Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

ASKEP TRAUMA DADA

OLEH :
KELOMPOK 4
1. DARA AVIOLIN (1711316022)
2. REFMAIZA FARZI (1711316024)
3. YOLANDA ROVA (1711316025)
4. NILAM MARTA YULBA (1711316026)
5. NUTRADILLAH ALENDINA (1711316027)
6. RIKA SYUBRI DEWI (1711316028)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS 2018
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 3
B. Tujuan .................................................................................................. 4
C. Manfaat ............................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN TEORI ............................................................................ 5
A. TRAUMA DADA
a. Pengertian ........................................................................................ 5
b. Faktor predisposisi .......................................................................... 5
c. Klasifikasi ....................................................................................... 5
d. Patofisiologi .................................................................................... 6
e. WOC Trauma Dada ......................................................................... 7
f. Tanda dan gejala .............................................................................. 8
g. Pemeriksaan Penunjang ................................................................... 8
h. Penatalaksanaan medis ................................................................... 8
i. Komplikasi ...................................................................................... 9
j. Konsep dasar asuhan keperawatan .................................................. 10
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 26
A. Kesimpulan ......................................................................................... 26

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertolongan penderita gawat darurat dapat terjadi dimana saja baik di dalam
rumah sakit maupun di luar rumah sakit, dalam penanganannya melibatkan tenaga
medis maupun non medis termasuk masyarakat awam. Pada pertolongan pertama
yang cepat dan tepat akan menyebabkan pasien/ korban dapat tetap bertahan hidup
untuk mendapatkan pertolongan yang lebih lanjut.
Adapun yang disebut sebagai penderita gawat darurat adalah penderita yang
memerlukan pertolongan segera karena berada dalam keadaan yang mengancam
nyawa, sehingga memerlukan suatu pertolongan yang cepat, tepat, cermat untuk
mencegah kematian maupun kecacatan. Untuk memudahkan dalam pemberian
pertolongan korban harus diklasifikasikan termasuk dalam kasus gawat darurat,
darurat tidak gawat, tidak gawat tidak darurat dan meninggal.
Salah satu kasus gawat darurat yang memerlukan tindakan segera dimana pasien
berada dalam ancaman kematian karena adanya gangguan hemodinamik adalah
trauma abdomen di mana secara anatomi organ-organ yang berada di rongga abdomen
adalah organ-organ pencernaan.
Trauma thoraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang
dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax
yang disebabkan oleh benda tajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan
keadaan gawat thorax akut. Trauma thoraks diklasifikasikan dengan tumpul dan
tembus. Trauma tumpul merupakan luka atau cedera yang mengenai rongga thorax
yang disebabkan oleh benda tumpul yang sulit diidentifikasi keluasan kerusakannya
karena gejala-gejala umum dan rancu (Brunner & Suddarth, 2002).
Trauma dada menyebabkan hampir 25% dari semua kematian
yang berhubungan dengan trauma di amerika serikat dan berkaitan dengan 50%
kematian yang berhubungan dengan trauma yang mencakup cedera sistem multiple.
Trauma dada diklasifikasikan dengan tumpul atau tembus (penetrasi). Meski trauma
tumpul dada lebih umum, pada trauma ini seringtimbul kesulitan dalam
mengidentifikasi keluasan kerusakan karena gejala-gejala mungkin umum dan rancu.

3
B. Tujuan
1) Tujuan Umum
a) Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
pernafasan : trauma dada
2) Tujuan Khusus
a) untuk mengetahui pengertian trauma dada
b) untuk mengetahui etiologi trauma dada
c) untuk mengetahui klasifikasi trauma dada
d) untuk mengetahui patofisiologi trauma dada
e) untuk mengetahui woc trauma dada
f) untuk mengetahui manifestasi klinis trauma dada
g) untuk mengetahui komplikasi trauma dada
h) untuk mengetahui pemeriksaan penunjang trauma dada
i) untuk mengetahui penatalaksanaan trauma dada

