Anda di halaman 1dari 33

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka


2.1.1 Konsep Dasar Lansia
2.1.1.1 Pengertian lansia
Lanjut usia merupakan periode akhir dalam kehidupan manusia dimana

seseorang mulai mengalami perubahan dalam hidupnya yang ditandai adanya

perubahan fisik, psikologis dan sosial, sehingga terjadi penurunan, dan

meningkatnya kerentanan terhadap penyakit, serta perubahan fisiologi yang

terjadi (Maheshwari, 2016). Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan

masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Lansia mengalami

beberapa perubahan pada tubuhnya seperti perubahan fisik, kognitif, spiritual,

psikososial, fungsi motorik, fungsi sensorik, mental, dan psikologis

(Muhajidullah, 2012).
Menurut Azizah (2011), lanjut usia adalah bagian dari proses dari tumbuh

kembang. Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari

bayi, anak-anak, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan

perubahan fisik dan tingkah laku yang diramalkan yang terjadi pada semua orang

saat mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan

suatu proses alami mengalami kemunduran fisisk, mental, dan sosial secara

bertahap.
Menurut Depkes RI (2015) yang dikatakan lansia adalah seorang yang

berumur 60 tahun atau lebih. Undang-undang RI No. 4 tahun 1965 menjelaskan

bahwa seseorang dikatakan sebagai lansia setelah bersangkutan mencapai umur

55 tahun ke atas. Menurut WHO (1989) dalam Bandiyah (2009) menetapkan

batasan umur pada lansia adalah kelompok usia 45-59 tahun sebagai usia

13
pertengahan (middle young, orang dengan usia 60-74 tahun disebut lansia

(edelry), umur 75-90 tahun disebut tua (old).


Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa lansia

adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun yang mengalami perubahan

dalam hidupnya yang ditandai adanya perubahan fisik, psikologis dan sosial,

sehingga terjadi penurunan dan peningkatan kerentanan terhadaap penyakit.


2.1.1.2 Proses menua

Penuaan terjadi tidak secara tiba-tiba, namun berkembang dari masa bayi,

anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Menua bukanlah suatu penyakit,

tetapi menua merupakan tahap lanjut dari proses kehidupaan dengan

berkurangnya daya tahan tubuh (Muhith, 2016). Proses penuaan merupakan suatu

proses yang berhubungan dengan usia seseorang. Manusia mengalami perubahan

sesuai dengan bertambahnya usia. Semakin tua seseorang maka semakin

berkurang fungsi-fungsi tubuh organ tubuh. Menjadi tua adalah suatu keadaan

yang terjadi dalam kehidupan manusia. Memasuki usia tua banyak mengalami

kemunduran, baik kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit akan menjadi

keriput, rambut memutih, pendengaran berkurang, penglihatan memburuk, gigi

yang mulai tanggal, serta nafsu makan menjadi berkurang (Padila, 2013). Adapun

faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan, diantaranya hereditas, nutrisi, status

kesehatan, pengalaman hidup, lingkungan, dan stres (Bandiyah, 2009).

2.1.1.3 Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia

Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara

degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia,

14
tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga kognitif, psikososial, spiritual, mental

(Azizah, 2011).

1. Perubahan fisik

Perubahan fisik pada lansia mencakup perubahan pada sel, sistem indra,

sistem muskuloskeletal, sistem kardiovaskuler dan respirasi, sistem pencernaan

dan metabolisme, sistem perkemihan, sistem saraf, sistem reproduksi (Nugroho,

2014).

2. Neurologis

Secara fisologis akan mengalami penurunan jumlah dan ukuran neuron

pada sistem saraf pusat. Hal ini mengakibatkan fungsi dari neurotransmiter pada

sistem neurologi menurun, sehingga distribusi norepinefrin yang merupakan zat

untuk merangsang tidur akan menurun (Potter & Perry, 2010).

3. Perubahan psikososial

Perubahan psikososial yang dialami oleh lansia, yaitu masa pensiun,

perubahan aspek kepribadian, dan perubahan dalam peran sosial di masyarakat

serta perubahan minat. Pensiun adalah tahap kehidupan yang dicirikan oleh

adanya transisi dan perubahan peran yang menyebabkan stres psikosial.

Hilangnya kontak sosial dari area pekerjaan membuat lansia pensiunan merasakan

kekosongan. Lansia yang memasuki masa pensiun akan mengalami berbagai

kehilangan, yaitu : kehilangan finansial, kehilangan status, kehilangan teman, dan

kehilangan kegiatan. Lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan

psikomotor. Fungsi psikomotor meliputi hal-hal yang berhubungan dengan

dorongan kehendak, yang mengakibatkan lansia menjadi kurang cekatan. Adanya

15
penurunan kedua fungsi tersebut membuat lansia mengalami perubahan

kepribadian (Azizah, 2011).

4. Perubahan spiritual

Perubahan spiritual pada lansia (Azizah, 2011) diantaranya :

1) Lansia semakin matur dalam kehidupan keagamaan, hal ini terlihat dari

berfikir dan bertindak dalam khidupan sehari-hari.


2) Agama atau kepercayaan lansia semakin berintegrasi dalam kehidupan
3) Spiritual pada lansia bersifat universal, intrinsic yang berkembang sepanjang

rentang kehidupan.
5. Perubahan mental atau psikologis

Perubahan mental ini erat sekali kaitannya dengan perubahan fisik,

keadaan kesehatan, tingkat pengetahuan, dan pendidikan serta situasi lingkungan.

Perubahan dari segi mental yang terjadi antara lain sering muncul perasaan

pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan cemas (Aspiani, 2014).

6. Perubahan kognitif

Lansia mengalami penurunan daya ingat, yang merupakan salah satu

fungsi kognitif. Ingatan jangka panjang kurang mengalami perubahan, sedangkan

ingatan jangka panjang kurang mengalami perubahan, sedangkan ingatan jangka

pendek memburuk. Lansia akan kesulitan mengungkapkan kembali cerita atau

kejadian yang tidak begitu menarik perhatiannya. Beberapa perubahan kogitif

pada lansia yaitu : memori, Intelligent Quotient (IQ), kemampuan belajar,

kemampuan pemahaman pemecahan masalah, kebijaksanaan, motivasi (Azizah,

2011).

