Anda di halaman 1dari 22

PERMOHONAN PEMBUBARAN PARTAI POLITIK

Anggota Kelompok E:

Ade Surya Kelana 1706072140


Adzhani Tharifah 1706025592
Auliya Rahmania 1706028291
Cut Naifa Ufaira 1706071794
Felicia Tjokro 1706071863
Fithriyah Salsabila 1706026185
Shafira Amalia 1706026260

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2019
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

Jakarta, 9 April 2024

Nomor : SP-001/A/J.A/04/2024
Hal : Permohonan Pembubaran Partai Balon

Yth.
Ketua Mahkamah Konstitusi
Jalan Medan Merdeka Barat No. 6
Jakarta Pusat
Indonesia

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ir. H. Joko Widodo


Jabatan : Presiden Republik Indonesia
Warga Negara : Indonesia
Alamat : Jl. Medan Merdeka Utara No.RT. 02, Gambir, Daerah
Khusus Ibukota Jakarta 10110
Nomor faksimili : (021) 3442223
E-mail : humas.puspenkum@kejaksaan.go.id

berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 081/SKK/2024 tanggal 1 April 2024


memberi kuasa kepada H.M. Prasetyo, S.H., M.H. adalah Jaksa Agung pada
Kejaksaan Agung RI, beralamat di Jl. Sultan Hasanuddin No. 1 Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan, bertindak untuk dan atas nama Pemohon.
Selanjutnya disebut sebagai---------------------------------------------PEMOHON
terhadap
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

Nama : Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H


Tempat, Tanggal Lahir : Padang, 3 Oktober 1958
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan : Ketua Umum Partai Balon
Agama : Islam
Alamat : Jl. Palmerah Barat II A No. 41 C, Jakarta
Barat, 11480
bertindak untuk dan atas nama Partai Balon yang selanjutnya disebut sebagai
----------------------------------------TERMOHON------------------------------------

Pemohon dengan ini mengajukan Permohonan kepada Mahkamah Konstitusi


perihal Pembubaran Partai Balon yang telah melaksanakan Program dan
Kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Repbulik
Indonesia Tahun 1945 yang untuk selanjutnya disebut UUD 1945. Adapun
kedudukan hukum (legal standing) pengajuan permohonan pembubaran partai
politik tersebut diuraikan sebagai berikut:

KEDUDUKAN PEMOHON (LEGAL STANDING) DAN KERUGIAN


PEMOHON

1. Bahwa Mahkamah Konstitusi antara lain berfungsi sebagai “guardian” dari


“constitutional rights” setiap warga negara Republik Indonesia dan merupakan
badan yudisial yang bertugas menjaga hak konstitusionalitas dan hak hukum
setiap warga negara.
2. Bahwa berdasarkan Pasal 68 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi yang selanjutnya disebut sebagai UU Mahkamah
Konstitusi disebutkan bahwa, “Pemohon adalah Pemerintah.”
3. Bahwa berdasarkan Penjelasan Pasal 68 ayat (1) UU Mahkamah Konstitusi,
“Yang dimaksud dengan ‘Pemerintah’ adalah Pemerintah Pusat”.
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

4. Bahwa berdasarkan Pasal 3 Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 12 Tahun


2008 tentang Prosedur Beracara dalam Pembubaran Partai Politik dinyatakan
bahwa, “Pemohon adalah Pemerintah yang dapat diwakili oleh Jaksa Agung
dan/atau Menteri yang ditugasi oleh Presiden untuk itu.”
5. Bahwa Pemohon, Ir. H. Joko Widodo, adalah Presiden Republik Indonesia
yang memiliki kewenangan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
Bahwa selanjutnya, Ir. H. Joko Widodo berdasarkan Surat Kuasa Khusus
Nomor 081/SKK/2024 tanggal 1 April 2024 memberi kuasa kepada H.M.
Prasetyo, S.H., M.H. adalah Jaksa Agung pada Kejaksaan Agung RI yang
selanjutnya disebut sebagai Pemohon. Dengan demikian, berdasarkan
ketentuan Pasal 51 ayat (1) UU Mahkamah Konstitusi, Pemohon masuk dalam
kategori “Pemerintah”. Oleh karena itu Pemohon memenuhi salah satu
kualifikasi sebagai pemohon pembubaran partai politik.
6. Bahwa berdasarkan ketentuan di atas, Pemerintah dalam hal kewenangan
Pemerintahan untuk menjadi Pemohon terkait dengan tanggung jawabnya
untuk menjalankan UUD 1945 dan segala peraturan perundang-undangan yang
berlaku, serta mengupayakan tegaknya UUD 1945 beserta segala peraturan
perundang-undangan itu dengan sebaik-baiknya.
7. Bahwa Partai Balon selaku Termohon telah melaksanakan Program dan
Kegiatan yang bertentangan dengan ideologi yang termuat dalam Anggaran
Dasar Termohon yang telah disetujui yang berpedoman pada nilai-nilai
Pancasila.
8. Bahwa Program dan Kegiatan yang dilaksanakan oleh Termohon bertitik tolak
dari konsep Neoliberalisme dan Kolonialisme.
9. Bahwa Program dan Kegiatan yang dilakukan Termohon merupakan
penyimpangan terhadap nilai Pancasila butir kesatu, yaitu “Ketuhanan yang
Maha Esa” dan Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945 “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga


keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.”
10. Bahwa berdasarkan uraian di atas, dengan demikian Pemohon memiliki
kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan
pembubaran Termohon yang Program dan Kegiatannya bertentangan dengan
Undang-Undang Dasar 1945.

DUDUK PERKARA

A. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI

1. Menurut Pasal 24 C ayat (1) Perubahan Ketiga UUD 1945 juncto Pasal 1 UU
Mahkamah Konstitusi telah menyatakan bahwa Mahkamah Konstitusi
berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir serta putusannya
bersifat final mengenai pembubaran partai politik.
2. Bahwa Pasal 10 ayat (1) huruf a UU Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi,
berbunyi:

“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan


terakhir yang putusannya bersifat final untuk:

1. Menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
3. Memutus pembubaran partai politik; dan
4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum”.
3. Bahwa alasan pengajuan pembubaran Termohon kepada Mahkamah Konstitusi
dikarenakan Termohon melakukan Program dan Kegiatan yang bertentangan
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

dengan UUD 1945 di mana hal ini berkesesuaian dengan Pasal 2 Peraturan
Mahkamah Konstitusi Nomor 12 Tahun 2008 yang menyatakan pembubaran
partai politik dilakukan apabila ada pertentangan ideologi, asas, tujuan,
program, serta partai politik terhadap UUD 1945.
4. Bahwa oleh karena permohonan Pemohon adalah pengajuan pembubaran partai
politik, maka berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, Mahkamah
Konstitusi berwenang untuk memeriksa dan memutus mengenai sengketa
pembubaran partai politik.

POKOK PERKARA

1. Bahwa dalam pelaksanaan kegiatan partai politik Termohon dianggap telah


melakukan Program dan Kegiatan partai yang bertentangan dengan ideologi
yang terdapat dalam Anggaran Dasar.
2. Bahwa pandangan ideologis yang dianggap bertentangan tersebut bertitik tolak
dari konsep Neoliberalisme dan kolonialisme yang dikembangkan suatu
Komunitas Internasional yang diikuti oleh Termohon dengan tujuan untuk
mengembangkan suatu tatanan dunia baru dibawah paham Neoliberalisme dan
kolonialisme
3. Bahwa kegiatan, pandangan, serta perkataan kader dari Partai Balon merebak
seiring dengan pemberitaan media massa dengan contoh pemberitaan lebih
lanjut ditunjukkan pada bagian Lampiran.
4. Bahwa kegiatan yang dimaksud di antaranya sebagai berikut ini :
a. Pada Seminar bertemakan “Menuju Indonesia Emas 2030” yang
diselenggarakan oleh Termohon pada 14 Juli 2019, Bapak Dr. Hasan
Azhari, S.H, M.H, selaku Ketua Umum Partai Balon menyatakan
pendapatnya yang bertentangan dengan sila pertama Pancasila. Adapun
pendapat Bapak Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H berbunyi sebagai berikut
“... konsep negara Indonesia berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

