Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

GIZI ANAK USIA SEKOLAH

DI SUSUN OLEH:

WANHAR HAMID

AKADEMI PERAWAT KESDAM II/SRIWIJAYA

RPL NON ASN TAHUN 2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, atas karunia, taufik dan

hidayahNya kami dapat menyelesaikan makalah dengan tema “Gizi Anak

Sekolah”. Kami berupaya menyajikan materi yang dapat membantu pembaca

supaya dapat mengerti bagaimana berpidato dengan baik dan benar.

Kami mengetahui makalah kami ini jauh dari sempurna, karena di dunia

ini tidak ada yang sempurna, maka dari itu, kritik dan saran dari para dosen dan

teman-teman sangat kami harapkan, agar terciptanya makalah yang lebih baik.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

terlibat dalam penyelesaian makalah ini. Harapan kami agar makalah ini dapat

membantu para mahasiswa untuk lebih mengetahui tentang berpidato dan dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, Agustus 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................ 3
1.3 Manfaat .............................................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Anak sekolah ..................................................................... 4
2.1.1 Definisi .................................................................. 4
2.1.2 Batasan anak sekolah ............................................ 4
2.1.3 Karakteristik Anak Sekolah Dasar (Usia 5-12
Tahun) .................................................................... 5
2.2 Gizi .................................................................................... 6
2.2.1 Definisi .................................................................. 6
2.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Anak ...... 7
2.2.3 Karakteristik Status Gizi Anak Sekolah ................. 8
2.2.4 Gizi Seimbang Sesuai Perkembangan Anak .......... 10
2.2.5 Tanda Anak Sehat Bergizi Baik ............................. 13
2.2.6 Penilaian Status Gizi Anak Usia Sekolah .............. 13
2.2.7 Indeks Antropometri .............................................. 14

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ........................................................................ 17
3.2 Saran .................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usia sekolah ditandai dengan pertumbuhan fisik yang cepat dan

peningkatan aktivitas. Oleh sebab itu, kebutuhan energi, protein, kalsium

dan komponen nutrisi lain juga meningkat. Sumber nutrisi yang paling baik

bagi a nak tersebut adalah roti, susu, keju, daging, ikan, telur, buah, sayur-

sayuran hijau dan kentang. Susu merupakan salah satu sumber kalsium,

riboflavin dan protein terbaik (Sodikin, 2012).

Anak sekolah sering mengalami berbagai masalah kesehatan dan gizi,

baik yang berhubungan dengan status gizinya maupun yang berhubungan

dengan pola makan yang akan berdampak pada kesehatannya. Masalah

status gizi yang biasa menimpa pada anak sekolah adalah masalah pendek,

kurus dan gemuk. Selain itu, anak sekolah juga sering mengalami masalah

pemilihan makanan jajanan yang tidak tepat dan aman, anemia, gangguan

makan, penyakit-penyakit infeksi sampai meningkatnya risiko penyakit

degeneratif (Purnamasari, 2018).

Faktor utama yang mempengaruhi status gizi siswa adalah kecukupan

konsumsi makanannya. Makanan berperan untuk menunjang kelangsungan

hidup maupun pencapaian tumbuh kembang anak. Beberapa penelitian

menemukan bahwa konsumsi anak sekolah, terutama di daerah tertinggal,

hanya mencukupi 70% dari kebutuhan energinya per hari. Dengan keadaan

seperti itu, apabila terjadi secara terus-menerus maka dapat menimbulkan

masalah kesehatan pada anak yaitu terjadinya kurang energi protein (KEP).

KEP yang berkepanjangan dapat menghambat pertumbuhan dan


perkembangan anak usia sekolah, termasuk kurangnya pencapaian prestasi

belajar siswa (Purnamasari, 2018).

Kekurangan energi protein (KEP) akan berakibat pada mutu kualitas

sumber daya manusia terutama apabila KEP terjadi pada masa pertumbuhan

yaitu bayi, balita dan remaja, oleh karena itu harus ditangani dengan benar

dan tepat. Masalah KEP dapat diketahui dari rendahnya cadangan lemak dan

otot yang ditandai dengan balita kurus. Anak yang kurus menunjukkan

bahwa asupan gizi anak rendah, sehingga persediaan lemak dan otot

tubuhnya sedikit. Karena asupan gizi rendah, maka anak tidak mempunyai

daya tahan tubuh (antibodi) yang cukup, akibatnya anak mudah sakit. Hal

dapat mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian (Kemenkes,

2017).