C. Manfaat
Agar mahasiswa mampu memahami konsep asuhan keperawatan pada klien
dengan kegawatan sistem pernafasan : trauma dada.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Trauma dada adalah suatu trauma yang terjadi pada dada yang dibagi menjadi dua
(2) yaitu, trauma tumpul dan trauma tusuk yang kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan
kendaraan bermotor (80%), terjatuh, pukulan dada dan kecelakaan pada bidang industri.
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan
emosional yang hebat (Brooker, 2001).
Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan pada
dinding dada yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru, diafragma ataupun isi
mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat menyebabkan gangguan
sistem pernapasan (Suzanne & Smetzler, 2001)
Trauma thoraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang dapat
menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax yang
disebabkan oleh benda tajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan gawat
thorax akut. Trauma thoraks diklasifikasikan dengan tumpul dan tembus. Trauma tumpul
merupakan luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang disebabkan oleh benda
tumpul yang sulit diidentifikasi keluasan kerusakannya karena gejala-gejala umum dan
rancu (Brunner & Suddarth, 2002).
Kesimpulan : Dari ketiga pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Trauma
Dada / Thorax adalah suatu kondisi dimana terjadinya benturan baik tumpul maupun
tajam pada dada atau dinding thorax, yang menyebabkan abnormalitas (bentuk) pada
rangka thorax. Perubahan bentuk pada thorax akibat trauma dapat menyebabkan
gangguan fungsi atau cedera pada organ bagian dalam rongga thorax seperti jantung dan
paru-paru, sehingga dapat terjadi beberapa kondisi patologis traumatik seperti
Haematothorax, Pneumothorax, Tamponade Jantung, dan sebagainya
B. Faktor Predisposisi / Etiologi
1. Mekanisme kecelakaan
a. Kecelakaan kendaraan bermotor
b. Tertembak pada daerah dada
c. Tertusuk pada daerah dada

5
2. Penyakit yang mendahului
a. Asma
b. Tuberkulosis
c. Bronkhitis
d. Pneumonia
C. Klasifikasi
Trauma dada dikalsifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :
1) Trauma tajam
a. Pneumothoraks terbuka
b. Hemothoraks
c. Trauma tracheobronkial
d. Contusio Paru
e. Ruptur diafragma
f. Trauma Mediastinal
2) Trauma tumpul
a. Tension pneumothoraks
b. Trauma tracheobronkhial
c. Flail Chest
d. Ruptur diafragma
e. Trauma mediastinal
f. Fraktur kosta
D. Patofisiologi
Trauma dada (baik tumpul/tusuk) sering terjadi karena kecelakaan/ penyakit yang
sebelumnya ada seperti tertabrak mobil, motor, terjatuh, tertusuk/ tertembak dapat
mengakibatkan salah satu/ lebih mekanisme patologi berikut ini.
1. Open Pneumothorak
Timbul karena trauma tajam, ada hubungan dengan rongga pleura sehingga
paru menjadi kuncup. Seringkali terlihat sebagai luka pada dinding dada yang
menghisap pada setiap inspirasi ( sucking chest wound ). Apabila luban ini lebih besar
dari pada 2/3 diameter trachea, maka pada inspirasi udara lebih mudah melewati
lubang dada dibandingkan melewati mulut sehingga terjadi sesak nafas yang hebat

6
2. Tension Pneumothorak
Adanya udara didalam cavum pleura mengakibatkan tension pneumothorak.
Apabila ada mekanisme ventil karena lubang pada paru maka udara akan semakin
banyak pada sisi rongga pleura, sehingga mengakibatkan :
a.Paru sebelahnya akan terekan dengan akibat sesak yang berat
b. Mediastinum akan terdorong dengan akibat timbul syok
c. Pada perkusi terdengar hipersonor pada daerah yang cedera, sedangkan
d. Pada auskultasi bunyi vesikuler menurun.
3. Hematothorak
Pada keadaan ini terjadi perdarahan hebat dalam rongga dada. Ada perkusi
terdengar redup, sedang vesikuler menurun pada auskultasi.
4. Flail Chest

Tulang iga patah pada 2 tempat pada lebih dari 2 iga sehingga ada satu segmen
dinding dada yang tidak ikut pada pernafasan. Pada ekspirasi segmen akan menonjol
keluar, pada inspirasi justru masuk kedalam yang dikenal dengan pernafasan
paradoksal.
5. Tamponade jantung
Luka tembus / tusuk jantung adalah penyebab kematian utama pada daerah
perkotaan.Tamponade jarang terjadi akibat trauma tumpul..

