Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Untuk menjaga kesehatan masyarakat memang sangat penting , namun sebelum untuk
kesehatan masyarakat sebaiknya anda juga bisa menjaga kesehatan diri sendiri yang akan
terapkan terhadap lingkungan anda.

Dengan adanya teknologi tepat guna akan memberikan perubahan yang lebih baik terhadap
kesehatan masyarakat, dari melihat definisi teknologi tepat guna ialah suatu rancangan
khusus untuk semua agar mendapat skala aspek meliputi kebudayaan, sosial, politik,
ekonomi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat.

Dalam metode ini akan menggunakan teknologi yang tepat guna, mudah perawatan, hemat
sumber daya, dan ramah lingkungan. Selain itu juga dalam teknologi tepat guna untuk
kesehatan masyarakat tersebut akan menyesuaikan kondisi yang ada dalam masyarakat
tersebut.

Dalam penerapan teknologi tepat guna ini mengacu pada bidang kebidanan.
Pengetahuan ketrampilan yang berguna untuk meneliti teknologi kebidanan yang
menggunakan teknologi tepat guna yang lebih aplikatif dan inovatif yang ditujukan langsung
kepada masyarakat sesuai dengan lingkungan masyarakat ttersebut yang bertujuan untuk
upaya intervensi yang berguna dalam mengurangi resiko masalah kesehatan anak dan ibu.
Teknologi tepat guna yang akan diterapkan terhadap kesehatan masyarakat dengan
ketrampilan kebidanan ialah sebagai berikut :

1. Meneliti kesehatan dan mengklarifikasi penyakit yang ada dalam tubuh ibu dan anak.
2. Memberikan pelayanan dan pengolahan terhadap ibu hamil, nifas, bayi kebalitaan KB
dan laktasi.
3. Melakukan pertolongan terhadap ibu hamil dan bayi di pilindes dan rumah.
4. Selalu aktif dan tetap mengelola pondok bersalin desa
5. Melakukan sebuah sosialisasi terhadap masyrakat agar mengerti tentang upaya-upaya
KIA
6. Melakukan pengidentifikasi atau pemantauan KIA menggunakan PWS KIA
7. Melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap dukun bayi agar lebih modern dalam
penanganan persalinan.
8. Memberikan obat yang tepat untuk kesehatan ibu dan anak.

Di dalam asuahan kebidanan juga ada manajemen, dalam manajemen ini aka nada suatu
upata pendekatan dengan kerangka piker yang akan menjadi suatu alat kebidanan dalam
menerapkan sebuah metode pemecahan masalah dengan cara sistematis yang meliputi dari
analisis data, pengumpulan data, diagnose kebidanan, dan evaluasi serta pelakasanan yang
baik. Seorang bidan yang memiliki tugas sebagai peningkat kemampuan dan ketrampilan
agar meningkatnya mutu dan hasil yang lebih baik serta aman bagi pasien.

Dengan adanya permasalahan yang di alami oleh masyarakat maka akan memberikan
pengarruh perkembangan yang akan lebih di tingkatkan untuk mendapat hasil yang lebih baik
dan efisen. Dengan adanya teknologi tepat guna untuk kebidanan tersebut akan membantu
kinerja bidan lebih baik dan meningkatkan kesehatan warga sekitar. Penerapan teknologi
tepat guna dalam pelayanan kebidanan sanat penting dan memang perlu dikembangkan oleh
semua klinik yang ada di lingkungan masyarakat tersebut.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknologi Tepat Guna

Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan


bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Teknologi tepat guna adalah suatu alat
yang sesuai dengan kebutuhan dan dapat berguna serta sesuai dengan fungsinya.
Secara teknis TTG merupakan jembatan antara teknologi tradisional dan teknologi maju.
Oleh karena itu aspek-aspek sosio-kultural dan ekonomi juga merupakan dimensi yang harus
diperhitungkan dalam mengelola TTG. Dari tujuan yang dikehendaki, teknologi tepat guna
haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif
minimalis dibandingkan dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya bermisi banyak
limbah dan mencemari lingkungan.