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) sebanyak, 51

juta anak di seluruh dunia mengalami kurus (wasted) dan 17 juta

mengalami sangat kurus (severe wasted). Sedangkan prevalensi pendek

diseluruh dunia sebanyak 161 juta, masih cukup besar walaupun sudah

mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 169 juta.

Dan kasus kegemukan pada anak mengalami peningkatan yang cukup

memprihatinkan. Sebanyak 42 juta anak diseluruh dunia mengalami

kegemukan, 31 juta diantaranya berada di negara berkembang

(Purnamasari, 2018).

Keadaan gizi seorang anak dipengaruhi oleh perilaku orang tuanya.

Jika orang tuanya memiliki pengetahuan yang tinggi tentang kesehatan dan

gizi, akan semakin tinggi pula tingkat kesehatan dan gizi keluarganya. Ini

akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas zat gizi yang dikonsumsi oleh

anggota keluarga khususnya anak. Pengetahuan tentang makanan sehat

2
bergizi dalam memenuhi konsumsi makanan sehari-hari khususnya bagi

setiap individu sangat penting, karena pendidikan gizi sulit berhasil bila

tidak disertai peningkatan pengetahuan mengenai sikap kepercayaan dan

nilai-nilai dari masyarakat yang akan dijadikan sasaran dan cara mereka

menerapkan kepada anak-anak mereka (Bertalina, 2013).

1.2 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui definisi gizi.

2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi status gizi anak.

3. Untuk mengetahui karakteristik status gizi anak sekolah.

4. Untuk mengetahui gizi seimbang sesuai perkembangan anak.

5. Untuk mengetahui penilaian status gizi anak usia sekolah.

1.3 Manfaat Penelitian

Diharapkan mahasiswa dapat:

1. Mengetahui definisi gizi.

2. Mengetahui faktor yang mempengaruhi status gizi anak.

3. Mengetahui karakteristik status gizi anak sekolah.

4. Mengetahui gizi seimbang sesuai perkembangan anak.

5. Mengetahui penilaian status gizi anak usia sekolah

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anak Sekolah

2.1.1 Definisi

Usia sekolah merupakan periode ketika anak-anak dianggap mulai

bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan orang

tua mereka, teman sebaya danorang lainnya. Usia sekolah merupakan

masa dimana anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk

keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh

keterampilan tertentu untuk bekal masa depannya (Purnamasari, 2018).

2.1.2 Batasan Anak Sekolah

Menurut World Health Organization (WHO), dalam standar

antropometri anak sekolah yang dirilis tahun 2007 menetapkan batasan

anak usia sekolah secara internasional adalah umur 5-19 tahun

(Purnamasari, 2018).

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melalui surat keputusan

menteri kesehatan nomor 1995/SK/Menkes/ XII/ 2010 menetapkan

batasan anak usia sekolah di Indonesia adalah 5-18 tahun, sesuai dengan

umumnya umur anak sekolah di Indonesia (Purnamasari, 2018).

Riskesdas 2013 dalam surveinya terhadap anak sekolah, membagi

anak sekolah dalam 3 tingkatan usia yaitu (Purnamasari, 2018):

4
1. Usia 5-12 tahun (Sekolah Dsar/SD)

2. Usia 13-15 tahun (Sekolah Menengah Pertama /SMP)

3. Usia 16-18 tahun (Sekolah Menengah Atas/SMA)

2.1.3 Karakteristik Anak Sekolah Dasar (Usia 5-12 Tahun)

Karakteristik anak sekolah pada umur awal (5-12 tahun) meliputi

pertumbuhan yang tidak secepat bayi, gigi susu mulai tanggal, lebih aktif

memilih makanan yang disukai, dan kebutuhan energi tinggi karena

aktivitas meningkat. Tak jarang aktivitas yang tinggi disekolah dan tempat

bermain menyebabkan ketidakseimbangan antara energi yang masuk

dengan energi yang digunakan untuk melakukan aktivitas, akibatnya

terjadilah penurunan status gizi (Purnamasari, 2018).

Konsumsi makan pada anak sekolah tidak jauh berbeda dengan

teman sebanyanya. Konsumsi gizi anak laki-laki biasanya lebih banyak

daripada anak perempuan, dengan demikian penyerapan energi dan zat-zat

gizi lain pada anak laki-laki lebih besar daripada anak perempuan. Pada

usia ini biasanya tidak banyak terjadi konflik makan. Peningkatan nafsu

makan secara alami menyebabkan peningkatan konsumsi makan. Mereka

tidak lagi banyak menolak makanan, tetapi pemilihan makanan yang

disukai juga makin beragam (Purnamasari, 2018).