7
E. WOC Trauma Dada

Trauma

Luka tusuk, luka


Kecelakaan lalu robek, luka panah,
lintas, pukulan benda luka tembak
tumpul

Trauma tajam
Trauma tumpul

kompresi Perlukaan kulit Terputusnya saraf


jaringan perifer

sternum Fraktur sternum Fraktur os costa


Robekan pada paru Memicu
impuls nyeri
contosio Patahan tulang Pleura bocor
Udara masuk ke
merobek paru-paru
pleura
jantung Darah mengisi rongga MK : Nyeri
hemothorak pleura akut
Udara terakumulasi di
tamponade pleura
perdarahan
Kontraktilitas jantung Sirkulasi O2 dan CO2
me Sumplai O2 me Ekspansi paru MK : terganggu
Penurunan
Cardiac output me MK : Penurunan volume cairan
MK : Gangguan
perfusi jaringan
pertukaran gas
MK : Penurunan
curah jantung 8
F. Tanda dan Gejala
1. Luka pada dada
2. Sianosis
3. Perdarahan pada dada
4. Sesak nafas
5. Nyeri pada dada
G. Penatalaksanaan
1. Kegawatdaruratan
Klien yang diberikan pertolongan pertama dilokasi kejadian maupun di unit
gawat darurat (UGD) pelayanan rumah sakit dan sejenisnya harus mendapatkan
tindakan yang tanggap darurat dengan memperhatikan prinsip kegawatdaruratan.
Penanganan yang diberikan harus sistematis sesuai dengan keadaan masing-masing
klien secara spesifik.Bantuan oksigenisasi penting dilakukan untuk mempertahankan
saturasi oksigen klien. Jika ditemui dengan kondisi kesadaran yang mengalami
penurunan / tidak sadar maka tindakan tanggap darurat yang dapat dilakukan yaitu
dengan memperhatikan :
a. Pemeriksaan dan Pembebasan Jalan Napas (Air-Way)
Klien dengan trauma dada seringkali mengalami permasalahan pada jalan
napas.Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa
cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi
dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek
dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan.Mulut dapat dibuka
dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari
telunjuk Pada mulut korban.
Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada
korban tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan
menutup farink dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas.
Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara Tengadah kepala
topang dagu (Head tild – chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula (Jaw
Thrust Manuver)

9
b. Pemeriksaan dan Penanganan Masalah Usaha Napas (Breathing)
Kondisi pernapasan dapat diperiksa dengan melakukan tekhnik melihat
gerakan dinding dada, mendengar suara napas, dan merasakan hembusan napas
klien (Look, Listen, and Feel), biasanya tekhnik ini dilakukan secara bersamaan
dalam satu waktu.Bantuan napas diberikan sesuai dengan indikasi yang ditemui
dari hasil pemeriksaan dan dengan menggunakan metode serta fasilitas yang
sesuai dengan kondisi klien.
c. Pemeriksaan dan Penanganan Masalah Siskulasi (Circulation)
Pemeriksaan sirkulasi mencakup kondisi denyut nadi, bunyi jantung,
tekanan darah, vaskularisasi perifer, serta kondisi perdarahan.Klien dengan
trauma dada kadang mengalami kondisi perdarahan aktif, baik yang diakibatkan
oleh luka tembus akibat trauma benda tajam maupun yang diakibatkan oleh
kondisi fraktur tulang terbuka dan tertutup yang mengenai / melukai pembuluh
darah atau organ (multiple).Tindakan menghentikan perdarahan diberikan dengan
metode yang sesuai mulai dari penekanan hingga penjahitan luka, pembuluh
darah, hingga prosedur operatif.
Jika diperlukan pemberian RJP (Resusitasi Jantung Paru) pada penderita
trauma dada, maka tindakan harus diberikan dengan sangat hati-hati agar tidak
menimbulkan atau meminimalisir kompilkasi dari RJP seperti fraktur tulang kosta
dan sebagainya.
d. Tindakan Kolaboratif
Pemberian tindakan kolaboratif biasanya dilakukan dengan jenis dan waktu
yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing klien yang mengalami trauma
dada. Adapun tindakan yang biasa diberikan yaitu ; pemberian terapi obat
emergensi, resusitasi cairan dan elektrolit, pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium darah Vena dan AGD, hingga tindakan operatif yang bersifat
darurat.
2. Konservatif
a) Pemberian Analgetik
Pada tahap ini terapi analgetik yang diberikan merupakan kelanjutan dari
pemberian sebelumnya.Rasa nyeri yang menetap akibat cedera jaringan paska
trauma harus tetap diberikan penanganan manajemen nyeri dengan tujuan
menghindari terjadinya Syok seperti Syok Kardiogenik yang sangat berbahaya
pada penderita dengan trauma yang mengenai bagian organ jantung.
10
b) Pemasangan Plak / Plester
Pada kondisi jaringan yang mengalami perlukaan memerlukan perawatan
luka dan tindakan penutupan untuk menghindari masuknya mikroorganisme
pathogen.
c) Jika Perlu Antibiotika
Antibiotika yang digunakan disesuaikan dengan tes kepekaan dan kultur.
Apabila belum jelas kuman penyebabnya, sedangkan keadaan penyakit gawat,
maka penderita dapat diberi “broad spectrum antibiotic”, misalnya Ampisillin
dengan dosis 250 mg 4 x sehari.
d) Fisiotherapy
Pemberian fisiotherapy sebaiknya diberikan secara kolaboratif jika
penderita memiliki indikasi akan kebutuhan tindakan fisiotherapy yang sesuai
dengan kebutuhan dan program pengobatan konservatif.
3. Invasif / Operatif
a. WSD (Water Seal Drainage)
WSD merupakan tindakan invasif yang dilakukan untuk mengeluarkan
udara, cairan (darah, pus) dari rongga pleura, rongga thorax; dan mediastinum
dengan menggunakan pipa penghubung.
b. Ventilator
Ventilator adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau
seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi. Ventilasi mekanik
adalah alat pernafasan bertekanan negatif atau positif yang dapat
mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dalam waktu yang
lama.( Brunner dan Suddarth, 1996).
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesa yang terpenting adalah mengetahui mekanisme dan pola dari trauma,
seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kerusakan dari kendaraan yang
ditumpangi, kerusakan stir mobil /air bag dan lain lain.
2. Radiologi : Foto Thorax (AP)
Pemeriksaan ini masih tetap mempunyai nilai diagnostik pada pasien dengan
trauma toraks. Pemeriksaan klinis harus selalu dihubungkan dengan hasil pemeriksaan
foto toraks. Lebih dari 90% kelainan serius trauma toraks dapat terdeteksi hanya dari
pemeriksaan foto toraks.
11
3. Gas Darah Arteri (GDA) dan Ph

