Anda di halaman 1dari 12

MODEL KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL KEPALA SEKOLAH

Husaini Usman
Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta
email: husainiusman@gmail.com

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model kepemimpinan instruksional kepala se-
kolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis multikasus. Instrumen penelitan
adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, ob-
servasi partisipasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah,
dan guru secara snowball. Informan kunci dalam penelitian ini adalah kepala sekolah. Objek penelitian
adalah pelaku, konsep, tempat, dan kegiatan. Langkah-langkah dan analisis data menggunakan model
Creswell (2014). Keabsahan data dilakukan dengan kriteria kredibilitas, transferabilitas, dependabili-
tas, dan konfirmabilitas. Pada penelitian ditemukan model kepemimpinan instruksional kepala sekolah
dengan siklus: pemahaman definisi kepemimpinan instruksional; tujuan dan manfaat kepemimpinan
instruksional; indikator kepemimpinan instruksional yang efektif; strategi kepemimpinan instruksio-
nal; carapraktis melaksanakan kepemimpinan instruksional.

Kata Kunci: kepemimpinan, instruksional, kepala sekolah

THE SCHOOL PRINCIPALS’ INSTRUCTIONAL LEADERSHIP MODEL

Abstract: This study was aimed to find a school principals’ instructional leadership model. This study
used the multicase qualitative approach. The instrument was the researcher himself. The data were
collected using the in-depth interviews, participant observation, and documentation. The subjects were
the school principals, vice principals, and teachers taken using the snowball sampling technique. The
key informants were the school principals. The object of the study was the persons, concept, places,
and activities. The stages and the data analysis used Creswell’s (2014) model. The data validation was
carried out using the credibility, transferability, dependability, and confirmability criteria. The findings
showed that the school principals’ instructional model followed the following cycle: an understanding
of the definition of instructional leadership, the objectives and benefits of instructional leadership, in-
dicators of effective instructional leadership, and practical ways of implementing the instructional
leadership.

Keywords: instructional, leadership, principal

PENDAHULUAN nindak bawahannya. Pemimpin adalah orang


Setiap manusia adalah pemimpin, mini- yang memimpin, memberdayakan guru dan te-
mal memimpin dirinya sendiri. Setiap pemimpin naga administrasi sekolah, mewakili sekolah,
diminta pertanggungjawaban atas kepemimpin- mengarahkan, memotivasi, dan menginspirasi
annya. Kepemimpinan (leadership) berasal dari bawahannya.
memimpin (lead). Kata lead berasal dari kata Kepemimpinan merupakan objek dan sub-
Anglo Saxon yang artinya jalur perjalanan ka- jek yang menarik dan tidak membosankan un-
pal yang mengarahkan pelaut. Kata leader digu- tuk dipelajari, diteliti, ditulis, didiskusikan, dan
nakan pada awal tahun 1300-an. Bush (2008:4) direfleksikan baik orang awam, akademisi, mau-
menyatakan bahwa pemimpin adalah orang yang pun praktisi karena aspek dinamis yang terkan-
menentukan tujuan-tujuan, memotivasi, dan me- dung di dalamnya. Kepemimpinan merupakan

322
323

urusan semua orang. Kepemimpinan dalam za- dakan atau perilaku; (6) bentuk membujuk; (7)
man yang terus berubah harus ditemukan, di- kekuatan hubungan; (8) instrumen mencapai tu-
interpretasikan, dan dihidupkan sesuai konteks juan; (9) suatu pengaruh interaksi; (10) suatu
ruang dan waktunya. Konteksnya adalah model perbedaan peran; dan (11) inisiasi struktur. De-
kepemimpinan Kepala SMK DIY dan waktunya finisi kepemimpinan menurut Stogdill tersebut
yaitu dari Januari sampai Desember 2014. merupakan definisi kepemimpinan yang paling
Seseorang dipilih menjadi pemimpin ka- komprehensif.
rena ia memiliki kelebihan tertentu di kelom- Definisi kepemimpinan menurut Bush
poknya dan mendapat kepercayaan dari bawah- (2008 & 2011) adalah tindakan memengaruhi
annya. Seseorang yang tidak dipercaya sulit orang lain untuk mencapai tujuan akhir yang
menjadi pemimpin. Pemimpin dipercaya bawa- diharapkan. Pendapat Bush mendapat dukungan
hannya karena kejujurannya. Pemimpin dapat Yukl (2010) yang menyatakan bahwa kepe-
bersifat formal dan nonformal. Pemimpin for- mimpinan adalah proses memengaruhi orang
mal ialah pemimpin yang diangkat dengan surat lain untuk memahami dan menyetujui kebutuh-
keputusan (SK). Pemimpin nonformal ialah pe- an yang harus dipenuhi dan cara melakukannya,
mimpin yang diangkat kelompoknya tanpa SK. serta proses memfasilitasi individu dan kelom-
Pemimpin nonformal dapat pula terjadi karena pok dalam mencapai tujuan bersama. Jika Yukl
seseorang mengangkat dirinya di saat keadaan menyatakan kepemimpinan memfasilitasi indi-
darurat atau genting. Pemimpin berbeda dengan vidu dan sosial, Northouse (2011) menyatakan
pimpinan. kepemimpinan adalah proses sosial yang terjadi
Pimpinan adalah posisi atau jabatan atau dalam kelompok yang terlibat dalam mancapai
orang yang memiliki kedudukan tertinggi dalam tujuan bersama dan kepemimpinan adalah sifat-
suatu organisasi. Pimpinan tertinggi di sekolah sifat, kemampuan, keterampilan, perilaku, dan
disebut kepala sekolah (principal atau head hubungan manusia. Pendapat Northouse terse-
master). Pimpinan berbeda dengan kepemim- but akhirnya dilengkapi oleh Bass & Bass
pinan (leadership). (2011) dan Hoy & Miskel (2013).
Kata leadership pertama kali muncul Bass & Bass (2011) mendefinisikan
pada tahun 1700-an. Sejak 1993, sudah terdapat kepemimpinan sebagai interaksi dua orang atau
221 definisi kepemimpinan yang ditulis di lebih dalam suatu kelompok terstruktur terha-
dalam 587 publikasi ilmiah. Pada tahun 2005, dap situasi persepsi dan harapan anggota. Hoy
Amazon.com telah mendaftar 18.299 buku ke- & Miskel (2013: 426) menyatakan, “We define
pemimpinan. Google Schoolar mendaftar 16.800 leadership broadly as a social process in which
buku kepemimpinan dan sekitar 386.000 kutip- an individual or a group influences behavior
an kepemimpinan (Bass & Bass, 2011). Kepe- toward a shared goal.” Kepemimpinan sekolah
mimpinan didefinisikan orang sesuai sudut pan- menurut Smith & Piele (2012), “The activity of
dang masing-masing. Meskipun sudah banyak mobilizing and empowering others to serve the
definisi kepemimpinan, tetapi tidak satupun me- academic and related needs of students with
muaskan semua orang. utmost skill and integrity.” Kepemimpinan se-
Pada tahun 1920-an, kepemimpinan di- kolah adalah kegiatan menggerakkan dan mem-
definisikan sebagai kemampuan memengaruhi berdayakan orang lain untuk memberikan pela-
bawahan agar menjadi taat, hormat, setia, dan yanan akademik sesuai dengan kebutuhan siswa,
mudah bekerja sama (Gill, 2009). Definisi ini termasuk keterampilan dan integritas siswa.
adalah definisi yang paling lama dan menjadi Dari sembilan definisi kepemimpinan tersebut,
dasar bagi definisi kepemimpinan berikutnya. dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan
Stogdill (1974) mendefinisikan kepemimpinan kepemimpinan adalah proses memengaruhi
sebagai: (1) titik fokus proses kelompok; (2) ke- orang lain untuk mencapai tujuan secara efektif
pribadian dan pengaruhnya; (3) seni agar bujuk- dan efisien. Kepemimpinan dapat ditinjau dari
an dipenuhi; (4) latihan memengaruhi; (5) tin-