Karakteristik lain dari anak sekolah adalah mulai meningkatnya

konsumsi makanan jajanan. Hal ini karena biasanya mereka diberi uang

saku oleh orang tuanya sehingga mampu membeli makanan jajanan yang

dijual di lingkungan sekolah. Sebenarnya, mengonsumsi makanan selingan

5
selama di sekolah cukup penting. Hal ini karena anak menghabiskan

beberapa jam di sekolah sehingga diperlukan makanan jajanan agar kadar

gula tetap terkontrol baik. Dengan demikian, konsentrasi terhadap

pelajaran anak dan aktivitas lainnya dapat tetap dilaksanakan, tetapi

perilaku jajan sembarangan dan tidak terkontrol sering menjadi masalah

tersendiri bagi anak sekolah (Purnamasari, 2018).

2.2 Gizi

2.2.1 Definisi Gizi

Gizi didefinisikan sebagai proses penggunaan makanan oleh

organisme. Makanan merupakan bahan organik yang diklasifikasikan

menjadi tiga kelompok yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein,

karbohidrat dan lemak ditemukan pada hewan dan sayur-sayuran.

Walaupun demikian zat gizi termasuk setiap bahan yang memberikan gizi

atau yang dapat digunakan oleh tubuh, seperti air, garam, mineral dan

vitamin (Sodikin, 2012).

Gizi adalah rangkaian proses secara organik makanan yang dicerna

oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan fungsi normal

organ, serta mempertahankan kehidupan seseorang (Winarsih, 2018).

Status gizi adalah tanda-tanda atau penampilan yang diakibatkan

oleh keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran oleh tubuh. Status

gizi merupakan ekspresi dari keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu

(Purnamasari, 2018).

6
2.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Anak

Menurut Winarsih (2018), faktor yang mempengaruhi status gizi

anak sekolah diantaranya adalah:

1. Faktor eksternal, meliputi:

a. Pendapatan

Merupakan masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah

taraf ekonomi keluarga, yang berhubungan dengan daya beli yang

dimiliki keluarga tersebut.

b. Pendidikan, merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap

dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan status

gizi yang baik.

c. Pekerjaan, merupakan sesuatu yang harus dilakukan untuk

menunjang kehidupan keluarganya. Bagi ibu-ibu bekerja akan

mempengaruhi kehidupan keluarganya karena merupakan kegiatan

yang menyita waktu.

d. Budaya, merupakan suatu ciri khas yang akan mempengaruhi

tingkah laku dan kebiasaan.

2. Faktor internal, meliputi:

a. Usia : secara umum akan mempengaruhi kemampuan atau

pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak

balita

7
b. Kondisi fisik : seseorang yang sednag dalam masa penyembuhan

memerlukan pangan khusus karena status gizi kesehatan mereka

yang buruk.

c. Infeksi: adanya infeksi dan gejala demam dapat menyebabkan

menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan

dan mencerna makanan.

2.2.3 Karakteristik Status Gizi Anak Sekolah

Menurut Purnamasari (2018), karakteristik status gizi anak sekolah yaitu:

1. Kurus dan sangat kurus

Seorang anak dikatakan kurus apabila berdasarkan perhitungan indeks

masa tubuh (MT = BB/TB2) per umur (IMT/U) dia berada pada

rentang -2SD sampai -3 SD, sedangkan dikatakan sangat kurus apabila

perhitungan indeks IMT/U nilainya <-3 SD.

Anak yang kurus akan terjadi perubahan pada metabolisme yang

berdampak pada kemampuan kognitif dan otak. Kurangnya konsumsi

gizi akan berdampak pada fungsi hipotalamus dan korteks dalam

membentuk dan menyimpan memori, perkembangan IQ terhambat

sehingga berdampak pada prestasi belajarnya.

2. Pendek dan sangat pendek

Pendek menunjukkan kekurangan gizi kronis yang terjadi di masa lalu.

Parameter yang digunakan adalah tinggi badan. Seorang anak

dikatakan pendek apabila berdasarkan perhitungan indeks TB/U dia

8
berada pada rentang -2 SD sampai -3SD, sedangkan dikatakan sangat

pendek apabila perhitungan indeks TB/U nilainya <-3SD.