nyatanya tidak menjadikan Indonesia sebagai negara yang makmur dan


sejahtera. Agama justru dijadikan alat politik untuk memecah belah
bangsa. Lebih baik Indonesia sebagai negara tidak perlu mencampuri
urusan ketuhanan. Penggunaan sila pertama sudah tidak relevan,
berikan saja kebebasan bagi rakyat untuk memeluk agama atau tidak
memeluk sama sekali…”
b. Bahwa dengan pendapat Bapak Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H dalam
Seminar “Menuju Indonesia Emas 2030” yang menuai kontroversi yang
didukung dengan dikeluarkannya pernyataan pendapat dan sikap
keagamaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), sementara Bapak Dr.
Hasan Azhari, S.H, M.H tidak bersedia untuk dimintakan pendapat
ketika Berita Satu pada tanggal 15 Juli 2019 menginginkan klarifikasi.
c. Bahwa adanya surat pernyataan pendapat dan sikap keagamaan MUI
menambah kericuhan di masyarakat sehingga press release terhadap
pendapat Bapak Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H dilakukan oleh Wakil
Ketua Umum Partai Bulan yaitu Bapak Jimly Jauhar, S.H., LL.M, pada
tanggal 21 Juli 2019 di Hotel Indonesia Kempinski yang menyatakan
sebagai berikut “... bahwa Bapak Hasan tidak menyalahkan penerapan
sila pertama Pancasila. Partai Balon tentunya menghargai ideologi
kebangsaan Indonesia. Namun, memang kenyataannya sila pertama
Pancasila sudah tidak lagi dijalankan. Sehingga saran untuk
meninggalkan sila pertama bukanlah suatu penyimpangan ideologi,
tetapi menyatakan sebuah fakta…”
d. Bahwa pernyataan dari Bapak Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H dan
klarifikasi dari Bapak Jimly Jauhar, S.H., LL.M. selaku ketua umum
dan wakil ketua umum yang merepresentasikan Termohon adalah
sebagai bentuk pandangan yang bertentangan dengan bagian
pembukaan UUD 1945 dan mukadimah Anggaran Dasar Termohon
yang berbunyi “mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

berketuhanan Yang Maha Esa” di mana pandangan tersebut


menunjukkan Termohon menganut paham Neoliberalisme .
e. Bahwa pada tanggal 28 September 2019, Termohon mengadakan
program dan kegiatan bertajuk “Indonesia Mandiri” yang merupakan
sebuah talk show yang sifatnya terbuka untuk umum yang membahas
konsep pemerintahan tanpa ketuhanan. Talk show “Indonesia Mandiri”
mengundang pakar Neoliberalisme , yaitu Ibu Siti Athena, S.I.Pol.
untuk menjelaskan pentingnya konsep pemerintahan tanpa ketuhanan
untuk kemajuan bangsa.
f. Bahwa saat talk show “Indonesia Mandiri”, para hadirin diberikan
goodie bag dengan logo balon hijau sebagaimana lambang resmi
Termohon yang berisikan buku berjudul “Negara Tanpa Tuhan” karya
Ibu Naifa Tjokro, S.H. selaku Wakil Ketua Umum Bidang Ideologi
Termohon.
g. Bahwa talk show “Indonesia Mandiri” dipublikasikan secara resmi
dalam situs web Termohon dalam laporan kegiatan berjudul “Indonesia
Mandiri: Sebuah Jalan Menuju Kemakmuran” yang dapat diakses pada
www.partaibalon.com/indonesia-mandiri-sebuah-jalan-menuju-
kemakmuran disertai dengan foto-foto kegiatan.
h. Pada Sidang Akbar II Partai Balon pada tanggal 21 Maret 2016 pukul
12.30 WIB, Bendahara Umum Partai Balon atas nama Sudarman telah
menyatakan kalimat sebagai berikut “...bahwa jaminan sosial yang
diselenggarakan pemerintah tidak ada gunanya dan hendaknya segala
sektor terkait jaminan sosial diserahkan kepada swasta” menyalahi
konsep jaminan sosial dan peruntukannya yang diatur dalam bagian
ketiga dengan judul Jaminan Sosial UU Nomor 11 Tahun 2009
mengenai Kesejahteraan Sosial.
i. Kader Partai Balon bernama Sahidi pada Kampanye Akbar tanggal 21
April 2017 pukul 19.00 WIB menyatakan bahwa pemerintah tidak
berhak atas penyelenggaraan pelayanan publik konsep terpadu karena
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

hanya menambah birokrasi dan penerapannya diskriminatif, dimana hal


ini menyalahi konsep terpadu yang dituangkan dalam pasal 9 ayat (1)
UU Nomor 25 Tahun 2009 serta asas pelayanan publik yang sejatinya
ditujukan untuk mendukung terciptanya kesejahteraan masyarakat
Indonesia.
j. Dalam wawancara eksklusif dengan Ketua Umum Partai Balon, Bapak
Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H, di stasiun TV Metro Tv News Update pada
jam 17.00 WIB dimana beliau menyampaikan bahwa “konsep
perekonomian Indonesia sudah agak kuno, hendaknya perekonomian
diserahkan penuh pada mekanisme pasar agar menaikkan nilai serta
kestabilan nilai mata uang negara” melanggar konsep di mana negara
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan kesejahteraan sosial
sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 4 UU Nomor 11 Tahun 2019
tentang Kesejahteraan Sosial.
k. Perkataan Termohon dalam banner yang dibuatnya dalam setiap acara
musyawarah partai menyatakan bahwa Termohon akan memperluas
lapangan kerja namun, program bantuan dari pemerintah akan
dihapuskan.
l. Dalam seminar yang diadakan pada tanggal 11 November 2020 di
Jakarta, Partai Balon telah memaparkan materi mengenai upaya untuk
mengesampingkan peran pemerintah dalam sistem perekonomian di
Indonesia.

