Anda di halaman 1dari 50

ASUHAN KEBIDANAN COC PADA NY.

W DARI KEHAMILAN, BERSALIN,

BAYI BARU LAHIR, NIFAS, DAN KELUARGA BERENCANA

DI BPM NANIK YULIWATI, S.KM KEC. PUTRA RUMBIA

KAB. LAMPUNG TENGAH TAHUN 2018

LAPORAN TUGAS AKHIR

Disusun Oleh :

NAMA : SISKA YUNI MUTIA

NIM : 1515371030

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNG KARANG
KELAS REGULER DIV KEBIDANAN METRO
TAHUN 2017
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEBIDANAN COC PADA NY.W DARI KEHAMILAN, BERSALIN,

BAYI BARU LAHIR, NIFAS, DAN KELUARGA BERENCANA

DI BPM NANIK YULIWATI, S.KM KEC. PUTRA RUMBIA

KAB. LAMPUNG TENGAH TAHUN 2018

Telah diperiksa dan disyahkan pada :

Hari :
Tanggal :

YANG MEMERIKSA DAN MENYETUJUI

PEMBIMBING INSTITUSI PEMBIMBING LAHAN

GANGSAR INDAH LESTARI, M.KES NANIK YULIWATI, S.KM


NIP. NIP. 19740717 200212 2002

MENGETAHUI
KEPALA PRODI DIV KEBIDANAN METRO

NS. MARTINI FAIRUS, S.KEP.,M.SC


NIP.
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas semua berkat dan rahmat-Nya
sehingga dapat terselesaikannya Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Asuhan Kebidanan
Komprehensif Pada Ny.W Dari Kehamilan, Bersalin, Bayi Baru Lahir, Nifas, Dan Keluarga
Berencana Di BPM Nanik Yuliwati, S.Km Kec. Putra Rumbia, Kab. Lampung Tengah Tahun
2018 “, sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Diploma IV Kebidanan pada
Program Studi DIV Kebidanan Metro. Dalam hal ini, penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak, karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima
kasih kepada:

1. Bapak Drs.Kukuh Triyono dan Ibu Sepridayanti selaku Orangtua penulis yang selalu
memberikan doa, semangat, dan membiayai perkuliahan penulis selama proses
perkuliahan.
2. Ibu Ns. Martini Fairus, S.Kep.,M.SC selaku Kepala Prodi Kebidanan Metro Poltekes
Kemenkes Tanjungkarang.
3. Ibu Gangsar Indah Lestari, M.Kes selaku Pembimbing Akademik Laporan Tugas
Akhir.
4. Bidan Nanik Yuliwati, S.KM selaku Pembimbing Lahan Laporan Tugas Akhir.
5. Ibu Ranny Septiani, M.Keb selaku Pembimbing Akademik penulis.
6. Ibu Sri Lestariningsih, M.Kes selaku Wali Kelas DIV Ta.2015
7. Ny.Wagiyem dan keluarga yang bersedia menjadi subjek penulis.
8. Bidan Emawati, S.ST yang selalu memberikan semangat dan ilmu-ilmu baru sebagai
bahan LTA.
9. Ibu Luthfia Nur Azizah selaku Ibu Asrama yang memberikan semangat dan
membantu proses perkuliahan penulis.
10. Semua teman-teman yang membantu penulis dalam menyelesaikan LTA

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, memberikan balasan pahala atas segala amal baik yang telah
diberikan dan semoga laporan ini berguna bagi semua pihak yang memanfaatkan.
Metro, ................... 2018
Penulis

Siska Yuni Mutia


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2015 Angka Kematian
Ibu (AKI) diseluruh dunia diperkirakan 216/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian
neonatal turun 47% antara tahun 1990-2015, yaitu dari 36/1000 kelahiran hidup menjadi
19/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015 (World Health Organization, 2015).

Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari indikator Angka
Kematian Ibu (AKI). Indikator ini tidak hanya mampu menilai program kesehatan ibu,
terlebih lagi mampu menilai derajat kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil Survei
Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, AKI di Indonesia kembali menunjukkan penurunan
menjadi 305/100.000 kelahiran hidup. Begitu pula dengan Angka Kematian Bayi (AKB) di
Indonesia juga menunjukkan penurunan menjadi 22,23/1.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI,
2015).

Cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil Kunjungan 1 (K1) dan Kunjungan lengkap
(K4) pada tahun 2015 telah memenuhi target Rencana Strategis (Renstra) Kementrian
Kesehatan sebesar 72%. Dimana jumlah capaian K1 95,75% dan K4 87,48% (Kemenkes RI,
2015).

Begitu juga dengan presentase pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan


menunjukkan kecenderungan peningkatan. Terdapat 79,72% ibu hamil yang menjalani
persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan di fasilitas pelayanan
kesehatan. Secara nasional, indikator tersebut telah memenuhi target Rencana Strategis 75% (
Kemenkes RI, 2015).

Kunjungan masa nifas 3 (KF3) di Indonesia secara umum mengalami peningkatan


17,90% menjadi 87,06% (Kemenkes RI, 2015). Persentase peserta Keluarga Berencana (KB)
baru terhadap Pasangan Usia Subur (PUS) di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 13,46%.
Dimana peserta KB suntik sebanyak 49,93%, pil 26,36%, implan 9,63%, Intra Uterin Device
(IUD) 6,81%, kondom 5,47%, Metode Operasi Wanita (MOW) 1,64% dan Metode Operasi
Pria (MOP) 0,16%. Total angka unmet need tahun 2015 mengalami penurunan dibandingkan
tahun 2014 sebesar 14,87% (Kemenkes RI, 2015).
Pada tahun 2010-2015 AKI yang dilaporkan di Sumatera Utara mengalami penurunan
dari 328/100.000 kelahiran hidup menjadi 93/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB
Sumatera Utara turun dari 21,59/1.000 menjadi 20,22/1.000 kelahiran hidup (Dinkes Sumut,
2015). Sebagai upaya penurunan AKI, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sejak
tahun 1990 telah meluncurkan safe motherhood initiative, sebuah program yang memastikan
semua wanita mendapatkan perawatan yang dibutuhkan sehingga selamat dan sehat selama
kehamilan dan persalinannya. Upaya tersebut dilanjutkan dengan program Gerakan Sayang
Ibu tahun 1996 oleh Presiden Republik Indonesia. Upaya lain juga telah dilakukan yaitu
strategi Making Pregnancy Safer yang dicanangkan tahun 2000.

Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan program Expanding Maternal


and Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan AKI dan AKB sebesar 25%.
Program EMAS berupaya menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian neonatal
dengan cara meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal
di 150 Rumah Sakit Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Komprehensip (PONEK), 300
Puskesmas/Balkesmas Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar (PONED) dan
memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar puskesmas dan rumah sakit. Dalam
Rencana Strategis Kementrian Kesehatan 2015-2019 salah satu sasaran yang ingin dicapai
adalah meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat dengan target salah satu
indikatornya, yaitu AKI pada tahun 2019 turun menjadi 306/100.000 kelahiran hidup
(Kemenkes RI, 2015).

Upaya percepatan penurunan AKI dapat dilakukan dengan menjamin agar setiap ibu
mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan
ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan
kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika
terjadi komplikasi, serta pelayanan keluarga berencana (Kemenkes RI, 2015).

Oleh karena itu untuk membantu upaya percepatan penurunan AKI salah satunya
adalah melaksanakan asuhan secara berkelanjutan atau Continuity of Care. Continuity of
Care adalah pelayanan yang dicapai ketika terjalin hubungan yang terus menerus antara
seorang wanita dan bidan. Asuhan yang berkelanjutan berkaitan dengan tenaga professional
kesehatan, pelayanan kebidanan dilakukan mulai prakonsepsi, awal kehamilan, selama semua
trimester, kelahiran dan melahirkan sampai 6 minggu pertama postpartum (Pratami, 2014).
Implementasi model pembelajaran klinik Continuity of Care, dapat dievaluasi bahwa tidak
terjadi kematian (zero maternal mortality), dari 108 ibu hamil yang menjadi kasus dan 1
kematian neonatus akibat persalinan prematur (Yanti, 2015).

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis melakukan asuhan Continuity of Care pada ibu
mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan juga keluarga berencana di BPM
Nanik Yuliwati, S.KM Putra Rumbia Lampung Tengah.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan asuhan secara continuty of caren pada ibu hamil, bersalin, bayi baru
lahir, nifas dan keluarga berencana dengan pendekstsn manajemen kebidanan.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan asuhan kebidanan kehamilan pada Ny.W
2. Melakukan asuhan kebidanan persalinan pada Ny.W
3. Melakukan asuhan kebidanan bayi baru lahir pada By. Ny.W
4. Melakukan asuhan kebidanan masa nifas pada Ny.W
5. Melakukan asuhan kebidanan keluarga berencana pada ny.W
6. Mendokumentasikan asuhan kebidanan yang telah dilakukan pada Ny.W

1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Teori
1. Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan, serta bahan dalam penerapan
asuhan kebidanan dalam batas Continuity of Care terhadap ibu hamil, bersalin, bbl.
Ibu nifas dan keluarga berencana.
2. Dapat dijadikan bahan perbandingan untuk study kasus selanjutnya.
1.3.2 Manfaat Praktik
Dapat dijadikan sebagai bahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan Kesehatan Ibu
dan Anak (KIA), khususnya dalam memberikan informasi tentang perubahan fisiologis dan
asuhan yang diberikan pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas, dan keluarga berencana
dalam batasan Continuity of Care.

