Anda di halaman 1dari 9

12

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi dan fisiologi Tenggorokan


3.2 Definisi Faringitis
Faringitis merupakan peradangan yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri,
alergi, trauma, toksin dan lain-lain.(fkui)
3.3 Epidemiologi Faringitis
Penyebab virus pada faringitis sebesar 40-60%, sedangkan bakteri 5-40%.
(fkui)

3.5 Etiopatofisologi
Bakteri dan virus melakukan invasi ke faring sehingga menimbulkan reaksi
inflamasi local. Infeksi bakteri group A Streptokokus Beta hemolitikus dapat
menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat, karena baktei ini melepaskan toksin
ekstraseluler yang dapat menimbulkan demam reumatik, kerusakan katup jantung,
glomerulus nefritis akut karena fungsi glomerulus terganggu akibat terbentuknya
kompleks antigen-antibodi. Bakteri ini banyak menyerang anak usia sekolah,
orang dewasa dan jarang pada anak umur kurang dari 3 tahun. Penularan infeksi
melalui secret hidung dan ludah (droplet infection).(fkui)
Faringitis dapat menular melalui udara yaitu melalui percikan
saliva/ludah
dari orang yang menderita faringitis akut. Infeksi ini biasanya
disebabkan oleh virus
dan bakteri, dipermudah oleh adanya rangsangan seperti asap, uap dan
zat kimia.
Biasanya penyakit ini didahului oleh virus. Virus yang menyebabkan
faringitis akut
sama seperti virus yang menyebabkan tonsilitis akut, yaitu : adeno
virus, ECHO virus
influenza dan herpes.
(1-5)
Bakteri penyebab faringitis akut 25% disebabkan oleh bakteri
Streptokokus ?
haemolitikus group A. Selain itu dapat juga disebabkan oleh
Streptokokus non
haemolitikus, pneumokokus, basil influenza, Stafilococcus dan
diphteroid.
(5,6)
Faktor resiko penyebab faringitis yaitu udara yang dingin, turunnya
daya
13

tahan tubuh yang disebabkan infeksi virus influenza, konsumsi


makanan yang kurang
gizi, konsumsi alkohol yang berlebihan, gejala predormal dari
penyakit scarlet fever
Drg. Hj. Minasari Nasution : Infeksi Laring Faring, 2008
USU e-Repository ? 2008
dan seseorang yang tinggal di lingkungan kita yang menderita sakit
tenggorokan atau
demam.

3.6 Gejala dan tanda


Faringitis Viral:
- Demam disertai rinorea,mual, nyeri tenggorokan, sulit menelan,
konjungtivitis terutama pada anak, koriza, batuk, suara serak, stomatitis
ulseratif diskret, eksentema virus.
- Pem.fisik: faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, coxsachievirus dan
cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxsachievirus dapat
menimbulkan lesi vaskuler di orofaring dan lesi kulit berupa
maculopapular rash.
- Adenovirus juga menimbulkan gejala konjungtivitis,
Faringitis bacterial
- Infeksi streptococcus Beta hemolyticus group A merupakan penyebab
faringitis akut pd orang dewasa (15%) dan anak (30%). (digilib unila) Nyeri
kepala hebat, muntah, demam tinggi, jarang batuk. (fkui)
- awitan munculnya nyeri tenggorokan tiba2, usai 5-15 thun, sakit kepala,
mual, muntah, nyeri perut, inflamasi tonsilofaringeal, plak eksudat di daerah
tonsilofaringeal, adanya petekie palatum, adenpati servikal anterior, riwayat
terhadap paparan faringitis streptokokus, ruam sklaratniform.( kapita selekta).
- centor Criteria:
> demam
> Anterior Cervical lymphadenopathy
> Eksudat tonsil
> tidak adanya batuk
Bila terdapat gejala di atas maka diberi skor satu.
14

0.1 tidak mengalami faringitis akibat infeksi SBHA


1-3 40% terinfeksi SBHA
>=4 50% terinfeksi SBHA
Faringitis Fungal
- Candida dapat hidup di mukosa rongga mulut dan faring. Nyeri tenggorokan
dan nyeri menelan. Plak putih di orofaring dan mukosa faring lainnya
hiperemis. Pembiakan jamur dilakukan dalam agar sabpurud dextrose.
Faringitis gonorea
- Hanya dapat terjadi pada pasien yang melakukan kontak genital.

