Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

EKSTRAK KINA

Disusun Oleh :
Monika Agustin L.C 16330006
Muhammad Wahid A.A 16330014
Afifah Rizqi S. 16330042
Robby Rahmad Syawal 16330044
Fitri Rohmawati 16330046
Nabilah Rachmawani 16330047
Nurul Fath Annisa 16330048

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2019
I. Judul Percobaan : Ekstrak Kina

II. Tujuan Percobaan : Untuk mendapatkan hasil ekstraksi dengan


menggunakan metode maserasi dan perkolasi
pada kulit kina.

III. Prinsip Percobaan : Menarik zat aktif dari kina berdasarkan metode
perkolasi dan maserasidengan menggunakan
pelarut air.

IV. Teori Dasar :


Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dan
bagian tumbuhan obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat
aktif tersebut terdapat di dalam sel, namun sel tumbuhan dan hewan memiliki
perbedaan begitu pula ketebalannya sehingga diperlukan metode ekstraksi dan pelarut
tertentu untuk mengekstraksinya ( Tobo F, 2001).
Ada beberapa metode sederhana yang dapat dilakukan untuk mengambil
komponen berkhasiat ini; diantaranya dengan melakukan perendaman, mengaliri
simplisia dengan pelarut tertentu ataupun yang lebih umum dengan melakukan
perebusan dengan tidak melakukan proses pendidihan (Makhmud, 2001).

Beberapa jenis ekstraksi yaitu ekstraksi secara dingin (metode maserasi,


soxhletasi & perkolasi), ekstraksi secara panas (metode refluks, destilasi uap air, dsb).
Proses ektraksi secara dingin pada prinsipnya tidak memerlukan pemanasan. Hal ini
diperuntukkan untuk bahan alam yang mengandung komponen kimia yang tidak tahan
pemanasan dan bahan alam yang mempunyai tekstur yang lunak. Contohnya ialah
kina. Ekstraksi kina menggunakan 2 metode yaitu metode maserasi dan perkolasi.

Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang dilakukan


dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari
pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Metode ini digunakan untuk
menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan
penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan
lilin. Penggunaan metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya
pada penggunaan pelarut eter atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid. Maserasi
umumnya dilakukan dengan cara: memasukkan simplisia yang sudah diserbukkan
dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian dalam bejana maserasi yang
dilengkapi pengaduk mekanik, kemudian ditambahkan 75 bagian cairan penyari
ditutup dan dibiarkan selama 5 hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya
sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari, cairan penyari disaring ke dalam wadah
penampung, kemudian ampasnya diperas dan ditambah cairan penyari lagi
secukupnya dan diaduk kemudian disaring lagi sehingga diperoleh sari 100 bagian.
Sari yang diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya
selama 2 hari, endapan yang terbentuk dipisahkan dan filtratnya dipekatkan.
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan
yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Selain itu, kerusakan pada
komponen kimia sangat minimal. Adapun kerugian cara maserasi ini adalah
pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna.

Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkanpenyari melalui serbuk


simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk
simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat
berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan
penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam
keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri
dan tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang
cenderung untuk menahan gerakan ke bawah. Cara perkolasi lebih baik dibandingkan
dengan cara maserasi karena (Ditjen POM, 1986) : 1. Aliran cairan penyari
menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang
konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi. 2.
Ruangan diantara butir – butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir
cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut
cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan
konsentrasi. Adapun kerugian dari cara perkolasi ini adalah serbuk kina yang
mengadung sejumlah besar zat aktif yang larut, tidak baik bila diperkolasi dengan alat
perkolasi yang sempit, sebab perkolat akan segera menjadi pekat dan berhenti
mengalir (Ditjen POM, 1986). Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain:
gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya
kapiler dan daya geseran (friksi) (Ditjen POM, 1986). Alat yang digunakan untuk
perkolasi disebut perkolator, cairan yang digunakan untuk menyari disebut cairan
penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut sari atau
perkolat, sedangkan sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau sisa
perkolasi.

