m2
Ql = 100 kg/m2
Beban diatas akan dihitung menurut kombinasi pembebanan yang dianjurkan dalam SNI-
03-2847-2002.
Persamaan () = 1,2 D + 1,6 L
= 1.2 (288) + 1.6(100)
= 505.60 kg/m2
Sehingga besarnya beban yang membebani balok
F = Luas daerah tributaris x qu
= 1.50 x 505.60
= 758.40 kg
= 7584.00 N = 7.58 kN
Resultan gaya tersebut dikalikan dengan titik berat tributaris pelat sehingga menjadi
momen torsi
Titik berat tributaris pelat = 0.52 m
Tu = F x Ltitik berat = 7.58 x 0.52
Sehingga besar momen puntir akibat pelat
Tu = 3.95 kNm
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

Untuk perencanaan
Momen punter ditahan oleh 2 tumpuan balok, sehingga nilai Tu
Tu = 3.95/2 = 1.98 kNm
Vu = 10.75 kN
Kontrol dimensi balok terhadap punter
A0h(luas batas daerah begel terluar) = (b-2.sb)(h-2.sb)
= (150-2(40))(200-2(40))
= 8400 mm2
ρh(keliling batas begel terluar) = 2((b-2.Sb)+(h-2.Sb))
= 2((150-2(40)))+((200-2(40)))
= 380 mm
Untuk penampang solid
2 2 2√𝑓′𝑐
√( 𝑉𝑢 ) + ( 𝑇𝑢.𝜌ℎ ) ≤ Փ.( 𝑉𝑐 + )
𝑏.𝑑 1,7 𝐴² 0ℎ 𝑏.𝑑 3

2 6 2
√( 10749.60 ) + (1.98 𝑥 10 𝑥 380
2 ) ≤ 0.75.(
19170.29
+
2√30
)
150 𝑥 140 1,7 𝑥 8400 150 𝑥 140 3

= 5.49473 > 3.4233, tidak memenuhi syarat


Tn = Tu/ Փ
= 1.98 x106/ 0.75
= 2633333.33 Nmm
= 2.63 x 106 Nmm
Kontrol momen
0,75 √30 300002
Tu > ( )
12 700

Acp = Luas penampang bruto = b.h = 150 x 200


= 30000 mm²
ρcp = Keliling penampang bruto = 2(b+h) = 2(150+200)
= 700 mm
0,75 √30 300002
1.98 < ( )
12 700

1.98 > 0.441, Maka perlu tulangan torsi


Begel Torsi
A0 = 0.85 A0h = 0.85 (8400)
= 7140 mm2
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

- Luas begel torsi permeter


𝐴𝑣𝑡 𝑇𝑛 2633333.33
= 2.𝐴 = 2(7140)(210) cot 45˚
𝑆 0 .𝑓𝑦𝑣 .𝑐𝑜𝑡𝛳

= 0.8781 mm
𝑇𝑛.𝑆 2633333.33 𝑥 1000
Avt = 2.𝐴 = 2(7140)(210) cot 45˚
0 .𝑓𝑦𝑣 .𝑐𝑜𝑡𝛳

= 878.129 mm2
- Luas begel geser permeter, Avs
1
𝑛. .𝜋.𝑑𝑝2 .𝑆
4
Avs =
𝑠
1
2. (3.14)(8)2 (1000)
4
= 70

= 1435.43 mm2
Kontrol total luas begel geser dan torsi
𝑏.𝑆
Avt + Avs ≥ 3.𝑓𝑦
200 𝑥 1000
878.13 + 1435.43 ≥ 3 𝑥 210
2
1435.43 mm > 317.46 mm2
𝑏.𝑆
Karena nilai Avt + Avs > , maka memenuhi syarat
3.𝑓𝑦

Jarak begel total, s


1
𝑛. .𝜋.𝑑𝑝2 .𝑆
4
s = 𝐴𝑣𝑡+𝐴𝑣𝑠
1
2. (3.14)(82 )(1000)
4
= 878.13+1435.43

= 43.4309 mm
atau
s = ρh/8
= 380/8
= 47.50 mm < 300 mm, memenuhi syarat
Digunakan jarak terkecil, s = 43.43 mm, dipakai s = 40 mm
Jadi digunakan begel torsi = Ø8-40 mm.

