Anda di halaman 1dari 18

DESKRIPSI PROSES PRODUKSI LNG DI PT BADAK NGL

Proses pencairan gas alam merupakan proses perubahan dari fasa gas menjadi fasa cair.
Untuk menghasilkan LNG, maka panas sensibel dan panas laten dari gas alam diambil sehingga
menghasilkan gas alam dalam bentuk cairan yang sangat dingin (kriogenik). Pengubahan fasa ini
dapat mengurangi volum gas alam hingga 1/600 kali volum awalnya sehingga dapat
mempermudah dalam transportasinya. Secara garis besar proses pencairan gas alam melalui
proses-proses sebagai berikut:
a. Pemurnian Gas Alam merupakan proses pemurnian untuk menghilangkan senyawa-
senyawa yang dapat mengganggu jalannya proses berikutnya dalam rangkaian proses
produksi LNG, merusak peralatan produksi LNG, serta mengurangi kualitas produk
LNG.
b. Fraksinasi merupakan proses untuk memisahkan gas alam menjadi umpan dengan
komponen-komponen yang sesuai dengan spesifikasi produk yang diinginkan.
c. Pencairan merupakan proses untuk mendinginkan gas alam menjadi bentuk cairnya.
Ketiga proses utama tersebut dilakukan secara berurutan dalam suatu rangkaian Plant yang
disebut sebagai process Train. Dalam Train ini feed natural gas diproses menjadi gas alam cair
(LNG) yang kemudian akan siap dikapalkan. Setiap Train proses terdiri dari lima Plant. Unit
pemurnian gas alam terdapat pada Plant-1 dan Plant-2. Plant-3 merupakan unit fraksinasi.
Sedangkan proses utama yang dilakukan pada unit pencairan beroperasi pada Plant-4 dan Plant-
5.

Gambar Error! No text of specified style in document..1 Diagram Blok Proses Produksi LNG di PT Badak NGL
[Sumber: Data Departemen Operasi PT Badak NGL]
Saat ini terdapat delapan process Train yaitu Train A sampai dengan Train H. Train A
dan Train B saat ini sudah ditetapkan untuk tidak dijalankan lagi sampai waktu yang belum
ditentukan karena keterbatasan feed natural gas. Perbedaan antar Train terletak pada kapasitas
produksinya, sedangkan proses produksi yang terjadi relatif sama. Kapasitas produksi Train
EFGH lebih besar daripada Train ABCD. Untuk saat ini, Train yang beroperasi hanya empat
sementara keempat Train lainnya tidak beroperasi karena jumlah feed natural gas yang lebih
sedikit dari kapasitas total produksi semua Train.
Kapasitas dari masing-masing Train proses telah dirancang untuk dapat mengolah dan
menghasilkan feed gas alam menjadi LNG sebanyak ± 724 m3/jam/Train (average). Dengan
beroperasinya empat Train kilang pencairan gas alam di Bontang, maka total produksi LNG
yang dihasilkan dapat mencapai 10 juta ton per tahun (data terbaru pada tahun 2014). Dalam
operasi sehari-hari, banyaknya produksi LNG disesuaikan dengan besarnya pasokan feed natural
gas yang disediakan oleh produsen gas.
Untuk mengoperasikan kilang LNG, diperlukan tiga sistem utama yang saling berkaitan.
Ketiga sistem utama itu adalah sistem proses, sistem utilitas, serta sistem storage and loading.

Gambar Error! No text of specified style in document..2 Hubungan Antara Sistem Proses, Sistem Utilitas, dan
Sistem Storage Loading di PT Badak NGL
[Sumber: Data Departemen Operasi PT Badak NGL]

 Plant-1: Proses Pemisahan CO2 ( Gas Purification )


Plant-1 ini dikenal sebagai unit absorpsi CO2. Proses di Plant-1 ini memiliki fungsi untuk
memurnikan feed gas alam dari kandungan CO2 sampai kadar maksimum yang diizinkan, yaitu
50 ppmv. Feed gas alam yang berasal dari sumur gas lapangan Muara Badak mengandung CO 2
sekitar 6,3% mol. Dengan menggunakan larutan aMDEA (activated Methyl Diethanol Amine)
yang diproduksi oleh BASF sebagai absorben, senyawa CO2 dipisahkan dari feed gas alam pada
Plant-1 ini. Feed gas alam akan dilewatkan dalam suatu kolom CO2 Absorber (unit 1C-2) di
mana kandungan CO2-nya diserap atau diambil dari dalam feed natural gas dengan memakai
larutan aMDEA dengan konsentrasi 40%-berat. Pemurnian feed gas alam dari CO2 ini
dimaksudkan agar tidak terjadi pembekuan CO2 yang dapat menyebabkan plugging dalam unit
pencairan. Hal ini dapat terjadi karena titik beku CO2 lebih tinggi dibandingkan dengan metana,
yakni titik beku CO2 adalah -56oC sedangkan titik beku CH4 adalah -161oC. Pada tekanan tinggi
dan suhu yang rendah, gas CO2 membeku dan menyebabkan penyumbatan pada tube-tube di
Heat Exchanger (5E-1) yang beroperasi pada tekanan + 40 kg/cm2 dan suhu -150oC. Selain itu
pada suhu -150oC, keberadaan CO2 dapat mengganggu proses secara keseluruhan karena sifatnya
CO2 yang korosif.
Larutan absorben aMDEA ini memiliki gugus utama Methyl Diethanol Amine (MDEA) yang
telah diaktifkan dengan menggunakan Activated Piperazine. Larutan aMDEA yang digunakan
dijaga pada konsentrasi 40% berat untuk memastikan aMDEA yang diinjeksikan mampu
menyerap CO2 hingga kadar yang diinginkan. Reaksi penyerapan kandungan CO2 dalam feed gas
alam oleh aMDEA adalah:
a. Pertama, karbondioksida (CO2) terlarut dengan air menghasilkan asam karbonat (H2CO3):
𝐶O2 (g) +𝐻2O (l) 𝐻2𝐶O3 (aq)
b. Selanjutnya, aMDEA akan bereaksi dengan H2CO3 membentuk ion karbonat:

