Anda di halaman 1dari 9

Nama : Yesicha Prasetianingtyas

NPM : 1843700308
Kelas : Sore A

Kasus : 14. Apoteker pegawai negeri sipil di Balai POM juga berperan sebagai Apoteker Pengelola Apotek Swasta
Kata Kunci : pegawai negeri sipil BPOM, APA
Pelanggaran hukum (Undang-Undang, dan Peraturan Pemerintah), Etika, dan Disipilin

Per-UU- Butir / Isi yang dilanggar Sanksi Jika Melaggar Upaya Pencegahan
an/PDAI/ KEAI
yang dilanggar

Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun Per.Ka.BPOM No. 3 Tahun 2017  Pegawai ASN BPOM
2009TentangPekerjaan Kefarmasian Tentang Kode Etik Dan Kode seharusnya mengikuti
Pasal 18 Perilaku Aparatur Sipil dan bertanggungjawab
SIPA dan SIKA hanya diberikan 1 tempat
Negarabadan Pengawas Obat Dan atas peran yang
fasilitas kefarmasian. Makanan Pasal 26: berlaku dan peraturan
Pasal 20 (1)Pegawai ASN yang melakukan yang sudah dibentuk
Dalam menjalankan Pekerjaan Kefarmasian
pelanggaran Kode Etik danKode dan mengikuti
pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian,
Perilakudijatuhi sanksi moral. peraturan
Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker(2)Pelanggaran Kode Etik dan Kode  Sebelum terjadinya
Pendamping dan/ atau Tenaga Teknis Perilaku terdiri atas: a.pelanggaran peluang pelanggaran
Per-UU-an Kefarmasian. ringan, jika pelanggaran Kode Etik terkait apabila
Pasal 21 dan Kode Perilaku yang dilakukan pengajuan kembali
(1). Dalam menjalankan praktek
berdampak pada unit kerja; menjadi APA
kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
b.pelanggaran sedang, jika diterima, sebaiknya
Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan
pelanggaran Kode Etik dan Kode apoteker perlu
standar pelayanan kefarmasian. Perilaku yang dilakukan berdampak pemahaman tentang
(2). Penyerahan dan Pelayanan Obat berdasarkan
pada BadanPengawas Obat dan Permenkes 889 tahun
resep dokter dilaksanakan oleh Apoteker.
Makanan;dan/atau 2011. Karena, tidak
c.pelanggaran berat, jika ada alasan bagi
Keputusan Menteri Kesehatan Republik pelanggaran Kode Etik dan Kode apoteker tidak tahu
Indonesia Nomor 1332/Menkes/SK/X/2002 Perilaku yang dilakukan berdampak peraturan
tentang Perubahan Atas Peraturan pada Negara. perundangan terkait
Menteri Kesehatan RI No dengan kefarmasian
922/Menkes/Per/X/1993TentangKetentuan khususnya peraturan
dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotik mengenai SIPA
sebagai penanggung
Identifikasi : Bahwa pegawai negeri sipil jawab yang hanya
bpom melanggar dalam berpern sebagai dapat digunakan di
apoteker pengelola apotek satu tempat.
 Apoteker memahami
dan mengetahui
sanksi-sanksi yang
akan diterima dari
pelanggaran
 Apoteker harus
menghindarkan diri
dari konflik yang
dapat merusak
pekerjaan profesi.
 Calon Apoteker diberi
bekal mengenai
hukum profesi
kefarmasian
 Apoteker menjalankan
tugasnya tidak hanya
azas mencari
keuntungan pribadi
tetapi memahami dan
mengimplementasikan
lafal sumpah dalam
amanahnya.
Pedoman Disiplin Apoteker Bab IV tentang  Pemberian peringatan tertulis;
Bentuk Pelanggaran Disiplin Apoteker Butir  Rekomendasi pembekuan
ke 1 berbunyi, Melakukan praktik dan/atau pencabutan Surat Tanda
kefarmasian dengan tidak kompeten. Registrasi
Apoteker, atau Surat Izin Praktik
Identifikasi : bahwa pegawai negeri sipil Apoteker, atau Surat Izin Kerja
BPOM tidak kompeten karena berperan Apoteker;
dalma 2 pekerjaan dan tidak displin dalam dan/atau
peraturan yang dibuat, maka dapat  Kewajiban mengikuti pendidikan
menyebabkan terbengkalainya tanggung atau pelatihan di institusi
jawab ditempat apoteker penangung jawab pendidikan apoteker.
PDAI atau apoteker pengelola apotek di tempat Rekomendasi pencabutan Surat
apotek tersebut bekerja. Jika secara terus Tanda Registrasi atau Surat Izin
menerus APA tsb tidak hadir dapat dicabut Praktik yang dimaksud dapat
izinnya. berupa:
1. Rekomendasi pencabutan Surat
Tanda Registrasi atau Surat Izin
Praktik sementara selama-
lamanya 1 (satu) tahun, atau
2. Rekomendasi pencabutan Surat
Tanda Registrasi atau Surat Izin
Praktik tetap atau selamanya.