B. Fungsi teknologi tepat guna


1. Alat kesehatan yang digunakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
2. Biaya yang digunakan cukup rendah dan relatif murah.
3. Teknis cukup sederhana dan mampu untuk dipelihara.
4. Mengurangi kesalahan dalam mendiagnosis suatu penyakit
C. Manfaat teknologi tepat guna
1.Teknologi tepat guna mampu meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat.
2.Teknologi tepat guna dapat mempermudah dan mempersingkat waktu pekerjaan tenaga
kesehatan dan klien
3.Masyarakat mampu mempelajari, menerapkan, memelihara teknologi tepat guna tersebut
4.Masyarakat / klien bisa lebih cepat ditangani oleh tenaga kesehatan
5.Hasil diagnosa akan lebih akurat, cepat, dan tepat

D. Dampak teknologi Tepat guna dalam kebidanan


a.Dampak positif sebagai berikut:
1. Dengan adanya teknologi tepat guna dalam kebidanan, maka masyarakat akan mendapat
kemudahan dalam menjaga kesehatan yang lebih efisien dan efektif.
2. Teknologi yang ada, dapat membuat kegiatan khususnya di dalam kebidanan akan lebih
sederhana dan mudah

b. Dampak negatif sebagai berikut :


1.Jika penggunaannya teknologi tepat guna tidak sesuai dengan lingkup yang memerlukan
maka itu akan sia-sia. Contoh penggunaan USG di daerah pedalaman, disana tidak orang yang
mengelolanya dan tidak sesuai dengan kebudayaan masyarakat disana.
2. Dengan ketidaktepatan penggunaan alat tersebut maka akan berdampak buruk terhadap
pasien. Contoh : penggunaan USG pada pasien dengan cara-cara yang tidak tepat.
3.Penggunaan teknologi pada daerah pedalaman pedalaman dengan tenaga yang tidak ahli akan
menimbulkan resiko terhadap pasien.

E. Penggunaan Teknologi tepat guna Kebidanan dalam kehamilan

1. Fetal Doppler
Fetal Doppler adalah alat untuk deteksi detak jantung janin di dalam kandungan sang
ibu. Fetal doppler menggunakan prinsip pantulan gelombang elektromagnetik,

Gunanya untuk memeriksa apakah sang janin tumbuh dengan normal untuk mengetahui
kondisi kesehatan janin dengan ditandai adanya denyut jantungnya. Umumnya teknik yang
digunakan untuk deteksi detak jantung janin adalah dengan ultrasound (frekuensi 2 MHz).
Tujuan :
Untuk mengetahui detak jantung normal atau tidak, dan Untuk menunjukkan adanya
perbedaan frekuensi bunyi yang diterima oleh pendengar dan yang dikeluarkan oleh sumber
bunyi.
Langkah-langkah dalam menggunakan fetal doppler yaitu:
1. Baringkan ibu hamil dengan posisi terlentang dan kaki lurus
2. Lakukan pemeriksaan leopold untuk menentukan pungung janin
3. Pastikan posisi punggung janin sudah di temukan setelah ituberi jell pada fetal doppler yang
akan di gunakan
4. Tempelkan doppler pada perut ibu hamil sesuai dengan posisi punggung janin
5. Hitung detak jantung janin
-Dengar detak jantung janin selama 1 menit penuh
- beri penjelasan pada pasien hasil pemeriksaan detak jantung janin
6. jika pada pemeriksaan detak jantung janin tidak terdengar ataupun tidak ada pergerakan
janin maka pasien di berikan penjelasan dan pasien di rujuk Ke RS. Normalnya, denyut
jantung janin usia 6 minggu adalah 90 hingga 110 denyut per menit (dpm) sedangkan pada usia
9 minggu ke atas berkisar antara 140 dpm dengan variasi normal 20 dpm di atas atau di bawah
nilai rata-rata tersebut. Jadi, nilai normal denyut jantung bayi berkisar antara 120 hingga 160
dpm. HR pada janin normalnya memang jauh lebih cepat dibanding HR orang dewasa atau
bahkan anak-anak. Ditambah lagi bahwa perkembangan jantung janin itu telah cukup
fungsional setelah mencapai umur kehamilan kurang lebih 12minggu.

