Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Filariasis merupakan suatu penyakit yang dikenal di dunia dan


penyakit terbesar setelah penyakit mental. Penyebab dari penyakit vilariasis
adalah kecacatan menetap dan berjangka sangat lama. Di Indonesia, mereka
yang terkena penyakit vilariasis dapat terbaring ditempat tidur lebih dari
lima minggu pertahun karena gejala klinis mewakili 11% dari masa usia
produktiv.

Terdapat tiga spesies cacing penyebab Vilariasis yaitu : Wucheria


bancrofti; Brugia malayi; Brugia timori. Indonesia 70% kasus vilariasis
disebabkan oleh Brugia malayi. Cacing tersebut hidup pada kelenjar dan
saluran getah bening yang menyebabkan kerusakan pada saluran limfatik
sehingga dapat menimbulkan kronis ataupun akut. Berdasarkan laporan dari
kabupaten atau kota jumlah kasus vilariasis dilaporkan sampai tahun
2009 sudah sebanyak 11.914 kasus.

Berdasarkan laporan tahun 2009, tiga provinsi dengan jumlah kasus


vilariasis adalah Nanggroe Aceh Darusalam (2.359 orang), Nusa Tenggara
Timur (1.730 orang), dan Papua (1.158 orang). Tiga provinsi dengan kasus
terendah adalah Bali (18 orang), Maluku Utara (27 orang), dan Sulawesi (30
orang). Menurut kabupaten, pada tahun 2009 tiga kabupaten dengan kasus
terbanyak vilariasis adalah Aceh Utara (1.353 kasus), Manokwari (667
kasus), dan Mappi (652 kasus). Tampak perbedaan jumlah kasus yang
cukup besar di kabupaten Aceh Utara dibanding kabupaten lainnya (Ditjen
PP & PL Depkes RI, 2009).

1
Pada umumnya laki-laki lebih banyak terkena infeksi, karena lebih
banyak kesempatan untuk mendapatkan infeksi. Gejalanya lebih Nampak
karena pekerjaan fisik yang lebih berat. Penderita laki-laki mengalami
penyakit genital (umumnya menderita hydrcocele). Wanita juga bisa terkena
infeksi tersebut, kebanyakan wanita menderita hymphoedema atau
elephantiasis pada kakinya.

2. Rumusan Masalah
1) Apa pengertian dari vilariasis?
2) Apa saja etiologi dari vilariasis?
3) Bagaimana patofisiologi vilariasis?
4) Bagiamana WOC dari vilariasis ?
5) Bagaimana Manifestasi klinis dari vilariasis?
6) Bagaiamana penatalaksanaan dari vilariasis?
7) Apa saja komplikasi vilariasis?

2
BAB II

1. Definisi

Filariasis (Kaki gajah) adalah penyakit yang menular karena


disebabkan infeksi cacing filarial dan ditelurkan oleh berbagai jenis nyamuk
diantaranya Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres. Penyakit tersebut
dapat menimbulkan cacat seumur hidup berupa pembesaran tangan, kaki,
payudara, dan buah zakar. Cacing filarial hidup di saluran dan kelenjar
getah bening dengan manifestasi klinik akut berupa demam berulang,
peradangan pada saluran dan kelenjar getah bening, infeksi cacing dapat
menyebabkan gejala klinis ataupun kronik (Depkes RI, 2005).

Penyakit Filariasis ditemukan pada daerah khatulistiwa dan


merupakan masalah didaerah dataran rendah. Cacing filaria berasal dari
kelas Secernentea, filum Nematoda.Tiga spesies yang menimbulkan infeksi
pada manusia adalah Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori
(Elmer R. Noble & Glenn A. Noble, 189).Tempat hidup cacing filaria
tersebut dapat berupa hewan atau manusia. Manusia mengandung parasit
yang mampu menjadi sumber infeksi bagi orang lain. Hewan diantaranya
Brugia malayu yang dapat hidup pada kucing, kera, kuda, ataupun sapi.

Penyakit filariasis terdeteksi melalui pemeriksaan mikroskopis


darah. Pemeriksaan dilakukan pada malam hari karena micrifilaria akan
menampakan diri didalam darah (Nocturnal periodicity). Selain pemeriksaan
tersebut pemeriksaan dikenal sebagai penjaringan membrane, metode
konsentrasi knott dan teknik pengendapan metode pemeriksaaan kearah
diagnose yang diakui oleh pihak WHO dengan pemeriksaan sistem “tes
kartu”. Caranya mengambil sample darah dengan system tusukan jari
droplets.

