Anda di halaman 1dari 7

Judul Jurnal : Intervensi Nonfarmakologi dalam Menurunkan Gejala Perilaku dan

Psikologis pada Pasien Demensia: Sebuah Review Sistematis.

Penulis Jurnal: Alexandra Martini de Oliveira, Marcia Radanovic, Patrícia Cotting Homem
et,al.

ABSTRAK

Pendahuluan

Gejala perilaku dan psikologis pada dementia (BPSD) didefinisikan sebagai sebuah
gejala yang melibatkan gangguan perseptif seperti mood, dan perilaku yang meliputi; agitasi,
depresi, apatis, psikosis, agresi, dan gangguan tidur. Penatalaksanaan pasien demensia
dengan gangguan perilaku dan psikologis (BPSD) melibatkan tatalaksana farmakologis adn
non farmakologis. Penulis melakukan review penatalaksanaan nonfarmakologis dalam 10
tahun terakhir.

Metode:

Penulis melakukan review secara sistematis pada sumber data Medline dan Embase
dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, hingga Juni 2015. Kata kunci yang digunakan meliputi
(1) tatalaksana nonfarmakologi, (2) gejala perilaku, (3) gejala psikologis, dan (4) demensia.

Hasil:

Penulis memasukkan 20 penelitian dalam kurun waktu periode ini, dan menemukan
bahwa tatalaksana non farmakologis terbanyak yang digunakan adalah dengan menggunakan
pendekatan aktifitas, dan gejala yang responsif terhadap intervensi ini adalah gejala agitasi
yang relatif berkurang pada pasien demensia.

Diskusi:

Penelitian ini adalah heterogen dalam semua aspek, termasuk dalam besaran sampel.
Jenis perlakuan/intervensi, dan instrumen pengukurannya.

Kesimpulan:

Intervensi nonfarmakologi menghaslkan dampak positif pada pengurangan gejala-gejala


BPSD hal ini ditunjukkan dengan banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa intervensi
tersebut memiliki efikasi yang signifikan dalam penerapannya.
1. Pendahuluan

Terminologi BPSD memiliki artian sebagai kumpulan gejala perilaku dan psikologis pada
demensia, dan telah digunakan untuk mengelompokkan gejala heterogen yang muncul pada
pasien dengan demensia. Salah satu atau lebih gejala BPSD dapat mempengaruhi 90% pasien
dengan dmensia selama perjalanan penyakit tersebut.2 BPSD terdiri dari banyak spektrum
perilaku seperti kecenderungan untuk berteriak (vokalisasi terganggu), gelisah, pengulangan
pertanyaan, melamun, dan apatis. Demensia adalah penyakit yang progresif, sehingga hal ini
pun menyebabkan BPSD pada pasien tersebut akan mengalami perburukan seiring
berjalannya waktu. BPSD dihubungkan dengan prognosis yang buruk, gangguan dalam
aktifitas sehari-hari, dan angka rawat inap rumah sakit yag lebih tinggi.6 Frekuensi dan
derajat keparahan penyakit ini pun dapat menurunkan kualitas hidup pasien dan perawat
pasien (caregiver). Medikasi dengan menggunakan psikotropika memiliki efikasi yang lebih
kecil, serta efek samping yang lebih besar dibandingkan tatalaksana dengan menggunakan
nonfarmakologis. Dewasa ini, semain banyak kelompok masyarakat yang sadar pentingnya
perawatan lansia demensia. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya American Geriatric
Society dan the American Association of Geriatric Psychiatry yang cenderung aktif pada
aktifitas intervensi nonfarmakologis bagi pasien dengan demensia.16

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Cohen-Mansfield19, banyak ahli yang dilatih
dalam tatalaksana farmakologis bagi pasien BPSD, namun hanya sebagian kecil yang
mengerti mengenai pendekatan nonfarmakologis dalam mengurangi gejala perilaku maupun
psikologis pasien demensia. Sebagai konsekuensinya, obat-obatan anti psikosis sering di
resepkan sebelum dilakukan tatalaksana non-farmakologis, sehingga pasien akan mudah
mengalami ketergantungan terhadap obat, yang mana akan mengarah pada peningkatan
morbiditas dan mortalitas. Hal ini dapat dicegah dengan peningkatan pengetahuan tatalaksana
non-farmakologis bagi dokter maupun perawat yang terlibat dalam perawatan demensia.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terapi non farmakologis memiliki efek samping
yang lebih rendah, yang mana menjadikan terapi tersebut lebih baik dari sisi keamanan.
Intervensi non farmakologis meliputi terapi musik, aromaterapi, terapi seni, dan latihan fisik.
Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menyimpulkan beberapa
intervensi non farmakologis utama untuk mengurangi gejala perilaku dan psikologis pasien
demensia yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir.

