Anda di halaman 1dari 23

Analisis Proses Bisnis

1. Pahami tentang bisnis Life Cicyle Product dan gambar kurvanya


Kelanjutan dari bahasan apakah business process perlu di kelola ? Sekarang akan timbul lagi pertanyaan sebenarnya apa yang dikerjakan dalam
business process life cycle ? Sudah banyak penelitian mengenai business process life cycle .
Salah satunya model yang dikembangkan Victor Portougal dan David Sundaram dimana mereka menbagi 3 tahap yaitu :
1. Diawali execution of process in real world ,
2. Tahap ke dua adalah descriptive modeling ( as - is)
3. Tahap ketiga adalah prescriptive modeling ( to – be)
 Tahap pertama menjadi tahap kedua dilakukan proses identifikasi dimana tugasnya adalah proses mendefinisikan seperti apa proses yang ada.
 Dari tahap kedua menjadi tahap ketiga akan melalui proses analisa dan improvement
 Kemudian setelah model bisnis di buat maka di kembalikan lagi ke real world, dimana akan ada proses implementasi. Tahapan ini akanberputar
terus menerus sampai business process semakin efisien dan efektif sehingga menjadikan organisasi yang kompetitif.
2. Pahami tentang rekayasa ulang proses bisnis ( BPR )
Karakteristik BPR
a. Pelanggan paling diutamakan .
b. Ciptakan dan pertahankan hanya yang memberikan nilai tambah
c. Pimpin dari atas dan kerjakan perincian dari bawah .
d. Desain dari keseluruhan dan implementasi mengenai yang kecil-kecil .
e. Disiplin dan tetap pada itu
f. Jangan biarkan konsultan melakukannya untuk Anda atau kepada Anda
3. Pahami tentang analisis SWOT
Pengertian Analisis SWOT adalah suatu metode perencanaan strategis untuk mengevaluasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam usaha mencapai
tujuan, yaitu kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats), baik itu tujuan jangka pendek maupun
jangka panjang.
Metode analisis ini tujuannya adalah untuk menggambarkan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dan bukan merupakan alat analisis yang dapat
memberikan solusi terhadap masalah yang tengah dihadapi.
A. Strength (Kekuatan)
B. Weakness (Kelemahan)
C. Opportunities (Peluang)
D. Threats (Ancaman)
- CARA MEMBUAT ANALISIS SWOT
Secara umum, analisa SWOT dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor internal tersebut meliputi Strength (Kekuatan) dan Weakness (Kelemahan),
faktor internal adalah aspek-aspek yang muncul dari dalam perusahaan itu sendiri. Misal yang termasuk faktor internal dalam sebuah
perusahaan: aset yang dimiliki, kualitas tenaga kerja, teknologi yang digunakan, dan sebagainya.
2. Faktor eksternal meliputi Opportunities (Peluang) dan Threats (Ancaman).
Faktor eksternal adalah aspek yang mempengaruhi perusahaan/bisnis namun ia berasal dari luar dan tidak bisa dikontrol oleh perusahaan
Saudara sendiri. Contoh yang termasuk aspek eksternal perusahaan: regulasi dari pemerintah, performa kompetitor, perubahan cuaca (jika
ikut mempengaruhi bisnis anda).
- PANDUAN DASAR PEMBUATAN SWOT
1. Strength (Kelebihan/kekuatan)
Strength merupakan situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan atau organisasi yang bisa memberikan pengaruh
positif pada saat ini atau pun di masa yang akan datang.
2. Weakness (Kelemahan)
Weakness merupakan situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan atau organisasi yang bisa memberikan
pengaruh negatif pada saat ini atau pun di masa yang akan datang.
3. Opportunities (Peluang)
opportunities merupakan situasi atau kondisi yang merupakan peluang atau kesempatan di luar perusahaan atau organisasi yang bisa memberikan
peluang untuk berkembang di kemudian hari.
4. Threats (Ancaman)
Threats merupakan ancaman-ancaman apa saja yang mungkin akan dihadapi oleh perusahaan atau organisasi yang bisa menghambat laju
perkembangan dari perusahaan atau organisasi tersebut.

4. Pahami tentang matrik BCG ( gambar dan penjelasan )


Matriks BCG dikembangkan oleh Bruce Henderson pada tahun 1970-an. Boston matrix adalah sebuah
alat analisis bisnis yg digunakan untuk perencanaan portofolio produk kita. Apakah dari sekianbanyak produk
kita , ada yg tumbuh? Laris? Harus dimatikan?Boston matrix bisa digunakan untuk menentukan : kapan harus
berinovasi dan ciptakan produk baru, apakah kita harusberinvestasi untuk pengembangan produk baru, harus
mengembangkan yg sudah ada, atau menghentikan produknya.Boston matrix ini juga penting, untuk penataan
dan perencanaan SDM, modal, strategi jangka panjang, dll
- Boston matrix terdiri 2 indikator utama :
1. Market share (pangsa pasar)
2. Market growth (pertumbuhan pasar)
-
- Berdasar Market share dan Market growth nya, produk bisa dibagi menjadi 4 kategori :
1. Tanda Tanya ( Question Marks )
Yang termasuk dalam kategori Question Marks ini adalah produk atau bisnis unit yang BARU. Seperti lazimnya produk baru,
kategori ini memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi tetapi pangsa pasarnya masih sangat rendah . Menghisap cash dan modal, tapi
belum menghasilkan. Dari banyak produk yg kita luncurkan (kategori TANDA TANYA), maka ada beberapa yang akan jadi sangat laris
dan menjadi BINTANG (STAR).
2. Bintang ( Star )
Yang termasuk dalam kategori Stars atau Bintang adalah produk atau unit bisnis yang memiliki PANGSA PASAR yang dominan
dan PERTUMBUHAN yang cepat serta menghasilkan uang (pendapatan) yang besar. PRODUK KATEGORI BINTANG : produk-produk
yg LARIS & TUMBUH. Karena tingkat pertumbuhan besar, diperlukan banyak investasi. Tapi imbal hasilnya diatas investasi. Suatu
produk BINTANG, TIDAK SELAMANYA akan menjadi BINTANG. LAMA2 ORG BOSAN atau tidak ada lagi konsumen baru atau ada
kompetitor. Maka pertumbuhannya melambat atau TIDAK TUMBUH LAGI => jadi produk SAPI PERAH (CASHCOW)
3. Sapi Perah (Cash Cows )
Yang termasuk dalam kategori Sapi Perah adalah produk atau unit bisnis yang LARIS Tapi TIDAK TUMBUH. SAPI PERAH :
Produk atau unit bisnis pada kategori ini memiliki pangsa pasar yang tinggi namun prospek pertumbuhan kedepan akan sangat terbatas.
Ketika produk kita dalam kategori SAPI PERAH , WAJIB CIPTAKAN PRODUK BARU PRODUK Yg masuk kategori SAPI PERAH
adalah TANDA PASTI kalau PRODUK LARIS INI AKAN (ENTAH KAPAN) MATI. Bila kita terlambat membuat produk baru (produk
Tanda tanya), maka siap-siap omset akan turun. Karena cepat atau lambat, semua produk baru, produk laris dan produk terlaris kita akan
jadi produk yg TIDAK LARIS (DOG)
4. Anjing ( Dogs )
Yang termasuk dalam kategori Anjing adalah produk atau unit bisnis TIDAK LARIS ATAU PENJUALANNYA TURUN TERUS.
Produk DOG: produk-produk ini memberi keuntungannya sangat rendah atau bahkan membawa kerugian.. Semua produk harus :
SEGERA DI KELUARKAN DARI TOKO / JUAL MURAH alias obral / TIDAK DIJUAL LAGI
1. Stars (Bintang) : Yang termasuk dalam kategori Stars atau Bintang adalah produk atau
unit bisnis yang memiliki pangsa pasar yang dominan dan pertumbuhan yang cepat serta
menghasilkan uang (pendapatan) yang besar. Ini berarti produk-produk yang dihasilkan
merupakan produk-produk terkemuka yang diminati oleh pasar.
2. Cash Cows (Sapi Perah) : Yang termasuk dalam kategori Cash Cows atau Sapi Perah
adalah produk atau unit bisnis yang merupakan pemimpin pasar, menghasilkan uang atau
pendapatan yang lebih banyak dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh
perusahaannya. Produk atau unit bisnis pada kategori ini memiliki pangsa pasar yang tinggi namun prospek pertumbuhan kedepan akan
sangat terbatas.
3. Dogs (Anjing) : Dogs (Anjing) atau juga dikenal dengan istilah hewan peliharaan, yang termasuk pada kategori Dogs ini adalah produk
atau unit bisnis yang memiliki pangsa pasar rendah dan mengalami tingkat pertumbuhan yang rendah.
4. Question Marks (Tanda Tanya) : Kategori Question Marks kadang-kadang disebut juga dengan problem children atau wildcats). Yang
termasuk dalam kategori Question Marks ini adalah produk atau unit bisnis yang memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi tetapi
pangsa pasarnya masih sangat rendah.
 Strategi setelah Analisis Matriks BCG
1. Build atau Membangun, yaitu meningkatkan investasi pada produk atau unit bisnis agar dapat meningkatkan pangsa pasar. Strategi ini
biasanya dilakukan untuk mendorong produk-produk dalam kategori Question Marks menjadi Stars dan akhirnya menjadi Cash Cows.
2. Hold atau Mempertahankan, yaitu strategi untuk mempertahankan produk-produk agar tetap pada kategori yang sama. Strategi tersebut
biasanya digunakan pada kategori Stars.
3. Harvest atau Memanen, yaitu strategi untuk mengurangi investasi dan mencoba untuk mendapatkan uang tunai (cash) semaksimum
mungkin dari produk atau meningkatkan profitabilitas secara keseluruhan. Strategi ini biasanya digunakan pada produk-produk atau unit
bisnis yang berada di kategori Cash Cows.
4. Divest atau Melakukan Divestasi, yaitu strategi yang melakukan penutupan usaha atau likuidasi terhadap unit bisnis atau produk yang
mengalami kerugian atau produk yang memiliki pangsa pasar rendah. Strategi Divestasi ini biasanya dilakukan pada produk atau unit
bisnis yang berada di kategori Dogs.
5. Pahami tentang perencanaan bisnis
Basis Data II
1. BIG DATA Data terstruktur
Big data adalah aktivitas untuk mengumpulkan sejumlah besar data dari berbagai sumber untuk mengidentifikasi trend dan pola data
tersebut.
Contoh : Web traffic, struk belanja, data pegawai
Lebih mudah dianalisi, memiliki tipe data, format, dan struktur yang telah terdefinisi.
2. BIG DATA Data tidakterstruktur
Contoh : Status facebook, gambar, voice, blog
Sulit dianalisis, format data tidak menentu sehingga membutuhkan tools untuk menjadikannya data
3. Dimensi big data ( jelaskan )
1. Volume(kapasitas data) berkaitan dengan ukuran media penyimpanan data yang sangat besar atau mungkin tak
terbatas hingga satuan petabytes atau zettabytes.
2. Variety(keragaman data) terkait tipe atau jenis data yang dapat diolah mulai dari data terstruktur hingga data tidak
terstruktur.
3. Velocity(kecepatan) terkait dengan kecepatan memroses data yang dihasilkan dari berbagai sumber, mulai dari data
batch hingga real time.
4. Sedangkan Veracity(kebenaran);
5. Value (nilai) terkait dengan ketidakpastian data dan nilai manfaat dari informasi yang dihasilkan.
4. Manfaat big data dalam berbagai bidang
1.Marketing - Analisis peraturan dan kepatuhan
- Kampanye produk - Manajemen dan pengawasan keuangan
- Segmentasi konsumen dan pasar - Penilaian dan pengawasan aset
- Pemasaran berbasis lokasi - Pengawasan lingkungan
- Analisis sentimen 4.Healthcare
- Personal marketing - Peningkatan layanan pasien
- Menarik simpati pelanggan - Sistem reimbursement
2.Finance - Laporan kesehatan masyarakat
- Manajemen resiko - Transparansi kesehatan masyarakat
- Deteksi dan pencegahan fraud - Pengawasan dan respon kesehatan masyarakat
- Mencegah money laundering 5.Telecomunication
- Analisa kredit - Mencegah kehilangan pelanggan
- Mengamati neraca perdagangan - Analisis terhdap panggilan
3.Government - Perencanaan dan optimasi jaringan
- Deteksi dan pencegahan fraud dan segala bentuk ancaman - Analisis lokasi pengguna perangkat mobile
- Keamanan cyber - Riset dan pengembangan produk baru
5. Contoh big data dalam berbagai bidang
- IBM Big dataAnalytics - Dell Big Data Analytics,
- HP Big Data - Pentaho Big Data Analytics
- SAP Big DataAnalytics - Amazon Web Service
- Microsoft Big DataAnalytics - Google Big Query
- Oracle Big DataAnalytics - Pivotal Big Data
- Tal end OpenStudio - Cloudera Enterprise Big Data
- Ter adata Big Data Analytics - Hortonworks Data Platform
- SAS Big Data Analytics
6. Karakteristik data warehouse
Menurut William Inmon, karakteristik dari data warehouse adalah sebagai berikut :
1. Subject Oriented
Pada sistem operasional, data disimpan berdasarkan aplikasi. Set data hanya terdiri dari data yang dibutuhkan oleh fungsi yang terkait
dan aplikasinya. Sedangkan pada data warehouse, data disimpan bukan berdasarkan aplikasi, melainkan berdasarkan subjeknya.
Misalnya untuk sebuah perusahaan manufaktur subjek bisnis yang penting, yaitu penjualan, pengangkutan, pelanggan, dan
penyimpanan barang.
2. Integrated
• Data Warehouse dapat menyimpan data-data yang berasal dari sumber-sumber yang terpisah atau dari berbagai sistem oeprasional
kedalam suatu format yang konsisten dan saling terintegrasi satu dengan lainnya.
• Syarat integrasi sumber data dapat dipenuhi dengan berbagai cara seperti konsisten dalam penamaan variable, konsisten dalam ukuran
variable, konsisten dalam struktur pengkodean dan konsisten dalam atribut fisik dari data.
3. Time variant
Pada data warehouse, data yang tersimpan adalah data historis dalam kurun waktu tertentu, bukan data terkini. Oleh karena itu data yang
tersimpan mengandung keterangan waktu, misalnya tanggal, minggu, bulan, catur wulan, dan sebagainya.
4. Nonvolatile
Data pada data warehouse tidak di-update secara real time tetapi di refresh dari sistem operasional secara reguler. Data yang baru
selalu ditambahkan sebagai suplemen bagi database itu sendiri dari pada sebagai sebuah perubahan. Database tersebut secara kontinyu
menyerap data baru ini, kemudian secara incremental disatukan dengan data sebelumnya. Memori non-volatile biasanya digunakan
untuk tugas penyimpanan sekunder, atau penyimpanan persisten jangka panjang. Bentuk penyimpanan primer yang paling banyak
digunakan saat ini adalah bentuk volatile random access memory (RAM), yang berarti saat komputer dimatikan, apapun yang
terkandung dalam RAM hilang.
7. Tahap tahap data warehousing