7. Perubahan pola tidur dan istirahat

16
Perubahan mekanisme neurotransmiter memainkan peran penting dalam

perubahan tidur dan terjaga yang dikaitkan dengan faktor pertambahan usia.

Faktor ekstrinsik seperti, pensiun juga dapat menyebabkan perubahan yang tiba-

tiba pada kebutuhan untuk beraktivitas dan kebutuhan energi sehari-hari serta

mengarah pada perubahan pada kebutuhan tidur. Keadaan sosial dan psikologis

yang terkait dengan faktor kehilangan dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya

depresi pada lansia, yang kemudian dapat mempengaruhi pola tidur lansia. Pola

tidur dapat dipengaruhi oleh lingkungan, bukan seluruhnya akibat proses penuaan

(Silvanasari, 2012).

2.1.1.4 Permasalahan-permasalahan yang terjadi pada lansia

Dalam perjalanan hidup manusia, proses menua merupakan hal yang wajar

dan akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur panjang. Hanya lambat

atau cepatnya proses tersebut bergantung pada setiap individu yang bersangkutan.

Permasalahan yang berkaitan dengan lanjut usia menurut Siti Bandiyah (2009),

antara lain :

1. Mudah jatuh
2. Mudah lelah
3. Kekacauan mental
4. Nyeri dada
5. Sesek pada waktu melakukan kerja fisik
6. Berdebar-debar
7. Pembengkakan pada kaki bagian bawah
8. Nyeri pinggang atau punggung
9. Nyeri pada sendi pinggul
10. Gangguan pada ketajaman penglihatan
11. Keluhan pusing
12. Gangguan tidur
2.1.2 Konsep Dasar Tidur
2.1.2.1 Definisi tidur

17
Tidur adalah proses fisiologis yang berputar dan bergantian, dengan

periode jaga yang lebih lama. Siklus tidur-bangun mempengaruhi dan mengatur

fungsi fisiologis dan respon prilaku (Potter & Perry, 2010). Menurut Widuri

(2010), tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan

tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-

masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda. Tidur

dikarakteristikan dengan aktivitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran yang

bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh, dan penurunan respon terhadap

stimulus eksternal (Mubarak, 2005). Tidur adalah suatu keadaan tidak sadar

dimana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang dan

dapat dibangunkan kembali dengan indera atau rangsangan yang cukup. Tujuan

seseorang tidur tidak jelas diketahui, namun diyakini tidur diperlukan untuk

menjaga keseimbangan mental emosional, fisiologi, dan kesehatan (Reni Yuli

Aspiani, 2014).

2.1.2.2 Pengaturan tidur

Tidur merupakan aktivitas yang melibatkan susunan saraf pusat, saraf

perifer, endokrin kardiovaskuler, respirasi dan muskuloskeletal. Tiap kejadian

tersebut dapat diidentifikasi atau direkam dengan electroenchephalogram (EEG)

untuk aktivitas listrik otak, pengukuran tonus otot dengan mengunakan

electromiogram (EMG) dan electrooculogram untuk mengukur pergerakan mata

Pengaturan dan kontrol tidur tergantung dari hubungan antara dua

mekanisme serebral yang secara bergantian mengaktifkan dan menekan pusat otak

untuk tidur dan bangun. Retikuler Aktivating System (RAS) dibagian batang otak

18
atas yang mempunyai sel-sel khusus dalam mempertahankan kewaspadaan dan

kesadaran. RAS memberikan stimulus visual, audiotori, nyeri dan sensori raba,

juga menerima stimulus dari kortes serebri (emosi, proses pikir).

Pada keadaan sadar neuron-neuron dalam RAS melepaskan katekolamin

misalnya norepineprine. Saat tidur disebabkan oleh pelepasan serotonin dari sel-

sel spesifik di spons dan dibatang otak tengah yaitu Bulbar Synchronizing

Regional (BSR). Bangun dan tidurnya seseorang tergantung dari keseimbangan

inplus yang diterima dari pusat otak, reseptor sensori periper misalnya bunyi,

stimus cahaya dan sistem limbiks seperti emosi, dengan demikian sistem pada

batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan

BSR (Wartonah, 2006 dalam Widuri, 2010).

2.1.2.3 Siklus tidur

Menurut Potter & Perry (2010) secara normal pada orang dewasa dimulai

dengan periode pratidur dimana seorang hanya sadar dari kantuk secara bertahap

meningkat. Periode biasanya berlangsung 10-30 menit, tetapi untuk seseorang

yang memiliki kesulitan untuk tertidur, akan berlangsung satu jam atau lebih.

Ketika seseorang tertidur, biasanya melewati 4-5 siklus tidur lengkap dalam satu

malam, masing-masing terdiri dari empat tahap Non Rapid Eye Movement

(NREM) dan periode tidur Rapid Eye Movement (REM). Setiap siklus

berlangsung sekitar 90-100 menit. Jumlah waktu yang dihabiskan setiap tahap

bervariasi selama rentang hidup. Bayi baru lahir dan anak-anak menghabiskan

19
waktu tidur lebih banyak, sedangkan seiring penuaan tidur akan mengalami

penurunan.

1. Tahap 1 : NREM pada tahap ini yang paling tingkat paling ringan dari tidur.

Adapun NREM tahap 1 meliputi: tahap berakhir beberapa menit, pengurangan

aktivitas fisiologis dimulai dengan penurunan secara bertahap tanda-tanda vital

dan metabolisme, rangsangan sensorik seperti suara dapat membangunkan dengan

mudah, setelah terbangun akan merasa seseorang baru saja bermimpi.


2. Tahap 2 : NREM pada tahap ini merupakan periode tidur nyenyak. Adapun

NREM tahap 2 meliputi: terjadi kemajuan relaksasi, mudah terjaga, tahap berakhir

10-20 menit, kelanjutan fungsi tubuh mulai melambat.