2. Metode

2.1 Tinjauan Literatur

Peneliti secara sistemik menggunakan pencarian pada database Medline dan Embase
memakai kata kunci (1) tatalaksana nonfarmakologi, (2) gejala perilaku, (3) gejala psikologis,
dan (4) demensia. Data yang digunakan adalah penelitian yag dipublikasi dari tahun 2005
hingga Juni 2015.
2.2 Kriteria Kelayakan

Penelitian yang mask dalam kriteria kelayakan ialah yang menggunakan bahasa Inggris,
Spanyol, dan Portugis serta memiliki deskripsi yang jelas mengenai rancangan penelitian nya.
Penelitian yang menggunakan revies sistemstis, meta analisis, dan case report di eksklusi
dalam penelitian ini. Setelah data tersebu diseleksi, beberapa variabel kemudian
dikelompokkan menjadi satu meliputi, 1. Pendahuluan: desain penelitian, penulis, dan tahun
terbit, 2. Demografi: total sampel dan lokasi penelitian, 3. Diagnosis BPSD. Setelah data
dikelompokkan berdasarkan ketiga hal tersebut, analisis kemudian dilakukan untuk melihat
ada/tidaknya respon baik pasien BPDS terhadap intervensi non farmakologis tersebut.

3. Hasil.

Dari hasil pencarian ditemukan 20 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan
termasuk dalam penelitian yakni lima penelitian tentang intervensi aktifitas, lima penelitian
tentang terapi musik, tiga penelitian tentang aktifitas fisik,dua penelitian tentang terapi
cahaya, satu penelitian tentang terapi sentuhan, satu penelitian tentang aktifitas kombinasi
dan terakhir yakni mengenai rehabilitasi fungsi kongnitif (Tabel 1).

3.1 Terapi Okupasi

Penggunaan terapi ini dalam menanggulangi pasien demensia memiliki dampak


positif yang baik dalam meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka agitasi serta
depresi.37-39 Salah satu jenis terapi okupasi adalah metode TAP (Tailored Activities Program)
dimana aktifitas ini fokus pada menurunkan perilaku yang “tidak baik” pada pasien
demensia. Carakerja terapi ini adalah dengan menyeleksi jenis aktifitas sesuai dengan
kemampuan, minat, dan peranan pasien. Secara tidak langsung program TAP ini akan
memudahkan perawat pasien dalam menjalannkan tugas sehari-hari. Penelitian Gitlin
mengenai US-TAP ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan angka agitasi pada 60 pasien
dengan BPSD.28

3.2 Terapi Musik

Peneliti menemukan 4 penelitian mengenai terapi musik. Salah satu penelitian


menunjukkan bahwa ketika pasien dengan BPSD diperdengarkan sebuah rekaman tentang
percakapan mengenai pengalaman menyenangkan di waktu lampau, hal ini menurunkan
angka agitasi pada pasien demensia. Begitu pun hal serupa terjadi pada kelompok yang
diperdengarkan lagu favorit mereka pada saat masih muda, angka agitasi dapat turun secara
efektif.26 Penelitian lain yang dlakukan oleh Holmes et al juga menunjukkkan bahwa
rekaman konser musik yang di siarkan secara langsung/live dapat menurunkan tingkat apatis
pasien dengan demensia derajat sedang dan berat pada waktu yang singkat.24

Penelitian yang dilakukan oleh Sung et al menginvestigasi tentang efek intervensi


musik pada tingkat kecemasan dan agitasi pasien demensia yang aktif mengikuti terapi musik
dalam kurun waktu 30 menit, dua kali seminggu, selama 6 minggu. Terpai musik selama 30
menit ini terdiri dari 5 menit sesi pemanasan yang diisi dengan latihan napas dan pergerakan,
kemudian diikuti dengan 20 menit sesi bermain musik dengan perkusi, dan 5 menit terakhir
adalah sesi mendengarkan musik. Sebelumnya, keluarga maupun perawat pasien akan dianyai
mengenai musik kesukaan pasien, kemudian daftar lagu ini yang digunakan dalam terapi
pasien. Penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan, dimana terapi musik dapat
menurunkan tingkat kecemasan pada pasien dengan demensia (p=0.004).