Kedua reaksi di atas merupakan reaksi reversibel (reaksi dapat balik). Dengan pengaturan
suhu, aMDEA yang sudah terpakai (jenuh) untuk menyerap CO2 di kolom 1C-2 dapat
diregenerasi atau diaktifkan kembali. Reaksi ke kanan bersifat eksotermis sementara reaksi ke
kiri bersifat endotermis. Setelah terlepas dari aMDEA, gas CO2 kemudian dibuang ke atmosfer.
Gambar Error! No text of specified style in document..3 Diagram Alir Sistem Purifikasi Plant-1
[Sumber: Data Departemen Operasi PT Badak NGL]

Sebelum feed gas alam memasuki Plant-1, gas alam terlebih dahulu memasuki Knocked
Out Drum (KOD) di Plant-21 untuk memisahkan gas alam dari kondensat dan glikol. Kondensat
adalah fraksi hidrokarbon berat yang berwujud cair, sedangkan glikol merupakan senyawa yang
diinjeksikan ke dalam feed gas alam untuk mengikat air yang terbawa sepanjang pipa. Kondensat
yang terpisahkan akan diolah lebih lanjut di Plant-16 (Condensate Stabilizer).
Lean aMDEA yang merupakan bottom product dari Kolom 1C-5 dialirkan ke bagian
shell Heat Exchanger 1E-4 untuk didinginkan dengan memanfaatkan pertukaran panas aliran
rich amine dingin dari 1C-4 yang melalui bagian tube. Pendinginan ini menyebabkan penurunan
temperatur lean amine dari temperatur 124oC menjadi 79oC. Lean aMDEA tersebut didinginkan
lebih lanjut menggunakan Fin-Fan Cooler (1E-9A/B/C/D/E/F) hingga bersuhu sekitar 57oC
setelah dipompa dengan Pompa Amine Booster (1G-4). Selanjutnya, aliran akan melalui Cooler
1E-3A/B/C/D untuk pendinginan akhir hingga suhu 40-42oC. Dari exchanger ini, larutan
aMDEA dipompakan ke dalam CO2 Absorber 1C-2 dengan Pompa 1G-1A/B/C.
Antifoaming agent yang berupa campuran silika dan glikol diinjeksikan pada suction
Pompa 1G-1A/B/C untuk mencegah terbentuknya foaming pada keseluruhan sistem absorbsi
CO2. Peristiwa foaming disebabkan karena larutan aMDEA yang kotor (kaya CO2) atau
disebabkan aliran feed gas alam yang kotor. Pembentukan foaming dapat menyebabkan kontak
antara feed gas alam dan aMDEA menjadi buruk serta menyulitkan pengukuran ketinggian
cairan pada kolom. Foaming ini dapat dideteksi dengan melihat beda tekanan yang ditimbulkan.
Saat ini, peristiwa foaming sudah jarang terjadi, kalaupun terjadi hanya berupa gejala pada saat
start up. Untuk mengatasi foaming ini, selain dengan menginjeksikan antifoaming juga biasanya
diatasi dengan mengubah laju alir aMDEA, laju aliran BFW atau bahkan menurunkan laju feed
gas alam itu sendiri.
Gangguan lain pada Plant-1 selain foaming yang terjadi adalah pembacaan BFW (Boiler
Feed Water) yang tidak sesuai (instrumentasi) sehingga mengakibatkan perubahan strength
amine yang akan mempengaruhi proses absorbsi di 1C-2. Selain itu, juga dapat terjadi
kebocoran-kebocoran di tube Heat Exchanger. Sebagai contoh, kebocoran di tube 1E-5A/B akan
menyebabkan LP steam masuk ke shell dan mengontaminasi strength lean amine. Kebocoran
dapat dideteksi dengan metode venting atau dengan analisis fluida pada shell. Salah satu cara
mendeteksi kebocoran pada 1E-3A/B adalah dilakukannya analisis sampel dari cooling water;
jika terdeteksi ada amina pada C/W maka terdapat kebocoran pada tube HE. Dari uraian di atas,
dapat disimpulkan bahwa kerja proses penyerapan CO2 tergantung pada beberapa variabel
berikut:
a. Laju sirkulasi aMDEA
b. Temperatur aMDEA masuk 1C-2
c. Derajat regenerasi
d. Konsentrasi aMDEA
e. Kebersihan larutan amine

 Plant-2: Proses Penghilangan H2O dan Hg ( Gas Dehydration And Mercury Removal )
Setelah kandungan CO2 dalam gas alam telah memenuhi persyaratan, proses selanjutnya
adalah penghilangan kandungan air (H2O) serta senyawa merkuri (Hg). Setelah melewati Plant
ini, kandungan air pada gas alam maksimal adalah sebesar 0,5 ppm, sedangkan kandungan
merkuri maksimal adalah 0,01 ppb. Air perlu dihilangkan dari gas alam dengan alasan yang sama
seperti penghilangan CO2, yaitu titik beku air yang lebih tinggi daripada suhu operasi sehingga
dapat menyebabkan plugging. Air akan membeku pada temperatur 0oC pada tekanan atmosfer,
sementara proses pencairan gas alam dilakukan pada temperatur -161 oC. Membekunya air dapat
mengakibatkan terbentuknya sumbatan pada perpipaan dan peralatan Main Heat Exchanger (unit
5E-1). Sedangkan merkuri perlu dihilangkan karena dapat bereaksi dengan aluminium (yang
merupakan material peralatan proses). Reaksi antara merkuri dengan aluminium akan
membentuk amalgam yang bersifat korosif.
Proses penghilangan air dan merkuri disatukan dalam satu unit karena memiliki prinsip
yang sama, yaitu adsorpsi. Adsorben yang digunakan untuk menyerap air adalah Molecular
Sieve, sedangkan untuk adsorben merkuri digunakan Sulphur Impregnated Activated Carbon
(SIAC).