Berdasarkan Kode Etik Apoteker Indonesia  Apabila Apoteker melakukan


dan Implementasi Kode Etik tahun 2009, pelanggaran kode etik
BAB I Kewajiban Umum Pasal 5 berbunyi: apoteker, yang bersangkutan
Di dalam menjalankan tugasnya setiap dikenakan sanksi organisasi.
Apoteker/Farmasis harus menjauhkan diri Sanksi dapat berupa
KEAI
dari usaha mencari keuntungan diri semata pembinaan, peringatan, pen-
yang bertentangan dengan martabat dan cabutan keanggotaan
tradisi luhur jabatan kefarmasian. sementara, atau pencabutan
Pasal 3 keanggotaan tetap. Apoteker
Apoteker harus senantiasa menjalankan melanggar atau tidak
profesinya sesuai kompetensi Apoteker mematuhi kode etik apoteker
Indonesia serta selalu mengutamakan dan Indonesia maka dia juga
berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan wajib mengakui dan
dalam melaksanakan kewajibannya. menerima sanksi dari
peerintah ikatan/organisasi
Per.Ka.BPOM No. 3 Tahun 2017 Tentang profesi farmasi yang
Kode Etik Dan Kode Perilaku Aparatur Sipil menanganinya (IAI) dan
Negarabadan Pengawas Obat Dan Makanan mepertanggungjawabkan
Pasal 7 kepada Tuhan Yang Maha
Etika dalam berorganisasi sebagaimana Esa.
dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (2) huruf b meliputi:
a. melaksanakan tugas dan wewenang sesuai
dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. melaksanakan setiap kebijakan yang
ditetapkan oleh
pejabat yang berwenang;
f. memiliki kompetensi dalam pelaksanaan
tugas;
g. patuh dan taat terhadap standar
operasional prosedur
dan sasaran kerja Pegawai ASN;
j. bersikap rasional dan berkeadilan,
obyektif, serta
transparan dalam menjalankan tugas sesuai
dengan sifat
pekerjaan;
k. melaksanakan tugas secara profesional
dan bertanggung
jawab.
Identifikasi : Bahwa Pada kasus diatas,
apoteker melakukan pelanggaran pegawai
negeri sipil BPOM bereperan sebagai
Apoteker Pengelola Apotek dengan tidak
sesuai kode etik dan peraturan yang berlaku.

Kasus : 29. Apoteker yang sedang menderita flu berat datang ke Apotek, namun mendelegasikan tugas kepada Tenaga
Teknis Kefarmasian untuk melayani resep obat keras
Kata Kunci : Apoteker yg sakit, mendelegasikan tugas, obat keras, tenaga teknis kefarmasian
Pelanggaran hukum (Undang-Undang, dan Peraturan Pemerintah), Etika, dan Disipilin

Per-UU-an/PDAI/ Butir / Isi yang dilanggar Sanksi Jika Melaggar Upaya Pencegahan
KEAI yang
dilanggar

