Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………… i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. ii

BAB 1 PENDAHULUAN …………………………………………………. 1

1.1 Latar Belakang …………………………………………………. 1

1.2 Tujuan ……………………………………………… 2

1.3 Rumusan Masalah ………………………………………. 4

BAB II LANDASAN TEORI ……………………………………… 5

BAB IV METODE PENELITIAN ………………………………. 12

BAB V PEMBAHASAN …………………………………… 13

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN………………………… 19

BAB VII PENUTUP ……………………………….. 20

DAFTAR PUSTAKA

1
KATA PENGANTAR

Assalamuailaikum wr.wb , Salam sejahtera

Dengan mengucap syukur , bahwasanya kami telah membuat makalah tentang “Peran
Pemerintah Terhadap Ancaman Berita Hoax” tidak sedikit dan kesulitan yang saya hadapi.

Walaupun dengan demikian makalah ini dibuat dengan niat yang baik dan tidak bermasuk
menyinggung pihak-pihak tertentu dan semoga berguna untuk setiap orang yang
membacanya , bertujuan untuk kemanusiaan.

Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun semoga bisa membantu guna
dapat membuat makalah menjadi lebih baik lagi dimasa mendatang.

Dengan harapan makalah ini dapat bermanfaat guna membuka pikiran dosen, dan sahabat-
sahabat yang membaca.

Sekian dan terima kasih disampaikan sedalam-dalamnya

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada zaman kontemporer dengan globalisasi yang disertai dengan kemajuan


teknologi dan informatika selama ini memberikan beberapa dampak positif dan negatif,
gampangnya penggunaan akses media sosial membuat cepatnya penyebaran berita di
Indonesia ini. Beberapa waktu belakangan ini kita dihebohkan dengan penyebaran berita
palsu atau yang dikenal dengan Hoax. Media sosial memiliki peranan penting dalam
masyarakat yang menyajikan berita-berita yang ada di kehidupan saat ini, sehingga berita
dapat dengan mudah diakses dimana saja dan kapan saja, dengan menggunakan sosial
media yang berbasiskan teknologi melalui telepon genggam atau handphone.

Dimana hampir seluruh masyarakat, memiliki telepon genggam dan sajian berita
dengan cepatnya yang dapat mempengaruhi dinamika sosial, stabilitas ekonomi, stabilitas
keamanan hingga stabilitas politik. Berita Hoax merupakan suatu berita yang
menyenangkan pihak yang membuat, akan tetapi meresahkan bagi pihak yang terserang
berita hoax. Hoax merupakan suatu gagasan jangka pendek yang bersifat menggema dan
mengembalikan berita tersebut kepala pelaku, pembuat dan penyebar berita itu sendiri.

Berita hoax menjadi suatu topik pemberitaan yang mampu menciptakan suatu
keresahan pada masyarakat, hingga tersulutnya emosi, dan sentimentil antar masyarakat.
Berita hoax selalu mengangkat isu-isu dengan topik potensial yang dimainkan oleh
beberapa aktor politik yang juga memiliki pengaruh didalam dunia politik. Kelompok
potensial isu yang kedua ditentutakn oleh media. Isu-isu seringkali tidak berhubungan

3
dengan kebutuhan riil warga, tetapi karena ada tekanan yang terus menerus dari media, isu
tersebut menjadi isu yang penting dan menyebabkan suatu perubahan sikap warga1.

Ancaman berita hoax tidak hanya menjadi suatu meresahkan, akan tetapi juga
negara dan berbangsa. Hal ini marak berlangsung pada situasi politik tertentu, misalnya
menjelang pemilu akhir-akhir ini. Pada saat inilah terdapat indikasi adanya persaingan
politik dari setiap pasangan calon yang diajukan oleh setiap partai politik. Kondisi
semacam ini menjadi tuntutan kepada pemerintah untuk menciptakan kondisi demokrasi
yang berasaskan jujur, bersih dan adil. Berita hoax tidak hanya meresahkan, akan tetapi
juga menimbulkan perusakan pada Pancasila pada Sila ke-3 yaitu akan persatuan di
Indonesia.

Dalam mencegah penyebaran berita hoax dan untuk menciptakan kondisi yang
kondusif ditengah suasana kampanye dan pemilu. Pemerintah membentuk Bawaslu, badan
siber dan sandi negara memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, stabilitas
politik, dan stabilitas sosial.