Penelitian yang dilakukan oleh Svansdottir dan Snaedal ialah mencari dampak terapi
musik pada 38 pasien dengan BPSD yang menunjukkan adanya peningktanan gejala
agresifitas dan kecemasan. Pada terapi ini, pasien dan terapis menyanyikan lagu yang salah
satunya dimainkan oleh gitar dan satu instrumen alat musk yang dipilih langsung oleh pasien,
masing-masing lagu dinyanyikan sebanyak dua kali. Terapi ini berjalan selama 18 sesi yang
berlangsung selama 30 menit dalam satu kali pertemuan, tiga kali semingu selama 6 minggu.
Dimana kelompok lain tidak menggunakan terpai musik. Peneliti menunjukkan adanya
penurunan tingkat agitasi dan kecemasan pada kelompok yang mendapatkan terapi musik
dibandingkan yang tidak mendapatkan terapi musik (p=0.02)

3.3 Aromaterapi

Terdapat tiga penelitian yang menguji efektifitas aromaterapi dalam menurunkan


angka agitasi pada pasien BPSD. Dua wewangian yang digunakan adalah lavender dan
lemon. Penelitian pertama yang dilakukan oleh Lin et al bertujuan untuk mebandingkan
efektifitas inhalasi wewangian lavender sebagai kelompok kontrol, dan wewangian bunga
matahari sebagai kelompok plasebo. Alat semprot/diffuser diletakkan di samping tempat tidur
pasien selama satu jam setiap malamnya selama 3 minggu. Pada penelitian ini menunjukkan
bahwa wangi lavender dapat menurunkan resiko agitasi pada pasien dengan demensia
(p<0.001). Penelitian kedua, yakni tentang pengunaan aromaterapi, obat-obatan (donepezil)
dan placbo, dimana ketiga grup ini tidak menunjukkan adanya peningkatan nilai pada tes NPI
dan PAS (Pittsburg Agitation Scale) yang digunakan untuk menunjukkan tingkat agitasi pada
pasien demensia.

Penelitian ketiga, dilakukan oleh Yang et al yang menguji tentang efektifitas


aromaterapi dan akupresur. Prosedur dalam penelitian ini adalah titik acupressure ditekan
selama 2 menit menggunakan minyak lavender selama 5-15 menit satu kali sehari, selama 4
minggu. Pada kelompok aromaterapi, minyak lavender digunakan pada 5 titik acupressure
dengan prosedur yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aromaterapi dan
acupressure menurunkan tingkat agitasi secara signifikan ketika dibandingkan dengan
kelompok kontrol (p<0.01).21

3.4 Latihan Fisik

Jenis latihan fisik yang digunakan adalah renang. Kegiatan renang ini dilakukan
selama 45 menit diikuti dengan sesi relaksasi. Sesi berlangsung dua kali seminggu selama 12
minggu dibawah pengawasan pelatih. Penelitian in menunjukkan hasil yang signifikan dalam
menurunkan gejala BPSD (p=0.01), peningkatan kualitas psikologis, dan penurunan tingkat
stress pada pasien BPSD. Penelitian kedua tentang aktifitas fisik yakni dengan melakukan
berbagai jenis kegiatan sehari-hari yang sesuai dengan kemampuan pasien. Namun hal ini
tiak menunjukkan signifikansi dalam perbaikan kualitas psikologis, hanya saja aktifitas ini
adpat membantu aktifitas sehari-hari bagi perawat pasien/caregiver.15

3.5 Bright Light Therapy

Bright Light Therapy atau yang disebut dengan BLT. Penelitian yang dilakukan oleh Burns et
al menunjukkan efek positif BLT pada pasien BPSD, dimana terdapat peningkatan kualitas
tidur pada 48 pasien dengan demensia. 29 Penelitian ini menggunakan dua kelompok, dimana
kelompok eksperimental akan terpapar cahaya dengan intensitas 10.000 lux dan kelompok
kontrol akan menerima cahaya dengan tabung fluorescent standar 100 lux selama 2 jam
perhari dan berlansung selama 2 minggu. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas
tidur namun belum menghasilkan sesuatu yang signifikan.