3. Tahap 3 : NREM pada tahap ini meliputi tahap mengawali tahap tidur

nyenyak. Adapun NREM tahap 3 meliputi: orang yang tidur sulit dibangunkan

dan jarang bergerak, otot-otot dalam keadaan rileks, tanda-tanda vital menurun

tetapi tetap teratur, tahap ini akan berakhir 15 hingga 30 menit.


4. Tahap 4 : NREM merupakan tahap tidur terdalam. Adapun NREM tahap 4

meliputi: sangat sulit untuk membangunkan orang yang tidur, jika terjadi kurang

tidur, maka orang yang tidur akan menghabiskan porsi malam yang seimbang

pada tahap ini, tanda-tanda vital menuru secara bermakna dibandingkan selama

jam terjaga, tahap berakhir kurang lebih 15-30 menit, tidur sambil berjalan dan

enuresis dapat terjadi.


5. Tidur REM pada tahap ini seseorang mengalami mimpi penuh warna dan nyata

muncul, mimpi yang kurang jelas dapat terjadi pada tahap lain. Pada tahap ini

biasanya dimulai sekitar 90 menit setelah mulai tidur. Hal yang dicirikan dengan

respons otonom dari pergerakan mata yang cepat fluktuasi jantung dan kecepatan

respirasi dan peningkatan atau fluktuasi tekanan darah, dan dapat kehilangan

20
ketegangan masa otot, peningkatan sekresi lambung, sangat sulit sekali

membangunkan orang yang tidur, dan durasi dari tidur REM meningkat pada

setiap siklus dan rata-rata 20 menit.


2.1.2.4 Fungsi tidur

Tidur memiliki fungsi homeostatik bagi tubuh dan berguna untuk menjaga

termoregulasi tubuh agar tetap dalam status normal, serta penting untuk

penyimpanan energi (Kaplan & Sadock, 2010). Tidur dibutuhkan untuk mencegah

terjadinya kelelahan pada fisik dan psikis seseorang (Mohede dkk, 2013). Dengan

tidur yang cukup, seseorang dapat memulihkan kondisi tubuh yang kelelahan

setelah melakukan aktivitas menjadi segar kembali guna menghadapi aktivitas

selanjutnya. Selain itu dengan pemenuhan tidur yang cukup pada seseorang dapat

memicu pembentukan daya tahan tubuh. Manfaat tidur dapat diperoleh secara

optimal apabila pemenuhan tidur sesuai dengan kebutuhan seseorang (Dewi dan

Ardani, 2013).

Menurut Perry & Potter (2010), tidur dapat mengkonstribusi pemulihan

fisiologis dan psikologis. Tidur Non Rapid Eye Movement membantu perbaikan

jaringan tubuh. Selama tidur Non Rapid Eye Movement, fungsi fisiologis menjadi

lambat. Sedangkan selama tidur denyut jantung turun sampai 60 denyut per menit

atau kurang. Ini berarti bahwa selama tidur jantung berdetak 10-20 kali lebih

lambat dalam setiap menit atau 60-120 kali lebih sedikit dalam setiap jam. Oleh

karena itu, tidur nyenyak bermanfaat dalam mempertahankan fungsi jantung.

2.1.2.5 Tidur pada lansia

Pada lansia akan mengalami lebih sering terjaga pada malam hari sehingga

total waktu tidur malamnya berkurang dan kualitas tidur kelihatan menjadi

21
berubah pada kebanyakan lansia (Marchira, 2007). Faktor usia merupakan

terpenting yang berpengaruh terhadap tidur pada lansia. Lansia lebih banyak

mengeluh terbangun lebih awal dari pukul 05.00 wiita dan terdapat 30%

kelompok lansia sering terbangun pada malam hari (Bandiyah, 2009). Episode

tidur REM cendrung memendek, dan terdapat penurunan yang progresif pada

tahap tidur NREM 3 dan 4. Beberapa lansia hampir tidak memiliki tahap 4 atau

tidur yang dalam. Masalah untuk dapat tertidur juga dikaitkan dengan penyebab

yang mudah diatasi seperti mengkonsumsi kafein atau makanan dalam porsi

banyak pada waktu yang berdekatan dengan waktu tidur (Lankford,1994 dalam

Khasanah. 2012). Terjadi peningkatan pada tahap I NREM sehingga lansia mudah

terbangun oleh karena: suara, sentuhan, atau cahaya. Tahap REM selama malam

hari berubah seiring dengan bertambahnya usia dimana tahap REM terjadi lebih

awal selama waktu tidur lansia. Adanya perubahan tidur REM dan pengurangan

tahap 3 dan 4 NREM akan mengganggu efisiensi tidur lansia. Perubahan kualitas

tidur pada lansia disebabkan perubahan SSP yang mempengaruhi pengaturan tidur

(Potter & Perry, 2010).

2.1.2.6 Kualitas tidur lansia

Kualitas tidur adalah kemampuan setiap orang untuk mempertahankan

keadaan tidur dan untuk mendapatkan tahapan tidur REM dan NREM yang pantas

(Khasanah, 2012). Menurut Hidayat (2008) kualitas tidur merupakan ukuran

dimana seseorang mendapatkan kemudahan untuk memulai tidur, mampu

mempertahankan tidur, dan merasa rileks setelah bangun dari tidur. Kualitas tidur

yang tidak maksimal mengakibatkan mengantuk pada siang hari, gangguan

22
memori, depresi, gangguan kognitif, stres, sering terjatuh, dan gangguan kualitas

hidup. Menurut Malik (2010) ketidakmampuan lansia memenuhi tidur yang

berkualitas dan menurunnya fase tidur REM dapat menimbulkan keluhan pusing,

kehilangan gairah, rasa malas, cenderung mudah marah/tersinggung, kemampuan

pengambilan keputusan secara bijak menurun, hingga menyebabkan depresi dan

frustrasi. Mendapatkan kualitas tidur yang terbaik itu penting untuk

mempertahankan maupun meningkatkan kesehatan yang baik dan pemulihan

individu yang sakit. Tidur yang berkualitas adalah keadaan tidur yang dalam,

tidak mudah terbangun, dapat mencapai mimpi, dan ketika bangun tubuh menjadi

lebih segar, merasakan kepuasan tidur dan bebas dari ketegangan (Madjid, 2008).

