Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Leptospirosis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, khususnya di


negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis serta memiliki curah hujan yang tinggi.
Leptospirosis termasuk salah satu Neglected Tropical Diseases (NTDs) yang mendapatkan
perhatian serius oleh WHO karena memiliki dampak kesehatan yang cukup signifikan di
negara-negara tropis seperti di wilayah Amerika dan Asia (WHO, 2014). Disebutkan dalam
WHO (2009) bahwa kasus leptospirosis sering tidak terlaporkan karena memiliki gejala klinis
yang tidak spesifik dan seringkali terjadi differential diagnosis. Jika Leptospirosis tidak
ditangani dengan cepat, maka akan menyebabkan kematian pada penderitanya karena bakteri
Leptospira akan menyerang hati, ginjal dan otak (Erviana, 2014).
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang endemis pada masyarakat miskin atau
populasi petani dan pekerja yang berhubungan dengan air dan tanah di negera berkembang.
Kenyataannya saat ini penyakit leptospirosis bisa menjangkiti semua lapisan masyarakat.
Leptospira bisa terdapat pada binatang peliharaan seperti kucing, anjing, sapi, babi, kerbau,
maupun binatang liar seperti tikus, musang dan tupai. Di dalam tubuh hewan, Leptospira
hidup di ginjal dan air kemihnya. Penularan leptospirosis dari manusia ke manusia sangat
jarang terjadi. Penularan yang sering terjadi yaitu melalui hewan tikus (Pertiwi, 2014).
Erviana (2014) menyebutkan bahwa leptospirosis tersebar di seluruh dunia, dengan
insiden yang lebih tinggi di daerah beriklim tropis, terutama setelah hujan deras atau banjir
akibat badai. Kejadian Leptospirosis untuk negara subtropis berkisar antara 0,1 - 1 kejadian
tiap 100.000 penduduk per tahun, sedangkan di negara tropis berkisar antara 10–100 kejadian
tiap 100.000 penduduk per tahun. Leptospirosis memiliki insiden yang tinggi di kawasan Asia
Pasifik, Asia Tenggara, dan Oceania.
Indonesia sebagai negara tropis merupakan negara dengan kejadian Leptospirosis yang
tinggi serta menduduki peringkat ketiga di dunia dibawah China dan India untuk mortalitas
(Buku Saku Kesehatan 2011 Prov.Jateng). Leptospirosis termasuk dalam re-emerging disease
yang mampu muncul secara sporadis dan bisa memicu terjadinya Kejadian Luar Biasa
(Widarso, 2008).
Dalam Yuniasy’ari (2014) disebutkan bahwa berdasarkan data dari Kemenkes RI
(2014), tercatat kejadian leptospirosis di Indonesia tahun 2011 sebanyak 857 kasus dan 82
orang meninggal (CFR 9,57%), tahun 2012 terdapat 239 kasus dan 29 orang meninggal (CFR
12,13%), tahun 2013 terdapat 641 kasus dan 60 orang meninggal (CFR 9,36%). Firdaus
(2016) menyebutkan bahwa pada tahun 2005-2011 kasus leptospirosis di Indonesia tersebar di
DKI Jakarta, Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Demak, Purworejo, Klaten, Semarang,
Pati), DIY, Jawa Timur (Ponorogo, Gresik, Malang), Bengkulu (Kaur), Kep.Riau (Tanjung
Uban) dan Sulawesi Selatan (Makassar, Gowa, Maros, Pinrang). Data Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Tengah (2014) menyebutkan kasus dan kematian leptospirosis di Jawa Tengah
tahun 2011 sebanyak 184 kasus dan 33 orang meninggal (CFR 17,94%), tahun 2012 sebanyak

1
129 kasus dan 20 orang meninggal (CFR 15,50%), tahun 2013 sebanyak 156 kasus dan 17
orang meninggal (CFR 10,90%).
Leptospirosis adalah penyakit yang sangat berhubungan dengan lingkungan. Faktor
lingkungan sangat berperan dalam kejadian leptospirosis salah satunya adalah sanitasi rumah,
seperti keberadaan dan praktik pengelolaan sampah, bebas dari vektor penyakit dan tikus,
kepadatan hunian, pengelolaan limbah rumah tangga, kondisi lingkungan sekitar rumah serta
kondisi selokan (Hidayanti, 2014). Disebutkan dalam Firdaus (2016) bahwa leptospirosis
dapat terjadi sebagai resiko pekerjaan (occupational hazard) yang umumnya menyerang
petani, pekerja tambang, dokter hewan, peternak, peternak sapi perah, pekerja potong hewan,
nelayan, dan tentara.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hidayanti (2014), keberadaan sampah di
sekitar responden merupakan faktor risiko kejadian leptospirosis dengan OR =15. Hal tersebut
menunjukkan bahwa responden dengan keberadaan sampah yang buruk di sekitarnya
mempunyai risiko 15 kali lebih besar terkena leptospirosis dibandingkan dengan keberadaan
sampah yang baik. Untuk variabel keberadaan tikus menunjukkan OR = 13,44. Artinya
keberadaan tikus di rumah memiliki risiko 13,44 kali lebih besar terkena penyakit
leptospirosis daripada tidak adanya keberadaan tikus di rumah. Keberadaan tikus yang padat
ini meliputi keberadaan tikus di dalam dan sekitar rumah, serta keberadaan kotoran (tinja) dan
urin tikus di dalam dan sekitar rumah responden.
Penelitian dilakukan di Kabupaten Kebumen karena telah terjadi Kejadian Luar Biasa
(KLB) Leptospirosis di wilayah tersebut dengan angka kefatalan kasus atau CFR mencapai
17,39 (Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen, 2017). Berdasarkan data Dinas Kesehatan
Kabupaten Kebumen (2017), sejak 10 Februari 2017 ditemukan 47 kasus di 37 desa dengan
korban jiwa meninggal delapan orang. Dari delapan orang yang meninggal tersebut, enam
diantaranya terindikasi positif menderita leptospirosis dan dua lainnya suspek leptospirosis.
Seperti dikutip dalam Harian Suara Merdeka (2017), awal kemunculan epidemi leptospirosis
itu bermula dari ditemukannya pasien klinis Leptospirosis asal Banjarharjo, Kecamatan Ayah,
Kebumen pada 10 Februari 2017. Setelah itu terjadi peningkatan kasus secara signifikan
hingga minggu ketiga Maret 2017, terbanyak di Desa Sikayu Kecamatan Buayan dan Desa
Mangli Kecamatan Kuwarasan, masing-masing 8 kasus dan penderita mayoritas adalah petani
yang aktif bekerja di sawah.
Kejadian leptospirosis di kabupaten Kebumen tersebar di beberapa wilayah, tidak hanya
terjadi di satu wilayah saja. Oleh karena itu berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Keberadaan Tikus dan Tempat
Pembuangan Sampah dengan Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Kebumen”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: adakah hubungan antara keberadaan
tikus dan kondisi tempat pembuangan sampah dengan kejadian leptospirosis di kabupaten
Kebumen?

