Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH PERUSAHAAN KELUARGA, MULTINATIONAL

COMPANY, DAN KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL


TERHADAP TAX AVOIDANCE
(Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Periode 2010-2012)

Oleh:
Nurul Hidayah
Pembimbing : Kamaliah dan Devi Safitri

Faculty of Economics Riau University, Pekanbaru, Indonesia


e-mail: nurulh898@gmail.com

Influence of Family Company, Multinational Company, and


Institutional Ownership to Tax Avoidance

ABSTRACT

This research has a purpose to examine the influence of family company,


multinational company and institutional ownership to tax avoidance. This study classified
the type of research that is causative. The population in this study are all companies
listed at the Indonesia Stock Exchange in 2010 until 2012. Sample used in this study was
a 30 companies. The method using in the selection of sample by purposive sampling
method. The data used in this research is a secondary data obtain from www.idx.co.id.
The model of analysis used in this study is a program SPSS version 16.0 for Windows.
The result of this research indicates that multinational company has a significant
influence on tax avoidance activity. While the family ownership and institutional
ownership have not significant influences on tax avoidance.

Keywords: Tax Avoidance, Family Company, Multinational Company, and


Institutional Ownership.

PENDAHULUAN dengan memanfaatkan kelemahan-


kelemahan ketentuan perpajakan
Tax avoidance (penghindaran suatu Negara. Dengan demikian,
pajak) merupakan suatu strategi banyak ahli pajak berpendapat
pajak yang agresif yang dilakukan bahwa tax avoidance tidak
oleh perusahaan dalam melanggar ketentuan perpajakan,
meminimalkan beban pajak, umumnya menyangkut perbuatan
sehingga kegiatan ini memunculkan yang masih dalam koridor hukum
risiko bagi perusahaan antara lain tapi tidak berdasarkan “adequate
denda dan buruknya reputasi consideration” atau berlawanan
perusahaan dimata publik. dengan maksud pembuat undang-
Darussalam (2009) dalam undang (Darussalam, 2009 dalam
Surono(2013) mendefenisikan Surono, 2013).
istilah tax avoidance sebagai suatu Kegiatan tax avoidance
skema transaksi yang ditujukan akhir-akhir ini diperkirakan akan
untuk meminimalkan beban pajak menjadi hal penting yang harus

Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 1


diperhatikan oleh fiskus. Di dimaksudkan untuk menganalisis
Indonesia sendiri sekitar 70% faktor-faktor yang berpengaruh
perusahaan berstatus Pananam terhadap tax avoidance. Hal tersebut
Modal Asing (PMA) menghindari dapat dirumuskan dalam bentuk
pajak untuk tahun 2001 karena pertanyaan sebagai berikut : 1)
usahanya di Indonesia masih merugi. Apakah perusahaan keluarga
Kondisi itu menuntut Direktorat berpengaruh signifikan terhadap tax
Jendral Pajak untuk memperketat avoidance?. 2) Apakah multinasional
peraturan perpajakan dan company berpengaruh signifikan
menggenjot pendapatan negara dari terhadap tax avoidance?. 3) Apakah
pajak (www.unisosdem.org). kepemilikan institusional
Hasil penelitian Prakosa berpengaruh signifikan terhadap tax
(2014), Sirait dan Martani (2013) avoidance?.
serta Rusydi dan Martani (2014) Berdasarkan rumusan
mengatakan bahwa perusahaan masalah yang telah disampaikan
keluarga berpengaruh terhadap tax sebelumnya, maka tujuan penelitian
avoidance. Sedangkan hasil ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk
penelitian Hidayanti dan Laksito membuktikan secara empiris
(2013) menyatakan bahwa pengaruh perusahaan keluarga
kepemilikan keluarga tidak terhadap tax avoidance. 2) Untuk
berpengaruh signifikan terhadap membuktikan secara empiris
tindakan pajak agresif. Dewi dan Jati pengaruh multinasional company
(2014) melakukan penelitian terkait terhadap tax avoidance. 3) Untuk
pengaruh multinasional company membuktikan secara empiris
terhadap tax avoidance. Hasilnya pengaruh kepeemilikan institusional
adalah multinasional company tidak terhadap tax avoidance.
berpengaruh terhadap tax avoidance.
Namun berbeda dengan penelitian TELAAH PUSTAKA
yang dilakukan oleh Rego (2003)
yang menyatakan bahwa Perusahaan Keluarga
multinational company berpengaruh Indonesia merupakan salah
signifikan terhadap tax avoidance. satu negara berkembang yang masih
Penelitian yang dilakukan oleh memiliki dominan kepemilikan
Annisa dan Kurniasih (2012) saham oleh keluarga di perusahaan.
menyatakan bahwa kepemilikan Kepemilikan saham di negara
institusional yang dijadikan proksi berkembang sebagian besar di
dalam corporate governance kontrol oleh kepemilikan keluarga,
perusahaan tidak berpangaruh termasuk perusahaan di Indonesia
terhadap tax avoidance. Namun (Arifin, 2003).
berbeda dengan hasil penelitian Beberapa peneliti
Pranata, Puspa, dan Herawati (2014) mengintepreatsikan keterlibatan
yang menyatakan bahwa keluarga dalam hal kepemilikan dan
kepemilikan institusional manajemen (Handler, 2000).
berpengaruh positif terhadap tax Sementara itu Churchill dan Hatten
avoidance. (2001) lebih cenderung
Berdasarkan latar belakang menambahkan faktor keberadaan
diatas, maka penelitian ini keluarga pada saat terjadinya suksesi
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 2
yang berasal dari dalam anggota memberi reputasi buruk pada
keluarga itu sendiri. Lebih lanjut perusahaan dan keluarga (Sirait dan
Carsrud (2000) menjelaskan bahwa Martani, 2013).
perusahaan keluarga adalah Penelitian Sirait dan Martani
perusahaan yang benar-benar (2013) menunjukkan bahwa
dimiliki oleh keluarga dan perusahaan keluarga menghindari
pembuatan dan pengambilan pajak dibandingkan perusahaan non-
kebijakan perusahaan di dominasi keluarga. Hal ini terjadi karena
oleh anggota “emotional kinship diduga family owner lebih rela
group”. Ini berarti bahwa sesuatu membayar pajak lebih tinggi
perusahaan keluarga manakala daripada harus membayar denda dan
dominasi anggota keluarga yang menghadapi kemungkinan rusaknya
termasuk dalam kelompok yang reputasi perusahaan akibat
mempunyai pertalian keluarga secara pemeriksaan pajak atau diaudit oleh
emosional sangat besar dan kelihatan fiskus pajak Oleh karena itu hipotesis
secara kasat mata. pertama dalam penelitian ini
Di perusahaan keluarga, dirumuskan sebagai berikut.
manfaat dan biaya dari tax avoidance H1: Perusahaan keluarga