Proses dalam data warehouse atau data warehousing terdiri dari tahap-tahap berikut ini:
1. Data di-import dari berbagai sumber data internal maupun eksternal.
2. Data di-cleansed atau dibersihkan dan diorganisir secara konsisten sesuai dengan kebutuhan perusahaan
3. A). Data di-load atau di-export atau dimasukkan ke data warehouse enterprise,
B). Data di-load/export/di masukkan ke data marts
4. A). Bila diinginkan, data marts dibuat sebagai subset atau bagian dari EDW (enterprise data warehouse), atau
B). Data marts disatukan menjadi EDW
5. Analisa dilakukan ketika diperlukan
8. Data maining ? artinya, jelaskan
Data Mining adalah suatu istilah yang digunakan untuk menguraikan penemuan pengetahuan di dalam database.
Data mining adalah proses yang menggunakan teknik statistik, matematika, kecerdasan buatan, dan machine learning untuk mengekstraksi
dan mengidentifikasi informasi yang bermanfaat. (Turban, dkk. 2005)
9. Tahapan data maining

-Pembersihan data (data cleaning)


Pembersihan data merupakan proses menghilang-kan noise dan data yang tidak konsisten atau data tidak
relevan.
-Integrasi data (data integration)
Integrasi data merupakan penggabungan data dari berbagai database ke dalam satu database baru.
-Seleksi data (data selection)
Data yang ada pada database sering kali tidak semuanya dipakai, oleh karena itu hanya data yang sesuai
untuk dianalisis yang akan diambil dari database.
-Transformasi data (data transformation)
Data diubah atau digabung ke dalam format yang sesuai untuk diproses dalam data mining.
-Proses mining
Merupakan suatu proses utama saat metode diterapkan untuk menemukanpengetahuan berharga
dan tersembunyi dari data.
-Evaluasi pola (pattern evaluation)
Untuk mengidentifikasi pola-pola menarik ke dalam knowledge based yang ditemukan.
-Presentasi pengetahuan (knowledge presentation)
Merupakan visualisasi dan penyajian pengetahuan mengenai metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan
yang diperoleh pengguna.
10. Dari berbagai algoritma data maining jelaskan salah satu berikut dengan contoh
1. Algoritma Estimasi =Linear Regression, Neural Network, Support Vector Machine, etc
- Algoritma estimasi mirip dengan algoritma klasifikasi, tapi variabel target adalah berupa bilangan numerik (kontinyu) dan bukan
kategorikal (nominal atau diskrit)
- Estimasi nilai dari variable target ditentukan berdasarkan nilai dari variabel prediktor (atribut)
- Algoritma estimasi yang biasa digunakan adalah: Linear Regression, Neural Network, Support Vector Machine
- Estimation (estimasi), untuk menerka sebuah nilai yang belum diketahui, ex : menerka penghasilan seseorang ketika informasi mengenai
orang tersebut diketahui.
2. Algoritma Prediksi = Linear Regression, Neural Network, Support Vector Machine, etc
- Algoritma prediksi/forecasting sama dengan algoritma estimasi dimana label/target/class bertipe numerik, bedanya adalah data yang
digunakan merupakan data rentet waktu (data time series)
- Istilah prediksi kadang digunakan juga untuk klasifikasi, tidak hanya untuk prediktime series, karena sifatnya yang bisa menghasilkan
class berdasarkan berbagai atribut yang kita sediakan
- Semua algoritma estimasi dapat digunakan untuk prediksi/forecasting
- Prediction (prediksi), untuk memperkirakan nilai masa mendatang, ex: memprediksi stok barang satu tahun ke depan.
3. Algoritma Klasifikasi = Naive Bayes, K-Nearest Neighbor, C4.5, ID3, CART, Linear Discriminant Analysis, etc
- Klasifikasi adalah algoritma yang menggunakan data dengan target/class/label berupa nilai kategorikal (nominal)
- Contoh, apabila target/class/label adalah pendapatan, maka bisa digunakan nilai nominal (kategorikal) sbb: pendapatan besar, menengah,
kecil
- Contoh lain adalah rekomendasi contact lens, apakah menggunakan yang jenis soft, hard ataunone
- Algoritma klasifikasi yang biasa digunakan adalah: Naive Bayes, K-Nearest Neighbor, C4.5, ID3, CART, Linear Discriminant
Analysis, etc
- Classification (klasifikasi), merupakan proses penemuan model atau fungsi yang menjelaskan atau membedakan konsep atau kelas data,
dengan tujuan untuk dapat memperkirakan kelas dari suatu objek yang labelnya tidak diketahui.
4.Algoritma Klastering = K-Means, K-Medoids, Self-Organizing Map (SOM), Fuzzy C-Means, etc
- Klastering adalah pengelompokkan data, hasil observasi dan kasus ke dalam class yang mirip
- Suatu klaster (cluster) adalah koleksi data yang mirip antara satu dengan yang lain, dan memiliki perbedaan bila dibandingkan dengan
data dari klaster lain
- Perbedaan utama algoritma klastering dengan klasifikasi adalah klastering tidak memiliki target/class/label, jadi termasuk unsupervised
learning
- Klastering sering digunakan sebagai tahap awal dalam proses data mining, dengan hasil klaster yang terbentuk akan menjadi input dari
algoritma berikutnya yang digunakan
- Clustering (pengelompokan), yaitu pengelompokan mengidentifikasi data yang memiliki karakteristik tertentu.
5. Algoritma Asosiasi = FP-Growth, A Priori, etc
-Algoritmaassociation rule (aturan asosiasi) adalah algoritma yang menemukan atribut yang “muncul bersamaan”
-Dalam dunia bisnis, sering disebut dengan affinity analysis atau market basket analysis
-Algoritma asosiasi akan mencari aturan yang menghitung hubungan diantara dua atau lebih atribut
-Algoritma association rules berangkat dari pola “If antecedent, then consequent,” bersamaan dengan pengukuran support (coverage) dan
confidence (accuration) yang terasosiasi dalam aturan
-Association (asosiasi), dinamakan juga analisis keranjang pasar dimana fungsi ini mengidentifikasi item-item produk yang kemungkinan
dibeli konsumen bersamaan dengan produk lain.
11. Contoh penerapan data maining
- Penentuan kelayakan aplikasi peminjaman uang di bank
- Penentuan pasokan listrik PLN untuk wilayah Jakarta
- Diagnosis pola kesalahan mesin
- Perkiraan harga saham dan tingkat inflasi
- Analisis pola belanja pelanggan
- Memisahkan minyak mentah dan gas alam
- Pemilihan program TV otomatis
- Penentuan pola pelanggan yang loyal pada perusahaan oprrator telepon
- Deteksi pencucian uang dari transaksi perbankan
- Deteksi serangan (instrusion) pada suatu jaringan

12. Perbedaan data warehouse dan data maining


ISBD

1. Nilai-nilai yang kamu temukan setelah mempelajari ilmu sosial budaya dasar. (untuk itu mahasiswa diharapkan mengerti tentang
tujuan belajar ilmu sosial budaya dasar). Jelaskan dengan satu contoh pengalaman atau peristiwa yang pernah dialami selama
kurang lebih satu semester ini.

2. Tahap perkembangan kebudayaan


1.Tahap Mitis = Tahapan dimana manusia merasa bahwa dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib yang ada di sekitarnya, yaitu
kekuasaan-kekuasaan dewa alam raya atau kekuatan kesuburan, seperti dipentaskan dalam pelbagai mitologi bangsa primitif.
2.Tahap Ontologis = Dalam tahap ontologis manusia tidak lagi hidup dalam kepungan dunia mitis. Manusia secara bebas ingin meneliti
segala hal ikwal yang ada di alam ini.
3.Tahap Fungsional = Dalam tahap ini manusia tidak lagi terpesona oleh lingkungannya, ia juga tidak lagi dengan kepala dingin mengampil
jarak terhadap objek-objek penyelidikannya (ontologis)
3. Fungsi kebudayaan nasional
1.Pertama, sebagai pedoman dalam membina persatuan dan kesatuan bangsa bagi masyarakat majemuk Indonesia. Dengan kata lain, fungsi
kebudayaan nasional adalah memperkuat jati diri atau identitas kita sebagai bangsa.
2.Kedua, sebagai pedoman dalam pengambil-alihan dan pengembangan ilmu dan teknologi modern (= transfer teknologi).
3.Ketiga, sebagai wahana komunikasi kita sebagai bangsa.
4.Keempat, sebagai sarana penguat solidaritas kita sebagai bangsa.Contoh: BAHASA INDONESIA
4. Terangkan tentang mikrokosmos dan makrokosmos – dalam konteks penjelasan tentang mitos.

5. Fungsi mitos
Mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu (bagaimana dunia ini beroperasi, dan bagaimana hidup
seharusnya dijalani) kepada sekelompok orang (van Peursen).
- Pertama, menyadarkan bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib. membantu manusia agar dapat menghayati daya-daya kekuatan tersebut
sebagai suatu kekuatan yang dapat mempengaruhi dan menguasai alam dan kehidupan.
- Kedua, memberi jaminan bagi masa kini. Secara magis, mitos memaksa untuk kembali pada awal mula untuk mengulangi contoh model
penciptaannya.
- Ketiga, mitos memberikan pengetahuan (penjelasan) tentang dunia dan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan dunia. Mitos
menceritakan bagaimana suatu realitas mulai bereksistensi melalui tindakan makhluk supra-natural.
- Keempat, Mitos menetapkan suatu model tindakan yang harus diikuti berdasarkan contoh tindakan para dewa (makluk ilahi) pada awal
mula.
6. Ritus dan macamnya: ritus penyembahan dan ritus korban
Ritus adalah tindakan sakral manusia (= umat), baik personal maupun komunal, dalam berhubungan – demikian dalam keyakinan pelaku
ritual – dengan Yang Ilahi. Ritus merupakan fenomena religius universal umat manusia sejak dahulu kala.
Fungsi ritus dalam kehidupan religius sebagai pengingat dan untuk menghadirkan mitos menjadi realitas masa kini.
Ada dua jenis ritus yaitu:
1.Ritus pembersihan atau penyucian (purification)
Melalui ritus penyucian, suatu kehidupan baru pun tercipta. Kekuatan baru disuntikkan agar kebugaran tumbuh di dalam kehidupan
manusia. Dengan demikian relasi dengan Yang Ilahi, yang sempat ternoda, dibangun kembali sehingga hubungan yang erat pun kembali
terjalin. Ritus penyucian mempunyai tujuan ganda, yakni memberikan kekuatan yang baik dan mencegah yang jahat.
2.Ritus korban (sacrifice).
Di samping ritus penyucian dikenal pula ritus korban. Dengan mengadakan upacara korban tampak bahwa manusia memberikan sesuatu
kepada Yang Ilahi, demi suatu kebaikan. Dalam upacara korban manusia terbuka terhadap sumber anugerah (rahmat) Ilahi.
7. Simbol dan maknanya dalam hidup keagamaan
Menurut istilahnya, simbol (dari kata Yunani symbolon, dengan kata kerja symballein) berarti tanda pengenal yang berisi, menjelaskan, dan
mengaktualisasikan suatu perjumpaan dan kebersamaan yang didasarkan oleh suatu kewajiban atau perjanjian.
Maka manusia religius tidak mempunyai pilihan lain kecuali menggunakan ungkapan-ungkapan simbolis. Manusia tidak akan mampu
mendekati Allah secara langsung, karena Allah itu transenden sedangkan manusia adalah makhluk temporal yang terikat di dalam dunianya.
Maka manusia dapat mengenal Allah, sejauh dapat dikenal, melalui simbol. Semua pewahyuan itu sampai kepada manusia dalam bahasa
simbolis. Simbol merupakan cara untuk dapat sampai kepada pengenalan akan Allah. Bila sebuah pohon atau batu menjadi obyek pemujaan,
orang tidak menyembah pohon itu sebagai pohon belaka, atau batu melulu. Orang menyembahnya karena pohon atau batu itu merupakan
hierofani (penampakan para Dewa). Pohon atau batu yang disembah itu merupakan perwujudan dari yang kudus.
8. Apa itu pengalaman iman dan pengalaman religius. Terangkan dengan contoh.

