Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LEUKOSIT
Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik yang
berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari
sistem kekebalan tubuh. Leukosit adalah sel heterogen yang memiliki fungsi yang sangat
beragam. Walaupun demikian sel sel ini berasal dari suatu sel bakal (stem cell) yang
berdifferensiasi (mengalami pematangan) sehingga fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan.
Maturasi / hematopoesis dari sel leukosit adalah sebagai berikut :
Nilai normal :
Bayi baru lahir 9000 -30.000 /mm3
Bayi/anak 9000 - 12.000/mm3
Dewasa 4000-10.000/mm3
Berdasarkan granulasi sitoplasmanya, leukosit dibedakan menjadi granuler meliputi
Basofil, Eosinofil, dan Neutrofil serta agranuler meliputi Limfosit dan Monosit. Peningkatan
jumlah leukosit (disebut Leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut,
misalnya pneumonia (radang paru-paru), meningitis (radang selaput otak), apendiksitis
(radang usus buntu), tuberculosis, tonsilitis, dan lain-Iain. Selain itu juga dapat disebabkan
oleh obat-obatan misalnya aspirin, antibiotika terutama ampicilin, eritromycin, kanamycin,
streptomycin, dan Iain-Iain. Penurunan jumlah Leukosit (disebut Leukopeni) dapat terjadi
pada infeksi tertentu terutama virus, malaria, alkoholik, dan Iain-Iain. Selain itu juga dapat
disebabkan obat-obatan, terutama asetaminofen (parasetamol), kemoterapi kanker,
antidiabetika oral, dan antibiotika (penicillin, cephalosporin).

Fungsi umum leukosit sebagai berikut:

a. Defensif yaitu mempertahankan tubuh dari benda benda asing yng dilakukan oleh
neutofil dan monosit.
b. Reparatif yaitu memperbaiki jaringan yang rusak yang dilakukan oleh basofil.
Fungsi khusus leukosit sebagai berikut:

a. Neutrofil berperan dalam fagositosis.


b. Eosinofil berperan dalam respon terhadap penyakit parasit dan penyakit alergi.
c. Basofil berperan dalam mengeluarkan histamin, heparin dan dilepaskan setelah
pengikatan IgE ke reseptor permukaan, berperan penting pada reaksi hipersensitivitas
segera.
d. Limfosit berperan dalam pertahanan tubuh lewat sel ( sel B sel T) sel B
memperantarai imunitas humoral. Sel T memperantarai imunitas seluler.
e. Monosit berperan dalam fagositosis ekstravaskuler.

Sifat-sifat leukosit sebagai berikut:

a. Kemoktaksis yaitu tertarik pada daerah yang mengeluarkan zat kimia tertentu.
b. Amoeboid motion yaitu dapat bergerak seperti amoeba.
c. Diapedesis yaitu dapat melewati membran kapiler sehingga dapat melewati pembuluh
darah dengan mengerutkan sel nya.
d. Fagositosis yaitu menghancurkan benda benda asing yang masuk ke dalam tubuh
yang dilakukan oleh neutrofil dan monosit.

Kelainan kuantitatif leukosit meliputi:

a. Leukositosis yaitu jumlah leukosit lebih dari normal.

 Fisiologik pada latihan jasmani berat akhir kehamilan (terutama 2 bulan terakhir),
waktu partus / melahirkan, neonates, idiopathic normal.
 Kenaikan jumlah neutrofil pada keadaan patologik seperti pada infeksi kerusakan
jaringan (crush syndrome, neoplasma, luka bakar,keracunan CO dan Pb, kelainan
metaboli (eklampsia, Gout, ketosis diabetes, syndroma cushing).

b. Leukopenia yaitu jumlah leukosit kurang dari normal (granulosit berkurang)

 Agranulositosis , neutropenia karena obat.