sangat berhubungan karakteristik berpengaruh signifikan terhadap tax
khusus perusahaan keluarga. avoidance.
Karakteristik perusahaan keluarga
membuat pemilik keluarga akan Multinational Company
merasakan manfaat tax avoidance Era globalisasi mendorong
yang lebih besar dibandingkan perusahaan untuk melakukan
manajer di perusahaan non-keluarga. perluasan perdagangan yang semula
Karena proporsi kepemilikan yang hanya beroperasi lintas dalam negeri
tinggi, pemilik keluarga memperoleh menjadi operasi lintas negara dengan
penghematan lebih besar. Ditambah membuka agen atau cabang.
lagi pengaruh pemilik keluarga yang Multinasional Company adalah
besar pada perusahaan membuat perusahaan yang beroperasi lintas
peluang tax avoidance lebih besar. negara. Perusahaan yang beroperasi
Namun demikian, biaya yang lintas Negara memiliki kemungkinan
ditanggung oleh pemilik keluarga melakukan tax avoidance lebih
juga lebih besar. Masalah keagenan tinggi dibanding perusahaan yang
di perusahaan keluarga menyebabkan beroperasi lintas domestik. Karena
pemegang saham minoritas yang mereka bisa saja melakukan transfer
merasa dirugikan dari tax avoidance laba (transfer pricing) ke perusahaan
akan menyikapinya dengan yang berada di lain negara, dimana
melakukan price discount. Selain itu, negara tersebut memungut tarif pajak
tindakan tax avoidance yang lebih rendah dibandingkan
meningkatkan peluang perusahaan negara lainnya (Rego, 2003).
diaudit oleh pemeriksa pajak. Jika Manipulasi pajak lain yang
perusahaan terkena sanksi dilakukan oleh perusahaan
perpajakan, sebagai pemegang multinasional adalah mendirikan
saham mayoritas, pemilik keluarga vehicle company atau letter box
akan menanggung biaya yang lebih company di negara-negara yang
besar. Pemeriksaan pajak juga dapat termasuk tax heaven countries.
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 3
Negara seperti Cayman Islands, terkadang pemegang saham institusi
British Virgin Island dan Mauritius yang merupakan pemegang saham
merupakan negara tax heaven mayoritas mengorbankan
countries yang memberikan subsidi kepentingan pemegang saham
pajak berupa tarif pajak yang relatif lainnya. Namun bagi manajemen,
rendah atau bahkan laba yang tinggi ada pengaruhnya
membebaskannya kepada para dengan jumlah pajak yang harus
investor, menyediakan infrastruktur dibayakan oleh perusahaan. Pemilik
keuangan yang canggih institusional sebagai pengawas yang
(sophisticated financial berasal dari eksternal dan mendorong
infrastructures) dan jaminan manajemen perusahan dengan
kerahasiaan (secrecy). Oleh karena melakukan pengawasan terhadap
itu hipotesis kedua dalam penelitian manajemen perusahaan agar dalam
ini dirumuskan sebagai berikut. menghasilkan laba berdasarkan
H2: Multinational Company aturan yang berlaku, karena pada
berpengruh dignifikan terhadap tax dasarnya pemilik institusional lebih
avoidance. melihat seberapa jauh manajemen
taat kepada aturan dalam
Kepemilikan Institusional menghasilkan laba.
Kepemilikan institusional Keberadaan pemilik
adalah kepemilikan saham institusional mengindikasikan
perusahaan yang mayoritas dimiliki adanya tekanan dari pihak
oleh institusi atau lembaga institusional kepada manajemen
(perusahaan asuransi, bank, perusahaan untuk melakukan
perusahaan investasi, asset kebijakan pajak agresif dalam rangka
management dan kepemilikan memperoleh laba yang maksimal
institusi lainnya) Djackman dan untuk pemilik institusional. Oleh
Machmud (2008) dalam Hanum dan karena itu hipotesis ketiga dalam
Zulaikha (2013). penelitian ini dirumuskan sebagai
Perusahaan dalam rangka berikut.
mengurangi masalah keagenan dan H3: Kepemilikan institusional
untuk mencapai keuntungan bottom berpengaruh signifikan terhadap tax
line performance yang lebih tinggi avoidance.
dan dapat menjamin investasi
berkelanjutan, maka pajak harus METODE PENELITIAN
diturunkan melalui perencanaan
pajak aktif yang didorong oleh para Data yang digunakan dalam
pemilik institusional. Pemilik penelitian ini adalah data sekunder