2
C. Tujuan Penelitian
a) Tujuan umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keberadaan tikus dan
kondisi tempat pembuangan sampah dengan kejadian leptospirosis
b) Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui hubungan antara keberadaan tikus dengan kejadian leptospirosis
2. Untuk mengetahui hubungan antara kondisi tempat pembuangan sampah dengan
kejadian leptospirosis

D. Manfaat Penelitian
a) Bagi masyarakat
Sebagai tambahan pengetahuan bagi masyarakat tentang faktor-faktor risiko penyebab
kejadian leptospirosis, sehingga masyarakat dapat melakukan upaya pencegahan dari awal.
b) Bagi instansi kesehatan
Sebagai informasi dan bahan masukan bagi instansi kesehatan dalam merencanakan
program kesehatan yang dapat menurunkan angka kesakitan penyakit leptospirosis.
c) Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Memperoleh masukan yang positif untuk di terapkan dalam penelitian selanjutnya.
d) Bagi Peneliti
Peneliti mendapatkan informasi tentang faktor-faktor risiko penyebab kejadian
leptospirosis.

E. Keaslian Penelitian
1. Pertiwi (2014) dengan judul “Faktor Lingkungan yang Berkaitan dengan Kejadian
Leptospirosis di Kabupaten Pati Jawa Tengah Tahun 2014”. Persamaan penelitian ini
terletak pada rancangan penelitian yakni case control study, variabel bebas yang diteliti
yakni kondisi tempat pengumpulan sampah dan keberadaan populasi tikus di alam dan
sekitar rumah, serta variabel terikat yang diteliti yakni kejadian leptospirosis. Perbedaan
penelitian terletak pada variabel bebas yang terbagi menjadi faktor lingkungan fisik dan
biologi. Lingkungan fisik terdiri dari keberadaan genangan air, keberadaan sampah di
dalam dan sekitar rumah, kondisi selokan dan riwayat banjir. Lingkungan biologi yakni
kepemilikan hewan piaraan sebagai hospes perantara.
2. Firdaus (2016) , dengan judul “Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan
Kejadian Leptospirosis di Wilayah Kerja Puskesmas Ngrayun Kabupaten Ponorogo”.
Persamaan penelitian ini terletak pada rancangan penelitian yang digunakan yakni case
sontrol study, dan variabel terikat yang diteliti yaitu kejadian leptospirosis. Sedangkan
perbedaan penelitian terletak pada variabel bebas yang diteliti yakni perilaku hidup bersih
dan sehat.

3
3. Hidayanti (2014), dengan penelitian berjudul “Hubungan Antara Kondisi Lingkungan
dengan Praktik Pencegahan dengan Kejadian Leptospirosis di Kota Semarang Tahun
2014”. Persamaan penelitian ini terletak pada rancangan penelitian yang digunakan yakni
case sontrol study, variabel bebas yang diteliti yaitu keberadaan sampah dan tikus, serta
variabel terikat yang diteliti yaitu kejadian leptospirosis. Sedangkan perbedaan penelitian
terletak pada variabel bebas lain yang diteliti yakni kepadatan hunian, kondisi selokan, dan
praktik pencegahan.
4. Suratman (2006), dengan penelitian berjudul “Analisis Faktor Risiko Lingkungan dan
Perilaku yang Berpengaruh terhadap Kejadian Leptospirosis Berat di Kota Semarang”.
Persamaan penelitian ini terletak pada rancangan penelitian yang digunakan yakni case
sontrol study. Perbedaan penelitian terletak pada variabel bebas yang diteliti yakni
lingkungan dan perilaku.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TELAAH PUSTAKA
1) Gambaran Umum Penyakit Leptospirosis
1. Pengertian
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang
berbentuk spiral dari genus Leptospira yang pathogen, menyerang hewan dan manusia.
Definisi penyakit (zoonosa) adalah penyakit yang secara alami dapat dipindahkan dari hewan
vertebrata ke manusia atau sebaliknya. Istilah umum leptospirosis lebih banyak digunakan
dibandingkan dengan nama serupa seperti penyakit Weil dan demam kanikola. Nama
Leptospirosis berasal dari bakteri penyebabnya yaitu Leptospira. Leptospira tersusun dari dua
kata yaitu lepto yang berarti tipis, sempit dan spiril yang berarti terpuntir, seperti sekrup
(Pertiwi, 2014).

2. Etiologi
Bakteri Leptospira sebagai penyebab Leptospirosis berbentuk spiral termasuk dalam
Ordo Spirochaetales dalam famili Leptospiraceae, genus Leptospira. Leptospira terdiri dari
kelompok Leptospira patogen yaitu L. interrogans dan Leptospira non patogen yaitu L.
biflexa (kelompok saprofit). Penentuan spesies Leptospira saat ini didasarkan pada hormologi
DNA. Dalam setiap kelompok, organisme menunjukkan variasi antigen yang stabil dan
memungkinkan mereka dikelompokkan dalam serotipe (serovar). Serotipe dengan antigen
yang umum dikelompokkan dalam serogrup (varietas) (Pertiwi, 2014).
Infeksi Leptospira dapat disebabkan satu atau lebih serovar sekaligus. Bentuk spiral
dengan pilinan yang rapat dan ujung-ujungnya yang bengkok seperti kait dari bakteri
Leptospira menyebabkan gerakan Leptospira sangat aktif, baik gerakan berputar sepanjang
sumbunya, maju mundur, maupun melengkung karena ukurannya yang sangat kecil. Bentuk
yang berpilin seperti spiral, tipis, lentur dengan panjang 10-20 mikron dan tebal 0,1 mikron
serta memiliki 2 lapis membran. Leptospira peka terhadap asam dan dapat hidup dalam air
tawar selama ± 1 bulan, tetapi dalam air laut, air selokan dan air kemih yang tidak diencerkan
akan cepat mati (Pertiwi, 2014).
Di negara subtropik, infeksi leptospira jarang ditemukan, iklim yang sesuai untuk
perkembangan leptospira adalah udara yang hangat, tanah yang basah dan pH alkalis.
Keadaan yang demikian dapat dijumpai di negara tropik sepanjang tahun (Priyanto, 2008).
Lingkungan optimal untuk hidup dan berkembang biaknya leptospira ialah suasana lembab,
suhu sekitar 25°C, serta pH mendekati netral (pH sekitar 7); merupakan keadaan yang selalu
dijumpai di negeri-negeri tropis sepanjang tahun, ataupun pada musim-musim panas dan
musim rontok di negeri-negeri beriklim sedang. Pada keadaan tersebut leptospira dapat tahan
hidup sampai berminggu-minggu (Suratman, 2006).