9. Perbedaan filsafat dan agama


Agama: Filsafat:
- Respon/tanggapan makluk berpribadi (manusia) terhadap sesuatu - Upaya rasional manusia untuk memperoleh suatu pemahaman
yang menjadi tempat dimana dia bergantung. Cara hidup yang yang mendalam tentang kenyataan.
didasarkan atas kesadaran akan adanya kekuatan ilahi. - Refleksi: didasarkan pada akal-budi manusia.
- Refleksi: didasarkan pada Wahyu. - Menekankan pemahaman yang mendalam kebijaksanaan.
- Menekankan iman, devosi, dan ibadat. - Tujuan: membantu manusia untuk mematangkan kehidupan
- Tujuan: membawa manusia kepada kehidupan abadi di seberang religiusnya. Dengan demikian manusia menjadi bijaksana.
ruang dan waktu duniawi.
10. Perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan
Ilmu Pengetahuan: Filsafat:
- Minatnya pada kebenaran. - Minatnya pada kebenaran.
- Hasil penelitian dan sikap reflektif. - Hasil penelitian dan sikap reflektif.
- Berdasarkan pengalaman manusiawi. - Berdasarkan pengalaman manusiawi.
- Mengalami kemajuan pesat. - “Seakan-akan” mandeg dan tidak jelas.
- Deskriptif analisis. - Interpretasi sintesis.
- Mengarahkan perhatiannya pada gejala-gejala dan detail fakta-fakta - Mencari prinsip-prinsip dasar, dan mempelajari aspek
yang bersifat fragmentaris. keseluruhan, serta makna terdalam.

11. Karakter sosial dari seni


- Suatu karya artistik selalu bersifat sosial.
- Suatu karya seni selalu mengandaikan adanya masyarakat.
- Sejenius apapun seorang seniman, ia hanya dapat berkarya dalam konteks sosial tertentu, dalam lingkungan masyarakat.
- Bakat seni merupakan warisan sosial (masyarakat) yang perkembangannya ditentukan kondisi sosial jamannya.
- Karya seni besar merupakan ekspresi masyarakat yang berkebudayaan besar. Contoh: lukisan Leonardo da Vinci, candi Borobudur,
dll.
- Dunia seni adalah dunia kita bersama.
- Hidup dan matinya merupakan tanggungjawab kita bersama.
- Suatu bangsa akan kehilangan nilai spiritualnya jika bangsa itu tidak menghargai nilai seni yang merupakan wujud kreatifitas anak
bangsa. Jenis karya seni: seni musik, seni tari atau gerak, seni pahat atau patung, seni sastra, seni lukis, seni bangunan, seni peran
atau drama,
12. Seni sebagai sebagai segi batin masyarakat.
Seni menjadi segi batin masyarakat dan penghubung antar kebudayaan. Seni menjadi jalan untuk memahami kebudayaan suatu
masyarakat. Memahami seni suatu masyarakat berarti memahami aktivitas vital masyarakat yang bersangkutan dalam momennya yang
paling kreatif. Seni merupakan salah satu unsur spiritual (aktif-kreatif-dinamis) kebudayaan yang perkembangan masyarakat.
Semestinya, seni dibebaskan dari kekuasaan politis dan kepentingan tertentu. Dunia seni hendaknya menjadi dunia yang otonom dan
bebas, karena intervensi pihak luar dapat mematikan unsur kreatif masyarakat sehingga masyarakat tidak dapat menghasilkan karya
seni yang besar dan monomental.
AKUNTANSI KEUANGAN II

1
Latihan 8-1
PT. Pontianak adalah sebuah perusahaan yang berusaha dalam bidang ekspor mebelair ke Negara-negara Eropa. Pada awal tahun
pertama usahanya, perusahaan mengeluarkan 100.000 lembar saham biasa tanpa nilai pari, dengan harga Rp. 75.000,00 per lembar.
Diminta:
Buatlah jurnal untuk mencatat pengeluaran saham apabila,
1. Saham benar-benar tidak memiliki nilai pari
2. Saham memiliki nilai pari yang ditetapkan (stated value) sebesar Rp. 50.000,00 per lembar.
Latihan 8-2
Berikut transaksi yang berkaitan dengan modal saham pada PT. Pematang Siantar:
Februari 19 Dikeluarkan 4.000 lembar saham biasa dengan nilai pari Rp. 10.000,00 per lembar. Atas pengeluaran saham ini,
diterima
kas sebesar Rp. 12.500,00 untuk setiap lembar saham
Maret 3 Dijual 300 lembar saham preferen (tanpa nilai pari) klasifikasi A dengan harga Rp. 6.000.000,00
Maret 11 Diterima barang dagangan senilai Rp. 25.000.000,00 dan peralatan dengan harga pasar Rp.16.000.000,00 untuk
pengeluaran 3.300 lembar saham biasa yang memiliki nilai pari Rp. 10.000,00 per lembar.
Maret 15 Dijual 1.000 lembar saham preferen (tanpa nilai pari) klasifikasi B dengan harga Rp. 55.000,00 per lembar.
Diminta:
Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi di atas!
Latihan 8-3
Pada awal tahun pertama operasinya, Manajemen PT Tanjungpura menyetujui pengeluaran 100.000 lembar saham preferen, tanpa nilai
pari, dengan harga Rp. 6.000,00 per lembar, dan 500.000 lembar saham biasa, dengan nilai pari Rp. 2.000,00 per lembar. Transaksi yang
terjadi selama bulan pertama operasinya adalah:
Juli 5 Dibayar honorarium dan beban lain untuk pengurusan dokumen pengeluaran saham, sebesar Rp. 3.000.000,00.
6 Dikeluarkan 500 lembar saham biasa, dengan biaya Rp. 300.000,00
7 Diterima pesanan saham biasa sebanyak 1.000 lembar dengan harga Rp. 60.000,00 per lembar dan menerima uang muka
pembayaran (down payment) sebesar sepertiganya.
12 Dikeluarkan 3000 lembar saham preferan dengan harga tunai Rp. 36.000.000,00
14 Dikeluarkan 8000 lembar saham biasa dan ditukar dengan sebidang tanah senilai Rp. 48.000.000,00
31 Diterima pelunasan piutang pesanan saham sebesar setengahnya.
31 Diperoleh laba bersih bulan Juli dan ditutup ke rekening Laba Ditahan, sebesar Rp.8.000.000,00
Diminta:
1. Catatlah transaksi di atas dalam jurnal umum
2. Tunjukkan bagaimana pelaporan modal saham dalam neraca
Latihan 8-4
Manajemen PT Merauke menyetujui pengeluaran saham biasa sebanyak 300.000 lembar dengan nilai pari Rp. 5.000,00 per lembar.
Perusahan telah mengeluarkan 100.000 lembar saham dengan harga Rp. 6.000,00 per lembar. Pada akhir tahun 2016, perusahaan memiliki
saldo laba ditahan sebesar Rp. 300.000.000,00 dan mengumumkan sekaligus membagi deviden saham sebanyak 50% dari saham yang
beredar. Tahun 2017, perusahaan mengumumkan dan membayar dividen tunai sebesar Rp. 800,00 untuk setiap lembar saham.
Diminta:
a. Buatlah jurnal untuk mencatat pengumuman dan distribusi dividen saham
b.Buatlah jurnal untuk mencatat pengumuman dan distribusi dividen tunai
2
Soal Investasi sementara dan jangka panjang.
1. PT Galunggung memiliki transaksi investasi dalam obligasi berikut ini:
Jan 1 Dibeli 30 lembar obligasi PT Guntur, nominal Rp.1.000.000,00 ,10%, seharga Rp. 30.000.000,00, ditambah komisi perantara
Rp.
900.000,00. Tanggal bunga 1 Juli dan 1 Januari.
Juli 1 Diterima bunga dari obligasi PT Guntur
Juli 1 Dijual 15 lembar obligasi PT Guntur seharga Rp.15.000.000,00 dikurangi komisi perantara Rp. 400.000,00
Buatlah jurnal transaksi tersebut diatas.
2. Berikut ini adalah dua situasi yang terpisah satu sama lain:
a. PT Brantas pada tanggal 18 Mei 2018 membeli 5% dari 400.000 lembar saham PT Kerinci dengan biaya perolehan sebesar Rp.
6.000,00 per lembar. Pada tanggal 30 Agustus, PT Kerinci mengumumkan dan membayar dividen sebesar Rp. 75.000.000,00. Pada
tanggal 31 Desember, PT Kerinci melaporkan laba bersih untuk tahun 2018 sebesar Rp. 244.000.000,00.
b. PT Maluku memiliki pengaruh signifikan atas PT Borneo dengan membeli 40% dari 200.000 lembar saham biasa PT Borneo
dengan biaya perolehan sebesar Rp. 12.000,00 per lembar saham, pada tanggal 1 Januari 2018. Pada tanggal 18 April, PT Borneo
mengumumkan dan membayar dividen tunai sebesar Rp. 45.000.000,00. Pada tanggal 31 Desember, PT Borneo mengumumkan laba
bersih untuk tahun 2018 sebesar Rp. 120.000.000,00. ‘
Buatlah jurnal yang dibuat pada tahun 2019 untuk (a) PT. Brantas dan (b) PT Maluku.
3. Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi berikut ini:
a. Dibeli 300 lembar (2% dari seluruh) saham PT Mutiara dengan harga Rp.80.000,00 per lembar, ditambah komisi perantara
sebesar Rp. 500.000,00
b. Diterima dividen tunai Rp. 2.000,00 per lembar saham dari PT Mutiara.
c. Dijual 200 lembar saham PT Mutiara dengan harga Rp. 55.000,00 per lembar, dikurangi komisi perantara sejumlah Rp.
510.000,00
4. Selama tahun 2018, PT Pajajaran melakukan investasi dalam obligasi dan saham yang diklasifikasikan sebagai sekuritas
untukdiperdagangkan. Informasi yang berhubungan dengan investasi tersebut selama tahun 2018 adalah sebagai berikut:
Maret 1 Dibeli 1.000 lembar saham PT Flores dengan harga Rp. 46.000,00 per lembar ditambah biaya komisi dan pajak sebesar
Rp.
1.500.000,00. Saham beredar yang dikeluarkan oleh PT Flores saat ini berjumlah 120.000 lembar.
Juli 31 Dibeli 10 lembar obligasi PT Sumbawa yang bernilai nominal Rp. 2.000.000,00 per lembar, dengan tingkat bunga 9%,
pada kurs 98, ditambah bunga berjalan satu bulan. Komisi untuk pembelian obligasi ini berjumlah Rp. 600.000,00
Des. 31 Diterima dividen tunai dari PT Flores sebesar Rp. 4.000.000,00
Des. 31 Diterima bunga tengah tahunan atas obligasi PT Sumbawa
Des. 31 Dijual 800 lembar saham PT Flores dengan harga Rp. 48.000,00 per lembar.
5. Berikut ini transaksi yang berhubungan dengan investasi untuk tahun 2017 dan 2018:
2017
Mar 31 Dibeli obligasi berbunga 9% PT Majapahit untuk investasi jangka pendek. Obligasi ini dibeli pada kurs 95,5 ditambah
bunga berjalan sejak tanggal 31 Januari 2014. Nilai jatuh tempo obligasi ini adalah Rp. 100.000.000,00
Juli 31 Diterima bunga tengah tahunan ntuk obligasi yang dibeli pada tanggal 31 maret.
Des 31 Dibuat penyesuaian untuk bunga yang diakui sebagai pendapatan tahun 2017.