institusional pada dasarnya berupa data kuantitatif pada
mempunyai kendali yang cukup perusahaan yang listing di BEI.
besar dalam berlangsungnya kegiatan Dari hasil penelitian ini akan
operasional perusahaan. Pada dianalisa apakah ada pengaruh
dasarnya setiap investor ingin variabel independen yang meliputi
mendapatkan laba setinggi-tingginya perusahaan keluarga, multinational
sehingga akan menyebabkan company, dan kepemilikan
pembagian dividen yang cukup institusional terhadap variabel
tinggi. Dalam pencapaian tersebut, dependen yaitu tax avoidance.
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 4
Populasi dalam penelitian ini dalam laporan laba rugi komersil
adalah semua perusahaan manufaktur terhadap laba fiskal perusahaan.
yang listing di Bursa Efek Indonesia BTGit digunakan dalam penelitian ini
tahun 2010-2012. Teknik sampling
untuk melambangkan proksi box tax
dalam penelitian ini menggunakan
metode purposive sampling. gap (Fadhillah,2014).
Adapun kriteria sampel yang
dimaksud adalah sebagai berikut: Perusahaan Keluarga (X1)
a. Perusahaan manufaktur yang Perusahaan keluarga adalah
terdaftar di BEI dan setiap perusahaan yang memiliki
mempublikasikan laporan pemegang saham yang dominan.
keuangan auditan per 31 Variabel ini diukur dengan
Desember secara konsisten dan menggunakan variabel dummy
lengkap tahun 2010 sampai 2012 dimana angka 1 diberikan jika
dan tidak delisting dari BEI perusahaan tersebut merupakan
selama tahun pengamatan. perusahaan keluarga, dan 0 jika
b. Perusahaan go public yang perusahaan tersebut bukan
memperoleh laba dari tahun 2010 merupakan perusahaan keluarga
sampai dengan tahun 2012. (Asfiyati, 2012).
c. Perusahaan yang menampilkan
rekonsiliasi fiskal di catatan atas Multinational Company (X2)
laporan keuangan. Multinational company
d. Perusahaan yang tidak adalah perusahaan yang memiliki
menggunakan mata uang asing beberapa pabrik yang berada di
dalam catatan atas laporan Negara yang berbeda-beda.
keuangannya. Multinational company
diukur dengan variabel dummy
Defenisi Operasional Variabel dan dimana untuk perusahaan yang
Pengukuran beroperasi tingkat internasional
diberi skor 1 dan 0 jika perusahaan
Tax Avoidance (Y) itu tidak beroperasi tingkat
Tax avoidance (penghindaran
internasional (Asfiyati, 2012).
pajak) merupakan suatu strategi
pajak yang agresif yang dilakukan
Kepemilikan Institusional (X3)
oleh perusahaan dalam
Kepemilikan institusional
meminimalkan beban pajak,
diartikan sebagai kepemilikan saham
sehingga kegiatan ini memunculkan
perusahaan yang dimiliki oleh
risiko bagi perusahaan antara lain
institusi.
denda dan buruknya reputasi
Besar kecilnya pengaruh
perusahaan dimata publik.
variabel kepemilikan institusional
Pengukuran tax avoidance
dalam penelitian ini akan diukur
diukur dengan menggunakan proksi menggunakan prosentase
kesenjangan atau beda dari laba kepemilikan institusional terhadap
akuntansi dan laba fiskal (box tax perusahaan secara keseluruhan yang
gap). Dalam menghitung box tax gap dilambangkan dengan INSTit
digunakan perhitungan matematis (Khurana dan Moser, 2009).
sederhana dari laba sebelum pajak
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 5
HASIL PENELITIAN DAN standar deviasi 0.5028. Sementara
PEMBAHASAN statistk deskriptif pada variabel
multinational company menunjukkan
Hasil Analisis Statistik Deskriptif bahwa rata-rata variabel
Statistik deskriptif multinational company dari seluruh
memberikan gambaran atau deskripsi perusahaan sampel adalah 0.30. hal
suatu data yang dilihat dari nilai rata- ini berarti 30% dari seluruh
rata (mean), standar deviasi, perusahaan sampel merupakan
maksimum, dan minimum (Ghozali, perusahaan multinasional. Dengan
2013:19). standar deviasi 0.46082. Statistik
deskriptif pada variabel kepemilikan
Tabel 1
Statistik Deskriptif institusional menunjukkan nilai rata-
rata 0.6934 atau 69.34% dengan
standar deviasi 0.17503, nilai
Std.
N Minimum Maximum Mean Deviation kepemilikan institusional terkecil
Box Tax Gap 90 - 64523684 - 12981506 pada perusahaan-perusahaan sampel
