Anda di halaman 1dari 7

PENDUGAAN EROSI

Pendugaan erosi diperlukan untuk meramalkan besar erosi yang telah dan/atau akan terjadi pada
suatu lahan dengan atau tanpa pengelolaan tertentu. Selain itu juga digunakan untuk memilih
praktek penggunaan lahan dalam arti luas yang mempunyai produktivitas tinggi dan berkelanjutan.
Menurut Rahim (2000:55) pendekatan erosi dapat dilakukan dengan cara:

1). Pendekatan Laboratorium

Pendugaan erosi di laboratorium adalah dengan melakukan pengukuran erosi tanah yang
ditempatkan pada petak-petak kecil dan diberi perlakuan hujan buatan (rainfall simulator). Tetapi
perilaku erosi di laboratorium tidak sama dengan keadaan alami di lapangan. Namun demikian
pengetahuan kita tentang erosi dapat bertambah secara pesat mengingat percobaan untuk
mempelajari dan/atau menduga erosi di laboratorium lebih mudah, lebih praktis, sehingga kita
dapat melaksanakan setiap waktu.

2) . Pendekatan Lapangan

Pengukuran erosi yang dilakukan di lapangan adalah dengan menggunakan sistem petak kecil
maupun petak yang berukuran besar. Pendugaan dengan menggunakan petak percobaan, pada
dasarnya memang mendekati kondisi alami yang sebenarnya. Namun cara ini membutuhkan biaya,
tenaga, dan waktu yang tidak kecil. Selain itu juga untuk mengetahui laju dan jumlah erosi yang
terjadi pada berbagai jenis penggunaan lahan dan berbagai jenis penggunaan tanaman pada
berbagai jenis tanah dan topografi (kemiringan dan panjang lereng) juga dibutuhkan biaya yang
tinggi, tenaga kerja yang banyak, dan waktu yang relatif lama.

3). Pendekatan Gabungan

Pendekatan ini dilakukan melalui interprestasi data dengan penginderaan jauh (remote sensing
images) misalnya foto udara dan citra satelit. Dengan metode ini erosi bentang lahan pada areal
yang luas dapat dilakukan dengan mudah dan efektif. Metode ini dapat terlaksana dengan baik bila
tersedia sarana dan prasarana yang memadai terutama peralatan untuk pemrosesan citra (image
processor) dan juga alat untuk interpretasi potret udara meliputi stereoskop dari yang sederhana
sampai yang lebih canggih.

4). Pendekatan Permodelan

Pendekatan ini adalah dengan menggunakan pendekatan matematika, yang dikembangkan oleh
Wischmeir dan Smith (1978), rumus ini pertama kali dikembangkan dari kenyataan bahwa erosi
adalah fungsi erosivitas dan erodibilitas. Rumus ini dikenal dengan Persamaan Umum Kehilangan
Tanah (PUKT) atau Universal Soil-Loss Equation (USLE). Rumus ini digunakan di suatu wilayah
dimana curah hujan dan jenis tanahnya relatif sama sedangkan yang beragam adalah faktor panjang
lereng, kemiringan lereng, serta pengelolaan lahan dan tanaman (L, S, P, C). Rumus USLE tersebut
adalah sebagai berikut (Wischmeir dan Smith, 1978 dalam Asdak, 2004: 355):
A = R K LS C P
Dimana :

A = Besarnya kehilangan tanah per satuan luas lahan. Besarnya kehilangan tanah atau erosi dalam
hal ini hanya terbatas pada erosi kulit dan erosi alur. Tidak termasuk erosi yang berasal dari tebing
sungai dan juga tidak termasuk sedimen yang terendapkan di bawah lahan-lahan dengan
kemiringan besar.

R = Faktor erosivitas curah hujan dan air larian untuk daerah tertentu, umumnya diwujudkan dalam
bentuk indeks erosi rata-rata (El). Faktor R juga merupakan angka indeks yang menunjukkan
besarnya tenaga curah hujan yang dapat menyebabkan terjadinya erosi.

K = Faktor erodibilitas tanah untuk horizon tertentu, dan merupakan kehilangan tanah per satuan
luas untuk indeks erosivitas tertentu. Faktor K adalah indeks erodibilitas tanah, yaitu angka yang
menunjukkan mudah tidaknya partikel-partikel tanah terkelupas dari agregat tanah oleh gempuran
air hujan atau air larian.

L = Faktor panjang lereng yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan perbandingan
antara besarnya kehilangan tanah untuk panjang lereng tertentu dengan besarnya kehilangan tanah
untuk panjang lereng 72,6 ft.

