Anda di halaman 1dari 60

MODUL KEWIRAUSAHAAN

Kelompok 1

1. Hanifa Islamiah Basri (P17110171004)


2. Novi Rahmawati (P17110173033)
3. Fadhila Hanaputri Irawan (P17110173041)

KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAAN

I. Deskripsi

Kewirausahaan sebagai Suatu disiplin


ilmu yang mempelajari tentang nilai,
kemampuan (ability), dan perilaku seseorang
dalam menghadapi tantangan hidup untuk
memperoleh peluang dengan berbagai risiko
yang mungkin dihadapinya. Kewirausahaan
memiliki dua konsep, yaitu posisi venture
start up dan venture-growth. Kewirausahaan
merupakan disiplin ilmu yg memiliki obyek
tersendiri, yaitu kemampuan untuk
menciptakan sesuatu yg baru dan berbeda.
Kewirausahaan merupakan alat untuk
menciptakan pemerataan berusaha dan
pemerataan pendapatan atau kesejahteraan
rakyat yang adil dan makmur.

Wirausaha Wira artinya pahlawan, laki-


laki, pemberani, atau perwira sedangkan
usaha adalah kegiatan dengan
mengarahkan tenaga, pikiran, atau badan
untuk mencapai suatu maksud; pekerjaan
(perbuatan, prakarsa, ikhtiar, daya upaya)
untuk mencapai sesuatu. Wirausaha adalah
sesorang yang berani berusaha secara
mandiri dengan mengarahkan segala
sumber daya meliputi kepandaian mengenali
produk baru, menentukan cara produksi
baru, menyusun operasi untuk pengadaan
produk baru, memasarkannya, serta
mengatur permodalan operasinya untuk
menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih
tinggi .

II. Tujuan Pembelajaran


a. Tujuan Pembelajaran Umum
- Dapat memahami pengertian dan
latar belakang wirausaha.
- Dapat memahami gambaran
peluang usaha di bidang gizi.
- Dapat memahami langkah-langkah
dalam mewujudkan usaha.

b. Tujuan Pembelajaran Khusus


- Dapat menjelaskan pengertian
kewirausahaan dan wirausaha.
- Dapat menjelaskan latar belakang
menjadi wirausaha.
- Dapat menjelaskan gambaran
peluang usaha dibidang gizi.
- Dapat menentukan langkah-
langkah dalam mewujudkan
usaha.

III. Sub Pokok Bahasan


a. Pengertian kewirausahaan dan
wirausaha.
b. Latar belakang wirausaha.
c. Gambaran peluang usaha dibidang
gizi.
d. Langkah-langkah dalam mewujudkan
usaha.

IV. Bahan Pembelajaran


a. Buku materi kewirausahaan.
b. Modul.
c. Power Point.

V. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran

N Wak Kegiatan Kegiatan Kegiatan


o tu Penyuluh Peserta
1. 5 Pembuka 1. Mengucap 1. Menjaw
meni an kan salam ab
t pembuka salam
2. Menjelask 2. Memaha
an tujuan mi
penyuluha tujuan
n penyulu
3. Menyebut
han
kan materi 3. Memaha
penyuluha mi dan
n/pokok menden
pembahas garkan
an yang penjelas
akan an yang
disampaik disampa
an ikan

2. 20 Pelaksan Menjelaskan Mendengar


meni aan materi kan,
t penyuluhan memperhat
secara ikan
sistematis menyimak,
tentang dan
konsep dasar memahami.
kewirausaha
an
3. 15 Evaluasi Meminta Menjawab
meni siswa untuk pertanyaan
t menjelaskan yang
dan diberikan
menyebutkan
kembali
materi yang
telah
disampaikan

4. 5 Penutup 1. Menyimpul 1. Menyim


meni kan materi ak
2. Mengucap 2. Menjaw
t
kan ab
terimakasi salam
h dan
salam

VI. Uraian Materi


1. Pengertian dan Latar Belakang Wirausaha

A. Disiplin Ilmu kewirausahaan

Suatu disiplin ilmu yang mempelajari


tentang nilai, kemampuan (ability), dan
perilaku seseorang dalam menghadapi
tantangan hidup untuk memperoleh
peluang dengan berbagai risiko yang
mungkin dihadapinya. Merupakan disiplin
ilmu yg memiliki obyek tersendiri, yaitu
kemampuan untuk menciptakan sesuatu
yg baru dan berbeda. Kewirausahaan
merupakan alat untuk menciptakan
pemerataan berusaha dan pemerataan
pendapatan atau kesejahteraan rakyat
yang adil dan makmur.

Istilah kewirausahaan (entrepreneur)


pertama kali diperkenalkan pada awal
abad ke-18 oleh ekonom Perancis,
Richard Cantillon. Menurutnya,
entrepreneur adalah “agent who buys
means of production at certain prices in
order to combine them”. Dalam waktu
yang tidak terlalu lama, ekonom
Perancis lainnya, yaitu Jean Baptista
Say menambahkan definisi Cantillon
dengan konsep entrepreneur sebagai
pemimpin. Say menyatakan bahwa
entrepreneur adalah seseorang yang
membawa orang lain bersama-sama
untuk membangun sebuah organ
produktif.