Gambar Error! No text of specified style in document..4 Diagram Alir Sistem Dehidrasi Plant-2
[Sumber: Data Departemen Operasi PT Badak NGL]

Feed gas alam kering yang keluar dari Kolom 2C-2A/B/C kemudian disaring oleh unit Drier
After Filter 2Y-1A untuk menghilangkan debu molecular sieve yang ikut terbawa. Selanjutnya,
sebanyak 31.000 m3/jam aliran gas alam dipisahkan untuk digunakan sebagai pemanas untuk
regenerasi yang akan dijelaskan pada bagian bawah. Aliran gas yang tersisa kemudian
dilewatkan menuju kolom 2C-4 (Mercury Removal Vessel) untuk memisahkan merkuri yang
terlarut dalam feed gas alam. Kolom 2C-4 berisi Sulphur-Impregnated Activated Carbon (SIAC)
yang dapat bereaksi dengan Hg membentuk HgS. Kadar merkuri maksimum pada feed gas alam
yang keluar kolom 2C-4 yaitu sebesar 0,01 ppbw sehingga tidak akan mengakibatkan korosi pada
tube-tube Main Heat Exchanger.
Kolom 2C-4 ini merupakan unit penghilang merkuri dengan adsorben SIAC. Proses adsorpsi
merkuri dengan karbon aktif ini merupakan proses adsorpsi kimiawi, yaitu melibatkan reaksi
kimia. Reaksi kimia yang terjadi yaitu antara sulphur dengan merkuri dengan persamaan sebagai
berikut:
Hg(s) + S(s) → HgS(s)
Oleh karena konsentrasi merkuri awal pada gas alam tidak terlalu tinggi (sekitar 0,033 ppb),
maka tidak diperlukan adanya susunan kolom adsorber secara paralel. Rendahnya konsentrasi
merkuri juga memungkinkan pengurangan tinggi unggun SIAC pada kolom untuk mengurangi
hilang tekan di sepanjang kolom. Feed gas alam yang keluar dari Kolom 2C-4 ini kemudian akan
disaring dalam Mercury After Filter 2Y-1B untuk menyerap debu karbon yang mungkin terbawa
aliran feed gas alam. Feed gas alam yang bebas dari merkuri ini kemudian didinginkan pada
Heat Exchanger 4E-12 (Feed Medium Level Propane Evaporator) dan 4E-13 (Feed Low Level
Propane Evaporator) dengan media pendingin hingga temperatur sekitar -32oC. Proses
pendinginan dilakukan untuk mengkondisikan umpan feed gas alam sebelum memasuki Plant-3,
yaitu Plant unit fraksionasi.
Proses penting lain yang terjadi pada Plant-2 adalah tahap regenerasi molecular sieve
pada Kolom 2C-2A/B/C. Regenerasi dilakukan pada kolom adsorpsi air selama kurang lebih 570
menit. Selama satu kolom diregenerasi, maka aliran gas akan diarahkan ke dua kolom lainnya.
Sebanyak 31.000 m3/jam aliran gas yang dipisahkan untuk keperluan generasi kemudian
dipanaskan dengan high pressure steam (62,5 kg/cm2, 450oC) pada unit Heat Exchanger 2E-7
(Drier Reactivation Heater) hingga suhu sekitar 270oC. Pemanasan dilakukan selama sekitar 420
menit. Dengan pemanasan kolom tersebut, seluruh air yang terserap pada molecular sieve akan
teruapkan dan keluar melalui bagian atas kolom. Tahap regenerasi berikutnya adalah
pendinginan dengan medium pendingin berupa gas kering yang tidak dipanaskan (suhu 19oC).
Proses ini berlangsung selama 150 menit sampai temperatur kolom mencapai 34oC. Tujuan
pendinginan ini adalah untuk menyiapkan kolom pada temperatur operasi, karena proses adsorpsi
terjadi secara lebih efisien pada temperatur yang rendah. Setelah diregenerasi, kolom dapat
digunakan untuk tahap dehidrasi selama 2 900 menit (30 jam).
Setelah aliran gas alam digunakan sebagai medium pemanas regenerasi molecular sieve
Kolom 2C-2A/B/C, maka suhu aliran gas alam diturunkan kembali. Pendinginan dilakukan oleh
Fin Fan Cooler 2E-3A/B hingga mencapai temperatur 78oC. Pendinginan ini menyebabkan
adanya uap air dan hidrokarbon berat yang terkondensasi. Akibat proses pendinginan ini, air dan
fraksi hidrokarbon yang terkandung dalam gas akan terkondensasi selanjutnya akan dikirim ke
unit Feed Drier Reactivation Separator 2C-3 untuk memisahkan air dan kondensat hidrokarbon.
Air yang terbentuk akan dibuang ke Burn Pit, sedangkan kondensat hidrokarbon akan dikirim ke
unit Condensate Stabilizer (Plant-16). Gas yang telah bebas uap air dan kondensat hidrokarbon
berat dikompresikan kembali ke Kolom CO2 Absorber 1C-2 menggunakan Drier Reactivation
Gas Compressor 2K-2. Kompresi gas alam dilakukan sampai tekanan gas alam mencapai 45
kg/cm2g dan suhu 45oC.