604935000 3403.00 7110 7461.818
000.00 1838 08 adalah 0.32 atau 32% dan terbesar
73.54
44
adalah 0.98 atau 98%.
Perusahaan 90 .00 1.00 .5000 .50280
Keluarga Hasil Uji Normalitas Data
Mutinational 90 .00 1.00 .3000 .46082 Pengujian normalitas
Company bertujuan untuk mengetahui apakah
Kepemilikan 90 .32 .98 .6934 .17503
Institusional variabel dependen dan variabel
Valid N 90 independen dalam model regresi
(listwise)
memiliki distribusi normal atau
Sumber: Hasil pengolahan data, 2015 tidak. Untuk menciptakan suatu
model regresi yang baik, maka
Berdasarkan tabel 1 diatas distribusi datanya normal atau
dapat disimpulkan bahwa nilai rata- mendekati normal (Ghozali, 2013).
rata tax avoidance perusahaan di
dalam industry manufaktur periode Gambar 1
2010-2012 yang diukur dengan box Grafik P-Plot
tax gap adalah sebesar -
7110183873.5444 dengan standar
deviasi sebesar 129815067461.818
yang berarti terdapat rentang
penghindaran pajak yang besar.
Tingkat tax avoidance berkisar dari
minimum -604935000000 sampai
maksimum 645236843403. Statistik
deskriptif pada variabel independen
Perusahaan Keluarga menunjukkan
bahwa rata-rata variabel Perusahaan
Keluarga dari seluruh perusahaan
sampel adalah 0.50 yang berarti 50%
dari seluruh perusahaan sampel
adalah perusahaan keluarga. Dengan
Sumber:Hasil pengolahan data,2015.
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 6
Dari grafik Normal PP-Plot tolerance > 0,10. Jadi, dapat
pada gambar 1 terlihat bahwa disimpulkan bahwa model regresi
persebaran titik-titik berada disekitar tersebut tidak terdapat
dan mengikuti garis diagonal grafik multikolonieritas.
Normal P-P Plot. Berdasarkan pola
sebaran titik pada grafik P-P Plot Hasil Uji Autokerelasi
tersebut, dapat disimpulkan bahwa Uji autokorelasi bertujuan
model regresi memenuhi asumsi untuk menguji apakah dalam model
normalitas. regresi linear ada korelasi antara
kesalahan pengganggu pada periode
Hasil Uji Asumsi Klasik saat ini dengan kesalahan
Hasil Uji Multikolonieritas pengganggu pada periode
Uji multikolonieritas sebelumnya Pengambilan keputusan
bertujuan untuk menguji apakah ada tidaknya autokorelasi dapat
model regresi ditemukan adanya dilihat dari ketentuan berikut
korelasi antar variabel independen. (Santoso, 2012:242):
Model regresi yang baik seharusnya Bila nilai D-W terletak dibawah
tidak terjadi korelasi di antara -2 berarti ada autokorelasi
variabel independen. Nilai cutoff positif.
yang umum dipakai untuk Bila nilai D-W terletak diantara
menunjukkan adanya -2 sampai +2 berarti tidak ada
multikolinieritas adalah nilai autokorelasi.
tolerance 0,10 atau sama dengan Bila nilai D-W terletak diatas
nilai VIF 10 (Ghozali, 2013). +2 berarti ada autokorelasi
negatif.
Tabel 2
Hasil Uji Multikolonieritas Tabel 3
Hasil Uji Durbin-Watson
a
Coefficients
Adjusted R Std. Error of the Durbin-
Collinearity Statistics Model Square Estimate Watson
Model Tolerance VIF 1 .422 1.31861 1.236
1 Kepemilikan Keluarga .910 1.099
Sumber: Hasil pengolahan data, 2015.
Multinational Company .925 1.082
Kepemilikan Institusional .924 1.082
Berdasarkan tabel diatas
a. Dependent Variable: LN_Box Tax Gap
diketahui nilai dhitung (Durbin
Sumber: Hasil pengolahan data, 2015. Watson) terletak antara ‒ 2 dan +2 =
‒ 2 < 1,236 < +2. Dapat disimpulkan
Dari tabel diatas, hasil bahwa tidak ditemukannya
perhitungan nilai tolerance autokorelasi dalam model regresi.
menunjukkan tidak ada variabel
independen yang memiliki nilai Hasil Uji Heteroskedastisitas
tolerance kurang dari 0.10 yang Ghozali (2013:139)
berarti tidak ada korelasi antar menyatakan bahwa uji
variabel independen yang nilainya heteroskedastisitas dilakukan untuk
lebih dari 95%. Hasil perhitungan menguji apakah dalam model regresi
nilai Variance Inflation Factor (VIF) terjadi ketidaksamaan variance dari
untuk seluruh independen < 10 dan
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 7
residual suatu pengamatan ke Tabel 4
pengamatan yang lain. Hasil Uji Regresi Linear Berganda