1.2 Tujuan

Tujuan kami dalam penelitian ini adalah membahas tentang ancaman berita hoax yang
terjadi secara massif di Indonesia sekarang ini. Kami akan berbagi pemaparan tentang
beberapa hal yang tentang peran media massa dalam politik , dan bagaimana berita hoax
menjadi suatu hal yang harus diperangi oleh masyarakat, khususnya kepada mahasiswa
sebagai agent of moral dan menjadi suatu kekuatan moral force dalam masyarakat untuk
mencegah berita hoax.

1
Peter Schroder, Strategi Politik, (Friedrich-Naunamn-Stifung fuer die Freiheit, Indonesia, 2010), Hlm.270.

4
Tujuan berikutnya untuk memaparkan sanksi-sanksi atas hoax yang memiliki kekuatan
hukum didalamnya, yang dapat menciptakan rasa takut dan efek jera bagi orang yang
melakukan pemberitaan hoax dan juga penyebar berita hoax tersebut.

1.3 RUMUSAN MASALAH


1.3.1 Bagaimana peran pemerintah dalam memerangi berita hoax?
1.3.2 Bagaimana cara sebagai masyarakat dalam memerangi berita hoax?

5
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Teori Post-Truth

Informasi yang terjadi di dalam masyarakat dan terjadi secara massif , baik secara
grassroot sampai kalangan elite, hingga pada musim politik. Era digital pada saat ini
menghasilkan suatu dampak sosial yang terkadang justru mengganggu dan meresahkan
masyarakat. Hingga mempertanyakan akan kebenaran atau sekedar berita bohong.

Era Post-Truth terjadi bukan karena media massa atau social media saja, akan tetapi
terjadi karena kurangnya kemampuan masyarakat akan mencerna informasi yang
benar.2 Post-Truth atau pascakebenaran menjadi suatu kata baru yang dinobatkan oleh
Oxford Dictionaries sebagai kata baru dan kata ‘Word of The Year’ , asal muasal post-
truth sendiri terjadi berawal dari peristiwa brexit referendum pada tahun 2016 dan
presidential election di Amerika Serikat. Kedua peristiwa ini menjadi suatu momentum
tentang lemahnya pandangan yang objektif dalam membentuk dan mempengaruhi opini
publik.

Dalam dunia politik hal tersebut dikenal dengan post truth politic, atau dikenal juga
dengan post truth era. Post-truth era membawa pada kebohongan putih atau white lie ,
dan dimana membentuk suatu opini dalam masyarakat, entah itu digambarkan dengan
opini yang baik juga dengan opini yang buruk.

Hal lainnya adalah tentang kebohongan publik yang terkadang dilakukan oleh
pembohong putih yang mengesampingkan etika dalam penggunaan media masa dan
dapat hidup tanpa kecaman apapun.

2
http://journal.ui.ac.id/index.php/jkmi/article/view/8789/pdf diunduhkan pada tanggal 12 oktober 2018
pada pukul 9:48pm

6
Media sosial yang digunakan di Indonesia yang menyediakan berbagai jenis konten
di internet sekarang ini, menjadi suatu hal yang dipertanyakan kredibilitas, objektivitias,
integritas, kepercayaan dan orisinalitasnya, termasuk kehadiran situs-situs dan akun
robot dalam teknologi computer dengan sistem buzz untuk memberitakan berita dan

pesan bohong atau negative.3

Dalam post-truth era, diartikan sebagai kondisi dimana fakta tidak terlalu
berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal.
Dalam hal ini hoax memiliki pengaruh yang lebih besar ketimbang dengan fakta
sebenarnya, Ditandai dengan penggunaan media sosial, adanya kebingungan pada
masyarakat untuk menentukan kebenaran dan kebohongan yang dilakukan oleh pihak-
pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga terkadang masyarakat lebih memilih
untuk menjadi partisipan politik pasif yang pragmatis dan tidak peduli akan sekitar, dan
dihadapkan dengan percaya atau bersikap cuek akan kondisi sosial dan negara.