2018
Jan. 31 Diterima bunga tengah tahunan
Feb. 1 Dijual 50% dari investasi obligasi pada kurs 105.
Berdasarkan informasi diatas, buatlah jurnal umum yang diperlukan!
PERPAJAKAN

1. Pajak Penghasilan Pasal 22


-PPh Pasal 22 Atas Impor
 Pemungutnya Adalah Bendaharawan Bea Cukai, Bank Devisa, Atau Bank Persepsi.
 Objek Pungutan Adalah Nilai Impor Barang
 Nilai Impor : Cost Insurance And Freight (CIF) + Bea Masuk + Bea Masuk Tambahan + Pungutan Lain Berdasarkan Peraturan Di
Bidang Pabean
 Tarif PPh Pasal 22 Impor Dan DPP-nya Sbb. :
a. 2,5% X Nilai Impor (Angka Pengenal Importir)
b.7,5% X Nilai Impor (Tidak Menggunakan API)
c. 7,5% X Harga Lelang (Harga Jual Lelang) Jika Barang Yang Diimpor Tidak Dikuasai.
 Disetor Oleh Importir/Pemenang Lelang Ke Kas Negara Melalui Bank Devisa Dengan Menggunakan SSP Bersamaan Saat
Pembayaran Bea Masuk.
1. CONTOH 1
PT.“Indo Motor” adalah importir mobil yang telah memiliki Angka Pengenal Impor (API). Mengimpor 50 unit mobil dengan harga faktur
$10.000 per unit.
Biaya asuransi dan biaya angkut yang berkaitan dengan impor mobil tersebut masing-masing adalah 2% dan 3% dari harga faktur. Bea
masuk yang harus dibayar sebesar 5% dari CIF dan bea masuk tambahan sebesar 20% dari CIF.
Kurs pada saat itu ditetapkan oleh Menkeu. sebesar $1 = Rp. 9.000.
Berapa PPh pasal 22 yang harus dibayar?
Harga faktur : 50 unit x $10.000 $ 500.000
Biaya asuransi (2%) $ 10.000
Biaya angkut (3%) $ 15.000
Cost Insurance And Freight (CIF) $ 525.000
Bea masuk : 5% x $ 525.000 $ 26.250
Bea masuk tambahan :20% x $ 525.000 $ 105.000
Nilai Impor $ 656.250
Nilai impor dalam rupiah :
$ 656.250 x Rp. 9.000 = Rp. 5.906.250.000
PPh 22 yang harus dipungut (API)
2,5% x Rp. 5.906.250.000 =Rp. 147.656.250
2. Contoh 2
PT. Indocemen membeli suku cadang kendaraan dari Korea dengan nilai sebesar Rp. 850.000.000.
PT Indocemen bukan sebagai importir, sehingga untuk mengimpor barang tersebut dipercayakan kepada PT. Citra Exim yang mempunyai
API.Asuransi yang dibayar di LN adalah 2% dari Harga Impor,Bea Masuk dikenakan sebesar 4% dari Harga Impor. Berdasarkan
kesepakatan antara dedua belah pihak, Importir akan menerima komisi impor (Handling Fee) sebesar Rp. 4.500.000,-
Diminta hitung PPh Pasal 22 Impor yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea Cukai
Harga Impor Rp. 850.000.000,-
Asuransi Yang Dibayar 2% X 850.000,- Rp. 17.000.000,-
Bea Masuk 4% X 850.000,- Rp. 34.000.000,-
Nilai Impor Rp. 901.000.000,-
PPh Pasal 22 Impor (API) :
2,5% X Rp. 901.000.000 Rp. 22.525.000
Data Pendukung :
Nama Perusahaan : PT. Indocemen
NPWP : 05-234-567-9-001.000
Alamat : Jln. Pancoran No. 31
Masa : Agustus 2001
Jumlah : Rp. 22.542.000
3. Contoh 3
PT. Cemerlang, merupakan importir lampu hias yang tidak memiliki API. Pada bulan Januari melakukan impor barang dari Italia dengan
harga faktur US$ 150.000,-. Biaya asuransi yang dibayar di luar negeri dan biaya angkut dari Italia ke daerah pabean (Indonesia)
nasing-masing sebesar 3% dan 4% dari Harga Faktur. Tarif bea masuk dan bea masuk tambahan masing-masing sebesar 10% dan 20%
dari CIF. Kurs yang ditetapkan oleh Menkeu pada aaat itu US$ 1 Adalah Rp. 9.700,- Diminta hitung PPh Pasal 22 atas impor lampu hias
tersebut.
a. Menentukan Nilai Impor
Harga Faktur US$ 150.000 X Rp. 9.700 Rp. 1.455.000.000
Biaya Asuransi 3% x Rp. 1.455.000.000 Rp. 43.650.000
Bea Angkut 4% x Rp. 1.455.000.000 Rp. 53.200.000
Cost Insurance And Freight (CIF) Rp. 1.556.850.000

Bea Masuk 10% x Rp. 1.556.850.000 Rp. 155.685.000


Bea Nasuk Tambahan
20% x Rp. 1.556.850.000 Rp. 311.370.000
Nilai Impor Rp. 2.023.905.000
b. Menghitung PPh Pasal 22 Impor
7,5% x Rp. 2.023.905.000 Rp. 151.792.875
- PPh Pasal 22 Atas Pembelian Barangatau Bahan-Bahan
Tarif PPh Pasal 22 Atas Pembelian Yang Dilakukan Oleh Pemerintah Pusat/Daerah Dan BUMN/BUMD
- Sebesar 1,5% Dari Harga Pembelian Sebelum PPN (Tidak Mempunyai NPWP 3%)
- Jika Harga Pembelian Sudah Termasuk PPN Maka harus ditentukan Dasar Pengenaan Pajak Pembelian, caranya adalah :
DPP = (100 : 110) X Harga Pembelian Termasuk PPN
- Jika Harga Pembelian Sudah Termasuk PPN Dan PPnBM Maka Perhitungan Harga Pembelian Sebelum PPN Dan PPnBM Atau Dasar
Pengenaan Pajak Pembelian Adalah :
100 %
DPP = ------------------------- x Harga Pembelian Termasuk PPN
110% + Tarif PPnBM
4. Contoh 4
1. Departemen Sosial Membeli Komputer Unt Kantor Dengan Harga Rp. 100.000.000,- (Harga Tdk Termasuk PPN/PPnBM).
PPh Pasal 22 Yang Harus Dipungut Bendahara :Rp. 100.000.000,- x 1,5% = Rp. 1.500.000,-
2. Departemen Dalam Negeri Mempunyai Kegiatan Pengadaan Barang Modal Berupa Mesin Absensi Yang Pada DIPA Tersedia
Anggaran Rp. 99.000.000,-. Dana Yang Tersedia Dalam DIPA Sudah Termasuk PPN-nya, Sehingga Untuk Menghitung PPh Pasal 22
Adalah :(100/110 x Rp. 99.000.000) x 1,5% = Rp. 1.350.000,-
Untuk Yang Tidak Ber-NPWP Dipotong 100% Lebih Tinggi Dari Tarif PPh Pasal 22 Sehingga Menjadi :(100/110 x Rp.
99.000.000) x 1,5% X 200% = Rp. 2.700.000,-
5. Contoh 5
Pada bulan juli 2012, bendahara Dinas Pendidikan Pacitan melakukan kegiatan pembelian barang dengan menggunakan dana APBD dan
APBN dengan rincian sebagai berikut :
- Tanggal 5 juli 2012, pembelian alat tulis kantor kepada CV Pena Anda (NPWP/NPPKP : 01.123.467.8-647.000) senilai
Rp 1.650.000,-
- Tanggal 10 juli 2012, pembelian meubel kantor kepada CV Indah Furniture (NPWP/NPPKP : 02.123.4.567.8-647.000) senilai Rp
4.730.000,-
- Tanggal 20 juli 2012, pembelian printer kepada CV Mega Computer (NPWP/NPPKP : 03.123.456.7-647.000) senilai Rp 700.000,-
 PENGHITUNGAN PAJAK YANG HARUS DIPUNGUT
- Atas pembelian tanggal 5 juli 2012
Belanja barang senilai Rp. 1.650.000,- (termasuk PPN)
DPP :100/110 x Rp 1.650.000,- = Rp 1.500.000,-
PPN :10% x Rp 1.500.000,- = Rp 150.000,-
- Atas pembelian tanggal 10 juli 2012
Belanja barang senilai Rp. 4.730.000,- (termasuk PPN)
DPP :100/110 x Rp 4.730.000,- = Rp 4.300.000,-
PPN :10% x Rp 4.300.000,- = Rp 430.000,-
PPh psl 22 : 1,5% x Rp 4.300.000,- = Rp 64.500,-
- Atas Pembelian tanggal 20 Juli 2012
Belanja barang senilai Rp. 700.000,-,
 Bendahara tidak wajib memungut PPh Pasal 22 dan atau PPN-nya.
 Pembuatan SSPAtas Pembelian Tanggal 5 Juli 2012 = SSP PPN Dibuat Dengan Identitas Rekanan Dan Ditandatangani Oleh
Bendahara
 Atas Pembelian Tanggal 10 Juli 2012 = SSP PPN PPh Pasal 22 dibuat dengan Identitas Rekanan dan Ditandatangani Oleh
Bendahara
2. Daftar Pegawai PT. Bintang Persada Bulan Maret 2017
SOAL UJIAN REMIDI : Ujian Tengah Semester (UTS) Semester Genap Tahun Akademik 2018/2019
NAMA STATUS STATUS GAJI POKOK TUNJNGAN
NO JABATAN KETERANGAN
PEGAWAI PEGAWAI PTKP /UPAH JABATAN
1 Marlena Peg. Tetap K/3 Sekretaris 8.200.000 750.000
2 Isnaini Peg. Tetap K/3 Bendahara 7.500.000 500.000
3 Marmo Peg. Tdk Tetap TK/0 Petugas Luar 5.000.000 - Upah dibayar bulanan
4 Warsito Peg. Tdk Tetap TK/0 Operator 4.500.000 - Upah dibayar harian
Keterangan :
a. Khusus pegawai tetap diikutkan program asuransi dari BPJS yaituJK dan JKK yang preminya dibayar pemberi kerja masing-masing
2% dan 3% dari gaji pokok. Selain itu juga menerima tunjangan keluarga sebesar 10% dari gaji pokok.
b. Marmo pegawai tidak tetap bekerja selama 25 hari dan menerima upah per hari sebesar
b. Rp. 200.000,- (sesuai kontrak upah dibayar secara bulanan)
Pertanyaan :
1. Berapa PPh 21 Marlena dan Marmo untuk bulan Maret 2017
2. Berapa sisa gaji/upah bulan Maret 2017 yang dibawa pulang oleh mereka berdua
3. JAWABAN SOAL REMIDI : Ujian Tengah Semester (UTS) Semester Genap Tahun Akademik 2018/2019
Nama Pegawai : MARLENA (K/3)  Skor 60 Disetahunkan : Rp. 9.680.000 x 12 Rp.116.160.000,-
A. PENGHASILAN BRUTO : C. PTKP (K/3)
Gaji Pokok Rp. 8.200.000,-Karena tdk ada surat keterangan SUAMI tdk bekerja (TK/0)
Tunjangan Jabatan Rp. 750.000,- Rp. 54.000.000,-
Tunjangan keluarga 10% x Rp. 8.200.000 Rp. 820.000,- D.PKP (Penghasilan Kena Pajak) Rp. 62.160.000,-
JK : 2% x Rp. 8.200.000,- RP. 164.000,- PPh 21 setahun : (2.500.000 + 1824000 ) Rp. 4.324.000,-
JKK : 3% x Rp. 8.200.000,- Rp. 246.000,- PPh 21 bulan Maret 2017 : Rp. 4.324.000 : 12 = Rp. 360.333
Jumlah Bruto Rp. 10.180.000,- Rp. 360.000,-
B. PENGURANG Sisa Gaji bulan Maret 2017 yang dibawa pulang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 10.180.000,- : Rp. 509.000,- Rp. 500.000,- (8.200.000 + 750.000 + 820.000) – Rp. 360.000,- =
Jumlah Neto Rp. 9.680.000,- Rp. 8.735.000,-
Nama : Marmo (Peg. Tdk tetap upah dibayar bulanan)  Skor 40 Upah per hari Rp. 200.000,- dan Marmo bekerja selama 25 hari.
Status Marmo pada bulan Maret 2017 TK/0
Upah Maret 2017(25 x Rp. 200.000) 5.000.000,00
Upah disetahunkan = 12 x Rp. 5.000.000 60.000.000,00

PTKP (TK/0) 54.000.000,00

PKP 6.000.000,00

PPh 21 setahun = 5% x Rp. 6.000.000 300.000,00

PPh 21 bulan Maret = 300.000 : 12 25.000,00


PPh 21 Marmo Bulan Maret 2017 adalah :
 PPh Pasal 21 terutang adalah Rp. 25.000,00
upah bersih yang dibawa pulang Marmo pada bulan Maret 2017 adalah :
 Rp. 5.000,00 – Rp. 25.000,00 = Rp. 4.975.000,-