Model Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah


324

kronologis perkembangan teorinya dan model- Leaders Licensure Consorsium (ISLLC) mene-
modelnya. kankan pentingnya kepemimpinan instruksional
Model menurut Silverman (2014:112), (Schleicher, 2012:23). Kepemimpinan pembela-
“An overall framework for looking at reality jaran (instructional leadership) disebut juga
(e.g. positism, constructionism). Model adalah education leadership, school leadership, visio-
perilaku kepala sekolah yang paling sering mun- nary leadership, teaching-learning leadership,
cul selama penelitian ini dilakukan. Sampai saat and supervision leadership (Huber, 2010).
ini, minimal terdapat 11 model kepemimpinan Berkenaan dengan pengertian kepemim-
pendidikan, yaitu: (1) manajerial; (2) partisipa- pinan instruksional, Heck & Hallinger (2010:
tif; (3) transformasional; (4) distributed; (5) tran- 656) menyatakan, “Conceptualize instructional
saksional; (6) post modern; (7) emosional; (8) leadership as ‘an organizational property’ aim-
kontingensi; (9) moral; (10) instruksional; dan ed at school improvement.” Kepemimpinan ins-
(11) kewirausahaan (Bush, 2011). Meskipun truksional menurut Bush (2011:17), “Instructio-
banyak model kepemimpinan ditemukan para nal leadership focusses on teaching and learn-
ahli kepemimpinan, tidak ada satupun model ing and on the behavior of teachers in working
kepemimpinan yang terbaik yang dapat diterap- with students. Leader’s influences is targeted at
kan dalam berbagai situasi karena setiap model students learning via teachers.” Kepemimpinan
memiliki kelebihan dan kelemahan masing-ma- instruktional menurut Whitehead, et al. (2013:
sing. 41) seperti berikut.
Pada kesempatan ini, sengaja dipilih mo-  Instructional leader: The principal was ex-
del kepemimpinan instruksional karena (1) rele- pected to serve as an instructional leader,
van dengan bidang keahlian peneliti; (2) seko- guiding teachers toward productive learning
lah merupakan tempat belajar, sebagai konse- experiences.
 Problem solver and resources provider. The
kuensi logisnya, maka kepemimpinan yang co-
principal was responsible to solve problems
cok, yaitu kepemimpinan instruksional; (3) ke-
and resources to facilates the teaching and
pemimpinan instruksional model SMK DIY be- learning process.
lum pernah diteliti; (4) kepemimpinan instruk-  A visionary leader. The principal was expec-
sional merupakan kepemimpinan kepala seko- ted to develop and communicate an image of
lah di masa yang akan datang (Whitehead, et al. the ideal school.
(2014); (5) kepemimpinan instruksional meru-  A change agent. The principal was expected
pakan komponen terpenting dalam meningkat- to facilate needed changes in educational
kan proses dan hasil belajar siswa (Hammond, operations to ensure effectiveness.
et al. 2010; Bush, 2011); (6) kepemimpinan ins-
truksional merupakan salah satu komponen pe- Haris (2014:10) meyatakan, “It seems
nilaian kinerja kepala sekolah; (7) kepemimpin- that instructional leadership is little more than
an instruksional merupakan kompetensi kepala a shorthand way of describing those leadership
yang paling rendah dan perlu ditingkatkan influences and practice within an organization
(Kompas, 19 Maret 2015 dan 8 Agustus 2015); that impact upon student achievement.” Pen-
(8) peran kepala sekolah abad 21 menurut Ano- dapat-pendapat para ahli tentang kepemimpinan
nim (2012:19), “The principal’s role has chang- instruksional pada hakikatnya terdapat persa-
ed from ‘bells, building, and buses’ to one of in- maan, yaitu fokus pada proses dan hasil belajar
structional leadership”; (9) Educational Lea- siswa melalui guru. Perbedaannya hanyalah ter-
dership Constituent Council (ELCC) yang ber- letak pada redaksionalnya saja. Berdasarkan
anggotakan 10 organisasi pendidikan nasional pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan
termasuk Amerika Serikat memiliki tujuh stan- bahwa kepemimpinan instruksional adalah ke-
dar kepala sekolah. Dari tujuh standar kepala pemimpinan yang fokus pada proses dan hasil
sekolah ternyata enam standar mengandung pe- belajar siswa melalui pemberdayaan guru se-
mimpin pendidikan; dan (10) Interstate School cara profesional. Hasil penelitian Hammond, et