1.4 Ruang Lingkup


Ruang lingkup asuhan kebidanan diberikan kepada ibu hamil trimester III dengan
kehamilan fisiologis dan dilanjutkan dengan asuhan bersalin, bayi baru lahir, nifas dan
keluarga berencana. Pelayanan ini diberikan dengan continuity of care.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kehamilan
2.2.1 Pengertian Kehamilan
Menurut Sarwono 2014, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan
dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Kehamilan norml
akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan kurang atau 9 bulan menurut
kalender internasional. Kehamilan terbagi menjadi tiga trimester yaitu trimester satu (1-12
minggu), trimester dua (13-27 minggu), trimester tiga (28-40 minggu).
Menurut Saifudin, Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.
Lamanya lahir normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari
pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan pertama dimulai dari konsepsi
sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan
ketujuh sampai 9 bulan.
2.2.2 Fisiologi Kehamilan
Perubahan anatomi dan fisiologi pada ibu hamil sebagian besar sudah terjadi segera
setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan. Pemahamn tentang perubahan antomi
dan fisiologi selama kehamilan merupakan salah satu tujuan utama dari ilmu kebidanan.
Hampir tidak mungkin dapat dimengerti proses penyakit yang terjadi selama kehamilan dan
masa nifas tanpa disertai pemahamn mengenai perubahan anatomi dan fisiologi ini. Beberapa
perubahan yang terjadi pada ibu hamil selama kehamilan :
a. Uterus
Selama masa kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan
melindungi hasil konsepsi sampai persalinan. Uterus mempunyai kemampuan
yang luar biasa untuk bertambah besar dengan cepat selama kehamilan dan pulih
kembali seperti keadaan semula dalam beberapa minggu setelah persalinan.
Pembesaran uterus meliputi peregangan dan penebalan sel-sel otot, sementara
produksi miosit yang baru sangat terbatas. Pada minggu-mingu pertama uterus
masih seperti bentuk aslinya seperti buah alvocad. Seiring dengan perkembangan
kehamilan, daerah fundus dan korpus akan membulat dan akan menjadi bentuk
sferis pada usia kehamilan 12 minggu. Panjang uterus akan bertamabah lebih
cepat dibandingkan lebaranya sehingga akan berbentuk oval. Ismus uteri pada
minggu pertama mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri yang mengakibatkan
ismus uteri menjadi lebih panjang dan lunak yang dikenal dengan tanda hegar.
Sejak trimester pertama sampai terimester ketiga pada kehamilan, uterus akan
mengalami kontraksi. (Prawirhardjo, sarwono 175-176 : 2014).
b. Serviks
Satu bulan setelah konsepsi serviks akan menjadi lebih lunak dan
kebiruan. Perubahan ini terjadi akibat penambahan vaskularisasi dan terjadinya
edema pada seluruh serviks, bersamaan dengan terjadinya hipertrofi dan
hiperplasia pada kelenjar serviks.seriviks manusia merupakan organ yang
kompleks dan heterogon yang mengalami perubahan yang luar biasa selama
kehamilan dan persalianan. Pada perempuan tidak hamil berkas kolagen pada
serviks terbungkus rapat dan tidak beraturan. Selama kehamilan, kolagen secara
aktif disintesis dan secara terus-menerus diromodel oleh kolagenase yang di
sekresi oleh sel-sel serviks dan neutrofil. (Prawirhardjo, sarwono 177 : 2014).
c. Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel
baru juga di tunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di ovarium.
Folikel ini akan berfungsi sela 6-7 minggu awal kehamilan dan setelah itu akan
berperan sebagai penghasil progesteron dalam jumlah yang relatif minimal.
(Prawirhardjo, sarwono 178 : 2014).
d. Vagina dan perineum
Selama kehamilan peningkatan vaskulrisasi dan hipermia terlihat jelas
pada kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina akan
terlihat berwarna keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwick. Perubahan ini
meliputi penipisan mukosa dan hilang nya sejumlah jaringan ikat dan hipertrofi
dari sel-sel otot polos. (Prawirhardjo, sarwono 178 : 2014).
e. Sistem kardiovaskuler
Perubahan hemodinamik memdahkan sistem kardiovaskuler pada ibu
memenuhui kebutuhan janin sambil mempertahankan status kardiovaskulernya
sendiri. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh peningkatan kadar esterogen,
progesteron, dan prostaglandin. Pewrubahan ini akan kembali normal setelah
kehamilan berakhir. (Varney, asuhan kebidanan volume 1, 498 : 2006)
2.2.3 Kebutuhan Kesehatan Pada Ibu Hamil
a. Pelayanan/ asuhan standar minimal termasuk “10T”
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan
untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin. Pengukuran tinggi badan
pada pertama kali kunjungan dilakukan untuk menapis adanya resiko terjadinya
CPD (Cephalo Pelvic Disproportion).
2. Pemeriksaan tekanan darah
Pemeriksaan tekanan darah pada setiap kali kunjungan dilakukan untuk
mendeteksi adanya hipertensi ( > 140/90 mmHg) dan preeklamsia (hipertensi
disertai oedema wajah dan tungkai serta proteinuria > +1).
3. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas).
Pengukuran LILA (lingkar lengan atas) dilakukan pada kontak pertama ibu
hamil dengan tenaga kesehatan untuk skrining ibu hamil resiko Kurang Energi
Kronik (KEK) dimana LILA < 23,5 cm.
4. Pemeriksaan tinggi fundus uteri.
Pengukuran TFU pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi pertumbuhan janin.
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
Menentukan presentai janin bertujuan untuk mengetahui letak janin. Untuk
pemeriksaanya dapat dilakukan dengan palpasi abdomen menggunakan manuver
leopod I-IV:
Pemeriksaan DJJ dilakukan setiap kali kunjungan, DJJ lambat ( < 120
x/menit) dan cepat ( > 160 x/menit) menunjukkan adanya gawat janin.
6. Skrining status imunisasi tetanus dan memberikan imunisasi tetanus toksoid (TT)
bila diperlukan.
Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus mendapat
imunisasi TT. Pada saat kontak pertama dengan tenaga kesehatan ibu di skrining
tentang status imunisasi TT nya.
Tabel 2.1 Pemberian Suntikan TT
Lama
Antigen Interval % perlindungan
perlindungan
TT 1 Kunjungan - -
awal
TT 2 4 minggu 3 tahun 80
setelah TT1
TT 3 6 bulan setelah 5 tahun 95
TT2
TT4 1 tahun setelah 10 tahun 99
TT3
TT5 1 tahun setelah 25 tahun/long 99
TT4 life
Sumber :Sulistyawati, A, 2009
7. Pemberian tablet besi (Fe)
Untuk mencegah anemia, setiap ibu hamil harus mendapat tablet zat besi dan
asam folat minimal 90 tablet selama kehamilan yang diberikan sejak kontak
pertama dengan tenaga kesehatan.
8. Test laboratorium .
Pemeriksaan laboratorium pada ibu hamil meliputi golongan darah,
hemoglobin, protein urine, reduksi urine, kadar gula darah dan HIV ( Human
Immuno Deficiency Virus ) .
9. Tatalaksana kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal dan hasil pemeriksaan laboratorium,
setiap kelainan yang ditemukan harus ditangani sesuai dengan standar.
10. Temu wicara (konseling), termasuk Program Perencanaan Persalianan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan (Kemenkes RI, 2012).
2.2 Persalinan
2.2.1 Konsep dasar persalinan
a. Pengertian
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta yang
telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui
jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini dimulai
dengan adanya kontraksi persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks
secara progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Sulistyawati, 2010).
Persalinan atau partus, merupakan proses fisiologis terjadinya kontraksi uterus
secara teratur yang menghasilkan penipisan dan pembukaan serviks secara progresif
(Reeder, 2011).
b. Proses persalinan
Kala I (Pembukaan)
Kala pembukaan dibagi atas 2 fase :
1. Fase laten : pembukaan serviks yang berlangsung lambat sampai pembukaan ≤
4cm, lamanya 6-8 jam.
2. Fase Aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase:
1) Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
2) Periode dilatasi maksimal (steady): selama 2 jam, pembukaan berlangsung
cepat menjadi 9 cm.
3) Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan
menjadi 10 cm (lengkap).
Fase-fase yang dikemukakan di atas dijumpai pada primigravida. Perbedaan
pembukaan serviks pada primigravida dengan multigravida adalah sebagaii berikut :

Tabel 2.3 Fase Pembukaan pada primigravida dan multigravida


Primi Multi
Serviks mendatar (efficement) dulu, Mendatar dan membuka dapat
baru berdilatasi berlangsung 13-14 terjadi bersamaan. Berlangsung 6-
jam 7 jam.
Sumber : Mochtar, 2011

Ditandai dengan penipisan dan pembukaan serviks, kontraksi uterus yang


mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit).
Pemeriksaan dalam (vaginal touche) adalah pemeriksaan genetalia bagian dalam
dimulai dari vagina sampai serviks menggunakan 2 jari, yang salah satu tehniknya
adalah dengan menggunakan skala ukuran jari (lebar satu jari berarti 1 cm) untuk
menentukan diameter dilatasi servik (pembukaan servik/portio).
Hal-hal yang perlu dinilai pada saat melakukan pemeriksaan dalam :
1) Konsistensi portio
Konsistensi portio menjadi tipis dan lunak, bahkan tidak teraba saat
pembukaan lengkap (10).
2) Pembukaan serviks
Dilatasi servik ditentukan dengan memperkirakan diameter rata-rata bukan
servik. Proses ini dibagi menjadi 2 fase yaitu :
Fase laten
a) Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan serviks secara bertahap.
b) Berlangsung hingga serviks membuka kurang 4 cm.Pada umumnya, fase
laten berlangsung hampir 8 jam.
Fase aktif
a) Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap
(kontraksi dianggap adekuat/ memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam
waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
b) Dari pembukaan 4 hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan
terjadi dengan kecepatan rata-rata per jam (primipara) atau lebih 1 cm
hingga 2 cm (multipara).
c) Terjadi penurunan bagian terbawah janin (Nurasiah A, 2012).
3) Air ketuban (utuh atau pecah).
Ada tidaknya selaput ketuban masih utuh atau sudah pecah. Kalau sudah
pecah nilai keadaan cairan amnion (jernih, mekonium, darah, kering).
4) Presentasi dan posisi janin.
a. Presentasi muka
Presentasi kepala dengan defleksi maksimal hingga oksiput mengenai
punggung dan muka terarah kebawah.
b. Presentasi dagu
Sumbu panjang muka berada pada diameter transfersa panggul, dengan dagu
pada satu sisi dan dahi pada sisi yang lain.
c. Presentasi dahi
Sikap ekstensi sebagian (pertengahan), berlawanan dengan preseentasi muka
yang ekstensinya sempurna.
d. Presentasi puncak kepala
Tidak terjadi fleksi maupun ekstensi, ubun-ubun kecil dan dahi sama
tingginya di dalam panggul. Bagian terndahnya adalah puncak kepala.
e. Presentasi bokong
Letak memanjang dengan kelainan dalam polaritas, panggul janin merupakan
kutup bawah.
f. Letak lintang
Terjadi bila sumbu memanjang ibu membentuk sudut tegak lurus dengan
sumbu memanjang janin. Oleh karena seringkali bahu terletak diatas PAP (
pintu atas pnggul).
5) Ketinggian bagian terbawah janin dijalan lahir digambarkan dalam
hubungannya dengan spina isciadika yang terletak antara pintu atas dan pintu
bawah panggul (hodge).
6) Penyusupan kepala janin/ molase.
7) Bagian terbawah lain : misal tangan/lengan menumbung, atau tali pusat
(Nurasiah, 2012).
Kala II (Pengeluaran bayi)
Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan
berakhir dengan lahirnya bayi. Primipara berlangsung selama 2 jam dan pada
multipara 1 jam. Diagnosis kala II ditegakkan atas dasar pemeriksaan dalam yang
menunjukkan Pembukaan serviks lengkap dan Terlihat bagian kepala bayi pada
introtus vagina.
1. Tanda dan Gejala Kala II yaitu :
1) His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit.
2) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
3) Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum atau vagina.
4) Perineum terlihat menonjol.
5) Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka.
6) Peningkatan pengeluaran lender dan darah.
2. Diagnosis kala II ditegakkan atas dasar pemeriksaan dalam yang menunjukkan :
1) Pembukaan serviks lengkap
2) Terlihat bagian kepala bayi pada introtus vagina
(Nurasiah, 2012).
3. Lama persalinan
Tabel 2.4 Lamanya Persalinan
Lama Persalinan
Primipara Multipara
Kala I 13 jam 7 jam
Kala II 1 jam ½ jam