4. Pajak Penghasilan Pasal 23 dan Pasal 24


- PPh Pasal 23 adalah Pajak Penghasilan yang dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Dalam
Negeri dan Bentuk Usaha Tetap yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah
dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21.
- Tarif dan Objek PPh Pasal 23
1. 15% dari jumlah bruto atas: dividen kecuali pembagian dividen kepada orang pribadi dikenakan final, bunga, dan
royalti;
2. hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong PPh pasal 21.
3. 2% dari jumlah bruto atas sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta kecuali sewa tanah
dan/atau bangunan.
4. 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi dan jasa konsultan.
5. 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa lainnya.
Tidak ber-NPWP dipotong 100% lebih tinggi
1. Contoh 1 (PPh 23 Penghasilan dari Bunga)
Pada tanggal 15 Januari 2014 PT DIAN meminjam uang dari PT DAMAR sebesar Rp. 200.000.000,- dengan bunga
30% per bulan. Menurut perjanjian PT DIAN akan melunasi pokok pinjaman + bunganya pada tgl 1 Maret 2019.
Apa yang menjadi objek PPh 23 : PT DIAN sabagai pemotong PPh Pasal 23.
Penghasilan berupa bunga pinjaman Berapa PPh Pasal 23 yang dipotong PT DIAN :
Berapa Jumlah bunga pinjaman : PPh Pasal 23 : Rp. 9.000.000,- x 15% = Rp.
200.000.000 x (30% + 15%) = 9.000.000 1.350.000,-
Siapa yang menjadi pemotong PPh 23 :
2. Contoh 2 (PPh 23 Penghasilan dari Jasa)
Departemen Kehutanan memakai jasa service kendaraan (NPWP, Pembukuan) untuk menservice kendaraan dinasnya.
Besar biaya yang dikeluarkan Rp. 6.000.000,- (harga tersebut terdiri suku cadang 5.000.000 dan ongkos service
1.000.000, namun tagihan tidak dipisah-pisahkan). Berapa PPh Pasal 23 yang terutang dan harus dipotong bendahara
adalah :Rp. 6.000.000,- x 2% = Rp. 120.000,-
3. Contoh 3 (PPh 23 Penghasilan dari Jasa)
Departemen Kesehatan menggunakan jasa catering untuk kegiatan rapat koordinasi dengan biaya Rp. 2.000.000,- (harga
tidak termasuk PPN), namun pengusaha jasa catering tidak memiliki NPWP.Berapa PPh Pasal 23 yang terutang
adalah :Rp. 2.000.000,- x 4 % = Rp. 40.000,-
4. Contoh 4 (PPh 23 Penghasilan dari Kegiatan)
Dirjen Pajak mempunyai kegiatan sosialisasi perpajakan kepada masyarakat dengan dana Rp. 1.100.000.000,- (yang
tertera di DIPA 2013 termasuk PPN). Untuk pelaksanaan kegiatan tersebut Dirjen Pajak menggunakan jasa
penyelenggara kegiatan (EO yang memiliki NPWP) dan dana yang tersedia habis digunakan. Berapa PPh Pasal 23 yang
terutang atas jasa penyelenggaraan kegiatan tersebut adalah :Cara menghitung jumlah brutonya (DPP) :100/110 x Rp.
1.100.000.000,- = Rp. 1.000.000.000,-PPh Pasal 23 yang terutang adalah :Rp. 1.000.000.000,- x 2% = Rp. 20.000.000,-
5. Contoh : Penghitungan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 23 oleh WP DN
- PT. Bumerang (NPWP/NPPKP 01.123.556.5-063.000) Jln. Merdeka 12 Purwokerto, pada tanggal 31-12-2009
melakukan pembayaran atas jasa Catering RM. Puspa sebesar Rp. 1.500.000,- dan jasa Cleaning Service PT. Bareta
Service (NPWP 01.007.215.6.896.000) sebesar 3.650.000
- Penghitungan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 23 atas pembayaran jasa catering dan cleaning service tersebut
adalah sebagai berikut :
 Penghitungan Pemotongan PPh 23 :
Pembayaran atas jasa katering dipotong PPh Pasal 23 (tidak punya NPWP)
PPh Pasal 23 = 4% X 1.500.00 = 60.000
Pembayaran atas jasa cleaning service dipotong PPh Pasal 23
PPh Pasal 23 = 2% X 3.650.000 = 73.000
 Kewajiban bendahara atas PPh Pasal 23 yang telah dipotong tersebut adalah sebagai berikut :
1. Membuat Bukti Potong PPh Pasal 23
2. Membuat Daftar Bukti Potong PPh Pasal 23
3. Menyetor ke Bank/Kantor Pos dengan SSP
4. Melaporkan dalam SPT Masa PPh 23
6. SOAL
Pada tgl. 10 Januari 2010 PT MAWAR meminjam uang dari PT PARDOS sebesar Rp. 500.000.000,00 dengan bunga 25%
per bulan. Menurut perjanjian, PT MAWAR harus melunasi pokok pinjaman dan bunganya pada tanggal 11 Maret 2010.
1. Apa yang menjadi objek PPh Pasal 23 ?
Yang menjadi objek PPh Pasal 23 berupa bunga sejumlah Rp. 250.000.000,00
2. Berapa PPh Pasal 23 yang terutang ?
PPh Pasal 23 yang terutang adalah sebesar =Rp. 250.000.000,00 x 15% = Rp. 37.500.000
3. Kapan PPh Pasal 23 disetor ke Kas Negara, siapa yg menyetorkan, dan atas nama siapa PPh Pasal 23 disetor ?PPh
Pasal 23 disetor ke Kas Negara paling lambat tgl. 10 April 2010, disetor oleh PT MAWAR, apabila tanggal 10 April
2010 hari libur maka dapat dibayar pada tanggal 11 April 2010, dan PPh Pasal 23 disetor atas nama PT PARDOS.
4. Kapan PPh Pasal 23 dilaporkan ke KPP ?
PPh Pasal 23 dilaporkan paling lambat tgl. 20 April 2010, apabila tgl tsb. Hari libur maka laporan dimajukan menjadi tgl
19 April 2010
5. Kewajiban apa yang harus dilakukan oleh PT MAWAR kepada PT PARDOS setelah pembayaran PPh Pasal 23 ?
Yang harus dilakukan PT MAWAR adalah memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 kepada PT PARDOS, karena
bukti pemotongan tsb merupakan bukti untuk dapat dikreditkan pada PPh Badan Pajak Tahunan.
PPh Pasal 24
- Adalah salah satu jenis pelunasan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan yang merupakan pajak yang dibayar atau
terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh WP dalam negeri
1. Contoh :
PT ADIL di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Zamzam Inc. di Mesir. Zamzam Inc. tersebut dalam
tahun 2009 memperoleh keuntungan sebesar US$100.000,-. Pajak Penghasilan yang berlaku di Mesir adalah 48% dan
Pajak Deviden adalah 38%. Perhitungan pajak atas deviden tersebut adalah sebagai berikut :
Keuntungan Zamzam Inc. US$ 100.000,-
Pajak Penghasilan (Corporate income tax)
atas Zamzam Inc. (48%) US$ 48.000,-
Income After Tax ( PKP ) US$ 52.000,-
Pajak atas deviden (38%) US$ 19.760,-
Deviden yang dikirim ke Indonesia US$ 32.240,-
2. Contoh :
PT AURA di Jakarta dalam tahun 2008 menerima dan memperoleh penghasilan neto dari sumber luar negeri sebagai
berikut :
a. Hasil usaha di Singapura dlm Thn Pajak 2008 sebesar 800 Jt. Rp.
b. Deviden atas pemilikan saham pada “X Ltd” di Australia sebesar 200 Jt.Rp. yaitu berasal dari keuntungan tahun 2006
yang ditetapkan dalam rapat pemegang saham tahun 2007 dan baru dibayar dalam tahun 2008.
c. Deviden atas penyertaan saham sebanyak 70% pada “Y Corp.” di Hongkong yang sahamnya tidak diperdagangkan di
bursa efek sebesar 75 Jt.Rp. yaitu berasal dari keuntungan saham tahun 2006 yang berdasarkan Kep. Menkeu ditetapkan
diperoleh tahun 2008.
d. Bunga kwartal IV tahun 2008 sebesar Rp. 100.000.000,- dari “Z Sdn Bhd” di kuala lumpur yang baru akan diterima
bulan Juli 2009
- Penjelasan :Penghasilan dari sumber luar negeri yang digabungkan dengan penghasilan dalam negeri tahun pajak 2008 adalah
penghasilan pada huruf a, b, c, sedangkan penghasilan pada huruf d digabungkan dengan penghasilan dalam negeri dalam tahun pajak
2009.
- KERUGIAN
Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak dalam negeri :
Contoh 1
PT Buana di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2008 sebagai berikut :
a. Di Korea memperoleh penghasilan (rugi) Rp. 500.000.000,-
b.Di Mesir memperoleh penghasilan (laba) Rp. 3.000.000.000,-
Kerugian di Korea sebesar Rp. 500.000.000,- tidak dapat digabungkan dengan penghasilan neto dalam negeri, sedangkan penghasilan
dari Mesir sebesar Rp. 3.000.000.000,- dapat digabungkan dengan penghasilan neto dalam negeri, tetapi besarnya pajak yang dapat
dikreditkan sesuai dengan peraturan Perudang-undangan.
- Jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri tidak otomastis dikreditkan seluruhnya dengan PPh yang terutang di dalam
negeri.
Kredit pajak luar negeri maksimal sama dengan pajak yang dibayar di luar negeri tapi tidak boleh lebih tinggi dari rumus :
PhLN
----------- x Pajak terutang
PKP
- Contoh 2 b. di negara Y, memperoleh penghasilan (laba) Rp.
PT SUKSES di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 3.000.000.000,-dengan tarif pajak sebesar 25% (Rp.
2009 sebagai berikut : 750.000.000,-)
a. di negara X, memperoleh penghasilan (laba) Rp. 1.000.000.000,- c. di negara Z, menderita kerugian Rp. 2.500.000.000,-
dengan tarif pajak sebesar 40% (Rp. 400.000.000,-) d. Di dalam negeri memperoleh labaRp. 4.000.000.000,-

Penghitungan kredit pajak luar negeri adalah sebagai berikut : c. Laba di negara Z Rp. Nihil
1.Penghasilan Luar Negeri : Jumlah penghasilan luar negeri Rp. 4.000.000.000,-
a. Laba di negara X Rp. 1.000.000.000,- 2. Penghasilan Dalam Negeri : Rp. 4.000.000.000,-
b. Laba di negara Y Rp. 3.000.000.000,- Total Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. 8.000.000.000,-
2. Contoh 2
PT SUKSES di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2009 sebagai berikut :
a. di negara X, memperoleh penghasilan (laba) Rp.1.000.000.000,-
dengan tarif pajak sebesar 40% (Rp. 400.000.000,-)
b.di negara Y, memperoleh penghasilan (laba) Rp.3.000.000.000,-
dengan tarif pajak sebesar 25% (Rp. 750.000.000,-)
c.di negara Z, menderita kerugian Rp.2.500.000.000,-
d.Di dalam negeri memperoleh laba Rp. 4.000.000.000,-
Penghitungan kredit pajak luar negeri adalah sebagai berikut :
1. Penghasilan Luar Negeri :
a. Laba di negara X Rp. 1.000.000.000,-
b. Laba di negara Y Rp. 3.000.000.000,-
c. Laba di negara Z Rp. Nihil
Jumlah penghasilan luar negeri Rp. 4.000.000.000,-
2. Penghasilan Dalam Negeri : Rp. 4.000.000.000,-
Total Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. 8.000.000.000,-
PPh Terutang (tarif pasal 17 yang berlaku 1 Januari 2009 adalah 28% dan tahun 2010 adalah 25%)
= 28% x Rp. 8.000.000.000,- Rp. 2.240.000.000,-
Batas maksimum kredit pajak luar negeri untuk masing-masing negara adalah :
a. Untuk negara X
Rp. 1.000.000.000,-
= ------------------------ x Rp. 2.240.000.000 = Rp. 280.000.000,-
Rp. 8.000.000.000,-
Pajak yg terutang di negara X sebesar Rp. 400.000.000,- namun maks.
kredit pajak yg dpt dikreditkan adalah Rp. 280.000.000,-
b. Untuk negara Y
Rp. 3.000.000.000,-
= ------------------------ x Rp. 2.240.000.000 = Rp. 840.000.000,-
Rp. 8.000.000.000,-
Pajak yg terutang di negara Y sebesar Rp. 750.000.000,- maka maks.
kredit pajak yg dpt dikreditkan adalah Rp. 750.000.000,-
3. Contoh 3 :
PT ARVA perusahaan dalam negeri, pada tahun 2009 mendapatkan penghasilan netto dalam negeri sebesar Rp. 100.000.000,-, selain itu
perusahaan melakukan penyertaan saham di luar negeri yang pada tahun 2009 memperoleh penghasilan berupa deviden sebesar Rp.
40.000.000,-. Pajak atas deviden tersebut sebesar 30%. (12.000.000)
Total Penghasilan Kena Pajak :
Penghasilan Netto Dalam Negeri Rp. 100.000.000,-
Penghasilan Netto Luar Negeri Rp. 40.000.000,-
Penghasilan Kena Pajak Rp. 140.000.000,-
Pajak terutang (tarif ps 17/2009) dalam negeri
28% x Rp. 140.000.000,- = Rp. 39.200.000,-
Pajak deviden di luar negeri
30% x Rp. 40.000.000,- = Rp. 12.000.000,-
Kredit pajak deviden maksimal Rp. 12.000.000,- tetapi tidak boleh Rp. 40.000.000,-
Lebih tinggi dari rumus. -------------------------- x Rp. 39.200.000,- = Rp. 11.200.000,-
Penghasilan Netto Rp. 140.000.000,-
---------------------------------- x Pajak Terutang Maka pajak terutang di Indonesia :
Penghasilan Kena Pajak Rp. 39.200.000,- - Rp. 11.200.000,- = Rp. 28.000.000,