gas darah dan pH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-


pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk
menilai keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar oksigen dalam darah, serta kadar
karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan
nama pemeriksaan ASTRUP, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan
melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A.
Femoralis.
4. CT-Scan
Sangat membantu dalam membuat diagnosa pada trauma tumpul toraks, seperti
fraktur kosta, sternum dan sterno clavikular dislokasi. Adanya retro sternal hematoma
serta cedera pada vertebra torakalis dapat diketahui dari pemeriksaan ini. Adanya
pelebaran mediastinum pada pemeriksaan toraks foto dapat dipertegas dengan
pemeriksaan ini sebelum dilakukan Aortografi.
5. Ekhokardiografi
Transtorasik dan transesofagus sangat membantu dalam menegakkan diagnosa
adanya kelainan pada jantung dan esophagus. Hemoperikardium, cedera pada
esophagus dan aspirasi, adanya cedera pada dinding jantung ataupun sekat serta katub
jantung dapat diketahui segera. Pemeriksaan ini bila dilakukan oleh seseorang yang
ahli, kepekaannya meliputi 90% dan spesifitasnya hampir 96%.
6. EKG (Elektrokardiografi)

Sangat membantu dalam menentukan adanya komplikasi yang terjadi akibat


trauma tumpul toraks, seperti kontusio jantung pada trauma. Adanya abnormalitas
gelombang EKG yang persisten, gangguan konduksi, tachiaritmia semuanya dapat
menunjukkan kemungkinan adanya kontusi jantung. Hati hati, keadaan tertentu seperti
hipoksia, gangguan elektrolit, hipotensi gangguan EKG menyerupai keadaan seperti
kontusi jantung.
7. Angiografi

Gold Standard’ untuk pemeriksaan aorta torakalis dengan dugaan adanya cedera
aorta pada trauma tumpul toraks.
8. Hb (Hemoglobin)
Mengukur status dan resiko pemenuhan kebutuhan oksigen jaringan tubuh.

12
I. Komplikasi
1) Surgical Emfisema Subcutis
Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam
memungkinkan keluarnya udara ke dalam cavitas pleura dari jaringan dinding dada,
paru. Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki, krepitasi.

2) Cedera Vaskuler

Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat kantong tertutup


sehingga menyulitkan jantung untuk mengembang dan menampung darah vena yang
kembali. Pembulu vena leher akan mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah
yang akhirnya membawa kematian akibat penekanan pada jantung.
3) Pneumothorak

Adanya udara dalam kavum pleura. Begitu udara masuk ke dalam tapi keluar
lagi sehingga volume pneumothorak meningkat dan mendorong mediastinim menekan
paru sisi lain.
4) Pleura Effusion

Adanya udara, cairan, darah dalam kavum pleura, sama dengan efusi pleura
yaitu sesak nafas pada waktu bergerak atau istirahat tetapi nyeri dada lebih mencolok.
Bila kejadian mendadak maka pasien akan syok. Akibat adanya cairan udara dan
darah yang berlebihan dalam rongga pleura maka terjadi tanda – tanda :
a) Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun bisa
terjadi dypsnea.
b) Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas.
c) Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang.
d) Dapat terjadi pyrexia (peningkatan suhu badan di atas normal)
5) Plail Chest

Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan bagian tersebut.
Pada saat insprirasi bagian tersebut masuk sedangkan saat ekspirasi keluar, ini
menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan pernafasan yang berlawanan)
6) Hemopneumothorak

Yaitu penimbunan udara dan darah pada kavum pleura.