Penelitian yang dilakukan oleh Dowling et al menggunakan BLT selama 1 jam sehari
(Senin hingga Jumat) dalam 11 minggu. Satu kelompok terpapar cahaya pada saat pagi hari,
kelompok kedua terpapar cahaya pada sore hari, dan kelompok ketiga akan terpapar cahaya
dalam ruangan. Terdapat hasil yang signifikan diantara paparan cahaya pada pagi dan sore
hari terhadap skor agitasi (p=0.032) dibandingkan dengan paparan cahaya pagi hari dan
cahaya ruangan yakni sebesar (p=0.021).36

3.6 Terapi Sentuhan

Terapi dengan sentuhan ini termasuk di dalam nya adalah terapi pijatan dan teknik
craniosacral. Penelitian yang dilakukan oleh Woods dan Dimond menguji efektifitas terapi
ini yakni dengan membagi sampel ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama
mengggunakan terapi sentuhan, kelompok kedua menggunakan plasebo, an kelompok ketiga
tidak menerima intervensi apapun. Perlakuan ini dilakukan dalam 2 sesi masing-masing
selama 5-7 menit dalam 3 hari. Kelompok yang mendapatkan terapi ini secara signifikan
mengalami penuruan dalam gejala perilaku ketika dibandingkan dengan kelompok ketiga
yang tidak menerima intervensi apapun (p=0.036).5

3.7 Terapi Kombinasi

Satu penelitian membuktikan tentang efikasi terapi kombinasi berbagai tatalaksana


non farmakologis pada pasien BPSD di populasi geriatri laki-laki Taiwan. Terapi kombinasi
ini terdiri dari terapi musik, orientasi, aktifitas fisik, dan aktifitas kognitif. Keseluruhan
intervensi ini diberikan oleh terapis 2 kali seminggu selama 12 minggu. Terapi musik
dilakukan dengan mengajak pasien untuk bernyanyi, dan menggerakkan tangan sesuai
dengan irama lagu, serta menggunakan alat musik perkusi sederhana. Latihan fisik terdiri dari
permainan bola. Aktifitas yang berkaitan dengan seni dilakukan dengan cara melukis
bersamaan dengan pelatihan memori pasien. Contohnya ketka psien melukis pemandangan
laut, maka terapis akan merangsang memori pasien dengan memintanya menceritakan
tentang laut dan musim panas. Kelompok yang menerima perlakuan tersebut memiliki hasil
yang signifikan dalam menurunkan gejala BPSD dibandingkan kelompok kontrol
berdasarkan hasil tes NPI. Gejala tersebut meliputi halusinasi (p=0.004), delusi (p=0.018),
dan agitasi (p=0.038).23
3.8 Rehabilitasi Kognitif

Penelitian yang dilakukan oleh Brunelle-Hamann et al mengevaluasi kegiatam


kognitif pada pasien dengan demensia derajar ringan adn sedang. Program ini berlangung
selama 45-60 menit duua kali seminggu selama empat minggu. Pasien akan diminta untuk
melakukan kegiatan seperti melipat origami, mengetik di komputer, dan mengoperasikan
remote TV. Setelah terapi ini dilakukan, terdapat adanya dampak signifikan berupa
pengurangan gejala delusi pada pasien dengan demensia, namun adanya gejala motorik sisa
didapatkan terjadi peningkatan pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontol.34

Diskusi

Penelitian ini memaparkan tentang efikasi pada terapi non farmakologis dalam
penanganan BPSD. Terdapat lima penelitian yang meneliti tentang dampak dari intervensi
berupa aktifitas dan hal ini menghasilkan hal yang positif. Bagaimanapun, kelima penelitian
ini menggunakan latar belakang yang berbeda, namun dapat ditarik satu hasil bahwa terapi ini
lebih menunjukkan hasil yang positif bila aktifitas tersebut berkaitan dengan ketertarikan dan
skill pasien dalam aktifitas tertentu.