Penurunan kualitas tidur pada lansia terjadi karena neurotransmiter pada sistem

neurologi menurun (Potter & Perry, 2010). Selain itu perubahan mental pada

lansia seperti perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan cemas juga

mempengaruhi kualitas tidur lansia (Aspiani, 2014). Penurunan progresif pada

tahap NREM tiga dan empat hampir tidak memiliki tahap empat perubahan tidur

ini disebabkan oleh perubahan sistem saraf pusat yang mempengaruhi pengaturan

tidur (Widianti, 2011). Pola tidur normal pada dewasa tua yaitu tidur sekita 6 jam

sehari, 20-25% tidur REM, tidur tahap IV nyata berkurang kadang-kadang tidak

ada. Kebutuhan tidur lansia atau masa dewasa tua yaitu 6 jam/hari. (Aspiani,

2014).

2.1.2.7 Parameter kualitas tidur

Menurut Buyesa et al (2000) dalam Widyastuti (2015) ada berapa

parameter untuk melihat kualitas tidur seorang antar lain waktu yang dibutuhkan

23
untuk dapat tidur, total jam tidur, frekuensi terbangun, lama waktu tidur siang

hari, perasaan segar saat bangun pagi, kepuasan tidur, kedalaman tidur, serta

perasaan ngantuk di siang hari, faktor-faktor tersebut dapat digunakan sebagai

tolak ukur baik tidaknya kualitas tidur seseorang. Waktu yang dibutuhkan untuk

dapat tidur adalah waktu yang dihabiskan oleh seseorang sejak munculnya

keinginan untuk tidur sampai tercapainya tidur tahap REM. Total jam tidur adalah

lamanya waktu tidur dikurang dengan lamanya waktu terbangun saat tidur. Total

jam tidur merupakan jumlah waktu individu dalam kehidupannya yang digunakan

untuk tidur. Frekuensi terbangun adalah sering atau tidaknya seseorang terbangun

dari tidurnya yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan atau akibat dari keinginan

untuk buang air kencing. Seseorang dewasa muda normal selama tidur malam

akan terbangun sekitar satu sampai dua kali. Terbangun dimalam hari berpengaruh

pada pengurangan total waktu tidur.

2.1.2.8 Faktor-faktor penyebab gangguan kualitas tidur

Dalam Potter & Perry (2010) sejumlah faktor yang mempengaruhi

kuantitas dan kualitas tidur, sering kali faktor tunggal bukanlah satu satunya

penyebab untuk masalah tidur. Faktor fisiologi, psikologi, dan faktor lingkungan

sering kali mengubah kualitas dan kuantitas tidur.

1. Penyakit fisik

Seseorang yang mengalami sakit memerlukan waktu lebih banyak dari

normal. Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan atau masalah

suasana hati seperti kecemasan atau depresi dapat menyebabkan masalah tidur.

Dimana sering mengalami frekuensi terbangun yang sering dan perubahan

24
terdapat selama tidur seperti perubahan bermakna dalam semua tahap tidur.

Lansia yang memiliki penyakit pernafasan, jantung, hipertensi, tukak peptic

cenderung memiliki gangguan tidur.

2. Obat-obatan dan substansi

Lansia mengkonsumsi berbagai obat untuk mengotrol atau mengobati

penyakit kronis, dan efek gabungan beberapa obat sangat mempengaruhi

kebiasaan tidur.

3. Stres emosional

Stres emosional menyebabkan seseorang menjadi tegang dan sering

frustasi ketika tidak dapat tidur sehingga meningkatkan usaha yang keras untuk

dapat tidur. Stres mengakibatkan terbangunnya selama siklus tidur, atau tidur

terlalu lama. Stres yang terlalu lama menyebabkan kebiasaan tidur yang tidak

baik. Kebanyakan stres emosional yang dialami lansia dikarenakan pensiun,

gangguan fisik atau kematian orang yang di cintai. Lansia dan orang yang

mengalami masalah depresi suasana hati mengalami penundaan waktu tidur,

munculnya tidur REM lebih awal, sering terbangun, meningkatkan waktu total

tidur, perasaan tidur buruk, dan bangun lebih awal.

4. Lingkungan

Lingkungan fisik seseorang terhadap tidur secara signifikan

mempengaruhi kemampuan untuk memulai dan tetap tidur. Dimana ukuran,

kenyamanan, kebisingan, posisi tempat tidur, suhu ruangan maupun lingkungan

25
mempengaruhi kualitas seseorang terutama pada ventilasi, cahaya, yang sangat

penting untuk tidur nyenyak.

5. Gaya hidup

Gaya hidup tentu memberikan pengaruh besar terhadap kualitas tidur,

menghentikan aktivitas fisik seperti hubungan sosial dengan teman, pekerjaan,

dan berada di rumah sepanjang hari terbukti meningkatkan terjadinya gangguan

kualitas tidur. Kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan merokok serta minum kopi

dapat mengganggu pola tidur normal (Lenblanc et al, 2015 dalam Astria, 2016).

6. Latihan fisik dan kelelahan

Kurangnya kegiatan harian atau kegiatan yang tidak terstruktur akan

mempengaruhi pengurangan waktu tidur atau kualitas. Salah satu cara untuk

meningkatkan kualitas tidur adalah meningkatkan aktivitas fisik (Fakihan, 2016).

7. Makanan dan asupan kalori

Kebiasaan makan yang baik penting untuk menciptakan tidur yang baik.

Makan besar, berat serta makan pedas pada malam hari sering mengakibatkan

gangguan pencernaan yang dapat mengganggu pencernaan sehingga mengganggu

kualitas tidur. Kafein, alkohol, dan nikotin yang di konsumsi pada malam hari

akan mengakibatkan insomnia. Teh, kopi, dan coklat yang mengandung kafein

menyebabkan keadaan tidak dapat tidur. Kehilangan atau penambahan berat badan

dapat mempengaruhi pola tidur.