Siklus hidup cacing filaria adalah seseorang dapat tertular dari


gigitan nyamuk yang terinfeksi laeva stadium III (L3). Ketika nyamuk
mengginggit tubuh manusia maka mikrofilia berselubung (didapatkan ketika
mengginggit penderita valiariasis), akan melepaskan selubung tubuhnya

3
kemudian akan menembus perut tengah lanjut menuju ke otot dada
nyamuk. Larva stadium I (L1).Kemudian berkembang menjadi L3, semua
itu membutuhkan waktu 12 – 14 hari. Ketika nyamuk mengandung L3
tersebut menginggit manusia, maka akan terjadi infeksi mikrofilia dalam
tubuh orang tersebut kemudian memasuki pembuluh limfe dimana L3 akan
tumbuh menjadi cacing dewasa, dan berkembang biak menghasilkan
mikrofilaria banyak. Semakin banyak cacing berkembang biak maka
pembuluh limfe akan terjadi penyumbatan sehingga aliran sekresi kelenjar
limfe menjadi terhambat dan menumpuk disuatu lokasi. Penumpukan
tersebut akan terjadi pembekakan kelenjar limfe, biasanya disertai infeksi
sekunder dengan fungi dan bakteri karena kurang terawat daerah lipatan
kulit yang mengalami pembengkakan tersebut.

2. Etioligi

Penyakit filariasis disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria :


Wucheria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori. Cacing ini menyerupai
benang dan hidup dalam tubuh manusia terutama dalam kelenjar getah
bening dan darah. Dia dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia
selama 4 – 6 tahun dan dalam tubuh manusia cacing dewasa betina
menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria) yag beredar dalam darah
terutama malam hari. Ciri-ciri cacing microfilaria :
1) Berbentuk silindris, halus seperti benang, putih, dan hidup didalam
sistem limfe
2) Ukuran 55 – 100 mm x 0,16 mm
3) Cacing jantan lebih kecil 55 mm x 0,09 mm
4) Berkembang secara ovovivipar
Faktor yang mempengaruhi perkembangan microfilaria
1) Lingkungan fisik : iklim, geografis, air, dan lainnya
2) Lingkungan biologic : lingkungan hayati yang mempengaruhi penularan
3) Lingkungan social ekonomi budaya : pengetahuan, sikap, dan perilaku
4) Ekonomi : cara bertani, mencari rotan, getah, dsb

4
3. Patofisiologi
Penyakit kaki gajah atau Bancroftian filariasis adalah infeksi
cacing nematoda Wucheria bancrofi yang mengalami perubahan siklus
hidup (stadium seksual) dan menjadi dewasa di dalam kelenjar getah
bening manusia sebagai pejamu definitif. Cacing betina akan
memproduksi mikrofilaria yang masuk ke dalam aliran darah perifer
menusia pada malam hari (nocturnal periodicity) dengan konsentrasi
tinggi pada jam antara 10.00 dan 2.00 pagi. Bentuk lain mikrofilaria dapat
berada terus dalam aliran darah perifer manusia dalam konsentrasi tinggi
pada siang hari (diurnal sub-periodicity). Penyakit ini endemis di daerah
Pasifik Selatan tempat vektor nyamuk mempunyai kebiasaan menggigit
pada siang hari dan banyak berjangkit di daerah pedesaan dibandingkan
daerah perkotaan.
Bila penderita penyakit kaki gajah ini digigit nyamuk dan nyamuk
mengisap darahnya, maka mikrofilaria di dalam tubuh vektor nyamuk akan
mengalami multiplikasi dan nyamuk menjadi pejamu intermediate.
Seandainya nyamuk infeksius ini mengigit orang lain, maka air liur nyamuk
yang banyak mengandung mikrofilaria akan masuk ke dalam alirah darah
orang tadi dan akan berubah menjadi cacing dewasa. Gejala klinis filariasis
limfatik disebabkan oleh microfilaria dan cacing dewasa baik yang hidup
maupun mati.Microfilaria biasanya tidak menimbulkan kelainan tetapi
dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis.Gejala yang
disebabkan oleh cacing dewasa menyebabkan limfadenitis dan limfagitis
retrograd dalam stadium akut, disusul dengan okstruktif menahun 10 sampai
15 tahun kemudian.
Perjalanan filariasis dapat dibagi beberapa stadium : stadium
mikrofilaremia tanpa gejala klinis, stadium akut dan stadium menahun.
Ketiga stadium tumpang tindih, tanpa ada batasan yang nyata.Gejala klinis
filariasis bankrofti yang terdapat di suatu daerah mungkin berbeda dengan
yang terdapat di daerah lain (Parasitologi Kedokteran, 2008).Pada penderita
mikrofilaremia tanpa gejala klinis, pemeriksaan dengan limfosintigrafi
menunjukkan adanya kerusakan limfe.Cacing dewasa hidup dapat