Cakrawala Pendidikan, Oktober 2015, Th. XXXIV, No. 3


325

al. (2010) ditemukan bahwa terdapat dua cara data berupa angka sebagai pendukung data kua-
pemimpin memengaruhi hasil belajar siswa: (1) litatif.
melibatkan praktik kepemimpinan langsung me- Wawancara mendalam dilakukan dengan
mengaruhi pembelajaran; dan (2) melibatkan key informant. Catatan selama penelitian dise-
praktik kepemimpinan tidak langsung meme- but catatan lapangan. Setiap data yang diper-
ngaruhi pembelajaran. oleh dari satu informan dilakukan cross check
dengan informan yang lain sehingga data dan
METODE informasi yang didapat relatif objektif. Subjek
Penelitian ini menggunakan pendekatan bertambah terus seperti bola salju (snowball).
kualitatif dengan jenis multikasus. Jenis pene- Data dikumpulkan sampai tidak ada lagi per-
litian ini dipilih karena peneliti ingin mendapat- tanyaan baru atau data sudah jenuh (redundan-
kan model berdasarkan kasus yang terjadi di cy). Artinya, data sudah tidak dapat berubah lagi.
lapangan (Cresswell, 2014). Selanjutnya, pene- Jadi, jumlah sumber data ada sembilan orang.
liti menemukan model kepemimpinan instruk- Hasil wawancara terhadap key informan
sional dalam rangka meningkatkan proses dan kemudian dicek dengan menggunakan peng-
hasil belajar siswa. amatan langsung dan teknik dokumentasi. Tek-
Tempat penelitian adalah SMKN 2 Pe- nik dokumentasi dilakukan peneliti dengan cara
ngasih dan SMKN 2 Wonosari Daerah Istime- mengumpulkan bukti fisik yang tercetak, tere-
wa Yogyakarta. Kedua tempat tersebut dipilih kam, tercatat yang mendukung hasil wawancara
karena: (1) kedua SMK tersebut telah terbukti dan pengamatan langsung sehingga didapat data
tertinggi mutu pembelajaran di SMK DIY; (2) yang dapat objektif dan dapat dipertanggung-
kedua sekolah sudah terakreditasi A; (3) kedua jawabkan.
SMK merupakan sekolah favorite di DIY; (4) Teknik pemeriksaan atau pengujian pada
kedua Kepala SMK berprestasi tingkat kabupa- tingkat kepercayaan hasil sangat diperlukan un-
ten di DIY; (5) kedua Kepala SMK sudah per- tuk menentukan keabsahan data. Keabsahan da-
nah mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Im- ta dilakukan dengan kriteria: (1) kredibilitas; (2)
plementasi Kurikulum 2013 dan materi kepe- transferabilitas; (3) dependabilitas; dan (4) kom-
mimpinan instruksional merupakan salah satu firmabilitas atau kepastian (objektivitas).
topik yang dibimtekkan; dan (6) kedua Kepala Agar penelitian ini kredibel, tim peneliti
SMK sudah menerapkan hasil bimtek kepe- melakukan: (1) waktu yang digunakan dalam
mimpinan instrksional. Waktu penelitian dimu- penelitian harus relatif lama, yaitu sekitar satu
lai awal Januari sampai akhir Desember 2014 tahun; (2) pengamatan dilakukan secara terus-
ata 12 bulan efektif. Subjek penelitian ialah Ke- menerus, yaitu tim peneliti ke lapangan secara
pala SMKN yang sudah dapat membuktikan rutin setiap dua minggu sekali berkunjung ke
profesionalisme mereka. SMK Negeri 2 Pengasih dan SMKN 2 Wono-
Teknik pengumpulan data menggunakan sari untuk melakukan observasi, wawancara, dan
wawancara mendalam, kemudian di-cross check mencari dokumentasi yang relevan; (3) meng-
dengan observasi partisipatif dan dokumentasi. adakan triangulasi, yaitu mengecek jawaban ke-
Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri (hu- pala sekolah ke wakil kepala sekolah bidang
man instrument). Teknik sampel yang diguna- kurikulum dan salah satu guru yang dapat di-
kan snowball sampling, artinya responden ber- percaya; (4) mendiskusikan dengan teman se-
tambah terus dan tidak dapat ditetapkan jumlah profesi, yaitu tim mengadakan diskusi terhadap
sampai diperoleh data yang jenuh (redundancy). data yang didapat; (5) menganalisis kasus nega-
Data yang dikumpulkan mengacu pada perta- tif, yaitu mengecek kembali mengapa ada ja-
nyaan penelitian. waban responden yang bertentangan dengan
Jenis data yang dikumpulkan adalah data kepala sekolah sebagai key informan; (6) meng-
kualitatif berupa kata-kata dalam bentuk des- gunakan alat-alat bantu dalam mengumpulkan
kripsi, walaupun tidak menutup kemungkinan data yaitu menggunakan catatan lapangan (field

Model Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah


326

note, tustel, tape recorder); dan (7) mengguna- viewer-lah yang berhak memeriksa kebenaran
kan member check, yaitu mengecek informasi data serta penafsirannya.
ke anggota sekolah lainnya.. Konfirmabilitas adalah kriteria untuk me-
Transferabilitas terjadi apabila hasil pe- nilai kualitas hasil penelitian dengan perekaman
nelitian ini dapat diterapkan pada SMK lain pada pelacakan data dan informasi serta inter-
yang tidak menjadi tempat penelitian. Trans- pretasi yang didukung oleh materi yang ada
ferabilitas bergantung pada karakteristik tempat pada penelusuran atau pelacakan audit (audit
hasil penelitian ini akan diterapkan. Transfer- trail). Peneliti harus menyiapkan bahan-bahan
abilitas hanya terjadi jika karakteristik tempat yang diperlukan untuk memudahkan tim re-
menerapkan hasil penelitian relatif sama atau viewer melakukan penelusuran atau pelacakan
hampir sama dengan tempat penelitian ini. audit (audit trail). Adapun bahan-bahan yang
Depandabilitas adalah apabila hasil pe- harus disiapkan adalah: (1) data mentah; (2) ha-
nelitian memberikan hasil yang sama dengan sil analisis data; dan (3) hasil sintesa data, yaitu:
penelitian yang diuji pihak lain. Untuk dapat tafsiran, kesimpulan, tema, model, hubungan de-
membuat penelitian kualitatif memenuhi depan- ngan kepustakaan, dan laporan akhir. Analisis
dabilitas, proses penelitian kualitatif harus diau- data dalam penelitian ini dilakukan dengan mo-
dit oleh auditor independen agar dapat meme- del Cresswell (2014) seperti Gambar 1. Cara
nuhi kriteria dependabilitas dalam hal ini oleh pengkodean (coding) data menggunakan model
Tim Reviewer Program Pascasarjana. Tim re- MacMillan dengan langkah-langkah seperti
Gambar 2.