KreKreitner (1995) menjelaskan bahwa


kewirausahaan adalah sebuah proses di
mana seseorang atau sebuah atau
organisasi menjawab peluang sekalipun
sumber daya yang dimilikinya terbatas.
Dari pemikiran tersebut dapat dikatakan
bahwa seorang wirausaha adalah orang
yang selalu berubah (dalam Agustina,
2015). Zimmerer dan Scarborough
(2005:5) menjelaskan tentang pengertian
kewirausahaan: “A person who creates a
new business in the face of risk and
uncertainty for purpose of achieving profit
and growth by identifying opportunity and
assembling the necessary resources to
capitalize on those opportunities” atau
seseorang yang membentuk bisnis baru
yang berhadapan dengan risiko dan
ketidakpastian untuk dapat meraih
keuntungan dan pertumbuhan dengan
jalan mengidentifikasi peluang dan
mengombinasikan berbagai sumber daya
untuk mendapatkan manfaat dari peluang
tersebut.

Kewirausahaan menurut David E. Rye


(1996: 6) adalah suatu pengetahuan
terapan dari konsep dan teknik
manajemen yang disertai risiko dalam
merubah atau memproses sumberdaya
menjadi output yang bernilai tambah
tinggi (value edded). Perubahan ini
dilakukan melalui menciptaan
diferensiasi, standarisasi, proses dan alat
desain dalam menciptakan pasar dan

Dari berbagai pendapat yang telah


dijelaskan di atas, dapat disimpulkan
bahwa kewirausahaan
(entrepreneurship) adalah kemampuan
berpikir kreatif dan berperilaku inovatif
yang disajikan dasar, sumber daya,
tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat
dan proses dalam menghadapi
tantangan hidup (Agustina, 2015 :4 ).

B. Wirausaha

Entrepreneurship dari bahasa


Perancis yang berarti “berusaha” atau
melaksanakan. Wirausaha mengandung
arti secara harfiah, wira berarti berani
dan usaha berarti daya upaya sedangkan
usaha adalah kegiatan dengan
mengarahkan tenaga, pikiran, atau
badan untuk mencapai suatu maksud;
pekerjaan (perbuatan, prakarsa, ikhtiar,
daya upaya) untuk mencapai sesuatu.
Kemampuan yang dimiliki oleh
seseorang untuk melihat dan menilai
kesempatan-kesempatan bisnis;
mengumpulkan sumber daya-sumber
daya yang dibutuhkan untuk mengambil
tindakan yang tepat dan mengambil
keuntungan dalam rangka meraih sukses
(Ichyaudin, 2009).

.Dalam lampiran Keputusan Menteri


Koperasi dan Pembinaan Pengusaha
Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995,
dicantumkan bahwa:

1. Wirausaha adalah orang yang mempunyai


semangat, sikap, perilakudan kemampuan
kewirausahaan.
2. Kewirausahaan adalah semangat, sikap,
perilaku dan kemampuanseseorang dalam
menangani usaha atau kegiatan yang
mengarahpada upaya mencari, menciptakan
serta menerapkan cara kerja,teknologi dan
produk baru dengan meningkatkan efisiensi
dalamrangka memberikan pelayanan yang
lebih baik dan atau memperolehkeuntungan
yang lebih besar.

Seorang yang ingin berwirausaha


diharuskan menghadapi resiko atau
peluang yang muncul yang juga harus
dikaitkan dengan tindakan kreatif dan
inovatif. Di jaman global sekarang ini
para wirausahawan mengendalikan
revolusi yang memberikan dampak baru
bagi perekonomian dunia. Jiwa da
semangat kewirausahaan tidak hanya
harus dimiliki oleh para pengusaha
(business-man) saja, melainkan sangat
perlu dimiliki oleh profesi dan peran apa
saja dalam berbagai fungsi yang
berbeda, apakah itu profesi guru/dosen,
murid/mahasiswa, dokter, tentara, polisi,
dan sebagainya.

C. Pengertian Wirausahawan

Wirausahawan adalah seorang


katalisator. Mereka adalah orang-orang
yang melakukan tindakan sehingga suatu
gagasan bisa terwujud menjadi suatu
kenyataan. Mereka menggunakan
kreativitasnya untuk senantiasa
melakukan pengembangan yang
berkesinambungan yamg dilakukan
secara terus menerus dan secara
konsisten. Wirausahawan adalah
seorang yang mengorganisasikan dan
mengarahkan usaha dan pengembangan
baru, memperluas dan memberdayakan
suatu organisasi, untuk memproduksi
produk baru atau menawarkan jasa baru
kepada pelanggan baru dalam suatu
pasar yang baru (Rye, 1996:3-4).

