Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peningkatan pembangunan disegala bidang memberikan kontribusi sangat

penting bagi penduduk dunia. Hasil pembangunan tersebut dibuktikan dengan

meningkatnya umur harapan hidup. Semakin meningkat umur harapan hidup

mengakibatkan jumlah penduduk lanjut usia semakin bertambah banyak (Martono

& Pranarka, 2011). Lanjut usia merupakan periode akhir dalam kehidupan

manusia dimana seseorang mulai mengalami perubahan dalam hidupnya yang

ditandai adanya perubahan fisik, psikologis dan sosial, sehingga terjadi

penurunan, dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit, serta perubahan

fisiologi yang terjadi (Maheshwari, 2016). Menurut Depkes RI (2015) yang

dikatakan lansia adalah seorang yang berumur 60 tahun atau lebih.

Pravelensi lansia terbanyak di dunia pada tahun 2017 berada di daerah

Jepang mencapai 69,785%. Di Indonesia jumlah lansia pada tahun 2017 tercatat

9,03% atau 23,66 juta jiwa dan diprediksi tahun 2020 jumlah populasi lansia yaitu

berjumlah 27,09% juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2017). Laporan data demografi

penduduk internasional yang dikeluarkan Bureau of the Census USA (2010)

menunjukkan, pada kurun waktu 2010-2025 Indonesia akan mengalami kenaikan

jumlah lansia sebesar 41% dari 11.275.557 jiwa menjadi sekitar 46.680.806 jiwa.

Di Indonesia Provinsi dengan presentase lansia tertinggi adalah DI Yogyakarta

13,81% dan daerah Bali menepati urutan ke empat dengan jumlah lansia tercatat

berjumlah 10,710% (Kementrian Kesehatan RI, 2017). Penduduk lansia di Bali


tahun 2017 sebanyak 462.822 jiwa (Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2017). Jumlah

lansia di Kabupaten Gianyar berjumlah 86.061 jiwa, Kabupaten Tabanan 73.778

jiwa, Denpasar 65.578 jiwa (Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2017).

Lansia mengalami beberapa perubahan pada tubuhnya seperti perubahan

fisik, mental, spiritual, psikososial, fungsi motorik, fungsi sensorik, kognitif, dan

psikologis (Muhajidullah, 2012). Masalah psikologis yang sering dialami lansia

adalah karena faktor kesepian, ketergantungan, kurang percaya diri, menyebabkan

lansia menjadi depresi, kecemasan, dan stres, kondisi ini menyebabkan sebagiaan

lansia mengalami gangguan kualitas tidur (Sulidah, 2016). Kualitas tidur adalah

kemampuan setiap orang untuk mempertahankan keadaan tidur dan untuk

mendapatkan tahapan tidur REM dan NREM yang pantas (Khasanah, 2012).

National Sleep Foundation tahun 2010 sekitar 67% dari 1.508 lansia di

Amerika usia 65 tahun keatas melaporkan mengalami gangguan tidur sebanyak

7,3% lansia mengeluhkan memulai dan mempertahankan tidur. Berdasarkan

penelitian Luo (2013) yang dilakukan di China, diperoleh hasil sekitar 41.5%

lansia dinyatakan memiliki kualitas tidur yang buruk. Di Indonesia gangguan tidur

menyerang sekitar 50% orang yang berusia 65 tahun, dan setiap tahun 20%-50%

lansia melaporkan adanya gangguan tidur dan 17% mengalami gangguan tidur

yang serius (Puspitosari, 2011). Berdasarkan data epidemiologi (2010),

didapatkan bahwa di pulau Bali prevalensi gangguan kualitas tidur cukup tinggi

yaitu 44%. Penelitian yang dilakukan Astria (2016) di Kuta Selatan Kabupaten

Badung didapatkan 78,3% lansia memiliki kualitas tidur yang buruk. Gangguan

2
kualitas tidur pada lansia setiap tahunnya cenderung meningkat sekitar 67%,

(Mahardika, 2012).

Dampak yang terjadi dari kualitas tidur yang tidak maksimal

mengakibatkan mengantuk pada siang hari, gangguan memori, depresi, gangguan

kognitif, stres, sering terjatuh, dan gangguan kualitas hidup (Hidayat & Ulyah,

2015). Menurut Malik (2010) ketidakmampuan lansia memenuhi tidur yang

berkualitas dan menurunnya fase tidur REM dapat menimbulkan keluhan pusing,

kehilangan gairah, rasa malas, cenderung mudah marah/tersinggung, kemampuan

pengambilan keputusan secara bijak menurun, hingga menyebabkan depresi dan

frustrasi. Di Amerika Serikat, lansia yang mengalami kecelakaan akibat gangguan

tidur per tahun sekitar delapan puluh juta orang, biaya kecelakaan yang

berhubungan dengan gangguan tidur pertahun sekitar seratus juta dolar (World

Health Organization, 2015).