Bila pada usia kehamilan 5 hingga 8 minggu terjadi perlambatan denyut jantung (kurang dari
90 denyut per menit)

2. Lingkar Lengan Ibu Hamil

adalah tanda yang digunakan untuk mempermudah menidentifikasi bayi dan bundanya, pada
umumnya dipakaikkan pada bayi dan bundanya di rumah sakit bersalin. pita LILA sepanjang
33 cm, atau meteran kain dengan ketelitian 1 desimal (0,1 cm).

ukuran LILA berkaitan erat dengan berat badan ibu selama hamil mulai trimester I sampai
trimester III. Kelebihannya jika dibandingkan dengan ukuran berat badan, ukuran LILA lebih
menggambarkan keadaan atau status gizi ibuhamil sendiri. Seperti kita tahu, berat badan
selama kehamilan merupakan berat badan komulatif antara pertambahan berat organ tubuh
dan volume darah ibu serta berat janin yang dikandungnya. Kita tidak tahu pasti apakah
pertambahan berat badan ibu selama hamil itu berasal dari pertambahan berat badan ibu,janin
ataukeduanya.
Selain itu, pembengkakan (oedema) yang biasa dialami ibu hamil, jarang mengenai lengan atas.
Ini juga yang menyebabkan pengkuran LILA lebih baik untuk menilai status gizi ibuhamil
ketimbang berat badan.
Pengukuran LILA dapat digunakan untuk deteksi dini dan menapis risiko bayi dengan berat
badan lahir rendah (BBLR). Setelah melalui penelitian khusus untuk perempuan
Indonesia, diperoleh standar LILA sebagai berikut:
• Jika LILA kurang dari 23,5 cm: status gizi ibuhamil kurang, misalnya kemungkinan
mengalami KEK (Kurang Energi Kronis) atau anemia kronis, dan berisiko lebih tinggi
melahirkan bayi BBLR.
• Jika LILA sama atau lebih dari 23,5 cm: berarti status gizi ibuhamil baik, dan risiko
melahirkan bayi BBLR lebih rendah.

3. USG ( ultrasonografi)

Ultrasonografi (USG) merupakan suatu prosedur diagnosis yang digunakan untuk melihat
struktur jaringan tubuh atau analisis dari gelombang Doppler, yang pemeriksaannya dilakukan
diatas permukaan kulit atau diatas rongga tubuh untuk menghasilkan suatu ultrasound didalam
jaringan.
TAK ADA RADIASI
Pemeriksaan USG merupakan pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada ibu hamil.
Sebelum ada alat ini, denyut jantung janin baru dapat didengar pada usia kehamilan 16-18
minggu. Sementara dengan USG, pada usia kehamilan 6-7 minggu sudah dapat dideteksi.
USG juga dapat mendeteksi kelainan-kelainan bawaan di usia kehamilan yang lebih awal.
PEMERIKSAAN USG BERTUJUAN UNTUK :
1. Konfirmasi kehamilan
2. Mengetahui usia kehamilan
3. Menilai pertumbuhandan perkembangan janin
4. Ancaman keguguran
5. Masalah dengan plasenta
6. Kehamilan ganda/kembar
7. Mengukur cairan ketuban
8. Kelainan letak janin
9. Mengetahui jenin kelamin janin
CARA PEMERIKSAAN
Pemeriksaan USG dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. Pervaginam
- Memasukkan probe USG transvaginal/seperti melakukan pemeriksaan dalam.
- Dilakukan pada kehamilan di bawah 8 minggu.
- Lebih mudah dan ibu tidak perlu menahan kencing.
- Lebih jelas karena bisa lebih dekat pada rahim.
- Daya tembusnya 8-10 cm dengan resolusi tinggi.
- Tidak menyebabkan keguguran.