5
3. Cara Penularan
Penularan Leptospira pada manusia melalui kontak langsung seperti kontak dengan urin
hewan maupun kontak tidak langsung. Bakteri Leptospira masuk ke tubuh manusia dapat
melalui luka atau lecet pada kulit, melalui selaput lendir mulut, hidung dan mata, darah,
cairan ketuban, vagina, jaringan, tanah, vegetasi dan air yang terkontaminasi dengan urin
hewan yang terinfeksi (Erviana, 2014).
Leptospira bisa terdapat pada binatang peliharaan seperti anjing, sapi, babi, kerbau,
maupun binatang liar seperti tikus, musang, tupai dan sebagainya. Di dalam tubuh hewan-
hewan ini leptospira hidup di ginjal dan air kemih. Manusia terinfeksi bakteri leptospira
karena kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi oleh urin atau cairan tubuh lainnya
dari hewan yang terinfeksi bakteri leptospira (Priyanto, 2008).
Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air atau disebut juga
sebagai penyakit water born disease. Cara penularan Leptospirosis dapat ditularkan secara
langsung dan tidak langsung. Perbedaan penularan secara langsung dan tidak langsung dapat
dijelaskan sebagai berikut (Pertiwi, 2014):
a. Penularan langsung terjadi :
- Melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung bakteri Leptospira masuk ke
dalam tubuh pejamu.
- Dari hewan ke manusia merupakan penyakit akibat pekerjaan, terjadi pada orang yang
merawat hewan atau menangani tubuh hewan misalnya pekerja potong hewan, atau
seseorang yang tertular dari hewan peliharaan.
- Dari manusia ke manusia meskipun jarang, dapat terjadi melalui hubungan seksual,
plasenta ibu, dan air susu ibu. Urin dari pasien yang terinfeksi kemungkinan juga dapat
menginfeksi (Suratman, 2006).
b. Penularan tidak langsung :
Terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan barang-barang yang telah tercemar urin
penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah, makanan dan minuman.

4. Patofisiologi
Leptospira dapat masuk melalui luka di kulit atau menembus jaringan mukosa seperti
konjungtiva, nasofaring dan vagina. Setelah menembus kulit atau mukosa, organisme ini ikut
aliran darah dan menyebar keseluruh tubuh dan berkembangbiak, terutama di dalam hati,
ginjal dan kelenjar mamae serta selaput otak. Dengan adanya respon imunitas (humoral
maupun seluler), Leptospira akan menurun jumlahnya bahkan menghilang, namun Leptospira
dapat menetap di ginjal, sehingga menimbulkan nefritis. Leptospira dapat pula menetap di
otak, hati dan uterus serta mata. Pada beberapa tingkatan Leptospirosis, dapat ditemukan fase
leptospiremia, yang biasanya terjadi pada minggu pertama setelah infeksi.
Leptospira mengakibatkan kerusakan pada endotel kapiler yang dapat menyebabkan
Vasculitis, dimana sangat berperan pada penyakit ini. Pada leptospirosis berat, vasculitis
menyebabkan gangguan mikrosirkulasi dan meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga

6
dapat mengakibatkan keluarnya cairan karena pembuluh darah bocor serta mengakibatkan
penurunan jumlah cairan pembuluh darah. Sebagian besar Leptospira akan menginfeksi ginjal
dan hati. Leptospira di dalam ginjal akan menyebar ke jaringan interstisial dan jaringan
tubulus yang berakibat terjadinya nephritis interstinal dan nekrosis tubuler (Depkes RI, 2008).
Masa inkubasi antara 4-19 hari atau dengan rata-rata 10 hari. Kemudian bila manusia
yang terinfeksi Leptospira, maka Leptospira akan berkembang biak/memperbanyak diri dan
menyebar ke organ dan jaringan tubuh. Dengan dijumpainya Leptospira di dalam darah
disebut sebagai fase Leptospiremia atau fase pertama. Selama fase ini Leptospira dapat
diisolasi dari darah dan cairan cerebrospinal (cerebrospinal fluid =CSF) (Erviana, 2014).
Penurunan jumlah cairan di pembuluh darah yang erat hubungannya dengan dehidrasi
atau perubahan permeabilitas kapiler mendukung timbulnya gagal ginjal (renal failure). Pada
hati terjadi nekrosis sentrilobuler dan ditemukan proliferase sel kupfer. Pada paru-paru
didapatkan lesi vaskuler karena reaksi immunologi dan perdarahan lokal. Pada otot rangka
dapat dijumpai pembengkakan vakuolasi myobril dan nekrosis fokal. Kematian penderita
Leptospirosis terjadi karena septikemia, anemia hemilitika, kerusakan hati karena terjadinya
uremia. Keparahan penderita bervariasi tergantung pada umur serta serovar bakteri
Leptospira sp penyebab infeksi (Erviana, 2014).

5. Segitiga Epidemiologi
Menurut John Gordon, triangulasi epidemiologi penyebaran penyakit keseimbangannya
tergantung adanya interaksi tiga faktor dasar epidemiologi yaitu agent (penyebab penyakit),
host (manusia dan karakteristiknya) dan environment (lingkungan). Disebutkan dalam
Suratman (2006) bahwa ketiga faktor tersebut membentuk model leptospirosis angle sebagai
berikut :

Jika dalam keadaan seimbang antara ketiga faktor tersebut maka akan tercipta kondisi
sehat pada seseorang/masyarakat. Perubahan pada satu komponen akan mengubah
keseimbangan, sehingga akan mengakibatkan menaikkan atau menurunkan kejadian penyakit.
1. Faktor Agen (Agent Factor)
Seperti telah diuraikan sebelumnya penyebab penyakit Leptospirosis adalah bakteri
Leptospira dari kelompok Leptospira patogen yaitu Leptospira intterogans. Titik utama
dari epidemiologi Leptospirosis adalah urin dari tubulus ginjal binatang infektif yang
tersebar pada lingkungan (Djunaedi, 2007).