S = Faktor gradien (beda) kemiringan yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan
perbandingan antara besarnya kehilangan tanah untuk tingkat kemiringan lereng tertentu dengan
besarnya kehilangan tanah untuk kemiringan 9%.

C = Faktor pengelolaan (cara bercocok tanam) yang tidak mempunyai satuan dan merupakan
bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah pada kondisi cara bercocok tanam yang
diinginkan dengan besarnya kehilangan tanah pada keadaan tilled continuous fallow.

P = Faktor praktek konservasi tanah (cara mekanik) yang tidak mempunyai satuan dan merupakan
bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah pada kondisi usaha konservasi tanah ideal
(misalnya, teknik penanaman sejajar garis kontur, penanaman dengan teras, penanaman dalam
larikan) dengan besarnya kehilangan tanah pada kondisi penanaman tegak lurus terhadap garis
kontur.

Dari persamaan USLE tersebut maka besarnya erosi diperoleh dari perhitungan faktor-faktor di
bawah ini:

a) Faktor Erosivitas Hujan (R)

Erosivitas adalah kemampuan hujan untuk menimbulkan erosi. Untuk menentukan faktor
erosivitas dapat diukur dengan menggunakan rumus yang dipakai oleh Soemarwoto 1991 berikut:
R = 0,41 x H 1.09

Keterangan:

R : Besarnya Erosivitas

H : Curah Hujan Tahunan

Namun untuk menentukan besarnya erosivitas hujan tahunan rata-rata berdasarkan penelitian yang
dilakukan Bols (1978) di Pulau Jawa dan Madura, maka digunakan persamaan:

Dimana:

El30 = Indeks erosi hujan bulanan (Kj/Ha)

Pb = Curah hujan bulanan (cm)

N = Jumlah hari hujan per bulan

Pmax = Hujan maksimum harian (24 jam) dalam waktu

yang bersangkutan.

b) Faktor Erodibilitas Tanah (K)

Erodibilitas tanah adalah mudah tidaknya tanah tererosi. Untuk menentukan faktor erodibilitas
dapat digunakan persamaan yang dikemukakan oleh Bouces sekitar tahun 1935 tentang The clay
ratio as a criterium of suspectility of soil to erosion dimana persamaan atau clay ratio adalah:

Keterangan :

K : Erodibilitas

Sand : Pasir

Silt : Debu

Clay : Lempung

Dengan curah hujan yang sama pada tanah dengan nilai Erodibilitas (K) yang tinggi akan lebih
mudah tererosi dari pada tanah dengan indeks erodibilitas rendah. Untuk penentuan erodibilitas
tanah dengan kandungan debu dan pasir sangat halus > 70 % dihitung dengan rumus:
Keterangan:

K = Indeks erodibilitas tanah

M = (% debu + pasir sangat halus) (100- % lempung)

a = Bahan organik (% C organik x 1.724)

b = Harkat struktur tanah

c = Harkat tingkat permeabilitas tanah.

c) Faktor Panjang Lereng (L) dan Kemiringan Lereng (S)

Dalam USLE faktor panjang dan kemiringan lereng digabung menjadi satu. Kemiringan
mempengaruhi kecepatan dan volume limpasan permukaan, semakin curam suatu lereng
persentase kemiringan semakin tinggi sehingga makin cepat laju limpasan permukaan. Dengan
singkatnya waktu infiltrasi, maka volume limpasan semakin besar. Jadi dengan meningkatnya
persentase kemiringan, erosi yang terjadi juga semakin besar. Untuk menghitung nilai LS
digunakan rumus:

LS = (0,00138 S2 + 0,00965 S + 0,0138)

Keterangan:

L = Panjang lereng (m)

S = Kemiringan lereng (%)

Untuk karakteristik DAS, kemiringan lereng pada setiap satuan lahan perlu diklasifikasikan,
klasifikasi kemiringan lereng menurut Chay Asdak adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Nilai Kemiringan Lereng

No Kelas Lereng Nilai Klasifikasi


1 I 0–8% Datar
2 II 8 – 15 % Landai
3 III 15 – 25 % Agak cuiram
4 IV 25 – 45 % Curam
5 V >45 % Sangat curam

d) Faktor Pengelolaan Tanaman (C)

Faktor C adalah faktor pengelolaan tanaman. Faktor pengelolaan tanaman merupakan gabungan
antara jenis tanaman, pengelolaan sisa-sisa tanaman, tingkat kesuburan, dan waktu pengelolaan
tanah. Adanya tanaman dapat menekan laju limpasan permukaan dan erosi. Tanaman mampu
mempengaruhi laju erosi karena:

1) adanya intersepsi air hujan oleh tajuk daun

2) adanya pengaruh terhadap limpasan permukaan.