4. Contoh 4
Tn. Oskar dengan status belum menikah, memperoleh penghasilan dalam negeri Rp. 300.000.000,- dan memperoleh penghasilan dari LN
sebesar Rp. 95.000.000,- dengan tarif pajak LN 25%.
PKP = (PhDN + PhLN) – PTKP
(Rp. 300.000.000 + Rp. 95.000.000) – Rp. 15.840.000 = Rp. 379.160.000,-
Pajak Terutang : 5% x Rp. 50.000.000 = Rp. 2.500.000,-
15% x Rp. 200.000.000 = Rp. 30.000.000,-
25% x Rp. 129.000.000 = Rp. 32.290.000,-
Jumlah Pajak Terutang = Rp. 64.790.000,-
PPh Neto LN 25% x 95.000.000 = Rp. 23.750.000,-
Rp. 95.000.000
Batas Mak Kredit = ---------------------- x Rp. 64.790.000 = Rp. 16.233.300,-
Rp. 379.160.000
PPh terutang DN = Rp. 64.790.000 – Rp. 16.233.300 = Rp. 192.333.400,-
-Tata Cara Pengkreditan Pajak Luar Negeri :
1. Contoh Kasus :
Tn. Anton (WPOP) status belum menikah, berdasarkan pembukuan d. Dipungut pajak 25% = Rp. 37.500.000
pada tahun 2013 memperoleh penghasilan dalam negeri sebesar Rp. e. Dari Malaysia mendapat kerugian sebesar Rp. 100.000.000
300.000.000,- dan hasil penyertaan saham di luar negeri memperoleh Hitunglah :
deviden sebagai berikut : a. Berapa pajak PPh 24 yang terhutang pada tahun 2013
a. Dari Singapura mendapat keuntungan sebesar Rp. 250.000.000 b. Berapa pajak LN yang dapat dikreditkan di Indonesia
b. Dipungut pajak 30% = Rp. 75.000.000 c. Berapa kurang bayar yang harus dilunasi
c. Dari Brunai mendapat keuntungan sebesar Rp. 150.000.000
Jawaban : Jumlah Penghasilan tahun 2013
1. Dari Dalam Negeri (Indoensia) = Rp. 300.000.000 Jumlah pajak terhutang tahun 2013 = Rp. 147.710.000
2. Dari Singapura keuntungan = Rp. 250.000.000 Berapa Pajak LN yang dapat dikreditkan :
3. Dari Brunei keuntungan = Rp. 150.000.000 Dari Singapura :
4. Dari Malaysia kerugian = Rp. Nihil (250.000.000 : 675.700.000) x 147.710.000 = Rp. 54.650.733
Total Penghasilan tahun 2013 = Rp. 700.000.000 Dari Brunei
PTKP 2013 Belum Menikah = Rp. 24.300.000 (150.000.000 : 675.700.000) x 147.710.000 = Rp. 32.790.440
Penghasilan Kena Pajak = Rp. 675.700.000 Dari Malaysia = Rp. Nihil
Berapa Pajak Terhutang tahun 2013 : Jumlah pajak LN yang dapat dikreditkan = Rp.
5 % x Rp. 50.000.000 Rp. 2.500.000 87.441.173
15% x Rp. 200.000.000 Rp. 30.000.000 Pajak Kurang Bayar :
25% x Rp. 250.000.000 Rp. 62.500.000 Rp. 147.710.000 – Rp. 87.441.173 = Rp. 60.268.827
30% x Rp. 175.700.000 Rp. 52.710.000 Catatan :
Jumlah pajak terhutang tahun 2013 = Rp. 147.710.000 Sebelum SPT dikirim terlebih dahulu PKB disetor dg menggunakan
Penghasilan Kena Pajak = Rp. 675.700.000 SSP
Pajak PenghasilanPasal 26 dan Pasal 25
A. PPh Pasal 26
PPh Pasal 26 adalah PPh yang dikenakan/dipotong atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh WP luar
negeri selain BUT di Indonesia.
 20% dari jumlah penghasilan bruto yang diterima/ diperoleh WP Luar Negeri berupa :
1. CONTOH 1 :
Suatu badan subjek pajak dalam negeri membayarkan royalti sebesar Rp. 100.000.000,00 kepada WP luar negeri, maka subjek pajak
dalam negeri tersebut berkewajiban untuk memotong PPh Pasal 26 sebesar:20% x Rp. 100.000.000,- = Rp. 20.000.000,-
2. CONTOH 2 :
Seorang atlet luar negeri ikut lomba lari marathon di Indonesia dan kemudian merebut juara I, mendapatkan hadiah uang tunai sebesar
Rp. 150.000.000,- maka badan penyelenggara berkewajiban memotong PPh Pasal 26 sebesar:20% x Rp. 150.000.000,- = Rp.
30.000.000,-
 20% dari Perkiraan Penghasilan Neto berupa :
Contoh 1 : Contoh 2
PT ALADIN mengasuransikan bangunan perkantoran bertingkat PT ALADIN mengasuransikan kepada perusahaan asuransi di dalam
langsung ke perusahaan asuransi di luar negeri dengan membayar negeri yaitu PT BPM, dengan membayar jumlah premi yang sama
jumlah premi selama tahun 2013 sebesar 1 milyar. sebesar Rp. 1 milyar, dan kemudian PT BPM mereasuransikan
Besarnya Perkiraan Penghasilan Neto perusahaan asuransi luar sebagian polis asuransi kepada perusahaan asuransi luar negeri
negeri adalah : dengan mambayar premi sebesar Rp. 500 juta.
50% x Rp. 1 milyar = Rp. 500.000.000,- Maka besarnya Perkiraan Penghasilan Neto perusahaan asuransi di
Besarnya PPh Pasal 26 yang harus dipotong oleh PT ALADIN luar negeri adalah :
selama tahun 2013 adalah : 10% x Rp. 500 juta = Rp. 50.000.000.-
20% x Rp. 500.000.000,- = Rp. 100.000.000,- atau (10% x Rp. PPh Pasal 26 yang wajib dipotong oleh PT. BPM adalah :
1 M) 20% x Rp. 50 juta = Rp. 10.000.000,-
atau (2% x Rp. 500.000.000)
 20% dari Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak
PPh Pasal 26 unt. BUT = 20% x (PKP – PPh terutang)
Contoh : Penghasilan BUT setelah pajak Rp. 13.125.000.000
Penghasilan Kena Pajak bentuk usaha tetap di Indonesia dalam tahun PPh Pasal 26 yang terutang :
2013 sebesar Rp. 17.500.000.000 20% x Rp. 13.125.000.000 Rp. 2.625.000.000
Perhitungan PPh Pasal 26 sebagai berikut : Jumlah yg dpt dibawa ke LN Rp. 10.500.000.000
Penghasilan Kena Pajak Rp. 17.500.000.000 Jika penghasilan setelah pajak sebesar Rp 13.125.000.000tersebut
PPh BUT (berdasarkan tarif ps. 17) ditanamkan kembali di Indonesia. Berdasarkan peraturan Menkeu,
25% x Rp. 17.500.000.000 Rp. 4.375.000.000 penghasilan tsb. tidak dipotong pajak.
Contoh Soal 1 Sementara, apabila PT Abadi Berkarya mengikuti asuransi melalui
PT Abadi Berkarya memiliki perwakilan di luar negeri dan perusahaan yang ada di Indonesia, misal PT Asuransi Raya, dengan
mengasuransikan bangunan bertingkat ke PT ROXY yang membayar jumlah premi yang sama sebesar Rp 2 miliar. PT Asuransi
merupakan perusahaan asuransi di luar negeri dengan membayar Raya mengikutkan (reasuransi) perusahaan tersebut ke perusahaan
jumlah premi pada tahun 2015 sebesar Rp 2 miliar. Hitunglah PPh asuransi yang berada di luar negeri, misalnya PT ROXY, dengan
Pasal 26 dari PT Abadi Berkarya tahun 2015 ? membayar premi sebesar Rp 1miliar.
Jawaban: Maka ketentuan PPh Pasal 26 adalah sebagai berikut :
Penghitungan PPh Pasal 26 adalah sebagai berikut : Perkiraan penghasilan neto =
Perkiraan penghasilan neto = 50% x Rp 2.000.000.000 = Rp 10% x Rp1.000.000.000 = Rp100.000.000
1.000.000.000 PPh Pasal 26 PT Abadi Berkarya =
PPh Pasal 26 = 20% x Rp 1.000.000.000 = Rp 200.000.000 20% x Rp100.000.000 = Rp20.000.000

Contoh Soal 2
Aland Addison adalah seorang warga negara Inggris yang memiliki 25% saham atas PT Jayaraya Indonesia. Tahun ini Aland menjual
seluruh sahamnya senilai Rp. 8 miliar kepada Charles seorang warga negara Argentina. Asumsikan tidak ada P3B antara Indonesia dan
Argentina serta Inggris sehubungan dengan transaksi tersebut. Hitunglah PPh Pasal 26 dari transaksi tersebut?
Jawaban:
PPh Pasal 26 = 20% x 25% x Rp 8.000.000.000 = Rp 400.000.000 (bersifat final).
Menurut ketentuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 258/PMK.03/2008 tentang Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas
Penghasilan dari Penjualan atau Pengalihan Saham, maka penghasilan atas penjualan saham tersebut dikenakan pajak sebesar 20% dari
perkiraan Penghasilan Neto, sedangkan besarnya Penghasilan Neto adalah 25% dari Harga Jual.
Jika ada P3B antara negara yang terkait transaksi tersebut (penjual berstatus sebagai wajib pajak luar negeri), pemotongan PPh Pasal 26
hanya dilakukan apabila hak pemajakan berdasarkan P3B berada pada pihak Indonesia.
Penting bagi wajib pajak yang akan memotong pph pasal 26 kepada wajib pajak luar negeri untuk mengetahui apakah wajib pajak luar
negeri tersebut berasal dari negara yang mempunyai tax treaty atau P3B dengan Indonesia atau tidak. Sebab ketentuan tarif pajaknya akan
berbeda.
Contoh Soal 3
Seorang atlet dari China yang ikut mengambil bagian dari Contoh Soal 4
perlombaan lari maraton di Indonesia berhasil meraih juara dan Mike adalah karyawan asing pada perusahaan PT Dira Consulting.
memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp 100.000.000. Atas Mike tinggal di Indonesia kurang dari 183 hari. Mike sudah beristri
penghasilan dari hadiah tersebut dikenakan PPh Pasal 26. Hitunglah dan mempunyai seorang anak. Pada bulan april 2016 Mike
PPh Pasal 26 ? memperoleh gaji sebesar US$10.000 sebulan. Kurs yang berlaku
Jawaban: adalah Rp. 10.500,- per US$ 1. Hitunglah PPh Pasal 26?
PPh Pasal 26 = 20% x Rp 100.000.000 = Rp 20.000.000 Jawaban:
Maka, atas penghasilan yang diterima oleh atlet dari China tersebut Penghasilan bruto berupa gaji sebulan :
akan dipotong PPh Pasal 26 sebesar Rp 20.000.000. US$10.000 x Rp. 10.500 = Rp. 105.000.000
PPh Pasal 26 = 20% x Rp. 105.000.000 = Rp. 21.000.000
Jadi, PPh pasal 26 atas gaji Mike bulan April 2016 = Rp. 21.000.000
Contoh Soal 5
Penghasilan kena pajak bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia pada tahun 2015 sebesar Rp. 17.500.000.000. Pajak penghasilan yang harus
dibayarkan yaitu sebesar 25% x Rp. 17.500.000.000 = Rp 4.375.000.000. Penghasilan BUT setelah kena pajak yaitu sebesar Rp.
13.125.000.000. Hitunglah PPh Pasal 26 ?
Jawaban:
PPh Pasal 26 yang terutang =
20% x Rp. 13.125.000.000 = Rp. 2.625.000.000.
Apabila penghasilan setalah pajak sebesar Rp 13.125.000.000 tersebut ditanamkan kembali di Indonesia sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, maka atas penghasilan tersebut tidak dipotong pajak.
B. PPh Pasal 25
CONTOH : Penghitungan PPh Pasal 25 Untuk WP OP Berdasarkan laporan keuangan Tn. Sutrisno pada tahun 2012, Jumlah
Tn. Sutrisno seorang pengusaha (WP OP) berdasarkan SPT Tahunan PKP sebesar Rp. 450.000.000,-, dan jumlah Kredit pajak sbb. :
Tahun 2011 jumlah pajak terutang sebesar Rp.50.000.000,- PPh Pasal 21 Rp. 5.000.000,-
Tn. Sutrisno mempunyai kredit pajak : PPh Pasal 22 Rp. 2.500.000,-
a. PPh 21 Rp. 15.000.000,- atas gaji, upah, honor, tunjangan PPh Pasal 23 Rp. 7.500.000,-
b. PPh 22 Rp. 10.000.000,- atas penyerahan barang Jumlah kredit pajak Rp. 15.000.000,-
(impor/beli) Pertanyaan :
c. PPh 23 Rp. 2.500.000,- atas modal/jasa/kegiatan a. Berapa PPh yang terutang tahun 2012
d. PPh 24 Rp. 7.500.000,- atas pajak yg terutang di LN b. Berapa PPh kurang bayar tahun 2012
Jumlah kredit pajak Rp. 35.000.000,- c. Berapa jumlah angsuran PPh 25 tahun 2012 yang sudah
PPh kurang bayar Rp. 15.000.000,-(SSP) dibayar,
Besarnya PPh 25 yang harus dibayar sendiri setiap bulan pada tahun d. Berapa jumlah angsuran PPh 25 per bulan tahun 2013 yang
2012 adalah sebesar : harus dibayar.
Rp. 15.000.000 : 12 = Rp. 1.250.000 per bulan
PENYELESAIAN : Rp. 67.500.000 / 12 = Rp. 5.625.000,- per bulan
Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp. 450.000.000,- Penghitungan PPh Pasal 25 untuk Angsuran Masa Pajak
Tarif pasal 17 PPh OP : sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan oleh WP
5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,-Jika SPT Tahunan PPh disampaikan oleh WP pada bulan Maret 2012,
15% x Rp. 200.000.000,- = Rp. angsuran Pajak PPh Pasal 25 bulan Desember 2011 misalnya sebesar
30.000.000,- Rp. 1.000.000,-.
25% x Rp. 200.000.000,- = Rp. Maka besarnya angsuran Pajak PPh Pasal 25 yang harus dibayar WP
50.000.000,- untuk bulan Januari dan Pebruari 2012 masing-masing sebesar Rp.
PPh yang terutang tahun 2012 = Rp. 82.500.000,- 1.000.000,-
Kredit pajak tahun 2012 (ps. 21, 22, 23) = Rp. 15.000.000,- Dari contoh diatas, berapa angsuran yang harus dibayar bulan
PPh kurang bayar tahun 2012 = Rp. 67.500.000,- Januari dan Pebruari tahun 2013, dan berapa total angsuran PPh
Jumlah PPh 25 tahun 2012 yang diangsur mulai bulan Maret 2012 : 25 tahun 2013.
sejumlah : 10 x Rp 1.250.000,- = Rp. 12.500.000,- PPh 25 Januari & Pebruari 2013 masing2 Rp. 1.250.000,-
Besarnya angsuran PPh Pasal 25 tahun 2013 yang akan dibayar Total PPh 25 th 2013 (2 x 1.250.000) + (10 x 5.625.000)
oleh WP setiap bulan adalah sebesar :
Contoh :
Berdasarkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak 2009 yang disampaikan WP dalam bulan Maret 2010, perhitungan besarnya
angsuran pajak yang harus dibayar adalah sebesar Rp. 1.250.000,-. Dalam bulan Juni 2010 telah diterbitkan SKP tahun pajak 2009 yang
menghasilkan besarnya angsuran pajak setiap bulan sebesar Rp. 2.000.000,-
Berdasarkan ketentuan di atas, maka besarnya angsuran pajak mulai bulan Juli 2010 adalah sebesar Rp. 2.000.000,-.
Penetapan besarnya angsuran pajak berdasarkan SKP tersebut bisa sama, lebih besar atau lebih kecil dari angsuran pajak sebelumnya.
Angsuran PPh Pasal 25 Rp. 120.000.000,- - Rp. 30.000.000,- = Rp.
Dengan Adanya Kompensasi Kerugian 90.000.000,-
Penghasilan PT X tahun 2009 Rp. 120.000.000,- Pajak Penghasilan terutang :
Sisa kerugian tahun sebelumnya yang dapat 28% x Rp. 90.000.000,- = Rp. 25.200.000,-
Dikompensasikan Rp. 150.000.000,- Apabila pada tahun 2009 tidak ada perubahan Pajak Penghasilan,
Sisa kerugian yang belum dikompensasikan maka besarnya angsuran pajak bulanan PT X tahun 2010 adalah :
pada tahun 2009 Rp. 30.000.000,- Rp. 25.200.000,- : 12 Bulan = Rp. 2.100.000,-
Penghitungan PPh Pasal 25 tahun 2010 adalah :
Penghasilan yang dipakai dasar penghitungan :