7
2. Faktor Pejamu (Host Factor)
Leptospirosis dapat menyerang pada manusia pada semua kelompok umur baik laki-laki
maupun perempuan (Pertiwi, 2014).
Notoatmodjo (1993) mengatakan perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu
fisik, psikis dan sosial yang secara terinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak
seperti: pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya yang ditentukan dan
dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keyakinan sarana fisik dan sosial budaya masyarakat.
3. Faktor Lingkungan (Environmental Factor)
Perubahan komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya kesehatan masyarakat
pada kejadian leptospirosis ini meliputi:
a. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik seperti keberadaan sungai yang membanjiri lingkungan sekitar
rumah, keberadaan parit/selokan yang airnya tergenang, keberadaan genangan air,
keberadaan sampah, keberadaan tempat pengumpulan sampah, jarak rumah dengan
sungai, jarak rumah dengan parit/selokan, jarak rumah dengan tempat pengumpulan
sampah, sumber air yang digunakan untuk mandi/mencuci.
b. Lingkungan Biologik
Lingkungan biologik seperti keberadaan tikus ataupun wirok di dalam dan sekitar
rumah, keberadaan hewan piaraan sebagai hospes perantara (kucing, anjing, kambing,
sapi, kerbau, babi).
c. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial seperti lama pendidikan, jenis pekerjaan, kondisi tempat bekerja,
ketersediaan pelayanan untuk pengumpulan limbah padat, ketersediaan sistem distribusi
air bersih dengan saluran perpipaan, ketersediaan sistem pembuangan air limbah dengan
saluran tertutup.
Faktor-faktor risiko terinfeksi bakteri leptospira, bila kontak langsung/terpajan air
dan rawa yang terkontaminasi yaitu:
- Kontak dengan air yang terkontaminasi bakteri leptospira/urin tikus, saat banjir
- Pekerja tukang perahu, rakit bambu, pemulung
- Mencuci atau mandi di sungai/danau
- Peternak, pemelihara hewan dan dokter hewan yang terpajan karena menangani
ternak/hewan, atau kontak dengan bahan lain seperti plasenta, cairan amnion dan
bila kontak dengan percikan infeksius saat hewan berkemih.
- Tukang kebun/pekerja di perkebunan.
- Petani tanpa alas kaki di sawah.
- Pekerja potong hewan, tukang daging yang terpajan saat memotong hewan.
- Pembersih selokan.
- Pekerja tambang.
- Pemancing ikan, pekerja tambak udang/ikan air tawar.
- Tentara, pemburu dan pendaki gunung, bila mengarungi permukaan air atau rawa.

8
- Anak-anak yang bermain di taman, genangan air hujan atau kubangan.
- Tempat rekreasi di air tawar: berenang, arum jeram dan olah raga air lain,
memasuki gua, mendaki gunung.
- Petugas laboratorium yang sedang memeriksa spesimen bakteri leptospira dan
zoonosis lainnya.

6. Gejala Klinis
Manifestasi klinis leptospirosis sangat bervariasi, mulai dai infeksi subklinik, demam
anikterik ringan seperti influenza sampai dengan yang berat dan berpotensi fatal yaitu
penyakit weil (weil’s disease atau weil’s syndrome). Karena variasi klinik penyakit ini luas,
maka penyakit ini biasanya mirip dengan infeksi dengue, malaria ringan atau berat, demam
typhoid, hepatitis virus, infeksi hantavirus, sepsis atau penyakit demam lainnya (Rusmini,
2011). Umumnya Leptospirosis mempunyai tiga fase klinis, yaitu fase leptospiremia, fase
imun dan fase penyembuhan.
a. Fase leptospiremia
Fase ini ditandai oleh adanya bakteri Leptospira sp di dalam darah dan cairan
serebrospinal. Pada fase ini timbul gejala demam tinggi, menggigil yang mendadak dan
disertai sakit kepala, rasa sakit dan nyeri pada otot terutama paha, betis dan pinggang yang
disertai nyeri tekan. Selain itu dapat pula terjadi mual dan muntah, penurunan kesadaran
serta mata menjadi merah. Pada kulit dapat dijumpai rash yang berbentuk makular,
makulopapular atau urtikaria. Pada pemeriksaan abdomen dapat dijumpai splenomegali,
hepatomegali dan limfadenopati. Fase ini berlangsung selama 4-6 hari, yang berakhir
dengan menghilangnya seluruh gejala tersebut secara sementara.
b. Fase imun
Fase ini berkaitan dengan munculnya antibodi IgM. Setelah relatif asimptomatik
selama 1-3 hari, maka gejala fase leptospiremia muncul kembali, disertai rasa sakit pada
leher, perut atau otot-otot kaki, kemudian terjadi perdarahan pada kulit. Nampak gejala
kerusakan ginjal dan hati,uremia, ikterik. Dapat pula terjadi meningitis aseptik, gangguan
mental, halusinasi dan psikosis.
c. Fase penyembuhan
Pada fase ini terjadi perbaikan klinik yang ditandai pulihnya kesadaran, hilangnya
ikterus, tekanan darah meningkat dan produksi urine membaik. Fase penyembuhan
biasanya terjadi pada minggu kedua sampai dengan minggu keempat, sedangkan
patogenesis fase ini masih belum diketahui, demam serta nyeri otot.asih dijumpai yang
kemudian berangsur – angsur hilang.
Adapun gejala klinis Leptospirosis adalah:
 Demam ringan atau tinggi, disertai menggigil yang bersifat remitten
 Sakit nyeri kepala, dapat berat atau ringan disertai nyeri retro-orbital.
 Badan lemah, anoreksia,mual, muntah serta diare.
 Kencing berkurang dan berwarna kecoklatan
 Adanya ruam makulopapular serta conjunctival suffusion.

9
 Adanya nyeri otot terutama di daerah punggung, paha serta nyeri tekan pada daerah
betis.
 Adanya limfadenopati, splenomegali serta hepatomegali.