Intepreting the Meaning of the Themes/Descriptions

Intepreting Themes/Description (e.g.: Grounded


Theory, Case Study

Themes Descriptions

Validating the Accuracy of the Information Coding the Data (Hand or Computer)

Reading through All Data

Organizing and Preparing Data for Analysis

Raw Data (Transcript, Fieldnotes, Images, ect.

Gambar 1. Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif (Creswell, 2014:197)

Cakrawala Pendidikan, Oktober 2015, Th. XXXIV, No. 3


327

Gambar 2. Cara Pengkodean Data dan Kategorisasi (McMillan, 2013: 297)

HASIL DAN PEMBAHASAN agar dapat meningkatkan proses dan hasil bela-
Pengumpulan data melalui wawancara jar siswa. Hasil observasi langsung menunjuk-
mendalam berkali-kali dilakukan dengan Ke- kan bahwa kepala sekolah melakukan pendam-
pala SMKN 2 Pengasih dan hasilnya dicek de- pingan dengan terlebih dahulu melakukan so-
ngan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sialisasi pembuatan Rencana Pelaksanaan Pela-
dan salah seorang guru favorit di SMKN 2 jaran (RPP), memberi contoh cara membuat
Pengasih. Demikian pula kegiatan pengumpul- RPP yang baik, dan menugaskan setiap guru
an data yang sama dilakukan dengan Kepala membuat RPP. Hasil observasipartisipasi terha-
SMKN 2Wonosari dan hasilnya dicek dengan dap kepemimpinan insruksional Kepala SMKN
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan 2 Pengasih menunjukkan bahwa ada permintaan
salah seorang guru favorit di SMKN 2 Wono- kepala sekolah agar semua guru membuat RPP
sari sampai jawabannya jenuh (jawabannya sesuai dengan sosialisasi dan konsultasi dengan
relatif bermakna sama). Hasil wawancara dicek kepala sekolah. RPP yang telah dibuat guru, se-
dengan pengamatan langsung terhadap kegiatan lanjutnya diperiksa, dan yang belum baik dire-
Kepala SMKN 2 Pengasih dan Kepala SMKN 2 visi kembali oleh guru, sampai akhirnya ditan-
Wonosari dalam kegiatan kepemimpinan in- datangani kepala sekolah. RPP semua guru te-
struksional. Selain itu, juga dikonfirmasi lagi lah terdokumentasi dengan baik di dalam stop-
dengan dokumentasi tentang kepemimpinan in- map khusus RPP.
struksional yang ada di SMKN 2 Pengasih dan
SMKN 2 Wonosari. Pemahaman Kepala SMKN 2 Wonosari ter-
hadap Definisi Kepemimpinan Instruksional
Pemahaman Kepala SMKN 2 Pengasih ter- Hasil wawancara mendalam berulang ka-
hadap Definisi Kepemimpinan Instruksional li dengan Kepala SMKN 2 Wonosari dapat di-
Hasil wawancara mendalam berulang ka- simpulkan bahwa kepemimpinan pembelajaran
li dengan Kepala SMKN 2 Pengasih dapat di- adalah kepemimpinan yang fokus pada pelak-
simpulkan bahwa kepemimpinan instruksional sanaan kurikulum, pengembangan guru, proses
adalah pendampingan terlaksanaannya proses pembelajaran, evaluasi terhadap peningkatan
belajar mengajar yang meliputi kegiatan: peren- mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Ha-
canaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sil observasi partisipasi terhadap pelaksanaan