Tulangan Lentur Torsi


𝐴𝑣𝑡 𝑓𝑦𝑣
At = 𝑠
ρh ( 𝑓𝑦𝑙 ) cot2ϴ
878.129 210
= 380 (210) cot245
1000

= 333.689 mm2
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

Tulangan Lentur, Ast


D16 = 200.96 mm2
2D16 = 401.92 mm2
Kontrol luas tulangan longitudinal lentur
At + Ast = 333.69 +602.88
= 936.569 mm2
𝐴𝑣𝑡 𝑏
- ( ) > (6.𝑓𝑦𝑣)
𝑠
878.129 200
( ) > ( )
1000 6(210)

0.87813 > 0.15873, memenuhi syarat

Jumlah tulangan torsi


𝐴𝑡
n = 0.25𝜋𝐷2
333.69
= 0.25(3.14)(16)2

= 1.66 ≈ 2 tulangan

D.2.1.5. Limit State


1. Kondisi Tulangan
a. Momen Negatif
Tulangan tarik
Jumlah tulangan,n = 1 tulangan
Luas tulangan, As = 1(1/4. π.D2) = 1(0.25(3.14)(162))= 200.96 mm2
Tulangan tekan
Jumlah tulangan,n = 2 tulangan
Luas tulangan, As’ = 2(1/4. π.D2) = 2(0.25(3.14)(162))= 401.92 mm2

o Kondisi tulangan tekan


(𝐴𝑠 − 𝐴𝑠 ′). 𝑓𝑦 (201.062 − 402.124)210
𝑎= = = −11.039 𝑚𝑚
0,85. 𝑓𝑐′ . 𝑏 0,85(30)(150)
dd’= ds’= 60 mm
600. 𝛽1 . 𝑑𝑑 ′ 600(0.85)(60)
𝑎min 𝑙𝑒𝑙𝑒ℎ = = = 78.50 𝑚𝑚
600 − 𝑓𝑦 600 − 210
a < amin leleh → −11.039 mm < 78.50 mm, tulangan tekan belum leleh, nilai a
dikoreksi sebagai berikut:
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

600. 𝐴′𝑠 − 𝐴𝑠. 𝑓𝑦 600(402,124) − 201.062(210)


𝑝= = = 26.02 𝑚𝑚
1,7. 𝑓𝑐′ . 𝑏 1,7(30)(150)
600. 𝛽1 . 𝑑𝑠′ . 𝐴′𝑠 600(0.85)(60)(402,124)
𝑞= = = 3216.99 𝑚𝑚
0,85. 𝑓𝑐′ . 𝑏 0,85(30)(150)
Maka

𝑎 = (√𝑝2 + 𝑞) − 𝑝 = (√(26.022 ) + 3216.99 ) − (26.02) = 36.38 𝑚𝑚

a < amin leleh ; Tulangan tekan belum leleh, hal ini dikarenakan tegangan tekan yang
bekerja sangat kecil jadi seharusnya tidak perlu dipasang tulangan tekan namun untuk
penempatan begel maka tulangan tekan dipasang sebanyak 2 buah.
o Kondisi tulangan tarik
dd= h -d = 200 – 60 = 140 mm
600. 𝛽1 . 𝑑𝑑 600(0.85)(140)
𝑎𝑚𝑎𝑘𝑠 𝑙𝑒𝑙𝑒ℎ = = = 88.1481 𝑚𝑚
600 + 𝑓𝑦 600 + 210
a ≤ amaks leleh → 36.38 mm ≤ 88.1481 mm
Maka semua tulangan tarik sudah leleh (ukuran balok cukup)