Faringitis Virus Faringitis Bakteri

Biasanya tidak ditemukan nanah di Sering ditemukan nanah di tenggorokan


tenggorokan

Demam ringan atau tanpa demam Demam ringan sampai sedang

Jumlah sel darah putih normal Jumlah sel darah putih meningkat ringan
atau agak meningkat sampai sedang

Kelenjar getah bening normal atau Pembengkakan ringan sampai sedang pada
sedikit membesar kelenjar getah bening

Tes apus tenggorokan memberikan Tes apus tenggorokan memberikan hasil


hasil negatif positif untuk strep throat

Pada biakan di laboratorium tidak Bakteri tumbuh pada biakan di laboratorium


tumbuh bakteri

Pemeriksaan fisik yang terutama pada faringitis yaitu pemeriksaan tanda vital
dan pemeriksaan THT. Pada pemeriksaan tenggorokan, dapat ditemukan adanya :
 Eksudat dan kemerahan pada tonsil
 Bercak kemerahan pada palatum molle, tampakan lidah seperti stroberi dengan papila
yang merah dan lidah yang keputihan
 Limfadenopati servikal
 Pada pemeriksaan paru, dapat ditemukan beberapa tanda klinis pada pasien dengan
riwayat demam reumatik, yaitu pembengkakan sendi, nyeri, nodul subkutan, eritema
marginatum, atau murmur jantung.
15

3.7 Diagnosa Banding


tonsilitis bacterial: ada refered pain( nyeri di telinga, nyeri sendi)
abses peritonsil: nyeri menelan hebat, ada nyeri telinga, regurgitasi, mulut
berbau, hipersaliva, suara gumam, sukar buka mulut
laryngitis akut: lanjutan rhinofaringitis, demam, lemas, suara parau smpe tdk
bersuara sm sekali, nyeri ketika menelan atau berbicara, sumbatan laring, batuk
keringg sampe dahak kental,
Mononukleus Infeksiosa: 4-6 mingu setelah terpapar keluar. dimulai dengan
perasaan tidak enak MI: badan dan letih, yang kemudian diikuti oleh demam
tinggi, sakit tenggorokan yang berat, pembengkakan kelenjar getah bening, limpa
dan tonsil. Gejala, seperti demam dan sakit tenggorokan, akan hilang setelah
beberapa minggu tetapi rasa letih, pembesaran kelenjar getah bening dan limpa
dapat bertahan selama beberapa minggu atau lebih.
Scarlet fever atau demam scarlet adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
bakteri streptococcus. Demam tinggi lebih dari 38 derajat Celsius, Timbul ruam
kemerahan yang awalnya muncul di wajah dan leher kemudian ,menyebar ke
bagian dada dan punggung disertai rasa gatal, Radang tenggorokan, Nyeri, Mual,
Nafsu makan menurun, Pada beberapa kasus dapat menyebabkan kerusakan pada
jantung.
3.8 Pemeriksaan Penunjang
Kultur apus tenggorokan (untuk GABHS). GABHS rapid antigen detection
test, indikasi jika pasien memiliki resiko sedang atau jika seorang dokter
memberikan terapi antibiotic dengan resiko tinggi untuk pasien.
Kultur swab tenggorokan; merupakan tes gold standard. Jenis pemeriksaan ini sering
dilakukan. Namun, pemeriksaan ini tidak bisa membedakan fase infektif dan
kolonisasi, dan membutuhkan waktu selama 24 – 48 jam untuk mendapatkan
hasilnya.
 Tes infeksi jamur, menggunakan slide dengan pewarnaan KOH
16

 Tes Monospot, merupakan tes antibodi heterofil. Tes ini digunakan untuk mengetahui
adanya mononukleosis dan dapat mendeteksi penyakit dalam waktu 5 hari hingga 3
minggu setelah infeksi
 Tes deteksi antigen cepat; tes ini memiliki spesifisitas yang tinggi namun
sensitivitasnya rendah
 Heterophile agglutination assay

3.9 Penatalaksanaan
Anak:
Kotrimoksazol 2 tablet anak 2x sehari selama 5 hari
Amoksisilin 30-50mg/KgBB perhari
Eritromisin 20-40 mg/KgBB