Para ahli memiliki definisi yang


berbeda-beda dalam mengartikan
wirausahawan:
(1) Menurut Frank Knight (1921)
wirausahawan mencoba untuk
memprediksi dan menyikapi perubahan
pasar. Definisi ini menekankan pada
peranan wirausahawan dalam
menghadapi ketidakpastian pada
dinamika pasar. Seorang wirausahawan
disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-
fungsi manajerial mendasar seperti
pengarahan dan pengawasan.

(2) Jean Baptista Say (1816)


mengemukakan bahwa seorang
wirausahawan adalah agen yang
menyatukan berbagai alat-alat produksi
dan menemukan nilai dari produksinya.

(3) Joseph Schumpeter (1934)


mengartikan wirausahawan sebagai
seorang inovator yang
mengimplementasikan perubahan-
perubahan di dalam.

Dapat disimpulkan bahwa, seorang


wirausahawan merupakan seseorang
yang memiliki jiwa berwirausaha yang
mana seseorang itu selalu
menggunakan kreativitasnya untuk
menemukan hal-hal baru yang juga
sebagai inovator dalam suatu pasar
yang baru dan seorang wirausahawan
mengetahui berbagai fungsi yang terkait
dalam mengelola suatu
perusahaan/organisasi, seperti fungsi
manajemen, keuangan, pemasaran,
produksi, operasi, sumberdaya manusia,
organisasi dan kelembagaan.
Wirausahawan adalah seorang yang
berorientasi prestasi dan meyakini
bahwa mereka menguasai kemampuan
sendiri.

D. Latar belakang Berwirausaha

Seseorang melakukan sesuatu pasti ada


alasan atau motif yang mendukung ia
melakukan hal tersebut. Termasuk
berwirausaha pastilah seseorang juga
memiliki motif atau latar belakang
tertentu hingga akhirnya memutuskan
berwirausaha, ditambah dalam
berwirausaha pastilah tidak mudah
banyak rintangan dan hambatan yang
akan dihadapi. Belum lagi jika ketika
berwirausaha mengalami kerugian yang
tidak sedikit adalah salah satu hal yang
perlu diantisipasi. Berikut adalah latar
belakang atau alasan seseorang dalam
berwirausaha menurut Agustina (2015)
yaitu:
- Alasan keuangan
Contohnya latar belakang
berwirausaha dalam keuanngan:
1. Untuk mencari nafkah
2. Medapatkan keuntungan/laba
3. Mendapatkan pendapatan
tambahan
4. Jaminan stabilitas keuangan
- Alasan Sosial
Sosial juga bisa menjadi latar
belakang kenapa seseorang
berwirausaha, contohnya:
1. Memperoleh gengsi/status.
2. Dapat dikenal dan dihormati
orang lain.
3. Dapat menjadi panutan.
4. Agar dapat bertemu orang
banyak/ memperbanyak relasi.
- Alasan Pelayanan
Dapat memberikan pelayanan
atau ingin mendapatkan
pelayanan yang diinginkan dapat
juga menjadi alasan mengapa
seseorang berwirausaha,
contohnya:
1. Memberi pekerjaan kepada
masyarakat.
2. Membantu anak yatim.
3. Membahagiakan/membanggak
an orang tua.
4. Demi masa depan keluarga.
- Alasan Pemenuhan Diri
Tidak jarang seseorang
berwirausaha juga sebagai bentuk
pemenuhan akan kepuasan atau
pencapaian terhadap diri sendiri,
contohnya:
1. Agar menjadi lebih mandiri.
2. Untuk menghindari
ketergantungan pada orang
lain.
3. Untuk menjadi produktif.
4. Untuk mencapai sesuatu yang
diinginkan.

Steinhoof dan Burgess dalam


Suryana (2005:35) menambahkan
bahwa seseorang berwirausaha
dilatarbelakangi oleh:
1. The desire for higher income
yaitu harapan untuk
mendapatkan pendapatan yang
lebih tinggi.
2. The desire for a more
satisfying career
yaitu harapan akan adanya karir
yang memuaskan.
3. The desire to be self directed.
yaitu harapan untuk dapat
mengelola diri sendiri.
4. The desire for prestige that
comes to being a bussines owner
yaitu harapan untuk
mendapatkan status yang
membanggakan karena
memiliki usaha sendiri.
5. The desire to run with new
idea or concept
yaitu harapan untuk dapat
mewujudkan ide-ide dan
konsep-konsep baru.
6. The desire to build long term
wealth
Yaitu harapan untuk
mendapatkan kesejahteraan
dalam jangka panjang.
7. The desire make a contribution
to humanity or to a specific cause
Yaitu harapan untuk dapat
memberikankontribusi bagi
masyarakat.