5
menyumbat saluran limfe dan terjadi dilatasi pada saluran limfe, disebut
lymphangiektasia.Jika jumlah cacing dewasa banyak dan lymphangietaksia
terjadi secara intensif menyebabkan disfungsi system limfatik.Cacing yang
mati menimbulkan reaksi imflamasi.Setelah infiltrasi limfositik yang
intensif, lumen tertutup dan cacing mengalami kalsifikasi.Sumbatan
sirkulasi limfatik terus tertutup menyebabkan limfedema di daerah yang
terkena.Selain itu, juga terjadi hipertrofi otot polos di sekitar daerah yang
terkena (Pathology Basic of Disease, 2005).
Stadium akut ditandai dengan peradangan pada saluran dan kelenjar
limfe, berupa limfaadenitis dan limfagitis retrograd yang disertai demam
dan malaise.Gajala peradangan tersebut hilang timbul beberapa kali setahun
dan berlangsung beberapa hari sampai satu atau dua minggu
lamanya.Peradangan pada sistem limfatik alat kelamin laki-laki seperti
funikulitis, epididimitis dan orkitis sering dijumpai.Saluran sperma
meradang, membengkak menyerupai tali dan sangat nyeri pada
perabaan.Kadang-kadang saluran sperma yang meradang tersebut
menyerupai hernia inkarserata.Pada stadium menahun gejala klinis yang
paling sering dijumpai adalah hidrokel. Dapat pula dijumpai gejala
limfedema dan elephantiasis yang kadang terjadi kiluria, yaitu urin yang
bewarna putih susu yang terjadi karena dilatasi pembuluh limfe pada sistem
ekskretori dan urinary. Umumnya penduduk yang tinggal di daerah endemis
tidak menunjukkan peradangan yang berat walaupun mereka mengadung
mikrofilaria (Parasitologi Kedokteran, 2008).

6
4. Manifestasi Klinis
1) Demam berulang – ulang selama 3-5 hari
2) Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan
paha
3) Radang saluran kelenjar getah bening
4) Filariasis abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar
getah bening dapat pecah dan mengeluarkan nanah
5) Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak
kemerahan dan terasa panas (early lymphodema)

5. Penatalaksanaan
Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang
ampuh, baik untuk filariasis bancrofti maupun brugia, bersifat
makrofilarisidal dan mikrofilarisidal.Obat ini ampuh, aman dan murah, tidak
ada resistensi obat, tetapi memberikan reaksi samping sistemik dan lokal
yang bersifat sementara.Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam, berupa
sakit kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, persendian, pusing,
anoreksia, kelemahan, hematuria transien, alergi, muntah dan serangan
asma.Reaksi lokal dengan atau tanpa demam, berupa limfadenitis, abses,
ulserasi, limfedema transien, hidrokel, funikulitis dan epididimitis. Reaksi
samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama, hilang spontan
setelah 2-5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik.
Reaksi samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian dosis pertama,
hilang spontan setelah beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering
ditemukan pada penderita dengan gejala klinis.Reaksi sampingan ini dapat
diatasi dengan obat simtomatik. Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri
atas :
1. Pemberantasan nyamuk dewasa
a. Anopheles : residual indoor spraying
b. Aedes : Aerial spraying