3.10 Prognosis dan Komplikasi


Komplikasi umum: sinusitis, otitis media, epiglositis, mastoiditis dan pneumonia.
Streptococcus-> peritonsillar abses, demam reumatik akut, toxic shock syndrome,
obstruksi saluran pernafasan akibat dari pembengkakan laring.
Glomerulonefritis akut juga disebut dengan glomerulonefritis akut post sterptokokus (GNAPS) adalah
suatu proses radang non-supuratif yang mengenai glomeruli, sebagai akibat infeksi kuman
streptokokus beta hemolitikus grup A, tipe nefritogenik di tempat lain. Penyakit ini sering mengenai

anak-anak.7

Terbentuk kompleks antigen-antibodi didalam darah dan bersirkulasi kedalam glomerulus tempat
kompleks tersebut secara mekanis terperangkap dalam membran basalis.selanjutnya komplomen akan
terfiksasi mengakibatkan lesi dan peradangan yang menarik leukosit polimorfonuklear (PMN) dan
trombosit menuju tempat lesi. Fagositosis dan pelepasan enzim lisosom juga merusak endothel dan
membran basalis glomerulus (IGBM). Sebagai respon terhadap lesi yang terjadi, timbu proliferasi sel-
sel endotel yang diikuti sel-sel mesangium dan selanjutnya sel-sel epitel. Semakin meningkatnya
kebocoran kapiler gromelurus menyebabkan protein dan sel darah merah dapat keluar ke dalam urine
yang sedang dibentuk oleh ginjal, mengakibatkan proteinuria dan hematuria. Agaknya kompleks
komplomen antigen-antibodi inilah yang terlihat sebagai nodul-nodul subepitel pada mikroskop elektron
dan sebagai bentuk granular dan berbungkah-bungkah pada mikroskop imunofluoresensi, pada
pemeriksaan cahaya glomerulus tampak membengkak dan hiperseluler disertai invasi PMN.2
Menurut penelitian yang dilakukan penyebab infeksi pada glomerulus akibat dari reaksi hipersensivitas
tipe III. Kompleks imun (antigen-antibodi yang timbul dari infeksi) mengendap di membran basalis
glomerulus. Aktivasi kpmplomen yang menyebabkan destruksi pada membran basalis glomerulus.11
17

konjungtiva anemis (+)-> salah taruh bilng


nangis, rewel, gelisah-> krn d pasien tdk ada, d atas d hpus.. d bwh lupa
d edit. diem
pucat (+)(mulut)-> lupa dokter, bilang di anam, di pem. fisik g ada.

Jenis demam: demam adalah peningkatanthermoregulatory set point dari


pusat hipotalamus yang diperantarai oleh interleukin 1 (IL-1). Sedangkan secara
klinis demam adalah peningkatan suhu tubuh 1 C atau lebih besar di atas nilai rerata
o

suhu normal di tempat pencatatan. Sebagai respons terhadap perubahan set


point ini, terjadi proses aktif untuk mencapai set point yang baru. Hal ini dicapai
secara fisiologis dengan meminimalkan pelepasan panas dan memproduksi panas. , 1,2

Suhu terendah dicapai pada pagi hari pukul 04.00 – 06.00 dan tertinggi pada awal
malam hari pukul 16.00 – 18.00. dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan,
meliputi usia, jenis kelamin, aktivitas fisik dan suhu udara ambien. Aksila N 34,7 – 37,3; 36,4
D 37,4.
Kontinyu Demam tifoid, malaria falciparum malignan

Remitten Sebagian besar penyakit virus dan bakteri

Intermiten Malaria, limfoma, endokarditis

Hektik atau septik Penyakit Kawasaki, infeksi pyogenik

Quotidian Malaria karena P.vivax

Kala azar, arthritis gonococcal, juvenile rheumathoid arthritis,


Double quotidian beberapa drug fever (contoh karbamazepin)

Relapsing atau
periodik Malaria tertiana atau kuartana, brucellosis

Demam rekuren Familial Mediterranean fever

 Demam kontinyu atau sustained fever ditandai oleh peningkatan


suhu tubuh yang menetap dengan fluktuasi maksimal 0,4 C selama o

periode 24 jam. Fluktuasi diurnal suhu normal biasanya tidak terjadi atau
tidak signifikan.
 Demam remiten ditandai oleh penurunan suhu tiap hari tetapi tidak
mencapai normal dengan fluktuasi melebihi 0,5 C per 24 jam. Pola ini
o