PERTIMBANGAN

A. Pernyataan ideologi, program, dan kegiatan Termohon yang


mempropagandakan Neoliberalisme mengusik ketentraman hidup
bermasyarakat
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

1. Menimbang adanya pendapat Bapak Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H dalam
seminar “Menuju Indonesia Emas 2030” yang diselenggarakan pada 14
Juli 2019 menimbulkan kontroversi di mana MUI turun tangan dengan
mengeluarkan surat pernyataan pendapat dan sikap keagamaan yang
berisikan “Termohon merupakan partai yang mengamalkan nilai-nilai
yang bertentangan dengan sila pertama Pancasila. Termohon tidak
menghargai pentingnya ketuhanan dalam hidup bernegara dan oleh
karenanya harus dibubarkan secepatnya oleh Pemerintah.”
2. Adanya surat pernyataan pendapat dan sikap keagamaan MUI
menambah ketidakstabilan politik tanah air. Masyarakat mengadakan
aksi meminta Pemerintah segera membubarkan Termohon melalui
demonstrasi di depan gedung MK pada tanggal 20 Juli 2019,
penandatanganan petisi “Bubarkan Partai Politik” pada laman
change.org/bubarkan-partai-balon, dan maraknya gerakan di sosial
media yang mengecam disegerakannya pembubaran Termohon.
3. Bahwasanya press release yang dilakukan Wakil Ketua Umum
Termohon yaitu Bapak Jimly Jauhar, S.H., LL.M, pada tanggal 21 Juli
2019 tidak meredakan situasi di masyarakat dan justru mengganggu
tatanan kehidupan bermasyarakat.
4. Menimbang dalam Pasal 68 ayat (2) UU MK dinyatakan bahwa
pembubaran partai politik dapat dilakukan dengan cara Pemohon
menguraikan secara jelas ideologi, asas, tujuan, program, dan kegiatan
partai politik yang bersangkutan yang bertentangan dengan UUD 1945.
Maka, pendapat Bapak Bapak Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H dalam
seminar “Menuju Indonesia Emas 2030” yang diselenggarakan
Termohon merupakan bentuk pemaparan ideologi yang bertentangan
dengan sila pertama Pancasila, yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
5. Menimbang bahwa pemaparan ideologi tersebut juga bertentangan
dengan mukadimah Anggaran Dasar Termohon yang berbunyi
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

“mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang berketuhanan Yang


Maha Esa”
6. Menimbang bahwa talk show “Indonesia Mandiri” yang bersifat terbuka
untuk umum dengan mengundang pakar Neoliberalisme , yaitu Ibu Siti
Athena, S.I.Pol. menunjukkan itikad Termohon untuk mengenalkan dan
menyebarluaskan paham Neoliberalisme .
7. Menimbang bahwa dengan diberikannya goodie bag berlogo resmi
Termohon berisikan buku “Negara Tanpa Tuhan” karya Ibu Naifa
Tjokro, S.H. selaku Wakil Ketua Umum Bidang Ideologi Termohon
menunjukkan bahwa Termohon telah menganut, mengamalkan, dan
memahami paham Neoliberalisme secara mengakar dilihat dari
pandangan Ketua Umum, klarifikasi Wakil Ketua Umum, dan buku
karangan Wakil Ketua Umum Bidang Ideologi yang semuanya
mendukung adanya negara tanpa ketuhanan.
8. Bahwa adanya goodie bag berisikan buku “Negara Tanpa Tuhan”
merupakan suatu bentuk propaganda terhadap paham Neoliberalisme
yang kebenarannya dapat dibuktikan dengan melihat laporan kegiatan
berjudul “Indonesia Mandiri: Sebuah Jalan Menuju Kemakmuran” yang
dapat diakses pada www.partaibalon.com/indonesia-mandiri-sebuah-
jalan-menuju-kemakmuran disertai dengan foto-foto kegiatan.
9. Menimbang diselenggarakannya talk show “Indonesia Mandiri” juga
merupakan program dan kegiatan yang bertentangan dengan sila pertama
Pancasila dan mukadimah Anggaran Dasar Termohon.