Kala III ½ jam ¼ jam


TOTAL 14 ½ jam 73/4 jam
Sumber: Rohani,, 2011

4. Mekanisme persalinan
1) Turunnya kepala
a. Masuknya kepala dalam pintu atas panggul (PAP)/Engagement.
Masuknya kepala ke dalam PAP pada primigravida terjadi dibulan akhir
kehamilan sdangkan pada multigravida biasanya terjadi pada awal
persalinan.
b. Majunya kepala pada primigravida terjadi setelah kepala masuk ke rongga
panggul dan biasanya baru dimulai pada kala 2.
2) Fleksi
Dengan majunya kepala, biasanya fleksi juga bertambah hingga ubun-ubun
kecil lebih rendah dari ubun-ubun besar. Keuntungan dari bertambahnya fleksi
ialah bahwa ukuran kepala yang lebih kecil melalui jalan lahir.
3) Putaran paksi dalam
Pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari
bagian depan memutar kedepan kebawah simpisis. Pada presentasi belakang
kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah
yang akan memutar kedepan kebawah simpisis.
4) Ekstensi
Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai didasar panggul, terjadilah
ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini disebabkan karena sumbu jalan lahir
pada pintu bawah panggul mengarah kedepan dan atas, sehingga kepala harus
mengadakan ekstensi untuk melaluinya
5) Putaran paksi luar
Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar kembali kearah punggung anak
untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi arena putaran paksi dalam.
6) Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah simpisis untuk kelahiran
bahu belakang kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan
anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.
5. Amniotomi
Tindakan yang membuka selaput amnion dengan jalan membuat robekan kecil
yang kemudian melebar secara sepontan akibat gaya berat cairan dan tekanan
didalam rongga amnion. Indikasi dilakukan amniotomi :
a) Pada persalinan dikala 2 jika ketuban belum pecah dan pembukaan servik
lengkap.
b) Akselerasi persalinan untuk meningkatkan frekuensi, lama dan kekuatan dan
kotraksi uterus dan persalinan.
c) Persalinan pervaginam menggunaan instrumen.
6. Episiotomi
Bisa dipertimbangkan pada kasus : gawat janin, persalinan pervaginam dengan
penyulit (sungsang, distosia bahu, ekstraksi forceps, ekstraksi vakum), jaringan
parut pada perineum atau vagina yang menghalangi kemajuan persalinan.
Episiotomi dilakukan pada perineum sudah menipis dan kepala janin tidak masuk
lagi ke dalam vagina yaitu dengan jalan mengiris atau menggunting perineum.
Tujuannya supaya tidak terjadi robekan perineum yang tidak teratur dan robekan
pada spincter ani yang dapat menyebabkan inkontenensia alvi (Mochtar, 2011).
Kala III (pelepasan plasenta)
Setelah bayi lahir, kontraksi rahim beristirahat sebentar sebentar. Uterus teraba
keras dengan fundus uteri sitinggi pusat, dan berisi plasenta yang menjadi dua kali
lebih tebal dari sebelumnya. Beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan
pengleuaran uri. Dalam waktu 5-10 menit, seluruh plasenta terlepas, terdorong ke
dalam vagina, dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simfisis
atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.
Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc
(Mochtar, 2011).
1. Tanda-tanda lepasnya plasenta.
1) Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus
berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya dibawah pusat.
2) Tali pusat memanjang
Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda Ahfeld).
3) Semburan darah mendadak dan singkat
Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu mendorong plasenta
keluar dibantu boleh gaya gravitasi.
Pengeluaran plasenta.
Plasenta yang sudah terlepas oleh kontraksi rahim akan didorong ke SBR
(segmen bawah rahim) kedalam bagian atas vagina. Plasenta dikeluarkan
dengan melakukan tindakan manual bila :
a. Perdarahan lebih dari 400-500 cc
b. Terjadi retensio plasenta
c. Bersamaan dengan tindakan yang disertai narkosa
d. Dari anamnesa terdapat perdarahan habitualis
2. Pemeriksaan plasenta
Setelah plasenta lahir bersama selaputnya,selanjutnya dilakukan pemeriksaan yang
cermat terhadap :
1) Kotiledon, yang berjumlah 20 buah
2) Permukaan plasenta janin
3) Kemungkinan terhadap plasenta suksenturiata
Tertinggalnya sebagian jaringan plasenta dapat menyebabkan :
1) Perdarahan perineum yang berkepanjangan
2) Bahaya infeksi
3) Terjadi polip plasenta
4) Digenerasi ganas menjadi kariokarsinoma
Kala IV (pemantauan dan evaluasi ibu)
Kala IV adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah bayi dan uri lahir untuk
menganati keadaan ibu, terutama terhadap bahaya perdarahan postpartum. Lamanya
persalinan pada primi dan multi dapat diihat pada kotak di atas (Mochtar, 2011)
Kala 4 dimulai dari lahirnya plasenta selama 1 sampai 2 jam. Pada kala 4
dilakukan observasi terhadap perdarahan pasca persalinan paling sering terjadi pada 2
jam pertama. Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 400–
500 cc.
Observasi yang dilakukan adalah:
1. Tingkat kesadaran pasien
2. Pemeriksaan tanda–tanda vital :
1) Vital sign
Tekanan darah < 90/60 mmHg, jika denyut nadinya normal, tekanan darah
seperti ini tidak akan terjadi masalah. Akan tetapi jika tekanan darah <90/60
mmHg dan denyut nadinya 100x/menit, ini mengidentifikasikan adanya suatu
masalah. Mungkin ibu mengalami deman atau terlalu banyak mengeluarkan
darah. Jika suhu tubuh >38C, hal ini mungkin disebabkan oleh dehidrasi
(persalinan yang lama dan tidak cukup minum) atau ada infeksi.
2) Tonus uterus dan ukuran tinggi uterus
Jika kontraksi uterus tidak baik maka uterus terasa lembek, lakukan
masase uterus, bila perlu berikan injeksi oksitosin atau metergin.
3) Perdarahan
Perdarahan yang normal setelah persalinan kurang lebih >500 ml, mungkin
hanya akan sebanyak 1 pembalut perempun per jam, selama 6 jam pertama atau
seperti darah haid yang banyak. Jika perdarahan lebih banyak dari ini, ibu
hendaknya diperiksa lebih sering dan penyebab perdarahan harus diselidiki.
4) Kandung kemih
Jika kandung kemih penuh uterus tidak dapat berkontraksi dengan baik.
Jika uterus naik didalam abdomen dan tergeser kesamping ini biasanya
merupakan pertanda bahwa kandung kencingnya penuh. Bantu ibu untuk
bangun dan coba apakah ia bisa buang air kecil, bantu ibu merasa rileks dengan
meletakkan jarinya dalam air hangat, mengucurkan air keatas perineum, dengan
menjaga prifasinya. Jika ia tetap tidak kencing, lakukan kateterisasi
(Nurasiah,2012).
c. Perubahan Fisiologis
Perubahan Fisiologi Pada ibu bersalin
1. Perubahan fisiologis kala I
1) Uterus
Saat persalinan, jaringan dari meometrium terkontraksi dan berelaksasi.
Pada saat otot retraksi berubah keukuran yang lebih pendek secara progresif.
2) Serviks
Serviks mempersiapkan kelahiran dengan berubah menjadi lembut. Saat
persalinan mendekat, serviks mulai menipis dan membuka.
a. Penipisan serviks (effasement), serviks mengalami perubahan bentuk
menjadi lebih tipis.
b. Dilatasi disebabkan dari daya tarikan otot uterus ke atas secara terus
menerus saat uterus berkontraksi.
2. Perubahan fisiologis Kala II
1) Uterus
Saat ada his, uterus teraba sangat keras karena seluruh otot berkontraksi.
2) Serviks
Pada kala 2, serviks sudah menipis dan dilatasi maksimal. Saat dilakukan
pemeriksaan dalam, porsio sudah tak teraba dengan pembukaan 10 cm.
3) Tekanan pada otot dasar panggul
Tekanan pada otot dasar otot panggul oleh kepala janin akan menyebabkan
pasien ingin meneran, diikuti dengan perineum yang menonjol dan menjadi
lebar dengan anus membuka. Labia mulai membuka dan tak lama kemudian
kepala janin tampak pada vulva saat ada his.
4) Ekspulsi janin
Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi, kepala janin sudah tidak masuk
lagi diluar his. Dengan his serta kekuatan meneran maksimal kepala janin
dilahirkan dengan suboksiput dibawah simpisis, kemudian dahi, muka, dan dagu
melewati perineum.
5) Tekanan darah
Tekanan darah dapat meningkat lagi 15–25 mmHg selama kala 2
persalinan. normalnya peningkatan tekanan darah selama kala 2 adalah 10
mmHg.
6) Metabolisme
Peningkatan metabolisme terus berlanjut hingga kala 2 persalinan. Upaya
meneran pasien menambah aktifitas otot rangka sehingga meningkatkan
metabolisme.
7) Denyut nadi
Frekwensi denyut nadi bervariasi setiap kali pasien meneran. Secara
keseluruhan frekuensi nadi meningkat selama kala 2 disertai takikardi yang
nyata ketika mencapai puncak kelahiran bayi.
8) Suhu
Peningkatan suhu tertinggi terjadi pada saat proses persalinan dan segera
setelahnya, peningkatan suhu normal 0,5–10C.
9) Pernafasan
Sedikit frekuensi pernafasan dianggap normal selama persalinan.
Frekuensi pernafasan sangat dipengaruhi oleh rasa senang, nyeri, rasa takut,
dan penggunaan teknik pernafan yang benar.
10) Perubahan gastrointestinal
Penurunan motilitas lambung dan absosbsi yang hebat berlanjut sampai
dengan kala 2. Mual muntah pada saat transisi akan mereda selama kala 2
persalinan.
11) Perubahan ginjal
Poliuri sering terjadi selama persalinan. Kondisi ini dapat diakibatkan
karena peningkatan lebih lanjut curah jantung selama persalinan
(Sulistyawati, 2010).
3. Perubahan fisiologis Kala III
Kala 3 merupakan periode waktu dimana penyusutan volume rendah uterus
setelah kelahiran bayi. penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran
tempat perlekatan plasenta. perlekatan menjadi kecil sedangkan ukuran plasenta
tidak berubah, maka plasenta menjadi berlipat, menebal kemudian lepas dari
dinding uterus setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau
kedalam vagina (Rohani, 2013).
4. Perubahan fisiologi Kala IV
1) Tanda vital
Dalam dua jam pertama setelah persalinan, tekanan darah, nadi, dan
pernafasan akan berangsur kembali normal. Suhu pasien akan mengalami
peningkatan, tapi masih dibawah 38oC, hal ini disebabkan oleh kurangnya
cairan dan kelelahan.
2) Gemetar
Hal ini normal sepanjang suhu kurang dari 38oC dan tidak dijumpai tanda-
tanda infeksi lain. Gemetar terjadi karena hilangnya ketegangan dan sejumlah
energi selama melahirkan dan merupakan respon fisiologis.
3) Sistem gastrointestinal
Selama dua jam pasca persalinan kadang dijumpai pasien merasa mual
sampai muntah, posisi tubuh yang memungkinkan dapat mencegah terjadinya
aspirasi.
4) Sistem renal
Selama dua jam pasca persalinan kandung kemih masih dalam keadaan
hipotonik akibat adanya alostaksis sehingga sering dijumpai kandung kemih
dalam keadaan penuh dan mengalami pembesaran. Hal ini disebabkan oleh