7. Diagnosa
Langkah untuk menegakkan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan laboratorium. Pola klinis leptospirosis di berbagai rumah sakit tidak sama,
tergantung dari : jenis bakteri leptospirosis, kekebalan seseorang, kondisi lingkungan dan lain-
lain.
a. Anamnesis
Pada anamnesis identitas pasien, keluhan yang dirasakan dan data epidemiologis
penderita harus jelas karena berhubungan dengan lingkungan pasien. Identitas pasien
ditanyakan : nama, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, jenis pekerjaan dan jangan lupa
menanyakan hewan peliharaan maupun hewan liar dilingkungannya. Keluhan-keluahan
khas yang dapat ditemukan yaitu : demam mendadak, keadaan umum lemah tidak berdaya,
mual, muntah, nafsu makan menurun dan merasa mata semakin lama semakin bertambah
kuning dan sakit otot hebat terutama daerah betis dan paha.
b. Pemeriksaan fisik
Gejala klinis menonjol yaitu : ikterik, demam, mialgia, nyeri sendi serta conjungtival
suffusion. Conjungtival suffusion dan mialgia merupakan gejala klinik yang sering
ditemukan. Kelainan fisik lain yang ditemukan yaitu : hepatomegali, splenomegali, kaku
kuduk, rangsang meningeal, hipotensi, ronki paru dan adanya diatesisi hemoragi.
c. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium untuk leptospirosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan
laboratorium umum dan pemeriksaan laboratorium khusus. Keduanya dapat dibedakan
sebagai berikut :
1) Pemeriksaan laboratorium umum
Pemeriksaan laboratorium umum ini tidak terlalu spesifik untuk menentukan
diagnosis leptospirosis. Termasuk pemeriksaan laboratorium umum yaitu :
a. Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah rutin dijumpai leukosit, normal atau menurun, hitung
jenis leukosit, terdapat peningkatan jumlah netrofil. Leukosit dapat mencapai
26.000/mm3 pada keadaan anikterik dan mencapai 10.000/mm3 sampai 50.000/mm3
pada keadaan ikterik. Faktor pembekuan darah normal.
b. Pemeriksaan fungsi ginjal
Pada pemeriksaan urin, terdapat albuminuria dan peningkatan silinder pada fase
dini kemudian menghilang dengan cepat. Pada keadaan berat terdapat pula
bilirubinuria, yang dapat mencapai 1 g/hari dengan disertai piuria dan hematuria.
Gagal ginjal kemungkinan besar dialami semua pasien ikterik.
c. Pemeriksaan fungsi hati

10
Pada umumnya fungsi hati normal jika pasien tidak ada gejala ikterik. Ikterik
disebabkan karena bilirubin direk meningkat. Gangguan fungsi hati ditunjukkan
dengan meningkatnya serum transaminase (serum glutamic oxoloacetic
transaminase= SGOT dan serum glutamic pyruvate transminase = SGPT).
Peningkatannya tidak pasti, dapat tetap normal ataupun meningkat 2-3 kali nilai
normal.
2) Pemeriksaan laboratorium khusus
Pemeriksaan laboratorium khusus untuk mendeteksi keberadaan bakteri Leptospira
dapat secara langsung dengan mencari bakteri Leptospira atau antigennya dan secara
tidak langsung melalui pemeriksaan antibodi terhadap bakteri Leptospira dengan uji
serologis. Pemeriksaan langsung meliputi kultur, mikroskopis, inokulasi hewan,
(immuno) staining dan reaksi polimerase berantai. Pemeriksaan langsung dengan isolasi
bakteri Leptospira patogen merupakan diagnosis pasti leptospirosis. Sementara itu
interpretasi pemeriksaan tidak langsung harus dikorelasikan dengan gejala klinis dan
data epidemiologis seperti riwayat pajanan dan faktor risiko lain.
Pemeriksaan serologis yang sering digunakan yaitu dengan menggunakan
Microscopic Aglutination Test (MAT), ELISA ( Enzyme Linked Immuno Sorbent
Assay), dan Immuno Fluorescent Antibody Test. Pemeriksaan MAT dipergunakan
sebagai Gold Standard dalam pemeriksaan serologis karena mempunyai sensitivitas
tinggi (Erviana, 2014).

8. Cara Pemberantasan Leptospirosis


Cara-cara pemberantasan leptospirosis terdiri dari upaya pencegahan dan pengawasan
penderita seperti sebagai berikut (Pertiwi, 2014):
1. Upaya pencegahan :
a. Memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan penyakit ini.
Antara lain tidak berenang atau menyeberangi sungai yang airnya diduga tercemar oleh
leptospira, serta menggunakan alat-alat pelindung yang diperlukan apabila harus
bekerja pada perairan yang tercemar.
b. Melindungi para pekerja yang bekerja di daerah yang tercemar dengan perlindungan
secukupnya dengan menyediakan sepatu boot, sarung tangan dan apron.
c. Mengenali tanah dan air yang berpotensi terkontaminasi dan keringkan air tersebut jika
memungkinkan.
d. Memberantas hewan-hewan pengerat dari lingkungan pemukiman terutama di pedesaan
dan tempat-tempat rekreasi.
e. Memisahkan hewan pemeliharaan yang terinfeksi mencegah kontaminasi pada
lingkungan manusia, tempat kerja dan tempat rekreasi oleh urin hewan yang terinfeksi
f. Masyarakat agar membuat Chlorine diffuser, yaitu alat yang terbuat dari pipa yang
berguna untuk membubuhkan desinfektan (kaporit) yang diletakkan ke dalam badan air.

11
g. Imunisasi kepada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat mencegah tumbulnya
penyakit, tetapi tidak mencegah terjadinya infeksi Leptospira. Vaksin harus
mengandung strain domain dari Leptospira di daerah tersebut.
h. Imunisasi diberikan kepada orang yang karena pekerjaannya terpajan dengan Leptospira
jenis serovarian tertentu, hal ini dilakukan di Jepang, Cina, Itali, Prancis dan Israel.
i. Doxycyline telah terbukti efektif untuk mencegah Leptospirosis pada anggota militer
dengan memberikan dosis oral 200 mg seminggu sekali selama masa penularan di
Panama.
2. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
a. Melaporkan kepada instansi kesehatan setempat, pelaporan kasus diwajibkan di banyak
negara bagian Amerika Serikat dan negara lain di dunia
b. Isolasi dilakukan terhadap benda yang tercemar urin
c. Investigasi orang-orang yang kontak dan sumber infeksi diselidiki adanya hewan-hewan
yang terinfeksi dan air yang terkontaminasi.
d. Pengobatan spesifik dengan menggunakan penisilin, cephalosporin lincommycin dan
erythromycin menghambat pertumbuhan Leptospira invitro. Doxycyline dan penisilin G
terbukti efektif dalam percobaan “Double Blin Plasebo Controlled Trials”. Penisilin G
dan amoksisilin terbukti masih efektif walaupun di berikan dalam 7 hari sakit. Namun
pengobatan yang tepat dan sedini mungkin sangatlah penting.
3. Upaya pencegahan Leptospirosis untuk yang lainnya
a. Menghindari berenang di dalam air yang mungkin telah tercemari dengan urin binatang.
b. Menutupi luka dan lecet dengan pembalut kedap air terutama sebelum bersentuhan
dengan lumpur atau air yang mungkin di cemari air kencing binatang.
c. Memakai sepatu bila keluar terutama jika tanahnya basah atau berlumpur
d. Memakai sarung tangan bila berkebun.
e. Menghalau binatang pengerat dengan cara membersihkan atau menjauhkan sampah dan
makanan dari perumahan.
f. Cucilah tangan dengan sabun karena kuman Leptospira cepat mati oleh sabun, pembasmi
kuman.