E. Tujuan Berwirausaha

Tujuan seseorang untuk berwirausaha


antara lain karena memperoleh empat
imbalan. Berikut Imbalan Berwirausaha
(Saiman, 2009:26)

a. Laba
Laba berarti dapat menentukan laba
yang dikehendaki atau keuntungan yang
diterima, serta berapa yang akan
dibayarkan kepada pegawai atau pihak
lain.
b. Kebebasan
Kebebasan yaitu bebas mengatur waktu,
bebas dari supervisi dan intervensi, serta
bebas dari budaya dan organisasi
perusahaan.
c. Impian personal
Impian personal merupakan hak
menentukan visi dan misi sendiri, bebas
mencapai standar hidup yang
diharapkan, lepas dari rutinitas yang
membosankan.
d. Kemandirian
Kemandirian adalah mengatur
segalanya, seperti permodalan,
pengelolaan, pengawasan secara
mandiri atau menjadi manajer bagi
dirinya sendiri.

F. Manfaat Kewirausahaan
Kewirausahaan memiliki 4 manfaat
sosial, yaitu:
1. Memperkuat pertumbuhan ekonomi :
menyediakan pekerjaan baru dalam
ekonomi. Ekonomi saat ini adalah tanah
yang subur bagi wirausahawan misalnya :
permintaan pelayanan sektor jasa meledak

2. Meningkatkan produktivitas : kemampuan


untuk menghasilkan lebih banyak barang
dan jasa.
3. Menciptakan teknologi, produk dan jasa
baru: komputer digital, mesin fotokopi, laser,
power steering.

4. Mengubah dan meremajakan persaingan


pasar : pasar internasionalmenyediakan
peluang kewirausahaan.

G. Unsur-Unsur Kewirausahaan:

Unsur - Unsur kewirausahaan terbagi


menjadi 4 (Wijardi, 1988) yaitu unsur
pengetahuan, keterampilan, sikap mental
dan kewaspadaan.

1. Pengetahuan,
Pengetahuan dibutuhkan oleh para
usahawan/calon - calon usahawan karena
dengan pengetahuan kita akan bisa
memprediksi apa yang sebenarnya
dibutuhkan oleh pasar pada saat ini. Jika kita
membuka sebuah usaha, tanpa tahu apa -
apa yang dibutuhkan oleh pasar atau yang
merupakan trend dari pasar, maka usaha
/bisnis yang kita jalankan akan tertinggal
jauh oleh para pesaing kita.
Seperti layaknya sebuah hutan belantara
dengan mottonya "Siapa yang kuat dialah
yang menang", Pasar juga merupakan ajang
persaingan. Usaha yang tidak didasari oleh
pengetahuan yang cukup, baik pengetahuan
tentang cara menghadapi costumer atau
konsumen, hingga pengetahuan tentang tata
cara mengolah sistem keuangan ditentukan
oleh kemampuan pengetahuan kita.

2. Keterampilan,
keterampilan berasal dari kata terampil yang
artinya cakap dalam menyelesaikan tugas,
mampu dan cekatan. Dengan adanya
keterampilan kita mampu membangun bisnis
kita dengan baik, dan akan dinikmati oleh
banyak konsumen atau penikmat jasa.
Keterampilan bisa kita dapatkan dengan
melakukan ujicoba secara simultan,
praktikum, dan kemudian pengalaman.

3. Sikap Mental
sikap mental disini yaitu bersifat tanggung
jawab, kejujuran, ketegasan, keberanian,
dan inisiatif. Seorang wirausahawan harus
memiliki sikap - sikap tersebut jika ingin
mendapatkan kesuksesan. Seorang
wirausahawan yang tegas, jujur dan memiliki
inisiatif harus dibarengi oleh sikap yang
berani untuk bertanggung jawab. sikap
demikian bisa didapat apabila wirausahawan
mau menerima tugas dan menyelesaikannya
dengan baik, melatih diri menjadi pemimpin,
menolak ketidakjujuran, mengoreksi
kesalahan, melatih diri untuk menegur
kesalahan, memberi penghargaan dan
penghormatan atas kesuksesan orang lain,
kemudian mau mencoba mengemukakan ide
dan kreatifitas serta berani mencoba.
4. Kewaspadaan,
unsur kewaspadaan disini yaitu sikap reflek.
dan untuk melatihnya kita harus
membiasakan untuk tanggap terhadap
lingkungan, terus mencoba untuk
menganalisa pesaing kita, bekerja untuk
hasil yang memuaskan, membuat rencana
untuk setiap kegiatan, kemudian melakukan
evaluasi diri dan evaluasi kerja.

H. Tantangan Berwirausaha
Menurut Zimmerer dan Scarbough (2005)
ada 4 tantangan berwirausaha yaitu:
1. Pendapatan yang tidak menentu,
Seperti yang kita tahu, dalam
berwirausaha pendapatan tidak bisa
dipastikan meskipun pada tahap awal
maupun tahap pertumbuhan.
Terkadang bisa rugi terkadang bisa
untung. Kondisi yang tidak menentu
ini dapat membuat wirausahawan
maju mundur dari berwirausaha.
2. Kerugian akibat hilangnya modal
investasi, Dalam berwirausaha pastinya
kita akan mengeluarkan modal untuk
berinvestasi dan dalam berinvestasi juga
tidak jarang bisa mengalami kerugian.
Kegagalan dalam berwirausaha ini bisa
mengakibatkan seseorang mundur dari
wirausaha.

3. Perlu kerja keras dan waktu yang


lama, Seperti yang kita tahu,
membangun usaha dari awal hingga
berhasil bukan perkara mudah. Waktu
yang lama dan keharusan bekerja keras
dalam berwirausaha dapat berwirausaha
mengakibatkan wirausaha
mengundurkan diri.
4. Kualitas kehidupan yang tetap rendah
meskipun usahanya mantap, Karena
dalam berwirausaha membutuhkan
waktu yang tidak sedikit untuk
merintisnya, seringkali kualitas hidup juga
akan berdampak. Kualitas hidup yang
tidak segera meningkat, akan
mengakibatkan seseorang mundur dari
wirausaha.
2. Gambaran Peluang Usaha di Bidang Gizi

Gambaran peluang usaha dibidang gizi


Dalam ringkasan Riwardoyo pada
tahun 2013 berikut ini disampaikan
bahwa saat ini sebagian besar penduduk
di Indonesia masih terpola pada
kebiasaan untuk mencari kerja (menjadi
pekerja) bukan menciptakan kerja. Tentu
saja persoalan ini akan selalu menjadi
masalah bagi negara. Istilah
nutripreunership mewakili wira usaha di
bidang pngan dan gizi. Bidang gizi dan
pangan termasuk diantaranya kuliner
sangat terbuka untuk mengembangkan
wirausaha menciptakan lapangan
kerja.Bidang gizi klinik dan dietetik mulai
dari penyediaan makanan bayi hingga
lansia, dan makanan orang sakit dengan
segala jenis dietnya. Konseling gizi saat
ini juga sangat dibutuhkan untuk
mengimbangi gaya hidup masyarakat
yang berubah.Food service meliputi
penyelenggaraan makanan banyak
sekarang sangat dibutuhkan, katering
konvensional maupun katering diet
sekarang makin dibutuhkan.Teknologi
pangan pengembangan teknologi
tentang makanan fortifikasi pangan,
pengembangan pangan, penelitian
suplemen makanan.Gizi olahraga juga
sedang menanti konsultan atau
penyelenggara makanan untuk klub klub
kebugaran, klub sepakbola
dll.Kepenulisan di bidang gizi dan
pangan saat ini menunjukkan
peningkatan demand masyarakat akan
hausnya pengetahuan tentang pangan
dan gizi.
Sektor pangan dan gizi yang menjadi
ranah kita telah diakui oleh para pakar
adalah gudangnya peluang wira usaha.
a. Masalah
Mata kuliah wira usaha telah
dimasukkan dalam pendidikan kita baik di
Akademi Gizi, S1 Gizi, atau pendidikan
pangan yang lain. Beberapa instansi
pendidikan juga telah membuat
modifikasi dengan mendatangkan
pengajar-pengajar tamu untuk bidang
wira usaha pangan dan gizi yang saya
selanjutnya menyebut
“NUTRIPREUNERSHIP” ini. Namun
tetap saja menjadi karyawan atau PNS
adalah selalu menjadi dambaan
semuanya, sama juga yang dirasakan
oleh sektor lain di negeri yang subur ini.
Secara keseluruhan masalah yang
menyangkut nutripreunership ini adalah :
1. Rendahnya minat usaha bagi
mahasiswa pangan dan gizi
2. Belum terciptanya jiwa wira usaha
3. Belum ada sosialisasi / panduan
tentang nutripeunership
b. Tujuan
Dengan adanya penyampaian
nutripreunership diharapkan timbul
kesadaran untuk membangun konsep
wira usaha, untuk nantinya disampaikan
kepada seluruh yang berkaitan dengan
pangan dan gizi, baik kepada mahasiswa
yang belum memasuki dunia kerja,
maupun kepada semua fihak untuk
mempunyai kesadaran atau mental wira
usaha, sehingga tujuan yang lebih jauh
untuk meningkatkan derajat masyarakat
Indonesia akan terlaksana.
c. Hasil
Beberapa wirausaha yang bisa
dikembangkan atau telah dikembangkan,
sesuai atau berdasarkan kategori
pedoman yang diterbitkan untuk
pendidikan gizi.
1. Bidang gizi klinik dan dietetika
Dewasa ini sudah banyak
profesi pangan dan gizi (dalam hal ini
ahli gizi) bekerja di rumah sakit.
Hampir semua rumah sakit di
Indonesia dari berbagai kelas telah
mempekerjakan profesi pangan dan
gizi.Dalam riwayat berdirinya Akademi
Gizi pun pekerjaan utama ahli gizi
pada awalnya adalah sebagian
dietisien di rumah sakit. Namun
pengetahuan dan ketrampilan
dietetika tidak akan pernah cukup,
karena ilmu dan teknologi yang
senantiasa berubah dan bertambah.
Semakin banyak tantangan yang
harus dihadapi oleh mereka yang
bekerja sebagai profesi pangan dan
gizi di rumah sakit. Persiapan untuk
bekerja di bidang ini harus dilakukan
sedini mungkin dan peningkatan diri
dalam ilmu-ilmu yang berkaitan
dengan dietetika harus selalu
dilakukan.
Wirausaha yang bisa dikembangkan
di bidang ini adalah :

1. Bidang Jasaboga
Berbagai perubahan dalam
gaya hidup individu di masyarakat,
mengakibatkan makin banyaknya
orang yang tidak dapat berada di
rumah pada waktu jam makan. Hal ini
berdampak pada meningkatnya
usaha jasa boga baik yang melayani
makan karyawan pabrik dan
perkantoran, makan rantang untuk
perumahan baik rantangan diet
ataupun makanan biasa, juga
makanan untuk acara khusus seperti
pesta, selamatan dan darmawisata.
Dalam bidang ini profesi pangan dan
gizi dapat berperan sebagai pemilik,
konsultan ataupun sebagai karyawan
usaha jasa boga. Sebagai pemilik
atau konsultan, seorang profesi
pangan dan gizi telah dibekali
kemampuan manajemen dalam
mengelola suatu usaha secara
mandiri dan juga telah mempunyai
pengetahuan kuliner, gizi dan pangan
yang cukup untuk menangani bidang
jasa boga.
Sebagai karyawan usaha jasa
boga, seorang profesi pangan dan
gizi mempunyai kemampuan untuk
menjadi pengelola/ penyelia dari
kegiatan harian usaha jasa boga,
seperti di bidang perencanaan,
pengadaan, pruduksi, distribusi
ataupun dibidang pengawasan mutu.
Perlu diingat bahwa bagaimanapun
jasaboga adalah usaha komersial
yang mencari keuntungan.Pemilik
senantiasa akan memperhitungkan
keuntungan dan kerugian apabila
mempekerjakan profesi pangan dan
gizi dalam hal ini ahli gizi. Masuknya
profesi ahli gizi dalam bidang ini relatif
masih baru. Oleh karena itu harus
benar-banar mampu menunjukkan
perannya yang spesifik dalam
menunjang kemampuan perusahaan.
Wira usaha yang bisa
dikembangkan di bidang ini
adalah:
a) Katering konvensional
Penyelenggaraan
penyediaan makanan / catering
konvensional sangat tepat
untuk pengembangan wira
usaha saat ini. Catering untuk
kegiatan hajat baik keluarga,
maupun instansi swasta
maupun pemerintah mutlak
diperlukan. Dengan
perencanaan dan perhitungan
yang telah diajarkan di
perguruan tinggi, maka
tentunya akan membuat wira
usaha ini makin professional,
dengan berkolaborasi dengan
tenaga pemasak yang
handal.Sudah banyak contoh
yang bisa dijadikan acuan.
Banyak catering-katering
besar.
b) Katering diet
Sedangkan katering diet
ada dua jenis, yaitu yang
merupakan salah satu
pengembangan dari catering
konvensional, atau merupakan
usaha utama. Intinya di era
yang saat ini catering diet
dengan model pemasaran
yang baik sangat ditunggu dan
dapat menjadi pilihan yang
tepat untuk profesi pangan dan
gizi.
Ahli gizi dapat berperan
sebagai pemilik, konsultan
ataupun sebagai karyawan
usaha jasa boga.
 Sebagai pemilik atau konsultan, seorang ahli
gizi telah dibekali kemampuan manajemen
dalam mengelola suatu usaha secara
mandiri dan juga telah mempunyai
pengetahuan kuliner, gizi dan pangan yang
cukup untuk menangani bidang jasa boga.
 Sebagai karyawan usaha jasa boga,
seorang ahli gizi mempunyai kemampuan
untuk menjadi pengelola/penyelia dari
kegiatan harian usaha jasa boga, seperti di
bidang perencanaan, pengadaan, pruduksi,
distribusi ataupun dibidang pengawasan
mutu.

2. Bidang gizi Olahraga


Dewasa ini olahraga sudah
menjadi bagian dari kehidupan sehari-
hari. Masyarakat mulai sadar untuk
berolahraga sehingga muncul
ungkapan “tiada hari tanpa olahraga”.
Namun demikian banyak orang belum
mengetahui kaitan antara makanan
dan olahraga, bagaimana meraih
prestasi yang baik dengan mengatur
makanan mereka. Masih sangat
jarang profesi pangan dan gizi masuk
dalam suatu tim olahraga. Dalam satu
tim olahraga biasanya terdapat
seorang pelatih, seorang dokter,
seorang ahli pijat,seorang manajer,
dan kadang-kadang juga seorang
psikolog. Mereka jelas sangat
diperlukan untuk keberhasilan
pertandingan, tetapi profesi profesi
pangan dan gizi yang banyak
menentukan hasil pertandingan masih
belum mendapat tempat. Peluang
masih banyak di bidang ini, tetapi
perlu perjuangan.
3. Bidang Makanan Suplemen
Sejak satu dua dekade
menjelang berakhirnya milenium ke
dua telah muncul macam-macam
makanan suplemen (“food
supplement”) dalam berbagai
bentuk.Fenomena ini banyak
menimbulkan berbagai persepsi
masyarakat, apakah mereka juga
membutuhkan suplement semacam
ini, terlebih-lebih dipicu oleh
gencarnya iklan yang menunjukkan
keunggulan tiap produk. Disamping
itu muncul keraguan masyarakat yang
dipengaruhi oleh gaya hidup global
juga makin mengemuka.Keberadaan
suplemen makanan ini dapat kita lihat
di banyak pusat perbelanjaan mewah
atau mal ataupun bersama-sama
dalam satu tempat dengan apotik.
Produk suplemen ini terdapat dalam
bermacam-macam merek yang
dikeluarkan oleh pabrik yang
berlainan. Sebagian besar
diperoduksi di luar negeri, sebagian
kecil di Indonesia. Manfaat produk-
produk ini masih sering diperdebatkan
oleh banyak ahli, termasuk profesi
pangan dan gizi.
Untuk mengantisipasi hal-hal
ini, maka pengalaman, pengetahuan,
dan ketrampilan lulusan Akademi Gizi
akan mampu memberikan
penerangan kepada calon konsumen,
supaya konsumen tidak terjebak
dengan rasa takut kalau tidak
mengkonsumsi suplemen atau takut
akibat buruk kalau mengkonsumsi
dan sebagainya. Disamping itu profesi
pangan dan gizi juga mempunyai
kemampuan untuk bekerja sebagai
“sales representative” bagi produk-
produk ini. Adalah tantangan bagi
profesi pangan dan gizi untuk
merebut pasar bagi pruduk-produk
tertentu dengan kemahiran
berkomunikasi yang efektif tetapi
efisien.