A. Keresahan masyarakat bahwa akan timbul perpecahan kehidupan


berbangsa dan bernegara

1. Neoliberalisme merupakan pemahaman yang muncul pasca era


kolonialisme dimana terjadi rekayasa bentuk kekuasaan untuk dikelola
dibawah satu hegemoni kepemimpinan atas wilayah yang luas.
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

2. Adapun pemahaman Neoliberalisme bertitik tolak ekstrem pada kekuatan


pasar (invisible hand) sehingga menutup peluang pengaturan dari
pemerintah atas aspek tertentu khususnya dalam bidang publik.
3. Adapun pergerakan dari Termohon dengan membawa nilai Neoliberalisme
ini menumbuhkan kekhawatiran pada masyarakat Indonesia dikarenakan
membawa ideologi yang bertentangan dengan Pancasila serta berpotensi
menimbulkan perpecahan dalam bernegara dikarenakan Partai Balon
merupakan salah satu wakil rakyat serta salah satu kadernya menjadi
Presiden terpilih Republik Indonesia.
4. Bahwa terjadinya perpecahan dalam Negara Indonesia merupakan
ancaman serius yang dapat menyebabkan tidak terpenuhinya Pasal 3
Pancasila yaitu Persatuan Indonesia.
5. Posisi Termohon dalam rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat pemerintahan
dikhawatirkan dapat menyebabkan terbitnya ancaman untuk internalisasi
ideologi Neoliberalisme dalam dasar negara dimana hal tersebut
berpotensi melanggar pelaksanaan jaminan Hak Asasi Manusia khususnya
hak mendapatkan perlindungan dari negara sebagaimana yang tertuang
dalam pasal 28G UUD 1945.
6. Dalam praktek berkampanye, Termohon kerap kali menjanjikan sejumlah
uang kepada peserta yang hadir agar mendukung konsep Neoliberalisme
dan sebagai jaminan untuk dipilih dalam pemilihan mendatang.
7. Kolonialisme merupakan paham mengenai pemindahan kekayaan dari
daerah terjajah ke daerah penguasa dan menghambat kesuksesan
pertumbuhan ekonomi negara jajahan.
8. Adapun tujuan dari kolonialisme adalah agar negara penjajah dapat
mengambil kekayaan yang terdapat dalam negara jajahan
9. Adapun dengan adanya usungan dari Termohon agar Indonesia tunduk
kepada sistem pemerintahan negara maju lainnya merupakan
penyimpangan dari tujuan nasional ke-empat yaitu melaksanakan
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan


keadilan sosial.

B. Pemahaman Neoliberalisme berpotensi mengakibatkan kesenjangan


ekonomi

1. Adapun konsep Neoliberalisme bertitik tolak ekstrem pada kekuatan pasar


(invisible hand) sehingga menutup peluang pengaturan dari pemerintah atas
aspek tertentu khususnya dalam bidang publik.
2. Adapun dengan tidak adanya pengaturan dari pemerintah atas aspek tertentu
khususnya dalam bidang publik, ini menyebabkan tidak ada perlindungan
pemerintah terhadap rakyat ekonomi lemah.
3. Praktek penyelenggaraan mekanisme pasar yang ekstrem bisa dilihat pada
negara Amerika Serikat dimana warga negaranya kesulitan mendapat akses
pelayanan publik dengan setara karena mayoritas pelayanan publik dikuasai
oleh badan swasta
4. Adapun dengan tidak adanya kontrol pemerintah dalam sektor ekonomi
konsep Neo Liberalisme, maka sangat dimungkinkan adanya praktek
penindasan para pemilik modal pada rakyat ekonomi lemah.
5. Adapun apabila terjadi penindasan tersebut sangat dimungkinkan terjadinya
kesenjangan ekonomi di masyarakat Indonesia. Apabila terjadi kesenjangan
ekonomi maka akan melanggar salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu,
….melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum….
6. Bahwa pada Sidang Akbar II Termohon pada tanggal 21 Maret 2016 pukul
12.30 WIB, Bendahara Umum Termohon atas nama Sudarman telah
menyatakan kalimat sebagai berikut “...bahwa jaminan sosial yang
diselenggarakan pemerintah tidak ada gunanya dan hendaknya segala
sektor terkait jaminan sosial diserahkan kepada swasta” menyalahi konsep
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

jaminan sosial dan peruntukannya yang diatur dalam bagian ketiga dengan
judul Jaminan Sosial UU Nomor 11 Tahun 2009 mengenai Kesejahteraan
Sosial
7. Bahwa Kader Termohon bernama Sahidi pada Kampanye Akbar tanggal 21
April 2017 pukul 19.00 WIB menyatakan bahwa pemerintah tidak berhak
atas penyelenggaraan pelayanan publik konsep terpadu karena hanya
menambah birokrasi dan penerapannya diskriminatif, dimana hal ini
menyalahi konsep terpadu yang dituangkan dalam pasal 9 ayat (1) UU
Nomor 25 Tahun 2009 serta asas pelayanan publik yang sejatinya ditujukan
untuk mendukung terciptanya kesejahteraan masyarakat Indonesia.