 Depresi sumsum tulang pada anemia aplastik, osteosklerosis, mielofibrosis, infiltrasi
neoplasma.
 Iradiasi.
 Keracunan oleh zat benzene, urethan , Au, dll.
 Obat-obat sitostatika (myleran, mercaptopurin), dll.
 Infeksi oleh bakteri (thypus abdominalis, parathypus, brucellosis), virus (influenza,
campak, rubella, hepatitis), rickettsia (thypus, scrub thypus), protozoa (malaria),
infeksi berat (TBC miller,osteomyelitis berat, septicemia.
 Benda imun (PAP).
 Defisiensi.

c. Reaksi leukemoid
merupakan produksi berlebihan sel leukosit kadang kadang bertambahnya sel
muda baik di darah perifer maupun di sumsum tulang. Biasanya jumlah leukosit lebih dari
30.000 sel /ul darah atau kurang dari jumlah tersebut tetapi ada sel muda. Keadaan ini perlu
dibedakan dari leukemia. Penyebabnya adalah infeksi (pneumoni, TBC miller) tumor
(limfoma hodgin) penyakit lain (reaksi hipersensitivitas, luka bakar, metaplasia myeloid,
reaksi hemolitik).
Shift to the left (terjadi bila sel yang didapat lebih banyak granulosit muda batang
dan mieolosit) pada infeksi, toksemia, perdarahan akut. Shift to the right (hipersegmentasi)
terjadi pada penyakit hati, anemia megaloblastik herediter.

2.2 HITUNG JELIS SEL LEUKOSIT

Hitung jenis leukosit adalah penghitungan jenis leukosit yang ada dalam darah
berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh jumlah leukosit. Untuk mendapatkan
jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit
total (sel/µl). Sebagai contohnya, dengan limfosit 30% dan leukosit 10.000, limfosit mutlak
adalah 30% dari 10.000 atau 3.000. Hasil pemeriksaan ini dapat menggambarkan secara
spesifik kejadian dan proses penyakit dalam tubuh, terutama penyakit infeksi. Tipe leukosit
yang dihitung ada 5 yaitu basofil, eosinofil, neutrofil, monosit, dan limfosit.
Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah yang
diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah mikroskop
dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel darah putih
dinyatakan dalam persen (%).
BAB III
METODELOGI

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hitung jenis leukosit adalah:


 Pilihlah sediaan yang cukup tipis dengan persebaran leukosit yang merata.
 Mulailah menghitung pada pinggir atas sediaan dan berpindahlah ke arah pinggir
bawah sediaan dan setelah itu geser ke kanan kemudiaan ke arah pinggir atas lagi.
Sesampai di pinggir atas geser ke kanan lagi kemudian ke arah pinggir bawah.
 Lakukan pengerjaan itu sampai 100 sel leukosit terhitung menurut jenisnya.
 Selain menghitung, catatlah adanya kelainan morfologi pada leukosit.
 Hendaknya pelaporan jumlah leukosit sesuai urutan yang pasti dimulai dari sel
basofil, eosinofil, neutrofil menurut stadiumnya, limfosit dan terakhir monosit.

Alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan hitung jenis leukosit sebagai berikut:
1. Obyek glass.
2. Spreader.
3. Rak pengecatan.
4. Mikroskop.
5. Darah vena + antikoagulan EDTA atau darah segar (kapiler/vena, segera dibuat
apusan dan dicat).

Cara kerja hitung jenis leukosit sebagai berikut:


A. Cara membuat sediaan apus darah tepi (SADT).
 Pilihlah kaca obyek yang bertepi betul-betul rata untuk digunakan sebgai "kaca
penghapus" atau boleh digunakan "spreader".
 Letakkan satu tetes kecil darah pada +- 2-3 MM dari ujung kaca objek di depan tetes
darah.
 Tarik spreader ke belakang sehingga menyentuh tetes darah, tunggu sampai darah
menyebar pada sudut tersebut.
 Dengan gerak yang mantap doronglah spreader sehingga terbentuk apusan darah
sepanjang 3-4 cm pada kaca objek. Darah harus habis sebelum spreader mencapai
ujung lain dari kaca objek.
 Hapusan darah tidak boleh terlalu tipis atau terlalu teba;( ketebalan ini dapat diatur
dengan menggunakan sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan menggeser.
Makin besar sudut atau makin cepat menggeser, makin tipis apusan darah yang
dihasilkan).
 Biarkan apusan darah mengering di udara.
 Tulis identitas pada bagian preparat tebal ( bagian kepala).