 Plant-3: Proses Fraksionasi (Fractination)


Plant-3 disebut dengan Scrub Column & Fraction Unit. Proses penghilangan hidrokarbon
berat dilakukan dengan cara fraksinasi. Pada Plant ini dilakukan pemisahan komponen-
komponen yang terdapat dalam gas alam melalui proses destilasi. Unit fraksionasi berfungsi
untuk memisahkan komponen-komponen yang terdapat dalam gas alam menjadi berbagai
komponen individu, seperti:
a. Metana sebagai komponen penyusun utama LNG.
b. Fuel gas digunakan untuk bahan bakar boiler.
c. Propana dan etana sebagai media pendingin di Multi Component Refrigeration (MCR)
maupun di Propane Refrigeration (hanya propana).
d. LPG Propana dan LPG Butana komersial yang dikirim ke tangki penampungan Plant-17
(Tangki 17D-1/2/5 untuk propana dan Tangki 17D-3/4 untuk butana).
Total jumlah tangki LPG yang ada di PT Badak NGL adalah 5 buah.

Hidrokarbon kondensat sebagai bahan baku di Plant-16 (Stabilizer Unit) diolah menjadi bahan
bakar cair.

Gambar Error! No text of specified style in document..5 Diagram Alir Sistem Dehidrasi Plant-3
[Sumber: Data Departemen Operasi PT Badak NGL]
Sistem fraksionasi pada Plant-3 ini bekerja berdasarkan prinsip destilasi dan terbagi menjadi
lima sub-sistem, yakni Scrub Column, Deethanizer, Depropanizer, Debutanizer, dan C3/C4
Splitter. Plant-3 dibagi menjadi 5 kolom utama untuk Train ABCD yaitu Scrub Column,
Deethanizer, Depropanizer, Debutanizer, dan Splitter Unit, sedangkan Train EFGH hanya terdiri
dari 4 kolom utama karena tidak memiliki Splitter Unit.
Aliran produk bawah Scrub Column 3C-1 dari 3C-1 hingga 3C-4 terdapat beberapa cabang
perpipaan yang berfungsi sebagai berikut:
a. Menerima aliran dari 3C-1 Train proses lain untuk diproses di 3C-4 di Train tersebut atau
sebaliknya. Hal ini dilakukan apabila Kolom 3C-4 dari Train yang bersangkutan
mengalami masalah atau kerusakan.
b. Mengalirkan cairan dari bottom 3C-1 ke Plant-16. Aliran ini difungsikan apabila sistem
purifikasi (Plant-2) mengalami masalah.
c. Mengalirkan cairan bottom 3C-1 ke Burn Pit.
Produk bawah dari Kolom 3C-1 dan 3C-2 yang telah melalui shell side 3E-14 mengalir
menuju Deethanizer Column 3C-4. Di dalam kolom Deethanizer 3C-4 ini, uap gas yang sebagian
besar mengandung etana akan naik ke atas dan hidrokarbon liquid yang mengandung komponen
berat (C3+) akan turun ke bawah. Kolom Deethanizer ini beroperasi pada tekanan Kondensor 3E-
5 sebesar 30 kg/cm2g.
Reboiler Kolom Deethanizer 3E-4 diperlukan untuk memisahkan etana dan bahan-bahan
yang lebih ringan lainnya dari fraksi berat cairan umpan dengan cara mendidihkan kembali
cairan yang berada di bottom Kolom Deethanizer 3C-4. Sementara itu, uap gas yang keluar dari
puncak 3C-4 sebagian mengembun di 3E-5 (Deethanizer Column Overhead Condenser). Aliran
dua fasa hasil pendinginan dari Kondensor 3E-5 ini selanjutnya dimasukkan ke 3C-5
(Deethanizer Column Condensate Drum).
Di Kolom 3C-5 terjadi pemisahan fasa uap dengan fasa cair. Cairan dari 3C-5 ini
dikembalikan ke puncak menara Kolom 3C-4 sebagai refluks dengan menggunakan Pompa 3G-
2A/B. Cairan yang berlebih di dalam Kolom 3C-5 selain untuk refluks dikirim sebagai reinjeksi
ke 5E-1 sebagai gas umpan untuk meningkatkan nilai HHV LNG (Higher Heating Value)
menjadi sekitar 1,107 Btu/scf. Selain itu, cairan ini bila diperlukan akan dikirim ke storage untuk
persediaan refrigeran MCR atau sebagai make-up etana ke 5C-1. Uap dari 3C-5 yang tidak
mencair akan dialirkan menuju Heater 3E-17 dengan media pemanas berupa steam untuk
kemudian dikirim ke sistem fuel gas.
Bottom product (produk bawah) dari Kolom Deethanizer 3C-4 sebagian akan didihkan
kembali di Reboiler 3E-4 di mana uap yang terbentuk akan masuk kembali ke Kolom
Deethanizer 3C-4, sedangkan cairan yang terbentuk di Reboiler 3E-4 tersebut akan bergabung
dengan bottom product 3C-4 untuk dialirkan menuju Depropanizer 3C-6. Kolom Depropanizer
3C-6 berfungsi untuk memproduksi propana dengan kemurnian tinggi yang akan digunakan
sebagai refrigeran maupun LPG komersial. Kolom ini juga digunakan untuk memurnikan
propana dari storage. Pada Kolom Depropanizer 3C-6 ini, propana dan fraksi ringan lainnya
akan naik ke puncak Kolom 3C-6 ini sedangkan fraksi beratnya akan turun ke dasar Kolom 3C-
6.
Uap dari puncak Kolom Depropanizer 3C-6 diembunkan dalam Kondenser 3E-7 pada
tekanan 17 kg/cm2g dengan cara pertukaran panas dengan air laut. Hasil kondensasi oleh
Kondenser 3E-7 tersebut dialirkan ke Depropanizer Condensate Overhead Drum (3C-7). Dua
dari tiga Propanizer Reflux Pump memompakan cairan dari 3C-7 ke puncak Kolom 3C-6 sebagai
refluks, sedangkan satu pompa lainnya standby. Dengan adanya refluks tersebut, maka suhu
puncak Kolom 3C-6 terjaga pada suhu sekitar 47oC. Selain untuk refluks, kelebihan cairan di
dalam 3C-7 dipompakan lewat Propane Return SubCooler 3E-12 dan LNG Flash Exchanger 5E-
2 menuju Plant-17 LPG Tank. Kelebihan cairan dapat juga dikirim ke propane storage pada
Plant-20 untuk propane refrigerant inventory dan untuk make-up MCR ke 5C-1. Uap yang tidak
dapat terkondensasi di Kondenser 3E-7 dipisahkan dari liquid di 3C-7 dan selanjutnya dikirim ke
fuel gas system.