7
2. Pemberantasan jentiknyamuk
a. Anopheles : Abate 1%
b. Culex : Minyak tanah
c. Mansonia : Melenyapkan tanaman air tempat perindukan,
mengeringkan rawa, dan saluran air
3. Mencegah gigitan nyamuk
a. Menggunakan kawat nyamuk/ kelambu
b. Menggunakan repellent
Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya
dilaksanakan sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk
menunjang penanggulangan filariasis. Sasaran penyuluhan adalah penderita
filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk daerah endemis, dengan
harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera
memeriksakan diri ke puskesmas, bersedia diperiksa darah kapiler jari dan
minum obat DEC secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari
gigitan nyamuk. Evaluasi hasil pemberantasan dilakukan setelah lima tahun,
dengan melakukan pemeriksaan ektor dan pemeriksaan darah tepi untuk
deteksi mikrofilaria.

6. Komplikasi
1) Cacat menetap pada bagian tubuh yang terkena
2) Elephantitis tungkai
3) Limfedema :infeksi Wucheria mengenai kaki dan lengan, skrotum,
penis, vulva, vagina, dan payudara
4) Hidrokel (40-50% kasus), adenolimfamgitis pada saluran limfe testis
berulang :pecahnya tunika vaginalis hidrokel adalah penumpukan
cairan yang berlebihan diantara lapisan parietalis dan viseralis tunika
baginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berada didalam rongga
itu memang adadan berada dalam keseimbanan antara produksi dan
reabsorbsi oleh sistem limfatik disekitarnya

8
5) Kiluria : kencing seperti susu karena bocornya atau pecahnya saluran
limfe oleh cacing dewasa yang menyebabkan masuknya cairan limfe ke
dalam saluran kemih.

7. Pemeriksaan diagnostik
Menggunakan sediaan darah makam, diagnosis praktis juga dapat
menggunakan ELISA dan rapid test dengan teknik imunokromatografik
assay. Jika pasien suda terdeteksi kuat mengalami filariasis limfatik,
penggunaan USG Doppler diperlukan untuk mendeteksi pergerakan cacing
dewasa di tali sperma atau kelenjar mamae wanita.
1) Diagnosa keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada
kelenjar getah bening
2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe

3. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik


4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada
anggota tubuh
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, deficitimun,
lesipda kulit

2) Intervensi Keperawatan
Diagnosa keperawatan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
peradangan pada kelenjar getah bening
Hasil yang diharapkan : suhu tubuh pasien dalam batas normal
Intervensi Rasional
1. Berikan respon pada daerah 1. Mempengaruhi pusat
frontalis dan axial pengaturan suhu di
2. Monitor vital sign, terutama hipotalamus, mengurangi
suhu tubuh panas tubuh yang
3. Pantau suhu lingkungan dan mengakibatkan darah
modifikasi lingkungan sesuai vasokontriksi sehingga
kebutuhan, misalnya sediakan pengeluaran panas secara

9
selimut yang tipis konduksi
4. Anjurkan klien untuk banyak 2. Untuk mengetahui
minum air putih kemungkinan perubahan
5. Anjurkan klien memakai tanda-tanda vital
pakaian tipis dan menyerap 3. Dapat membantu dalam
keringat jika panas mempertahankan
tinggi’kolaborasi dengan tim menstabilkan suhu tubuh
medis dalam pemberian terapi pasien
pengobatan (anti piretik) 4. Diiharapkan
keseimbangan cairan
tubuh
5. Dengan pakaian tipis dan
menyerap keringat maka
akan mengurangi
penguapan

Diagnosa Keperawatan nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar


limfe
Hasil yang diharapkan : Nyeri hilang
Intervensi Rasional
1. Berikan tindakan 1. Meningkatkan relaksasi,
kenyamanan (pijat atau atur memfokuskan kembali
posisi) ajarkan teknik perhatian dapat
relaksasi menigkatkan koping
2. Observasi nyeri (kualitas, 2. Menentukan intervensi
intensitas, durasi, dan selanjutnya dalam
frekuensi nyeri) mengatasi nyeri
3. Anjurkan pasien melaporkan 3. Nyeri berat dapat
dengan segera apabila nyeri menyebabkan syok dengan
4. Kolaborasi dengan tim medis merangsang sistem syaraf
dala pemberian terapi simpatis, mengakibatkan
pengobatan (obat anelgetik) kerusakan lanjutan

