Anda di halaman 1dari 30

PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN

SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

BAB PENDEKATAN DAN


02 METODOLOGI PEKERJAAN

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 1


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Dalam melaksanakan pekerjaan ini, akan digunakan beberapa pendekatan perencanaan yang tepat agar
dapat menghasilkan konsep dan solusi desain yang sesuai dengan macam permasalahan dan kebutuhan
yang akan dipenuhi.

Dari rumusan pendekatan yang digunakan tersebut, maka nantinya akan dijabarkan ke dalam metodologi
pelaksanaan pekerjaan agar setiap kegiatan dapat dilaksanakan secara sistematis dan praktis, sehingga
tercapai sasaran efisiensi biaya, mutu dan waktu kerja.

Pada tahap selanjutnya, dari penjabaran setiap pentahapan secara runtut dalam metodologi pekerjaan
yang disusun, maka akan dapat dikembangkan dan disusun lebih rinci lagi program kerja, jadwal
pelaksanaan pekerjaan beserta organisasi pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan kaitan-kaitan pekerjaan
dan personil yang dibutuhkan sesuai tahapan masing-masing pekerjaan.

2.1. PENDEKATAN
Pendekatan dapat dikatakan merupakan alur berpikir sistematis yang sesuai dengan latar belakang,
maksud dan tujuan pekerjaan ini dilaksanakan.
Beberapa pendekatan yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini antara lain:
1. Pendekatan Ekologis
2. Pendekatan Budaya
3. Pendekatan Teknis
4. Pendekatan Sistem Perencanaan

2.1.1. Pendekatan Ekologis


Pendekatan ekologi dalam perancangan arsitektur lebih dikenal dengan Ecological design.
Dalam literatur disebutkan, Ecological design is bioclimatic design, design with the climate
of the locality, and low energy design.

Desain yang ekologis merupakan perencanaan berwawasan lingkungan yang


menekankan pada integrasi kondisi ekologi setempat, iklim makro dan mikro, kondisi
tapak, program bangunan, design dan sistem yang tanggap pada iklim, penggunan energi
yang rendah.

Mengenai proses perencanaannya sendiri diawali dengan upaya perancangan secara


pasif dengan mempertimbangkan bentuk, konfigurasi, façade, orientasi bangunan,
vegetasi, ventilasi alami, warna. Integrasi tersebut dapat tercapai melalui 3 tingkatan yaitu :

1. Integrasi fisik dengan karakter fisik ekologi setempat, meliputi keadaan tanah,

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 2


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

topografi, air tanah, vegetasi, iklim dan sebagainya;

2. Integrasi sistim-sistim dengan proses alam, meliputi: cara penggunaan air, pengolahan
dan pembuangan limbah cair, sistim pembuangan dari bangunan dan pelepasan panas
dari bangunan dan sebagainya;

3. Integrasi penggunaan sumber daya yang mencakup penggunaan sumber daya alam
yang berkelanjutan.

Pendekatan dan konsep rancangan arsitektur seperti ini diharapkan mampu melindungi
alam dan ekosistim didalamnya dari kerusakan yang lebih parah, dan juga dapat
menciptakan kenyamanan bagi penghuninya secara fisik, sosial dan ekonomi. Pendekatan
ekologi pada perancangan arsitektur, Heinz Frick (1998), berpendapat bahwa, eko-
arsitektur tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam arsitektur, karena tidak
ada sifat khas yang mengikat sebagai standar atau ukuran baku. Namun mencakup
keselarasan antara manusia dan alam. Eko-arsitektur mengandung juga dimensi waktu,
alam, sosio-kultural, ruang dan teknik bangunan. Ini menunjukan bahwa eko arsitektur
bersifat kompleks, padat dan vital. Eko-arsitektur mengandung bagianbagian arsitektur
biologis (kemanusiaan dan kesehatan), arsitektur surya, arsitektur bionik (teknik sipil dan
konstruksi bgi kesehatan), serta biologi pembangunan. Oleh karena itu eko arsitektur
adalah istilah holistik yang sangat luas dan mengandung semua bidang.

Gambar 2.1. Perbedaan Bangunan Biasa dengan Bangunan yang Bersifat Ekologis
Tujuan perancangan arsitektur melalui pendekatan ekologi adalah upaya ikut menjaga
keselarasan bangunan rancangan manusia dengan alam untuk jangka waktu yang
panjang. Keselarasan ini tercapai melalui kaitan dan kesatuan antara kondisi alam, waktu,
ruang dan kegiatan manusia yang menuntut perkembangan teknologi yang
mempertimbangkan nilai-nilai ekologi, dan merupakan suatu upaya yang berkelanjutan.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 3


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Beberapa hal dalam desain yang merupakan implementasi prinsip – prinsip ekologis yang
dapat diterapkan dalam perencanaan bangunan antara lain :

a. Memaksimalkan pencahayaan alami dalam bangunan untuk mengurangi


ketergantungan pada energi listrik untuk pencahayaan buatan dengan lampu di dalam
gedung.

Gambar 2.2. Penggunaan Sky Light pada Atap untuk Memaksimalkan Pencahayaan Alami di
Dalam Depo pada Siang Hari Sehingga Dapat Menghemat Energi Listrik yang
Digunakan
b. Memaksimalkan sirkulasi udara alami dari luar untuk dapat mengalir ke dalam
bangunan gedung untuk kemudian mengalir ke luar bangunan. Sehingga ruang dalam
bangunan gedung, khususnya area Workshop Perawatan, tidak menjadi panas serta
pertukaran udara pun akan menjadi lancar.

Gambar 2.3. Penerapan system Stack Effect dapat digunakan untuk udara mengalir memasuki
bangunan

2.1.2. Pendekatan Budaya


Perancangan bangunan Tempat Penyimpanan Sarana Milik Negara ini perlu
memperhatikan dan mengacu pada nafas dan ciri khas budaya setempat di sekitar lokasi,
untuk kemudian diimplementasikan dalam wujud maupun wajah bangunan. Dengan
pendekatan ini diharapkan wujud dan wajah arsitektur bangunan Depo Tempat
Penyimpanan Sarana Milik Negara akan dapat memperkaya khasanah desain arsitektural

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 4


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

lokal dan nasional yang mengeksplorasi elemen estetis tradisional yang menarik dan
mudah dikenali dan diterima sebagai “kosa kata arsitektur” unik.

Eksplorasi elemen arsitektural khas daerah lokasi perencanaan dapat mengambil wujud
bentuk elemen dan bagian bangunan-bangunan adat tradisional ataupun ornamentasi
serta ragam hias tradisional yang ada di Pulau Sumatera, khususnya di Provinsi Sumatera
Utara dan Sumatera Selatan, untuk dipadukan dan diterapkan dengan perancangan
bangunan utama maupun bangunan pendukung.