2) Tikus dan Leptospirosis


Keberadaan tikus menjadi salah satu faktor risiko yang menyebabkan penyakit
leptospirosis, karena tikus merupakan reservoir dari penyakit leptospirosis. Semakin padat
keberadaan tikus, maka semakin besar pula faktor risiko terkena leptospirosis.
1. Peranan Tikus dalam menyebarkan bakteri Leptospira
Penyakit Leptospirosis ini merupakan salah satu penyakit yang dibawa dan disebarkan
oleh tikus. Bakteri Leptospirosis berkembang biak di tubuh tikus terutama di organ ginjal.
Infeksi bakteri Leptospira pada inang reservoir terpelihara secara alami dengan penularan
secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal, Leptospirosis ini akan diturunkan dari induk
ke anaknya. Sementara secara horizontal, penularan terjadi dari tikus ke manusia atau dari

12
tikus ke tikus. Sirkulasi penularan berlangsung terus menerus dan tanpa melibatkan inang
lain di suatu area geografi tertentu (natural-focus). Inang reservoir alami tersebut dapat
membawa strain bakteri Leptospira di ginjal dan mengkontaminasi air seninya dalam
periode waktu lama dan kadang-kadang sepanjang hidup inang. Beberapa strain bakteri
Leptospira telah beradaptasi dengan inang alaminya dan tidak menimbulkan kerugian
apapun bagi inang tersebut (Pertiwi, 2014).

2. Mengenal Tanda-tanda Kehidupan Tikus


Ada tidaknya kehidupan tikus disuatu tempat dapat diketahui dari (Gasem, 2002):
a. Kotoran tikus
Kotoran tikus dapat ditemui di sepanjang jalan tikus yang dilaluinya, tumpukan
barang dan lain-lain. Kotoran baru kelihatan mengkilap, lunak/basah dan warnanya
kehitam-hitaman. Kotoran lama keras dan kering, warnanya memudar/kelabu dan
hancur kalau ditekan. Kotoran Tikus R. norvegicus berbentuk gelondong dan biasanya
bergerombol.
Kotoran R.diardii bentuknya mirip sosis dan letaknya berpancar. Tiap jam tikus
selalu membuang kotorannya dan dalam waktu 24 jam jumlah kotoran tikus yang
dikeluarkan antara 25 –150 buah. Jumlah kotoran ini dapat digunakan sebagai petunjuk
kepadatan tikus disuatu tempat. Besar dan bentuk kotoran tikus dapat digunakan untuk
membedakan jenis species.
b. Bekas jalan
Tikus akan mempergunakan jalan yang sama dari tempat bersarang ketempat
mencari makanan dan sebaliknya. Karena tikus berjalan antara dinding dan lantai atau
antara pipa-pipa dan dinding maka jelas terlihat bekas jalan tersebut berminyak dan
bulu-bulu tikus yang menempel.
c. Bekas tapak kaki
Bekas tapak kaki akan jelas kelihatan pada tempat-tempat yang berdebu atau diatas
bekas tumpukan tepung. Ataupun pada tempat-tempat yang becek. Bekas tapak kaki
yang mencolok menunjukkan aktivitas tikus yang masih baru.
d. Bekas gigitan
Tikus bisa menggigit semua benda/barang. Bekas gigitan tersebut terlihat
berserakan disekitarnya. Gigitan tikus bertujuan membuat jalan/lubang, mengunyah dan
menggigit makanan dan mengasah gigi supaya tajam.
e. Lubang tikus
Lubang ini jelas pada dinding bangunan atau lantai di sekeliling bangunan suatu
tempat. Di luar bangunan lubang biasanya kita temukan di pematang sawah. Di dalam
tanah, di bawah tumbuh-tumbuhan dan di dalam semak belukar. Pada lubang yang
masih baru terlihat tanah yang baru disisihkannya.
f. Tanda-tanda lain

13
Untuk mengetahui adanya suatu kehidupan tikus di suatu tempat tentu saja apabila
dapat melihat langsung keberadaan tikus tersebut, bau tikus, bekas kencing, sarang dan
bekas makanan tikus yang berserakan.

3) Keberadaan Sampah dengan Leptospirosis


Keberadaan sampah dapat menyebabkan serta dapat memicu datangnya tikus untuk
mencari sisa-sisa makanan yang ada di tempat sampah. Keberadaan sampah yang baik adalah
memiliki tempat sampah di dalam dan disekitar rumah dengan kondisi tertutup rapat, terbuat
dari bahan yang tidak mudah dijangkau tikus dan kedap air. Baik atau buruknya keberadaan
sampah mempengaruhi terjadinya penularan leptospirosis. Tempat sampah yang terbuka dapat
mengundang vektor lain, seperti lalat, kecoa dan binatang lain yang dapat menyebarkan bibit
penyakit, salah satunya tikus. Tikus merupakan hewan yang dapat menularkan leptospirosis
(Hidayanti, 2014).

B. KERANGKA TEORI

Agent (penyebab) : Keberadaan tikus


bakteri Leptospira sebagai hewan
perantara

Komponen host
(penderita):
a. Umur
b. Jenis kelamin
Kejadian
c. Riwayat luka
leptospirosis
d. Tingkat pengetahuan
e. Jenis pekerjaan
f. Personal hygiene

Komponen lingkungan:
a. Keberadaan sungai, parit/selokan
dan SPAL
b. Kondisi tempat pembuangan
sampah
c. Jarak antara rumah dengan sungai
d. Keberadaan hewan piaraan
sebagai hospes perantara
e. Kondisi tempat bekerja
f. sumber air yang digunakan untuk
c. Lingkungan
mandi/mencuciSosial

Sumber : Modifikasi teori John Gordon dalam Erviana (2014).

14
C. KERANGKA KONSEP

Lingkungan:
- Keberadaan tikus Kejadian
- Kondisi tempat leptospirosis
pembuangan sampah

- Umur
- Riwayat kontak dengan
tikus/urin ikus
- Status ekonomi
- Jenis pekerjaan

Keterangan : -
: variabel yang diteliti
: variabel pengganggu

D. HIPOTESIS
Adakah hubungan antara keberadaan tikus dan kondisi tempat pembuangan sampah
dengan kejadian leptospirosis di kabupaten Kebumen?

15
BAB III
METODE

A. Rancangan penelitian
Penelitian ini termasuk observational research yaitu mengamati dan menganalisis
hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat melalui pengujian hipotesis yang
dirumuskan. Desain penelitian ini adalah Kasus Kontrol yaitu penelitian yang dimulai
dengan mengidentifikasi kelompok dengan penyakit (kasus) dan kelompok tanpa kasus
(kontrol), kemudian secara retrospektif (penelusuran ke belakang) diteliti faktor risiko yang
mungkin dapat menerangkan apakah kasus dan kontrol terkena paparan atau tidak
(Suratman,2006).

