Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KEJANG

PENURUNAN KESADARAN
Eko Yuliani S,Skep,Ners

I. DISKRIPSI SINGKAT
Kejang adalah perilaku yang tidak terkontrol pada episode tertentu yang
disebabkan oleh peristiwa pelepasan muatan-muatan listrik di dalam otak secara
berlebihan (Evans & Levene, 1998). Hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun
setidaknya pernah mengalami sekali kejang selama hidupnya. Kejang penting sebagai
suatu tanda adanya gangguan neurologis.
Diagnosis yang salah atau penggunaan obat yang kurang tepat dapat
menyebabkan kejang tidak terkontrol, depresi nafas dan rawat inap yang tidak perlu.
Untuk mencegah hal tersebut, tatalaksana kejang yang tepat sangat penting untuk
dilakukan. (Nia Kania, dr., SpA., Mkes, 2007)
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan pembelajaran Umum :
Setelah mempelajari materi ini peserta mampu melakukan asuhan keperawatan
pada anak dengan kejang penurunan kesadaran.
2. Tujuan pembelajaran Khusus :
Setelah mengikuti sesi ini, peserta dapat melakukan
a. pengkajian, penegakan diagnosa, melakukan intervensi, evaluasi keperawatan
pada pasien anak dengan kejang
b. penilaian kesadaran
c. persiapan lumbal pungsi.

III. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN


1. Pengkajian pasien kejang penurunan kesadaran
2. Diagnosa dan intervensi keperawatan anak kejang penurunan
kesadaran
3. Evaluasi keperawatan anak kejang
4. Metode penilaian kesadaran
5. Metode persiapan lumbal pungsi

IV. BAHAN BELAJAR


1. LCD
2. Makalah

V. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN


1. Perkenalan
2. PenyampaianMateridanpraktekresusitasi
3. Diskusi
4. Penutup
VI. URAIAN MATERI
KEJANG
A. Pengertian
Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten
dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan
atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di
neuron otak.
Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau kejang
berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran.

B. Patofisiologi
Mekanisme dasar terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik yang
berlebihan pada neuron-neuron dan mampu secara berurutan merangsang sel
neuron lain secara bersama-sama melepaskan muatan listriknya. Hal tersebut
diduga disebabkan oleh; 1] kemampuan membran sel sebagai pacemaker neuron
untuk melepaskan muatan listrik yang berlebihan; 2] berkurangnya inhibisi oleh
neurotransmitter asam gama amino butirat [GABA]; atau 3] meningkatnya
eksitasi sinaptik oleh transmiter asam glutamat dan aspartat melalui jalur eksitasi
yang berulang. Status epileptikus terjadi oleh karena proses eksitasi yang
berlebihan berlangsung terus menerus, di samping akibat ilnhibisi yang tidak
sempurna.

C. Kejang
1. Penentuan Kejang
2. Jenis kejang (berdasarkan Klasifikasi International League Against Epilepsy
of Epileptic Seizure [ILAE] 1981).
3. Etiologi / penentuan faktor penyebab kejang

4. Diagnosis
Anamnesis dan pemeriksaan fisis yang baik diperlukan untuk memilih
pemeriksaan penunjang yang terarah dan tatalaksana selanjutnya. Anamnesis dimulai
dari riwayat perjalanan penyakit sampai terjadinya kejang, kemudian mencari
kemungkinan adanya faktor pencetus atau penyebab kejang. Ditanyakan riwayat
kejang sebelumnya, kondisi medis yang berhubungan, obatobatan, trauma, gejala-
gejala infeksi, keluhan neurologis, nyeri atau cedera akibat kejang.
Pemeriksaan fisis dimulai dengan tanda-tanda vital, mencari tanda-tanda
trauma akut kepala dan adanya kelainan sistemik, terpapar zat toksik, infeksi, atau
adanya kelainan neurologis fokal. Bila terjadi penurunan kesadaran diperlukan
pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor penyebab.
Untuk menentukan faktor penyebab dan komplikasi kejang pada anak,
diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang yaitu: laboratorium, pungsi lumbal,
elektroensefalografi, dan neuroradiologi. Pemilihan jenis pemeriksaan penunjang
disesuaikan dengan kebutuhan. Pemeriksaan yang dianjurkan pada pasien dengan
kejang pertama adalah kadar glukosa darah, elektrolit, dan hitung jenis.