Angsuran PPh Pasal 25 Menurut Laporan Keuangan WP Badan Tahun 2009 sbb :
Dengan Adanya Penghasilan Tidak Teratur Penghasilan Neto seluruhnya Rp. 500.000.000,-
Jumlah PPh Pasal 21, 22, dan 24 Rp. 51.250.000,- Pajak Penghasilan terutang :
Jumlah PPh Pasal 23 atas kontrak 2 bh 28% x Rp. 420.000.000,- = Rp. 117.600.000,-
mobil 2% x Rp. 80.000.000,- Rp. 1.600.000,- Jumlah PPh Pasal 21, 22, dan 24 Tahun
Penghitungan angsuran PPh 25 untuk tahun Pajak 2010 : Pajak 2010 (tidak termasuk PPh Pasal 23
Penghasilan Neto seluruhnya = Rp. 500.000.000,- atas kontrak 2 bh mobil) = Rp. 51.250.000,-
Penghasilan Neto tidak teratur = Rp. 80.000.000,- PPh kurang bayar = Rp. 66.350.000,-
Penghasilan Neto teratur/PKP = Rp. 420.000.000,- Angsuran PPh Pasal 25 Tahun Pajak 2010 adalah :
Penghasilan Kena Pajak = Rp. 420.000.000,- Rp. 66.350.000,- : 12 Bulan = Rp. 5.529.167,-
Angsuran PPh Pasal 25
Dengan Adanya Pembetulan SPT Tahunan
Yang Menyebabkan Angsuran Lebih dari Sebelumnya
Contoh :
Tn Robert menyampaikan SPT Tahunan thn. 2009 dengan PKP sebesar Rp. 550.000.000,- dan disampaikan tepat waktu 27
Maret 2010. Angsuran PPh Pasal 25 tahun 2009 adalah Rp. 5.000.000,-.
Tanggal 21 Mei 2010 Tn. Robert melakukan pembetulan SPT Tahunan Tahun 2009 dengan PKP yg sebenarnya sebesar Rp.
600.000.000,-.
Besarnya kredit pajak PPh Pasal 21, 22, 23 dan 24 adalah sebesar Rp. 36.500.000,-
Penghitungan PPh terutang Tn. Robert sebelum Penghitungan PPh terutang Tn. Robert saat Pembetulan
Pembetulan SPT : SPT :
Penghasilan Kena Pajak Orang Pribadi Rp. 550.000.000,- Penghasilan Kena Pajak Orang Pribadi Rp. 600.000.000,-
PPh Terutang : PPh Terutang :
5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,- 5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,-
15% x Rp. 200.000.000,- = Rp. 37.500.000,- 15% x Rp. 200.000.000,- = Rp. 37.500.000,-
25% x Rp. 250.000.000,- = Rp. 62.500.000,- 25% x Rp. 250.000.000,- = Rp. 62.500.000,-
30% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 15.000.000,- 30% x Rp. 100.000.000,- = Rp. 30.000.000,-
Jumlah PPh terutang Rp. 117.500.000,- Jumlah PPh terutang Rp. 132.500.000,-
Kredit Pajak : Kredit Pajak :
PPh Pasal 21, 22, 23, dan 24 Rp. 36.500.000,- PPh Pasal 21, 22, 23, dan 24 Rp. 36.500.000,-
PPh Kurang Bayar Rp. 81.000.000,- PPh Kurang Bayar Rp. 96.000.000,-
Angsuran PPh Pasal 25 tahun 2010 adalah : Angsuran PPh Pasal 25 tahun 2010 adalah :
Rp. 81.000.000 : 12 = Rp. 6.750.000,- Rp. 96.000.000 : 12 = Rp. 8.000.000,-
Pajak Pertambahan Nilai(PPN) dan Bea Meterai

Pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen.
Pertambahan Nilai/Nilai tambah :
penjumlahan unsur2 biaya dan laba dalam proses produksi/ distribusi barang/jasa
NILAI TAMBAH = HARGA JUAL – HARGA BELI
Contoh :
a. PKP A menjual BKP dengan Harga Jual Rp. 25.000.000,00.
PPN yang terutang = 10% x Rp. 25.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
PPN sebesar Rp. 2.500.000,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak A.
b. PKP B melakukan penyerahan JKP dengan memperoleh
Penggantian Rp. 20.000.000,00
PPN yang terutang = 10% x Rp 20.000.000,00 = Rp 2.000.000,00.
PPN sebesar Rp 2.000.000,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak B
c. Seseorang mengimpor BKP dari luar Daerah Pabean dengan Nilai Impor Rp 15.000.000,00.
PPN yang dipungut melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai = 10% x Rp 15.000.000,00 = Rp 1.500.000,00
d. PKP D melakukan ekspor BKP dengan Nilai Ekspor Rp 10.000.00,00.
PPN yang terutang 0% x Rp 10.000.000,00 = Rp 0,00
PPN sebesar Rp 0,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran
Kasus 1 : Belanja Barang seharga Rp 2.200.000 termasuk PPN.
Pertanyaan :
1. Berapa PPN dan PPh 22 nya ?
2. Berapa jumlah uang dalam kuitansi ?
3. Berapa uang yang diterima rekanan ?
Jawab :

Kasus 2 : Belanja Barang seharga Rp 2.200.000 belum termasuk PPN.


Pertanyaan :
1. Berapa PPN dan PPh 22 nya ?
2. Berapa jumlah uang dalam kuitansi ?
3. Berapa uang yang diterima rekanan ?

Kasus 3 : Belanja barang, rekanan minta bersih uang yang diterima sebesar Rp 2.200.000.
Pertanyaan :
1. Berapa PPh dan PPN nya ?
2. Berapa jumlah uang dalam kuitansi ?
3. Berapa uang yang diterima rekanan ?
Latihan PPN
Kasus
PT. Munirah adalah PKP yang bergerak di bidang penjualan alat elektronik di Makassar. Selama bulan Juli 2014 melakukan transaksi
sebagai berikut :
1. Penjualan langsung ke konsumen sebanyak Rp. 1.400.000.000
2. Penyerahan barang elektronik kepada Pemkot Makassar sebesar
Rp. 440.000.000 (sudah termasuk PPN)
3. Menyumbangkan ke panti asuhan 1 buah TV seharga Rp. 4.000.000 termasuk keuntungan sebesar Rp. 400.000
4. Membangun gudang elektronik seluas 500 meter persegi di kawasan pergudangan sendiri Rp. 350.000.000
Pada bulan Juli terdapat transaksi tambahan sebagai berikut :
5. Mengimpor barang elektronik dari amerika seharga US$ 100.000; Asuransi US$ 1.000; ongkos angkut ke Makassar US$ 2.000. bea
masuk sebesar 10% dari CIF dan bea masuk tambahan sebesar 4% dari CIF (importir belum memiliki API; diasumsikan kurs per 1US$ =
Rp. 7.200)
6. Membeli sebuah mobil box pengangkut barang seharga Rp. 220.000.000; dan
7. Membeli sebuah mobil sedan untuk direktur sebesar Rp. 330.000.000 (harga kedua kendaraan tersebut sudah termasuk PPN)
Diminta :
Hitung PPN atas transaksi di atas
Berapakah PPN yang harus disetor ?
Catatan :
1. DPP membangun sendiri adalah 20% dari jumlah total harga yang dikeluarkan.
2. Pembelian barang yang tidak ada hubungan dengan keperluan perusahaan PPN-nya tidak dapat dikreditkan
3. Untuk menghitung PPN harus diketahui terlebih dahulu DPP
4. Nilai Impor sama dengan DPP

Penyelesaian
1. Penjualan langsung ke konsumen sebanyak Rp. 1.400.000.000
PPN = 10% x 1.400.000.000
= Rp. 140.000.000 (PPN keluaran)
2. Penyerahan barang elektronik kepada Pemkot Makassar sebesar
Rp. 440.000.000 (sudah termasuk PPN)
DPP = 100/110 x 440.000.000 = Rp. 400.000.000
PPN = 10% x 400.000.000
= Rp. 40.000.000 (PPN Keluaran)
3. Menyumbangkan ke panti asuhan 1 buah TV seharga Rp. 4.000.000 termasuk keuntungan sebesar Rp. 400.000
DPP = 4.000.000 – 400.000 = Rp. 3.600.000
PPN = 10% x 3.600.000
= Rp. 360.000 (PPN keluaran)
4. Membangun gudang elektronik seluas 500 meter persegi di kawasan pergudangan sendiri Rp. 350.000.000
DPP = 20% x 350.000.000 = Rp. 70.000.000
PPN = 10% x 70.000.000
= Rp. 7.000.000 (PPN keluaran)
Transaksi Tambahan Juli
5. Cost = US$ 100.000 x Rp. 7.200 = Rp. 720.000.000
Insurance = US$ 1.000 x Rp. 7.200 = Rp. 7. 200.000
Freight = US$ 2.000 x Rp. 7.200 = Rp 14.400.000
Total CIF (cost + insurance + freight) = Rp. 741.600.000
Bea masuk (10% dari CIF) = Rp. 74.160.000
Bea masuk tambahan (4% dari CIF) = Rp. 29.664.000
NI (CIF+bea masuk+bea tambahan) = Rp. 845.424.000
PPN = 10% x Nilai impor => 10% x 845.424.000
= Rp. 84. 542 400 (PPN masukan)
6. Pembelian mobil box untuk mengangkut barang
DPP = 100/110 x 220.000.000
= Rp. 200.000.000
PPN = 10% x 200.000.000
= Rp. 20.000.000 (PPN masukan)

7. Pembelian mobil sedan untuk direktur


DPP = 100/110 x 330.000.000
= Rp. 300.000.000
PPN = 10% x 300.000.000
= Rp. 30.000.000

Jika PPN keluaran > PPN masukan maka disebut : PPN kurang bayar.
Jika PPN keluaran < PPN masukan maka disebut : PPN lebih bayar.

Dalam kasus ini, PPN keluaran > PPN masukan maka :


PPN kurang bayar =
187.360.000 - 104.542.400 = Rp. 82.817.600

PPN yang harus disetor oleh PT. Munirah adalah


Rp. 82.817.600
PRAKTEK MENGHITUNG :
Pajak Penghasilan
Ps. 23, 24, 25, 26 dan PPN

1. Perhitungan PPh Pasal 22 atas Pembelian Barang


Pada bulan juli 2016, bendahara Dinas Pendidikan Kab. Banyumas melakukan kegiatan pembelian barang dengan menggunakan dana
APBD dan APBN dengan rincian sebagai berikut :
Tanggal 5 juli 2016, pembelian alat tulis kantor kepada CV Pena Anda (NPWP/NPPKP : 01.123.467.8-647.000) senilai Rp 1.650.000,-
Tanggal 10 juli 2016, pembelian meubel kantor kepada CV Indah Furniture (NPWP/NPPKP : 02.123.4.567.8-647.000) senilai Rp
4.730.000,-
Tanggal 20 juli 2016, pembelian printer kepada CV Mega Computer (NPWP/NPPKP : 03.123.456.7-647.000) senilai Rp 700.000,-
Jawab :
Atas pembelian tanggal 5 juli 2017
Belanja barang senilai Rp. 1.650.000,- (termasuk PPN)
DPP : 100/110 x Rp 1.650.000,- = Rp 1.500.000,-
PPN : 10% x Rp 1.500.000,- = Rp 150.000,-
Atas pembelian tanggal 10 juli 2017
Belanja barang senilai Rp. 4.730.000,- (termasuk PPN)
DPP : 100/110 x Rp 4.730.000,- = Rp 4.300.000,-
PPN : 10% x Rp 4.300.000,- = Rp 430.000,-
PPh psl 22 : 1,5% x Rp 4.300.000,- = Rp 64.500,-
Atas Pembelian tanggal 20 Juli 2017
Belanja barang senilai Rp. 700.000,-,
Bendahara tidak wajib memungut PPh Pasal 22 dan atau PPN-nya.
2. Perhitungan PPh Pasal 23 atas Dividen
SOAL :
PT ABCD, merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri sepatu dan beralamat di Jl. Terusan No.11, Jakarta Selatan.
PT ABCD telah memiliki NPWP 01.111.444.8-061.000.
Pada tanggal 10 Juli 2013, perusahaan membayar dividen tunai kepada pemegang saham yang sebelumnya telah diumumkan melalui
RUPS.
Berikut data yang diperlukan dalam pembayaran dividen tunai.