tekanan pada kandung kemih dan uterus selama persalinan.
5) Sistem kardiovaskuler
Selama kehamilan, volume normal digunakan untuk menampung aliran
darah yang meningkat yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah
uterus. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama
masa ini pasien mengeluarkan banyak sekali urine. Pada persalinan pervaginam
kehilangan darah sekitar 200-500 ml sedangkan pada persalinan SC (sectio
caesarea) pengeluarannya dua kali lipat.
6) Serviks
Serviks berwarana merah kehitaman karena penuh dengan pembuluh
darah. Karena robekan kecil terjadi selama berdilatasi, maka serviks tidak akan
pernah kembali lagi ke keadaan seperti sebelum hamil.
7) Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya
teregang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada hari ke-5 pasca
melahirkan, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian tonusnya sekalipun
tetap lebih kendur dibanding keadaan sebelum hamil.
8) Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat
besar selama proses melahirkan dan dalam beberapa hari pertama sesudah
proses tersebut kedua organ ini tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu
vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina
secara beransur-angsur akan muncul kembali, sementara labia menjadi lebih
menonjol.
9) Pengeluaran ASI
Dengan menurunya horman estrogen, progesteron, prolaktin dapat
berfungsi membentuk ASI dan mengeluarkannya ke dalam alveoli bahkan
sampai ductus kelenjar ASI. Isapan langsung pada puting susu ibu
menyebabkan refleks yang dapat mengeluarkan oksitosin dari hipofisis sehingga
mioepitel yang terdapat disekitar alveoli dan ductus kelenjar ASI berkontraksi
dan mengeluarkan ASI.
d. Kebutuhaan dasar persalinan
1. Makan dan minum peroral
Dianjurkan untuk minum cairan yang manis dan berenergi sehingga kebutuhan
kalorinya akan tetap terpenuhi.
2. Akses intravena
Akses intravena adalah tindakan pemasangan infus pada pasien. kebijakan ini
diambil untuk mempertahankan keselamatan jiwa suatu saat terjadi keadaan darurat
dan untuk mempertahnkan suplai cairan dari pasien.
3. Posisi dan ambulasi
Posisi yang nyaman selama persalinan sangatlah diperlukan untuk mengurangi
ketegangan dan rasa nyeri. Beberapa posisi yang dapat diambil yaitu Recumbent
lateral (miring, lutut sampai dada, tangan sampai lutut, duduk, berdiri, jongkok).
4. Eliminasi selama persalinan
Buang air kecil (BAK) selama proses persalinan pasien akan mengalami poliuri
sehingga penting untuk difasilitasi agar kebutuhan eliminasi dapat terpenuhi.
5. Kebersihan tubuh
Upaya yang dapat dilkukan untuk menjaga kebersihan tubuh pasien antara lain
mengganti baju yang basah dengan keringat, menyeka keringat, dan mengganti
pengalas bokong yang basah dengan darah atau air ketuban
6. Istirahat
Diawal persalinan sebaiknya menganjurkan pasien untuk istirahat yang cukup
sebagai persiapan untuk menghadapi proses persalinan yang panjang terutama pada
primipara.
7. Kehadiran pendamping
Kehadiran seseorang yang penting dan dipercaya sangat dibutuhkan oleh pasien
yang akan menjalani proses bersalin, untuk memberikan semangat.
8. Bebas dari nyeri
Beberapa upaya yang dapat mengurangi rasa nyeri seperti mandi dengan air
hangat, berjalan–jalan di kamar, duduk dikursi sambil membaca, dan posisi lutut
dada diatas tempat tidur.
9. Menerima sikap dan perilaku yang baik
Memberikan sikap dan perilaku yang baik akan meningkkatkan kepercayaan pihak
keluarga terhadap pelayanan yang diberikan.
10. Penjelasan dan proses kemajuan persalinan
Informasi yang disampaikan adalah mengenai pembukaan serviksnya serta kondisi
janinnya.
11. Penjelasan prosedur dan penjelasan yang berlaku
Sebelum melakukan suatu prosedure, sebaiknya bidan memberikan penjelasan
mengenai apa yang akan dilakukan serta apa tujuannya, sehingga pasien akan lebih
kooperatif (Sulistyawati, 2010).
12. Pengurangan rasa nyeri
Menurut Varney’s Midwifery, pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi
rasa sakit adalah sebagai berikut :
1) Menghadirkan seorang yang dapat mendukung persalinan
2) Mengatur posisi
3) Relaksasi dan latihan pernapasan
4) Istirahat dan privasi
5) Penjelasan mengenai proses/kemajuan persalinan dan prosedur tindakan
6) Asuhan tubuh
7) Sentuhan
13. Pemantauan partograf
Partograf merupakan alat untuk mencatat informasi berdasarkan observasi,
anamnesis, dan pemeriksaan fisik ibu dalam peralinan, Hal tersebut sangat penting
khususnya untuk membuat keputusan klinis selama kala I persalinan.
2.3 Bayi Baru Lahir
2.3.1 Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir disebut juga dengan neonatus yaitu bayi yang baru saja
mengalami proses kelahiran, berusia 0 – 28 hari. BBL memerlukan penyesuaian
fisiologis berupa maturasi, adaptasi ( menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin ke
kehidupan ekstrauterin) dan toleransi bagi BBL untuk dapat hidup dengan baik
(Marmi, 2012).
2.3.2 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir
1. Sistem pernapasan
Cara neonatus bernafas dengan difragmatik dan abdominal. Pernafasan normal
pada neonatus pertama kali dimulai ketika kurang lebih 30 detik sesudah kelahiran.
2. Peredaran darah
Setelah bayi lahir, paru akan berkembang yang akan mengakibatkan tekanan
arteriol dalam paru menurun yang diikuti dengan menurunnya tekanan pada
jantung kanan. Kondisi ini menyebabkan tekanan jantung kiri lebih besar
dibandingkan dengan tekanan jantung kanan dan hal tersebut yang membuat
foramen ovale secara fungsional menutup. Oleh karena tekanan dalam paru turun
dan tekanan dalam aorta desenden naik dan juga karena rangsangan biokimia serta
duktus arteriosus yang berobliterasi, hal ini terjadi pada hari pertama.
3. Sistem pencernaan
Pada masa neonatus saluran pencernaan mengeluarkan tinja pertama biasanya
dalam dua puluh empat jam pertama berupa mekonium. Dengan adanya pemberian
susu, mekonium mulai digantikan oleh tinja tradisional pada hari ke tiga sampai
empat yang berwarna coklat kehijauan.
4. Hepar
Fungsi hepar janin dalam kandungan dan segera setelah lahir masih dalam
keadaan imatur (belum matang), hal ini dibuktikan dengan ketidakseimbangan
hepar untuk meniadakan bekas penghancuran dalam peredaran darah.
5. Metabolisme
Pada jam-jam pertama energi didapatkan dari pembakaran karbohidrat dan
pada hari kedua energi berasal dari pembakaran lemak. Setelah mendapat susu
kurang lebih pada hari keenam, pemenuhan kebutuhan energi bayi 60%
didapatkan dari lemak dan 40% dari karbohidrat.
6. Suhu tubuh
Suhu tubuh normal pada neonatus adalah 36,5-37, 5 oC melalui pengukuran di
aksila dan rektum, jika suhu dibawah 36,5oC bayi mengalami hipotermia.
Mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru lahir adalah :
1) Konduksi
Pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung.
Misalnya menimbang bayi tanpa alas timbangan.
2) Konveksi
3) Panas hilang dari bayi ke udara sekitarnya yang sedang bergerak. Misalnya,
menempatkan bayi baru lahir dekat jendela.
4) Radiasi
Panas dipancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya ke lingkungan yang
lebih dingin. Misalnya, bayi baru lahir dibiarkan dalam ruang Air Conditioner
(AC).
5) Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan. Misalnya bayi yang dibiarkan tidak
diselimuti dan dikeringkan saat tubuhnya basah.
7. Keseimbangan cairan dan fungsi ginjal
Tubuh neonatus mengandung relatif banyak air dan kadar natrium relatif lebih
besar daripada kalium karena ruangan ekstra seluler luas. Pada neonatus fungsi
ginjal belum sempurna hal ini karena :Jumlah nefron matur belum sebanyak orang
dewasa.
8. Keseimbangan asam dan basa
Derajat keasaman (pH) darah pada waktu lahir rendah karena glikolisis
anaerobik. Dalam 24 jam neonatus telah mengkompensasi asidosis
9. Susunan saraf
Sistem neurologis bayi secara anatomik atau fisiologis belum berkembang
sempurna. Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan tidak terkoordinasi,
pengaturan suhu yang labil, kontrol otot yang buruk, mudah terkejut dan tremor
pada ekstremitas
10. Imunologi
Pada sistem imunologi terdapat beberapa jenis imunoglobulin diantaranya
adalah IgG. Imunoglobulin G pada janin berasal dari ibunya melalui plasenta
(Marmi, 2012 ).
2.3.3 Kebutuhan kesehatan pada Bayi Baru Lahir
Kebutuhan BBL 0-2 jam adalah:
1. Jaga bayi tetap hangat
2. Isap lendir dari mulut dan hidung ( hanya jika perlu )
3. Keringkan
4. Pemantauan tanda bahaya
5. Klem,potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, sekitar 2 menit setelah
lahir
6. Lakukan inisiasi menyusui dini
7. Beri suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular, di paha kiri anterolateral
8. Beri salep mata antibiotika pada kedua mata
9. Pemeriksaan fisik
10. Beri imunisasi Hepatitis B 0,5 ml intramuskular, di paha kanan anterolateral,
sekitar 1-2 jam setelah pemberian K1 (Kemenkes RI, 2010).
11. Buang air besar
Bayi yang pencernaannya normal akan BAB pada 24 jam pertama setelah lahir.
BAB pertama ini disebut mekonium. Biasanya berwarna hitam kehijauan dan
lengket.
12. Buang air kecil
Bayi baru lahir BAK pada 24 jam pertama setelah lahir
13. Tidur
Dalam 2 minggu pertama setelah lahir bayi normalnya sering tidur, bayi baru lahir
sampai usia 3 bulan rata-rata tidur selama 16 jam sehari. Pada umumnya bayi
terbangun sampai malam hari pada usia 3 bulan.
14. Kebersihan kulit
Pantat perlu dibersihkan secara teratur, lap wajah terutama area mata dan sekujur
tubuh dengan lembut. Pakaikan baju bayi yang berbahan katun agar mudah
menyerap keringat.
15. Keamanan
Jangan meninggalkan bayi tanpa ada yang menunggu. Hindari pemberian apapun
ke mulut bayi selain ASI, karena bayi bisa tersedak.
Tanda-tanda bahaya
1. Pernafasan sulit atau lebih dari 60 kali permenit
2. Kehangatan terlalu panas (> 38oC atau terlalu dingin < 36oC)
3. Warna kuning, biru atau pucat, memar
4. Pemberian makan, hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah.
5. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, pernafasan sulit
6. Tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, ada lender atau darah pada tinja.
7. Aktivitas menggigil atau tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung, lemas,
terlalu mengantuk, lunglai, kejang, menangis terus menerus.
Penyuluhan sebelum bayi pulang
1. Perawatan tali pusat
2. Pemberian ASI
3. Jaga kehangatan bayi
4. Tanda-tanda bahaya
5. Imunisasi
6. Perawatan harian atau rutin