2.1 Sisi gelap dunia siber ‘Filter Bubble’

Perkembangan dalam dunia teknologi memiliki sisi kelam dan gelap didalamnya,
yang terkadang tidak banyak orang pahami. Seperti halnya dengan teknologi filter bubble.
A filter bubble is the intellectual isolation that can occur when websites make use of
algorithms to selectively assume the information a user would want to see, and then give
information to the user according to this assumption.4 ( filter bubble adalah sebuah jaringan
dari website internet dengan ilmu algoritma yang secara otomatis memilih apa yang dicari
oleh pengguna internet sendiri).

3
http://litbang.kemendagri.go.id/website/perlu-diskusi-keberadaan-post-truth-dalam-ilmu-komunikasi/
diunduhkan pada tanggal 12 oktober 2018 pada jam 10:00
4
https://www.techopedia.com/definition/28556/filter-bubble diunduhkan pada tanggal 13 oktober 2018
jam 1:08pm

7
Filter bubble masih terdengar sedikit asing di Indonesia, akan tetapi tanpa
menyadari akan kehadiran filter bubble, para pengguna website, sosial media, dan internet
sebenarnya sudah terperangkap dalam filter bubble, filter bubble biasanya digunakan oleh
beberapa layanan iklan pada internet dan sosial media untuk aktivitas bisnis marketing.
Akan tetapi, tidak semua pengguna internet sendiri menggunakan media online untuk
membaca sebuah iklan.

Semakin banyak kita melakukan searching didalam internet, sesungguhnya anda


sudah terjebak dengan iklan yang terkadang muncul dari website yang sedang anda buka.
Mungkin seperti bertanya ‘loh kok tahu yah apa yang saya cari?’ dan bertanya ‘kebetulan
kali yah?” Sesungguhnya hal tersebut bukanlah suatu coincidences atau kebetulan, hal
tersebut adalah sebuah isolasi dari apa yang dicari saat menggunakan jaringan internet dan
akan membuat pengguna masuk kedalam hal yang itu-itu saja.

Sama hal nya dengan berita hoax yang memainkan sentimental, asumsi dan opini
publik, sekali kita mencari berita atau isu di instagram , terkadang secara tidak sadar jika
anda masuk ke search, maka instagram anda kurang lebih akan berupa hal-hal yang sama
seperti anda cari gambar di aktivitas sebelumnya.

Post truth era, menjadi suatu ancama tersendiri di berbagai negara, dan menjadi
suatu peperangan yang terus dilakukan oleh beberapa negara, Karena dalam post truth era,
filter bubble menjadi suatu hal yang menguntungkan bagi para pelaku bisnis commerce dan
bisnis yang menggunakan jaringan internet, dan dalam post truth era, mudah sekali
membentuk suatu pandangan sendiri akan apa yang dilihat , post truth era seperti sebuah
permainan pikiran yang menimbulkan efek asumsi.

2.3 Payung Hukum Terhadap Berita Hoax

Dalam politik keamanan, hukum menjadi suatu produk politik , meskipun pada
kenyataan tidak hanya hukum atau undang-undang saja yang disahkan berdasarkan

8
keputusan politik. Hukum sebagai produk politik , berdasarkan Hans Kelsen , suatu
keadaan politik yang menimbulkan pemerintahan dan hukum baru dapat sah sebagai
pemerintah dan konstitusi baru sejauh pemerintah tersebut secara politik bisa
mempertahankan dan memberlakukannya.5

Hukum sendiri dibentuk, dibuat dan disahkan dari sebuah keputusan politik. Negara
bertanggung jawab penuh untuk menjaga kondisi negara yang kondusif. Menciptakan
stabilitas ekonomi, stabilitas politik dan stabilitas sosial. Pada kondisi yang kontemporer
seperti sekarang ini , bukan lagi peperangan terjadi dengan peperangan antar senjata, akan
tetapi perang akan kemajuan teknologi itu sendiri, salah satunya adalah berita hoax menjadi
suatu ancaman dalam menjaga keamanan negara, karena memiliki kecenderungan
membentuk stigma positif dan stigma negatif pada perorangan, lembaga dan instansi.