Gambar 2 Unstandardized
Coefficients
Scatterplot
Model B Std. Error t Sig.
1 (Constant) 21.615 .672 32.186 .000
Kepemilikan .225 .298 .753 .453
Keluarga
Multinational 2.547 .319 7.992 .000
Company
Kepemilikan 1.022 .836 1.223 .225
Institusional

Sumber: Hasil pengolahan data, 2015

Arti angka-angka dalam persamaan


regresi diatas adalah sebagai berikut:
- Nilai konstanta (a) sebesar
Sumber: Hasil pengolahan data, 2015 21,615. Artinya adalah apabila
variabel independen diasumsikan
Berdasarkan Hasil uji nol (0), maka Box Tax Gap
heteroskedastisitas melalui gambar sebesar 21,615 %.
Scatterplot diatas terlihat bahwa data - Nilai koefisien regresi variabel
tidak membentuk pola tertentu dan kepemilikan keluarga sebesar
menyebar secara acak diatas dan 0,225. Artinya adalah bahwa
dibawah titik 0 pada sumbu Y. Dapat setiap terjadi perubahan
diartikan bahwa model regresi bebas kepemilikan keluarga, maka akan
dari heteroskedastisitas. mempengaruhi Box Tax Gap
sebesar 0,225 % dengan asumsi
Hasil Analisis Regresi Berganda variabel lain tetap.
Analisis data dalam - Nilai koefisien regresi variabel
penelitian ini menggunakan multinational company sebesar
persamaan regresi linier berganda, 2,547. Artinya adalah bahwa
yaitu analisis untuk lebih dari satu setiap terjadi perubahan
variabel independen. Variabel multinational company, maka
independen dalam penelitian ini akan mempengaruhi Box Tax
adalah perusahaan keluarga, Gap sebesar 2,547 % dengan
multinational company, dan asumsi variabel lain tetap.
kepemilikan institusional sedangkan - Nilai koefisien regresi variabel
variabel dependen adalah tax kepemilikan institusional sebesar
avoidance. 1,022. Artinya adalah bahwa
setiap terjadi peningkatan
BTG = 21,615 + 0,225 FAM + kepemilikan institusional sebesar
2,547 MNC + 1,022 INST + e 1 %, maka akan meningkatkan
Keterangan: Box Tax Gap sebesar 1,022 %
BTGit = Box Tax Gap dengan asumsi variabel lain
FAMit = Kepemilikan Keluarga tetap.
MNCit = Multinational company - Standar error (e) merupakan
INSTit = Kepemilikan Institusional variabel acak dan mempunyai
= Error
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 8
distribusi probabilitas yang regresi semakin tepat dalam
mewakili semua faktor yang memprediksi variabel dependen.
mempunyai pengaruh terhadap Y
tetapi tidak dimasukan dalam Hasil Pengujian Hipotesis
persamaan. Penelitian ini menggunakan 3
Dari tabel 4 diketahui nilai hipotesis yang diajukan untuk
ttabel pada taraf signifikansi 5 % (1- meneliti praktek tax avoidance
tailed) dengan Persamaan berikut: perusahaan di Indonesia. Hasil
t tabel = n – k – 1 : α hipotesis-hipotesis tersebut
= 86 – 3 – 1 : 0,05 dijelaskan sebagai berikut:
= 82 : 0,05
= 1,664 H1: Perusahaan keluarga
keterangan: berpengaruh signifikan terhadap
n: jumlah sampel tax avoidance.
k: jumlah variabel bebas Dari hasil pengujian analisis
1: konstan regresi yang terdapat dalam tabel 4
diatas diperoleh nilai thitung 0,753 <
Hasil Uji Koefisien Determinasi ttabel 1,664 dan tingkat signifikan
(R2) 0,453 sehingga lebih besar jika
Koefisien determinasi (R2) dibandingkan dengan probabilitas
mengukur seberapa jauh kemampuan signifikan yang digunakan yaitu
model dalam menerangkan variasi sebesar 0,05 atau 5%, dan juga dapat
variabel independen. Nilai koefisien dilihat β sebesar 0,225 dengan arah
determinasi adalah antara 0 dan 1. positif. Hal ini menunjukkan bahwa
variabel perusahaan keluarga tidak
Tabel 5 berpengaruh signifikan terhadap tax
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) avoidance. Hal ini berarti H1 ditolak.
Hasil penelitian ini sejalan
Adjusted R Std. Error of the dengan penelitian Hidayanti dan
Model Square Estimate Durbin-Watson
Laksito (2013) yang menyatakan
1 .422 1.31861 1.236
bahwa kepemilikan keluarga tidak
Sumber: Hasil olahan data, 2015
berpengaruh terhadap tindakan pajak
Berdasarkan tabel diatas agresif. Kondisi seperti ini terjadi
diketahui nilai Adjusted R Square karena adanya efek externalisasi dari
sebesar 0,422. Artinya adalah bahwa budaya bisnis dan budaya
sumbangan pengaruh variabel pemeriksaan pajak di Indonesia. Cule
perusahaan keluarga, multinational dan Fulton (2009) dalam Hidayanti
company, dan kepemilikan dan Laksito (2013) menyatakan
institusional terhadap variabel tax bahwa korupsi dan tindakan curang
avoidance adalah sebesar 42,2 %. dianggap hal yang biasa, maka
Sedangkan sisanya 57,8 % tindakan tersebut akan diterima dan
dipengaruhi oleh variabel lain yang biaya dari tindakan tersebut semakin
tidak dimasukkan dalam model rendah, sehingga perusahaan
regresi ini. keluarga tidak perlu membayar
Standar Error of Estimate denda yang lebih tinggi atas tindakan
(SEE) sebesar 1.31861. Makin kecil tax avoidance.
nilai SEE akan membuat model
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 9
Hal ini tidak sesuai dengan dibandingkan perusahaan lintas
konsep teori yang menyatakan domestic karena mereka bisa
bahwa perusahaan keluarga akan melakukan transfer laba ke
lebih taat dalam pembayaran pajak perusahaan yang berada di lain
(Chen et al., 2010). Konsep teori ini Negara, dimana Negara tersebut
sesuai dengan hasil penelitian memungut tarif pajak yang lebih
Prakosa (2014). Berbeda dengan rendah dibandingkan Negara lainnya
penelitian Sirait dan Martani (2013) (Rego, 2003). Penelitian ini sesuai
dan Rusydi dan Martani (2014) yang dengan penelitian Rego (2003)
menyatakan bahwa perusahaan bahwa multinational company
keluarga berpengaruh positif berpengaruh positif terhadap tax