10
4. Diberikan untuk
menghilangkan nyeri

Diagnosa Keperawatan Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan


fisik
Hasil yang diharapkan : Menyatakan gambaran diri lebih nyata,
menunjukkan beberapa penerimaan diri dari pada pandangan idealism,
mengakui diri sebagai idividu yang mempunyai tanggung jawab sendiri
Intervensi Rasional
1. Akui kenormalan perasaan 1. Memberi petunjuk bagi
2. Dengarkan keluahn pasien pasien dalam memandang
dan tangapan-tanggapannya dirinya, adanya perubahan
mengenai keadaan yang peran dan kebutuhan, dan
dialami berguna untuk
3. Perhatikan perilaku menarik memberikan informasi
diri negatif, penggunaan pada saat tahap
penolakan atau tidak terlalu penerimaan
mempermasalahkan 2. Mengidentifikasi tahap
perubahan aktual kehilangan / kebutuhan
4. Anjurkan kepada orang intervensi.
terdekat untuk 3. Melihat pasien dalam
memperlakukan pasien secara kluarga, mengurangi
normal (bercerita tentang perasaan tidak berguna,
keluarga) tidak berdaya, dan persaan
terisolasi dari lingkungan
dan dapat pula
memberikan kesempatan
pada orang terdekat untuk
meningkatkan
kesejahteraan.
4. Membina suasana
teraupetik pada pasien

11
untuk memulai
penerimaan diri

Diagnosa keperawatan mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan


pembengkakan pada anggota tubuh
Hasil yang diharapkan : menunjukkan perilaku yang mampu kembali
melakukan aktivitas
Intervensi Rasional
1. Lakukan Retang Pergerakan 1. Meningkatkan kekuatan
Sendi (RPS) otot dan mencegah
2. Tingkat tirah baring / duduk kekakuan sendi
3. Berikan lingkungan yang 2. Meningkatkan istirahat
tenang dan ketenangan,
4. Tingkatkan aktivitas sesuai menyediakan enegi untuk
toleransi penyembuhan
5. Evaluasi respon pasien 3. Tirah baring lama dapat
terhadap aktivitas meningkatkan kemampuan
Menetapkan kemampuan /
4. kebutuhan pasien dan
memudahkan pilihan
intervensi

Diagnosa Keperawatan kerusakan integritas kulit berhubungan dengan


bakteri defisit imun, lesipadakulit
Hasil yang diharapkan : Mempertahankan keutuhan kulit, lesipadakulit
dapat hilang
Intervensi Rasional
1. Ubah posisi ditempat tidur 1. Mengurangi resiko abrasi
dan kursi sesering mungkin kulit dan penurunan
(tiap 2 jam sekali) gunakan tekanan yang dapat

12
pelindung kaki, bantalan busa menyebabkan kerusakan
atau air pada waktu berada di aliran darah seluler.
tempat tidur dan pada waktu 2. Tingkatkan sirkulasi
duduk dikursi udara pada permukaan
2. Periksa permukaan kulit kaki kulit untuk mengurangi
yang bengkak secara rutin panas/ kelembaban.
3. Anjurkan pasien untuk 3. Kerusakan kulit dapat
melakukan rentan gerak terjadi dengan cepat pada
4. Anjurkan pasien untuk daerah – daerah yang
melakukan rentan beresiko terinfeksi dan
gerak’kolaborasi : rujuk pada nekrotik.
ahli kulit meningkatkan 4. Meningkatkan sirkulasi,
sirkulasi, dan mencegah dan meningkatkan
terjadinya dekubitus partisipasi pasien.

3) Implementasi
1. Melakukan kompres pada daerah frontalis dan axial
2. Menganjurkan klien untuk banyak minum air putih
3. Melakukan tindakan kenyaman (pijatan/aturposisi), ajarkan teknik
relaksasi
4. Melakukan retang pergerakan sendi
5. Mengevaluasi respon pasien terhadap aktivitas
6. Memeriksa permukaan kulit kaki yang bengkak secara rutin
4) Evaluasi
Setelah melakukan tindakan keperawatan diharapkan klien akan
mendapatkan perubahanyang lebih baik, jika tidak ada hasil yang
didapatkan maka tindakan akan dihentikan mengkaji kembali keadaan klien
dengan membuat intervensi baru.

13

Anda mungkin juga menyukai