Anak yang pendek disebabkan konsumsi gizi yang kurang atau

mendapat infeksi yang berulang. Penyebab pendek pada anak sekolah

diantaranya adalah sosial ekonomi yang rendah, umur ibu yang masih

muda saat melahirkan, rendahnya pendidikan, jumlah anggota keluarga

yang besar, serta faktor genetis dari tinggi badan orang tua terutama

ibu.

3. Gemuk dan Obesitas

Kegemukan terjadi akibat tidak berlebihannya pemasukan dibanding

pengeluaran konsumsi energi, hal ini mengakibatkan kelebihan

penumpukan lemak didalam tubuh. Saat ini untuk menentukan

kegemukan seseorang menggunakan indeks massa tubuh per umur.

Parameter yang digunakan tidak hanya berat badan, tetapi juga tinggi

badan (IMT=BB/TB2). Seorang anak dikatakan gemuk apabila

berdasarkan perhitungan indeks IMT/U, dia berada pada rentang +2SD

sampai +3 SD, sedangkan dikatakan obesitas apabila perhitunga indeks

IMT/U nilainya > 3SD.

Obesitas merupakan keadaan patologis, yaitu dengan terdapatnya

penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi

tubuh yang normal. Obesitas dari segi kesehatan merupakan salah satu

penyakit salah gizi, sebagai akibat konsumsi makanan yang jauh

melebihi kebutuhannya (Soejiningsih, 2014).

9
2.2.4 Gizi Seimbang Sesuai Perkembangan Anak

Yang dimaksud dengan gizi seimbang adalah susunan makanan

sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai

dengan kebutuhan tubuh, dengan memperlihatkan prinsip

keanekaragamana makanna, aktivitas fisik, kebersihan dan berat badan

(BB) ideal (Winarsih, 2018).

Menurut Kemenkes (2014), gizi seimbang untuk anak usia 0-19 tahun

adalah sebagai berikut:

1. Gizi Seimbang untuk Bayi 0-6 bulan

Gizi seimbang untuk bayi 0-6 bulan cukup hanya dari ASI. ASI

merupakan makanan yang terbaik untuk bayi oleh karena dapat

memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan bayi sampai usia 6 bulan,

sesuai dengan perkembangan sistem pencernaannya, murah dan bersih.

Oleh karena itu setiap bayi harus memperoleh ASI Eksklusif yang

berarti sampai usia 6 bulan hanya diberi ASI saja.

2. Gizi Seimbang untuk Anak 6-24 bulan

Pada anak usia 6-24 bulan, kebutuhan terhadap berbagai zat gizi

semakin meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI saja.

Pada usia ini anak berada pada periode pertumbuhan dan

perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap infeksi dan secara fisik

mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi harus terpenuhi

dengan memperhitungkan aktivitas bayi/anak dan keadaan infeksi.

Agar mencapai gizi seimbang maka perlu ditambah dengan Makanan

10
Pendamping ASI atau MP-ASI, sementara ASI tetap diberikan sampai

bayi berusia 2 tahun. Pada usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan

kepada makanan lain, mula-mula dalam bentuk lumat, makanan

lembik dan selanjutnya beralih ke makanan keluarga saat bayi berusia

1 tahun. Ibu sebaiknya memahami bahwa pola pemberian makanan

secara seimbang pada usia dini akan berpengaruh terhadap selera

makan anak selanjutnya, sehingga pengenalan kepada makanan yang

beranekaragam pada periode ini menjadi sangat penting. Secara

bertahap, variasi makanan untuk bayi usia 6-24bulan semakin

ditingkatkan, bayi mulai diberikan sayuran dan buah-buahan, lauk

pauk sumber protein hewani dan nabati, serta makanan pokok sebagai

sumber kalori. Demikian pula jumlahnya ditambahkan secara bertahap

dalam jumlah yang tidak berlebihan dan dalam proporsi yang juga

seimbang.

3. Gizi Seimbang untuk Anak usia 2-5 tahun

Kebutuhan zat gizi anak pada usia 2-5 tahun meningkat karena masih

berada pada masa pertumbuhan cepat dan aktivitasnya tinggi.