Ciri sediaan yang baik sebagai berikut:


 Sediaan tidak melebar samoa tepi kaca objek. Panjang 1/2 - 2/3 panjang objek glass.
 Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa. Pada bagian ini eritrosit terletak
berdekatan tidak bertumpukan atau menggumpal atau membentuk Roleaux.
 Pinggir sediaan rata dan tidak berlubang-lubang/bergaris-garis.
 Penyebaran leukosit baik tidak berkumpul pada pinggir atau tepi sediaan.

Jika lebih dari 24 jam penundaan maka sel akan mengalami lisis, vakuolisasi,
degranulasi, hipersegmentasi inti dan karioreksis. Efek antikoagulan EDTA:
 bila jumlah yang dipakai kurang maka darah membeku.
 bila jumlah pemakaian berlebih maka akan mempengaruhi morfologi leukosit.

3.1 Basofil
Basofil adalah jenis leukosit yang terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang seperti
asma, alergi kulit, dan lain-lain. Nilai normal dalam tubuh: 0 - 1%. Sel ini jarang ditemukan
dalam darah tepi normal. Sel ini mempunyai banyak granula sitoplasma yang gelap menutup
inti serta mengandung heparin dan histamin. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan
melepaskan histamin dari granulanya. Di dalam jaringan basofil berubah menjadi sel mast
basofil mrmpunyai tempat perlekatan immunoglobulin E (IgE) dan degranulasinya disertai
dengan pelepasan histamin. Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi
dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan.

Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil lebih dari 100/µl darah.
Peningkatan basofil terdapat pada proses inflamasi(radang), leukemia, dan fase penyembuhan
infeksi. Penurunan basofil terjadi pada penderita stress, reaksi hipersensitivitas (alergi), dan
kehamilan.

3.2 Eosinofil
Eosinofil merupakan jenis leukosit yang terlibat dalam alergi dan infeksi (terutama
parasit) dalam tubuh. Nilai normal dalam tubuh: 1 - 3%. Sel ini mirip dengan neutrofil
kecuali granula sitoplasmanya lebih kasar, lebih berwarana merah tua, jarang dijumpai lebih
dari 3 lobus inti. Sel ini memasuki eksudat inflamatorik dan berperan khusus dalam respon
alergi, pertahanan terhadap parasit, dan pembuangan fibrin yang terbentuk selama inflamasi.
Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil lebih dari 300/µl darah.
Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi, infeksi parasit. Histamin yang dilepaskan
pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil.
Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, dan kanker tulang, otak, testis,
dan ovarium.
Eosinopenia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil kurang dari 50/µl darah.
Hal ini dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi
berat, juga dapat terjadi pada hiperfungsi koreks adrenal dan pengobatan dengan
kortikosteroid. Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan
basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah
basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam klinik. Pada
hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil maupun eosinofil.