7. Pencegahan infeksi dan kecelakaan (Marmi, 2012)
2.4 Nifas
2.4.1 Pengertian Nifas
Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta
sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pascapersalinan harus
terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi
upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang
mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan
kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu (Saifuddin, 2011).
Menurut Mochtar (2011) masa nifas (puerperium) adalah masa pemulihan
kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti
prahamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu. Masa nifas ini dibagi dalam 3 periode:
a. Puerperium dini yaitu kepulihan saat ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-
jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b. Pueperium intermediate, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya
6-8 minggu
c. Pueperium lanjut, yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan kembali sehat
sempurna, terutama jika selama hamil atau sewaktu persalinan timbul komplikasi.
Waktu untuk mencapai kondisi sehat sempurna dapat berminggu-minggu, bulanan,
atau tahunan.
2.4.2 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Asuhan masa nifas yang dilakukan bertujuan untuk (Sunarsih, 2011) :
a. Mendeteksi adanya perdarahan masa nifas
b. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya
c. Melaksanakan skrining secara komprehensif
d. Memberikan pendidikan kesehatan diri
e. Memberikan pendidikan mengenai laktasi dan perawatan payudara
f. Konseling mengenai KB
2.4.3 Peran dan tanggung jawab
Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas adalah sebagai berikut (Sunarsih,
2011):
a. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan
kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologi selama masa nifas
b. Sebagai promoter hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
c. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman
d. Membuat kebijakan perencanaan program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak
dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
e. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan
f. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah
perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta
mempraktikkan kebersihan yang aman.
g. Melakukan manajemen asuhan dnegan cara mengumpulkan data, menetapkan
diagnosa, dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses
pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama
periode nifas
h. Memberikan asuhan secara professional.
2.4.4 Program dan kebijakan klinis
Menurut Sunarsih (2011), Kebijakan nasional masa nifas paling sedikit 4 kali
kunjungan yang dilakukan. Hal ini untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta
untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi antara
lain sebagai berikut:
1. 1-6 jam setelah persalinan
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan
berlanjut
c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga beagaimana
mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
d. Pemberian ASI awal
e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
2. 6 hari setelah persalinan
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah
umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan perdarahan abnormal
c. Memastikan ibu mendapatkan cukup maknan, cairan, dan istirahat
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda
penyulit
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi dan tali pusat, serta
menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari
3. 2 minggu setelah persalinan Memastikan rahim sudah kembali normal dengan
mengukur dan meraba bagian rahim
4. 6 minggu setelah persalinan
a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini.
2.4.5 Vitamin A pada Masa Nifas
Menurut Depkes (2009) ibu nifas harus dibeirkan kapsul vitamin A dosis tinggi karena:
a. Pemberian 1 kapsul vitamin A merah cukup untuk meningkatkan kandungan
vitamin A dalam ASI selama 60 hari
b. Pemberian 2 kapsul vitamin A merah diharapkan cukup menambah kandungan
vitamin A dalam ASI sampai bayi berusia 6 bulan
c. Kesehatan ibu cepat pulih setelah melahirkan
d. Mencegah infeksi pada ibu nifas
Waktu pemberian:
Kapsul vitamin A merah (200.000 SI) diberikan pada masa nifas sebanyak 2 kali yaitu:
a. 1 (satu) kapsul vitamin A diminum segera setelah saat persalinan
b. 1 (satu) kapsul vitamin A kedua diminum 24 jam sesudah pemberian kapsul
pertama
Catatan
Jika sampai 24 jam setelah melahirkan ibu tidak mendapatkan vitamin A, maka kapsul
vitamin A dapat diberikan pada kunjungan nifas atau pada KN 1 (6-8 jam) atau saat
pemberian imunisasi hepatitis B (HB0) pada KN 2 (bayi berumur 3-7 hari) atau pada KN
3 (bayi berumur 8-28 hari)
2.5 Keluarga Berencana
2.5.1 Pengertian
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi untuk
mengurangi kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4 T: terlalu muda melahirkan
(di bawah usia 20 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan,
dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun) (Kemenkes RI, 2013).
Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk
meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta
perempuan. Pelayanan KB menyediakan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi
laki-laki dan perempuan untuk merencakan kapan akan mempunyai anak, berapa
tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak. (Kemenkes
RI, 2013).
2.5.2 Tujuan Program KB
Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan
social ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh
suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tujuan lain meliputi kelahiran, pendewasaan, perkawinan, peningkatan ketahanan,
dan kesejateraan keluarga. Hal ini sesuai dengan teori pembangunan menurut Alex
Inkeles dan David Smith yang mengatakan bahwa pembangunan bukan sekadar
perkara pemasok modal dan teknologi saja tapi juga membutuhkan sesuatu yang
mampu mengembangkan sarana yang berorientasi pada masa sekarang dan masa
depan, memiliki kesanggupan untuk merencanakan, dan percaya bahwa manusia
dapat mengubah alam, bukan sebaliknya (Sulistyawati, 2012).
2.5.3 Macam-macam Alat Kontrasepsi
Metode kontrasepsi terbagi atas 2 jenis menurut Saifuddin (2010), yaitu:
a. Non hormonal
a) Metode Amenore Laktasi (MAL) : kontrasepsi yang mengandalkan pemberian
Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa
tambahan makanan atau minuman apa pun lainnya.
b) Metode keluarga berencanan alamiah
1. Senggama terputus
Senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, di
mana pria mengluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria
mencapai ejakulasi.
2. Metode barier (kondom, diafragma, spermisida)
Kondom merupakanselubung/sarung karet yang dapat terbuat dari
berbagai bahan di antaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami
(produksi hewani) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual. Kondom
terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya
berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk
seperti puting susu. Berbagai bahan telah ditambahkan pada kondom baik
untuk meningkatkan efektivitasnya (misalnya penambahan spermisida)
maupun sebagai aksesoris aktivitas seksual).
c) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
AKDR adalah alat kontrasepsi yag dipasang dalam rahim dengan
menjepit kedua saluran yang menghasilkan indung telur sehingga tidak terjadi
pembuahan, terdiri dari bahan plastic polietilena, ada yang dililit oleh tembaga
dan ada yang tidak.
d) Kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi)
Tubektomi (Metode Operasi Wanita/M MOW) adalah metode
kontrasepso mantap yang bersifat sukarela bagi seorang wanita bila tidak ingin
hamil lagi dengan cara mengklusi tuba fallopi mengikat (mengikat dan
memotong atau memasang cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu
dengan ovum, sedangkan vasektomi adalah prosedur klinik untuk
menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan cara mengoklusi vas defens
sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan
dengan ovum) tidak terjadi (Kemenkes, 2013).
b. Hormonal
1. Progestin menurut Saifuddin (2010) terbagi atas injeksi, pil, implant dan AKDR
dengan progestin
1) Kontrasepsi suntikan progestin sangat efektif, aman, dapat dipakai oleh semua
perempuan dalam usia reproduksi, kembalinya kesuburan lebih lambat rata-
rata 4 bulan, dan cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi
ASI.
2) Kontrasepsi pil progestin (minipil) cocok untuk perempuan menyusui yang
ingin memakai pil KB, sangat efektif pada masa laktasi, dosis rendah, tidak
menurunkan produksi ASI, tidak memberikan efek samping estrogen, efek
samping utama adalah gangguan pendarahan; perdarahan bercak, atau
perdarahan tidak teratur, dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.
3) Kontrasepsi implan efektif 5 tahun untuk Norplant, 3 tahun untuk Jadena,
Inoplant, atau Implanon, nyaman, dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia
reproduksi, kesuburan segera kembali setelah implant dicabut, efek samping
utama berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak dan amenore, aman
dipakai pada masa laktasi.
4) AKDR dengan progestin efektif dengan proteksi jangka panjang (satu tahun),
tidak mengganggu hubungan suami istri, tidak berpengaruh terhadap ASI,
kesuburan segera kembali sesudah AKDR diangkat, efek sampingnya sangat
kecil, memiliki efek sistemik yang sangat kecil.
2. Kombinasi: pil dan injeksi
1) Pil kombinasi sangat efektif dan reversible, harus diminum setiap hari, pada
bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan perdarahan bercak yang
tidak berbahaya dan segera akan hilang, efek samping serius sangat jarang
terjadi, dapat dipakai oleh semua ibu usia reproduksi, baik yang sudah
mempunyai anak maupun belum, dapat mulai diminum setiap saat bila yakin
sedang tidak hamil, tidak dianjurkan pada ibu yang menyusui, dapat dipakai
sebagai kontrasepsi darurat.
2) Keuntungan kontrasepsi suntikan kombinasi risiko terhadap kesehatan kecil,
tidak berpengaruh pada hubungan suami istri, tidak diperlukan pemeriksaan
dalam, jangka panjang, efek samping sangat kecil, klien tidak perlu
menyimpan obat suntik (Saifuddin, 2010).
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN CONTINUITY OF CARE