C. Pemahaman Neoliberalisme mengancam kestabilan nilai mata uang dan


perekonomian negara

1. Adapun Neoliberalisme tidak dapat diterapkan di Indonesia yang


merupakan negara berkembang karena dengan adanya praktik pasar bebas di
mana Indonesia menyerahkan banyak aset kepada pihak asing, justru akan
menyulitkan Indonesia untuk menyeimbangkan diri dan bersaing dalam
persaingan pasar bebas.
2. Adapun Termohon menyatakan dukungan atas konsep Neoliberalisme serta
terang-terangan menyatakan tergabung dalam Komunitas Internasional
tatanan dunia baru dalam press release yang diunggah dalam website resmi
Partai Balon mengenai persaingan pasar bebas dan perekonomian nasional
pada 1 November 2020 di Jakarta.
3. Pemberitaan dalam bentuk wawancara eksklusif dengan Ketua Umum
Termohon, Bapak Ajisaka di stasiun TV Metro Tv News Update pada jam
17.00 WIB dimana beliau menyampaikan bahwa “konsep perekonomian
Indonesia sudah agak kuno, hendaknya perekonomian diserahkan penuh
pada mekanisme pasar agar menaikkan nilai serta kestabilan nilai mata
uang negara” melanggar konsep dimana negara bertanggung jawab dalam
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

menyelenggarakan kesejahteraan sosial sebagaimana yang tertuang dalam


Pasal 4 UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Kesejahteraan Sosial.
4. Adapun dengan adanya pasar bebas yang dipengaruhi oleh konsep
Neoliberalisme dapat terjadi deregulasi ekonomi yang merupakan
pengurangan kewenangan pemerintah untuk ikut campur dalam
perekonomian Negara. Hal ini dapat menyebabkan melemahnya
perekonomian nasional dikarenakan mudahnya barang impor masuk ke
pasar di Indonesia dengan harga yang lebih murah menyebabkan permintaan
mata uang rupiah menurun yang secara langsung dapat mengganggu
kestabilan nilai rupiah.
5. Adapun praktik Neoliberalisme yang mengancam kestabilan nilai rupiah
dan perekonomian negara bertentangan dengan Pasal 33 ayat (4) UUD 1945
yang berbunyi “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan
menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.”

D. Konsep Neoliberalisme menghapuskan konsep pelayanan publik dalam


bernegara

1. Adapun konsep Neoliberalisme yang menekankan pada kekuasaan pasar


sehingga mengurangi peran pemerintah dalam bidang pelayanan publik.
2. Adapun perkataan Termohon dalam banner yang dibuatnya dalam setiap
acara musyawarah partai menyatakan bahwa Partai Balon akan memperluas
lapangan kerja namun, program bantuan dari pemerintah akan dihapuskan.
3. Adapun alasan dihapuskannya program bantuan tersebut karena dianggap
tidak efisien yang dapat menyebabkan masyarakat segan berusaha dan akan
bergantung pada bantuan pemerintah, hal ini berakibat pada melemahnya etos
kerja dan memberikan hasil kesejahteraan rakyat yang tidak optimal.
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

4. Adapun apabila dihapuskannya program bantuan pemerintah tersebut telah


melanggar tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdapat dalam
Pembukaan UUD 1945 alinea keempat yaitu “... untuk membentuk suatu
Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum…”

E. Konsep Neoliberalisme mengancam kedaulatan negara

1. Adapun apabila dengan diterapkannya konsep Neoliberalisme dalam


kehidupan bernegara akan mengakibatkan terbatasnya peran pemerintah
hanya sebagai pengatur dan penjaga bekerjanya mekanisme pasar.
2. Adapun dengan terbatasnya peran pemerintah dalam bidang perekonomian,
hal tersebut bertentangan dengan ekonomi kerakyatan sebagaimana
dikemukakan dalam Pasal 33 UUD 1945 yang pada intinya menyatakan
bahwa sebuah sistem perekonomian harus ditujukan untuk mewujudkan
kedaulatan rakyat dalam bidang perekonomian dengan tiga prinsip dasar
yaitu:
- perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan;
- cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara;
- bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat. Berdasar tiga prinsip tersebut dapat ditafsirkan besarnya peran
negara dalam sistem perekonomian di Indonesia
2. Bahwa Termohon dalam mengembangkan dan menyebarkan paham atau
konsep Neoliberalisme menggunakan metode penyampaian melalui seminar
yang diadakan pada tanggal 11 November 2020 di Jakarta, telah memaparkan
materi mengenai upaya untuk mengesampingkan peran pemerintah dalam
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

sistem perekonomian di Indonesia. Konsep tersebut telah bertentangan dengan


UUD 1945 khususnya Pasal 33 yang dimana apabila diterapkan dalam sistem
perekonomian indonesia akan mengancam kedaulatan negara sebab sistem
perekonomian tersebut tidak sesuai lagi dengan sistem ekonomi kerakyatan.