Gambar 2.4. Selain penerapan bentuk-bentuk atap tradisional‚ memunculkan nuansa nafas dan ciri
khas budaya local dapat dengan mengadopsi dan menerapkan ornamentasi unik khas
daerah pada fasad bangunan melalui penerapan teknologi pada material bangunan

2.1.3. Pendekatan Teknis

Dalam pelaksanaannya nanti, Perencanaan DED Tempat Penyimpanan Sarana Milik


Negara ini akan dilakukan pula dengan pendekatan teknis pada setiap aspek sarana dan
prasarana gedung yang akan dibangun, sesuai dengan standar dan persyaratan
pelayanan bangunan gedung negara. Diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Aspek Teknis Arsitektur Bangunan Gedung Depo Sarana Milik Negara

Bangunan utama DED Depo Tempat Penyimpanan Sarana Milik Negara


direncanakan sesuai standar teknis bangunan gedung negara yang telah dikeluarkan
oleh instansi yang berwenang, seperti Kementerian PUPR.

Bangunan gedung kantor utama DED Depo Sarana Milik Negara nantinya akan
direncanakan dengan mempertimbangkan pula segi estetika bangunan yang
menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitarnya maupun budaya lokal, serta
pemilihan dan penggunaan bahan dan material yang mudah dalam pemeliharaannya.

Untuk bangunan gedung sebagai tempat pemeliharaan, perawatan lokomotif, kereta


dan gerbong disesuaikan dengan memadukan arsitektur tradisional dengan arsitektur
modern dengan tetap mengutamakan aspek fungsional sebagai bangunan workshop.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 5


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

b. Aspek Teknis Struktur Bangunan Depo Sarana Milik Negara


Topografi dari lapangan dan daya dukung tanah merupakan besaran-besaran yang
akan mempengaruhi dimensi, beton bertulang dan banyaknya tulangan baja yang
diperlukan sehingga bangunan menjadi handal dan fungsional. Untuk itu diperlukan
soil investigation, mencakup kondisi tanah, jenis tanah dan daya dukung tanah. Selain
itu juga dipertimbangkan juga dampak lingkungan, seperti kebisingan, getaran dan
kebersihan lingkungan. Pemilihan tipe pondasi akan dipilih tipe yang ramah
lingkungan.

Keadaan tanah juga mempengaruhi metode konstruksi. Berdasarkan hasil rancangan


rinci (detail design), metode konstruksi dan volume pekerjaan akan disiapkan
Rancangan Anggaran Biaya (Estimasi biaya konstruksi).

Selain itu untuk bangunan gedung sebagai tempat pemeliharaan, perawatan


lokomotif, kereta dan gerbong menggunakan gabungan struktur, karena bentang dan
luas tempat perawatan sarana – sarana tersebut sangat besar. Demikian juga dengan
kebutuhan khusus peralatan – peralatan berat yang diperlukan nantinya dalam proses
perawatan maupun perbaikan akan diperhitungkan dan dijadikan pertimbangan
khusus pula untuk penentuan dimensi dan daya dukung tidak hanya pondasi namun
juga kolom baja‚ balok Tie beam‚ pelat lantai beton maupun juga tiang-tiang
penyangga rel pada desain sepur kolong.

Beberapa peraturan teknis yang berlaku digunakan untuk mengantisipasi berbagai


potensi permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan konstruksi struktur bangunan:

1) Peraturan dan pedoman yang berlaku.

 SKSNI 1991 tentang Pedoman Beton Bertulang


 NI-2.1971 Peraturan Beton Bertulang Indonesia
 NI-3.1970 Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia
 NI-5.1961 Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia
 NI-8. Peraturan Cement Portlanda Indonesia
 NI-18.1983 Peraturan Pembebanan Indonesia
 Peraturan Pembebanan Untuk Gedung 1983.
 Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Untuk Gedung
 Peraturan Konstruksi Baja
 Peraturan lain dan Peraturan Pemerintah Daerah setempat.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 6


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

2) Pembebanan.

 Beban Vertikal
Sesuai Peraturan Pembebanan Untuk Gedung 1983, maka beban mati sesuai
dengan bahan atau peralatan yang dipakai dan didukung, seperti Hydraulic
Jacking‚ Over Head Crane‚ Fork Lift maupun beban dari Sarananya sendiri.
Sedangkan beban hidup disesuaikan dengan fungsi bangunan.

 Beban Horizontal
Berupa beban gempa menurut Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Untuk
Gedung yang disesuaikan dengan lokasi.
Dari Peta Indeks Rawan Bencana yang dikeluarkan oleh BNPB‚ lokasi
perencanaan di Kabupaten Labuhan Batu Provinsi Sumatera Utara tergolong
masuk ke Zona Kerawanan Sedang/Moderat. Sedangkan untuk lokasi yang
direncanakan di Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan masuk ke
dalam Zona Kerawanan Tinggi/High karena terdapat patahan.

Gambar 2.5. Peta Indeks Rawan Bencana BNPB untuk Provinsi Sumatera Utara

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 7


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Gambar 2.6. Peta Indeks Rawan Bencana BNPB untuk Provinsi Sumatera Selatan

c. Aspek Utilitas Bangunan Depo Sarana Milik Negara


Aspek utilitas bangunan gedung mencakup sistem Mekanikal Elektrik dan Plumbing,
yang direncanakan dengan menerjemahkan kebutuhan layanan utilitas pada
bangunan utama Depo maupun lingkungan site secara keseluruhan. Untuk itu
berdasarkan diperlukan kriteria perencanaan yang akan disusun berdasarkan
merupakan terjemahan dari :
 Perilaku dan kegiatan dari pemakai bangunan
 Tujuan penggunaan bangunan
 Persyaratan Pemerintah
 Peraturan teknis yang berlaku

d. Aspek Teknis Jaringan Jalan/ Sirkulasi Kendaraan


Sistem Sirkulasi kendaraan yang masuk ke dalam Area Depo Sarana Milik Negara
disesuaikan dengan dua hal :
 Jalan kendaraan harus pada jalan utama/ main line
 Letak parkir kendaraan

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 8


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

 Letak dan Tata Sirkulasi kendaraan masuk, parkir dan keluar


Konsep pengembangan sistem sirkuasi ini ditekankan pula pada masalah pergerakan
kendaraan (jaringan jalan) dan masalah pejalan kaki (jalur pedestrian).

2.1.4. Pendekatan Sistem Perencanaan


Merancang (Designing) suatu bangunan gedung dengan Pendekatan Sistem Perencanaan
adalah merancang dengan cara melihat bahwa bangunan yang akan dibangun merupakan
suatu sistem yang terkoneksi dan terpadu. Cara ini dikembangkan untuk memecahkan
suatu masalah yang kompleks menjadi kerangka-kerangka yang jelas.

Dalam bukunya, System Approach to Architecture, Benjamin Handler, menganggap bahwa


bangunan adalah suatu sistem yang terdiri dari sub-sub system.

INPUT PROCESSING OUTPUT

FEEDBACK

Gambar 2.7. Kerangka dasar Pendekatan Sistem Perencanan

Sebagaimana Gambar 2.7. diatas, kerangka dasar tersebut untuk masing-masing sub
sistem akan mempengaruhi sub sistem lainnya seperti tahap perancangan akan
mempengaruhi tahap pelelangan, yang selanjutnya akan mempengaruhi tahap
pelaksanaan yang terkait satu sama lainnya.