Pada bagian bawah Kolom Depropanizer 3C-6 terdapat Depropanizer Column Reboiler 3E-6
yang diperlukan untuk memisahkan propana dan fraksi komponen lain yang lebih ringan dari
komponen gas umpan yang lebih berat dengan jalan mendidihkan kembali cairan yang turun.
Pemanas yang digunakan pada Reboiler 3E-6 adalah Low Pressure Steam. Produk bawah dari
Reboiler 3E-6 akan bergabung dengan produk bawah dari Kolom Depropanizer 3C-6 untuk
dialirkan menuju Kolom Debutanizer (3C-8).
Kolom Debutanizer 3C-8 berfungsi untuk mendapatkan komponen butana gas alam. Pada
kolom 3C-8 ini, butana dan fraksi ringan lainnya akan naik ke atas dan fraksi yang lebih berat
akan turun ke bagian bawah kolom. Debutanizer Column Reboiler (3E-8) akan menyalurkan
panas dari Low Pressure Steam untuk memisahkan butana dan fraksi yang lebih ringan dari
fraksi berat dengan cara mendidihkan kembali cairan yang turun. Adapun uap dari puncak
Kolom Debutanizer 3C-8 akan diembunkan di dalam 3E-9 (Debutanizer Column Overhead
Condenser) dengan cara pertukaran panas dengan air laut. Kolom Debutanizer 3C-8
dioperasikan pada tekanan Kondenser 3E-9 sebesar 6 kg/cm2g. Uap yang tidak dapat dicairkan di
3E-9 dialirkan ke fuel gas system untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler. Sementara,
hasil kondensasi dari 3E-9 mengalir ke 3C-9 (Debutanizer Condensate Overhead).
Cairan dari 3C-9 dipompakan oleh 3G-7A/B (Debutanizer Column Reflux Pump) ke puncak
menara Kolom 3C-8 sebagai refluks. Kelebihan liquid di dalam 3C-9 didinginkan di 3E-13
(Butane Return Sub Cooler) oleh pendingin Low Pressure Propana. Kemudian, liquid ini
sebagian dikirim ke 3C-2 (Scrub Column Condensate Drum) melewati 4E-14 (Scrub Column
Overhead Condenser) dengan menggunakan Pompa 3G-5A/B. Pengiriman liquid ini bertujuan
mempertahankan level ketinggian pada Kolom 3C-2. Adapun sebagian lainnya dari liquid akan
dikirim ke LPG Storage Tank di Plant-17 atau dikirim ke Storage Tank 20C-5 atau sebagai
reinjeksi ke dalam feed gas alam yang masuk ke 5E-1. Reinjeksi ini bertujuan untuk
meningkatkan nilai HHV produk LNG.
Aliran keluaran 3C-9 di Train ABCD dan di Train EFGH akan menuju unit yang berbeda.
Pada Train ABCD, sebagian butana cair sebagai hasil kondensasi akan dikembalikan ke 3C-8
sebagai refluks, sebagian akan menuju Plant-20 untuk disimpan sebagai make up MCR, sebagian
dapat direinjeksikan ke feed gas alam aliran inlet 5E-1, dan sebagian lagi akan dikirimkan ke
C3/C4 Splitter untuk dipisahkan kembali antara C3 dan C4 agar memenuhi spesifikasi produk
LPG. Pada Train EFGH sebagian C4 cair tidak dikirim ke unit splitter, tetapi ke Butane Return
Subcooler (3E-13) untuk didinginkan dengan LP Propana hingga mencapai -34oC. Butana dingin
dari Train EFGH sebagian akan dikirim ke 3C-2 melewati 4E-14 untuk menjaga ketinggian
cairan di 3C-2 dan sebagian akan langsung dikirim ke Plant-17 sebagai LPG Butana.
Bottom product yang terbentuk di 3C-8 sebagian akan didihkan kembali di 3E-8 dengan
media pemanas LP steam, dan sebagian akan langsung keluar sebagai bottom product 3C-8.
Bottom product 3C-8 sebagian dikirim ke Stabilizer Condensate Plant-16 tanpa didinginkan, dan
sebagian lagi didinginkan di Bottom Cooler (3E-10) untuk selanjutnya dikirim ke Plant-20. Uap
yang terbentuk di 3E-8 akan dikembalikan ke 3C-8, sedangkan cairan yang terbentuk di 3E-9
akan digabungkan dengan aliran bottom product 3C-8.
Sementara itu, cairan dari dasar Kolom 3C-8 dapat dikirimkan melalui dua aliran yang
terpisah. Pada aliran yang pertama, cairan dipompakan dengan 3G-11A/B ke Plant-16 Stabilizer
Condensate tanpa didinginkan terlebih dahulu. Sedangkan pada aliran lainnya, cairan
didinginkan dulu di Bottom Cooler 3E-10 untuk selanjutnya dikirim ke Plant-20 Liquid Fuel
Tank dengan memanfaatkan beda tekan tanpa menggunakan Pompa 36G-11A/B.
Splitter unit pada Train ABCD berfungsi untuk memurnikan produk butana agar sesuai
dengan kualitas ekspor. Prinsip pengoperasian splitter unit ini sama dengan unit fraksionasi,
yaitu berdasarkan perbedaan kemudahan menguap. Splitter unit ini hanya ada pada Train ABCD
karena pemisahan propana dan butana yang kurang begitu baik. Pada Train EFGH, kemurnian
C4 pada top product 3C-8 sudah memenuhi spesifikasi LPG (kandungan C4 di atas 98%)
sehingga splitter tidak digunakan.
Produk dari 3C-9 Debutanizer Column Condensate Drum dimasukkan ke Splitter (3C-14)
di atas tray ke-27. Uap yang keluar dari puncak kolom didinginkan oleh 3E-19 (Fin-Fan Cooler)
kemudian uap ini masuk ke Refluks Drum 3C-15. Pada Refluks Drum 3C-15, sebagian dari
propana cair yang terkondensasi dikembalikan sebagai refluks ke 3C-14 dan sebagian lainnya,
bersama hasil propana dari 3C-6 akan dikirim ke storage, refrigeration unit dan ke Depropanizer
Column Condensate Drum 3C-7.
Pemisahan propana dari butana dibantu oleh Reboiler 3E-18. Produk bawah reboiler
digunakan untuk memanaskan umpan yang masuk ke bagian bawah splitter. Sebagian cairan dari
3E-18 ini dikembalikan lagi ke splitter, sedangkan sebagian lainnya didinginkan lagi oleh Fin-
Fan Cooler 3E-21 sampai 35°C lalu dikirim ke storage, refrigeration unit, dan Butane Return
Subcooler 3E-13.