13
J. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian Primer
1. AIRWAY
Trauma laring dapat bersamaan dengan trauma thorax.walaupun gejala kinis
yang ada kadang tidak jelas, sumbatan airway karena trauma laring merupakan
cidera laring yang mengancam nyawa. Trauma pada dada bagian atas, dapat
menyebabkan dislokasi ke area posterior atau fraktur dislokasi dari sendi
sternoclavicular. Penanganan trauma ini dapat menyebabkan sumbatan airway atas.
Trauma ini diketahui apabila ada sumbatan napas atas (stridor), adanya tanda
perubahan kualitas suara dan trauma yang luas pada daerah leher akan menyebabkan
terabanya defek pada regio sendi sternoclavikula. penanganan trauma ini paling baik
dengan reposisitertutup fraktur dan jika perlu dengan intubasi endotracheal.
2. BREATHING
Dada dan leher penderita harus terbuka selama dilakukan penilaian breathing
dan vena-vena leher. Pergerakan pernapasan dan kualitas pernapasan pernapasan
dinilai dengan diobservasi, palpasi dan didengarkan. Gejala yang terpenting dari
trauma thorax adalah hipoksia termasuk peningkatan frekuensi dan perubahan pada
pola pernapasan, terutama pernapasan yang dengan lambat memburuk. Sianosis
adalah gejala hipoksia yang lanjut pada penderita. Jenis trauma yang mempengaruhi
breathing harus dikenal dan diketahui selama primary survey.
3. CIRCULATION
Denyut nadi penderita harus dinilai kualitas, frekuensi dan keteraturannya.
Tekanan darah dan tekanan nadi harus diukur dan sirkulasi perifer dinilai melalui
inspeksi dan palpasi kulit untuk warna dan temperatur. Adnya tanda-tanda syok
dapat disebebkan oleh hematothorax masif maupun tension pneumothorax. Penderita
trauma thorax didaerah sternum yang menunjukkan adanya disritmia harus dicurigai
adanya trauma miokard.
B. Pengkajian Sekunder
Pengkajian pasien dengan trauma thoraks (Doenges, 2000) meliputi :
a. Aktivitas istirahat
Gejala : dipnea dengan aktivitas ataupun istirahat.

14
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops, nadi apical berpindah,
tanda Homman ; TD : hipotensi/hipertensi ; DVJ.
c. Integritas ego
Tanda : ketakutan atau gelisah.
d. Makanan dan cairan
Tanda : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan.
e. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri uni lateral, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajam dan
nyeri, menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar
ke leher, bahu dan abdomen. Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku
distraksi, mengkerutkan wajah.
f. Keamanan
Gejala : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk keganasan.
g. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; adanya bedah
intratorakal/biopsy paru.
C. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pernapasan :
 Sesak napas
 Nyeri, batuk-batuk.
 Terdapat retraksi klavikula/dada.
 Pengambangan paru tidak simetris.
 Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain.
 Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani, hematotraks
(redup)
 Pada asukultasi suara nafas menurun, bising napas yang berkurang/menghilang.
 Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas.
 Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
 Gerakan dada tidak sama waktu bernapas
2. Sistem Kardiovaskuler :
 Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.
 Takhikardia, lemah

15
 Pucat, Hb turun /normal.
 Hipotensi.
3. Sistem Persyarafan :
 Tidak ada kelainan.
4. Sistem Perkemihan.
 Tidak ada kelainan.
5. Sistem Pencernaan :
 Tidak ada kelainan.
6. Sistem Muskuloskeletal - Integumen.
 Kemampuan sendi terbatas.
 Ada luka bekas tusukan benda tajam.
 Terdapat kelemahan.
 Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

7. Sistem Endokrine :
 Terjadi peningkatan metabolisme.
 Kelemahan.

8. Sistem Sosial / Interaksi.


 Tidak ada hambatan.

9. Spiritual :
 Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.
D. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupaka suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata
ataupun potensial dan membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah pasien dapat
ditanggulangi atau dikurangi
 Gangguan Perfusi Jaringan berhubungan dengan Hipoksia, tidak adekuatnya
pengangkutan oksigen ke jaringan
 Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang
tidakmaksimal karena trauma, hipoventilasi
 Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi
sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

16
 Perubahan kenyamanan : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek
spasme otot sekunder.
 Resiko terjadinya syok Hipovolemia berhubungan dengan perdarahan yang
berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang
bullow drainage.
 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan
ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.7
 Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme
sekunder terhadap trauma
 Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya
informasi tentang penyakit, Tindakan invasive ditandai dengan anxietas
E. .Intervensi

No Dx Tujuan dan kriteria hasil  Intervensi Rasional

1 Dx Setelah diberikan asuhan  Kaji faktor penyebab dari  Deteksi dini


1 keperawatan selama (…x..) situasi/keadaan individu/penyebab untuk
jam diharapkan dapat penurunan perfusi jaringan memprioritaskan
mempertahankan perfusi intervensi,
jaringan dengan KH : mengkaji status
 Monitor GCS dan mencatatnya
a.Tanda-tanda vital neurologi/tanda-
 Monitor keadaan umum pasien
dalam batas normal tanda kegagalan
b.Kesadaran untuk
meningkat menentukan
c.menunjukkan perawatan
perfusi adekuat  Berikan oksigen tambahan sesuai kegawatan atau
indikasi tindakan
pembedahan
 Menganalisa
 Kolaborasi pengawasan hasil
tingkat kesadaran
pemeriksaan laboraturium. Berikan sel
 Memberikan
darah merah lengkap/packed produk
informasi tentang
darah sesuai indikasi
derajat/keadekuat