Upaya untuk mengatasi gangguan tidur antara lain terapi farmakologi dan

terapi nonfarmakologi. Terapi farmakologi dilakukan dengan pemberian obat

tidur, namun pemberian terapi farmakologi dapat menyebabkan penurunan fungsi

pada beberapa organ tubuh diantaranya ginjal, karena pada lansia fungsi ginjal

mulai tidak efektif dalam mengekresi obat-obatan (Stanley, 2007 dalam Aziz,

2016). Terapi non farmakologis yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas tidur

lansia adalah terapi musik, aromaterapi, yoga, meditasi, dan relaksasi progresif

(Rahma, 2014). Pada teknik relaksasi otot progresif didasari pada mekanisme

kerja relaksasi otot progresif dimana dalam mempengaruhi kebutuhan tidur terjadi

respon relaksasi (Trophotropic) yang menstimulasi semua fungsi dimana kerjanya

berlawanan dengan sistem saraf simpatis sehingga tercapai keadaan rileks dan

3
tenang. Perasaan rileks ini akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan

Corticotropin Releasing Factor (CFR) yang nantinya akan menstimulasi kelenjar

pituitary untuk meningkatkan produksi beberapa hormon, seperti B-endrophin,

enkefalin, dan serotonin yang dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia

(Potter & Perry, 2010).


Relaksasi progresif merupakan salah satu dari berbagai macam jenis

tehnik relaksasi yang sering digunakan dalam proses terapi, baik secara medis

maupun psikologis. Kelebihan relaksasi otot progfresif ini dibandingkan dengan

terapi nonfarmakologis lainnya adalah terapi ini tidak memerlukan imajinasi,

sugesti, tidak ada efek samping, serta mudah dilakukan (Horodes, 2010 dalam

Kushariyadi, 2011).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Banjar

Wangaya Kaja, wilayah kerja Puskesmas III Denpasar Utara, didapatkan data

jumlah lansia secara keseluruhan pada bulan Januari 2019 sebanyak 113 lansia

dengan jumlah lansia laki-laki 55 jiwa dan perempuan 58 jiwa. Berdasarkan hasil

wawancara kepada kader lansia di Banjar Wangaya Kaja Denpasar Utara kegiatan

yang sering dilakukan di Banjar Wangaya Kaja untuk meningkatan kesejahteraan

lansia adalah melalui kegiatan senam lansia, yang dilakukan 2 kali dalam seminggu.

Jumlah lansia yang aktif dalam mengikuti senam lansia pada tahun 2018 sebanyak

40 lansia. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di Banjar Wangaya Kaja

Denpasar Utara pada tanggal 31 Januari 2019, didapatkan sebanyak 90% lansia

mengatakan setiap hari terbangun pada dini hari sekitar pukul 02.00 wita untuk

buang air kecil sebanyak 2–3 kali, dan terdapat 60% lansia susah untuk tidur

kembali. Didapatkan bahwa 50% lansia mengeluh kesulitan untuk memulai tidur,

4
waktu yang dibutuhkan untuk memulai 1 jam lebih atau rata-rata memulai tidur

sekitar jam 23.00 wita, dan terdapat 40% lansia memulai tidur pada pukul 21.00

wita namun sering terbangun pada dini hari sekitar pukul 01.00 wita dan sulit

untuk memulai tidur kembali. Terdapat 40% lansia mengeluh sering mengalami

mimpi buruk. Keluhan lain yang disampaikan oleh lansia diantaranya adalah nyeri

pada bagian kaki, kepala, merasakan gelisah, lansia juga mengeluh jika salah

makan seperti minum es, makan terlalu banyak, serta banyak kerja biasanya pada

malam hari akan merasakan sesak pada bagian dada. Rata-rata tidur lansia yang

diwawancara sekitar 5 jam sehari. Terdapat 30% lansia mempunyai kebiasaan

minum kopi sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Terdapat 20% lansia

memiliki kebiasaan tidur siang selama satu jam dan 80% lansia mengatakan

jarang tidur siang karena cuaca yang panas, pekerjaan, dan tidak dapat memulai

tidur, lansia mengatakan tidak ada yang mengkonsumsi obat tidur maupun

memeriksakan gangguan tidurnya ke puskesmas maupun rumah sakit. Hasil

wawancara mengenai upaya yang dilakukan untuk mengatasi gangguan tidur yaitu

dengan cara hanya diam saja di atas tempat tidur, menonton TV dan memaksakan

untuk tidur dengan memejamkan mata. Terdapat 10% lansia tidak mengalami

gangguan tidur atau tanpa keluhan. Hasil wawancara dengan ketua kader lansia

Banjar Wangaya Kaja, Kota Denpasar belum pernah memberikan Relaksasi Otot

Progresif sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas tidur pada lansia yang

mengalami ganggun tidur.