 Plant-4: Proses Refrigerasi ( Refrigeration )


Sistem pendinginan yang dilakukan PT Badak NGL merupakan sistem pendinginan
bertingkat (cascade). Terdapat dua jenis refrigerant yang digunakan, yaitu propana dan MCR
(Multi Component Refrigerant). Propana digunakan untuk mendinginkan gas umpan selama
proses pemurnian dan fraksionasi, serta untuk mendinginkan MCR. Sedangkan MCR baru mulai
digunakan sebagai pendingin pada proses pencairan gas alam pada Main Heat Exchanger 5E-1.
Selain itu, terdapat pula proses pendinginan MCR yang dilakukan oleh MCR itu sendiri.
1. Sistem Refrigerasi dengan Propana
Sistem refrigerasi dengan propana digunakan untuk mendinginkan feed gas alam dan
media pendingin MCR (Mixed Component Refrigerant). Sistem ini memiliki beberapa fungsi
utama sebagai berikut:
a. Mendinginkan feed gas alam yang telah bebas CO2. Akibat pendinginan ini, air dan
hidrokarbon berat terkondensasi dan terpisah.
b. Mendinginkan feed gas alam yang telah bebas CO2 (karbon dioksida) dan kering pada
evaporator. Karena pendinginan ini, fraksi etana, propana, butana, dan hidrokarbon berat
yang terdapat dalam feed gas alam akan terkondensasi.
c. Mendinginkan dan mengkondensasikan sebagian dari MCR.
d. Mendinginkan produksi LPG Propana dan LPG Butana dan mengkondensasi etana.
Sistem refrigerasi yang terjadi pada propana seperti umumnya sistem refrigerasi dengan
siklus tertutup, proses pencairan dan pendinginan aliran proses seperti feed gas alam dan
refrigeran MCR dilakukan di evaporator. Cairan propana yang digunakan sebagai media
pendingin mengalami proses evaporasi atau perubahan dari fasa uap dengan mengambil panas
dari aliran proses dan selanjutnya uap tersebut mengalir untuk kemudian dilakukan kompresi
dengan kompresor propana yang kemudian didinginkan dan dikondensasikan menggunakan
pendingin air laut. Cairan propana hasil kondensasi kemudian didistribusikan ke evaporator-
evaporator dan selanjutnya proses-proses penguapan propana, kompresi, pendinginan serta
pengkondensasi propana berlangsung terus-menerus di dalam sistem aliran tertutup.
Pada sistem pendingin propana terdapat tiga tingkat pendinginan, yaitu:
a. High Pressure Propane (HP Propane)
Pendingin ini adalah propana cair jenuh bertekanan 7 kg/cm2a yang dapat mendinginkan
hingga suhu 18oC.
b. Medium Pressure Propane (MP Propane)
Pendingin ini adalah propana cair jenuh bertekanan 3,1 kg/cm2a yang dapat mendinginkan
hingga suhu -5oC.
c. Low Pressure Propane (LP Propane)
Pendingin ini adalah propana cair jenuh bertekanan 1,1 kg/cm2a yang dapat mendinginkan
sampai suhu -34oC.
Propana cair dari kompresor dan make up propana dikumpulkan di Propane Accumulator
4C-1. Propana yang berasal dari Propane Accumulator 4C-1 akan didistribusikan menjadi empat
aliran, yaitu:
a. Aliran yang menuju High Level Propane Flash Drum 4C-2.
b. Aliran yang menuju Feed High Level Propane Evaporator 4E-10.
c. Aliran yang menuju MCR High Level Propane Evaporator 4E-7.
d. Aliran sirkulasi ke Propane Vent Condenser 4E-3, Propane Vent Scrubber 4C-6, dan
dikembalikan kembali ke Propane Accumulator Drum 4C-1.