8. Usia

26
Jika seseorang menjadi semakin tua, kemampuan untuk tetap tidur enam

sampai delapan jam akan menjadi semakin berkurang. Dikarenakan terjadinya

penurunan melatonin yang berperan dalam pengaturan tidur.

2.1.2.9 Penatalaksanaan gangguan kualitas tidur

Penatalaksanaan untuk mengatasi gangguan tidur antara lain terapi

farmakologi dan terapi nonfarmakologi. Terapi farmakologi dilakukan dengan

pemberian obat tidur, namun pemberian terapi farmakologi dapat menyebabkan

penurunan fungsi pada beberapa organ tubuh diantaranya ginjal, karena pada

lansia fungsi ginjal mulai tidak efektif dalam mengekresi obat-obatan (Hidayat,

2008).

Penanganan gangguan tidur secara non farmakologis beragam seperti

higene tidur, terapi pengontrolan stimulus, sleep restriction therapy, relaksasi

progresif, terapi apnea tidur obstruktif (Amir, 2007). Relaksasi otot progresif

adalah teknik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan,

atau sugesti (Horodes, 2010 dalam Setyoadi 2011). Dengan menegangkan otot

sepenuhnya dan kemudian merelaksasikan otot-otot tersebut, mampu melepaskan

ketidaknyamanan dan stres sehingga kualitas tidur meningkat (Potter & Perry,

2005).

2.1.2.10 Mengkaji kualitas tidur

Penilaian PQSI menjadi kualitas tidur baik dan buruk yang mencangkup 7

ranah, yaitu kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efesiensi tidur,

gangguan tidur, penggunaan obat tidur, dan disfungsi tidur di siang hari. Jawaban

dari masing-masing soal memiliki skor 0-3 (skala likert) dan setiap jenis

27
pertanyaan memiliki cara perhitungan berbeda-beda. Pada akhir penjumlahan skor

dari seluruh pertanyaan dan hasilnya diklasifikikasikan menjadi dua kategori. Jika

skor akhir ≤5 dikategorikan ke dalam kualitas tidur baik dan jika skor akhir >5

dikatagorikan ke dalam kualitas tidur buruk. Kuesioner ini mengkaji 7 dimensi

dalam kualitas tidur yaitu :

1. Kualitas tidur subjektif

Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 9 dalam

PSQI. Kriteria penilaian disesuaikan dengan pilihan jawaban responden sebagai

berikut :

Sangat baik =0

baik =1

Kurang =2

Sangat kurang =3

2. Latensi tidur atau kesulitan memulai tidur

Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 2 dan 5a

dalam PQSI. Masing-masing pertanyaan tersebut memiliki skor 0-3, yang

kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh skor latensi tidur. Jumlah skor tersebut

disesuaikan dengan kriteria penilaian sebagai berikut :

Pertanyaan nomor 2 :

≤ 15 menit =0

16-30 menit =1

31-60 menit =2

28
> 60 menit =3

Pertanyaan nomor 5a:

Tidak pernah =0

Sekali seminggu = 1

2 kali seminggu =2

>3 kali seminggu = 3

Jumlahkan skor pertanyaan nomor 2 dan 5a, dengan skor dibawah ini:

Skor 0 =0

Skor 1-2 =1

Skor 3-4 =2

Skor 5-6 =3

3. Durasi tidur

Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 4 dalam

PSQI. Jawaban responden dikelompokkan dalam 4 kategori dengan kriteria

penilaian sebagai berikut:

Durasi tidur >7 jam =0

Durasi tidur 6-7 jam = 1

Durasi tidur 5-6 jam = 2

Durasi tidur <5 jam =3

4. Efisiensi kebiasaan tidur

Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 1, 3, dan

4 dalam PSQI mengenai jam tidur malam dan bangun pagi serta durasi

tidur.

29
Jawaban responden kemudian dihitung dengan rumus:

Durasi Tidur (4)


x 100%
Jam Bangun Pagi (3) - Jam Tidur Malam (1)

Hasil perhitungan dikelompokkan menjadi 4 (empat) kategori dengan

kriterian penilaian sebagai berikut.

Efisiensi tidur >85% =0

Efisiensi tidur 75-84% = 1

Efisiensi tidur 65-74% = 2

Efisiensi tidur <65% =3

5. Gangguan tidur

Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 5b–5j

dalam PSQI, yang terdiri dari hal-hal yang dapat menyebabkan gangguan tidur.

Tiap item memiliki skor 0-3, dengan 0 berarti tidak pernah sama sekali dan 3

berarti sangat sering dalam sebulan. Skor kemudian dijumlahkan sehingga dapat

diperoleh skor gangguan tidur. Jumlah skor tersebut dikelompokkan sesuai

kriteria penilaian sebagai berikut:

Nomor 5b sampai 5j dinilai dengan skor dibawah ini:

Tidak pernah =0

Sekali seminggu =1

2 kali seminggu =2

>3 kali seminggu =3

Skornya :

30
Skor gangguan tidur 0 =0

Skor gangguan tidur 1-9 =1

Skor gangguan tidur 10-18 = 2

Skor gangguan tidur 19-27 = 3

6. Penggunaan obat tidur

Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 6 dalam PSQI.

Kriteria penilaian disesuaikan dengan pilihan jawaban responden sebagi berikut:

Tidak pernah =0

sekali dalam seminggu =1

2x dalam seminggu =2

>3 kali lebih dalam seminggu = 3

7. Disfungsi aktivitas pada siang hari

Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 7 dan

pertanyaan nomor 8 dalam PSQI. Setiap pertanyaan memiliki skor 0-3, yang

kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh skor disfungsi aktivitas siang hari.

Jumlah skor tersebut disesuaikan dengan kriteria penilaian sebagai berikut.