Penelitian yang dilakukan oleh Sulidah (2016), Penelitian ini

menggunakan rancangan Quasi Experimental dengan pendekatan Pretest Posttest

5
Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah semua lansia yang tinggal di

Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay, besar sampel 51 responden

terdiri dari 26 responden kelompok intervensi dan 25 responden kelompok

kontrol, instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner PSQI. Hasil penelitian

didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna dari kualitas tidur lansia

sebelum dan sesudah latihan relaksasi otot progresif pada kelompok perlakuan.

Penelitian yang dilakukan oleh Rostinah Manurung (2017), desain penelitian ini

menggunakan quasi-experiment pendekatan pre test-post test one group only

design. Instrumen dalam penelitian ini adalah Pittsburgh Sleep Quality Index

(PSQI). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang mengalami

gangguan tidur yang tinggal di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling

dengan jumlah sampel 30 orang. Terapi ini dilaksanakan selama 4 minggu, setiap

minggu dilaksanakan sebanyak 3 kali dan dilakukan selama 15 menit setiap

intervensi. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada pengaruh terapi relaksasi otot

progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Jompo Yayasan Guna Budi

Bakti Tahun 2017.

Berdasarkan fenomena diatas maka, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian yang berjudul Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kualitas

Tidur pada Lansia di Banjar Wangaya Kaja Kota Denpasar

1.2 Rumusan Masalah

6
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan

masalah penelitian sebagai berikut: Apakah ada Pengaruh Relaksasi Otot

Progresif Terhadap Kualitas Tidur pada Lansia di Banjar Wangaya Kaja Kota

Denpasar ?.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kualitas Tidur

pada Lansia di Banjar Wangaya Kaja Kota Denpasar.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengidentifikasi kualitas tidur pada lansia sebelum diberikan terapi relaksasi

otot progresif.
2. Mengidentifikasi kualitas tidur pada lansia setelah diberikan terapi relaksasi

otot progresif.
3. Menganalisis pengaruh pemberian terapi relaksasi progresif terhadap kualitas

tidur pada lansia.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis
1. Ilmu pengetahuan

Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan ilmu sebagai

upaya mengembangkan program dalam langkah meningkatkan kesehatan lansia

dengan relaksasi otot progresif sebagai salah satu cara untuk meningkatkan

kualitas tidur pada lansia.

2. Peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya

dalam melakukan penelitian serupa mengenai relaksasi otot progresif yang dapat

mengurangi gangguan kualitas tidur pada lansia.


1.4.2 Manfaat Praktis
1. Tenaga Keperawatan

7
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman acuan dalam

meningkatkan tindakan keperawatan mandiri khususnya dalam keperawatan

gerontik dalam mengangani lansia dengan gangguan kualitas dengan terapi

nonfarmakologis yaitu relaksasi otot progresif.


2. Lansia
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi pedoman dan memotivasi bagi

lansia dalam menerapkan relaksasi otot progresif untuk meningkatkan kualitas

tidur khususnya pada lansia dengan gangguan tidur yang ada di Banjar Wangaya

Kaja Kota Denpasar.


3. Rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi pedoman praktik dalam menangani

lansia dengan gangguan kualitas tidur.

1.5 Keaslian penelitian


1. Sulidah (2016), judul penelitian “Pengaruh Latihan Relaksasi Otot Progresif

terhadap Kualitas Tidur Lansia”. Penelitian ini menggunakan rancangan

Quasi Experimental dengan pendekatan Pretest Posttest Control Group

Design. Populasi penelitian ini adalah semua lansia yang tinggal di Balai

Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay, besar sampel 51 responden

terdiri dari 26 responden kelompok intervensi dan 25 responden kelompok

kontrol. Data diambil menggunakan metode wawancara, instrumen yang

digunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil penelitian didapatkan

nilai t hitung lebih besar dari t tabel dan p <0,05. Oleh karena itu dapat

disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna dari kualitas tidur

8
lansia sebelum dan sesudah latihan relaksasi otot progresif pada kelompok

perlakuan. Perbedaan pada penelitian ini adalah Sulidah menggunakan design

penelitian Quasi Experimental dengan pendekatan Pretest Posttest Control

Group Design sedangkan penelitian ini menggunakan design Pra-

experimental dengan rancangan one-group pre-post tes design dan perbedaan

waktu dan tempat penelitian. Persamaan pada penelitian ini terletak pada

variabel independen dan terikat, serta subjek penelitian.