17
an perfusi
jaringan dan
membantu
menentukan keb.
intervensi.
 Memaksimalkan
transport oksigen
ke jaringan
 Mengidentifikasi
defisiensi dan
kebutuhan
pengobatan
/respons terhadap
terapi

2 Dx 2 Setelah diberikan asuhan  Berikan posisi yang nyaman, biasanya -Meningkatkan


keperawatan selama(…x…) dengan peninggian kepala tempat tidur. inspirasi maksimal,
jamdiharapkan dapatmemperta Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien meningkatkan
hanjalannafaspasiendengan untuk duduk sebanyak mungkin. ekspansi paru dan
KH :  Observasi fungsi pernapasan, catat ventilasi pada sisi
a.Mengalami frekuensi pernapasan, dispnea atau yang tidak sakit.
perbaikan perubahan tanda-tanda vital.
pertukaran gas-gas
pada paru.
b.Memperlihatkan - Distress
 Jelaskan pada klien bahwa tindakan
frekuensi pernapasan dan
tersebut dilakukan untuk menjamin
pernapasan yang perubahan pada
keamanan.
efektive. tanda vital dapat
 Pertahankan perilaku tenang, bantu
c.Adaptive mengatasi terjadi sebgai akibat
pasien untuk kontrol diri dnegan
faktor-faktor stress fisiologi dan
menggunakan pernapasan lebih lambat
penyebab. nyeri atau dapat
dan dalam.
menunjukkan
 Perhatikan alat bullow drainase
terjadinya syock
berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam
sehubungan dengan

18
hipoksia.
-Pengetahuan apa
yang diharapkan
dapat mengurangi
ansietas dan
mengembangkan
kepatuhan klien
terhadap rencana
teraupetik.
-Membantu klien
mengalami efek
fisiologi hipoksia,
yang dapat
dimanifestasikan
sebagai
ketakutan/ansietas.

-Mempertahankan
tekanannegatif
intrapleural sesuai
yang diberikan, yang
meningkatkan
ekspansi paru
optimum/drainase
cairan
3 Dx 3 Setelah diberikan asuhan  Jelaskan klien tentang kegunaan batuk -Pengetahuan yang
keperawatan selama yang efektif dan mengapa terdapat diharapkan akan
(…x…) jamdiharapkanjalannaf penumpukan sekret di saluran membantu
aspasien normal dengan KH : Pernapasan mengembangkan
a.Menunjukkan batuk  Ajarkan klien tentang metode yang kepatuhan klien
yang efektif. tepat pengontrolan batuk. terhadap rencana
b.Tidak ada lagi teraupetik

19
penumpukan sekret di  Auskultasi paru sebelum dan sesudah -Batuk yang tidak
sal. Pernapasan klien batuk. terkontrol adalah
c.Klien tampak  Dorong atau berikanperawatan mulut melelahkan dan
nyaman. yang baik setelah batuk tidak efektif,
 Kolaborasi dengan tim kesehatan lain menyebabkan
Pemberian antibiotika atau expectorant frustasi
-Pengkajian ini
membantu
mengevaluasi
keefektifan upaya
batuk klien
- Hiegene mulut
yang baik
meningkatkan rasa
kesejahteraan dan
mencegah bau
mulut.
-Expextorant untuk
memudahkan
mengeluarkan lendir
dan
mengevaluasi perbai
kan kondisi klien
atas pengembangan
parunya

20
4 Dx Setelah diberikan asuhan  Jelaskan dan bantu klien dnegan -Pendekatan dengan
4 keperawatan selama (..x..) jam tindakan pereda nyeri nonfarmakologi menggunakan
diharapkannyeriberkurangdeng dan non invasive relaksasi dan
an KH : nonfarmakologi
a.Nyeri berkurang/ lainnya telah
 Berikan kesempatan waktu istirahat bila
dapat diatasi menunjukkan
terasa nyeri dan berikan posisi yang
b.Dapat keefektifan dalam
nyaman ; misal waktu tidur,
mengindentifikasi mengurangi nyeri
belakangnya dipasang bantal kecil
aktivitas yang
 Tingkatkan pengetahuan tentang :
meningkatkan/
sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan
menurunkan nyeri -Istirahat akan
berapa lama nyeri akan berlangsung
c.Pasien tidak gelisah. merelaksasi semua
 Kolaborasi denmgan dokter, pemberian
jaringan sehingga
analgetik
akan meningkatkan
 Observasi tingkat nyeri, dan respon
kenyamanan.
motorik klien, 30 menit setelah
pemberian obat analgetik untuk
mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 -
2 jam setelah tindakan perawatan
selama 1 - 2 hari
 Monitor keadaan umum pasien