F. Konsep Neo Libelarisme berpotensi mengesampingkan sila pertama


Pancasila

1. Neoliberalisme adalam sebuah ideologi yang didasarkan pada pemahaman


bahwa kebabasan adalah nilai yang utama. Neoliberalisme mencita-citakan
suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para
individu. Dalam aspek agama, Konsep Neoliberalisme tersebut akan
menimbulkan sekelompok orang yang tidak mempercayai keberadaan
Tuhan serta penolakan untuk memeluk agama.
2. Adapun apabila diterapkanya konsep Neo-Libelarisme tersebut akan
bertentangan dengan Ideologi Pancasila khususnya terkait dengan aspek di
bidang agama yang dituangkan pada sila pertama Pancasila yang berbunyi
“Ketuhanan yang Maha Esa” sebab konsep Neoliberalisme menolak
adanya pembatasan khususnya pembatasan dalam aspek agama.
3. Adapun yang dimaksud dari bunyi sila pertama tersebut adalah bangsa
Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan agama menjadi
prioritas utama. Nilai-Nilai agama harus dilindungi dan diamalkan untuk
pembangunan dan kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.
4. Adapun dalam hal ini Termohon telah melakukan kegiatan propaganda
melalui siaran radio maupun televisi yang memberikan informasi berbasis
agama yang kontra terhadap Ideologi Pancasila.

G. Konsep Kolonialisme Mengancam Kesejahteraan Rakyat


KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

1. Bahwa menurut Andre Gunder Frank kolonialisme merupakan pemindahan


kekayaan dari daerah terjajah ke daerah penguasa dan menghambat
kesuksesan pertumbuhan ekonomi negara jajahan.
2. Adapun tujuan dari kolonialisme merupakan agar negara penjajah dapat
mengambil kekayaan yang terdapat dalam negara jajahan.
3. Adapun konsep neokolonialisme yaitu penjajahan modern dimana lebih
memfokuskan pada bidang perekonomian.
4. Adapun pernyataan yang disebutkan dalam seminar Termohon yang
menyatakan memberikan dukungan terhadap konsep neokolonialisme
dimana akan mengikuti sistem perekonomian negara maju.
5. Adapun apabila konsep neokolonialisme diterapkan maka akan terjadi
penguasaan perekonomian oleh negara asing dan mengurangi peran
pemerintah.
6. Adapun dampak jika perekonomian dikuasai oleh asing adalah akan
mengancam kesejahteraan rakyat, karena perekonomian akan difokuskan
untuk memenuhi kebutuhan negara asing, bukan untuk membantu
menyejahterakan rakyat.
7. Adapun dampak tersebut telah melanggar tujuan negara yang tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “....melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejateraan umum…..”

H. Konsep Kolonialisme Mengancam Hak Kemerdekaan Bangsa

1. Bahwa Istilah kolonialisme bermaksud memaksakan satu bentuk


pemerintahan atas sebuah wilayah atau negeri lain atau suatu usaha untuk
mendapatkan sebuah wilayah baik melalui paksaan atau dengan cara damai.
2. Adapun Negara yang menjajah menggariskan panduan tertentu atas wilayah
jajahannya, meliputi aspek kehidupan sosial, pemerintahan, undang-undang
dan sebagainya.
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

3. Adapun dengan konsep kolonialisme tidak menutup kemungkinan terjadi


pula imperialisme yang merujuk pada sistem pemerintahan serta hubungan
ekonomi dan politik negara-negara kaya dan berkuasa , mengawal dan
menguasai negara- negara lain yang dianggap terbelakang dan miskin
dengan tujuan mengeksploitasi sumber-sumber yang ada di negara tersebut
untuk menambah kekayaan dan kekuasaan negara penjajahnya.
4. Adapun pada saat diadakannya Rapat Persetujuan dan Pembahasan
Rancangan Pembangunan Nasional oleh DPR, Kader partai Balon yang
bernama Rudi mencanangkan agar Indonesia ikut atau tunduk kepada sistem
pemerintahan Negara B yang merupakan negara maju.
5. Adapun dengan adanya usungan tersebut merupakan penyimpangan dari
tujuan nasional ke-empat yaitu melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