3) adanya pengaruh terhadap sifat fisik tanah.

4) adanya peningkatan kecepatan kehilangan air karena transpirasi.

Dengan adanya tanaman menyebabkan air hujan yang jatuh tidak langsung memukul massa tanah,
tetapi terlebih dahulu ditangkap oleh tajuk daun tanaman. Selanjutnya tidak semua air hujan
tersebut diteruskan ke permukaan tanah karena sebagian akan mengalami evaporasi. Kejadian ini
akan mengurangi jumlah air yang sampai ke permukaan tanah yang disebut hujan lolos tajuk.
PUSLITTAN telah melaksanakan penelitian-penelitian lapangan untuk menilai faktor C beberapa
jenis pertanaman. Nilai faktor C dapat dilihat pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Prakiraan Nilai C

No Macam Penggunaan Nilai Faktor C


1. Tanah terbuka tanpa tanaman 1,000
2. Sawah 0,010
3. Tegalan tidak dispesifikan 0,700
4. Ubi kayu 0,800
5. Jagung 0,700
6. Kedelai 0,399
7. Kentang 0,400
8. Kacang Tanah 0,200
9. Padi 0,561
10. Tebu 0,200
11. Pisang 0,600
12. Akar wangi (sereh wangi) 0,400
13. Rumput bede (tahun pertama) 0,287
14. Rumput bede (tahun kedua) 0,002
15. Kopi dengan penutup tanah buruk 0,200
16. Talas 0,850
17. Kebun campuran
– Kerapatan tinggi 0,100
– Kerapatan sedang 0,200
– Kerapatan rendah 0,500
18. Perladangan 0,400
19. Hutan alam
– Seresah banyak 0,001
– Seresah sedikit 0,005
20. Hutan Produksi
– Tebang habis 0,500
– Tebang Pilih 0,200
21. Semak belukar/ padang rumput 0,300
22. Ubi kayu + kedelai 0,181
23. Ubi kayu + kacang tanah 0,195
24. Padi – Sorgun 0,345
25. Padi – kedelai 0,417
26. Kacang tanah + gude 0,495
27. Kacang tanah + Kacang tunggak 0,571
28. Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/ha 0,049
29. Padi + mulsa jerami 4 ton/ ha 0,096
30. Kacang tanah + mulsa jagung 4 ton/ ha 0,128
31. Kacang tanah + mulsa clotaria 3 ton/ ha 0,136
32. Kacang tanah + mulsa kacang tunggak 0,259
33. Kacang tanah + mulsa jerami 2 ton/ ha 0,377
34. Padi + mulsa crotalaria 3 ton/ ha 0,387
35. Pola tanam tumpang gilir + mulsa jerami 0,079
36. Pola tanam berurutan + mulsa sisa tanaman 0,357
37. Alang-alang murni subur 0,001
38. Karet * 0,200
39. Permukiman ** 0,500

Sumber: Data Pusat Penelitian Tanah (1973 – 1981) tidak dipublikasikan

*) Morgan, 1987 dalam Rahim, 2000

*) Setya Nugraha, 1997

e) Faktor Pengelolaan dan Konservasi Tanah (P)

Faktor P adalah faktor tindakan konservasi tanah. Faktor ini merupakan bentuk usaha manusia
untuk membatasi semaksimal mungkin pengaruh erosi terhadap lahan.

Untuk penilaian faktor P di lapangan akan lebih mudah bila digabungkan dengan faktor C, sebab
kenyataannya kedua faktor tersebut berkaitan erat. Faktor-faktor pada PUKT masing-masing telah
tersedia pada banyak publikasi. Data tersebut diperoleh dari hasil-hasil penelitian yang banyak
dilakukan di tanah air:

Tabel 3. Prakiraan Nilai P untuk Berbagai Tindakan Konservasi

No Tindakan Konservasi Tanah Nilai P


1. Teras Bangku1)
Konstruksi Baik 0,04
Konstruksi Sedang 0,15
Konstruksi Kurang Baik 0,35
Teras Tradisional 0,40
2. Strip tanaman rumput bahia 0,40
3. Pengelolaan tanah dan penanaman menurut garis
kontur
Kemiringan 0-8 % 0,50
Kemiringan 9-8 % 0,75
Kemiringan lebih dari 20 % 0,90
4. Tanpa tindakan konservasi 1,00

Sumber : Data pusat penelitian tanah (1973-1981 dalam Arsyad, 1989: 259)

Keterangan: 1) Konstruksi teras bangku dinilai dari kerataan dasar dan keadaan talud teras