Uap propana dari 4E-7 dan 4E-10 dialirkan ke Kolom 4C-2 Propane Flash Drum. Dari 4C-
2 ini, uap propana dialirkan ke Kolom 4C-12 untuk diumpankan pada suction tahap ketiga pada
Kompresor 4K-1. Propana cair dihasilkan dari 4C-2 kemudian dialirkan menjadi 2 aliran, yaitu
aliran yang menuju Feed Medium Level Propane Evaporator 4E-12 dan aliran yang menuju
MCR Medium Level Propane Evaporator 4E-8. Pada aliran propana di Feed Medium Level
Propane Evaporator 4E-12, sebagian cairan diuapkan secara mendadak dan dapat dimanfaatkan
untuk mendinginkan gas hasil pengolahan pada Plant-2. Uap propana yang terbentuk kemudian
dialirkan ke Medium Level Propane Flash Drum 4C-3 lalu memasuki suction tahap kedua dari
Kompresor 4K-1. Akibat dilakukannya kompresi ini maka uap propana akan mencair. Cairannya
ini lalu dialirkan dan kemudian diuapkan secara mendadak di beberapa tempat, yaitu Feed Low
Level Propane Evaporator 4E-13 untuk mendinginkan kembali gas dari Plant-2 yang telah
didinginkan di 4E-12, di Scrub Column Overhead Condensor 4E-14 untuk mengkondensasi
produk atas 3C-1, dan di Deethanizer Condensor 3E-5, Propane Return Subcooler 3E-12,
Butane Return Subcooler 3E-13, ketiganya melalui Propane Refrigerant Drum 3C-10 untuk
pendinginan di unit fraksinasi.
Uap yang dihasilkan dari 4E-13 dan 4E-14 akan masuk ke Kolom 4C-4 kemudian masuk
ke suction tahap pertama pada Kompresor 4K-1. Sedangkan uap dari 3E-5, 3E-12 dan 3E-13
dikumpulkan kembali di 3C-10 sebelum dialirkan ke Kolom 4C-4.
Propana cair yang dihasilkan dari 4C-2 selain dialirkan ke Feed Medium Level Propane
Evaporator 4E-12 juga akan dialirkan menuju MCR Medium Level Propane Evaporator 4E-8.
Pada bagian ini, sebagian cairan diuapkan pada tekanan 2,9 kg/cm2(a) untuk mendinginkan
MCR. Dari 4E-8, uap propana dialirkan ke Kolom 4C-3 untuk dikompresi di 4K-1 pada tahap
kedua, sedangkan cairannya dialirkan melalui Level Control untuk diuapkan mendadak pada
tekanan 0,12 kg/cm2(a) di MR Level Propane Evaporator 4E-9 untuk mendinginkan lebih lanjut
MCR dari 4E-8. Uap propana dari 4E-9 dialirkan ke Kolom 4C-4 untuk dikompresi di 4K-1
tahap pertama. Sistem Refrigerasi dengan MCR (Mixed Component Refrigerant)
Dalam proses ini, MCR yang telah didinginkan oleh propana selanjutnya digunakan
untuk mendinginkan lebih lanjut feed gas alam yang telah didinginkan terlebih dahulu dengan
propana. Pada unit Main Heat Rxchanger 5E-1, MCR mendinginkan dirinya sendiri. Komposisi
MCR terdiri dari nitrogen (2-5%), metana (40- 46%), etana (45-50 %), dan propana (2-6 %).
Nitrogen digunakan sebagai salah satu komponen pendingin karena memiliki titik didih yang
paling rendah dibandingkan dengan komponen hidrokarbon. Namun, nitrogen saja tidak cukup
digunakan sebagai pendingin karena nitrogen memiliki kapasitas panas yang rendah, sedangkan
proses pendinginan ini membutuhkan kapasitas yang besar agar terjadi perpindahan panas yang
cukup untuk mencairkan gas alam sehingga ditambahkan pula hidrokarbon.
Uap MCR yang masuk di 4C-7 ini merupakan uap hasil pendinginan gas alam di 5E-1.
Uap MCR berada dalam tekanan 3,5 kg/cm2-a dan temperatur -40oC. Uap MCR kemudian
dikompresi di Kompresor MCR 4K-2 hingga mencapai tekanan 14 kg/cm2-a dan temperatur
71oC. Kompresor ini disebut pula 1st Stage Suction Compressor pada sistem refrigerasi MCR.
Aliran MCR ini kemudian didinginkan dengan air laut dalam MCR Compressor Intercooler 4E-5
sampai suhu 37oC dan kemudian akan masuk ke kompresor tahap kedua 4K-3. MCR keluar dari
kompresor tahap kedua pada temperatur 130°C dan tekanan 47 kg/cm2 dan kemudian akan
didinginkan oleh MCR Compressor Aftercooler dengan menggunakan pendingin air laut
sehingga temperaturnya 37°C. MCR kemudian mengalir ke High Level Propane Evaporator 4E-
7, dilanjutkan ke Medium Level Propane Evaporator 4E-8 sehingga keluar pada temperatur -5oC.
Dari sini, MCR akan masuk ke High Level Propane Evaporator 4E-9 dan keluar pada temperatur
-32°C. MCR ini kemudian dialirkan ke separator 5C-1 untuk memisahkan uap dengan cairan
yang terkondensasi. Fase cair lebih banyak mengandung etana dan propana, sedangkan pada fase
gas banyak mengandung nitrogen dan metana.
Gambar Error! No text of specified style in document..6 Diagram Alir Siklus Refrigerasi MCR
[Sumber: Data Departemen Operasi PT Badak NGL]

Saat MCR memasuki Kolom 5E-1, MCR akan didinginkan oleh MCR yang sudah
terlebih dahulu melalui proses ekspansi pada JT valve. Uap MCR hasil pendinginan gas alam
berada pada tekanan 3,5 kg/cm2-a dan temperatur -40oC. Uap ini kemudian dialirkan kembali ke
4C-7 dan proses berikutnya terjadi secara siklik.