3.1 Asuhan Kehamilan Normal


S : Subjektif
A. Identitas / Biodata
Nama ibu : Ny. W Nama suami : Tn. J
Umur : 30 Tahun Umur : 33 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa Suku/bangsa : Jawa
Alamat : BK IV Alamat : BK IV

B. Anamnesa pada tanggal 30 april 2018 pukul 19.00 WIB


1. Alasan kunjungan saat ini
Ibu mengatakan ingin memeriksa kehamilannya .
2. Riwayat kehamilan ini
a. Riwayat menstruasi
Ibu mengatakan HPHT tanggal 24 juli 2017, hari sebelumnya teratur dengan
lama 5-7 hari, siklus 30 hari, banyaknya 2x ganti pembalut, sifat darah encer.
b. Tanda – tanda kehamilan ( trimester I )
Ibu mengatakan Hasil test kehamilan : 21 agustus 2017 , positif (+)
c. Pergerakan fetus dirasakan pertama kali : -
d. Diet makanan
Makan sehari-hari
Ibu mengatakan makan 3x sehari dengan porsi sedang terdiri dari nasi 1 piring,
sayur 1 mangkuk, lauk pauk, perubahan pola makan yang dialami:Ibu
mengatakan tidak mengalami perubahan pada pola makan.
e. Pola eliminasi
Bab:2x sehari
Bak:6-8x sehari
f. Riwayat Kesehatan
Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita :
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit apapun.dan tidak sedang
menderita penyakit apapun
g. Perilaku Kesehatan
Ibu mengatakan tidak pernah mengkonsumsi alkohol,obat-obatan,jamu dan
sejenisnya

O : Objektif
A. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan umum :
BB : 82 kg
TD : 120/80 mmHg
RR : 19 x per menit

2. Pemeriksaan kebidanan
a. Wajah
Kongjungtiva : merah muda
Sklera : putih
b. Payudara
Bentuk : simetris
Puting susu : menonjol
Asi : belum keluar
Benjolan : tidak ada
Nyeri tekan : tidak ada
c. Pungung dan pingang tidak
Pungung : normal
Nyeri pingang : tidak ada
d. Ekstremitas
oedema : tidak ada
varises : tidak ada
kemerahan : tidak ada
reflek patella : (+) positif
e. Abdomen
Bekas oerasi : tidak ada
Pembesaran liver : tidak ada
f. Genetalia : tidak dilakukan pemeriksaan

3. Pemeriksaan Kebidanan
a. Leopold 1 : Tfu 3 jari dibawah px, bokong
b. Leopold 2 : Puki
c. Leopold 3 : Kepala, sudah masuk PAP
d. Leopold 4 : 4/5 divergen
e. DJJ : 148x/menit
f. Mc.Donald : 39cm

A : Analisa Data
Diagnosa : Ny. W G2P1A0 usia kehamilan 38 minggu 4 hari, janin tunggal, hidup, intra
uterin, dengan kehamilan normal
Masalah : tidak ada

P : Penatalaksanaan
1. Menjelaskan kepada ibu dan suami hasil pemeriksaan bahwa kondisinya dan janinnya
saat ini dalam keadaan baik (TD :120/80, BB : 82 kg, Lila : 35cm, DJJ : 148x/mnt)
Evaluasi :Ibu dan suami mengerti bahwa kondisinya saat ini dalam keadaan baik
2. Menjelaskan kepada ibu dan suami tanda bahaya pada kehamilan (mual muntah
berlebihan, demam tinggi, bengkak kaki, bengkak wajah, janin bergerak kurang ≤ 12x,
pendarahan, air ketuban keluar sebelum waktu nya)
Evaluasi :Ibu mengerti tentang tanda bahaya pada kehamilan
3. Menganjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup
Evaluasi : Ibu mengerti tentang anjuran yang diberikan
4. Menganjurkan ibu untuk makan makanan dengan gizi seimbang (nasi, lauk pauk,
sayuran, susu)
5. Memberikan dan menjelaskan tentang obat-obatan yang diberikan (asam folat, etabion,
calcium, B12 secara IM)
Evaluasi : Ibu mengerti tentang kegunaan obat-obatan yang diberikan

Catatan perkembangan kehamilan pada tanggal 2 mei 2018 pukul 16.00 WIB
S: Subjektif
Ibu mengatakan perut terasa mulas dan terasa kencang, dan nyeri diperut bagian bawah
sejak jam 13.30 WIB.
O: Objektif
a. Keadaan Umum
KU : Baik
BB : 82 kg
TD : 130/70
b. Pemeriksaan Kebidanan
Leopold 1 : Tfu 3 jari dibawah px, bokong
Leopold 2 : Puki
Leopold 3 : Kepala, sudah masuk PAP
Leopold 4 : 4/5 divergen
Djj : 151x/menit
Mc.Donald : 39cm
A: Analisis Data
Diagnosis : Ny.W G2P1A0 usia kehamilan 38 minggu 6 hari, janin tunggal, hidup,
intrauterin dengan kehamilan normal
Masalah : Gangguan rasa nyaman
P: Penatalaksanaan
1. Menjelaskan pada ibu dan suami tentang keadaan umum ibu dan janin dalam keadaan
baik (TD : 130/70mmHg, djj : 151x/menit)
Evaluasi : Ibu mengerti tentang keadaan umum ibu dan janin
2. Menganjurkan ibu untuk menarik nafas panjang dari hidung dan dikeluarkan melalui
mulut ketika perut terasa mulas.
Evaluasi : Ibu mengerti dan bisa memperagakan tentang anjuran yang diberikan
3. Menjelaskan pada ibu dan suami tentang tanda-tanda persalinan (keluar lendir
bercambur darah, perut mulas-mulas yang teratur)
Evaluasi : Ibu mengerti tentang tanda-tanda persalinan
4. Menganjurkan ibu untuk minum obat-obatan yang telah diberikan pada kunjungan lalu.
Evaluasi : Ibu mengerti tentang anjuran yang diberikan
5. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang jika perut terasa mulas 2-3x/10
menit dan keluar lendir bercampur darah
Evaluasi : Ibu mengerti tentang anjuran yang diberikan

3.2 Asuhan Persalinan Normal


S : Subjektif
Ibu mengatakan keluar lendir bercampur darah dan perut semakan sering dan lama saat
berkontraksi sejak pukul 23.00 WIB.
O : Objektif
1. Keadaan umum
KU : baik
TD : 140/80 mmHg
BB : 82 kg
2. Pemeriksaan fisik
a. Muka : Simetris, tidak ada pembengkakan
b. Leher : Tidak ada benjolan, tidak ada pembengkakak
c. Payudara : Simetri, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, pengeluaran
ASI (+)
d. Abdomen : Simetris, ada strie, tidak ada luka bekas operasi
3. Pemeriksaan kebidanan
Leopod 1 : Tfu pertengahan px-pusat, Bokong
Leopod 2 : Puki
Leopod 3 : Kepala, sudah masuk PAP
Leopod 4 : 3/5
DJJ : 153x/menit
4. Pemeriksaan dalam
Oleh : Bidan
Pembukaan : 4cm
Pukul : 06.00 WIB
Penurunan : hodge II
Kontraksi : 3x/10 menit
Lamanya : 35 detik
A : Analisa data
Diagnosis : Ny.W G2P1A0 usia kehamilan 39 minggu inpartu kala 1 fase aktif normal
Masalah : Gangguan rasa nyaman dan nyeri
P : Penatalaksanaaan
1. Memberitahu hasil pemeriksaan keadaan umum ibu dan janin (TD : 140/80 mmHg,
djj 153x/menit, kontraksi baik 3x/10 menit lamanya 35 detik, pembukaan 4cm)
Evaluasi : Ibu mengerti tentang keadaan umum ibu dan janin dalam keadaan baik
2. Mengajarkan ibu untuk melakukan teknik relaksasi
Evaluasi : Ibu mengerti cara melakukan teknik relaksasi
3. Menganjurkan ibu agar miring kearah kiri untuk mempercepat pembukaan
Evaluasi : Ibu mengerti tentang anjran yang diberikan
4. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum agar ibu ada tenaga ketika proses
persalinan berlangsung
Evaluasi : Ibu mengerti tentang anjuran yang diberikan
5. Mempersiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi
Evaluasi : Ruangan telah disiapkan
6. Mempersiapkan perlengkapan dan peralatan persalinan dan kelahiran bayi
Evaluasi : Perlengkapan dan peralatan sudah disiapkan
7. Melakukan pemantauan kemajuan persalinan menggunakan partograf
Evaluasi : sudah dilakukan