Tanaman kina sudah dikenal sejak dahulu sebagai tanaman yang dapat
digunakan sebagai obat. Bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat
adalah kulit batangnya yaitu dapat berkhasiat sebagai obat malaria, penurun panas dan
penambah nafsu makan. Tanaman kina (Cinchona succirubra PAVON ET KLOT)
mempunyai sinonim yaitu Cinchona pubescens Vahl. Tanaman kina termasuk dalam
Divisi Spermatophyta, Sub divisi Angiospermae, Kelas Dicotyledonae, Bangsa
Rabiales, Suku Rabiaceae, Marga Cinchona dan Jenis Cinchona succirubra Pavon et
Klot. Tanaman Cinchona succirubra Pavon et Klot mempunyai nama dagang yaitu
kina. Nama daerah di Sumatera (Melayu) adalah kina, dan di Jawa Tengah juga kina.
Kandungan kimia yaitu kulit batang Cinchona succirubra mengandung alkaloida,
saponin, flavonoida dan polifenol. Cara pengobatan yaitu untuk obat malaria dipakai
2 gram serbuk kulit batang Cinchona succirubra. Serbuk tersebut diseduh dengan satu
gelas air matang panas, dan setelah dingin disaring. Hasil saringan tersebut sudah
dapat langsung digunakan sebagai obat. Hasil saringan tersebut dibagi dua sama
banyak, dan minumlah dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari.
V. Alat dan Bahan :
a. Alat
 Gelas ukur
 Alumunium foil
 Kertas saring
 Gelas piala
 Kapas
 Serangkaian alat perkolator
 Lumpang/Mortir
 Batang pengaduk
b. Bahan
 Serbuk kulit kina
 Asam klorida encer
 Gliserol
 Larutan Natrium Karbonat 10% b/v
 Etanol
 Air
 Pasir

VI. Prosedur :
1. Buat serbuk kulit kina dengan derajat kehalusan 34/40.
2. Maserasi dalam gelas piala 500 ml, 100 g serbuk kulit kina 34/40 dengan
campuran 17,5 ml asam klorida encer, 10 ml gliserol dan 22,5 ml air. Biarkan
selama 24 jam.
3. Pindahkan massa dari gelas piala pada butir 2 kedalam perkolator yang telah
dialasi kapas sedikit demi sedikit sambil tiap kali ditekan hati-hati.
4. Tuangkan dan perkolasi dengan campuran 17,5 ml asam klorida encer, 10 ml
gliserol dan 472,5 ml air.
5. Lanjutkan perkolasi dengan air hingga diperoleh 2 tetes perkolat terakhir tidak
menjadi keruh dengan penambahan 8 tetes larutan Natrium karbonat 10% b/v.
6. Uapkan perkolat segera pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50°C
hingga diperoleh 90 ml ekstrak. Dinginkan tambahkan 10 ml etanol.
7. Simpan di tempat sejuk dalam wadah tertutup rapat dan terlindung dari cahaya.

VII. Pengamatan dan Hasil :

No. Pengamatan Hasil Teori Menurut FI Hasil Praktikum


Edisi III 1976
1. Bau Tidak berbau Tidak berbau

2. Rasa Tidak berasa Tidak berasa

3. Warna Cairan jernih : coklat Cairan jernih : coklat


kemerahan merah muda

4. Bentuk Cairan Cairan

Hasil pengamatan :

VIII. Pembahasan :
Tujuan dari praktikum ini untuk mendapatkan esktrak kina yang sesuai dengan
teori. Dengan pengujian organoleptis yang meliputi benruk, rasa, baud an warna di
dapat hasil pengamatan sesuai dengan hasil teori diatas. Penyaringan dengan cara ini
menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar kuman dan kapang. Oleh
karena itu, sari yang diperoleh tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam.
Pada praktikum fitokim kali ini kami melakukan ektraksi pada kulit kina,
pemanfaatan sumber daya hayati tanaman obat-obatan pemerian bubuk kulit kina
sendiri bau khas, rasa pahit dan kelat serbuk berwarna coklat kemerahan , kemudian
ekstraksi yang pertama kami lakukan pertama-tama dengan cara maserasi, maserasi
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan
penyari akan menembus dinding seldan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung
zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan
zat aktif di dalam sel dengan yang diluar sel maka larutan yang terpekat didesak
keluar.

Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara


larutan diluar sel dengan larutan di dalam sel. Maserasi digunakan untuk penyarian
simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, terlebih
dahulu selama kurang lebih 24 jam dengan cara serbuk kina di masukan ke beker glas
diberi aquades,HCL dan gliserin lalu di beaker glas di tutup dengan kertas alumunium
agar terbebas dari cahaya tujuan dilakukan maserasi karena untuk membantu menarik
zat-zat yang terkandung dalam kulit kina sebelum dilakukan perkolasi,

Kemudian setelah 24 jam kami melakukan ekstraksi dengan cara perkolasi.