5. Tatalaksana kejang
Status epileptikus pada anak merupakan suatu kegawatan yang mengancam
jiwa dengan resiko terjadinya gejala sisa neurologis. Makin lama kejang
berlangsung makin sulit menghentikannya, oleh karena itu tatalaksana kejang
umum yang lebih dari 5 menit adalah menghentikan kejang dan mencegah
terjadinya status epileptikus.(algoritme penanganan kejang akut dan status
konvulsivus)

PENURUNAN KESADARAN
A. Pengertian
Penurunan kesadaran adalah keadaan tidak sadar terhadap diri sendiri dan
lingkungan dan dapat bersifat fisiologis ( tidur ) ataupun patologis ( koma atau
keadaan vegetative ).
B. Pemeriksaan fisik :
1. Penilaian tingkat kesadaran : glasgow coma scale dan modifikasi untuk anak .
Standart Glasgow coma scale :

Nilai total terbaik 15


Standart Glasgow coma scale dipakai untuk anak 4-15 tahun dan anak usia kurang
dari 4 tahun menggunakan standart penilaian modifikasi untuk anak.
1.
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KEJANG
1. Pengkajian
2. Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan pola napas b.d. gerakan otot pernapasan berlebihan,
perubahan kesadaran, efek penggunaan obat antikejang.
b. Resti terhadap cidera b.d. aktifitas kejang
c. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.
3. Rencana asuhan keperawatan
a. Ketidakefektifan pola napas b.d. gerakan otot pernapasan berlebihan,
perubahan kesadaran, efek penggunaan obat antikejang.
Tujuan: Tidak terjadi henti nafas selama kejang atau pasca kejang.
Kriteria Hasil :
Frekuensi Pernafasan normal sesuai dengan usia, tak ada sianosis aktifitas
kejang hilang.
Intervensi:
1. Bebaskan jalan nafas baik dengan alat atau tanpa menggunakan alat.
2. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
3. Monitor respirasi dan status O2
4. Berikan tambahan oksigen/ ventilasi manual sesuai kebutuhan.
5. Kaji tanda-tanda depresi pernafasan.

b. Resti terhadap cidera b.d. aktifitas kejang


Tujuan: mencegah atau mengendalikan aktifitas kejang dan melindungi
klien dari cidera.
Kriteria Hasil:
Tidak terjadi cedera selama kejang
Intervensi:
1. Jaga keamanan pasien selama proses kejang.
2. Kaji penyebab kejang dengan menggali riwayat kesehatan pasien.
3. Kolaborasi pemberian obat anti kejang (diazepam, penobarbital)
4. Lakukan pemeriksaan fisik pasca kejang.
5. Monitor adanya tanda kejang ulangan.

c. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.


1. Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua atau anggota keluarga
terhadap situasi yang penuh stress.
2. Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang
lebar , dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga.
3. Identifikasi koping yang biasa digunakan dan tingkat keberhasilannya
dalammengatasi keadaan.
4. Tanyakan pada keluarga apa yang dapat dilakukan untuk membuat
anak /keluarga menjadi lebih baik, dan jika memungknkan apa yang
dimintakeluarga.
5. Memenuhi kebutuhan dasar anak , dan selanjutnya memandirikan secara
bertahap.

LUMBAL PUNGSI
Lumbal pungsi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang untuk mengetahui
gambaran cairan serebrospinal yang kemudian digunakan untuk menilai kadar glukosa, kadar
protein, sel radang dan tanda–tanda infeksi intra kranial lainnya(Suharsono, 2014).Pemeriksaan
lain yang juga dapat dilakukan dari hasil pungsi lumbal adalah kultur penyebab infeksi. Hal ini
sangat mendasar karena ketepatan pengobatan akan menentukan prognostik gangguan saraf
pusat pada anak.
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan yang invasif, oleh sebab itu dibutuhkan persiapan
yang baik dan juga kesiapan dari pasien dan operator. Pelaksanaan sesuai standar operasional
prosedur dan menggunakan teknik aseptik dalam pengumpulan dan pengiriman sampel cairan
serebrospinal.

VII. DAFTAR PUSTAKA


1. Elfy Syahreni .2004. Rekomendasi perawatan terkini dalam penatalaksanaan
kejang pada n eonatus. Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 8, No. 2,
2. Nia Kania, dr., SpA., MKes, 12 Februari 2007. Kejang Pada Anak. Siang Klinik
Penanganan Kejang Pada Anak di AMC Hospital Bandung,.
3. UKK Neurologi IDAI,2011, Materi Pelatihan Kejang, Status Epileptikus dan
Penurunan Kesadaran pada bayi dan anak.
4. Ilmu Kesehatan Anak,2015, Panduan Praktek Klinik RSUP Dr.Kariadi
5. Ukk PGD-IDAI.2014. Kumpulan Materi Pelatihan Resusitasi Pediatrik Tahap
Lanjut
6. Suharsono. 2014. Gambaran Hasil Pemeriksaan Cairan Serebrospinal Pada Anak
Kejang Disertai Demam Menurut Usia. eprints.undip.ac.id/44877/3/BAB_II.pdf
MODUL 29 : ASKEP KEJANG PENURUNAN KESADARAN