INPUT PROCESS 1 OUTPUT

INPUT PROCESS 2 OUTPUT

INPUT
Gambar 2.8. Tahap Pelaksanaan Perencanaan

Dasar dari model diatas terlihat bahwa salah satu dari keunggulan perencanaan dengan
pendekatan sistem adalah "Output" suatu tahapan perancangan selalu menjadi "Input" dari

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 9


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

tahapan berikutnya dan dapat pula sebagai umpan balik (input) periksa kembali terhadap
proses sebelumnya, sehingga kesalahan yang timbul pada tahap sebelumnya akan selalu
termonitor.

Keunggulan lain dari metoda Pendekatan Perencanaan Sistem adalah karena dipecah
atas sub-sub sistem, maka sangat dimungkinkan untuk melaksanakan perencanaan
dengan Perencanaan Lintas Cepat (Fast Track Delivery Method Phase Design) di mana
perencanaan sub-sub sistem dapat dilakukan secara bersamaan tanpa saling menunggu.

Adapun dengan melakukan metode Perencanaan Lintas Cepat maka dapat menghasilkan:

a). Pelaksanaan penanganan pekerjaan yang dapat diatur sesuai dengan


kebutuhannya/tahapannya sehingga penghematan waktu dapat diperoleh.
Penghematan waktu perencanaan, berkaitan erat dengan kecepatan membangun
maupun dalam hal ini terbatasnya waktu kegiatan perencanaan. Dengan metoda
lintas cepat ini, pelaksanaan pekerjaan perancangan akan dilakukan secara bertahap
sesuai dengan disiplin ilmu yang berkaitan dan kebutuhan yang diperlukan oleh
pengguna jasa. Guna memonitor pengendalian waktu, digunakan "Barchart" dan
Network Planning" yang dibuat oleh Konsultan.

b). Produk dengan mutu/kualitas yang tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan secara
teknik, sehingga pengendalian mutu dapat dilakukan. Dengan menggunakan standar
dan pertimbangan sebagai contoh saat memutuskan untuk melakukan pemilihan
bahan yang mengutamakan kekuatan serta biaya pemeliharaannya kecil atau tidak
ada (Maintenance Free), fungsional, hemat energi dan cukup estetika atas biaya
yang ada, maka Konsultan Perancana dapat memutuskan bahan dan sistem yang
akan digunakan. Pengendalian mutu pada tahap Perancangan ini kemudian
ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)/Spesifikasi Teknis serta
dalam gambar-gambar keseluruhan.

c). Penggunaan dana yang dapat diatur sesuai dengan tahun anggarannya serta
penggunaan besarnya dapat dikendalikan (Pengendalian Biaya). Pengendalian biaya
pada tahap perancangan berkaitan erat dengan pengendalian mutu atau "Value
Engineering" yaitu suatu usaha Perancangan untuk mendapatkan keseimbangan
nilai-nilai dari komponen suatu produk dengan fungsi dari komponen tersebut untuk
mencapai fungsi pokok dari produk dengan biaya yang terkontrol. Dalam tahap
Perencanaan dan Persiapan proses pelelangan, Pemberi Tugas dan Konsultan

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 10


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Perancang mengadakan Evaluasi bersama. Hasil ini penting sebagai tolok ukur
dalam menganalisa nilai untuk perbandingan biaya dalam tahap pelelangan.

2.2. METODOLOGI PEKERJAAN DAN URAIAN DETAIL KELUARAN


Metodologi yang digunakan dalam pekerjaan Penyusunan DED Depo Sarana Milik Negara ini
secara prinsip terbagi menjadi dua kategori, yaitu:
1. Metode Perencanaan (Planning);
2. Metode Perancangan (Design).

2.2.1. Metode Perencanaan


Perencanaan (planning) merupakan suatu sarana untuk mentransformasikan persepsi-
persepsi mengenai kondisi-kondisi lingkungan ke dalam rencana yang berarti dan dapat
dilaksanakan dengan teratur. Perencanaan adalah sebuah proses untuk menetapkan
tindakan yang tepat di masa depan melalui pilihan-pilihan yang sistematik.

Perencanaan merupakan suatu proses menyusun konsepsi dasar suatu rencana yang
meliputi kegiatan-kegiatan :

1. Mengidentifikasi, komponen-komponen yang menunjang terhadap objek yang


merupakan kompleksitas fakta-fakta yang memiliki kontribusi terhadap kesatuan
pembangunan;

2. Mengadakan studi, mencari hubungan-hubungan dari faktor-faktor terkait yang


memiliki pengaruh spesifik;

3. Mendeterminasi, menentukan setepat mungkin faktor-faktor yang dominan dengan


memperhatikan kekhususan dari unit perubahan yang spesifik yang memberikan
perubahan terhadap faktor lain;

4. Memprediksi, bagaimana suatu faktor akan berubah sehingga mencapai keadaan


lebih baik di masa depan;

5. Melakukan Tindakan, terstruktur untuk mencapai tujuan pembangunan.

Hasil dari proses tersebut akan menciptakan suatu konsepsi berupa program yang
menjadi dasar atas kegiatan perancangan.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 11


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Gambar 2.9. Hubungan Antara Proses Kegiatan Merencana (Plan), Merancang (Design) dan
Menyusun Program (Programming)

Adapun proses transformasi dari perencanaan menjadi perancangan dipengaruhi oleh


aspek-aspek berikut:
1. Lokasi perencanaan;
2. Aktivitas kegiatan yang berlangsung pada bangunan yang direncanakan;
3. Biaya pelaksanaan pekerjaan;
4. Waktu pekerjaan pembangunan dilaksanakan;
5. Fasilitas, sarana dan prasarana;
6. Maksud dan tujuan pembangunan.

2.2.2. Metode Perancangan


Metode perancangan arsitektur adalah proses perancangan yang terjadi dalam rangka
menciptakan suatu karya arsitektur, di mana akan memperhatikan konteks permasalahan
perancangan yang dihadapi. Setiap kasus perancangan akan memerlukan proses
perancangan yang berbeda agar tujuan perancangan dapat dicapai.

Gambar 2.10. Proses Transformasi Konteks Permasalahan yang Disusun Menjadi Program
dan Solusi dalam bentuk Desain

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 12


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Dalam melaksanakan tugasnya, penyedia jasa sebagai konsultan perencana akan


menempatkan dirinya sebagai desainer bangunan, penyelaras proyek, koordinator proyek
konstruksi, teknisi lingkungan, spesialis untuk merancang dan menghasilkan sistem
komponen dan sistem struktur bangunan, serta menciptakan presentasi desain dengan
membawa suatu nilai tertentu bagi lingkungan binaannya. Sebagai penyelaras proyek,
Penyedia Jasa harus mampu menjadi penengah antar kebutuhan dan pilihan, sedangkan
sebagai koordinator dari proyek konstruksi seorang arsitek harus memiliki integritas
pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu untuk memberi satu solusi/pemecahan masalah.
Sebagai teknisi lingkungan seorang arsitek harus tahu bagaimana menyediakan atau
mewujudkan kondisi lingkungan yang sesuai dengan keinginan/ kebutuhan manusia.