Model Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah


328

kepemimpinan instruksional menunjukkan bah- instruksional dengan para ahli tersebut hanyalah
wa Kepala SMKN 2 Wonosari meminta semua terletak pada redaksionalnya saja.
guru membuat RPP sesuai ketentuan yang ber- Kedua temuan definisi kepemimpinan ins-
laku, selanjutnya RPP tersebut diperiksa, dire- truksional mendukung penelitian Robertson &
visi guru, sampai mendapat persetujuan dan Timperley (2011:58) bahwa kepemimpinan ke-
tanda tangan kepala sekolah. Semua RPP guru pala sekolah memengaruhi prestasi belajar siswa
diarsipkan oleh Pelaksana Urusan Kurikulum melalui guru. Hasil penelitian Leitwood, et al.
dan Pembelajaran dalam bentuk soft ware (2004:18& 2010:14) menemukan bahwa kepe-
(gerti) dan hard ware (dicetak dan dijilid) yang mimpinan kepala sekolah berpengaruh tidak
ditempatkan pada tempat khusus arsip RPP. langsung terhadap hasil belajar siswa, tetapi me-
Persamaan kedua temuan definisi kepe- lalui guru. Temuan kedua definisi kepemimpin-
mimpinan insruksional di atas adalah keduanya an instruksional mendukung penelitian Supriyo
sependapat bahwa kepemimpinan instruksional (2015:33) yang menyimpulkan bahwa secara ke-
adalah kepemimpinan yang fokus pada proses seluruhan, kepemimpinan kepala sekolah, iklim
dan hasil belajar siswa melalui pemberdayaan kerja, pelatihan, kompetensi, dan kepuasan ker-
guru secara profesional. Perbedaannya adalah ja berpenagruh terhadap motivasi kerja guru
jika Kepala SMKN 2 Pengasih menganggap pro- (89%). Dukungan tersebut terjadi karena kepe-
ses PBM sama dengan manajemen pembelajar- mimpinan kepala sekolah pada penelitian Supri-
an dan kepemimpinan adalah memengaruhi yo dan kepemimpinan instruksional pada pene-
orang lain, maka Kepala SMKN 2Wonosari litian ini sama-sama meningkatkan hasil belajar
mendefinisikan kepemimpinan pembelajaran siswa melalui motivasi guru dalam mengajar
yang fokus pada kurikulum, pembelajaran, pe- siswanya karena hasil belajar siswa tidak lang-
ngembangan staf, supervisi pembelajaran, pro- sung dari kepemimpinan instruksional kepala
gram pembelajaran, evaluasi program guru dan sekolah, tetapi melalui guru yang memiliki mo-
siswa, penelitian tindakan, dan peningkatan tivasi tinggi. Perbedaan penelitian ini dengan
mutu, dan proses pembelajaran secara terus-me- penelitian Supriyo adalah jika penelitian ini
nerus. Karena fokusnya lebih rinci atau lebih menggunakan pendekatan kualitatif, maka pe-
banyak sehingga terkesan menjadi tidak tidak nelitian Supriyo meggunakan pendekatan kuan-
fokus lagi. titatif.
Definisi kepemimpinan instruksional ini
perlu ditemukan agar semua pihak dapat me- Pendapat Kepala SMKN 2 Pengasih tentang
mahami dan menyamakan persepsi tentang ke- Tujuan dan Manfaat Kepemimpinan Ins-
pemimpinan instruksional sehingga bagi yang truksional
menerapkannya di sekolah memiliki model pi- Hasil wawancara mendalam dengan Ke-
kir, model rasa, dan model tindak yang sama. pala SMKN 2 Pengasih dapat disimpulkan bah-
Kedua temuan definisi kepemimpinan instruk- wa tujuan kepemimpinan instruksional adalah
sional di atas ternyata mendukung pendapat terwujudnya peningkatan mutu proses dan hasil
Heck & Hallinger (2010: 656), Bush (2011: belajar siswa secara terus-menerus. Manfaat ke-
17), Whitehead, et al. (2013:41), dan Haris pemimpinan instruksional adalah: (1) mening-
(2014:10) seperti yang telah diungkapkan pada katnya hasil belajar siswa; dan (2) meningkat-
Pendahuluan di atas. Adanya kesamaan temuan nya kinerja guru. Hasil observasi partisipasi
penelitian dengan pendapat para ahli tersebut menunjukkan bahwa nilai ujian harian, ujian
karena kedua kepala sekolah pernah menerima sekolah, dan ujian nasional dari tahun ke tahun
materi kepemimpinan instruksional dalam Bim- mengalami peningkatan terus-menerus. Guru
tek Implementasi Kurikulum 2013 yang berisi- tertib administrasi dalam penyelesaian RPP un-
kan tentang definisi kepemimpinan instruksio- tuk seluruh mata pelajaran. Motivasi mengajar
nal. Perbedaan temuan definisi kepemimpinan guru dan motivasi belajar siswa meningkat.
Kinerja dan kepuasan guru meningkat. Monev

Cakrawala Pendidikan, Oktober 2015, Th. XXXIV, No. 3


329

pembelajaran berlangsung secara priodik. Data nerapkan dan mengembangkan iklim dan buda-
dokumentasi hasil belajar siswa meningkat se- ya sekolah yang kondusif; (7) mendapatkan sim-
cara terus-menerus. bol sekolah, yaitu orang pertama yang mewakili
sekolah; (8) mendemonstrasikan keterampilan,
Pendapat Kepala SMKN 2 Wonosari tentang ganjaran, dukungan, sistem, pengelolaan sum-
Tujuan dan Manfaat Kepemimpinan Ins- ber daya, pembuatan keputusan, pendelegasian,
truksional komunikasi, koordinasi, kerja sama, dan situasi;
Hasil wawancara mendalam dengan Ke- dan (9) meningkatkan daya saing saing sekolah.
pala SMKN 2 Wonosari dapat disimpulkan bah- Perbedaan temuan penelitian ini dengan pen-
wa tujuan kepemimpinan instruksional adalah dapat Gorton, et al. terjadi karena penelitian ini
terfokusnya guru pada peningkatan mutu proses mengkhususkan diri pada kepemimpinan ins-
dan hasil belajar siswa. Manfaat kepemimpinan truksional, sedangkan Gorton et al. (2007) me-
instruksional adalah: (1) meningkatnya mutu pro- mandang kepemimpinan pendidikan dalam arti
ses belajar siswa; dan (2) meningkatnya prestasi luas.
kerja guru. Temuan manfaat kepemimpinan instruk-
Tujuan kepemimpinan instruksional perlu sional dapat atau memengaruhi kinerja guru
ditemukan dalam penelitian ini agar semua pi- mendukung penelitian Werang (2014:135) yang
hak yang terlibat dalam melaksanakan kepe- menyimpulkan bahwa kepemimpinan transfor-
mimpinan instruksional mengetahui dengan je- masional kepala sekolah berpengaruh secara
las tujuan yang akan dicapai. Semua pihak yang signifikan terhadap kinerja guru. Dukungan ini
terlibat memiliki kesamaan langkah dalam men- terjadi karena baik kepemimpinan transforma-
capai tujuan. Tujuan yang jelas memberikan sional maupun kepemimpinan instruksional, ke-
arah bagi pihak terlibat untuk bertindak dan me- duanya sama-sama melakukan perubahan ke
ningkatkan motivasi untuk mencapainya. Demi- arah yang lebih baik antara lain meningkatkan
kian pula manfaat kepemimpinan instruksional kinerja guru.
perlu ditemukan dalam penelitian ini karena
tanpa manfaat yang jelas membuat semua usaha Pendapat Kepala SMKN 2 Pengasih tentang
kepemimpinan instruksional menjadi mubazir Indikator Kepemimpinan Instruksional yang
dan sia-sia belaka. Efektif
Manfaat kepemimpinan instruksional me- Hasil wawancara mendalam dengan Ke-
nurut Kepala SMKN 2 Pengasih berbeda de- pala SMKN 2 Pengasih disimpulkan bahwa in-
ngan manfaat kepemimpinan instruksional me- dikator kepemimpinan pembelajaran yang efek-
nurut Kepala SMKN 2 Wonosari. Tujuan kepe- tif adalah: (1) merumuskan konsep dan strategi
mimpinan instruksional yang kedua maknanya pelaksanaan; (2) menetapkan target yang akan
sama hanya pemilihan katanya yang berbeda. dicapai; (3) konsisten terhadap peningkatan
Jika Kepala SMKN 2 Pengasih menggunakan mutu; dan (4) terus berusaha melakukan per-
untuk meningkatkan prestasi kerja, maka Ke- baikan berkelanjutan. Hasil observasi partisipa-
pala SMKN 2 Wonosari menggunakan istilah si menunjukkan bahwa kepala sekolah meminta
meningkatkan kinerja. guru mencapai indikator kepemimpinan instuk-
Temuan penelitian ini berbeda dengan sional yang efektif di atas. Hasil dokumentasi
manfaat kepemimpinan menurut Gorton et al. menunjukkan bahwa beberapa indikator pembe-
(2007), yaitu sebagai sarana untuk: (1) mene- lajaran yang efektif tampak pada Rencana Kerja
rapkan dan mengembangkan visi; (2) melaku- Sekolah (RKS) dan Rencana Kegiatan dan
kan perubahan terutama meningkatkan mutu se- Anggaran Sekolah (RKAS) dan dibiayai oleh
kolah terus-menerus; (3) mengembangkan seko- RAPBS.
lah dan menjadi sekolah efektif; (4) mendapat-
kan kepemimpinan yang efektif; (5) member-
dayakan guru dan tenaga kependidikan: (6) me-