Pertanyaan nomor 7:

Tidak pernah =0

Sekali seminggu =1

2 kali seminggu =2

>3 kali seminggu =3

Pertanyaan nomor 8:

Tidak ada masalah =0

31
Hanya sedikit masalah =1

Cukup banyak masalah =2

Sangat banyak masalah =3

Jumlahkan skor pertanyaan nomor 7 dan 8, dengan skor di bawah ini:

Skor 0 =0

Skor 1-2 =1

Skor 3-4 =2

Skor 5-6 =3

Skor dari ketujuh komponen tersebut dijumlahkan menjadi 1 skor global

dengan kisaran nilai 0-21. Skor global ≤5 menunjukkan kualitas tidur baik dan

skor >5 dianggap memiliki kualitas tidur yang buruk (Busyee, Reynolds, Monk,

et al dalam Iqbal, 2017).

2.1.3 Konsep Dasar Relaksasi Otot Progresif


2.1.3.1 Pengertian relaksasi otot progresif

Teknik relaksasi otot progresif adalah teknik relaksasi otot dalam yang

tidak memerlukan imajinasi, ketekunan, atau sugesti (Horodes, 2010 dalam

Kushariyadi, 2011). Menurut Sulidah (2016) terapi relaksasi otot progresif

merupakan terapi yang fokus pada otot-otot tertentu yang ditegangkan kemudian

merileksasikan kembali sehingga terbukti efektif mengurangi gangguan tidur pada

lansia. Relaksasi progresif ini salah satu cara dari teknik relaksasi yang

mengkombinasikan latihan nafas dalam dan serangkaian seri kontraksi dan

relakasi otot tertentu (Kustanti dan Widodo, 2008 dalam Kushariyadi, 2011).
Relaksasi otot progresif mengajarkan individu bagaimana cara

meningkatkan kualitas tidur dengan efektif dengan cara mengurangi ketegangan

32
pada tubuh. Pada relaksasi otot progresif memiliki kombinasi latihan pernafasan

terkontrol dan rangkaian kontraksi serta relaksasi kelompok otot yang dapat

menstimulasi respon relaksasi baik fisik maupun psikologis serta mampu

menimbulkan respon relaksasi yang menstimulasi semua fungsi dimana kerjanya

berlawanan dengan sistem saraf simpatis sehingga tercapai keadaan yang tenang

dan rileks (Potter & Perry, 2010).

2.1.3.2 Tujuan relaksasi otot progresif

Menurut Kushariyadi (2011) dan Potter & Perry (2010), tujuan relaksasi

otot progresif ini adalah untuk:

1. Menurunkan ketegangan otot, kecemasan, nyeri leher dan punggung, tekanan

darah tinggi, frekuensi jantung, laju metabolik.


2. Mengurangi disritmia jantung, kebutuhan oksigen.
3. Meningkatkan gelombang alfa otak yang terjadi ketika klien sadar dan tidak

memfokuskan perhatian serta relaks.


4. Meningkatkan rasa kebugaran, konsentrasi.
5. Memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stress.
6. Mengatasi gangguan tidur, iritabilitas, spasme otot, fobia ringan, gagap ringan,
7. Membangun emosi positif dari emosi negative.
2.1.3.3 Indikasi dan kontra indikasi relaksasi otot progresif .
1. Indikasi Terapi Relaksasi Otot Progresif.
1) Klien lansia yang mengalami gangguan tidur.
2) Klien lansia yang sering mengalami stress.
3) Klien lansia yang mengalami kecemasan.
2. Kontra indikasi terapi relaksasi otot progresif.
1) Lansia yang mengalami keterbatasan gerak, misalnya tidak bisa

menggerakkan badannya.
2) Lansia yang dalam keadaan sakit dan menjalani perawatan tirah baring (bed

rest).
2.1.3.4 Hal-hal yang perlu diperhatikan
Menurut Herodes (2010) dalam Kushariyadi (2011) Berikut adalah hal-hal

yang perlu diperhatikan dalam melakukan kegiatan terapi relaksasi otot progresif.
1. Jangan terlalu menegangkan otot berlebihan karena dapat melukai diri sendiri.

33
2. Waktu kegiatan 30 menit.
3. Perhatikan posisi tubuh, lebih nyaman dengan mata tertutup. Hindari dengan

posisi berdiri.
4. Menegangkan kelompok otot dua kali tegangan.
5. Melakukan pada bagian kanan tubuh dua kali, kemudian bagian kiri dua kali.
6. Memeriksa apakah klien benar-benar relaks.
7. Terus-menerus memberikan instruksi.
8. Memberikan instruksi tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
2.1.3.5 Prosedur dan gerakan relaksasi otot progresif
Menurut Herodes (2010) dalam Setyoadi dan Kushariyadi (2011), prinsip

yang mendasari relaksasi otot progresif memusatkan perhatian pada suatu

aktivitas otot dengan mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurungkan

ketegangannya untuk mendapatkan rasa rileks. Latihan relaksasi otot progrsif di

anjurkan dilaksanakan selama 4 minggu, setiap minggu dilaksanakan sebanyak 3

kali dan dilakukan selama 30 menit setiap intervensi (Manurung, 2017). Menurut

penelitian Ginjali dan Shreehari (2014) dalam Syisnawati (2017), bahwa

melakukan relaksasi otot progresif secara kontinu dapat membantu klien merasa

rileks, relaksasi otot progresif dapat dilakukan kapanpun baik pagi maupun sore

hari. Menurut teori yang dikemukakan Edmund (dalam Erliana, 2011) bahwa

latihan relaksasi otot progresif yang dilaksanakan 30 menit, satu kali sehari secara

teratur efektif dalam menurunkan kesulitan tidur pada lansia. Menurut World

Health Organization (2000) dalam Ambardini (2009) waktu olahraga untuk lansia

adalah untuk olahraga intensitas sedang 150 menit dalam seminggu dan untuk

intensitas berat 75 menit dalam seminggu, olahraga keseimbangan 3 kali

seminggu.

Prosedur dan gerakan relaksasi otot progresif sebagai berikut :

Persiapan alat dan lingkungan: kursi berisi sandaran dan lingkungan yang tenang.