2. Perabdominan
- Probe USG di atas perut.
- Biasa dilakukan pada kehamilan lebih dari 12 minggu.
- Karena dari atas perut maka daya tembusnya akan melewati otot perut, lemak baru
menembus rahim.
JENIS PEMERIKSAAN USG
1. USG 2 Dimensi
Menampilkan gambar dua bidang (memanjang dan melintang). Kualitas gambar yang baik
sebagian besar keadaan janin dapat ditampilkan.

2. USG 3 Dimensi
Dengan alat USG ini maka ada tambahan 1 bidang gambar lagi yang disebut koronal.
Gambar yang tampil mirip seperti aslinya. Permukaan suatu benda (dalam hal ini tubuh janin)
dapat dilihat dengan jelas. Begitupun keadaan janin dari posisi yang berbeda. Ini
dimungkinkan karena gambarnya dapat diputar (bukan janinnya yang diputar).

3. USG 4 Dimensi
Sebetulnya USG 4 Dimensi ini hanya istilah untuk USG 3 dimensi yang dapat bergerak (live
3D). Kalau gambar yang diambil dari USG 3 Dimensi statis, sementara pada USG 4 Dimensi,
gambar janinnya dapat “bergerak”. Jadi pasien dapat melihat lebih jelas dan membayangkan
keadaan janin di dalam rahim.

4. USG Doppler
Pemeriksaan USG yang mengutamakan pengukuran aliran darah terutama aliran tali pusat.
Alat ini digunakan untuk menilai keadaan/kesejahteraan janin. Penilaian kesejahteraan janin
ini meliputi:

- Gerak napas janin (minimal 2x/10 menit).


- Tonus (gerak janin).
- Indeks cairan ketuban (normalnya 10-20 cm).
- Doppler arteri umbilikalis.
- Reaktivitas denyut jantung janin.
SAAT TEPAT PEMERIKSAAN
Pemeriksaan dengan USG wajib semasa kehamilan sebetulnya hanya dua kali, yaitu:
* Saat pertama kali pemeriksaan kehamilan (usia kehamilan berapa pun namun biasanya pada
usia kehamilan 10-12 minggu). Pemeriksaan ini dilakukan sebagai skrining awal. Gambaran
janin yang masih sekitar 8 cm akan terlihat tampil secara utuh pada layar monitor.
* Usia kehamilan 20-24 minggu sebagai skrining lengkap. Setelah usia kehamilan lebih dari
12 minggu gambaran janin pada layar monitor akan terlihat sebagian-sebagian/tidak secara
utuh. Karena alat scan USG punya area yang terbatas, sementara ukuran besar janin sudah
bertambah atau lebih dari 8 cm. Jadi, untuk melihat kondisi janin dapat per bagian, misalnya
detail muka, detail jantung, detail kaki dan sebagainya.
Selain itu, penggunaan alat USG dapat dilakukan atas dasar indikasi yakni:
* Pemeriksaan USG serial untuk mengukur pertumbuhan berat badan janin.
* Bila perlu pada usia kehamilan 38-42 minggu untuk melihat bagaimana posisi bayi apakah
melintang, kepala turun, dan lainnya
MANFAAT
Trimester I
- Memastikan hamil atau tidak.
- Mengetahui keadaan janin, lokasi hamil, jumlah janin dan tanda kehidupannya.
- Mengetahui keadaan rahim dan organ sekitarnya.
- Melakukan penapisan awal dengan mengukur ketebalan selaput lendir, denyut janin, dan
sebagainya.