b. Momen Positif
Tulangan tarik
Jumlah tulangan,n = 1 tulangan
Luas tulangan, As = 1(1/4. π.D2) = 1(0.25(3.14)(162))= 200.96 mm2
Tulangan tekan
Jumlah tulangan,n = 2 tulangan
Luas tulangan, As’ = 2(1/4. π.D2) = 2(0.25(3.14)(162))= 401.92 mm2

o Kondisi tulangan tekan


(𝐴𝑠 − 𝐴𝑠 ′). 𝑓𝑦 (201.062 − 402.124)210
𝑎= = = −11.039 𝑚𝑚
0,85. 𝑓𝑐′ . 𝑏 0,85(30)(150)

dd’= ds’= Sb + diameter tulangan begel + ½ diameter tulangan longitudinal


= 40 + 8 + 16/2 = 56 mm ≈ 60 mm
600. 𝛽1 . 𝑑𝑑 ′ 600(0.85)(60)
𝑎min 𝑙𝑒𝑙𝑒ℎ = = = 78.46 𝑚𝑚
600 − 𝑓𝑦 600 − 210
a < amin leleh → −11.039 mm < 78.46 mm, tulangan tekan belum leleh, nilai a
dikoreksi sebagai berikut:
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

600. 𝐴′𝑠 − 𝐴𝑠. 𝑓𝑦 600(402,12) − 201.062(210)


𝑝= = = 26.02 𝑚𝑚
1,7. 𝑓𝑐′ . 𝑏 1,7(30)(150)
600. 𝛽1 . 𝑑𝑠′ . 𝐴′𝑠 600(0.85)(60)(402,12)
𝑞= = = 3216.96 𝑚𝑚
0,85. 𝑓𝑐′ . 𝑏 0,85(30)(150)
Maka

𝑎 = (√𝑝2 + 𝑞) − 𝑝 = (√26.022 + 3216.96) − 26.02 = 36.38 𝑚𝑚

o Kondisi tulangan tarik


dd= h-d = 200 – 60 = 140 mm
600. 𝛽1 . 𝑑𝑑 600(0.85)(140)
𝑎𝑚𝑎𝑘𝑠 𝑙𝑒𝑙𝑒ℎ = = = 88.1481 𝑚𝑚
600 + 𝑓𝑦 600 + 210

a ≤ amaks leleh → 36.38 mm ≤ 88.1481 mm


Maka semua tulangan tarik sudah leleh (ukuran balok cukup).

2. Terhadap Momen
 Momen Positif
 Momen nominal yang disambungkan dengan menggunakan tulangan baja :
𝑎 − 𝛽1 . 𝑑𝑠′ 36.38 − 0.85(60)
𝑓 ′𝑠 = 𝑥600 = 𝑥 600
𝑎 36.38
= - 241.19 (dipakai fs’= 0 MPa)
Karena fs’= 0 MPa, maka Mns= 0 MPa
 Momen nominal yang disumbangkan oleh beton :
𝑎 36.38
𝑀𝑛𝑐 = 0,85. 𝑓𝑐′ . 𝑎. 𝑏 (𝑑 − ) = 0,85(30)(36.38)(150)(140 − )
2 2
= 16.951 kNm
Maka momen nominal
Mn = Mns+Mnc = 0 + 16.951 = 16.951 kNm
 Momen Rencana
Mr= ФMn = 0.8(16.951) = 13.56 kNm ≥ Mu = 2.2395 kNm (memenuhi syarat)

 Momen Negatif
 Momen nominal yang disambungkan dengan menggunakan tulangan baja :
𝑎 − 𝛽1 . 𝑑𝑠′ 36.38 − 0.85(60)
𝑓 ′𝑠 = 𝑥600 = 𝑥 600
𝑎 36.38
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