-Pengetahuan yang
akan dirasakan
5 membantu
mengurangi

 Observasi vital sign setiap 3 jam atau nyerinya. Dan dapat


Dx 5 lebih membantu
mengembangkan
kepatuhan klien
terhadap rencana
teraupetik
 Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda -Analgetik memblok
perdarahan, dan segera laporkan jika lintasan nyeri,

21
terjadi perdarahan sehingga nyeri akan
berkurang
Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama (..x..) jam -Pengkajian yang
 -Kolaborasi : Pemberian cairan
diharapkan klien tidak optimal akan
intravena
mengalami syok hipovolemik memberikan perawat
dengan KH : data yang obyektif
-Tanda Vital dalam batas untuk mencegah
normal (N: 120-60 x/menit, S : o Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, kemungkinan
36-37o C, RR : 20x/menit) trombosit komplikasi dan
6 melakukan
intervensi yang
tepat.
Dx 6
o Kaji kulit dan identifikasi pada tahap
perkembangan luka

 Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta -Untuk memonitor


jumlah dan tipe cairan luka kondisi pasien
 Pantau peningkatan suhu tubuh selama perawatan
terutama saat terjadi
perdarahan. Perawat
segera mengetahui
 Berikan perawatan luka dengan tehnik
tanda-tanda presyok
aseptik. Balut luka dengan kasa kering
/ syok
dan steril, gunakan plester kertas
Setelah diberikan asuhan
 Kolaborasi tindakan lanjutan
7 keperawatan selama (..x..) jam -Perawat perlu terus
sepertimelakukandebridement
diharapkan dapat mencapai mengobaservasi vital
penyembuhan luka pada waktu sign untuk
Dx 7 yang sesuaidengan KH :  Kaji kebutuhan akanpelayanan memastikan tidak
a.tidak ada tanda-tanda infeksi kesehatan dan kebutuhan akan peralatan terjadi presyok /
seperti pus  Tentukan tingkat motivasi pasien dalam syok

22
b.luka bersih tidak lembab dan melakukan aktivitas
tidak kotor -Dengan melibatkan
c.Tanda-tanda vital dalam pasien dan keluarga
 Ajarkan dan pantau pasien dalam
batas normal atau dapat maka tanda-tanda
halpenggunaan alat bantu
ditoleransi. perdarahan dapat
 Ajarkan dan dukung pasien dalam
segera diketahui dan
latihan ROM aktif dan pasif
tindakan yang cepat
 Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau
dan tepat dapat
okupasi
segera diberikan.
-Cairan intravena
8 diperlukan untuk
 Pantau tanda-tanda vital mengatasi
kehilangan cairan
Dx 8 tubuh secara hebat

Setelah diberikan asuhan -Untuk mengetahui


 Lakukan perawatan luka dengan teknik
keperawatan selama (..x..) jam tingkat kebocoran
aseptic
diharapkan pasien akan pembuluh darah
 Lakukan perawatan terhadap prosedur
menunjukkan tingkat mobilitas yang dialami pasien
invasif seperti infuse atupun
optimaldengan KH : dan untuk acuan
Bullowdraignase
a.penampilan yang seimbang melakukan tindakan
b.melakukan pergerakkan dan  Kolaborasi untuk pemberian antibiotic lebih lanjut.
perpindahan -mengetahui
c.mempertahankan mobilitas  Observasi keadaan Luka sejauhmanaperkemb
9 optimal yang dapat di toleransi angan luka
mempermudah
 Menjelaskan kepada pasien tentang
dalammelakukan
penyakit yang di derita
Dx 9 tindakan yang tepat
-mengidentifikasi
 Kaji tingkat pengetahuan klien dan tingkat keparahan
keluarga tentang penyakitnya luka akan
mempermudah
intervensi
 Minta klien / keluarga mengulangi

23
Setelah diberikan asuhan kembali tentang materi yang telah
keperawatan selama (..x..) jam diberikan -suhu tubuh yang
diharapkaninfeksi tidak terjadi  Diskusikan pentingnya melihat ulang meningkat dapat
/ terkontroldengan KH : mengenai pengobatan secara teratur diidentifikasikan
a.tidak ada tanda-tanda infeksi  -Berikan dorongan untuk melakukan sebagai
seperti pus kunjungan tindak lanjut dengan dokter. adanya proses
b.luka bersih tidak lembab dan peradangan
tidak kotor
c.Tanda-tanda vital dalam -tehnik aseptik
batas normal atau dapat membantu
ditoleransi. mempercepat
penyembuhan luka
dan mencegah
terjadinya
infeksi