Perang melawan hoax dan mencegah meluasnya dampak negatif hoax, pemerintah
pada dasarnya telah memiliki payung hukum yang memadai. Pasal 28 ayat 1 dan 2 UU No.
11 tahun 2008 tentang ITE, Pasal 14 dan 15 UU No. 1 tahun 1946, Pasal 311 dan 378
6
KUHP, serta UU No. 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskiriminasi Ras dan Etnis
merupakan beberapa produk hukum yang dapat digunakan untuk memerangi penyebaran
hoax.
Dalam penataan mengantisipasi akan bahaya siber akan berita hoax dan menjaga
keamanan siber. Dalam bidang ekonomi, politik dan keamanan. Presiden RI menerbitkan
Peraturan Presiden Nomor 53 tahun 2017 tentang Badan Siber dan Sandi Negara ( BSSN ).
BSSN merupakan lembaga non kementrian yang berada dibawah dan bertanggung jawab
kepada presiden melalui menteri di bidang politik , hukum dan keamanan.7

5
Prof. DR. Moh. Mahmud MD, Politik Hukum di Indonesia, ( Depok : PT Rajagrafindo Persada), hlm.6.
6
https://mti.binus.ac.id/2017/07/03/penyalahgunaan-informasiberita-hoax-di-media-sosial/ diunduh pada
tanggal 13 oktober 2018 pkl 2:17pm
7
https://polkam.go.id/sesmenko-polhukam-waspadai-dampak-buruk-pemanfaatan-siber/ diunduhkan pada
tanggal 13 oktober 2018 pkl 1:49pm

9
Hukum di dunia maya, menjadi suatu regulasi penting di dalam keadaan
kontemporer saat ini dan setelah muncul nya post-truth era, Di dunia maya, memiliki
supremasi hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi
dan transaksi elektronik 8
tertulis “Pemerintah wajib melakukan pencegahan, perluasan
dan penggunaan informasi dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang
dilarang sesuai ketentuan Peraturan perundang-undangan”

Berita Hoax memiliki unsur utama didalamnya, jika berdasarkan Undang-Undang


Nomor 11 tahun 2008 sebagai berikut:

1. Pasal 28A ayat 1 Undang-Undang ITE, pelaku penyebar berita bohong, meski hanya
iseng, diancam dengan denda Rp 1 miliar. Jika tak mampu bayar, terpaksa kurungan
penjara enam tahun wajib dijalani. Pesan berita hoax memiliki sanksi pidana didalamnya
yang berkekuatan hukum yang memberikan efek penjara bagi para pelakunya.

2. Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang ITE tertulis “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa
hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau
permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku,
agama, ras, dan antargolongan.”

Dalam bab ketentuan pidana pada UU ITE tercantum rincian ancaman pidana
penyebar hoax. Pasal 45 atau 2 UU ITE berbunyi setiap orang yang memenuhi unsur yang
dimaksud dalam pasal 28 ayat 1 atau ayat 2 maka dipidana penjara paling lama enam tahun
dan atau denda paling banyak Rp1 miliar.

8
https://www.anri.go.id/assets/download/97UU-Nomor-11-Tahun-2008-Tentang-Informasi-dan-Transaksi-
Elektronik.pdf diunduhkan pada tanggal 13 oktober 2018 pada pukul 1:55pm

10
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu dengan penelitian
melalui sumber-sumber bacaan , data-data yang berupa kata-kata atau kata-kata , bukan dengan
angka-angka. Berdasarkan sumber pustaka dan kajian-kajian berupa literasi.

3.2 Metode Penelitian Sekunder

Penelitian normatif atau penelitian perpustakaan ini merupakan penelitian yang mengkaji
studi dokumen, yakni menggunakan berbagai data sekunder seperti peraturan perundang-
undangan, keputusan pengadilan, teori hukum, dan dapat berupa pendapat para sarjana.

3.2 Sumber Pustaka

Bersumber dari daftar pustaka, yaitu dengan menggunakan sumber-sumber pembukuan


yang memadai dan bisa dijadikan sumber. Dan beberapa perundang-undangan dan undang-
undang yang berlaku , juga undang-undang penunjang dalam kajian politik keamaan dalam
memerangi berita hoax.

3.3 Teknik Analisa Data

Penelitian jenis normatif ini menggunakan analisis kualitatif yakni dengan menjelaskan
data-data yang ada dengan kata-kata atau pernyataan bukan dengan angka-angka

11
Data – data yang diambil lebih kepada data-data yang merujuk kepada sumber pustaka,
dimana penulis menganalisa setiap kasus yang berhubungan dengan tema penelitian, dan
kasus penelitian, lebih banyak mengutip dari pembukuan.