34
Persiapan klien:
1. Jelaskan tujuan, manfaat, prosedur, dan pengisian lembar persetujuan terapi

pada klien
2. Posisikan tubuh klien secara nyaman yaitu berbaring dengan mata tertutup

menggunakan bantal dibawah kepala atau duduk di kursi dengan kepala

ditopang, hindari posisi berdiri


3. Lepaskan asesoris yang digunakan seperti kacamata, jam, dan sepatu
4. Longgarkan ikatan dasi, ikat pinggang atau hal lain yang sifatnya mengikat

ketat.

Prosedur

1. Gerakan 1: ditujukan untuk melatih otot tangan.


1) Genggam tangan kiri sambil membuat suatu kepalan.
2) Buat kepalan semakin kuat sambil merasakan sensasi ketegangan yang terjadi.
3) Pada saat kepalan dilepaskan, klien dipandu untuk merasakan relaks selama

10 detik.
4) Gerakan pada tangan kiri ini dilakukan dua kali sehingga klien dapat

membedakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan relaks yang

dialami.
5) Prosedur serupa juga dilatihkan pada tangan kanan.

Gambar 2.1
Relaksasi Otot Progresif

2. Gerakan 2: ditujukan untuk melatih otot tangan bagian belakang.

35
Tekuk kedua lengan ke belakang pada pergelangan tangan sehingga otot di

tangan bagian belakang dan lengan bawah menegang, jari-jari menghadap ke

langit-langit. Gerakan melatih otot tangan bagian depan dan belakang ditunjukkan

pada gambar.

Gambar 2.2
Relaksasi Otot Progresif

3. Gerakan 3: ditujukan untuk melatih otot biseps (otot besar pada bagian atas

pangkal lengan).
1) Genggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan.
2) Kemudian membawa kedua kepalan ke pundak sehingga otot biseps akan

menjadi tegang.

Otot
bisep

Gambar 2.3
Relaksasi Otot Progresif
4. Gerakan 4: ditujukan untuk melatih otot bahu supaya mengendur.
1) Angkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan hingga menyantuh kedua

telinga.

36
2) Fokuskan perhatian gerakan pada kontras ketegangan yang terjadi di bahu,

punggung atas, dan leher.

Gambar 2.4
Relaksasi Otot Progresif

5. Gerakan 5, 6, 7, dan 8: ditujukan untuk melemaskan otot-otot wajah (seperti

otot dahi, mata, rahang, dan mulut).


1) Gerakkan otot dahi dengan cara mengerutkan dahi dan alis sampai otot terasa

dan kulitnya keriput.

Gambar 2.5
Relaksasi Otot Progresif

2) Tutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketegangan disekitar mata

dan otot-otot yang mengendalikan gerakan mata.

37
Gambar 2.6
Relaksasi Otot Progresif

3) Katupkan rahang, diikuti dengan menggigit gigi sehingga terjadi ketegangan

disekitar otot rahang.

Gambar 2.7
Relaksasi Otot Progresif

4) Bibir dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga akan dirasakan ketegangan di

sekitar mulut.

38
Gambar 2.8
Relaksasi Otot Progresif

6. Gerakan 9: ditujukan untuk merileksikan otot leher bagian depan maupun

belakang.
1) Gerakan diawali dengan otot leher bagian belakang baru kemudian otot leher

bagian depan.
2) Letakkan kepala sehingga dapat beristirahat.
3) Tekan kepala pada permukaan bantalan kursi sedemikian rupa sehingga dapat

merasakan ketegangan dibagian belakang leher dan punggung atas.

Otot leher
belakang

Gambar 2.9
Relaksasi Otot Progresif

Ditujukan untuk melatih otot leher begian depan:

1) Gerakan membawa kepala ke muka.


2) Benamkan dagu ke dada, sehingga dapat merasakan ketegangan di daerah leher

bagian muka.

Otot leher depan


39
Gambar 2.10
Relaksasi Otot Progresif
7. Gerakan 10: ditujukan untuk melatih otot punggung
1) Angkat tubuh dari sandaran kursi.
2) Punggung dilengkungkan.
3) Busungkan dada, tahan kondisi tegang selama 10 detik, kemudian relaks.
4) Saat relaks, letakkan tubuh kembali ke kursi sambil membiarkan otot menjadi

lemas.

Otot
punggung

Gambar 2.11
Relaksasi Otot Progresif
8. Gerakan 11: ditujukan untuk melemaskan otot dada.
1) Tarik napas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-

banyaknya.
2) Ditahan selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan di bagian dada

sampai turun ke perut, kemudian dilepas.


3) Saat ketegangan dilepas, lakukan napas normal dengan lega.
4) Ulangi sekali lagi sehingga dapat dirasakan perbedaan antara kondisi tegang

dan relaks.

40
Otot
dada

Gambar 2.12
Relaksasi Otot Progresif

9. Gerakan 12: ditujukan untuk melatih otot perut.


1) Tarik dengan kuat perut kedalam.
2) Tahan sampai menjadi kencang dan keras selama 10 detik, lalu dilepaskan

bebas.
3) Ulangi kembali seperti gerakan awal perut ini.

Otot
perut

Gambar 2.13
Relaksasi Otot Progresif

10. Gerakan 13-14: ditujukan untuk melatih otot-otot kaki (seperti paha dan betis).
1) Luruskan kedua telapak kaki sehingga otot paha terasa tegang.
2) Lanjutkan dengan mengunci lutut sedemikian rupa sehingga ketegangan

pindah ke otot betis.


3) Tahan posisi tegang selama 10 detik, lalu dilepas.

41
4) Ulangi setiap gerakan masing-masing dua kali.

Otot
paha

Otot
betis
Gambar 2.14
Relaksasi Otot Progresif

2.1.3.6 Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada lansia

Perubahan neurologis yang secara fisologis akan mengalami penurunan

jumlah dan ukuran neuron pada sistem saraf pusat. Hal ini mengakibatkan fungsi

dari neurotransmiter pada sistem neurologi menurun, sehingga distribusi

norepinefrin yang merupakan zat untuk merangsang tidur akan menurun (Potter &

Perry, 2010). Masalah yang ditemukan pada lansia yang disebabkan oleh

terjadinya kemunduran fisik maupun mental yaitu adalah penurunan kualitas tidur.