PETITUM
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas, Pemohon dengan ini memohon
agar Mahkamah Konstitusi berkenan memutuskan sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon sepenuhnya;
2. Menyatakan pembubaran Termohon sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam Pasal 41 huruf C Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai
Politik jo. Pasal 45 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik;
3. Menyatakan pembatalan status badan hukum Partai Balon;
4. Menghukum Termohon dengan menarik seluruh anggota DPR dan DPRD
yang berasal dari Partai Balon;
5. Menghukum Termohon dengan melarang mantan pengurus Partai Balon
untuk melakukan kegiatan politik;
6. Menghukum Termohon dengan mengalihkan kekayaan Termohon ke kas
negara.
Atau apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon diberikan putusan yang
seadil-adilnya berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (ex aquo et bono).

Hormat saya,

H.M. Prasetyo, S.H., M.H.


NIP: 19560108 198103 1 004

LAMPIRAN

1. Surat kuasa untuk Kejaksaan Republik Indonesia.


KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

2. Foto banner yang digunakan oleh Partai Balon setiap melakukan musyawarah.
3. Bukti foto saat Partai Balon melakukan kampanye.
4. Bukti foto aksi demonstrasi pembubaran Partai Balon di depan gedung
Mahkamah Konstitusi tertanggal 20 Juli 2019.
5. Bukti pembayaran pencetakan banner Partai Balon.
6. Screenshot laman sosial media dan website Partai Balon yang sarat akan
sosialisasi nilai Neoliberalisme dan Neokolonialisme.
7. Screenshot laman sosial media gerakan-gerakan pro pembubaran Partai Balon.
8. Press release terhadap pendapat Bapak Dr. Hasan Azhari, S.H, M.H dilakukan
oleh Wakil Ketua Umum Partai Bulan yaitu Bapak Jimly Jauhar, S.H., LL.M,
pada tanggal 21 Juli 2019 di Hotel Indonesia Kempinski.
9. Goodie bag berisikan buku “Negara Tanpa Tuhan” karya Ibu Naifa Tjokro,
S.H. selaku Wakil Ketua Umum Bidang Ideologi Partai Balon.
10. Surat Pernyataan Pendapat dan Sikap Keagamaan Majelis Ulama Indonesia
terhadap pendapat Ketua Umum Partai Balon dalam Seminar “Menuju
Indonesia Emas 2030”.
11. Rekaman video terkait Partai Balon yang diantaranya berupa:
a. Rekaman sidang akbar ke II Partai Balon tanggal 21 Maret 2016 Pukul
12.30 WIB;
b. Rekaman kampanye akbar tanggal 21 April 2017;
c. Wawancara dengan ketua Partai Balon pada stasiun Metro TV dan
khususnya pada acara Metro TV News Update pukul 17.00 WIB; dan
d. Seminar Partai Balon tanggal 11 November 2020
12. Berita acara Sidang Akbar Partai Balon.
13. Anggaran Dasar Partai Balon.
14. Notulensi Rapat Pembahasan Rencana Pembangunan Nasional oleh DPR 1
November 2017.
15. Pemberitaan media massa diantaranya:
a. Artikel Kompas “Partai Balon dan Ideologi Neoliberalisme ”
dipublikasi pada tanggal 13 Mei 2016 pukul 17.00 WIB;
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
E-mail: humas.puspenkum@kejaksaan.go.id
No. Telp: (021) 7221269

b. Infografis Tirto.id “Pemahaman Neoliberalisme dan Pancasila”


dipublikasi pada tanggal 21 April 2016 pukul 18.00 WIB;
c. Liputan Khusus (Lipsus) Tempo “Partai Balon : Ancaman Ideologi
bagi Bangsa Indonesia” dipublikasikan dalam bentuk video dan
wawancara ekslusif, dipublikasikan pada tanggal 25 April 2017;
d. Kumparan dalam artikel “Partai Balon dan Idealismenya”
dipublikasikan tanggal 15 Mei 2018 Pukul 12.30 WIB;
e. Acara Mata Najwa “Partai Balon dan Sepak Terjangnya” ditayangkan
pada tanggal 17 Desember 2018 pukul 18.00 WIB dan dapat diunggah
dalam channel youtube Narasi TV;
f. Laporan kegiatan terkait talk show “Indonesia Mandiri” berjudul
“Indonesia Mandiri: Sebuah Jalan Menuju Kemakmuran” yang dapat
diakses pada www.partaibalon.com/indonesia-mandiri-sebuah-jalan-
menuju-kemakmuran disertai dengan foto-foto kegiatan;
g. Penandatanganan petisi “Bubarkan Partai Politik” pada laman
change.org/bubarkan-partai-balon.