12
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Fenomena Berita Hoax


Perkembangan teknologi pada saat ini , menjadi suatu perkembangan yang
fenomenal, hampir meliputi seluruh bidang di dunia terdapat suatu perubahan dalam
teknologi. Akan tetapi perkembangan teknologi tidak selalu menghasilkan suatu hal
yang positif akan tetapi justru seperti pedang bermata dua, seperti halnya fenomena
berita hoax. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia akan tetapi juga terjadi secara
global.
Fenomena berita hoax di mengangkat isu-isu topik hangat yang dapat membawa
masyarakat kepada asumsi dan opini masyarakat akan berita tersebut, Hal tersebut
terjadi di beberapa kejadian kabar contohnya adalah kabar hoax yang belakangan
meluas di Facebook itu contohnya rush money. Dalam berita itu, ada ajakan kepada
umat Islam untuk menarik uang mereka di bank, jika Basuki Tjahaja Purnama atau
Ahok tak jadi tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama.9 Hingga terakhir adalah
berita tentang Ratna Sarumpaet yang melibatkan beberapa aktor politik yang ikut
percaya dalam berita bohong tersebut.
Maraknya berita hoax yang tergulir di tengah masyarakat menjadi suatu ujian bagi
ketahanan nasional untuk menjaga keamanan negara. Keamanan negara tidak hanya
menjaga perbatasan negara dan menjaga kedaulatan negara, akan tetapi di zaman
kontemporer seperti ini justru adalah suatu perang pikiran (War of Minds).
Hoax adalah sebuah berita palsu atau bohong. Hoax digunakan untuk menipu atau
mengakali pembaca atau pendengar untuk mempercayai sesuatu. Berita hoax dapat

9
https://nasional.tempo.co/read/1136535/ruang-kerja-dua-anggota-dpr-ditembak diunduhkan pada
tanggal 15 oktober 2018 pkl 8:16

13
menyebabkan munculnya fitnah, pembunuhan karakter, perang pernyataan di media
sosial, putusnya silahturahmi dan rusaknya kerukunan hidup masyarakat. Dalam artikel
di website hai.grid.id, terdapat 10 jenis berita bohong yang sering diterima oleh
masyarakat, yaitu: sosial politik, sara, kesehatan, makanan dan minuman, penipuan
keuangan, IPTEK, berita duka, candaan, bencana alam, dan lalu lintas10
Fenomena berita hoax membawa dampak negatif bagi perorangan juga bagi
kehidupan berbangsa dan bernegara , contohnya adalah fitnah, perundungan (cyber
bullying) , merusak kerukunan bangsa, isu provokatif, sentiment, hingga
pemutarbalikan fakta, turunnya kredibilitas , pembunuhan karakter, dan hilangnya
kepercayaan.
Pada suatu era post-truth dan post truth politics , dibutuhkan suatu pemikiran kritis
untuk tidak mudah percaya begitu saja tentang apa yang dilihat dan dibaca dari media
sosial atau internet. Indonesia juga termasuk menjadi salah satu negara dengan
penggunaan internet terbesar.

sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2017/06/29/facebook-masih-jadi-medsos-
terbesar-jumlah-pengguna-tembus-2-juta-termasuk-anda

10
www.hai.grid.id diunduhkan pada tanggal 15 oktober 2018 pada pk 8.25

14
Menghadapi tantangan siber yang begitu massif , salah satunya adalah Besarnya
pengguna facebook di Indonesia, Facebook menjadi suatu wadah yang berganti fungsi,
seperti contohnya suatu penyebaran konten negative hingga kampanye melalui
Facebook.
Bahwasanya pada hal ini, negara Indonesia rentan akan serangan siber, sehingga
Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 53 tahun 2017 resmi mendirikan
badan siber. Badan siber memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga ketahanan
nasional.