Agar menghasilkan karya arsitektur yang sesuai dengan keinginan pemberi tugas, maka
diperlukan suatu persamaan persepsi antara arsitek dan pemberi tugas melalui pertukaran
informasi, data serta ide atau gagasan. Jika persamaan persepsi telah terbentuk, maka
tahap selanjutnya adalah mewujudkan keinginan pemberi tugas.

Adapun tahapan dalam proses perancangan dibagi sebagai berikut:

1. Asimilasi: mencakup pengumpulan, pengaturan informasi umum dan informasi


khusus yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi;

2. Studi umum: meliputi penyelidikan mengenai sifat masalah dan cara-cara


penyelesaiannya;

3. Pengembangan: yaitu tentang pengolahan yang menghasilkan pemecahan masalah;

4. Presentasi: proses penyampaian kepada para stakeholder ataupun pihak-pihak


terkait lainnya atas pemecahan masalah.

Dalam proses perancangan ini terlihat bahwa Konsultan Perencana dalam melakukan
metode perancangan akan diawali dengan proses pengumpulan informasi, menemukan
masalah, mempelajarinya, mencari pemecahannya dan kemudian menuangkannya ke
dalam suatu desain. Dan atas proses tersebut Konsultan Perencana perlu melakukan
presentasi agar terjadi komunikasi dua arah.

Tugas dan tanggungjawab Konsultan Perencana terkait dengan pelaksanaan kegiatan


perencanaan harus berpedoman kepada ketentuan yang berlaku, khususnya Pedoman
Teknis Pembangunan Gedung Negara, Keputusan Direktur Jenderal Cipta Karya Nomor.
295/KPTS/CK/1997, Tanggal 1 April, yang meliputi tugas-tugas perencanaan lingkungan,

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 13


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

rencana tapak bangunan/ site plan, pra rencana dan perencanaan detil/ DED fisik
bangunan sebagai gambar kerja, terdiri atas :

1. Persiapan perencanaan, seperti pengumpulan data dan informasi lapangan,membuat


tanggapan secara garis besar terhadap Kerangka Acuan Kerja (TOR) dan konsultasi
dengan pemberi pekerjaan (dalam hal ini pihak Direktorat Jenderal Perkeretaapian,
Kementerian Perhubungan) terkait dengan kebijakan dan peraturan serta perijinan
pendirian bangunan.

2. Penyusunan jenis dan kebutuhan ruang termasuk sarana prasarana sebagai


masukan untuk pembuatan rencana tapak termasuk program dan konsep ruang,
perkiraan biaya, perijinan, persyaratan bangunan dan lingkungan serta IMB.

a) Penyusunan rencana kegiatan, antara lain meliputi :

 Perencanaan Arsitektur dengan uraian konsep dan visualisasi untuk


kemudahan penilaian dan dimengerti oleh Pemberi Tugas

 Perencanaan Struktur dengan uraian konsep dan perhitungannya

 Perencanaan Utilitas dengan uraian konsep dan perhitungannya

 Mekanical dan electrical dengan uraian konsep dan perhitungannya

 Perencanaan Lanskaping dan infrastruktur dengan uraian konsep dan


perhitungannya

 Laporan akhir perencanaan

b) Penyusunan Rencana Detil, antara lain meliputi :

 Gambar detil Arsitektur (interior dan eksterior), Struktur, Utilitas termasuk


Lanskaping dan infrastruktur lainnya, sesuai dengan gambar rencana yang
sudah disetujui

 Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)

 Perhitungan volume pekerjaan, harga satuan, analisa harga satuan


pekerjaan serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) pelaksanaan konstruksi

 Rencana tahapan pembangunan

 Laporan akhir perencanaan

c) Kegiatan persiapan pelelangan, seperti membantu Penanggungjawab Kegiatan,

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 14


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan RI dalam


menyusun dokumen pelelangan dan membantu panitia pelelangan menyusun
program dan pelaksanaan kegiatan pelelangan.

d) Membantu panitia pelelangan pada waktu pelaksanaan kegiatan penjelasan


pekerjaan termasuk menyusun berita acara hasil penjelasan pekerjaan, evaluasi
penawaran harga dan menyusun kembali dokumen pelelangan serta
melaksanakan tugas yang sama apabila terjadi pelelangan pekerjaan ulang.

e) Menyusun buku petunjuk penggunaan peralatan bangunan dan perawatannya


termasuk yang menyangkut peralatan dan perlengkapan mekanikal dan elektrikal
bangunan

Dalam melaksanakan metode perancangan yang akan menghasilkan hasil desain yang
applicable dan buildable, maka Konsultan akan mengacu pada beberapa kriteria, baik
yang bersifat sebagai kriteria umum maupun kriteria khusus serta azas-azas yang terkait.
Berikut penjelasannya:

2.2.2.1. Kriteria Umum

Pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh Konsultan Perencanaan seperti yang


dimaksudkan dalam Kerangka Acuan Kerja/KAK ini harus memperhatikan kriteria
umum bangunan, disesuaikan berdasarkan fungsi dan kompleksitas bangunan
tersebut, seperti :

a. Persyaratan Peruntukan dan Intensitas

1) Menjamin bangunan/ gedung dibangun berdasarkan ketentuan tata ruang


dan tata bangunan yang sudah ditetapkan di daerah.

2) Menjamin bahwa bangunan/ gedung digunakan dan dimanfaatkan sesuai


dengan fungsinya, yaitu sebagai tempat menyimpan arsip dan ruang
serbaguna.

3) Menjamin keselamatan pengguna, masyarakat dan lingkungan

b. Persyaratan Arsitektur dan Lingkungan

1) Menjamin terwujudnya bangunan/ gedung yang didirikan berdasarkan


karakteristik lingkungan, ketentuan wujud bangunan serta sesuai dengan
fungsi bangunan/ gedung

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 15


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

2) Menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan


keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya
3) Menjamin bangunan/ gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan

c. Persyaratan Struktur Bangunan

1) Menjamin terwujudnya bangunan/ gedung yang dapat mendukung beban


yang timbul akibat perilaku manusia dan alam

2) Menjamin keselamat manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka


yang disebabkan oleh kegagalan/ kerusakan struktur bangunan

3) Menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda


yang diakibatkan oleh kegagalan/ kerusakan struktur

4) Menjamin perlindungan bangunan/ gedung atau hal lainnya dari


kerusakan fisik akibat dari kegagalan/ kerusakan struktur.

d. Persyaratan Ketahanan terhadap Kebakaran

1) Menjamin terwujudnya bangunan/ gedung yang dapat mendukung dan


tahan terhadap timbulnya kebakaran

2) Menjamin tersedianya sarana prasarana penanggulangan bahaya


kebakaran yang cukup dan memadai serta terjaga/ terpelihara dengan
baik

3) Menjamin terwujudnya bangunan/ gedung yang dibangun sedemikian


rupa sehingga mampu secara struktural dan stabil selama kebakaran
terjadi, sehingga :

 Cukup waktu untuk melakukan evakuasi secara umum

 Cukup waktu bagi petugas pemadam kebakaran memasuki lokasi


untuk memadamkan api

 Dapat menghindari kerusakan pada property lainnya

e. Persyaratan Pola Sirkulasi Dalam Gedung

1) Menjamin tersedianya ruang yang aman dan nyaman antar dan di dalam
gedung, berupa ruang untuk sirkulasi penghuni dan sirkulasi barang, hal

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 16


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

ini bisa berupa jalan/ koridor sebagai penghubung (sirkulasi horizontal),


termasuk tangga dan ramp bila diperlukan.
2) Menjamin adanya sarana sirkulasi bagi penyandang cacat, sehingga
aksesibilitas mereka terjamin dengan baik

3) Tersedianya pola sirkulasi yang baik, layak dan nyaman, adalah dengan
mengikuti standar dan aturan yang berlaku terkait dengan perencanaan
ruang dalam gedung.

f. Persyaratan Pencahayaan Darurat, Arah Lalu Lintas Keluar dan Sistem


Peringatan Bahaya

1) Menjamin adanya sumber cahaya yang bisa berfungsi dalam keadaan


darurat dan penerangan siang hari memaksimalkan pencahayaan alam.

2) Menjamin adanya peringatan dini di dalam bangunan/ gedung yang


informatif, apabila terjadi keadaan darurat

3) Menjamin penghuni melakukan evakuasi keluar gedung secara mudah


dalam keadaan darurat

g. Persyaratan Instalasi Listrik, Penangkal Petir dan Komunikasi

1) Menjamin tersedianya instalasi listrik yang cukup dan aman dalam


menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam dan di luar
bangunan/gedung sesuai dengan fungsinya

2) Menjamin terwujudnya keamanan bangunan/ gedung dan penghuninya


dari bahaya akibat adanya petir

3) Menjamin tersedianya suana komunikasi yang layak dan memadai dalam


menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan/ gedung
maupun dari dan ke lokasi bangunan/gedung sesuai dengan fungsinya

h. Persyaratan Mekanikal

1) Menjamin ketepatan aplikasi spesifikasi teknis peralatan mekanikal yang


direncanakan sebagai sarana utama

i. Persyaratan Sanitasi Dalam Bangunan/ Gedung

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 17


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

1) Menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang


terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan/ gedung sesuai dengan
fungsinya

2) Menjamin terwujudnya kebersihan, kesehatan dan memberikan


kenyamanan kepada penghuni bangunan dan lingkungannya

j. Persyaratan Ventilasi dan Pengkondisian Udara

1) Menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup baik alami maupun


buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam
bangunan/gedung sesuai dengan fungsinya

2) Menjamin adanya ventilasi yang cukup sebagai sarana bagi sirkulasi


udara alami (keluar masuknya udara dari lingkungan sekitar)

3) Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara


secara baik dan cukup (pengkondisian udara buatan)

k. Persyaratan Pencahayaan

1) Menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang baik dan cukup,


baik secara alami maupun buatan di dalam bangunan/ gedung

2) Menjamin terpenuhinya sarana bagi masuknya pencahayaan alami ke


dalam gedung dan tersedianya sarana pencahayaan buatan yang cukup
dan memadai, apabila pencahayaan alami tidak memadai dan tidak
berfungsi

l. Persyaratan Drainase

1) Menjamin tersedianya jaringan drainase disekitar bangunan/ gedung yang


cukup untuk menampung dan mengalirkan air permukaan ke jaringan
drainase bangunan/ gedung kemudian ke jaringan pembuangan yang
ada di luar bengunan/ gedung (saluran pembuang)

2) Menjamin terpeliharanya jaringan drainase, baik yang terbuka maupun


tertutup dan cukup serta memadai untuk menampung dan mengalirkan air
permukaan yang ada disekitar bangunan/ gedung ke saluran pembuang

m. Persyaratan Kebersihan Lingkungan

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 18


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

1) Menjamin tersedianya fasilitas penanggulangan, penampungan dan


pengelolaan sampah sederhana yang cukup, layak dan memadai
sehingga menjamin kesehatan, kebersihan dan kenyamanan bagi
penghuni dan lingkungan

2) Menjamin terpeliharanya fasilitas penanggulangan sampah secara baik.

2.2.2.2. Kriteria Khusus

Kriteria khusus dimaksudkan untuk memberikan syarat-syarat yang khusus,


spesifik terkait dengan bangunan/gedung yang akan direncanakan baik dari segi
fungsi, luas, jumlah dan bentuk bangunan serta segi teknis konstruksi fisik
bangunan, misalnya :

a. Luas dan bentuk bangunan/ gedung atas kesesuaiannya dengan


ketersediaan lahan serta lingkungan sekitarnya.

b. Keserasian perencanaan bentuk bangunan sesuai dengan fungsi dan jumlah


masa bangunan yang ada di sekitarnya, kaitannya dengan implementasi
penataan bangunan dan lingkungan sekitar.

c. Solusi dan batasan-batasan konstektual, seperti faktor sosial budaya


setempat, geografis, klimatologi‚ dan lain sebagainya.

2.2.2.3. Azas – Azas

Selain dari kriteria diatas, di dalam melaksanakan tugasnya konsultan perencana


akan menggunakan dan mengikuti azas-azas bangunan gedung negara sebagai
berikut :

a. Bangunan gedung negara hendaknya fungsional, efisien, menarik tetapi tidak


berlebihan.

b. Kreativitas desain hendaknya tidak ditekankan kepada ketahanan gaya dan


kemewahan penggunaan bahan bangunan, tetapi kepada kemampuan
mengadakan sublimasi antara fungsi teknis dan fungsi bangunan/ gedung,
terutama terhadap fungsi bangunan sebagai tempat penyimpanan dan
sekaligus perawatan dimana harus dihindari batasan-batasan yang dapat
mengganggu produktivitas kerja, biaya investasi dan pemeliharaan peralatan

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 19


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

khusus dalam bangunan sepanjang umurnya, yang hendaknya diusahakan


serendah mungkin.

c. Dalam melaksanakan tugasnya Konsultan Perencana harus


memperhitungkan bahwa waktu pelaksnaan pekerjaan adalah singkat, sudah
disepakati dan ditetapkan.

Selain kriteria dan azas di atas, perencanaan/ perancangan fisik bangunan d a l a m


l i n g k u p Depo Sarana Milik Negara juga didasarkan pada kriteria bangunan yang baik,
antara lain :

a. Berarsitektur yang baik dan representatif, dengan tujuan :

 Memberikan nilai positif pada konteks sosial

 Memperlihatkan komposisi yang baik

 Memberi nilai estetis baik eksternal maupun internal

 Merencanakan Depo Sarana Milik Negara sebagai icon positif dan memberikan
image khusus bagi Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal
Perkeretaapian selaku Pemilik Depo Sarana Milik Negara.

b. Sesuai dengan lingkungan

 Adaptif dan kontekstual terhadap lingkungan sebagai bagian dari sarana


prasarana perkeretaapian

 Sesuai dengan tapak dan persyaratan perencanaan tata kota dan wilayah pemda
setempat.

c. Mudah bagi pengguna, serta ramah lingkungan

 Main entrance yang jelas dan pintu masuk khusus yang mudah dilihat

 Entrance dan area penerima yang mengundang

 Jejalur yang sederhana, jelas dan mudah dikenali

 Ruang dalam yang menentramkan dengan pandangan ke arah luar

 Pencahayaan dan ventilasi alami yang mencakup semua bagian ruang

 Kenyamanan serta keamanan dan privasi aktivitas dalam Depo tidak


mengganggu lingkungan

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 20


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

d. Menciptakan dan membentuk lingkungan kerja yang aman dan nyaman

 Rancangan untuk keamanan dan kesehatan kerja

 Perencanaan evakuasi kebakaran yang baik

 Perencanaan kontrol keamanan

e. Akses yang mudah dicapai dan digunakan, bagi :

 Kendaraan pengangkut barang atau alat berat yang akan melakukan proses
loading unloading di Depo Sarana Milik Negara

 Kendaraan petugas maupun pegawai yang bertugas selama jam kerja ataupun
tamu pengunjung yang berkepentingan

 Akses untuk pejalan kaki

 Akses mudah untuk penyandang cacat

 Akses terpisah untuk suplai barang dan pembuangan sampah

f. Efisiensi untuk :

 Hubungan antar fungsi

 Pergerakan orang dan distribusi barang

 Penggunaan ruang

g. Memenuhi standar konstruksional

 Bahan bangunan dan finishing yang sesuai standar nasional, diutamakan


penggunaan produk dalam negeri

 Finishing yang mudah dan ekonomis dalam pemeliharaan

 Sistem jaringan yang terorganisasi dan mudah digunakan serta mudah


disesuaikan dengan kebutuhan masa datang

Untuk memenuhi kriteria-kriteria di atas, maka beberapa hal yang akan menjadi perhatian
utama dalam proses perancangan terutama dalam tahap analisis dan penyusunan
program rancangan antara lain :

a. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)

Berpedoman pada luas tapak yang diijinkan sesuai peraturan daerah setempat
maupun secara nasional. Dengan pertimbangan untuk tetap menyediakan ruang

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 21


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

terbuka hijau dalam rangka meningkatkan kenyamanan ruang dan lingkungan.


Pengembangan awal dilakukan dengan melakukan optimalisasi fungsi dan lahan, serta
penataan fungsi dan aktivitas yang sesuai dengan zonasi fungsi masing- masing
ruang dan unit bangunan. Lebih detail hal ini akan di lakukan dalam perencanaan fisik
bangunan.

b. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)

Koefisien Dasar Bangunan digunakan untuk menjaga agar angka ketertutupan


lahan tetap harus memadai dan memenuhi standar peraturan yang berlaku.
Kondisi tersebut berimplikasi secara langsung pada 2 hal yaitu ketersediaan
ruang terbuka serta kemampuan resapan air yang jatuh pada permukaan tanah.
Dengan melihat angka ketertutupan lahan pada area di sekitar site dan
mempertimbangkan aspek konservasi terhadap lingkungan sekitar maka
direkomendasikan koefisien dasar bangunan (KDB). Peletakan atau tata massa
bangunan ini diupayakan sedemikian rupa untuk kepentingan :

 Pasokan udara segar atau penghawaan alami.

 Pasokan sinar matahari atau pencahayaan alami.

 Kenyamanan aktivitas di dalam setiap ruangan.

 Keamanan sekaligus antisipasi pengamanan dari bahaya misalnya


kebakaran.

c. Garis Sempadan Bangunan (GSB)

Garis sempadan bangunan, merupakan spasi aman sebagai jarak dari bangunan
kearah jalan yang tidak boleh dilampaui oleh denah bangunan. Ruang yang
terbentuk dari jarak tersebut dipergunakan sebagai ruang transisi dari area
eksternal ke area internal Depo Sarana Milik Negara sekaligus sebagai ruang
hijau, area peresapan air hujan, area parkir dan jalur sirkulasi utama masuk dan
keluar site.

Adanya ruang terbuka di antara bangunan dan tepi jalan mutlak diperlukan. Hal
tersebut amat terkait dengan keamanan bangunan serta kenyamanan aktivitas
didalamnya hingga kepadatan sirkulasi orang dan kendaraan yang melaluinya tidak
menimbulkan gangguan.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 22


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

d. Orientasi Bangunan

Diupayakan secara ideal agar sinar matahari dapat optimal masuk ke dalam
bangunan. Adapun pengaturan kuantitas dan kualitas sinar matahari, karena
beberapa faktor kendala maupun persyaratan, dapat diatur melalui adanya:

 Teritisan/ overstek atap

 Plat luivel

 Selasar yang terlindung

 Kisi penahan sinar

 Pengaturan posisi dan kepadatan vegetasi

 Pengaturan dan ukuran pintu dan jendela

e. Lansekap dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Dalam peran fungsional dan ruang terbuka berfungsi sebagai :

 Pasokan udara segar atau penghawaan alami

 Pasokan sinar matahari atau pencahayaan alami

 Menunjang kenyamanan aktivitas di dalam setiap ruangan

 Sebagai ruang penyelamatan (building safety)

2.3. ALUR PENTAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Dengan mengacu pada pendekatan serta metode dan kriteria perencanaan dan perancangan yang
akan digunakan, maka perlu disusun alur pentahapan pelaksanaan pekerjaan yang akan menjadi
acuan dan pegangan bagi Konsultan dalam melaksanakan setiap tahapan proses pekerjaan dan
memastikan hasil keluaran yang akan dimunculkan dan dicapai dalam setiap tahapan.

Alur Pentahapan pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.11 berikut.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 23


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Rencana Teknis
Kebutuhan, Batasan dan Permintaan Masterplan/ Layout
Stakeholder :
Rinci Site/Tapak &
- Program Ruang Kantor dan Ruang Tapak Depo SMN Infrastruktur Depo
Penimbangan & Penunjang Pengembangan
- Pengembangan Sarpras Depo Rencana DED Tempat
- Kapasitas Peralatan yang akan
ditempatkan dan diwadahi dalam Perumusan Kriteria dan Konsep:
Penyimpanan SMN
bangunan Depo
Dokumen Gambar
- Skematik Tata Letak & Bentuk Utama
Massa Bangunan
Rencana Rinci dan Detil Setiap
- Konsep dan Skematik Tata
 Undang-Undang No.23 Tahun Aspek Bangunan & Infrastruktur :
Layout Ruang Tapak & Sirkulasi
2007 tentang Perkeretaapian - Rencana Jalur Rel,
 PP No.56 Tahun 2009 tentang - Visualisasi dan Simulasi persinyalan, wese & detil Dokumen Penunjang :
Penyelenggaraan Perkeretaapian lainnya
 Permenhub No. 18 Tahun 2019 - RAB
- Denah dan Tampak Setiap
tentang Standar Tempat Dan - Statical Calculation
Peralatan Perawatan Sarana Bangunan (Utama &
Perkeretaapian Pengumpulan Data Eksisting Site Penunjang) - Kelengkapan
(Survey Lanjutan) - Potongan dan Detil Bangunan Standar ME
- Topografi - Struktur Bangunan (Sub - Spesifikasi Standar
- Kondisi Daya Dukung Tanah (Sondir Structure dan Upper Structure) Bahan & Material
Survei Pendahuluan : dan Boring Dalam Test) - Rencana ME & Plumbing
Peninjauan Lokasi dan - Pengujian Tanah di laboratorium - Rencana IPAL
Pengumpulan Data Awal - Rencana STP
- Rencana Powerhouse
- Elemen Lansekap dan
 Studi Simulasi Layout Pendukung Tapak DOK.LENGKAP
Studi Kebijakan Lain Terkait : - Rencana Detil Drainase
Tapak Depo SMN DED DEPO
- Perpres atau Permen  Rekomendasi Lokasi
- RTRW, KDB & KLB SARANA MILIK
& Kebutuhan Lahan NEGARA
- Peraturan Daerah
- Keputusan Walikota/Gub.
TAHAP PERSIAPAN & TAHAP ANALISA & KONSEP RANCANGAN TAHAP PENGEMBANGAN TAHAP PENYUSUNAN
PENGUMPULAN DATA (1 Bln) (1,5 Bln) RANCANGAN (2 Bln) DED (1,5 Bln) Output :
Output : LAP.PENDAHULUAN Output : LAP. ANTARA Output : LAP. DRAFT FINAL LAP. AKHIR

Gambar 2.11. Diagram Alur Pentahapan Pelaksanaan Pekerjaan Studi DED Tempat Penyimpanan Sarana Milik Negara di Sumatera

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 24


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Secara garis besar metodologi yang meliputi tahapan pelaksanaan seperti dalam gambar di atas
dapat dijabarkan dan dijelaskan sebagai berikut :

2.3.1. Tahapan Persiapan dan Pengumpulan Data

Tahap persiapan bertujuan untuk menyiapkan tim, baik secara substansial maupun
administratif, untuk melaksanakan pekerjaan ini dan memenuhi tujuan dan keluaran yang
diharapkan. Kegiatan pada tahap ini meliputi:

 Penyusunan Rencana Kerja, yang meliputi penyempurnaan metodologi agar lebih rinci
dan operasional, dan penyempurnaan jadwal kerja untuk melengkapi dan
mensinkronkan tugas tenaga ahli dengan jadwal kerja.

 Desk study untuk mendapatkan gambaran awal wilayah studi. Pada tahap ini dikaji data
sekunder, seperti: informasi awal mengenai jalur trase utama kereta api di Pulau
Sumatera, khususnya untuk Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, termasuk titik letak
stasiun maupun tempat perawatan eksisting yang telah ada di wilayah yang menjadi
wilayah studi, serta studi terkait peta - peta yang relevan, seperti peta administrasi
wilayah, peta land system skala 1 : 100.000, peta geologi, dan peta-peta lain yang
relevan dan tersedia. Peta-peta tersebut digunakan untuk menyiapkan peta dasar untuk
kegiatan lapangan. Pada tahap ini, dilakukan pula penyusunan checklist data,
pengumpulan data sekunder, penyusunan daftar pertanyaan dan surat
pengantar/administrasi untuk pelaksanaan survey di lapangan.

 Kajian kebijakan dan aturan perundangan yang terkait dengan perkeretaapian sebagai
landasan hokum utama, khususnya yang berhubungan dengan perawatan dan
pemeliharaan sarana perkeretaapian.

 Mobilisasi tenaga ahli dan penjelasan kembali alokasi tugas tenaga ahli serta briefing
tahap awal.

Selain mempersiapkan Tim, dalam tahap ini akan dilakukan pula pengumpulan data, baik
data primer maupun sekunder.

a. Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan data primer adalah upaya pengumpulan data dan informasi melalui
peninjauan lapangan ke wilayah lokasi studi, yang mana sebelum dilakukan survei
terlebih dahulu dilakukan asistensi (disetujui) dengan tim teknis.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 25


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Survei primer ini dijadikan cross checking dan pengujian validitas dari data sekunder,
sehingga dapat dimungkinkan dapat diperoleh ketepatan informasi. Selanjutnya
dilakukan penyortiran data dan informasi, melalui koreksi dan pemilihan data yang
relevan. Kemudian data dan informasi melalui koreksi dan pemilihan data yang relevan
tersebut disusun menurut aspek-aspek bahasan melalui kegiatan tabulasi data, dan
untuk memberikan gambaran kondisi lokasi pada saat pelaksanaan survei dilakukan
pengambilan gambar (foto-foto).

b. Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan data dan informasi melalui survei ke
instansi atau lembaga lembaga yang terkait dengan kepentingan studi, baik dalam
bentuk laporan, rujukan maupun keterangan dari petugas instansi yang bersangkutan.

Untuk mempermudah dalam pengarahan pengumpulan data dan informasi, maka data
dan informasi tersebut akan disusun dalam suatu check list data. Untuk memperoleh
data sekunder dilaksanakan dengan menghubungi instansi-instansi yang memiliki
kepentingan dengan dengan studi ini.

Jenis Data yang Dikumpulkan

Jenis data yang dibutuhkan mengikuti lingkup kajian yang akan dilaksanakan. Jenis data
yang dikumpulkan meliputi data regional dan data kota, yang terdiri dari data
kebijaksanaan dan program pembangunan daerah, data fisik dasar, sarana dan
prasarana, data kependudukan, ekonomi, dan dokumen rencana sektoral, seperti:

 Rencana Tata Ruang Kota dan Tata Ruang Wilayah lokasi perencanaan serta
keterkaitannya dengan rencana pengembangan bangunan dan lingkungan di
wilayah lokasi perencanaan.

 Informasi tentang tingkat kebutuhan penanganan lokasi perencanaan antara lain


memuat tentang kemungkinan adanya aturan perlunya pengendalian yang ketat,
program pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan di dalam kawasan
perencanaan, kecenderungan pembangunan yang ada saat ini dan karakteristik
kawasan.

 Data lingkungan, antara lain akan mencakup data fisik bangunan dalam kawasan
perencanaan, data fisik lingkungan termasuk rincian mengenai kondisi alam kota
pada umumnya dan wilayah lokasi perencanaan khususnya.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 26


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

 Data operasi KA dan rencana pembangunan maupun pengembangan sarana


prasarana yang telah disusun oleh Balai Teknik Perkeretaapian di wilayah studi.

2.3.2. Tahap Analisis dan Penyusunan Konsep Rancangan

Tahap analisis bertujuan memahami kondisi unsur-unsur pembentuk tata ruang lingkungan
dan hubungan kausal antar unsur tersebut. Mendahului analisis, akan dilakukan survei
lanjutan ke lokasi perencanaan yang telah diputuskan titik letaknya dalam tahap
sebelumnya. Survei lanjutan ini akan menggali data primer yang bersifat teknis terkait
kondisi fisik eksisting dengan menggunakan beberapa metode yaitu pengukuran topografi,
sondir test, deep boring test dan pengujian sampel tanah di laboratorium. Secara lebih
lengkap kegiatan pada tahap ini meliputi:

a. Kompilasi dan tabulasi data, yaitu menstrukturkan data dalam klasifikasi dan kelompok-
kelompok tertentu dan menyusunnya dalam format-format tabel, gambar, grafik dan
tulisan yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk analisis (berdasarkan setiap aspek
kajian).

b. Menginterpretasi hasil perhitungan, peta, tabel, dan grafik yang telah distrukturkan dan
dihitung, untuk mendapatkan gambaran tentang struktur dan pola-pola hubungan yang
hendak digambarkan dan perkiraan perkembangannya ke depan.

c. Menganalisis data hasil kompilasi dan interpretasi hasil perhitungan yang dilakukan
untuk mendapatkan pertimbangan/konsideran dalam pengambilan keputusan konsep
desain yang akan ditetapkan.

Secara garis besar analisa data ini akan meliputi:

1) Analisis Topografi dan Hirologi

2) Analisis Geoteknik terhadap hasil Sondir dan Boring Test

3) Analisis data keadaan lokasi

 Analisis terhadap keadaan lokasi

 Analisis pencapaian lokasi

 Analisis situasi dan rencana tapak, meliputi:

- Analisis blok massa bangunan yang direncanakan.

- Analisis dan pembuatan alternatif rencana arsitektur

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 27


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

- Analisis rencana struktur konstruksi

- Analisis skematik sub sistem mekanikal dan elektrikal

- Analisis skematik utilitas bangunan

4) Analisis kebutuhan utilitas bangunan

 Air bersih

- Kebutuhan air bersih (sekarang dan proyeksi mendatang)

- Kebutuhan sanitasi

- Kebutuhan AC

- Kebutuhan pemadam kebakaran

- Sumber yang ada dan debitnya.

 Analisis sistem air hujan dan air buangan

 Analisis sistem pengolahan dan pembuangan air kotor dan limbah

d. Dari hasil analisa tersebut di atas maka ditindaklanjuti dengan penyusunan program
rancangan yang kemudian menjadi dasar disusun dan dirumuskannya Konsep dan
Masterplan Depo Sarana Milik Negara yang direncanakan.

2.3.3. Tahap Pengembangan Rancangan

Hasil yang diperoleh pada tahap di atas kemudian ditindaklanjuti dengan pengembangan
rancangan dari konsep dan masterplan yang telah disusun tersebut untuk menjadi acuan
penyusunan rencana detil teknis yang lebih rinci serta draft anggaran biaya dan spesifikasi
teknis yang relevan.

Pada Tahap ini akan dimunculkan :

a. Rencana Umum

Arahan dan wujud bangunan dan lingkungan yang mencakup:

1) Rencana peruntukan lahan mikro dan makro, termasuk rencana jalur masuk keluar
KA, rencana perpetakan dan rencana tapak.

2) Rencana wujud bangunan meliputi : ketinggian bangunan, kedalaman bangunan,


garis sempadan bangunan (GSB), KDB / KLB, gubahan masa, orientasi, bentuk
dasar, facade bangunan, dan bahan eksterior bangunan.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 28


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

3) Rencana sistem pergerakan / sirkulasi dan parkir kendaraan, baik untuk orang
maupun barang atau peralatan.

4) Rencana ruang terbuka (open space) pertamanan dan perkerasan jalan / pedestrian
termasuk di dalamnya perabot jalan (street furniture).

5) Rencana perletakkan sclupture sebagai nodes ruang luar atau RTH

6) Pendukung aktifitas dan kegiatan umum, termasuk di dalamnya keterpaduan


kegiatan yang direncanakan dalam kawasan perencanaan yang saling mendukung
dan melengkapi.

b. Rencana Pengembangan Detail

Arahan rencana detail dari elemen-elemen bangunan dan lingkungan yang bersifat
spesifik untuk masing-masing lingkungan, yaitu bangunan utama dan pendukung dalam
perencanaan Depo Sarana, detail dari rencana wujud bangunan, ruang terbuka, wujud
sclupture, rencana umum lainnya seperti facade bangunan, signage (tata informasi),
street furniture dan pedestrian.

2.3.4. Tahap Detail Engineering Design (DED)

Pada tahapan ini, secara khusus untuk perencanaan DED akan terbagi lagi menjadi
beberapa rencana detail antara lain :

 Finalisasi Rencana Jalur KA beserta prasarana pendukung utamanya seperti


persinyalan, wesel, dan sebagainya.

 Finalisasi Rencana arsitektur, beserta uraian konsep dan visualisasi atau dengan
perhitungan struktur harus ditandatangani oleh tenaga ahli yang mempunyai izin/
sertifikat keahlian.

 Finalisasi Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya.

 Finalisasi Rencana utilitas (mekanikal dan elektrikal) beserta uraian konsep dan
perhitungannya.

 Finalisasi perkiraan biaya yang lebih rinci

Pada tahap ini pula produk DED yang dihasilkan merupakan pedoman pelaksanaan
pembangunan di lapangan. Setiap gambar secara jelas mencantumkan notasi gambar,
hubungan antar pekerjaan sehingga mudah dibaca dan dimengerti.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 29


PEKERJAAN STUDI DED TEMPAT PENYIMPANAN
SARANA MILIK NEGARA DI SUMATERA TAHUN 2019

Gambar-gambar yang dihasilkan meliputi:

 Gambar kerja Layout Jalur beserta kelengkapan pendukung utamanya secara


keseluruhan

 Gambar kerja arsitektur lengkap dengan detail-detailnya.

 Gambar kerja struktur/kontruksi lengkap dengan detail-detailnya.

 Gambar kerja elektrikal lengkap dengan detail-detailnya.

 Gambar kerja mekanikal lengkap dengan detail-detailnya.

 Gambar kerja eksterior / lansekap lengkap dengan detail-detailnya.

 Sebagian detail sparing-sparing utilitas yang sesuai dengan gambar rencana yang telah
disetujui (semua gambar harus ditandatangani oleh penanggung jawab perusahaan dan
tenaga ahli yang mempunyai izin / sertifikat keahlian).
 Rencana Kerja dan Syarat-syarat
 Rincian volume pelaksanaan pekerjaan, Rencana Anggaran Biaya pekerjaan konstruksi
(EE).
 Laporan akhir perencanaan.

PT. KANTA KARYA UTAMA LAPORAN PENDAHULUAN II - 30