Catatan:
Untuk PT Perkasa dikategorikan menjadi non-objek pajak sebab % penyertaan modalnya lebih dari 25% dan untuk PT BNI (BUMN) juga
merupakan non-objek pajak karena merupakan badan usaha milik negara yang menjadi pengecualian dari objek pajak.
3. Perhitungan PPh Pasal 23 atas Dividen
Pada tanggal 10 Mei 2015, PT Dahlia mengumumkan akan membagikan dividen melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan
melakukan pembayaran dividen tunai kepada PT Melati sebesar Rp. 30.000.000 yang melakukan penyertaan modal sebesal 15%.
Jawab:
PPh Pasal 23 = 15% x Rp. 30.000.000 = Rp. 4.500.000
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu tgl. 31 Mei 2015
Saat penyetoran : paling lambat 10 Juni 2015
Saat pelaporan : paling lambat 20 Juni 2015
4. Perhitungan PPh Pasal 23 atas Royalti
Pada tanggal 2 Agustus 2014, PT Mawar membayar royalti kepada Tuan Zainudin sebagai penulis buku sebesar Rp. 50.000.000. Tuan
Zainudin telah mempunyai NPWP 01.444.888.2.987.000.
Jawab:
PPh Pasal 23 yang harus dipotong oleh PT Mawar adalah :
15% x Rp. 50.000.000 = Rp. 7.500.000
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu tgl 31 Agustus 2014
Saat penyetoran : paling lambat 10 September 2014
Saat pelaporan : paling lambat 20 September 2014
5. Perhitungan PPh Pasal 23 atas Bunga Obligasi
Pada tanggal 3 Januari 2015, PT Sejahtera melakukan pembayaran bunga obligasi kepada PT Damai Sentosa sebesar Rp. 75.000.000.
Obligasi tersebut tidak diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Jawab:
PPh Pasal 23 yang harus dipotong oleh PT Sejahtera adalah :
15% x Rp. 75.000.000 = Rp. 11.250.000
Saat terutang: akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu tgl 31 Januari 2015
Saat penyetoran: paling lambat 10 Februari 2015
Saat pelaporan: paling lambat 20 Februari 2015
6. Perhitungan PPh Pasal 23 atas Hadiah & Penghargaan
Pada tanggal 20 Maret 2012, PT Abadi memberikan hadiah perlombaan kepada PT Makmur sebagai juara umum lomba senam sehat
sebesar Rp. 150.000.000.
Jawab:
PPh Pasal 23 yang harus dipotong oleh PT Abadi adalah :
15% x Rp. 150.000.000 = Rp. 22.500.000
Saat terutang: akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu tgl 31 Maret 2012
Saat penyetoran: paling lambat 10 April 2012
Saat pelaporan: paling lambat 20 April 2012
7. Perhitungan PPh Pasal 23 atas Jasa
PT Irama meminta jasa dari Pak Budi (mempunyai NPWP) untuk membuat sistem akuntansi perusahaan dengan imbalan sebesar Rp.
80.000.000.
Jawab:
PPh Pasal 23 yang harus dipotong oleh PT Irama adalah :
2% x Rp. 80.000.000 = Rp. 1.600.000
8. Perhitungan PPh Pasal 23 atas Jasa
PT Indoraya membayarkan jasa konsultan dari PT Nuansaraya sebesar
Rp. 120.000.000. PT Nuansaraya tidak mempunyai NPWP.
Jawab:
PPh Pasal 23 yang harus dipotong oleh PT Indoraya adalah :
200% x 2% x Rp. 120.000.000 = Rp. 4.800.000
9. Perhitungan PPh Pasal 23 atas Sewa
PT Karya Makmur membayar sewa kendaraaan bus pariwisata dengan nilai sewa sebesar Rp. 35.000.000 kepada Sugianto Haris.
Jawab:
PPh Pasal 23 yang harus dipotong oleh PT Karya Makmur adalah:
2% x Rp. 35.000.000 = Rp. 700.000
SOAL PPh 24
Tn. Sutrisno adalah WP OP status TK/0, selain sebagai pengusaha Tn. Sutrisno juga sebagai dosen tetap pada PTS di Purwokerto. Pada
tahun 2017 memperoleh penghasilan yang berasal dari dalam negeri (Indonesia) sebesar Rp. 635.000.000,-. Selain itu Tn. Sutrisno juga
menanam saham di luar negeri, deviden yang diperoleh dari luar negeri sebagai berikut : dari Malaysia sebesar Rp. 500.000.000,- dipotong
pajak deviden 25%, dari Singapura sebesar Rp. 255.000.000,- dipotong pajak deviden 30%. Tn. Sutrisno pada tahun yang sama memiliki
kredit pajak yang berasal dari PPh 21 sebesar Rp. 10.500.000, PPh 22 sebesar Rp. 15.000.000,- dan dari PPh 23 sebesar Rp. 7.500.000,-
Hitunglah :
Berapa PPh Tn. Sutrisno yang terhutang pada tahun 2017
Berapa PPh 24 untuk masing-masing pajak deviden yang dipotong di LN dapat dikreditkan di Indonesia.
Berapa kurang bayar yang harus dilunasi di Indonesia
Jawab :
PKP = (Ph DN + Ph LN) – PTKP
(635.000.000 + 500.000.000 + 225.000.000) – 54.000.000 = Rp. 1.306.000.000
1. PPh Tn Sutrisno yang terutang :
5% x 50.000.000 = 2.500.000
15% x 200.000.000 = 30.000.000
25% x 250.000.000 = 62.500.000
30% x 806.000.000 = 241800000
Pajak terutang = 336.800.000
2. PPh 24 atas pajak LN yang dapat dikreditkan
a. Dipotong di Malaysia = 25% x 500.000.000 = 125.000.000
Hasil Hitung = 500.000.000/1.306.000.000 x 336.800.000 = 128.943.000
b. Dipotong di Singapura = 30% x 255.000.000 = 76.500.000
Hasil Hitung = 500.000.000/1.306.000.000 x 336.800.000 = 65.761.000
3. Berapa pajak yang harus dibayar (kurang bayar) :
Rp. 336.800.000 – (125.000.000 + 65.761.000) = Rp. 146.039.000
SOAL PPN
CV. Central Elektrik beralamat di Kebondalem Purwokerto adalah PKP yang bergerak di bidang penjualan alat elektronik. Selama bulan
Juli 2017 melakukan transaksi sebagai berikut :
Tgl. 02-07-2017 melakukan penjualan secara langsung ke konsumen sebesar Rp. 650.000.000,-
Tgl. 04-07-2017 melakukan penyerahan barang elektronik kepada Pemda Banyumas
sebesar Rp. 540.000.000 (sudah termasuk PPN).
Tgl. 07-07-2017 menyumbang ke panti asuhan 1 buah pompa air seharga Rp. 3.500.000 termasuk keuntungan sebesar Rp. 350.000,-
Tgl. 09-07-2017 membangun gudang penyimpanan barang seluas 300 meter persegi di kawasan pergudangan sendiri menghabiskan
dana Rp. 250.000.000 (DPP 20%).
Tgl. 11-07-2017 mengimpor barang elektronik dari Korea seharga US$ 100.000; Asuransi US$ 1.000,-dan ongkos angkut ke
Purwokerto US$ 2.000,-. Bea masuk sebesar 10% dari CIF dan bea masuk tambahan sebesar 4% dari CIF. Diasumsikan kurs per 1US$ =
Rp. 11.200, (importir memiliki API).
Tgl. 16-07-2017 membeli sebuah mobil box pengangkut barang seharga Rp. 320.000.000; dan
Tgl. 20-07-2017 Membeli sebuah mobil sedan untuk istri pemilik perusahaan sebesar Rp. 630.000.000 (harga kedua kendaraan tersebut
sudah termasuk PPN)
Diminta :
Hitung PPN atas transaksi di atas
Berapa PPN Masukan dan PPN Keluaran
Apakah kurang bayar atau lebih bayar ?
Penyelesaian
1. Tgl. 02-07-2017 penjualan langsung ke konsumen sebesar Rp. 650.000.000,-
PPN = 10% x 650.000.000
= Rp. 65.000.000 (PPN keluaran)
2. Tgl. 04-07-2017 penyerahan barang elektronik kepada Pemda Banyumas
sebesar Rp. 540.000.000 (sudah termasuk PPN).
DPP = 100/110 x 540.000.000 = Rp. 490.909.000
PPN = 10% x 490.909.000
= Rp. 49.090.900 (PPN Keluaran)
Transaksi Tambahan Juli
5. Tgl. 11-07-2017 mengimpor barang elektronik dari Korea sebagai berikut :
Cost = US$ 100.000 x Rp. 11.200 = Rp. 1.120.000.000
Insurance = US$ 1.000 x Rp. 11.200 = Rp. 11.200.000
Freight = US$ 2.000 x Rp. 11.200 = Rp 22.400.000
Total CIF (cost + insurance + freight) = Rp. 1.153.600.000
Bea masuk (10% dari CIF) = Rp. 115.360.000
Bea masuk tambahan (4% dari CIF) = Rp. 46.144.000
NI (CIF+bea masuk+bea tambahan) = Rp. 1.315.104.000
PPN = 10% x Nilai impor => 10% x 1.315.104.000
= Rp. 131.510.400 (PPN masukan)
6. Tgl. 16-07-2017 membeli sebuah mobil box pengangkut barang seharga
Rp. 320.000.000 (termasuk PPN)
Pembelian mobil box untuk mengangkut barang
DPP = 100/110 x 320.000.000
= Rp. 290.909.000
PPN = 10% x 290.909.000
= Rp. 29.090.900 (PPN masukan)
7. Tgl. 20-07-2017 Membeli sebuah mobil sedan untuk istri pemilik perusahaan sebesar Rp. 630.000.000 (termasuk PPN)
DPP = 100/110 x 630.000.000
= Rp. 572.727.000
PPN = 10% x 572.727.000
= Rp. 57.272.700
Daftar PPN Masukan dan Keluaran

Jika PPN keluaran > PPN masukan maka disebut : PPN kurang bayar.
Jika PPN keluaran < PPN masukan maka disebut : PPN lebih bayar.
Dalam kasus ini, PPN keluaran < PPN masukan maka :
PPN lebih bayar = 160.601.300 - 119.405.900 = Rp. 41.195.400
PPN yang harus diminta kembali (Restitusi) oleh CV. Central Elektrik adalah Rp. 41.195.400
SOAL PPh 25
Berdasarkan laporan keuangan Tn. Sutrisno pada tahun 2014, Jumlah Pajak Terutang sebesar Rp. 250.000.000,-, dan jumlah Kredit pajak
sbb. :
PPh Pasal 21 Rp. 15.000.000,-
PPh Pasal 22 Rp. 32.500.000,-
PPh Pasal 23 Rp. 27.500.000,-
Jumlah kredit pajak Rp. 75.000.000,-
Diasumsikan PPh 25 tahun 2014 Rp. 2.000.000/bulan dan tahun 2013
Rp. 1.000.000/bulan
Pertanyaan :
Berapa PPh kurang bayar tahun 2014
Berapa jumlah angsuran PPh 25 tahun 2014 yang sudah dibayar,
Berapa jumlah angsuran PPh 25 per bulan tahun 2015 yang harus dibayar.
Jawab :
Jumlah Pajak Terutang Tahun 2014 = Rp. 250.000.000
Tn. Sutrisno mempunyai kredit pajak :
PPh Pasal 21 Rp. 15.000.000
PPh Pasal 22 Rp. 32.500.000
PPh Pasal 23 Rp. 27.500.000
Jml kredit pajak Rp. 75.000.000
Angsuran PPh 25* Rp. 22.000.000 Rp. 97.000.000
PPh kurang bayar Rp. 153.000.000 (SSP)
* (2 x 1.000.000) + (10 x 2.000.000) = Rp. 22.000.000
Besarnya PPh 25 yang harus dibayar sendiri setiap bulan pada tahun 2015 adalah sebesar :
Rp. 250.000.000 – Rp. 75.000.000 = Rp. 175.000.000
Rp. 175.000.000 : 12 = Rp. 14.583.000 per bulan
SOAL PPh 26
Salah satu BUT (Bentuk Usaha Tetap) yang berada di Indonesia mempunyai Penghasilan Kena Pajak (PKP) Tahun 2016 sebesar Rp.
15.350.000.000,- diasumsikan bahwa penghasilan tersebut setelah dikurangi pajak badan akan dibawa pulang ke negara asalnya.
Berapa PPh 26 yang harus dipotong di Indonesia
Penyelesaian :
Penghasilan Kena Pajak Rp. 15.350.000.000
PPh BUT (berdasarkan tarif ps. 17)
25% x Rp. 15.350.000.000 Rp. 3.837.500.000
Penghasilan BUT setelah pajak Rp. 11.512.500.000
PPh Pasal 26 yang terutang :
20% x Rp. 11.512.500.000 Rp. 2.302.500.000
Jumlah yg dpt dibawa ke LN Rp. 9.210.000.000