4.2 Peran Pemerintah Dalam Menghadapi Memerangi Berita Hoax Di Tengah


Kampanye Pemilu
Berita hoax yang terhangat ditengah suasana kampanye pemilu salah satunya adalah
berita Ratna Sarumpaet. Berita hoax Ratna Sarumpaet yang juga termasuk, aktivis dan juga
juru kampanye pada salah satu calon presiden dan wakil presiden , membuat keresahan
didalam masyarakat, karena juga mengorbankan salat satu calon presiden dan wakil
presiden. Kejadian sesungguhnya adalah Ratna Sarumpaet sedang menjalani operasi plasik
sedot lemak.
Kampanye melalui sosial media, merupakan salah satu cara yang termudah dilakukan
dalam kampanye, hingga memungkinkan kampanye hitam dan juga kampanye yang
bernuansa negative. Facebook dan Instagram menjadi tempat dan wadah untuk para aktor
politik melakukan kampanye.

Pada hal ini KPU ( Komisi Pemilihan Umum ) juga memiliki tugas untuk menghindari
kampanye yang bernuansa kampanye hitam hingga hoax. Dalam Undang-undang Nomor 7
Tahun 2017 tentang Pemilu, di pasal 1 ayat 35, kampanye pemilu diartikan sebagai
kegiatan peserta pemilu untuk meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, program

15
dan/atau citra diri peserta pemilu.11
Dalam Peraturan KPU (PKPU) Nomor 23 Tahun 2018 tentang Kampanye Pemilu,
pengaturan kampanye di media sosial hanya sebatas mengatur pendaftaran akun milik
peserta pemilu.12
KPU membatasi setiap peserta pemilu hanya boleh memiliki akun media sosial yang
digunakan untuk kampanye paling banyak 10 akun. Namun, KPU tidak mengatur mengenai
penyebaran konten kampanye, yang bisa saja dilakukan oleh orang di luar tim kampanye,
atau oleh buzzer politik musiman yang muncul lima tahunan sekali. Belum lagi fenomena
hoaks dan ujaran kebencian yang dengan mudahnya tersebar hanya dengan satu klik di
akun media sosial. Pengaturan terkait kampanye di media sosial oleh KPU dan
penanganannya oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga harus mendapat perhatikan
khusus.
Saat ini dalam Undang-undang Pemilu, pengaturan pidana terkait kampanye belum
mengatur mengenai penggunaan media sosial. Dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun
2017 di pasal 491, 492 dan 493 mengatur ancaman pidana dan denda bagi setiap orang
yang menghalangi jalannya kampanye, melaksanakan kampanye di luar jadwal, serta
melanggar ketentuan kampanye.
Ketentuan kampanye yang diatur dalam UU tersebut adalah
1. seluruh peserta Pemilu dilarang mempersoalkan dasar negara Pancasila, UUD
1945 dan bentuk NKRI.
2. melakukan kegiatan yang membayakan keutuhan NKRI
3. menghina seseorang berdasarkan suku, agama, ras, golongan dan peserta pemilu
lain; menghasut dan mengadu domba perseorangan maupun kelompok
masyarakat; dan mengganggu ketertiban umum.13

11
Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang pemilihan umum
12
Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 23 tahun 2018
13
https://kominfo.go.id/content/detail/14795/mengatur-kampanye-di-media-sosial/0/sorotan_media
diunduhkan pada tanggal 15 oktober 2018 pad apkl 9:16

16
Selain daripada itu, Badan Siber, Kominfo , Polri juga bersama-sama memerangi berita
hoax ditengah tensi masyarakat yang mudah tersulutkan karena berita hoax. Beberapa
langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam memerangi berita hoax :
1. Penegakan hukum :
Penegakkan hukum berupa penangkapan dan hukuman penjaga kepada penyebar dan
pembuat seperti pada Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE) dan
KUHP. Seperti pada ketentuan pidana pada UU ITE tercantum rincian ancaman pidana
penyebar hoax. Pasal 45 atau 2 UU ITE berbunyi setiap orang yang memenuhi unsur yang
dimaksud dalam pasal 28 ayat 1 atau ayat 2 maka dipidana penjara paling lama enam tahun
dan atau denda paling banyak Rp1 miliar.

2. Melibatkan penyelenggara platform :


Penyebaran hoax banyak terjadi di media sosial, untuk itu ia berharap penyelenggara
platform tersebut dilibatkan untuk melawan hoax, misalnya pemerintah memberlakukan
denda bagi penyelenggara media sosial yang tidak melakukan langkah yang cukup untuk
meredam informasi tidak benar.