Setelah diberikan asuhan -agar benda asing


keperawatan selama (..x..) jam atau jaringan yang
diharapkananxietas tidak terinfeksi tidak
terjadidenganKH : menyebar luas pada
-Pasien dapat mengungkapkan area kulit normal
pemahamannya tentang lainnya.
penyakit, prognosis
dan pengobatannya

-mengidentifikasi
masalah,
memudahkan
intervensi

-mempengaruhi
penilaian terhadap
kemampuan

24
aktivitas apakah
karena
ketidakmampuan
ataukah
ketidakmauan

-menilai batasan
kemampuan
aktivitas
optimal

-mempertahankan
/meningkatkan
kekuatan
dan ketahanan otot

-sebagai suaatu
sumber untuk
mengembangkanper
encanaan dan
mempertahankan/me
ningkatkan mobilitas
pasien

-mengidentifikasi
tanda-tanda
peradangan terutama
bila suhu tubuh
meningkat
-mengendalikan
penyebaran
mikroorganisme
patogen

25
-untuk mengurangi
risiko infeksi
nosokomial

-antibiotik mencegah
perkembangan
mikroorganisme
pathogen

-untuk mencegah
infeksi yang
berkelanjutan

-memberikan
pengetahuan pasien
yang dapat memilih
berdasarkan
informasi

-mengetahui
seberapa jauh
pengalaman klien
dan keluarga tentang
penyakitnya
-mengetahui
seberapa jauh
pemahaman klien
dan keluarga serta
menilai keberhasilan

26
dari tindakan yang
dilakukan
-untuk memudahkan
pengendalian
terhadap
kondisi kronis dan
pencegahan terhadap
komplikasi
-agar
pasien mengetahui
perkembangan
penyakitnya.

F. Implementasi
Dx 1
1. Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaan individu/penyebab penurunan perfusi
jaringan
2. Memonitor GCS dan mencatatnya
3. Memonitor keadaan umum pasien
4. Memberikan oksigen tambahan sesuai indikasi
5. Mengkolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah
merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi
Dx 2
1. Memberikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur.
Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
2. Mengobservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau
perubahan tanda-tanda vital.
3. Menjelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin
keamanan.
4. Menjelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps
paru-paru.
5. Membantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat
dan dalam
6. Memperhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam

27
Dx 3
1. Menjelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif
2. Mengajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk
3. Mengajarkan Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk
4. Memberikan perawatan mulut yang baik setelah batuk
5. Memberikan antibiotika atau expectorant
Dx 4
1. Membantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasive
2. Memerikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri danmemberikan posisi yang
nyaman
3. Meningkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa
lama nyeri akan berlangsung
4. Berkolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik
5. Mengobservasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian
obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya
Dx 5
1. Memonitor keadaan umum pasien
2. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
3. Menjelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika
terjadi perdarahan
4. Berkolaborasi : Pemberian cairan intravena
5. Berkolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit
Dx 6
1. Mengkaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka
2. Mengkaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka
3. Memantau peningkatan suhu tubuh
4. Memberikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering
dan steril, gunakan plester kertas
5. Berkolaborasitindakansepertimelakukan debridement

Dx 7
1. Mengkaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan
2. Menentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas
3. Mengajarkan pasien dalam hal penggunaan alat bantu\

28
4. Mengajarkan pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif
5. Berkolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi
Dx 8
1. Memantau tanda-tanda vital
2. Melakukan perawatan luka dengan teknik aseptic
3. Melakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infuse atupun Bullow
draignase
4. Berkolaborasi untuk pemberian antibiotic
5. Mengobservasi keadaan Luka
Dx 9
1. Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit yang di derita.
2. Mengkaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya
3. Meminta klien / keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan
4. Mendiskusikan pentingnya melihat ulang mengenai pengobatan secara teratur
5. Berikan dorongan untuk melakukan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.
G. EVALUASI
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan :
 Tanda-tanda vital dalam batas normal
 Kesadaran meningkat
 Klien tampak nyaman.
 Nyeri berkurang
 Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/ menurunkan nyeri
 Pasien tidak gelisah.

29
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Trauma dada adalah suatu trauma yang terjadi pada dada yang dibagi
menjadi dua (2) yaitu, trauma tumpul dan trauma tusuk yang kebanyakan
disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor (80%), terjatuh, pukulan dada dan
kecelakaan pada bidang industri.
Untuk itu hendaknya kita mempelajari teori-toeri yang ada sebagai dasar
ilmu dalam melakukan intervensi dan pertolongan kegawat daruratan pada trauma
dada supaya tercipta keselamatan pada pasien trauma dada.

30