Demikian juga anak sudah mempunyai pilihan terhadap makanan yang

disukai termasuk makanan jajanan. Oleh karena itu jumlah dan variasi

makanan harus mendapatkan perhatian secara khusus dari ibu atau

pengasuh anak, terutama dalam “memenangkan” pilihan anak agar

memilih makanan yang bergizi seimbang. Disamping itu anak pada

usia ini sering keluar rumah sehingga mudah terkena penyakit infeksi

11
dan kecacingan, sehingga perilaku hidup bersih perlu dibiasakan untuk

mencegahnya.

4. Gizi Seimbang untuk Anak 6-9 tahun

Anak pada kelompok usia ini merupakan anak yang sudah memasuki

masa sekolah dan banyak bermain diluar, sehingga pengaruh kawan,

tawaran makanan jajanan, aktivitas yang tinggi dan keterpaparan

terhadap sumber penyakit infeksi menjadi tinggi. Sebagian anak usia

6-9 tahun sudah mulai memasuki masa pertumbuhan cepat pra-

pubertas, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi mulai meningkat secara

bermakna. Oleh karenanya, pemberian makanan dengan gizi seimbang

untuk anak pada kelompok usia ini harus memperhitungkan kondisi-

kondisi tersebut diatas.

5. Gizi Seimbang untuk Remaja (10-19 tahun)

Kelompok ini adalah kelompok usia peralihan dari anak-anak menjadi

remaja muda sampai dewasa. Kondisi penting yang berpengaruh

terhadap kebutuhan zat gizi kelompok ini adalah pertumbuhan cepat

memasuki usia pubertas, kebiasaan jajan, menstruasi dan perhatian

terhadap penampilan fisik “Body image” pada remaja puteri. Dengan

demikian perhitungan terhadap kebutuhan zat gizi pada kelompok ini

harus memperhatikan kondisi-kondisi tersebut. Khusus pada remaja

puteri, perhatian harus lebih ditekankan terhadap persiapan mereka

sebelum menikah.

12
2.2.5 Tanda Anak Sehat Bergizi Baik

Menurut Winarsih (2018), tanda anak sehat bergizi baik adalah:

1. Bertambah umur, bertambah padat, dan bertambah tinggi .

2. Postur tubuh tegap dan otot padat

3. Rambut berkilau dan kuat

4. Kulit dan kuku bersih dan tidak pucat

5. Wajah ceria, mata bening dan bibir segar

6. Gigi bersih dan gusi merah muda

7. Nafsu makan baik dan buang air besar teratur

8. Bergerak aktif dan berbicara sesuai umur

9. Penuh perhatian dan bereaksi aktif

10. Tidur nyenyak

2.2.6 Penilaian Status Gizi Anak Usia Sekolah

Menurut Purnamasari (2018), penilaian status gizi secara langsung

dapat dibagi menjadi 4 penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan

biofisik.

1. Antropometri

Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran

dimensi tubuh dalam komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan

tingkat gizi.

2. Klinis

Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai

status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-

13
perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidaksesuaian zat

gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata,

rambut, dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan

permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

3. Biokimia

Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen

yang diuji secara laboratorium yang dilakukan pada berbagai macam

jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain darah, urine,

tinja dan juga berbagai jaringan tubuh seperti hati dan otot. Metode ini

digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi

keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang

kurang spesifik maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak

menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.

4. Biofisik

Penentuan status gizi secar biofisik adalah metode penentuan status

gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan

melihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan

dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja, epidemik. Cara yang

digunakan adalah tes adaptasi gelap.

2.2.7 Indeks Antropometri

Menurut Purnamasari (2018), parameter antropometri merupakan

dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi dari beberapa parameter disebut

indeks antropometri. Indeks antropometri ada berbagai macam sesuai

14
dengan umumnya. Menurut Standar WHO 2007 terdapat 3 indeks

antropometri anak sekolah yaitu:

1. Berat badan menurut umur (BB/U) = usia 5-10 tahun

Tabel 2.1
Kategori Status Gizi Anak Sekolah Berdasarkan BB/U
Nilai Z-Score Kategori
> + 3 SD Obesitas
> + 2SD s.d + 3SD Gizi lebih
-2SD s.d + 2SD Gizi baik
<-2SD s.d -3SD Gizi kurang
<-3SD Gizi buruk

2. Tinggi badan menurut umur (TB/U) = usia 5-19 tahun

Tabel 2.2
Kategori Status Gizi Anak Sekolah Berdasarkan TB/U
Nilai Z-Score Kategori
> + 2 SD Tinggi
- 2SD s.d + 2SD Normal
<-2SD s.d -3SD Pendek
<-3SD Sangat Pendek

3. Indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) = usia 5-19 tahun

Untuk perhitungan IMT pada anak sekolah, pertama-tama kita

menggunakan rumus IMT yang sama digunakan untuk menghitung

IMT untuk orang dewasa. Rumusnya adalah sebagai berikut:

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔)


𝐼𝑀𝑇 =
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑀)𝑥 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑀)

15
Kemudian nilai tersebut kita gunakan untuk menghitung nilai Z-

Scorenya. Untuk rumus Z-Score sama seperti rumur Z-Score pada

BB/U dan TB/U yaitu sebagai berikut:

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐼𝑀𝑇 − 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑀𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑘𝑢 𝑅𝑢𝑗𝑢𝑘𝑎𝑛


𝑍 − 𝑆𝑐𝑜𝑟𝑒 =
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑘𝑢 𝑟𝑢𝑗𝑢𝑘𝑎𝑛

Setelah didapatkan perhitungan nilai Z-Score, selanjutnya bandingkan

dengan standar untuk menentukan kategori status gizinya. Berikut

adalah kategori status gizi anak sekolah berdasarkan IMT/U.

Tabel 2.3
Kategori Status Gizi Anak Sekolah Berdasarkan IMT/U
Nilai Z-Score Kategori
> + 2 SD Obesitas
>+ 1SD s.d + 2SD Gemuk
<-2SD s.d + 1SD Normal
<-2SD s.d -3SD Kurus
<-3SD Sangat kurus

Tabel 2.4
Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak
Berdasarkan Indeks IMT/U

IMT Status Gizi


BMI < 18,5 Kekurangan berat badan
BMI 18.5-24,9 Normal (ideal)
BMI 25 – 29,9 Kelebihan berat badan
BMI > 30,0 Kegemukan (Obesitas)
Sumber : Winarsih, 2018

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Gizi didefinisikan sebagai proses penggunaan makanan oleh

organisme. Makanan merupakan bahan organik yang diklasifikasikan

menjadi tiga kelompok yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein,

karbohidrat dan lemak ditemukan pada hewan dan sayur-sayuran.

Walaupun demikian zat gizi termasuk setiap bahan yang memberikan gizi

atau yang dapat digunakan oleh tubuh, seperti air, garam, mineral dan

vitamin

Anak sekolah sering mengalami berbagai masalah kesehatan dan

gizi, baik yang berhubungan dengan status gizinya maupun yang

berhubungan dengan pola makan yang akan berdampak pada

kesehatannya. Masalah status gizi yang biasa menimpa pada anak sekolah

adalah masalah pendek, kurus dan gemuk. Selain itu, anak sekolah juga

sering mengalami masalah pemilihan makanan jajanan yang tidak tepat

dan aman, anemia, gangguan makan, penyakit-penyakit infeksi sampai

meningkatnya risiko penyakit degeneratif

3.2 Saran

1. Diharapkan kepada petugas kesehatan agar lebih dapat meningkatkan

promosi kesehatan yang berupa penyuluhan tentang kesehatan ibu dan

balita khususnya peningkatan status gizi balita guna meningkatkan

kecerdasan dan tumbuh kembang balita.

17
2. Diharapkan bagi orang tua agar dapat memperhatikan status gizi anak-

anaknya dengan memberikan makanan yang bergizi dan seimbang

serta memperhatikan jajanan anak ketika berada di luar rumah.

18
DAFTAR PUSTAKA

Bertalina (2013), yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan status


gizi anak usia sekolah (6-12 tahun)

Bertalina. 2013. Faktor–Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Anak


Usia Sekolah (6-12 Tahun)

Mastiningsih, Putu. 2014. Buku ajar imunisasi. Bogor : In Media.

Oktafiana. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Anak Usia


Sekolah Pada Keluarga Atas Dan Bawah (Kasus Di Desa Sidoharjo,
Kabupaten Ponorogo)

Purnamasari, Dyah Umiyarni. 2018. Panduan gizi dan kesehatan anak sekolah.
Yogyakarta : Andi offset

Sodikin. 2012. Keperawatan anak gangguan pencernaan. Jakarta : EGC

Soetjiningsih. 2014. Tumbuh kembang anak. Jakarta : EGC

Winarsih. 2018. Pengantar ilmu gizi dalam kebidana. Yogyakarta : PT. Pustaka
Baru

19