Trimester II:
- Melakukan penapisan secara menyeluruh.
- Menentukan lokasi plasenta.
- Mengukur panjang serviks.
Trimester III:
- Menilai kesejahteraan janin.
- Mengukur biometri janin untuk taksiran berat badan.
- Melihat posisi janin dan tali pusat.
- Menilai keadaan plasenta.

TAK 100% AKURAT untuk menggunakan USG


Perlu diketahui, akurasi/ketepatan pemeriksaan USG tidak 100%, melainkan 80%. Artinya,
kemungkinan ada kelainan bawaan/kecacatan pada janin yang tidak terdeteksi atau
interpretasi kelamin janin yang tidak tepat.
Hal ini dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
-Keahlian/kompetensi dokter yang memeriksanya.
-Tak semua dokter ahli kandungan dapat dengan baik mengoperasikan alat USG. Sebenarnya
untuk pengoperasian alat ini diperlukan sertifikat tersendiri.
-Posisi bayi
Posisi bayi seperti tengkurap atau meringkuk juga menyulitkan daya jangkau/daya tembus
alat USG. Meski dengan menggunakan USG 3 atau 4 Dimensi sekalipun, tetap ada
keterbatasan.
-Kehamilan kembar
Kondisi hamil kembar juga menyulitkan alat USG melihat masing-masing keadaan bayi
secara detail.
-Ketajaman/resolusi alat USG-nya kurang baik.
- Usia kehamilan di bawah 20 minggu.
- Air ketuban sedikit.
- Lokasi kelainan, seperti tumor di daerah perut janin saat usia kehamilan di bawah 20
minggu agak sulit dideteksi
4.CTG ( Cardiotokografi)

CTG merupakan suatu alat untuk mengetahui kesejahteraan janin di dalam rahim,
dengan merekam pola denyut jantung janin dan hubungannya dengan gerakan janin atau
kontraks rahim.
Jadi bila doppler hanya menghasilkan DJJ maka pada CTG kontraksi ibu juga terekam
dan kemudian dilihat perubahan DJJ pada saat kontraksi dan diluar kontraksi. Bila terdapat
perlambatan maka itu menandakan adanya gawat janin akibat fungsi plasenta yang sudah tidak
baik. Yang dinilai adalah gambaran denyut jantung janin (djj) dalam hubungannya
dengan gerakan atau aktivitas janin. Pada janin sehat yang bergerak aktif dapat dilihat
peningkatan frekuensi denyut jantung janin. Sebaliknya, bila janin kurang baik, pergerakan
bayi tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi denyut jantung janin.
Jika pemeriksaan menunjukkan hasil yang meragukan, hendaknya diulangi dalam
waktu 24 jam. Atau dilanjutkan dengan pemeriksaan CST (Contraction Stress Test). Bayi yang
tidak bereaksi belum tentu dalam bahaya, walau begitu pengujian lebih lanjut mungkin
diperlukan.
Indikasi
Pemeriksaan Cardiotokografi biasanya dilakukan pada kehamilan resiko tinggi, dan
indikasinya terdiri dari :
1. IBU
a) Pre-eklampsia-eklampsia
b) Ketuban pecah
c) Diabetes mellitus
d) Kehamilan > 40 minggu
e) Vitium cordis
f) Asthma bronkhiale
g) Inkompatibilitas Rhesus atau ABO
h) Infeksi TORCH
i) Bekas SC
j) Induksi atau akselerasi persalinan
k) Persalinan preterm.
l) Hipotensi.
m) Perdarahan antepartum.
n) Ibu perokok.
o) Ibu berusia lanjut.
p) Lain-lain : sickle cell, penyakit kolagen, anemia, penyakit ginjal, penyakit paru, penyakit
jantung, dan penyakit tiroid.
2. JANIN
a) Pertumbuhan janin terhambat (PJT)
b) Gerakan janin berkurang
c) Suspek lilitan tali pusat
d) Aritmia, bradikardi, atau takikardi janin
e) Hidrops fetalis
f) Kelainan presentasi, termasuk pasca versi luar.
g) Mekoneum dalam cairan ketuban
h) Riwayat lahir mati
i) Kehamilan ganda
j) Dan lain-lain