= - 241.12 (dipakai fs’= 0 MPa)


Karena fs’= 0 MPa, maka Mns= 0 MPa
 Momen nominal yang disumbangkan oleh beton :
𝑎 36.38
𝑀𝑛𝑐 = 0,85. 𝑓𝑐′ . 𝑎. 𝑏 (𝑑 − ) = 0,85(30)(36.38)(150)(140 − )
2 2
= 16.951 kNm
Maka momen nominal
Mn = Mns+Mnc = 0 + 16.951 = 16.951 kNm
 Momen Rencana
Mr= ФMn = 0.8(16.951) = 13.56 kNm ≥ Mu = 4.4790 kNm (memenuhi syarat)
3. Terhadap Regangan Beton
 Momen Positif
Ƹy = fy/Es
Dengan Es = 200000, maka
Ƹy = 210/200000= 0,0011
𝑎 36.38
Ƹ′𝑐 = 𝑥 Ƹ𝑦 = 𝑥 0.0011 = 0.0005 ≤ Ƹ′𝑐𝑢 = 0.003 (𝑂𝐾)
𝛽1 . 𝑑 − 𝑎 0.85(140) − 36.38

 Momen Negatif
Ƹy = fy/Es
Dengan Es = 200000, maka
Ƹy = 210/200000= 0,0011
𝑎 36.38
Ƹ′𝑐 = 𝑥 Ƹ𝑦 = 𝑥 0.0011 = 0.0005 ≤ Ƹ′𝑐𝑢 = 0.003 (𝑂𝐾)
𝛽1 . 𝑑 − 𝑎 0.85(140) − 36.38
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

D.2.1.6 Rekapitulasi Hasil Desain


Momen
Jenis tulangan
Positif Negatif
1D16 = 1D16 =
Tulangan Tarik
200.96 mm2 200.96 mm2
Tulangan
2D16= 2D16=
Longitudinal Tulangan Tekan
401.92 mm2 401.92 mm2
Tulangan Torsi 2D16 = 401.92 mm2
Begel Ø8 − 70 mm
Tulangan Geser
Begel Torsi Ø8 − 40 mm

Karena terdapat 2 begel pada tulangan geser, maka digunakan jarak begel terkecil yaitu
jarak begel torsi yaitu Ø8 − 40 mm.

o Pemutusan
Tulangan Tarik
Jumlah tulangan,n = 1 tulangan
Luas tulangan, As’ = 1(1/4. π.D2) = 1(0.25(3.14)(162))= 200.96 mm2
Tulangan Tekan
Jumlah tulangan,n = 2 tulangan
Luas tulangan, As’ = 2(1/4. π.D2) = 2(0.25(3.14)(162))= 401.92 mm2

Dari hasil hitung di atas, maka momen rencana yang terjadi jika jumlah tulangan tarik di
kurangi adalah sebesar Mr= 13.56 kNm. Ternyata momen rencana ini lebih besar dari
momen negatif maksimum yang terjadi yaitu sebesar Mu= 4.4790 kNm, maka tulangan
tidak perlu diputus sehingga hanya akan dihitung panjang penyaluran tulangan ld.
Untuk tulangan tarik pada daerah lapangan akan di hitung panjang penyalurannya mulai
dari tengah bentang menuju ke daerah tumpuan.

Panjang penyaluran Pada Momen Negatif


 dalam kondisi tarik, ld
Tulangan pada daerah tumpuan yang menjorok ke daerah lapangan dan tumpuan ada yang
diputus, sehingga dihitung panjang penyaluran tulangan tarik ld. Selain itu, karena
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

digunakan tulangan pokok D16 (<D19), maka dipakai rumus ld dari pasal 14.2, table 11
pada SNI-03-2847-2002, yaitu
12.𝑓𝑦 .𝛼.𝛽.𝜆
ld = 𝑑𝑏
25√𝑓𝑐′

dengan :
α = 1,3 (jarak bersih tulangan atas dan bawah >300 mm)
β = 1,0 (tulangan tidak dilapisi)
λ = 1,0 (beton normal)