3.3 Neutrofil
Neutrofil merupakan sel yang paling cepat bereaksi terhadap radang dan luka
dibanding leukosit yang lain dan merupakan pertahanan selama fase infeksi akut. Sel ini
mempunyai inti padat khas yang terdiri atas 2-5 lobus dan sitoplasma yang pucat dengan
batas tida beraturan, mengandung banyak granula merah-biru (azurofilik) atau kelabu - biru.
Granula terbagi menjadi granula primer yang muncul pada stadium promielosit, dan sekunder
yang muncul pada stadium mielosit dan terbanyak pada neutrofil matang. Nilai normal dalam
tubuh adalah 1 – 5% untuk neutrofil batang dan 50 – 70% untuk neutrofil segmen.
Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil lebih dari 7000/µl dalam
darah tepi. Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam
berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah dan radang
Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti penyebab
infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan pengobatan. Pada anak-anak
netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Rangsangan yang menimbulkan
netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya granulosit muda ke peredaran darah dan keadaan
ini disebut pergeseran ke kiri atau shift to the left. Infeksi tanpa netrofilia atau dengan
netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau
respons penderita yang kurang. Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda
degenerasi, yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap
yang disebut granulasi toksik.
Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari 2500/µl darah.
Penyebab netropenia dapat disebabkan karena pemindahan netrofil dari peredaran darah
misalnya umur netrofil yang memendek karena penggunaan obat, gangguan pembentukan
netrofil yang dapat terjadi akibat radiasi atau obat-obatan dan yang terakhir yang tidak
diketahui penyebabnya. Penurunan jumlah neutrofil terdapat pada infeksi virus, leukemia,
anemia defisiensi besi, dan Iain-Iain.

3.4 Limfosit
Limfosit adalah jenis leukosit agranuler dimana sel ini berukuran kecil dan
sitoplasmanya sedikit. Salah satu leukosit yang berperan dalam proses kekebalan dan
pembentukan antibodi. Nilai normal: 20 - 40% dari seluruh leukosit. Limfosit adalah sel
yang kompeten secara imunologik dan membantu fagosit dalam petahanan tubuh terhadap
infeksi dan invasi asing lain. Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai
tiga jenis limfosit, yaitu:
a. Sel B.
Berfungsi membuat antbodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya (sel B
tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen tetapi setelah adanya serangan,
beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai
layanan sistem 'memori').
b. Sel T = CD+4 (pembantu)
Berfungsi mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV)
serta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD+8 (sitotoksik) dapat membunuh sel
yang terinfeksi virus
Sel natural killer = sel pembunuh alami (NK, Natural Killer) dapat membunuh sel
tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibinuh karena telah terinfeksi
virus atau telah menjadi kanker.
Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit lebih
dari 8000/µl pada bayi dan anak-anak serta lebih dari 4000/µl darah pada dewasa.
Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa;
infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti
leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer.
Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari 1000/µl dan
pada anak-anak kurang dari 3000/µl darah. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit
yang menurun yang disebabkan oleh kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis.

3.5 Monosit
Monosit merupakan salah satu leukosit yang berinti besar dengan ukuran 2x lebih
besar dari eritrosit sel darah merah, terbesar dalam sirkulasi darah dan diproduksi di jaringan
limpatik. Nilai normal dalam tubuh: 2 - 8% dari jumlah seluruh leukosit. biasanya berukuran
lebih besar dari leukosit darah tepi lainnya dan mempunyai inti sentral berbentuk lonjong
atau berlekuk dengan kromatin yang menggumpal. Sitoplasmanya yang banyak berwarna
biru dan mengandung banyak vakuola halus sehingga memberikan gambaran kaca asah
(ground-glass-apperance). Granula sitoplasma juga sering d-glass-apperance. granula
sitoplasma juga sering dijumpai. Monosit membagi fungsi 'pembersih vakum' (fagositosis)
dari neutrofil tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas tambahan yaitu memberikan potongan
patogen kepada sel T sehingga patogen tersebut dapat dihafal dan dibunuh atau dapat
membuat tanggapan antibodi untuk menjaga.
Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit lebih dari 750/µl pada anak
dan lebih dari 800/µl darah pada orang dewasa. Monositosis dijumpai pada beberapa penyakit
infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun jamur. Penurunan monosit terdapat pada
leukemia limposit dan anemia aplastik.
BAB III
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik yang
berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari
sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan granulasi sitoplasmanya, leukosit dibedakan menjadi
granuler meliputi Basofil, Eosinofil, dan Neutrofil serta agranuler meliputi Limfosit dan
Monosit.
Hitung jenis leukosit adalah penghitungan jenis leukosit yang ada dalam darah
berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh jumlah leukosit.