B. Lokasi dan Waktu


1. Lokasi
Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama bulan Agustus 2017.

C. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi dan sampel pada kelompok Kasus
a. Populasi kasus
Semua penderita leptospirosis yang datang ke pelayanan kesehatan di wilayah
kabupaten Kebumen, kemudian tercatat datanya di instansi kesehatan dan atau
pelayanan kesehatan (puskesmas) periode Januari-Agustus 2017. Datanya tercatat
secara klinis dan konfirmasi laboratoris menggunakan uji serologi penyaring hasilnya
positif menderita leptospirosis. Jadi pada penelitian ini yang merupakan populasi kasus
adalah semua yang memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut:
a.1) Kriteria inklusi kasus :
a. Menderita leptospirosis secara klinis dan konfirmasi laboratorik.
b. Semua golongan umur dan jenis kelamin.
c. Bertempat tinggal di wilayah tempat penelitian dilakukan.
d. Bersedia menjadi responden.
a.2) Kriteria eksklusi kasus :
a. Telah pindah rumah di luar wilayah tempat penelitian.
b. Subyek menolak berpartisipasi
c. Lingkungan atau rumah sudah mengalami perubahan setelah sakit
b. Sampel kasus
Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan terpilih untuk diteliti.
b.1) Perhitungan besar sampel dengan tingkat kepercayaan 95% (Zα=1,96) dan
kekuatan penelitian 80% (Zβ=0,842) serta berdasarkan nilai OR dan proporsi

16
paparan pada kelompok kontrol (P2) dari penelitian terdahulu adalah sebagai
berikut:

(𝑍𝛼 √2𝑃𝑄+𝑍𝛽 √𝑃1𝑄1+𝑃2𝑄2)2 𝑂𝑅 𝑥 𝑃2


𝑛1 = 𝑛2 = (𝑃1−𝑃2)2
𝑃1 = 𝑄2+(𝑂𝑅 𝑥 𝑃2)

Keterangan:
n1=n2 : Besar sampel untuk kasus dan kontrol
Zα : Tingkat kepercayaan (95%=1,96)
Zβ : Kekuatan penelitian (80%= 0,84)
P1 : Perkiraan proporsi efek pada kasus
P2 : Proporsi pada kelompok kontrol (dari penelitian terdahulu)
Q : 1–P
OR : diperoleh dari penelitian terdahulu

b.2) Cara pengambilan sampel kontrol :


Teknik pengambilan sampel pada kontrol dilakukan dengan mengambil data dari
rumah sakit dan atau Puskesmas di kabupaten Kebumen, dengan mengambil
keseluruhan jumlah pasien yang telah dilakukan pemeriksaan serologi hasilnya
positif leptospira. Kemudian dilakukan matching berdasarkan umur dan jenis
kelamin pasien.

2. Populasi dan sampel pada kelompok Kontrol


a. Populasi kontrol
Pasien yang tinggal di wilayah kabupaten Kebumen serta tidak pernah didiagnosis
secara klinis menderita leptospirosis ataupun merasakan gejala dan tidak terlihat tanda
khas dari leptospirosis yaitu demam > 38◦C, sakit kepala berat, nyeri otot daerah betis,
mata merah, kekuningan, dengan jenis kelamin sama dan umur hampir sama (± 5
tahun), dan sudah menetap tinggal di wilayah Kebumen minimal 1 tahun. Konfirmasi
ini diketahui melalui wawancara dengan responden mengenai gejala dan pengamatan
tanda leptospirosis serta adaya konfirmasi pemeriksaan menggunakan uji serologis
dengan hasil negatif.
a.1) Kriteria inklusi kontrol :
a. Tidak pernah didiagnosa secara klinis ataupun laboratoris dan pemeriksaan
menggunakan uji serologis menderita leptospirosis ataupun mengalami gejala
sakit yang mengarah kepada terkena Leptospirosis.
b. Bertempat tinggal di wilayah penelitian
c. Mempunyai umur yang hampir sama (± 5 tahun) dan jenis kelamin yang sama
dengan kasus
d. Bersedia menjadi responden

17
a.2) Kriteria eksklusi kontrol :
a. Telah pindah rumah di luar wilayah penelitian
b. Menolak berpartisipasi
c. Tidak berada di rumah
b. Sampel kontrol :
Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan terpilih untuk diteliti.
b.1) Ukuran sampel pada kontrol sama dengan ukuran sampel pada kasus.
b.2) Cara pengambilan sampel kontrol :
Teknik pengambilan sampel pada kontrol dilakukan dengan mengambil data dari
rumah sakit dan atau Puskesmas di kabupaten Kebumen, dengan mengambil
keseluruhan jumlah pasien kemudian dilakukan matching berdasarkan umur dan
jenis kelamin pasien yang telah dilakukan pemeriksaan serologi hasilnya negatif .

D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat–alat yang digunakan untuk pengumpulan data.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Kuisioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden utuk
dijawabnya (Sugiyono, 2008). Adapun kuesioner ini digunakan untuk memperoleh
jawaban yang akurat dari responden. Cara mengisisnya yaitu bisa diisi oleh responden
sendiri atau dibacakan oleh peneliti.
2. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak terbatas pada orang, tetapi
juga obyek-obyek alam yang lain (Sugiyono, 2008). Observasi dimaksudkan untuk
memberi gambaran keadaan lingkungan yang nyata pada peneliti dan sebagai sarana
untuk cross check dengan jawaban yang diberikan responden pada pengisian kuisioner.

E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, dan ukuran
yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian
tertentu (Pertiwi, 2014). Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini diantaranya:
a. Variabel Bebas (independent variable) adalah variabel yang menjadi sebab atau
berubahnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu keberadaan tikus
dan kondisi tempat pembuangan sampah di lingkungan sekitar responden.
b. Variabel terikat (dependent variable) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian
Leptospirosis.
c. Variabel Pengganggu (confounding variable ) adalah variabel yang berhubungan dengan
variabel bebas dan variabel terikat, tetapi bukan merupakan variabel antara. Variabel
pengganggu tidak diteliti, tetapi dikendalikan dengan cara restriksi/dihilangkan. Variabel-
18
variabel tersebut adalah umur, riwayat kontak dengan tikus/urin tikus, status ekonomi,
jenis pekerjaan.

F. Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Cara mengukur Skala Kriteria
Kejadian Penderita yang di rawat di Data dari Nominal Kriteria:
leptospiro rumah sakit yang medical dikotomi 1 = Sakit = bila uji
sis didiagnosis menderita record rumah serologi penyaring
Leptospirosis oleh dokter sakit dan atau positif, untuk
melalui pemeriksaan klinis puskesmas selanjutnya disebut
dan konfirmasi laboratorik kasus
menggunakan uji serologis 2 = Tidak sakit = bila
(Pertiwi, 2014). secara klinis tidak
menderita penyakit
Leptospirosis

Kondisi Ada tidaknya sampah Wawancara Nominal 1 = Buruk = bila


tempat (berserakan) di dalam dengan dikotomi kondisi tempat
pembuang rumah dan sekitar rumah responden dan pembuangan sampah
an yang dibatasi hanya observasi terbuka, sampah
sampah pekarangan milik berserakan, tergenang
responden yang menjadi jika terjadi hujan,
indikator keberadaan tikus 2 = Baik = Bila
dalam 2 minggu sebelum kondisinya tertutup,
menderita leptospirosis. mudah dibersihkan,
sampah tidak
berserakan, tidak
tergenang jika terjadi
hujan, luapan air tidak
menuju rumah
Keberada Ada tidaknya tikus di Wawancara Nominal Kriteria:
an tikus dalam rumah ditandai dengan dikotomi 1 = Ada =
dengan ada tidaknya lubang responden dan menemukan lubang
tikus, jejak tikus (kotoran observasi tikus / jejak tikus atau
tikus, bekas gigitan) atau melihat tikus dalam 14
melihat tikus lebih dari 2 hari sebelum sakit
ekor dalam 14 hari sebelum 2 = Tidak ada = tidak
sakit. menemukan lubang
tikus / jejak tikus atau
tidak melihat tikus
dalam 14 hari sebelum
sakit.

19
G. Sumber Data Penelitian
a. Data primer
Diperoleh dari kuisioner dan observasi di lapangan.
b. Data sekunder
Data yang diperoleh dari berbagai sumber yaitu dari Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, dan
sumber lain.

H. Pengumpulan Data
Kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini secara garis besar adalah sebagai
berikut (Suratman, 2006):
a. Tahap Persiapan
Meliputi berlatih cara melaksanakan pengukuran baik dengan kuisioner maupun dengan
observasi.
b. Tahap Pelaksanaan, meliputi:
1) Pemilihan subyek penelitian kelompok kasus yang memenuhi kriteria leptospirosis di
medical record rumah sakit dan puskesmas Klirong, Kebumen
2) Subyek penelitian yang terpilih kemudian dilakukan kunjungan rumah untuk
mendapatkan data penelitian termasuk mendapatkan data dari kontrol.
c. Tahap Penulisan
Dilaksanakan setelah data terkumpul kemudian dilakukan analisis data secara univariat
dan bivariat berdasar hubungan variabel-variabel yang diteliti.

I. Pengolahan dan Analisis Data


Data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti kemudian dianalisis dalam rangka
untuk memberikan arti yang berguna pada pemecahan masalah dalam penelitian ini. Adapun
tahapan-tahapannya menurut Suratman (2006) antara lain:
1. Pengolahan Data
Tahap pengolahan data:
a. Cleaning
Data yang telah dikumpulkan kemudian dilaksanakan cleaning data (pembersihan
data) yang berarti sebelum data dilakukan pengolahan, data dicek terlebih dahulu agar
tidak terdapat data yang tidak perlu.
b. Editing
Setelah data dikumpulkan kemudian dilakukan editing untuk mengecek kelengkapan
data, kesinambungan dan keseragaman data sehingga validitas data dapat terjamin.
c. Coding
Dilakukan untuk memudahkan dalam pengolahan termasuk dalam pemberian kode.
d. Scoring

20
Memberikan skor pada variabel yang akan dianalisis berdasarkan skor yaitu pemberian
skor 1 untuk index category (kategori indeks) dan skor 0 untuk referent category
(kategori pembanding).
e. Entry data
Memasukkan data dalam program komputer SPSS for Windows Release 10.0 untuk
proses analisis data.
2. Analisis Data
Data dianalisis dan diinterpretasikan dengan menguji hipotesis menggunakan program
komputer SPSS for Windows Release 10.0 dengan tahapan analisis sebagai berikut:
a) Analisis Univariat
Dilakukan pada masing-masing variabel untuk mengetahui proporsi dari masing-masing
kasus dan kontrol, ada/tidaknya perbedaan antara kedua kelompok penelitian.
b) Analisis Bivariat
Untuk mengetahui hubungan 2 variabel dengan menggunakan uji Chi Square dan
menghitung Odds Ratio (OR) berdasarkan tabel 2 x 2 pada tingkat kepercayaan 0,05
dan confidence interval 95% (α = 0,05).

21
DAFTAR PUSTAKA

Djunaedi, D., 2007, Kapita Selekta Penyakit Infeksi (Ehrlichiosis, Leptospirosis, Riketsiosis,
Antraks, Penyakit Pes). UMM Press.
Erviana, A., 2014, Studi Epidemiologi Kejadian Leptospirosis pada Saat Banjir di Kecamatan
Cengkareng Periode Januari-Februari 2014, FKIK UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Firdaus, 2016, Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Kejadian leptospirosis di
Wilayah Kerja Puskesmas Ngrayun Kabupaten Ponorogo, FK Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Gasem H. M., Gambaran Klinik dan Diagnosis Leptospirosis pada Manusia, Kumpulan
Makalah Simposium Leptospirosis, Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Harian Suara Merdeka (2017), Leptospirosis Akibatkan Delapan Orang Meninggal,
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/leptospirosis-akibatkan-delapan-orang-
meninggal/
Hidayanti, R., dkk, 2014, Hubungan antara Kondisi Lingkungan dengan Praktik Pencegahan
dengan Kejadian Leptospirosis di Kota Semarang tahun 2014, Fakultas Kesehatan
Universitas Dian Nuswantoro.
Pertiwi, B., & Maisyaroh, S., 2014, Faktor Lingkungan yang Berkaitan dengan Kejadian
Leptospirosis di Kabupaten Pati Jawa Tengah Tahun 2014.
Rusmini, 2011, Bahaya Leptospirosis (Penyakit Kencing Tikus) & Cara Pencegahannya, Penerbit
Gosyen Publishing, Yogyakarta.
Sugiyono, 2014, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.
Suratman, 2006, Analisis Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku yang Berpengaruh terhadap
Kejadian leptospirosis Berat di Kota Semarang ( Studi Kasus Leptospirosis yang
Dirawat di Rumah Sakit dr . Kariadi Semarang), Universitas Diponegoro, Semarang.
Widarso, et al, 2008, Pedoman Diagnosa dan Penataan Kasus Leptospirosis di Indonesia, Sub
Direktorat Zoonosis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan, Depkes RI.
Yuniasy’ari, Y., 2016, Analisis Spasial Faktor Lingkungan Kejadian Leptospirosis di
Kabupaten Boyolali tahun 2015, FIK Universitas Muhammadiyah Surakarta.

22