Tidur adalah suatu perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu

terhadap lingkungan menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang

minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh dan

penurunan respon terhadap stimulus eksternal (Mubarak, 2005).

Relaksasi otot progresif merupakan suatu teknik relaksasi yang

menggunakan serangkaian gerakan tubuh yang bertujuan untuk melemaskan dan

memberi efek nyaman pada seluruh tubuh. Rasa nyaman inilah yang dibutuhkan

lansia guna meningkatkan kualitas tidurnya (Sulidah, 2016). Relaksasi otot

progresif dapat menstimulasi respon relaksasi baik fisik maupun psikologis yang

dapat memberikan manfaat yang efektif untuk meningkatkan tidur (Komurcu,

42
2010 dalam Sulidah, 2016). Mekanisme kerja relaksasi otot progresif dimana

dalam mempengaruhi kebutuhan tidur, terjadi respon relaksasi (Trophotropic)

yang menstimulasi semua fungsi tubuh dimana kerjanya berlawanan dengan

sistem saraf simpatis sehingga tercapai keadaan rileks dan tenang. Perasaan rileks

ini akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin Releasing

Factor (CRF) yang akan menstimulasi kelenjar pituitary untuk meningkatkan

produksi beberapa hormon, seperti B-endrophin, enkefalin, dan serotonin yang

dimana hormon tersebut dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia (Potter &

Perry, 2010). Relaksasi otot progresif juga memiliki kombinasi latihan pernapasan

yang dilakukan secara sadar dan menggunakan diafragma, memungkinkan

abdomen terangkat perlahan dan dada mengembang penuh. Teknik pernapasan

tersebut mampu memberikan pijatan pada jantung yang menguntungkan karena

dapat meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Aliran darah yang meningkat

juga dapat meningkatkan nutrien dan oksigen. Peningkatan oksigen di dalam otak

akan merangsang peningkatan sekresi serotonin sehingga membuat tubuh

menjadi tenang dan mudah untuk tertidur (Erliana, 2012).

Respon relaksasi terjadi karena teransangnya aktifitas sistem saraf

otonom parasimpatis nuclei rafe sehingga menyebabkan perubahan yang dapat

mengontrol aktivitas sistem saraf otonom berupa pengurangan ketegangan otot,

serta gelombang alfa dalam otak sehingga mudah untuk tertidur (Vidyanti, 2014).

Penelitian yang dilakukan Riski Sandi Putri (2017) didapatkan bahwa

terdapat peningkatan kualitas tidur lanjut usia setelah diberikan intervensi

relaksasi otot progresif selama 4 minggu. Menurut penelitian Manurung (2017),

43
mayoritas responden memiliki kualitas tidur yang baik setelah dilakukan

intervensi relaksasi otot progresif hal ini dikarenakan saat dilakukan terapi

relaksasi otot progresif responden akan mengalami relaksasi sehingga

memungkinkan setiap otot responden mengalami relaksasi dimana keadaan ini

akan membuat responden dalam keadaan nyaman sehingga responden mudah

untuk mendapatkan tidur. Penelitian yang dilakukan oleh Heri Kusnaidi (2011)

didapatkan gangguan dalam pemenuhan tidur didapatkan mayoritas lansia ederly

yaitu berusia 60-74 tahun dikarenakan adanya faktor-faktor psikologis,

menopause, perubahan fisik yang akan meningkatkan kecemasan pada lansia.

Dalam penelitian Austaryani dan Widodo (2012) mengemukakan relaksasi otot

progresif dapat menurunkan denyut nadi dan tekanan darah, serta menurunkan

frekuensi pernafasan maka jika relaksasi otot dapat dilakukan dan dikuasai dengan

baik mempunyai efek seperti obat antiansietas. Menurut penelitian Sulidah (2016)

bahwa Latihan relaksasi otot progresif terbukti bermanfaat untuk meningkatkan

kualitas tidur lansia. Manfaat tersebut tergambar dengan meningkatnya respon

subjektif kepuasan tidur, latensi tidur memendek, durasi tidur bertambah,

efisiensi tidur meningkat, keluhan gangguan tidur berkurang, dan berkurangnya


Lansia
Perubahan psikologis, psikososial,
gangguan aktifitas siang hari sehubungan dengan
kognitif, masalah tidur. Dengan
neurologis

demikian relaksasi otot progresif dapat dijadikan sebagai terapi komplementer


Faktor yang mempengaruhi
kualitas tidur: Cemas
dalam Internal
tatalaksana gangguan tidur pada lansia.
Stres
Penyakit
Stres emosional
Usia
2.2 Kerangka Konsep Kualitas tidur
Kualitas tidur menurun
Eksternal
Lingkungan ≤ 5 kualitas tidur baik
Gaya hidup
Obat-obatan dan >5 kualitas tidur buruk
substansi Manajemen untuk
Latihan fisik dan meningkatkan kualitas tidur :
kelelahan Terapi44
farmakologi
Makanan dan asupan Terapi non farmakologi
kalori
Latihan Relaksasi
Otot Progresif
Keterangan:
: Diteliti
: Tidak diteliti
: Alur pikir

Gambar 2.15
Kerangka konsep pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur lansia
Di Banjar Wangaya Kaja Kota Denpasar
2.3 Hipotesis

Hipotesis adalah suatu pernyataan asumsi tentang hubungan antara dua

atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab suatu pertanyaan dalam

penelitian (Nursalam, 2015). Hipotesis pada penelitian ini adalah Ada Pengaruh

Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kualitas Tidur Pada Lansia di Banjar Wangaya

Kaja Kota Denpasar. Hipotesis terbukti benar (Ha diterima/ Ho ditolak) apabila p

value ≤ α (0,05) dan sebaliknya hipotesis tidak terbukti benar (Ha ditolak/ Ho

diterima) apabila > α (0,05).

45