terhadap tax avoidance. avoidance dimana Negara yang
memiliki pre tax income asing yang
H2: Multinational company tinggi akan memiliki beban pajak
berpengaruh signifikan terhadap yang tinggi pula.
tax avoidance. Namun berbeda dengan hasil
Dari hasil pengujian analisis penelitian Dewi dan Jati (2014) yang
regresi yang terdapat dalam tabel 4 menyatakan bahwa multinational
diatas diperoleh nilai thitung 7,992 > company tidak berpengaruh terhadap
ttabel 1,664 dan tingkat signifikan tax avoidance.
0,000 sehingga lebih kecil jika
dibandingkan dengan probabilitas H3: Kepemilikan institusional
signifikan yang digunakan yaitu berpengaruh signifikan terhadap
sebesar 0,05 atau 5%, dan juga dapat tax avoidance.
dilihat β sebesar 2,547 dengan arah Dari hasil pengujian olah data
positif. Hal ini menunjukkan bahwa statistik yang terdapat dalam tabel 4
variabel multinational company diatas diperoleh nilai thitung 1,223 <
berpengaruh positif signifikan ttabel 1,664 dengan tingkat signifikan
terhadap tax avoidance. Hal ini 0,225 sehingga lebih besar jika
berarti H2 diterima. dibandingkan dengan probabilitas
Hasil pengujian menunjukkan signifikan yang digunakan yaitu
bahwa multinational company sebesar 0,05 atau 5%, dan juga dapat
berpengaruh positif signifikan dilihat β sebesar 1,022 dengan arah
terhadap tax avoidance. Hasil ini positif. Hal ini menunjukkan bahwa
sesusai dengan konsep teori yang variabel kepemilikan institusional
menyatakan semakin besar ukuran tidak berpengaruh signifikan
perusahaannya, maka transaksi yang terhadap tax avoidance. Hal ini
dilakukan akan semakin kompleks. berarti H3 ditolak.
Jadi hal itu yang memungkinkan Hasil penelitian ini sejalan
perusahaan untuk memanfaatkan dengan penelitian Dewi dan Jati
celah-celah yang ada untuk (2014) dan Fadhillah (2014). Pemilik
melakukan tindakan tax avoidance institusional memiliki pilihan untuk
dari setiap transaksi. Selain itu memastikan bahwa manajemen
perusahaan yang beroperasi lintas membuat keputusan yang dapat
Negara memiliki kecenderungan memaksimalkan kesejahteraan
untuk melakukan tindakan tax pemegang saham institusional,
avoidance yang lebih tinggi terkonsentrasinya struktur
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 10
kepemilikan belum tentu mampu 3. Hasil pengujian hipotesis kedua
memberikan kontrol yang baik menunjukkan bahwa
terhadap tindakan manajemen atas multinational company
sikap opportunitiesnya dalam berpengaruh positif signifikan
melakukan manajemen laba (Isnanta, terhadap tax avoidance. Namun
2008 dalam Fadhillah, 2014). berbeda dengan hasil penelitian
Hasil ini tidak sesuai dengan Dewi dan Jati (2014) yang
konsep teori yang menyatakan menyatakan bahwa multinational
bahwa pemilik institusional company tidak berpengaruh
memainkan peran penting dalam terhadap tax avoidance.
memantau, mendisiplinkan dan 4. Hasil pengujian hipotesis ketiga
mempengaruhi manajer (Vishney, menunjukkan bahwa kepemilikan
1986 dalam Anisa dan Kurniasih, institusional tidak berpengaruh
2012). Konsep teori ini konsisten terhadap tax avoidance konsisten
dengan penelitian yang dilakukan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Pranata, Puspa, dan Herawati oleh Dewi dan Jati (2014) dan
(2014). Annisa dan Kurniasih (2012).
Berbeda dengan hasil penelitian
SIMPULAN DAN SARAN Pranata, Puspa dan Herawati
(2014) yang menyatakan bahwa
Simpulan kepemilikan institusional
1. Penelitian ini bertujuan untuk berpengaruh positif terhadap tax
mengetahui apakah pengaruh avoidance.
perusahaan keluarga,
multinational company, dan Saran
kepemilikan institusional 1. Untuk penelitian selanjutnya,
terhadap tax avoidance studi disarankan untuk
empiris pada perusahaan memperpanjang dan menambah
manufaktur yang terdaftar di periode observasi minimal 5
Bursa Efek Indonesia periode tahun, karena semakin panjang
2010-2012. jangka waktu penelitian akan
2. Hasil pengujian hipotesis diketahui variasi yang terjadi
pertama membuktikan bahwa pada suatu perusahaan dan
variabel perusahaan keluarga tentunya akan memberikan
tidak berpengaruh terhadap tax kontribusi hasil penelitian yang
avoidance. Penelitian ini tidak lebih tepat dan akurat di masa
konsisten dengan penelitian mendatang.
Rusydi dan Martani (2014) dan 2. Untuk penelitian selanjutnya,
penelitian Sirait dan Martani disarankan untuk menambah
(2014) yang menyatakan bahwa variabel bebas lebih dari 3
perusahaan keluarga berpengaruh variabel yang digunakan untuk
positif terhadap tax avoidance. mempengaruhi tax avoidance.
Berbeda dengan hasil penelitian 3. Untuk penelitian selanjutnya,
Prakosa (2014) yang menyatakan disarankan untuk menggunakan
bahwa perusahaan keluarga variabel lain yang lebih dapat
berpengaruh negatif terhadap tax mempengaruhi tax avoidance.
avoidance Contohnya adalah political
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 11
connection yang bisa diukur
dengan 2 proksi, yaitu Chen, S., Chen, X., Cheng, Q dan
kepemilikan pemerintah Shevlin, T. 2010. Are Family
(percentage of government equity Firms More Tax Aggressive
ownership) dan variabel dummy than Non-Family Firms?.
(1 jika perusahaan memiliki Journal of Financial
hubungan dengan top politican, Economics, 95, 41-61.
dan 0 jika sebaliknya).
4. Untuk penelitian selanjutnya, Churchill, N.C., & Hatten, K.J. 2001.
disarankan untuk memperluas Non-market based transfers
proksi yang menggambarkan tax of wealth and power: A
avoidance. research framework for
family businesses. American
DAFTAR PUSTAKA Journal of Small Business.
11(3), 51-64.