 Plant-5: Proses Pencairan Gas Alam ( Liquefaction )


Proses final dari keseluruhan tahapan proses adalah pencairan gas alam yang terjadi di dalam
Main Heat Exchanger (5E-1). Gas alam telah sebelumnya didinginkan dengan refrigerant
propana dan mencapai temperatur -34oC. Umpan 5E-1 adalah produk atas Scrub Column 3C-1
pada tekanan 36 kg/cm2-g dan masuk melalui bagian bawah kolom. Sebagai refrigerant, MCR
akan masuk dalam dua fasa. Fase cair lebih banyak mengandung etana dan propana, sedangkan
pada fase gas banyak mengandung nitrogen dan metana. Perbandingan jumlah MCR dengan gas
alam yang akan dicairkan adalah 3:2.
MCR dialirkan dari Evaporator 4E-9 menuju Kolom 5C-1 (MCR High Pressure Separator).
Kolom ini bertekanan 46 kg/cm2g berfungsi untuk memisahkan MCR menjadi dua fasa, yaitu
fasa gas dan fasa cair. Fasa gas sebagian besar terdiri dari N2 dan C1 sementara fasa cair sebagian
besar terdiri dari C2 dan C3. Fasa gas dan fasa cair MCR masuk pada bagian bawah 5E-1 dalam
tube yang berbeda sebagai medium pendingin feed gas alam. Feed gas alam dari 3C-2 masuk ke
5E-1 (Main Heat Exhanger) pada bagian bawah pada sisi tube pada temperatur sekitar -36,5oC
dengan tekanan 38 kg/cm2g.
Kolom pendingin 5E-1 merupakan suatu Spiral Wound Heat Exchanger yang terdiri dari
dua bagian, yaitu warm bundle pada bagian bawah dan cold bundle pada bagian atas. Pada warm
bundle, ketiga aliran masuk (MCR uap, MCR cair, dan feed gas alam) dialirkan ke atas. Pada
akhir warm bundle, MCR cair dialirkan melalui Joule-Thomson Valve 5FV-2 sehingga
tekanannya turun menjadi 2,5 kg/cm2g dengan suhu -129oC. Kemudian MCR cair ini ditampung
pada warm end pressure phase separator yang diletakkan di antara warm bundle MCR
bertekanan rendah ini dan didistribusikan pada bagian atas warm bundle berupa spray yang
bergerak turun ke dasar kolom melalui shell warm bundle dan bergabung dengan MCR uap yang
datang dari shell cold bundle. MCR cair dalam shell warm bundle ini berkontak dengan tiga
aliran yang masuk sehingga temperatur MCR uap, MCR air, dan feed gas alam dapat diturunkan
sampai mendekati titik embunnya.
Pada bagian cold bundle, MCR uap dan feed gas alam dari warm bundle yang mulai
terkondensasi didinginkan lebih lanjut. Di puncak cold bundle, MCR yang telah cair kembali
diekspansi melalui valve Joule-Thompson 5FV-2. MCR cair ini akan dilewatkan pada suhu -
151oC. MCR ditampung pada Low Pressure Separator dan didistribusikan di bagian shell cold
bundle untuk mendinginkan MCR uap dan feed gas alam dalam tube. Feed gas alam yang
meninggalkan puncak Main Heat Exchanger berada dalam keadaan cair pada suhu sekitar -
149oC dengan tekanan 24 kg/cm2g. LNG kemudian dimasukkan ke dalam kolom 5C-2 (LNG
Flash Drum), diturunkan tekanannya menjadi 0,25 kg/cm2(abs) dengan temperatur -160oC. LNG
kemudian dipompa ke LNG Storage.
Pada 5C-2, terdapat sedikit LNG yang menguap akibat penurunan tekanan, uap yang
terbentuk kemudian dilewatkan ke LNG Flash Exchanger (5E-2) untuk mencairkan sedikit feed
gas alam. Pada Train Process E sampai dengan proses Train H, uap 5C-2 juga digunakan untuk
mendinginkan LPG propana di 5E-2 hingga temperaturnya -45oC untuk langsung dikirim ke
Plant-17 sebagai refrigerated LPG. Uap LNG yang menjadi panas masuk ke Fuel Gas
Compressor Suction (2K-1) untuk dipanaskan kembali di 2E-2 dan dimanfaatkan sebagai bahan
bakar boiler.
Uap MCR yang ada dalam shell Main Heat Exchanger keluar pada bagian bawah dan
masuk ke kolom 4C-7 (MCR First Stage Suction Drum), lalu uapnya masuk ke kompresor 4K-2
(MCR First Stage Compressor) dengan tekanan suction 2,1 kg/cm2(gauge) dan keluar dengan
tekanan 14 kg/cm2(a). Keluaran MCR didinginkan pada pendingin 4E-5A/B (Compressor
Intercooler) dengan pendingin air laut selanjutnya masuk ke kolom 4C-8 (MCR Second Stage
Suction Drum). Uap MCR dihisap oleh kompresor 4K-3 (MCR Second Stage Compressor) dan
keluar dengan tekanan 50 kg/cm2(a). Keluaran ini didinginkan lagi pada 4E-6 (MCR Compressor
Aftercooler) dan didinginkan lebih lanjut dalam evaporator propana secara berturut-turut pada
4E-7 (MCR High Level Propane Evaporator) dan 4E-9 (MCR Low Level Propane Evaporator),
kemudian masuk ke kolom 5C-1 untuk kembali mendinginkan feed gas alam di Main Heat
Exchanger 5E-1.

Gambar Error! No text of specified style in document..7 Diagram Alir Siklus Pencairan Gas Alam Plant-5
[Sumber: Data Departemen Operasi PT Badak NGL]