2. Kanender (2015), judul penelitian “Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif

Terhadap Perubahan Tingkat Insomnia Pada Lansia di Panti Werdha Manado”.

Desain penelitian yang digunakan adalah pra eksperimental dengan One

Group Pretest-Post-test design. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian

ini menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Teknik pengambilan sampel

dilakukan dengan Total Sampling dengan jumlah sampel 36 orang. Hasil

penelitian menunjukkan adanya pengaruh terapi relaksasi otot progresif

terhadap perubahan tingkat insomnia pada lansia di Panti Werdha Manado.

Perbedaan pada penelitian ini adalah penelitian Yuliana variabel dependen

adalah tingkat insomnia sedangkan pada penelitian ini kualitas tidur, serta

waktu dan tempat penelitian. Persamaan pada penelitian ini terletak pada

variabel independen yaitu relaksasi otot progresif serta subjek penelitian serta

design penelitian yaitu pra eksperimental dengan One Group Pretest-Post-test

design.
3. Riski Sandi Putri (2017), judul penelitian “Pengaruh Relaksasi Otot Progresif

Terhadap Kualitas Tidur Lanjut Usia di Panti Jompo Aisyah Surakarta”.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian experimental dengan

9
pendekatan Quasi Experiment dan metode Pretest-Posttest Control.

Responden pada penelitian ini sebanyak 20 orang lanjut usia yang di bagi

menjadi dua kelompok yaitu 10 orang perlakuan dan 10 orang kelompok

kontrol selama 4 minggu setiap hari sebelum tidur. Variabel independen dalam

penelitian ini adalah relaksasi otot progresif, variabel dependen adalah kualitas

tidur. Instrumen penelitian ini kuesioner PSQI. Hasil uji pengaruh kelompok

dependent pre dan post test relaksasi otot progresif didapatkan ada pengaruh

pemberian relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur lanjut usia,

sedangkan pada uji beda pengaruh independen pre dan post didapatkan bahwa

terdapat perbedaan peningkatan kualitas tidur lanjut usia pada kelompok

perlakuan dan kelompok kontrol. Perbedaan pada penelitian yang dilakukan

oleh Riski ini adalah pada waktu dan tempat penelitian serta design penelitian,

pada penelitian Riski menggunakan design penelitian Quasi Experiment dan

metode Pretest-Posttest Control sedangkan pada penelitian ini menggunakan

yaitu pra eksperimental dengan One Group Pretest-Post-test design.

Persamaan pada penelitian Riski terletak pada variabel dependen yaitu

kualitas tidur serta subjek penelitian, serta variabel independen yaitu relaksasi

otot progresif.
4. Rostinah Manurung (2017), judul penelittian “Pengaruh Terapi Relaksasi Otot

Progresif Terhadap Kualitas Tidur Pada Lansia di Panti Jompo Yayasan Guna

Budi Bakti Medan Tahun 2017”. Desain penelitian ini menggunakan quasi-

experiment pendekatan pre test-post test one group only design. Instrumen

dalam penelitian ini adalah Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang mengalami gangguan tidur

10
yang tinggal di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti. Pengambilan sampel

dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel

30 orang. Terapi ini dilaksanakan selama 4 minggu, setiap minggu

dilaksanakan sebanyak 3 kali dan dilakukan selama 15 menit setiap intervensi.

Hasil penelitian dengan uji statistic Mc. Nemar, didapatkan dari hasil uji

statistik p value = 0,003 (P<0,05), menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi

relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Jompo

Yayasan Guna Budi Bakti Tahun 2017. Perbedaan pada penelitian yang

dilakukan oleh Rostinah dengan penelitian ini adalah pada waktu dan tempat

penelitian serta design penelitian, pada penelitian Rostinah menggunakan

design penelitian Quasi Experiment dan metode pre test-post test one group

only design sedangkan pada penelitian ini menggunakan yaitu pra

eksperimental dengan One Group Pretest-Post-test design. Persamaan pada

penelitian Rostinah dengan penelitian ini terletak pada variabel dependen

yaitu kualitas tidur serta subjek penelitian, serta variabel independen yaitu

relaksasi otot progresif.

11