Model Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah


330

Pendapat Kepala SMKN 2 Wonosari tentang mimpinan instruksional yang efektif yaitu: (1)
Indikator Kepemimpinan Instruksional yang memantau kinerja guru terus-menerus; (2) me-
Efektif nilai kinerja guru; (3) melaksanakan dan meng-
Hasil wawancara mendalam dengan Ke- atur pendampingan dan pelatihan guru; (4) me-
pala SMKN 2 Wonosari dapat disimpulkan bah- rencanakan PKB guru; (5) mengkoordinasikan
wa indikator kepemimpinan instruksional yang kerja tim; dan (6) mengkoordinasikan pembe-
efektif adalah: (1) menetapkan strategi pembe- lajaran kolaboratif. Perbedaan temuan peneliti-
lajaran; (2) menetapkan target; dan (3) mening- an ini dengan hasil penelitian OECD karena
katnya mutu proses dan hasil belajar siswa se- penelitian dilakukan di negara anggota OECD,
cara kontinyu. Hasil observasi partisipasi ten- sementara Indonesia bukan anggota OECD.
tang indikator kepemimpinan instruksional Ke- Temuan penelitian ini berbeda dengan
pala SMKN 2 Wonosari ditunjukkan oleh tin- temuan Fanani (2013) seperti yang tercantum
dakan kepala sekolah yang meminta semua pada pendahuluan di atas. Perbedaan ini terjadi
guru mencapai indikator kepemimpinan ins- karena penelitian Fanani meneliti model ases-
truksional yang efektif seperti di atas. Hasil do- men kepemimpinan instruksional Kepala SD di
kumentasi menunjukkan bahwa indicator kepe- Banjarmasin dengan pendekatan kuantitatif,
mimpinan instruksional yang efektif dicapai sedangkan penelitian ini meneliti model kepe-
melalui RKS. RKAS, dan RAPBS. mimpinan instruksional Kepala SMKN 2 Pe-
Indikator kepemimpinan instruksional ngasih dan SMKN 2 Wonosari dengan pende-
perlu ditemukan dalam penelitian ini agar se- katan kualitatif.
mua pihak yang menerapkan kepemimpinan
instruksional memiliki target yang jelas untuk Strategi Kepemimpinan Instruksional di
dicapai. Indikator yang baik seharusnya dapat SMKN 2 Pengasih
diukur dan atau dapat diamati dengan baik. In- Hasil wawancara mendalam dengan Ke-
dikator yang dapat diukur mengandung angka, pala SMKN 2 Pengasih dapat disimpulkan bah-
sedangkan indikator yang dapat diamati dapat wa strategi kepemimpinan instruksional menu-
dilihat dengan mata tanpa bias. rut Kepala SMKN 2 Pengasih adalah: (1) kete-
Persamaan kedua temuan di atas adalah ladanan; (2) pembelajaran di kelas dan luar ke-
keduanya memiliki tiga indikator kepemimpin- las; (3) iklim kondusif; (4) budaya kondusif; (5)
an instruksional yang efektif. Kedua temuan penguatan kepemimpinan kepala sekolah; (6)
memiliki makna yang sama. Konsisten terhadap kepala sekolah menjadi model (7) banyak ber-
peningkatan mutu menurut Kepala SMKN 2 diskusi dengan guru tentang peningkatan mutu
Pengasih sama maknanya dengan meningkat- pembelajaran; dan (8) mendampingi guru. Hasil
kan mutu secara kontinyu menurut Kepala observasi partisipasi tentang strategi kepemim-
SMKN 2 Wonosari. Perbedaannya adalah Ke- pinan instruksional ditunjukkan dengan adanya
pala SMKN 2 Pengasih menambah indikator keteladanan kepala sekolah dalam mebuat RPP
konsisten terhadap peningkatan mutu. bagi guru-gurunya.
Temuan indikator kepemimpinan instruk-
sional kedua kepala sekolah adalah: (1) meru- Strategi Kepemimpinan Instruksional di
muskan konsep dan strategi pelaksanaan; (2) SMKN 2 Wonosari
menetapkan strategi; (3) menetapkan target (in- Hasil wawancara mendalam dengan Ke-
dikator) yang akan dicapai; dan (4) konsisten pala SMKN 2 Wonosari dapat disimpulkan
berusaha meningkatkan mutu proses dan hasil bahwa strategi kepemimpinan instruksional me-
belajar siswa secara kontinyu. Kedua temuan di nurut Kepala SMKN 2 Wonosari adalah: (1)
atas ternyata berbeda dengan temuan penelitian menetapkan sasaran mutu; (2) membuat pro-
Organization for Economic Co-operation and gram pelaksanaan kegiatan untuk mencapai
Development (OECD) (Anonim, 2009) yang sasaran mutu; (3) monev peaksanaan program;
menyatakan bahwa ciri-ciri (karakteristik) kepe- dan (4) menindaklanjuti hasil monev. Hasil