12(210)(1,3)(1,0)(1,0)
ld = 𝑥 16 = 382.792 > 300 𝑚𝑚 (𝑂𝐾)
25√30

panjang penyaluran yang menuju ke kolom melebihi dimensi kolom, yaitu 150 mm,
maka akan di kurangi dengan mengalikan panjang penyaluran ld diatas dengan
factor tulangan lebih yaitu
As perlu/As terpasang = 198.13 mm2/200.96 mm2
= 0.9859 mm
Sehingga
ld = 382.792 mm (0.9859) = 377.40 mm ≈ 400 mm

 dalam kondisi tekan, ld

Tulangan pada tekan yang menuju ke arah kolom juga akan dihitung panjang penyaluran
menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 14.3 yaitu
𝑙𝑑 = 𝑙𝑑𝑏 𝑥𝑓1 𝑥 𝑓2
𝑑𝑏 . 𝑓𝑦
𝑙𝑑𝑏 = > 0,04. 𝑑𝑏 . 𝑓𝑦
(4√𝑓𝑐′ )
16(210)
= (4√30)
> 0,04(16)(210)

= 153.362 𝑚𝑚 > 134.4 𝑚𝑚 (𝑂𝐾)


 Pembengkokan kait

Tulangan Tarik akan dibengkokkan pada ujungnya dengan bengkokan yang bersudut 1800,
maka berlaku Pasal 9.1.1 dengan perpanjangan pada ujung bebas kait sebesar:
4db = 4(16) = 64mm > 60 mm (OK)
Karena tulangan tarik mempunyai diameter 16 mm (D16), maka jari-jari bengkokan
r = 4.db= 4(16) = 64 mm (untuk diameter tulangan 10 mm-25 mm)
Format T-1
TUGAS Perencanaan Beton Semester Ganjil 2017 - 2018 Kelompok: I A

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana, KUPANG Halaman: dari halaman

Untuk tulangan tarik pada balok sebelah kiri akan dibengkokkan pada ujungnya dengan
bengkokan yang bersudut 900, maka berlaku Pasal 9.1.2 dengan perpanjangan pada ujung
bebas kait sebesar:
12db = 12(16) = 192 mm
Karena tulangan tarik mempunyai diameter 16 mm (D16), maka jari-jari bengkokan,
r = 4.db= 4(16)= 64 mm (untuk diameter tulangan 10 mm-25 mm)

o Panjang penyaluran Pada Momen Positif


 dalam kondisi tarik, ld
Tulangan dihitung panjang penyaluran tulangan tarik ld. Selain itu, karena digunakan
tulangan pokok D16 (< D19), maka dipakai rumus ld dari pasal 14.2, table 11 pada SNI-03-
2847-2002, yaitu
12.𝑓𝑦 .𝛼.𝛽.𝜆
ld = 𝑑𝑏
25√𝑓𝑐′

dengan :
α = 1,3 (jarak bersih tulangan atas dan bawah >300 mm)
β = 1,0 (tulangan tidak dilapisi)
λ = 1,0 (beton normal)

12(210)(1,3)(1,0)(1,0)
ld = 𝑥 16 = 382.79 > 300 𝑚𝑚 (𝑂𝐾)
25√30

 Pembengkokan kait
Untuk tulangan tarikakan dibengkokkan pada ujungnya dengan bengkokan yang bersudut
1800, maka berlaku Pasal 9.1.1 dengan perpanjangan pada ujung bebas kait sebesar:

4db = 4(16) = 64 mm> 60 mm (OK)


Karena tulangan tarik mempunyai diameter 16 mm (D16), maka jari-jari bengkokan,
r= 4.db= 4(16)= 64 mm (untuk diameter tulangan 10 mm-25 mm).