3. Edukasi masyarakat dan Sosialisasi masyarakat :

Selain itu, perlu ada edukasi bagi masyarakat untuk melapor bila menemukan hoax dan
pelakunya. Pengguna internet dapat melapor ke aduankonten@mail.kominfo.go.id dengan
menyertakan tautan dan foto gambar tersebut. Selain melalui jalur pemerintah, sekarang ini
muncul gerakan masyarakat yang peduli terhadap peredaran berita palsu, antara lain adalah
Masyarakat Indonesia Anti Hoax.

4.3 Peran Mahasiswa dalam memerangi berita hoax

Dalam kondisi “War of Minds” yaitu perang pemikiran, dimana berita hoax tersebar
untuk membentuk suatu stigma dan paradigm bagi pembaca dan pengguna media sosial,

17
Dalam situasi apapun, Badan Siber, Polri, KPU dan Kominfo tidak dapat bekerja dengan
sendirian, oleh karena itu harus adanya kesadaran dari masyarakat juga kita mahasiswa
untuk tidak mudah terpancing begitu saja akan berita-berita yang belum teruji
kebenarannya.

Dibutuhkan suatu pemikiran kritis dan mencoba untuk melihat lebih dalam tentang
kebenaran suatu berita dan konten yang diposting di sosial media. Salah satu kekuatan
dalam keamanan negara salah satu nya adalah mahasiswa sebagai moral force atau
kekuatan moral. Karena pada dasarnya mahasiswa adalah generasi pembelajar yang
berlandaskan oleh ilmu , dimana ilmu memiliki pepatah “manusia boleh bersalah tetapi
tidak boleh berbohong.”

Berikut beberapa langkah kecil yang dapat dilakukan sebagai mahasiswa dalam
memerangi berita hoax yang beredar :

1. menguji kebenaran berita tersebut.


2. Tidak menyebar luaskan berita
3. Mensosialisakan dampak dari berita hoax
4. Menegur pengirim konten berita
5. Menertawakan hal tersebut atau kebodohan tersebut
6. Follow konten yang positif dan Unfollow konten yang negative.

18
BAB V

5.1 KESIMPULAN

Berita hoax merupakan suatu berita bohong yang harus diperangi, karena berpotensi
menyulutkan emosi hingga merusak kerukunan berbangsa dan bernegara. Memerangi berita
hoax merupakan suatu pembohongan juga pembodohan terhadap publik yang memicu opini
publik yang meresahkan, berita hoax juga merupakan suatu pencemaran etik dalam
jurnalisme karena tidak berdasarkan sumber dan fakta yang sebenarnya.

Berita hoax juga muncul disebabkan oleh kemajuan teknologi dan kemudahan untuk
mencari topic berita dan isu yang beredar. Dampak negative dari berita hoax juga
bertentangan dengan nilai Pancasila pada sila ke-3 yaitu Persatuan Indonesia.

Berita hoax menjadi suatu ancaman yang cukup berat dan tantangan berat di tengah
masa kampanye pemilihan umum, yang melibatkan bawaslu, kpu, polri dan kominfo dalam
memerangi berita hoax guna mencegah terjadi nya potensi pecah belah juga kampanye
hitam.

5.2 SARAN

Tidak ikut menyebarkan berita hoax menjadi suatu hal yang dapat membantu
berkurangnya berita hoax yang beredar di masyarakat guna menghindari dinamika sosial
yang bersifat dinamis. Mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia, agar terhindar dari
sanksi-sanksi hukum atas penyebaran berita hoax.

Masyarakat dan kita sebagai mahasiswa harus dapat berpikir kritis dan mau
mengecek kebenaran tentang berita yang beredar melalui media sosial atau jaringan
internet, atau menggunakan media televisi untuk lebih yakin dalam memperoleh berita.

19
BAB VI

PENUTUP

20
DAFTAR PUSTAKA

21
PERAN PEMERINTAH DALAM PEMILIHAN UMUM
TERHADAP BERITA HOAX

OLEH :

Stevanus Sitanggang ( 1635010010 )

Hanny Kurnia ( 1735010011 )

Muhamad Rizal Khusaeni ( 1735010007 )

Arbiyan Billah Dini Nurhakiki ( 1735010001 )

Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik

22
23