Annisa, Nuralifmida Ayu dan Lulus Dewi, Ni Nyoman Kristiana dan I


Kurniasih. 2012. Pengaruh Ketut Jati. 2014. Pengaruh
Corporate Governance Karakteristik Eksekutif,
Terhadap Tax Avoidance. Karakteristik Perusahaan,
Jurnal Akuntansi dan dan Dimensi Tata Kelola
Auditing, Vol. 8 No. 2, 95- Perusahaan yang Baik pada
189. Tax Avoidance di BEI. E-
Journal Akuntansi
Arifin, Z. 2003. Masalah Agensi dan Universitas Udayana, Vol. 6
Mekanisme Kontrol pada No. 2. Hal. 249-260.
Perusahaan dengan Struktur
Kepemilikan Terkonsentrasi Fadhilah, Rahmi. 2014. Pengaruh
yang Dikontrol Keluarga: Good Corporate Governance
Bukti dari Perusahaan Publik terhadap Tax Avoidance
di Indonesia. Disertasi (Studi Empiris pada
Pascasarjana FEUI. Perusahaan Manufaktur yang
Asfiyati. 2012. Pengaruh Corporate Terdaftar di BEI 2009-2011).
Governance, Kepemilikan Artikel.
Keluarga dan Karakteristik
Perusahaan terhadap Tax Ghozali, Imam, 2013. Aplikasi
Avoidance. Skripsi Fakultas Analisis Multivariate dengan
Ekonomi Universitas Sebelas Program IBM SPSS 21
Maret, Surakarta. Update PLS Regresi, Cetakan
Ketujuh. Semarang: Badan
Carsrud, Alan. L. 2000. Meanderings Penerbit Universitas
of a Resurrected Psychologist Diponegoro.
or, Lessons Learned in Handler, W. C. 2000.
Creating a Family Business Methodological issues and
Program. Entrepreneurship: considerations in studying
Theory and Practice, Vol. 19, family businesses. Family
p: 40.
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 12
Business Review, 2(3), 257- Rusydi, M Khoiru dan Dwi Martani.
276. 2014. Pengaruh Struktur
Kepemilikan terhadap
Hanum, Hashemi Rodhian dan Aggressive Tax Avoidance.
Zulaika. 2013. Pengaruh SNA 17, Mataram, Lombok.
Karakteristik Corporate
Governance terhadap Santoso, Singgih. 2012. Analisis
Effective Tax Rate. SPSS pada Statistik
Diponegoro Journal of Parametik. Jakarta: PT. Elek
Accounting, Vol. 2 No. 2 Hal. Media Komputindo.
1-10.
Sirait, Nora Sabrina dan Dwi
Hidayanti, Alfiyani Nur dan Herry Martani. 2013. Pengaruh
Laksito. 2013. Pengaruh Perusahaan Keluarga
Antara Kepemilikan terhadap Penghindaran
Keluarga dan Corporate Pajak pada Perusahaan
Governance terhadap Manufaktur di Indonesia dan
Tindakan Pajak Agresif. Malaysia. Paper Skripsi.
Diponegoro Journal of
Accounting, Vol: 2 No: 3. Surono, Shella Kurniasari. 2013.
Hal 1-12. Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Cash
Khurana, I. K. dan W. J. Moser. Effective Tax Rate Sebagai
2009.Institutional Ownership Alat Ukur dalam Tax
and Tax Aggressiveness. Avoidance pada Perusahaan
www.ssrn.com. Manufaktur di Bursa Efek
Indonesia. Skripsi Fakultas
Prakosa. 2014. Pengaruh Ekonomi Universitas Sebelas
Profitabilitas, Kepemilikan Maret, Surakarta.
Keluarga, dan Corporate Http://www.unisosdem.org/article_d
Governance terhadap Tax etail.php?aid=453&coid=2&c
Avoidance. Journal aid=30&gid=4
Akuntansi. Diakses pada 16 November 2014,
pukul 17:31.
Pranata, Febri Mashudi, Dwi Fitri
Puspa dan Herawati. 2014.
Pengaruh Karakteristik
Eksekutif dan Corporate
Governance terhadap Tax
Avoidance. Jurnal Akuntansi.

Rego, Sonja Olgost. 2003. Tax-


Avoidance Activities of U.S.
Multinational Corporations.
Contemporer Accounting
Research, Vol. 20 No. 4,
Winter Hal. 805-833.
Jom FEKON Vol.2 No.2 Oktober 2015 13