merupakan tipe demam yang paling sering ditemukan dalam praktek


pediatri dan tidak spesifik untuk penyakit tertentu (Gambar 2.).
18

Variasi diurnal biasanya terjadi, khususnya bila demam disebabkan


oleh proses infeksi.
 Pada demam intermiten suhu kembali normal setiap hari,
umumnya pada pagi hari, dan puncaknya pada siang hari (Gambar
3.). Pola ini merupakan jenis demam terbanyak kedua yang ditemukan
di praktek klinis.
 Demam septik atau hektik terjadi saat demam remiten atau
intermiten menunjukkan perbedaan antara puncak dan titik terendah
suhu yang sangat besar.
 Demam quotidian, disebabkan oleh P. Vivax, ditandai dengan
paroksisme demam yang terjadi setiap hari.
 Demam quotidian ganda (Gambar 4.)memiliki dua puncak dalam
12 jam (siklus 12 jam)
Gambar 4. Demam quotidian
 Undulant fever menggambarkan peningkatan suhu secara perlahan
dan menetap tinggi selama beberapa hari, kemudian secara perlahan
turun menjadi normal.
 Demam lama (prolonged fever) menggambarkan satu penyakit
dengan lama demam melebihi yang diharapkan untuk penyakitnya,
contohnya > 10 hari untuk infeksi saluran nafas atas.
 Demam rekuren adalah demam yang timbul kembali dengan
interval irregular pada satu penyakit yang melibatkan organ yang sama
(contohnya traktus urinarius) atau sistem organ multipel.
 Demam bifasik menunjukkan satu penyakit dengan 2 episode
demam yang berbeda (camelback fever pattern, atau saddleback fever).
Poliomielitis merupakan contoh klasik dari pola demam ini. Gambaran
bifasik juga khas untuk leptospirosis, demam dengue, demam
kuning, Colorado tick fever, spirillary rat-bite fever (Spirillum minus),
dan African hemorrhagic fever (Marburg, Ebola, dan demam Lassa).
 Relapsing fever dan demam periodik:
 Demam periodik ditandai oleh episode demam berulang
dengan interval regular atau irregular. Tiap episode diikuti satu sampai
beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan suhu normal.
Contoh yang dapat dilihat adalah malaria (istilah tertiana digunakan
19

bila demam terjadi setiap hari ke-3, kuartana bila demam terjadi setiap
hari ke-4) (Gambar 5.)dan brucellosis.
Gambar 5. Pola demam malaria
 Relapsing fever adalah istilah yang biasa dipakai untuk demam
rekuren yang disebabkan oleh sejumlah spesies Borrelia (Gambar 6.)dan
ditularkan oleh kutu (louse-borne RF) atau tick (tick-borne RF).
 Tabel 2.1. Tipe-tipe demam Jenis demam Penjelasan
 Demam septik Pada demam ini, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi
sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat di atas normal pada pagi hari.
 Demam hektik Pada demam ini, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi
sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat yang normal pada pagi hari
 Demam remiten Pada demam ini, suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak
pernah mencapai suhu normal
 Demam intermiten Pada demam ini, suhu badan turun ke tingkat yang normal
selama beberapa jam dalam satu hari.
 Demam Kontinyu Pada demam ini, terdapat variasi suhu sepanjang hari yang tidak
berbeda lebih dari satu derajat.
 Demam Siklik Pada demam ini, kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang
diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh
kenaikan suhu seperti semula.

bentuk keluarga,
Tonsilofaringitis. Penularan terjadi melalui percikan ludah (droplet infection). Mula-mula kuman
menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisial bereaksi,
terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.

scarlet fever disebabkan oleh bakteri Streptokokus Alpha


Hemolitikus. Gejala prodromal penyakit ini menyerupai measles dan
demam dengan ruam lainnya. Keterlibatan saluran pernapasan atas
sangat mencolok pada scarlet fever, contoh ditemukannya faringitis
dan lidah yang tertutup selaput dengan papil yang membengkak
sehingga menyerupai stroberi. Ruam yang muncul dapat terjadi
setelah gejala prodromal selesai. Ruam muncul pertama kali pada
area leher dan akan menyebar ke ekstremitas dan seluruh tubuh.
Wajah jarang terkena lesi ruam scarlet fever.
20

Laryngitis : suara serak, puncak suara ( vocal pitch) berkurang atau


tdk ada suara, batuk menggonggong, strtidor aspirasi. Demam 39-40.
Khas: perburukan malam hari, berulang dengan intensitas menurun bbrp
hari dan sembuh full dlm satu minggu. +pilek, hidung tersumbat, batuk
dan sakit menelan. Suara serak, coryza, faring hiperemi, RR dan nadi
meningkat, pernafasan cuping hidung.