Undang-Undang Obat Keras (St. Berdasarkan Undang-Undang Obat  Sebaiknya Apoteker


No 419) keras (St No 419) pasal 12 berbunyi, melimpahkan tugasnya
 Berdasarkan Undang-Undang “Hukuman penjara tetinggi-tingginya 6 kepada Apoteker
Obat Keras Pasal 3 Ayat 1 (St. bulan atau denda uang setinggi- pendamping yang
No.419) yang berbunyi, itingginya 5.000 gulden dikenalan mempunyai wewenang
“Penyerahan persediaan untuk kepada : Mereka yang melanggar untuk menyerahkan dan
penyerahan dan penawaran peraturan-peraturan larangan yang di menerima resep obat
untuk penjualan dari bahan- maksudkan dalam pasal 3, 4. keras.
Per-UU-an bahan G. Demikian pula -  Setiap apoteker
memiliki bahan-bahan ini berusaha dengan
dalam jumlah sedemikian rupa sungguh-sungguh dalam
sehingga secara normal tidak menjaga kondisi
dapat diterima bahwa bahan- fisiknya dalam segi
bahan ini hanya diperuntukkan kesehatan agar tetap
pemakaian pribadi adalah mampu dalam
dilarang. Larangan ini tidak melakukan pekerjaan
berlaku untuk pedagang- kefarmasian secara
pedagang besar yang diakui, profesional demi
Apoteker-Apoteker, yang tercapainya pelayanan
memimpin Apotek dan Dokter kefarmasian yang
hewan”. optimal dan sesuai
 Berdasarkan Undang-Undang kompetensi demi
Obat Keras Pasal 4 Ayat 1 (St kepentingan
No.419) yang berbunyi, masyarakat.
“Penyerahan, persediaan untuk  Jika memang masih
penyerahan dan penawaran memungkinkan untuk
untuk penjualan dari bahan- melakukan pelayanan
banan W. Demikian pula kefarmasian, dapat
merniliki bahan.bahan ini disarankan
dalam jurnlah sedemikian rupa menggunakan masker
sehingga secara normal tidak saat berhadapan dengan
dapat diterima bahwa bahan pasien karena
bahan ini hanya diperuntukkan dikhawatirkan
pemakaian pribadi, adalah menularkan penyakit ke
dilarang. Larangan ini tidak pasien.
berlaku untuk pedagang besar  Jika sama sekali tidak
yang diakui, Apoteker- dapat melakukan
apoteker, Dokter-dokter yang aktifitas pelayananan
memimpin Apotek, Dokter kefarmasian, Apoteker
Hewan dan Pedagang Kecil dapat izin tidak masuk
yang diakui di di dalam daerah pada hari tersebut dari
rnereka yang resmi.” pekerjaan
 Identifikasi : Bahwa yang kefarmasiannya dan
berhak melayani dan istirahat demi
menyerahkan obat keras daftar memulihkan kesehatan
G ataupun obat keras daftar W dan mengamanatkan
adalah seorang apoteker. kepada TTK nya untuk
Peraturan Pemerintah No 51 tidak melayani resep
Tahun 2009 tentang Pekerjaan obat keras melainkan
Kefarmasian hanya obat bebas dan
 Berdasarkan PP 51 Tahun bebas terbatas saja.
2009 Pasal 51 Ayat 1 tentang  Jika dapat
Pekerjaan Kefarmasian yang memungkinkan dapat
berbunyi, “Pelayanan meminta rekan sejawat
Kefarmasian di Apotek, apoteker lain yang
puskesmas atau instalasi bekerja di tempat
farmasi rumah sakit hanya apoteker yang sama
dapat dilakukan oleh (jika sedang dalam
Apoteker“. keadaan libur/tidak ada
 Berdasarkan PP 51 Tahun shift) untuk sementara
2009 Pasal 24 huruf c tentang waktu menggantikan
Pekerjaan Kefarmasian yang rekan sejawat nya yang
berbunyi, “Dalam melakukan sedang sakit.
Pelayanan Kefarmasian,
Apoteker dapat menyerahkan
obat keras, narkotika dan
psikotropika kepada
masyarakat atas resep dari
dokter”
Identifikasi : Bahwa yang berhak
melayani pelayanan kefarmasian
di apotek adalah seorang apoteker,
dan pada kasus ini, Apoteker tidak
melakukan pelayanan kefarmasian
di apotek terhadap resep obat
keras, melainkan
mendelegasikannya kepada
Tenaga Teknis Kefarmasiandan
yang tidak memiliki kompetensi
untuk melaksanakan pekerjaan
tersebut.
Pedoman dispilin Apoteker tahun  Berdasarkan Pedoman Disiplin
2014 Bab IV tentang Bentuk Apoteker tahun 2014 tentang Bentuk
Pelanggaran Disiplin Apoteker Pelanggaran Disiplin Apoteker
Butir ke 3 berbunyi, berbunyi, “Sanksi disiplin yang dapat
“Mendelegasikan pekerjaan dikenakan berdasarkan Peraturan
kepada tenaga kesehatan tertentu per-Undang-Undangan yang berlaku
dan/ atau tenaga-tenaga lainnya adalah:
yang tidak memiliki kompetensi - Pemberian peringatan tertulis;
untuk melaksanakan pekerjaan - Rekomendasi pembekuan
tersebut. dan/atau pencabutan Surat Tanda
Pedoman Disiplin Apoteker Bab Registrasi
IV tentang Bentuk Pelanggaran - Apoteker, atau Surat Izin Praktik
Disiplin Apoteker Butir ke 11 Apoteker, atau Surat Izin Kerja
berbunyi, “Menjalankan praktik Apoteker; dan/atau;
kefarmasian dalam kondisi tingkat - Kewajiban mengikuti pendidikan
kesehatan fisik ataupun mental atau pelatihan di institusi
PDAI
yang sedang terganggu sehingga pendidikan apoteker.
merugikan kualitas pelayanan
profesi.”
Identifikasi : Pada kasus ini,
kondisi fisik Apoteker sedang
tidak optimal dalam melakukan
pekerjaan kefarmasian sehingga
mengakibatkan apoteker
berinisiatif untuk mengalihkan
pekerjaannya dalam melayani
resep obat keras kepada TTK,
sehingga kualitas pelayanan
profesi tidak bisa diberikan secara
maksimal sesuai dengan ketentuan
dan kompetensi pekerjaan
pelayanan kefarmasian.
Berdasarkan Kode Etik Apoteker  Apabila Apoteker melakukan
Indonesia dan Implementasi Kode pelanggaran kode Etik Apoteker,
Etik tahun 2009, BAB I yang bersangkutan dikenakan sanksi
Kewajiban Umum Pasal 1 organisasi. Sanksi dapat berupa
berbunyi, “Seorang Apoteker pembinaan, peringatan, pencabutan,
harus menjunjung tinggi, keanggotaan sementara, dan
mengahayati dan mengamalkan pencabutan keanggotaan tetap.
KEAI
Sumpah/Janji Apoteker”
 Identifikasi : Pada kasus
diatas, apoteker tidak
melakukan asuhan
kefarmasian, yang seharusnya
dapat dilakukan sesuai
kompetensinya.