Cakrawala Pendidikan, Oktober 2015, Th. XXXIV, No. 3


331

observasi partisipasi tentang strategi kepemim- an kepada semua guru untuk melakukan kepe-
pinan instruksional ditunjukkan dengan tindak- mimpinan instruksional dengan cara di atas.
an kepala sekolah melakukan strategi kepemim- Temuan penelitian ini mendukung tiga
pinan instruksional seperti yang telah dinyata- cara praktis melaksanakan kepemimpinan ins-
kan di atas. truksional yang efektif menurut Willison (2010)
Kedua temuan di atas berbeda dalam yaitu: banyak berdialog dengan guru, sering
jumlah dan substansi strateginya. Perbedaan ini berkunjung ke kelas, dan memfasilitasi guru
terjadi karena masing-masing Kepala SMK me- dalam mengajar. Temuan penelitian ini men-
miliki pilihannya masing-masing dan memilih dukung cara praktis melaksanakan kepemim-
yang dianggap mudah, cepat, dan ekonomis pinan instruksional yang dilakukan oleh Levin
menurut persepsi masing-masing. Temuan pe- (2012:177), yaitu kepala sekolah: (1) menetap-
nelitian di atas ternyata mendukung pendapat kan visi dan tujuan belajar (mengacu standar
Bush (2008:23) yang menyatakan strategi ke- kompetensi lulusan); (2) membangun tim kerja
pemimpinan pembelajaran adalah dengan me- yang kuat (termasuk menilai dan meningkatkan
lakukan: modelling, discuss with teacher, and kinerja guru); (3) mewujudkan dan mendukung
mentoring. budaya sekolah yang kondusif;(4) mengomuni-
kasikan visi belajar, mengarahkan cara men-
Cara Praktis Kepala SMKN 2 Pengasih Me- capainya; (5) merekrut, mengembangkan, dan
laksanakan Kepemimpinan Instruksional melatih kembali kepala sekolah dan PKB guru;
Hasil wawancara mendalam dengan Ke- (6) membangun dukungan internal dan ekster-
pala SMKN 2 Pengasih dapat disimpulkan bah- nal sekolah; (7) memelihara dan tetap fokus
wa cara praktis melakukan kepemimpinan ins- pada pembelajaran (melaksanakan supervisi
truksional adalah: (1) melaksanakan persiapan akademik di kelas). Perbedaannya terletak da-
administrasi pembelajaran; (2) memotivasi sis- lam jumlah langkah dan lebih rinci dibanding-
wa; (3) memberikan materi pembelajaran; (4) kan dengan temuan penelitian ini.
membuat jadwal pelajaran; (5) melaksanakan Model konseptual kepemimpinan ins-
monev proses pembelajaran di kelas secara pe- truksional kepala sekolah ditunjukkan pada
riodik; dan (6) memberikan rekomendasi bagi Gambar 3.
guru yang dimonev untuk perbaikkan.Hasil ob-
servasipertisipasi tentang cara melakukan kepe-
mimpinan instruksional Kepala SMKN 2 Pe-
ngasih ditunjukkan dengan melakukan kepe-
mimpinan instruksional dengan cara di atas.

Cara Praktis Kepala SMKN 2 Wonosari Me-


laksanakan Kepemimpinan Instruksional
Hasil wawancara mendalam dengan Ke-
pala SMKN 2 Wonosari dapat disimpulkan bah-
wa cara praktis Kepala SMKN 2 Wonosari me-
lakukan kepemimpinan instruksional adalah: (1)
menetapkan sasaran mutu; (2) membuat program
pelaksanaan kegiatan untuk mencapai sasaran
mutu, (3) monev pelaksanaan program; (4) me-
nindaklanjuti hasil evaluasi. Hasil observasi par-
tisipasi tentang cara melakukan kepemimpinan Gambar 3. Model Konseptual Kepemimpin-
instruksional Kepala SMKN 2 Wonosari ditun- an Instruksional Kepala Sekolah
jukkan dengan tindakannya memberi keteladan-