Terdapat empat penelitian yang meneliti tentang efek terapi musik. Penggunaan lagu-
lagu yang familiar bai pasien akan menurunkan kecemasan24,33. Musik dapat merubah fokus
perhatian pasien dan dapat memberikan memori positif, Hal ini dapat menurunkan angka
kecemasan dan agitasi. Begitupun pada terapi sentuhan yang diteliti oleh Woods dan
Dimond, dimana terapi sentuhan menurunkan gejala perilaku demensia terutama gejala
gelisah. Mekanisme dalam terapi ini belum diketahui secara lanjut.

BLT atau Bright Light Therapy sangat terkait dengan irama diurnal. Dimana pasien
demensia mudah mengalami agitasi pada sian gmenjelang sore dan sore hari (sundown
syndrome). Hal ini terkait dengan kadar melatonin yang terpengaruh dalam sistem BLT, yang
mana berpengaruh terhadap regulasi motorik selama tidur.

Penggunaan aromaterapi pada pasien BPSD sangat bermanfaat untuk menurunkan


tingkat agitasi. Namun pasien demensia juga dapat mengalami anosmia, dimana hal ini dapat
menimbulkan bias dalam penelitian.27 Selain itu juga pada penelitian yang berbasis aktifitas,
sampel yang digunakan terlalu kecil, sehinga dibutuhkan studi berkelanjutan dengan smapel
lebih besar di penelitian selanjutnya.

Pada jurnal review ini, 10 dari 12 penelitian mengindikasikan bahwa terapi non
farmakologis efektif dalam menurunkan angka agitasi pada psien demensia. Agitasi terjadi
pada 30% pasien demensia yag di rawat di rumah. Agitasi sangat sering terjadi, persisten, dan
gejala yang dapat menimbullkan stress berkepanjangan bagi pasien dan caregiver. Dewasai
ni, penggunaan terapi farmakologid biasanyam enggunakan obat-obatan anti psikotik, dimana
hasil luaran nya buruk dan menimbulkan efek samping seperti sindrom ekstrapiramidal.

Menariknya, satu penelitian menunjukkan perburukan dari terapi non farmakologis


bagi pasien demensia yakni pada program rehabilitasi kognitif, terdapat peningkatan gejala
motorik sisa. Hal ini disebabkan karena pasien demensia kehilangan kontrol pergerakan dan
berada di lingkungan yang lebih menimbulkan stress secara psikologis.

Beberapa kekurangan dalam penelitian-penelitian tersebut adalah sumber data yang


dipaparkan diambil dari perawat pasien/caregiver sehingga hal ini di khawatirkan bias karena
adanya perbedaan persepsi dari pasien dan perawat. Pada intervensi berbasis aktifitas yang
dilakukan berdasarkan kemauan pasien, hal ini memiliki efikasi yang leboh baik
dalammenurunkan gejala agitasi, karena psien dmensia cenderung timbul agitasi jika
kemauan nya idak dituruti, maka dari itu pembebasan untuk melakukan aktifitas fisik sesuai
kemauan dan kesukaan pasien lebih diminati. Begitupun dengan terapi lainnya berupa
mendengarkan rekaman suara. Dimana rekaman suara yang berasal dari suara anggota
keluarga memiliki efikasi yang lebih baik dala menurunkan gejala agitasi dibandingkan
rekaman lagu/musik.

Kesimpulan

Banyak peneltitian yang menunjukkan tentang manfaat dari terapi non farmakologis
dalam menurunkan gejala perilaku dan psikologis pada pasien demensia yang berupa agitasi,
psikosis, dan apatis. Efek samping dalam penggunaan obat-obatan antipsikotik seperti
benzodiazepine mendasari dilakukannya penelitian yang berbasis tatalaksana non
farmakologis seperti yang dipaparkan oleh peneliti. Maka dar itu, penerapan tatalaksana non
farmakologis harus dijadikan pilihan nomor satu dalam menanggulangi gejala psikologis dan
perilaku pasien demensia.