Catatan perkembangan Kala II


S : Subjektif
Ibu mengatakan adanya dorongan ingin meneran seperti ingin BAB
O : Objektif
Keadaan umum : baik
Tekanan darah : 130/70
Djj : 156x/menit
Kontraksi : baik
Frekuensi : 5x/10 menit
Lamanya : 50 detik
Pembukaan : 10cm
Hodge : IV
Penurunan : 1/5
Ketuban : jernih
Oleh : bidan
Pukul : 09.45 WIB
A : Analisa data
Diagnosis : Ny. W G2P1A0 usia kehamilan 39 minggu inpartu kala 2 normal

P : Penatalaksanaan
1. Menjelaskan pada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang dilkakukan (pembukaan
10cm, kontraksi baik, frekuensi 5x/10 menit)
Evaluasi : ibu dan keluarga mengerti tentang hasil pemeriksaan
2. Mengobservasi tanda gejala kala 2 (dorongan ingin meneran, tekanan pada anus,
perineum menonjol, vulva membuka)
Evaluasi : Sudah diobservasi, terdapat tanda gejala kala 2
3. Menyiapkan pertolongan persalinan (memakai APD, mengecek kelengkapan alat)
Evaluasi : Pertolongan persalinan telah disiapkan
4. Memimpin ibu meneran dengan benar
Evaluasi : ibu dapat meneran dengan benar
5. Melakukan pertolongan persalinan sesuai asuhan persalinan normal
Evaluasi : sudah dilakukan pertolongan persalinan sesuai dengan APN
6. Melakukan asuhan bayi baru lahir (penilaian sepintas apakah bayi menangis spontan?,
apakah bayi bergerak aktif?, apakah warna kulit kemerahan?)
Evaluasi : bayi menangis spontan, bergerak aktif dan warna kulit kemerahan

Catatan perkembangan Kala III


S : Subjektif
Ibu mengatakan senang atas kelahiran bayinya pada pukul 10.02 WIB
O : Objektif
Keadaan umum : baik
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Kontraksi : baik
Kandung kemih : kosong
Tfu : sepusat
A : Analisa data
Diagnosis : Ny. W P2A0 inpartu kala 3 normal
P : Penatalaksanaan
1. Memberitahu pada ibu dan keluarga bahwa bayi yang dilahirkan dalam keadaan sehat
dan berjenis kelamin perempuan.
Evaluasi : ibu dan keluarga mengerti tentang keadaan bayi dan jenis kelamis bayi
2. Memberitahu ibu bahwa akan dilakukan penyuntikan oskitosin pada paha sebelah
kanan ibu
Evaluasi : suntik oksitosin sudah dilakukan
3. Melakukan penjepitan dan pemotongan tali pusat
Evaluasi : sudah dilakukan
4. Memberitahu ibu bahwa akan dilakukan IMD
Evaluasi : IMD sudah dilakukan
5. Mengecek apakah ada tanda-tanda pelepasan plasenta
Evaluasi : adanya semburan darah, tali pusat bertambah panjang, uterus teraba
bulat
6. Melalukan manajemen aktif kala 3
Evaluasi : Manajemen aktif kala 3 telah dilakukan
7. Melakukan masase uterus sebanyak 15x selama 15 detik
Evaluasi : masase uterus telah di lakukan

Catatan perkembangan Kala IV


S : Subjektif
Ibu mengatakan senang atas kelahiran plasenta pada pukul 10.12 WIB
O : Objektif
Keadaan umum : baik
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Kontraksi : baik
Tfu : 2 jari bawah pusat
Plasenta : lengkap
Laserasi : otot perineum
Derajat :2
Jumlah perdarahan : 100cc
A : Analisa data
Diagnosis : Ny. W P2A0 inpartu kala 4 normal
P : Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu bahwa plasenta telah lahir
Evaluasi : ibu mengetahu bahwa plasenta telah lahur
2. Mengecek kelengkapan plasenta dan selaput ketuban
Evaluasi : plasenta dan selaput ketuban lahir lengkap
3. Mengecek kemungkinan laserasi
Evaluasi : terdapat luka laserasi pada otot perineum
4. Melakukan penjahitan pada luka laserasi
Evaluasi : penjahitan sudah dilakukan
5. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik
Evaluasi : uterus berkontraksi dengan baik
6. Estimasi jumlah kehilangan darah
Evaluasi : jumlah kehilangan darah 100ml
7. Memantau keadaan umum ibu dan bayi
Evaluasi : sudah dilakukan
8. Membersikah ibu dan tempat bersalin
Evaluasi : sudah dilakukan
9. Membereskas peralatan dan merendam dalam larutan klorin 0,5%
Evaluasi : sudah dilakukan
10. Memberikan injeksi vit K pada bayi
Evaluasi : sudah dilakukan
11. Dokumentasi
Evaluasi : sudah dilakukan

3.3 Asuhan Bayi Baru Lahir


S : Subjektif
Tanggal : 3 mei 2018 Pukul : 11.02
Identitas/biodata
Nama : By. Ny. W Nama Ayah : Tn. J
Tanggal lahir : 3 mei 2018 Umur : 33 tahun
Pukul : 10.02 WIB Suku : Jawa
Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam
Alamat : BK IV Alamat : BK IV
O : Objektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Apakah bayi menangis spontan : Ya
b. Apakah bayi bergerak aktif : Ya
c. Apakah warna kulit kemerahan : Ya
d. Air ketuban : Jernih
e. Keadaan umum : Baik
a) RR : 48x/menit
b) S : 36,7oC
c) BB : 4020 gram
d) PB : 49,80 cm
e) LK : 34 cm
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : simetris, UUB data, UUK datar
b. Muka : simetris, tidak ada kelainan
c. Leher : tidak ada pembengkakan, tidak ada benjolan
d. Dada : simetris, ada pergerakan dinding dada, tidak ada benjolan
e. Perut : simetris, teraba lunak tidak ada pembesaran
f. Punggung : normal
g. Ekstremitas : simetris, jari-jari tangan lengkap, jari-jari kaki lengkap
h. Genetalia : normal
i. Anus : (+)
j. Reflek :
a) Sucking : (+)
b) Rooting : (+)
c) Steping : (+)
d) Moro : (+)
A : Analisa data
Diagnosis : By.Ny.W baru lahir spontan sesuai usia gestasi normal
Masalah : tidak ada
P : Penatalaksanaan
1. Menghangatkan tubuh bayi
Evaluasi : sudah dilakukan
2. Mengeringkan tubuh bayi
Evaluasi : sudah dilakukan
3. Mengganti handuk basah dengan handuk kering
Evaluasi : sudah dilakukan
4. Melakukan rangsangan taktil
Evaluasi : sudah dilakukan
5. Melakukan pemeriksaan keadaan umum dan fisik bayi
Evaluasi : sudah dilakukan
6. Memberikan salep mata dan vit K
Evaluasi : sudah dilakukan
7. Mendokumentasikan
Evaluasi : sudah dilakukan
3.4 Asuhan Nifas
Tanggal : 8 mei 2018-05-19 Pukul : 07.00 WIB
S : Subjektif
Ibu mengatakan ingin melakukan kunjungan nifas, masih mengeluarkan darah berwarna
merah kekuningan, bayi menyusu dengan baik.
O : Objektif
a. Keadaan umum : Baik
b. Tanda-tanda vital
a) TD : 120/70 mmHg
b) N : 78 x/menit
c) RR : 18 x/menit
d) Temp : 36,7°C
c. Pemeriksan Kebidanan
1. Abdomen
TFU : Pertengahan pusat-simfisis
Kontraksi : Baik
2. Genetalia
Pengeluaran : Lochea sanguinolenta, tidak berbau
Jahitan Perineum : ada, normal
A : Analisa data
Diagnosis : Ny.W post partum 5 hari normal
Masalah : tidak ada
P : Penatalaksanaan
1. Memberitahu hasil pemeriksaan keadaan umum ibu
Evaluasi : sudah dilakukan
2. Menganjurkan ibu untuk makan makanan yang bergizi
Evaluasi : sudah dilakukan
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi nya minimal 2 jam sekali atau ketika bayi
merasa lapar
Evaluasi : ibu mengerti tentang anjuran yang di berikan
4. Mengingkatkan ibu untuk mengkonsumsi tablet fe 1x1 hari
Evaluasi : ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan

Catatan perkembangan masa nifas


Tanggal :15 mei 2018 Pukul :11.00
S : Subjektif
Ibu mengatakan ingin melakukan kunjungan nifas kedua, tidak ada keluhan, lochea
berwarna kuning kecoklatan.
O : Objektif
a. Keadaan umum : Baik
b. Tanda-tanda vital
a) TD : 120/70 mmHg
b) N : 78 x/menit
c) RR : 18 x/menit
d) Temp : 36,7°C
c. Pemeriksan Kebidanan
1. Abdomen
TFU : tidak teraba
2. Genetalia
Pengeluaran : Lochea serosa, tidak berbau
Jahitan Perineum : ada, normal sudah kering
A : Analisa data
Diagnosis : Ny. W post partum 2 minggu normal
Masalah : tidak ada
P : Penatalaksanaan
1. Memberitahu hasil pemeriksaan keadaan umum ibu
Evaluasi : sudah dilakukan
2. Menganjurkan ibu untuk makan makanan yang bergizi
Evaluasi : sudah dilakukan
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi nya minimal 2 jam sekali atau ketika bayi
merasa lapar
Evaluasi : ibu mengerti tentang anjuran yang di berikan
4. Mengingkatkan ibu untuk mengkonsumsi tablet fe 1x1 hari
Evaluasi : ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan

5. Mengingatkan pada ibu bahwa kunjungan selanjutnya akan dilakukan program KB


Evaluasi : ibu mengerti bahwa kunjungan selanjutnya akan dilakukan program KB
3.5 Asuhan Keluarga Berencana
Tanggal : 31 Mei 2018
S : Ibu mengatakan ingin menggunakan KB suntik 3 bulan
O:
1. Keadaan Umum : Baik
2. Tanda-tanda vital
a. Tekanan Darah : 110/80 mmHg
b. Nadi : 80 x/menit
c. Pernafasan : 21 x/menit
d. Suhu : 36ᵒc
3. Pola Makan : Teratur
4. Pola Minum : Baik
5. BAB : Lancar
6. BAK : Lancar
7. Pola Istirahat : Baik
A : Ny. W P2A0 akseptor baru KB suntik 3 bulan
P:
1. Memberitahu hasil pemeriksaan keadaan umum ibu
Evaluasi : ibu mengerti tentang keadaan umum ibu
2. Melakukan konseling tentang KB suntik (menjelaskan efek samping, kelebihan dan
kekurangan KB suntik 3 bulan)
Evaluasi : ibu mengerti tentang efek samping, kelebihan dan kekurangan KB suntik 3
bulan
3. Menyiapkan alat dan bahan
Evaluasi : sudah dilakukan
4. Memposisikan ibu untuk miring kearah kiri atau kanan
Evaluasi : sudah dilakukan
5. Memberitahu bahwa akan dilakukan penyuntikan obat KB
Evaluasi : dilakukan penyuntikan pada 1/3 lateral paha atas ibu
6. Membereskan peralatan
Evaluasi : sudah dilakukan
7. Melakukan kontrak untuk melakukan kunjungan ulang
Evaluasi : ibu mengerti kapan akan melakukan kunjungan ulang
BAB IV
PEMBAHASAN

1. Kehamilan
Ny. W G2PIA0 usia 30 tahun datang ke BPM Nanik Yuliwati, S.KM ingin
memeriksakan kehamilannya. Selama kehamilan sudah melakukan kunjungan ANC 6
kali ke BPM Nanik Yuliwati, S.KM. hari pertama haid 24 Juli 2017, tafsiran persalinan 1
Mei 2018. Kunjungan pertama ANC pada usia kehamilan 8 minggu, pada kunjungan
pertama ibu mengatakan status imuniasasi TT lengkap. Pada kunjungan kedua ibu
mengatakan janin sudah mulai aktif bergerak dan mual muntah sudah berkurang. Pada
kunjungan ketiga dan keempat tidak ada keluhan. Pada kunjungan kelima ibu
mengatakan sering buang air kecil pada malam hari. Pada kunjungan keenam ibu
mengatakan perut sering kencang dan nyeri pada bagian pinggang.
Pada kunjungan kelima dan keenam asuhan yang diberiakan adalah pemeriksaan
umum, pemeriksaan fisik, dan pemeriksan obstetri pemberian suplemen penambah darah
(tablet fe), kalsium, asam folat, serta dilakukan pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan kadar HB.
Asuhan kebidanan yang diberikan sudah sesuai dengan Kemenkes RI (2013) dan
Saifuddin, dkk (2013) atas dasar ibu sudah melakukan kunjunagn antenatal sesuai
ketntuan yang berlaku untuk mencegah komplikasi pada kehamilan dan persalinan.
Selama kunjungan tidak ada keluhan yang berarti bagi ibu dan janin, keluhan yang di
keluhkan normal terjadi pada kehamilan.
2. Persalinan
Pada tanggal 3 mei 2018 pukul 2.30 WIB ibu datang ke BPM dengan keluhan keluar
lendir bercampur darah serta perut terasa mulas sejak pukul 23.00 WIB.
a. Kala 1
Kala 1 berlangsung selama 4 jam mulai dari pembukaan 4cm pukul 06.00 WIB
sampai dengan pembukaan lengkap pada pukul 10.02. Kemajuan persalinan di pantau
menggunakan partograf. Tidak terdapat kesenjangan antara asuhan yang diberikan
dengan teori yang berlaku.
b. Kala 2
Kala 2 berlangsung selama 17 menit mulai dari pembukaan lengkap sampai dengan
bayi lahir. Dimana dilakukan pertolongan persalinan dengan 60 langkah APN dan
penilaian awal bayi baru lahir pada pukul 10.02 WIB .
Menurut APN (2012) tatalaksana asuhan persalinan normal tergabung dalam 60
langkah APN. Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dengan asuhan
yang diberikan karena sudah sesuai dengan 60 langkah APN.
c. Kala 3
Kala 3 berlangsung selama 10 menit pada Ny. W dimana segera setelah bayi lahir dan
dipastikan tidak ada janin kedua lalu dilakukan penyuntikan oksitosin 10 IU pada 1/3
lateral paha ibu secara IM. Menilai tanda-tanda pelepasan plasenta dan melakukan
PPT jian plasenta sudah terlepas. Setelah sudah terdapat tanda-tanda pelepasan
plasenta berupa uterus teraba bulat, terdapat semburan darah, tali pusat bertambah
panjang, kemuadian lahirkan plasenta dengan teknik PPT.
Menurut APN (2012) kala 3 merupakan tahap ketiga persalinan yang berlangsung
sejak bayi lahir sampai plasenta lahir. Proses kala 3 berlangsung sesuai ketentuan
yang berlaku. Tidak terdapat kesenjangan antara asuhan yang diberian dengan teori
yang berlaku.
d. Kala 4
Kala 4 berlangsung selama 2 jam mulai dari 10.12 WIB sampai 12.12 WIB dengan
memantau tanda vital ibu, kontraksi, kandung kemih, pengeluaran pervaginam dan
TFU. Pengawasan dilakukan setiap 15 menit selama 1 jam bertama dan 30 menit pada
1 jam terakhir. Pemantau yang dilakukan sudah sesuai dengan teori dan pemantauan
dilakukan dengan menggunakan partograf.
3. Bayi Baru Lahir
Kunjungan pada By. Ny. W dilakukan sebanyak 4 kali. 6 jam setelah bayi lahir, 5
hari setelah bayi lahir, 14 hari setelah bayi lahir dan 28 hari setelah bayi lahir.
Kunjungan yang dilakukan pada By. Ny. W sesuai dengan teori yang berlaku. Dari
hasil pemeriksaan tidak ada kesenjangan dengan teori, dimana bayi lahir dengan BB
4200 gr, cukup bulan, dan tidak ada kelainan.
Menurut Marmi dan Kukuh (2016) dalam waktu 24 jam, bila bayi tidak mengalami
masalah apapun asuhan yang diberikan, yaitu pemantauan tanda vital, pertahankan
suhu tubuh bayi, pemeriksaan fisik, perawatan tali pusat, dan penyuluhan tanda
bahaya pada bayi baru lahir sebelum bayi pulang.
4. Nifas
Kunjungan nifas pada Ny. W dilakukan sebnayak 4x yaitu 6 jam setelah bayi lahir,
postpartum 5 hari, postpartum 14 hari, dan postpartum 28 hari. Kunjungan yang
dilakukan oleh Ny. W sudah sesuai dengan teori yang berlaku.
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan
bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah
yang terjadi (Saifuddin, dkk, 2013). Frekuensi kunjungan masa nifas, yaitu kunjungan
pertama 6-8 jam setelah persalinan, kunjungan kedua 6 hari setelah persalinan,
kunjungan ketiga 2 minggu setelah persalinan dan kunjungan keempat 6 minggu
setelah persalinan (Saifuddin, dkk, 2013).
5. Kelurga Berencana
Asuhan keluarga berencana pada Ny.W dilakukan setelah kunjungan nifas ke empat,
dimana ibu sudah memutuskan kontrasepsi jenis apa yang akan ibu gunakan setelah
mendapat penjelasan dari penulis mengenai jenis-jenis metode dan alat kontrasepsi serta
kegunaannya. Setelah dilakukan konseling, Ny. W memutuskan untuk menggunakan
kontrasepsi suntik 3 bulan denn alasan beliau sudah terbiasa menggunakan kontrasepsi
tersebut. Ibu sudah mantap dengan lontrasepsi pilihan nyatersebut.
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Setelah dilakukan asuhan pada Ny. W mulai dari kehamilan, persalinan, bayi baru
lahir, nifas dan keluarga berencana dapat di seimpulkan bahwa asuhan yang diberikan
sesuai dengan teori kebidanan yang berlaku. Pada kehamilan Ny. W melakukan
kunjungan NC setiap bulan sedangkan pada teori yang berlaku minimal kunjungan ANC
dilakukan sebanyak 4x.
Pada persalinan, langkah-langkah yang dilakukan selama melakukan asuhan
persalinan normal sudah sesuai dengan teori yang berlaku yaitu 60 langkah APN.
Dimulai dari kala 1 sampai dengan kala 4. Pada asuhan bayi baru lahir dimulai dari
penilaian awal 1 menit setelah bayi lahir sampai kunjungan ke 4.
Pada asuhan masa nifas dilakukan sebanyak 4x mulai dari 6 jam postpartum, 5 hari
postpartum, 14 hari postpartum dan 28 hari postpartum. Asuhan kelurga berencana
dilakukan pada kunjungan keempat masa nifas. Sebelu dilakukan pemasangan
kontrasepsi, bidan melakukan konseling terlebih dahulu pada pasien dengan tujuan agar
pasien mengerti tentang kontrasepsi yang akan digunakan.
B. Saran
1. Kepada BPM
Diharapkan fasilitas kesehatan dapat meningkatkan kualitas asuhan kebidanan
khususnya dalam segi peralatan dan obat-obatan
2. Kepada Klien
Dengan dilaksanakannya asuhan ini klien tetap memperhatikan asupan nutrisi agar
bayi yang dilahirkan tidak terlalu besar.
3. Kepada Institusi
Diharapkan kepada institusi dengan penulisan Laporan Tugas Akhir yang bersifat
continuity of care dapat mempersiapkan mahasiswa lebih dini dimulai dari kehamilan
trimester I.

Beri Nilai