Model Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah


332

PENUTUP nev untuk perbaikkan; dan (8) menindaklanjuti


Berdasarkan uraian hasil penelitian dan hasil monev.
pembahasan di atas, dapat disimpulkan hal-hal
seperti berikut. UCAPAN TERIMA KASIH
Pertama, kepemimpinan instruksional ada- Penulis mengucapkan terima kasih ke-
lah pendampingan yang fokus pada pembela- pada tim reviu yang telah memberikan masukan
jaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, untuk merevisi aktikel hasil penelitian ini. Pe-
dan evaluasi pembelajaran sesuai kurikulum, nulis juga mengucapkan terima kasih kepada
dan mengembangkan keprofesionalan guru guru Redaksi dan Staf Jurnal Cakrawala Pendidikan
untuk meningkatkan proses dan hasil belajar yang telah memberikan kesempatan untuk me-
siswa. mublikasikan artikel hasil penelitian ini.
Kedua, tujuan kepemimpinan instruksio-
nal adalah: (1) terwujudnya peningkatan mutu DAFTAR PUSTAKA
proses dan hasil belajar siswa secara terus- Anonim. 2009. Improving Educational Leader-
menerus; dan (2) terfokusnya guru pada pening- ship: Tool Kit. Paris: OECD.
katan mutu proses dan hasil belajar siswa.
Manfaat kepemimpinan instruksional adalah: Anonim. 2012. Teaching and Leadership for
(1) meningkatnya mutu proses dan hasil belajar The Twenty-First Entury: The 2012 Inter-
siswa; dan (2) meningkatnya kinerja guru. national Summit on Teaching Profession.
Ketiga, indikator kepemimpinan instruk- Paris: OECD & Asia Society Partnership
sional yang efektif adalah: (1) merumuskan Global Learning.
konsep dan strategi pelaksanaan; (2) menetap-
kan strategi; (3) menetapkan target yang akan Bass, B.M., & Bass, R. 2011. Handbook of Lea-
dicapai; dan (4) konsisten berusaha meningkat- dership: Theory, Research, and Manage-
kan mutu proses dan hasil belajar siswa secara ment Application. Fouth Edition. New
kontinyu. York: Free Press.
Keempat, strategi kepemimpinan instruk-
sional adalah: (1) keteladanan; (2) pembelajaran Bush, T. 2008. Leadership and Management
di kelas dan luar kelas; (3) iklim kondusif; (4) Development in Education. London: Sage.
budaya kondusif; (5) penguatan kepemimpinan
kepala sekolah; (6) kepala sekolah menjadi mo- Bush, T. 2011. Theories of Educational Lea-
del; (7) banyak berdiskusi dengan guru tentang dership and Management. 4th Edition.
peningkatan mutu pembelajaran; (8) mendam- London: Sage Publications, Ltd.
pingi guru; (9) menetapkan sasaran mutu; (10)
membuat program pelaksanaan kegiatan untuk Creswell, J.W. 2014. Research Design Quali-
mencapai sasaran mutu; (11) monev pelaksa- tative, Quantitative, & Mixed Methods
naan program; dan (12) menindaklanjuti hasil Approach. London: Sage.
monev.
Kelima, cara praktis kepala sekolah me- Fanani, Zainal. 2013. “Instrumen Kepemimpin-
lakukan kepemimpinan pembelajaran adalah: an Pembelajaran Kepala Sekolah Dasar”.
(1) menetapkan sasaran mutu; (2) membuat pro- Disertasi Doktor, tidak Ditebitkan, Uni-
gram pelaksanaan kegiatan untuk mencapai sa- versitas Negeri Yogyakarta.
saran mutu; (3) melaksanakan persiapan admi-
nistrasi pembelajaran; (4) memotivasi siswa; (5) Gill, R. 2009. Theory and Practice of Leader-
memberikan materi pembelajaran; (4) membuat ship. London: Sage.
jadwal pelajaran; (6) melaksanakan monev pro-
ses pembelajaran di kelas secara periodik; (7) Gorton, R., Alston, J.A., & Snowden, P. 2007.
memberikan rekomendasi bagi guru yang dimo- School Leadership & Administration Im-

Cakrawala Pendidikan, Oktober 2015, Th. XXXIV, No. 3


333

portant Concepts, Case Studies, & Simu- McMillan, J.H. 2013. Educational Research
lations. Seventh Edition. New York: Fundamentals for the Consumer. New
McGraw Hill. York: Pearson.

Harris, A. 2014. Distributed Leadership Matter Northouse, P.G. 2011. Introduction to Leader-
Perspectives, Practicalities, and Poten- ship Concepts and Practice. London:
tials. Thousand Oaks, California: Cor- Sage.
win Sage Company.
Robertson, J., & Timperley, H. (Editor). 2011.
Hammond, L.D., Meyerson, D., LaPointe, M., Leadership andLearning. London: Sage.
& Orr, M.T. 2010. Preparing Principals
for A Changing World Lessons from Schleicher, A. 2012. Preparing Teacher and
Effective School Leadership Programs. Developing School Leaders for the 21th
San Francisco, CA: Jossey-Bass. Century Lessons from Around the World.
Paris: OECD Publishing.
Heck, R., & Hallinger, P. 2010. “Testing a
Longitudinal Model of Distributed Effect Silverman, D. 2014. Doing Qualitative Re-
on School Improvemen”. Leadership search. New York: McGraw Hill.
Quarterly, 21, pages 867-885.
Stogdill, R.M. 1974. Handbook of Leadership:
Hoy, W.K., & Miskel, C.G. 2013. Educational A Survey of Theory and Research. New
administration: Theory, Research, and York: The Free Press.
Practice. Ninth Edition. New York: Mc-
Graw Hill. Supriyo. 2015. “Motivasi Kerja Guru SMP
Negeri Kota Semarang”. Cakrawala Pen-
Huber, G.S. 2010. School Leadership Interna- didikan., XXXIV (1), hlm. 24-33.
tional Perspective. London: Springer.
Smith, C.S., & Piele, P.K. 2012. School Lea-
Kepala Sekolah Diuji Kelemahan pada Super- dership: Handbook for Excellent in
visi. (19 Maret 2015). Kompas, hlm. 11. Student Learning. Fourth Edition. Thou-
sand Oak, California: Corwin Press.
Kualitas Kepsek Rendah Perekrutan Kepala dan
Pengawas Sekolah Belum Ideal. (8 Werang, Basilus Redan. 2014. “Pengaruh Ke-
Agustus 2015). Kompas, hlm. 11. pemimpinan Transformasional Kepala
Sekolah, Moral Kerja Guru, dan Kepuas-
Leitwood, K., Seashore, L.K., Anderson, S., & an Kerja terhadap Kinerja Guru SDN di
Wahlstrom, K. 2004. How Leadership Kota Merauke”. Cakrawala Pendidikan,
Influences Student Learning: A Review of XXXIII (1), hlm. 128-137).
Research for The Learning from Leader-
ship Project. New York: The Wallace Whitehead, B.M., Bosschee, F., & Decker, R.H.
Foundation. 2014. The principal Leadership for a
Global Society. London: Sage.
Levin, B. 2012.How to Change 5000 Schools A
Practical and Positive Approach for Willison, R. 2010. “What Make an Instructional
Leading Change at Every Level. Third Leader”. Phi Dekta Kappan. November,
Printing. Cambridge, Massachusetts: Vol. 92 Nomor 3, page 66-69.
Harvard University Press.
Yulk, Gary. 1998. Leadership in Organizations.
London: Prentice-Hall International.

Model Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah