Anda di halaman 1dari 22

PENGKAJIAN KULTURAL DALAM ASUHAN KEPERAWATAN

PALLIATIF
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Palliatif
Dosen Pengampu : Ns. Happy Indri Hapsari., M.Kep

Disusun Oleh :
Kelompok 10
Ans Evi Irawati ST182004
Esti Coma ST182013
Monica Putri ST182022
Theresia Iswidaningrum ST182050
Yulia Rahmawati Supraba ST182053

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO perawatan paliatif (palliative care) merupakan
pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga
dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan masalah yang
mengancam jiwa, melalui pencegahan dan menghentikan penderitaan
dengan identifikasi dan penilaian dini, penangnanan nyeri dan masalah
lainnya, seperti fisik, psikologis, sosial dan spiritual (WHO, 2017).
Palliatif care berarti mengoptimalkan perawatan pasien dan keluarga
untuk meningkatkan kualitas hidup dengan mengantisipasi, mencegah,
dan mengobati penderitaan.
Pengaruh kebudayaan, tanpa disadari telah menanamkan garis
pengaruh sikap terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai
sikap anggota masyarakat, karena kebudayaanlah yang memberi corak
pengalaman individu-individu masyarakat. Sosial budaya merupakan
segala hal yang diciptakan oleh manusia dengan pikiran dan budinya
dalam kehidupan bermasyarakat.
Contoh lain, sosial budaya mempengaruhi kesehatan adalah
pandangan suatu masyarakat terhadap tindakan yang mereka lakukan
ketika mereka mengalami sakit, ini akan sangat dipengaruhi oleh budaya,
tradisi, dan kepercayaan yang ada dan tumbuh dalam masyarakat
tersebut. Misalnya masyarakat yang sangat mempercayai dukun yang
memiliki kekuatan gaib sebagai penyembuh ketika mereka sakit, dan
bayi yang menderita demam atau diare berarti pertanda bahwa bayi
tersebut akan pintar berjalan. Dari penjelasan diatas, rumusan masalah
dari makalah ini adalah “Bagaimana Pengkajian Kultural Dalam Asuhan
Keperawatan Palliatif?”
B. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini
yaitu:
Tujuan Umum:
Menjelaskan proses pengkajian kultural pada asuhan keperawatan pasien
paliatif
Tujuan Khusus:
1. Menjelaskan Tentang Keperawatan Palliatif
2. Menjelaskan Tentang Kebudayaan
3. Menjelaskan Kultural Dalam Keperawatan Palliatif
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Perawatan Palliatif (Palliative Care)


1. Pengertian
Perawatan Paliatif (Palliative Care) adalah perawatan yang
dilakukan secara aktif pada penderita yang sedang sekarat atau dalam
fase terminal akibat penyakit yang dideritanya. Pasien sudah tidak
memiliki respon terhadap terapi kuratif yang disebabkan oleh
keganasan ginekologis. Perawatan ini mencakup penderita serta
melibatkan keluarganya (Aziz, Witjaksono, & Rasjidi, 2010).
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan meningkatkan
kualitas hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam
menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara
meringankan penderitaan rasa sakit melalui identifikasi dini,
pengkajian yang sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta masalah
lainnya baik fisik, psikologis, sosial atau spiritual. (World Health
Organization (WHO) 2017). Palliative care meliputi seluruh rangkaian
penyakit melibatkan penanganan fisik, kebutuhan intelektual,
emosional, sosial dan spiritual untuk memfasilitasi otonomi pasien,
dan pilihan dalam kehidupan (Ferrell, 2015).
2. Prinsip Perawatan Palliatif (Palliatif Care)
Palliative care secara umum merupakan sebuah hal penting dan bagian
yang tidak terpisahkan dari praktek klinis dengan mengikuti prinsip
(Dahlin, 2015)::
a. Fokus perawatan terhadap kualitas hidup, termasuk kontrol gejala
yang tepat.
b. Pendekatan personal, termasuk pengalaman masa lalu dan kondisi
sekarang.
c. Peduli terhadap sesorang dengan penyakit lanjut termasuk keluarga
atau orang terdekatnya.
d. Peduli terhadap autonomy pasien dan pilihan untuk mendapat
rencana perawatan lanjut, eksplorasi harapan dan keinginan pasien.
e. Menerapkan komunikasi terbuka terhadap pasien atau keluarga
kepada profesional kesehatan
Menurut Arum (2011) prinsip dasar perawatan palliatif yaitu:
a. Sikap peduli terhadap pasien
Termasuk sensitivitas dan empati. Perlu dipertimbangkan segala
aspek dari penderitaan pasien, bukan hanya masalah kesehatan.
Pendekatan yang dilakukan tidakboleh bersifat menghakimi.
Faktor karakteristik, kepandaian, suku, agama atau faktor
individual lainnya tidak boleh mempengaruhi perawatan.
b. Menganggap pasien sebagai seorang individu
Setiap pasien adalah unik. Meskipun memiliki penyakit ataupun
gejala-gejala yang sama, namun tidak ada satu pasien pun yang
sama persis dengan pasien lainnya. Keunikan inilah yang harus
dipertimbangkan dalam merencanakan perawatan paliatif untuk
tiap individu.
c. Pertimbangan Kebudayaan
Faktor etnis, ras, agama dan faktor budaya lainnya bisa jadi
mempengaruhi penderiatan pasien. Perbedaan-perbedaan ini harus
diperhatikan dalam perencanaan perawatan.
d. Persetujuan
Persetujuan dari pasien adalah mutlak diperlukan sebelum
perawatan dimulai atau diakhiri. Mayoritas pasien ingin dilibatkan
dalam pengambilan keputusan, namun dokter cenderung untuk
meremehkan hal ini. Pasien yang telah diberi informasi memadai
dan setuju dengan perawatan yang diberikan akan lebih patuh
mengikuti segala usaha perawatan.
e. Pemilihan tempat dilakukannya perawatan
Untuk menentukan tempat perawatan, baik pasien dan keluarganya
harus ikut serta dalam diskusi ini.
f. Komunikasi
Komunikasi yang baik antar dokter dan pasien maupun dengan
keluarga adalah sangat penting dan mendasar dalam pelaksanaan
perawatan paliatif.
g. Aspek klinis : perawatan yang sesuai
Semua perawatan paliatif harus sesuai dengan stadium dan
proporis dari penyakit yang diderita pasien. Hal ini penting karena
pemberian perawatan yang tidak sesuai, baik itu lebih maupun
kurang, hanya akan menambah penderitaan pasien. Pemberian
perawatan yang berlebihan beresiko memberikan harapan palsu
kepada pasien.
Demikian juga perawatan yang dibawah standar akan
mengakibatkan kondisi pasien memburuk. Hal ini berhubungan
dengan masalah etika yang akan dibahas kemudian. Perawatan
yang diberikan hanya karena dokter merasa harus melakukan
sesuatu meskipun itu sia-sia adalah tidak etis.
h. Perawatan komprehensif dan terkoordinasi dari berbagai bidang
profesi
Perawatan paliatif memberikan perawatan yang bersifat holistik
clan integratif, sehingga dibutuhkan sebuah tim yang mencakup
keseluruhan aspek hidup pasien serta koordinasi yang baik dari
masing-masing anggota tim tersebut untuk memberikan hasil yang
maksimal kepada pasien dan keluarga.
i. Kualitas perawatan yang sebaik mungkin.
Perawatan medis secara konsisten, terkoordinasi, dan
berkelanjutan. Perawatan medis yang konsisten akan mengurangi
kemungkinan terjadinya perubahan kondisi yang tidak terduga,
dimana hal ini akan sangat mengganggu baik pasien maupun
keluarga.
j. Perawatan yang berkelanjutan
Pemberian perawatan simptomatis dan suportif dari awal hingga
akhir merupakan dasar tujuan dari perawatan paliatif. Masalah
yang sering terjadi adalah pasien dipindahkan dari satu tempat ke
tempat lain sehingga sulit untuk mempertahankan perawatan.
k. Mencegah terjadinya kegawatan
Perawatan paliatif yang baik mencakup perencanaan teliti untuk
mencegah terjadinya kegawatan fisik dan emosional yang mungkin
terjadi dalam perjalanan penyakit. Pasien dan keluarga harus
diberitahukan sebelumnya mengenai masalah-masalah yang sering
terjadi, dan membentuk rencana untuk meminimalisasi stress fisik
dan emosional.
l. Bantuan kepada sang perawat
Perawatan paliatif yang baik mencakup perencanaan teliti untuk
mencegah terjadinya kegawatan fisik dan emosional yang mungkin
terjadi dalam perjalanan penyakit. Pasien dan keluarga harus
diberitahukan sebelumnya mengenai masalah-masalah yang sering
terjadi, dan membentuk rencana untuk meminimalisasi stress fisik
dan emosional.
m. Pemeriksaan Ulang
Perlu terus dilakukan pemeriksaan mengenai kondisi pasien,
mengingat pasien dengan penyakit lanjut kondisinya akan
cenderung menurun dari waktu ke waktu.
3. Peran Dan Fungsi Perawat Dalam Palliatif Care
Dalam menjalankan peran dan fungsi perawat dalam palliative
care, perawat harus menghargai hak-hak pasien dalam menentukan
pilihan, memberikan kenyamanan pasien dan pasien merasa
bermartabat yang sudah tercermin didalam rencana asuhan
keperawatan. Perawat memiliki tanggung jawab mendasar untuk
mengontrol gejala dengan mengurangi penderitaan dan support yang
efektif sesuai kebutuhan pasien. Peran perawat sebagai pemberi
layanan palliative care harus didasarkan pada kompetensi perawat
yang sesuai kode etik keperawatan (Combs, et al.,2014). Hal-hal yang
berkaitan dengan pasien harus dikomunikasikan oleh perawat kepada
pasien dan keluarga yang merupakan standar asuhan keperawatan yang
profesional.
Menurut American Nurse Associatiuon Scope And Standart
Practice dalam (Margaret, 2013) perawat yang terintegrasi harus
mampu berkomuniasi dengan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan
lainnya mengenai perawatan pasien dan ikut berperan serta dalam
penyediaan perawatan tersebut dengan berkolaborasi dalam membuat
rencana yang berfokus pada hasil dan keputusan yang berhubungan
dengan perawatan dan pelayanan, mengindikasikan komunikasi
dengan pasien, keluarga dan yang lainnya.
4. Pedoman Perawatan Palliative
Berdasarkan National Consensus Project For Quality Palliative Care
(NCP, 2013) pedoman praktek klinis untuk perawat palliative dalam
meningkatkan kualitas pelayanan palliative terdiri dari 8 domain
diantaranya :
a. Domain I: structure and proses of care
Structure and proses of care merupakan cara menyelenggarakan
pelatihan dan pendidikan bagi para profesional paliatif dalam
memberikan perawatan yang berkesinambungan pada pasien dan
keluarga (De Roo et al., 2013; Dy et al., 2015). Adapun panduan
bagi perawat paliatif dijelaskan sebagai berikut :
1) Semua perawat harus menerima pendidikan tentang palliative
care primer baik itu tingkat sarjana, magister dan doctoral.
2) Semua perawat harus diberikan pendidikan lanjut untuk
palliative care primer.
3) Semua perawat menerima orientasi palliative care primer yang
termasuk didalamnya mengenai sikap, pengetahuan dan
keterampilan dalam domain palliative care. Ini termasuk
penilaian dasar dan manajemen gejala nyeri,keterampilan
komunikasi dasar tentang penyakit lanjut, prinsip etika,
kesedihan dan kehilangan keluarga, komunitas dan pemberi
layanan.
4) Semua perawat harus mampu melakasanakan palliative care
dengan kerjasama tim dari multidisplin ilmu.
5) Perawat hospice dan perawat palliative harus tersetifikasi
dalam memberikan pelayanan palliative care.
6) Semua perawat harus berpartisipasi dalam inisatif memperbaiki
kualitas layanan palliative care.
7) Perawat hospice dan perawat palliative memperomosikan
kontinuitas dalam palliative care sesuai aturan kesehatan dan
mempromisikan hospice sebagai pilihan (Ferrell, 2015).
b. Domain 2 : Physical Aspect Of Care
Physical Aspect Of Care merupakan cara yang dilakukan untuk
mengukur dan mendokumentasikan rasa nyeri dan gejala lain yang
muncul seperti menilai, mengelola gejala dan efek samping yang
terjadi pada: masalah fisik pada pasien (De Roo et al., 2013; Dy et
al., 2015). Adapun panduan bagi perawat paliatif dijelaskan
sebagai berikut:
1) Semua perawat harus mampu menilai nyeri, dyspnea dan
fungsinya dengan menggunakan pedoman yang konsisten pada
pasie dengan penyakit lanjut yang mengancam jiwa.
2) Semua perawat harus mendokumentasika pedoman dan temuan
dalam rencana asuhan keperawatan.
3) Semua perawat harus mengikuti jalur pengobatan berdasarkan
bukti evident based nursing untuk memberikan perawatan
management nyeri dan menilai ulang gejala yang ditimbulkan
(Ferrell, 2015).
c. Domain 3: Psychological And Psychiatric Aspect Of Care
Psychological And Psychiatric Aspect Of Care merupakan cara
yang dilakukan untuk menilai status psikolologis pasien dan
keluarga seperti mengukur, mendokumentasikan, mengelola
kecemasan, dan gejala psikologis lainnya (De Roo et al, 2013; Dy
et al, 2015). Adaun panduan bagi perawat palliatif dijelaskan
sebagai berikut:
1) Semua perawat harus mampu menilai depresi, kecemasan dan
delirium menggunakan pedoman tepat pada pasien yang
mengancam jiwa.
2) Semua perawat harus mendokumentasikan temuan dalam
rencana keperawatan.
3) Semua perawat harus mengikuti jalur pengobatan berbasis
EBN untuk mengelola gejala psikologis yang ditimbulkan.
4) Perawat hospice dan perawat palliatif harus ikut andil dalam
pengembangan palliatif care (Ferrell, 2015).
d. Domain 4: Social Aspect Of Care
Social Aspect Of Care merupakan cara yang dilakukab untuk
mendiskusikan segala informasi, mendiskusikan tujuan perawatan
dan memberikan dukungan sosial yang komprehensif (De roo et
al., 2013). Adapun panduan bagi perawat palliatif dijelaskan
sebagai berikut:
1) Semua perawat harus meninjau kembali kekhawatiran pasien
dan keluarga terhadap penyakit lanjut yang mengancam jiwa.
2) Perawat hospice dan perawat palliatif harus membantu dan
mengembangkan sebuah rencana perawatan sosial yang
komprehensif yang termasuk didalamnya hubungan dengan
keluarga, komunitas, dan orang yang terlibat dalam merawat
pasien (Ferrell, 2015).
e. Domain 5: Spiritual, Religius, And Existential Aspect Of Care
Spiritual, Religious, And Existential Aspect Of Care merupakan
cara yang dilakukan untuk menyediakan atau memfasilitasi diskusi
terkait kebutuhan spiritual pasien dan keluarga (De Roo et al.,
2013; Dy et al.,2015). Adapun panduan bagi perawat paliatif
sebagai berikut:
1) Perawat hospice dan perawat palliative harus melakukan
pengkajian spiritual mencakup masalah agama, spiritual, dan
eksistensial menggunakan pedoman instrument yang terstruktur
dan terintegrasi dalam penilaian dalam rencana palliative care.
2) Semua perawat harus mampu merujuk pasien dan keluarga
pada kondisi yang serius dengan menghadirkan rohaniawan,
pendeta jika diperlukan (Ferrell, 2015).
f. Domain 6: Culture Aspect Of Care
Culture Aspect Of Care merupakan cara yang dilakukan untuk
menilai budaya dalam proses pengambilan keputusan dengan
memperhariakn preferensi pasien atau keluarga, memahami bahasa
yang digunakan serta ritual-ritual budaya yang dianut pasien dan
keluarga (De Roo et al., 2013). Adapun panduan bagi perawat
paliatif yaitu:
Semua perawat harus mampu menilai budaya pasien sebagai
komponen yang tidak terpisahkan dalam memberikan palliative
care dan perawatan dirumah yang komperhensip mencakup
pengambilan keputusan,preperensi pasien, komunikasi keluarga,
terapi komplementer, dan duka cita bagi keluarga yang
ditinggalkan, serta pemakaman dan ritual pemakaman pasien.
(Ferrell, 2015).
g. Domain 7: Care Of The Patient At End of life
Care Of The Patient At End of life merupakan cara yang
dilakukan untuk menggali lebih dalam tentang kesiapan
menghadapi kematian dan duka cita setelah kematian bagi keluarga
yang ditinggalkan (De Roo et al., 2013). Adapun panduan bagi
perawat apaliatif sebagai berikut:
1) Perawat hospice dan perawat palliative harus mampu
mengenali tanda dan gejala kematian pasien, keluarga dan
komunitas.ini harus dikomunikasikan dan didokumentasikan.
2) Semua perawat harus mampu menjamin kenyamanan pada
akhir kehidupan.
3) Semua perawat harus meninjau kembali ritual budaya, agama,
dan adat dalam menghadapi kematian pasien.
4) Semua perawat harus mampu memberikan dukungan pasca
kematian pada keluarga yang ditinggalkan.
5) Semua perawat harus mampu merawat jenazah sesuai dengan
budaya, adat dan agama pasien (Ferrell, 2015).
h. Domain 8: Ethical And Legal Aspect Of Care
Ethical And Legal Aspect Of Care merupakan cara yang dilakukan
untuk membuat perencanaan dengan memperhatian preferensi
pasien dan keluarga sebagai penerima layanan dengan tidak
melanggar norma dan aturan yang belaku (De Roo et al., 2013; Dy
et al., 2015). Adapun panduan bagi perawat paliatif sebagai
berikut:
1) Semua perawat harus meninjau kembali asuhan keperawatan
yang telah diberikan dan semua dokumentasinya.
2) Semua perawat harus menjaga prinsip etik berdasarkan komite
etik keperawatan.
3) Semua perawat harus mengerti hukum aspect palliative dan
mencari pakar hukum jika diperlukan.
(Ferrell, 2015).
5. Tempat Pelayanan Palliatif
Berdasarkan Permenkes Nomor 812/ Menkes/ SK/VII/2007 dijelaskan
tempat untuk layanan paliatif meliputi:
a. Rumah Sakit : untuk pasien yang harus mendapatkan perawatan
yang memerlukan pengawawasan ketat, tindakan khusus atau
perawalatan khusus.
b. Puskesmas : untuk pasien yang memerlukan perawatan rawat jalan.
c. Rumah singgah / panti (hospice) : untuk pasien yang tidak
memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan
khsus tetapi belum dapat dirawat dirumah karena memerlukan
pengawasan.
d. Rumah pasien : untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan
ketat tindakan khsusus atau peralatan khusus atau keterampilan
perawatan yang tidak mungkin dilakukan oleh keluarga.

B. Kebudayaan
a. Pengertian
Menurut (Andreas, E 2013), sosial budaya atau kebudayaan adalah
segala sesuatu atau tata nilai yang berlaku dalam sebuah masyarakat
yang menjadi ciri khas dari masyarakat tersebut. Sedangkan menurut
Burnett, kebudayaan adalah keseluruhan berupa kesenian, moral, adat
istiadat, hukum, pengetahuan, kepercayaan, dan kemampuan olah pikir
dalam bentuk lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat
dan keseluruhan bersifat kompleks. Dari kedua pengertian tersebut bisa
disimpulkan bahwa social budaya memang mengacu pada kehidupan
bermasyarakat yang menekankan pada aspek adat istiadat dan
kebiasaan masyarakat itu sendiri.
Pengertian sosial menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
segala sesuatu yang mengenai masyarakat atau kemasyarakatan.
Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respons
terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa
memandang tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan
untuk tidak hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat
mereka mengerti tentang proses terjadinya suatu penyakit dan
bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang dianut
hubungannya dengan kesehatan.
Green dalam Notoatmodjo (2010) mengatakan bahwa perilaku
manusia dari tingkat kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu
faktor perilaku (behaviour cause) dan faktor di luar perilaku (non-
behaviour cause). Perilaku itu sendiri terbentuk dari tiga factor, yaitu :
a. Faktor Predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan
sebagainya
b. Faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas
atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, air
bersih dan sebagainya
c. Faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Kebudayaan perilaku kesehatan yang terdapat dimasyarakat
beragam dan sudah melekat dalam kehidupan bermasyarakat.
Kebudayaan tersebut seringkali berupa kepercayaan gaib. Sehingga
usaha yang harus dilakukan untuk mengubah kebudayaan tersebut
adalah dengan mempelajari kebudayaan mereka dan menciptakan
kebudayaan yang inovatif sesuai dengan norma, berpola, dan benda
hasil karya manusia
b. Kajian Sosial Budaya
Kajian Social Budaya Tentang Perawatan Palliatif menurut (Campbell,
2013):
a. Kajian Sosial Budaya Tentang Perawatan Palliatif
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan
masyarakat adalah perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri.
Dimana proses terbentuknya perilaku ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor sosial budaya, bila
faktor tersebut telah tertanam dan terinternalisasi dalam kehidupan
dan kegiatan masyarakat ada kecenderungan untuk merubah
perilaku yang telah terbentuk tersebut sulit untuk dilakukan.
Untuk itu, untuk mengatasi dan memahami suatu masalah
kesehatan diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai
budaya dasar dan budaya suatu daerah. Sehingga dalam kajian
sosial budaya tentang perawatan paliatif bertujuan untuk mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, meningkatkan kualitas
hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi masalah yang
berhubungan dengan penyakit yang mengancam kehidupan.
b. Budaya Masyarakat Tentang Pengobatan Pada Penyakit Palliatif
Kanker payudara merupakan penyakit yang mematikan. Jumlah
penderitanya pun tak sedikit. Sayang, banyak penderita justru
memilih ke dukun alias pengobatan alternatif. Ujung-ujungnya,
malah bertambah parah. Banyak penderita yang baru berobat ke
dokter setelah menderita kanker payudara stadium tinggi.
Selain itu, fenomena dukun Ponari sempat menyita perhatian
masyarakat Indonesia beberapa tahun yang lalu, cerita kemunculan
dukun Ponari dengan batu saktinya sebagai media penyembuhan
dengan cara di celupkan ke air.
Kabar tentang kehebatan ponari ini terus meluas hingga
menyebabkan jumlah pasien yang berobat kerumah Ponari dari hari
kehari semakin meningkat. Tindakan masyarakat yang datang ke
Dukun Ponari itu tidak terlepas dari peran budaya yang ada di
masyarakat kita terhadap hal-hal yang bersifat mistis. Percaya
terhadap kesaktian batu yang dimiliki Ponari itu merupakan sebuah
budaya yang mengakar dan bertahan dimasyarakat sebagai bagian
dari kearifan lokal.
Pemahaman masyarakat terhadap hal-hal yang dipercayai secara
turun-temurun merupakan bagian dari kearifan lokal yang sulit
untuk dilepaskan. Hingga pemahaman magis yang irasional
terhadap pengobatan melalui dukun seperti diatas sangat
dipercayai oleh masyarakat. Peranan budaya dan kepercayaan
yang ada dimasyarakat itu diperkuat oleh rendahnya tingkat
pendidikan dan tingkat ekonomi.

C. Kultural Dalam Keperawatan Palliatif


1. Pengertian
Kultural dalam keperawatan palliatif adalah suatu ilmu budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan palliative yang fokus
memandang perbedaan dan kesamaan budaya dengan menghargai
asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada budaya manusia, kepercayaan
dan tindakan (Leininger, 2011).
Tujuan dari Keperawatan Kultural adalah untuk mengidentifikasi,
meguji, mengerti dan menggunakan pemahaman keperawatan kultural
untuk meningkatkan kebudayaan dalam pemberian asuhan
keperawatan.
2. Perspektif Kultural Dalam Keperawatan
Menurut Gunawijaya (2010) Tuntutan kebutuhan masyarakat akan
pelayanan kesehatan pada abad ke-21 , termasuk tuntutan terhadap
asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin besar. Dengan
adanya globalisasi dimana ada perpindahan penduduk antar negara
(imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adanya pergeseran terhadap
tuntutan asuhan keperawatan.
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan Body Of
Knowledge yang kuat, yang dapat dikembangkan serta dapat
diaplikasikan dalam praktek keperawatan . perkembangan teori
keperawatan terbagi menjadi 4 level perkembangan yaitu: metha
theory, grand theory, midle range theory dan practice theory.
Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah
Cultural Nursing. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan
dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjalankan
konsep keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya
perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat.
Leinginer beranggapan bahwa sangatlah penting menmperhatikan
keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan
keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat,
akan mengakibatkan terjadi cultural syock.
Cultural Syock akan dialami oleh pasien pada suatu kondisi
dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai
budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami
disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika
klien mengeluh nyeri. Pada beberapa daerah atau negara diperbolehkan
seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak atau
menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri
hanya dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis dianggap
tidak sopan, maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau
berteriak, perawat akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan atau
memintanya berdoa atau malah memarahi pasien karena dianggap
telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan yang dialami perawat ini
akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang
diberikan.
3. Konsep Kultural Dalam Keperawatan
a. Budaya
Budaya adalah sesuatu yang kompleks yang mengandung
pengetahuan, keyakinan seni, moral, hukum, kebiasaan dan
kecakapan lain yang merupakan kebiasaan manusia sebagai
anggota komunitas setempat.
b. Nilai Budaya
Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih
diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu
waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
c. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk
yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada
kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan
untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya
individu, kepercayaan tindakan.
d. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki individu yang
menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara
budaya-budaya yang dimilik oleh orang lain.
e. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok
budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang
lazim.
f. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia yang didasarkan
pada mendiskripsikan asal muasal manusia, misalnya: bentuk
tubuh, bentuk wajah, bentuk tubuh dll.
g. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya.
h. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan dukungan
perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya
kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik actual maupun potensial.
i. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk
mendukung individu, keluarga atau kelompok untuk meningkatkan
kondisi kesehatan.
j. Cultural Care berkenaan dengan kemmapuan kognitif untuk
mengathui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan
untuk mempeertahankan kesehatannya.
k. Cultural Imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga
kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktek dan nilai yang
dimiliki oleh individu, keluarga atau kelompok karena percaya
bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih lebih tinggi daripada
kelompok lain.
4. Paradigma Kultural dalam Keperawatan
Paradigma Kultural dalam keperawatan merupakan cara pandang,
keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap 4
konsep sentral keperawatan yaitu,
a. manusia,
b. sehat,
c. lingkungan dan
d. keperawatan
(Gunawijaya, 2010)
5. Pengkajian Kultural Dalam Keperawatan
Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada
“Sunrise Model” (Iskandar, 2010):
a. Faktor Teknologi
Perawat perlu mengkaji: persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat
dan mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan
kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternative dan
persepsi klien tentang penggunaan dan pemnfaatan teknologi untuk
mengatasi permasalahan keesehatan.
b. Faktor Agama Dan Falsafah Hidup
Faktor agama yang harus dikaji perawat yaitu: agama yang dianut,
status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit,
cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif
pada kesehatan.
c. Faktor Sosial Dan Keterikatan Keluarga
Pada tahap ini perawat mengkaji: nama lengkap, nama panggilan,
umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam keluarga dan hubungan klien
dengan kepala keluarga.
d. Nilai-Nilai Budaya Dan Gaya Hidup
Yang perlu dikaji oleh perawat adalah posisi dan jabatan yang
dipegang oleh kepala keluaraga, Bahasa yang digunakan, kebiasaan
makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi
sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.
e. Faktor Kebijakan Dan Peraturan Yang Berlaku
Pada tahap ini perawat perlu mengkaji: kebijakan dan peraturan
yang berkaitan dengan jam kunjung, jumlah anggota keluarga yang
boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
f. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi yang dikaji perawat yaitu: sumber biaya misal,
asuransi, penggantian dari kantor dsb.
g. Faktor Pendidikan
Perawat mengkaji tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta
kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang
pengalaman sakitnya.
Prinsip-prinsip pengkajian budaya:
a. Jangan membuat asumsi
b. Jangan membuat streotip bisa terjadi konflik misalnya: orang
padang pelit, orang jawa halus
c. Menerima dan memahami metode komunikasi
d. Menghargai kebutuhan personal dari setiap individu
e. Tidak boleh membeda-bedakan keyakinan klien
f. Menyediakan privasi terkait kebutuhan pribadi
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keuarganya dalam
menghadapi masalah masalah yang berhubungan dengan penyakit
yang mengancam jiwa, dengan mencegah dan meringankan
penderitaan melalui identifikasi awal serta terapi dan masalah lain,
fisik, psikososial dan spiritual.
Perilaku manusia dalam menghadapi masalah kesehatan
merupakan suatu tingkah laku yang selektif, terencana, dan tanda
dalam suatu sistem kesehatan yang merupakan bagian dari budaya
masyarakat yang bersangkutan. Perilaku tersebut terpola dalam
kehidupan nilai sosial budaya yang ditujukan bagi masyarakat
tersebut. Perilaku merupakan tindakan atau kegiatan yang dilakukan
seseorang dan sekelompok orang untuk kepentingan atau pemenuhan
kebutuhan tertentu berdasarkan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan
norma kelompok yang bersangkutan. Kebudayaan kesehatan
masyarakat membentuk, mengatur, dan mempengaruhi tindakan atau
kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial dalam memenuhi
berbagai kebutuhan kesehatan baik yang berupa upaya mencegah
penyakit maupun menyembuhkan diri dari penyakit. Oleh karena itu
dalam memahami suatu masalah perilaku kesehatan harus dilihat
dalam hubungannya dengan kebudayaan, organisasi sosial, dan
kepribadian individu-individunya terutama dalam paliatif care.
B. Saran
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan teman-
teman dalam mengikuti proses pembelajaran dan dapat meningkatkan
pelayanan perawatan pasien paliatif dalam tinjauan sosial budaya.
Sebagai petugas kesehatan perlu mengetahui pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan. Dengan mengetahui pengetahuan masyarakat,
maka petugas kesehatan akan mengetahui mana yang perlu
ditingkatkan, diubah dan pengetahuan mana yang perlu dilestarikan
dalam memperbaiki status kesehatan.