Perkolasi adalah proses ekstraksi simplisia dengan jalan melewatkan pelarut yang
sesuai secara lama pada simplisia dalam suatu percolator atau metode ekstraksi cara
dingin yang menggunakan pelarut mengalir yang selalu baru. Serbuk simplisia
ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori.
Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari
akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh.untuk
menghasilkan cairan bening dan untuk mencari zat utama yang terkandung dalam
kulit kina tersebut.

Tanaman kina sendiri berasal dari amerika selatan yang banyak mengandung
alkaloid-alkaloid. Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak
ditemukan dialam tanaman, Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari tumbuh
tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloida
mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan
sebagian besar atom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik,dan
alkaloid yang berguna untuk obat seperti saponin,flavonoid,dan polifenol.
kemudian ada 4 jenis alkaloid utama yang terdapat pada kina yaitu
kuinin,kinidin,sinkonin dan sinkonidin, dari manfaat utama kulit kina sendiri mampu
menjadi obat malaria.Kulit kina sendiri sering dijadikan sebagai ekstrak yang
digunakan sebagai pengobatan dan senyawa utama banyak terdapat pada kulit kina
yang kami praktekan pada minggu ini yaitu kuinin.

Kuinin merupakan senyawa alkaloid berbentuk kristal halus putih tidak


berbahu dan memiliki rasa yang sangat pahit,kuinin bersifat basa dan dalam bentuk
hidroklorida dan sulfat, kuinin dalam bentuk hidroklorida dengan rumus C20 H25 N 4

O8 CL, kuinin sulfat mempunyai rumus C40H50 N4O8S, sifat lainya sedikit parut
dalam air,sangat mudah dalam alcohol.kuinin sendiri termasuk golongan kuinolina
dan merupakan alkaloid yang penting dari kulit kina, senyawa ini juga sering
digunakan obat antimalaria,analesik, antipiretik, antiinflamasi ataupun senyawa
antibakteri lainnya.

Struktur kuinin

Diketahui secara general kina memiliki kandungan kuinin sebesar 4-13% ,


sedangkan kuinin dengan kadar yang sangat rendah sekitar 0,8%-1,4% merupakan
metabolit sekunder dari setiap kulit kina. Metabolit sekunder ini sudah diketahui sejak
lama sebagai sumber terapi medis dan menjadi senyawa yang terus di sintesiskan
sebagai sumber utama obat berkhasiat penting,apalagi dalam pengobatan tradisional.
IX. Kesimpulan :
Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa latin, artinya merendam) :
adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu
direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut non polar) atau setengah air,
misalnya etanol encer, selama periode waktu tertebtu sesuai dengan aturan dalam
buku resmi kefarmasian (FI ED IV).
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan
penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Perkolasi dilakukan dalam
wadah silindris atau kerucut (perkolator), yang memiliki jalan masuk dan keluar yang
sesuai.
Hasil dari praktikum ini di dapat hasil yang sesuai (organoleptis) dengan teori.
Daftar Pustaka

1. Agoes. Goeswin, 2007, Teknologi Bahan Alam. Penerbit ITB: Bandung.


Anonim. 2014. Penuntun dan Buku Kerja Praktikum Fitokimia I. Universitas
Muslim Indonesia : Makassar

2. Ditjen POM, 1986. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan RI : Jakarta.

3. Ditjen POM, 1990, Cara Pembuatan Simplisia. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia: Jakarta.

4. Ditjen POM, 1992, Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.

5. Gembong T., 1998, Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta, UGM UI Press :,


Yogyakarta.

6. Harborne. J.B. 1987. Metode Fitokimia. ITB Press. Bandung

7. Makhmud, AI. 2001. Metode Pemisahan. Departemen Farmasi Fakultas Sains


Dan tekhnologi, Universitas Hasanuddin : Makassar.

8. Shevla. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Cetakan


Pertama. Penerbit PT Kalman Media Pustaka : Jakarta

9. Tobo, F. 2001. Buku Pengangan Laboratorium Fitokimia I. Universitas


Hasanuddin : Makassar.

10. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia jilid II. Pengarang: H.M. Hembing
Wijayakusuma, Agustinus Setiawan Wirian, Thomas Yaputra, Setiawan
Dalimartha, Bambang Wibowo, Pustaka Kartini, Anggota IKAPI . 1992
Lampiran

1. Ekstrak Kina

2. Proses Perkolasi

Anda mungkin juga menyukai