Syarat Pemeriksaan Cardiotokografi


1. Usia kehamilan > 28 minggu.
2. Ada persetujuan tindak medik dari pasien (secara lisan).
3. Punktum maksimum denyut jantung janin (DJJ) diketahui.
4. Prosedur pemasangan alat dan pengisian data pada komputer
(pada Cardiotokografi terkomputerisasi) sesuai buku petunjuk dari pabrik.
Kontra Indikasi Cardiotokografi
Sampai saat ini belum ditemukan kontra-indikasi pemeriksaan Cardiotokografi terhadap ibu
maupun janin.
Cara Melakukan
Persiapan tes tanpa kontraksi :
Sebaiknya pemeriksaan dilakukan pagi hari 2 jam setelah sarapan dan tidak boleh diberikan
sedativa.
Prosedur pelaksanaan :

1. Pasien ditidurkan secara santai semi fowler 45 derajat miring ke kiri


2. Tekanan darah diukur setiap 10 menit
3. Dipasang kardio dan tokodinamometer
4. Frekuensi jantung janin dicatat
5. Selama 10 menit pertama supaya dicatat data dasar bunyi
6. Pemantauan tidak boleh kurang dari 30 menit
7. Bila pasien dalam keadaan puasa dan hasil pemantauan selama 30 menit tidak reaktif,
pasien diberi larutan 100 gram gula oral dan dilakukan pemeriksaan ulang 2 jam kemudian
(sebaiknya pemeriksaan dilakukan pagi hari setelah 2 jam sarapan)
8. Pemeriksaan NST ulangan dilakukan berdasarkan pertimbangan hasil NST secara
individual

Cara Membaca
Pembacaan hasil :
1. Reaktif, bila :
a) Denyut jantung basal antara 120-160 kali per menit
b) Variabilitas denyut jantung 6 atau lebih per menit
c) Gerakan janin terutama gerakan multipel dan berjumlah 5 gerakan atau lebih dalam 20
menit
d) Reaksi denyut jantung terutama akselerasi pola ”omega” pada NST yang reaktif berarti
janin dalam keadaan sehat, pemeriksaan diulang 1 minggu kemudian
e) Pada pasien diabetes melitus tipe IDDM pemeriksaan NST diulang tiap hari, tipe yang
lain diulang setiap minggu

2. Tidak reaktif, bila :


a) Denyut jantung basal 120-160 kali per menit
b) Variabilitas kurang dari 6 denyut /menit
c) Gerak janin tidak ada atau kurang dari 5 gerakan dalam 20 menit
d) Tidak ada akselerasi denyut jantung janin meskipun diberikan rangsangan dari luar

Antara hasil yang reaktif dan tidak reaktif ini ada bentuk antar yaitu kurang reaktif.
Keadaan ini interpretasinya sukar, dapat diakibatkan karena pemakaian obat seperti : barbiturat,
demerol, penotiasid dan metildopa.
Pada keadaan kurang reaktif dan pasien tidak menggunakan obat-obatan dianjurkan
CTG diulang keesokan harinya. Bila reaktivitas tidak membaik dilakukan pemeriksaan tes
dengan kontraksi (OCT).

5.Funduscope
Funduscope adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi/mendengarkan denyut jantung
janin. Alat ini fungsi hampir sama dengan Stetoskop

Cara menggunakan funduscope ini yaitu


 Letakan funduscope di atas abdomen ibu hamil ,
 Lalu dengarkan apakah terdengeran suara denyut jantung ibu