4. Bidang Penanggulangan Masalah


Gizi
Di banyak negara berkembang,
juga di Indonesia, masih terdapat
empat masalah gizi utama yaitu
kurang energi protein (KEP), gondok
endemik, anemia gizi besi, dan
kekurangan vitamin A yang
menghambat program pembangunan
khususnya dalam menuju Indonesia
sehat 2010. Bahkan karena krisis
ekonomi berkepanjangan sejak
pertengahan tahun 1997, beberapa
masalah gizi ini semakin parah.
Dalam bidang ini profesi pangan dan
gizi mempunyai kesempatan yang
terbuka untuk membantu mereka
yang menyandang berbagai kelainan
karena kurang gizi ataupun
mencegah meluasnya masalah gizi.
Departemen Kesehatan
melalui Direktorat Bina Gizi
Masyarakat mempunyai berbagai
program untuk menanggulangi
masalah gizi. Program-program ini
bergulir sampai tingkat
kecamatan/kelurahan. Disamping itu
banyak sektor swasta dan Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) yang
menyelenggarakan program gizi
selaras dengan program yang
diluncurkan oleh Departemen
Kesehatan. Pengetahuan dan
ketrampilan profesi pangan dan gizi
sangat dicari untuk mengoperasikan
program ini, baik sebagai
pencari/pengolah data,
konsultan/penyuluh ataupun tenaga
pelaksana.
5. Bidang Pencegahan Penyakit
Degeneratif
Kemajuan ekonomi yang
berhasil diraih oleh sebagian
masyarakat Indonesia, telah merubah
gaya hidup. Gaya hidup berlebih atau
“affluent” mereka antara lain dengan
pola konsumsi makanan yang
berubah, telah turut mendorong
terjadinya penyakit degeneratif.
Hampir sama dengan masalah
sebelumnya, maka masalah
degeneratif sudah pula merebak di
masyarakat Indonesia. Tingkat
pendapatan sebagian masyarakat
yang meningkat dan banyaknya
tersedia makanan siap saji, telah
memicu mereka untuk merubah gaya
hidup yang disesuaikan dengan
globalisasi.
Dari angka-angka statistik
dapat dilihat bahwa penyakit kencing
manis, penyakit jantung, penyakit hati
yang dulu hanya disandang oleh
orang–orang umur di atas 50 tahun,
dewasa ini sudah diderita oleh
mereka yang berumur jauh lebih
muda. Profesi pangan dan gizi
berperan memberi konsultasi dan
penyuluhan tentang pola makan yang
baik dalam rangka mencegah
ataupun dalam proses penyembuhan
penyakit–penyakitdegeneratif ini.
6. Bidang Bioteknologi Bahan Pangan
Kemajuan teknologi manusia
yang didorong oleh kebutuhan
manusia modern telah menghasilkan
produk-produk transgenik termasuk
produk bahan makanan. Berbagai
silang pendapat masih terjadi apakah
produk-produk ini layak dikonsumsi.
Dunia yang semakin dipadati oleh
bermilyar manusia ini, memaksa para
ahli bioteknologi untuk mencari jalan
keluar dalam upaya mencukupi
kebutuhan pangan. Dalam upaya ini
seringkali suatu rekayasa genetik
untuk meningkatkan hasil pangan
terpaksa dilakukan dan seringkali
tidak memperhitungkan dampak
merugikan bagi organisme lain.
Dewasa ini rekayasa genetik
makanan atau “genetically modified
foods” sudah dilakukan antara lain
terhadap kedele dan beras. Bagi
profesi pangan dan gizi yang tertarik
dalam bidang ini, tentu saja menjadi
awal yang sangat baik untuk terjun ke
dunia rekayasa genetik ini. Anda bisa
menjadi peneliti, atau penyuluh
makanan rekayasa genetika.
7. Bidang Kemungkinan Bekerja di Luar
Negeri
Perjanjian AFTA (Asean Free
Trade Area) yang sudah akan berlaku
pada tahun 2003 mengisyaratkan
adanya kebebasan bagi professional
untuk bekerja di luar negaranya.
Dengan demikian ahli gizi Indonesia
bisa saja bekerja di negara-negara
lain khususnya di kawasan Asean.
Gejala yang mengemuka di
penghujung milenium kedua adalah
dengan banyaknya ahli gizi lulusan
luar negeri yang masuk ke Indonesia.
Mereka adalah lulusan dari Jepang,
Philipina, Negeri Belanda dan
Jerman. Mereka datang ke Indonesia
dan bekerja di bidang gizi klinik dan
dietika. Sebaliknya ahli gizi
Indonesiapun seharusnya dapat
bekerja di luar negeri. Tentu saja
persiapan bahasa asing, khususnya
Inggris harus dilakukan sedini
mungkin, karena tanpa bahasa
internasional yang memadai, cita-cita
ini akan lebih sulit menjadi kenyataan
8. Bidang Kewartawanan Pangan & Gizi
Saat ini kebutuhan masyarakat
akan pengetahuan gizi sangat besar
dan beragam. Hal ini dapat dilihat dari
banyaknya rubrik gizi di berbagai
macam penerbitan, baik itu harian,
tabloid ataupun majalah. Sebagian
masyarakat membutuhkan bacaan
yang bersifat ilmiah, sebagian lagi
membutuhkan bacaan ilmiah populer
dan ada pula yang membutuhkan
bacaan ringan yang berisi pesan-
pesan gizi. Hal ini perlu diantisipasi
dengan baik melalui penulisan-
penulisan yang disesuaikan dengan
kebutuhan sasarannya. Rubrik
olahraga banyak ditulis oleh wartawan
yang tidak banyak mengetahui seluk
beluk gizi.Mereka berkonsultasi
dengan profesi pangan dan gizi
sebelum menurunkan tulisannya.
Seorang profesi pangan dan
gizi telah dibekali ilmu yang cukup
untuk dituangkan dalam bentuk
tulisan, baik tulisan yang sifatnya
ilmiah, ilmiah popular ataupun rubrik-
rubrik singkat. Masalah sekarang
adalah mencari peluang untuk
memperoleh tempat di redaksi suatu
penerbitan, dan ini juga tergantung
pada seberapa jauh tulisan kita enak
dibaca orang. Kalau kedua hal ini
sudah di tangan, maka tinggal kita
menyediakan waktu untuk menulis
secara teratur dengan topic yang
berbeda. Bidang ini masih dapat
dikembangkan dengan membuka
rubrik gizi di radio dan televisi.

9. Bidang Gizi Keluarga


Sejalan dengan tingkat
kemakmuran masyarakat, maka
mereka membutuhkan pelayanan di
semua bidang. Pengalaman selama
ini membutuhkan pelayanan di semua
bidang. Pengalaman selama ini
mengungkapkan bahwa banyak
keluarga kaya yang membutuhkan
seorang profesi pangan dan gizi untuk
dapat bekerja di suatu
keluarga.Keluarga itu membutuhkan
seorang ahli untuk memantau dan
memberi nasehat anggota
keluarganya dalam hal gizi atau
karena adanya suatu penyakit
tertentu.Permintaan sudah ada,
profesi pangan dan gizi belum banyak
memberikan respons yang
menggembirakan mereka.
Banyak profesi pangan dan gizi
tidak tahu atau tidak percaya diri
tentang apa yang harus dikerjakan
ketika harus bekerja dalam satu
keluarga dan harus menasehati dan
memantau makanan
mereka.Kemampuan berkomunikasi
secara persuasif sangat dibutuhkan
dan dengan demikian, profesi pangan
dan gizi akan melihat secara
langsung dampak dari komunikasi gizi
yang diberikannya. Disamping
penguasaan ilmu yang cukup dalam
bidang gizi khususnya dietetika,
semangat untuk menjadi pelopor dan
berkreasi seorang profesi pangan dan
gizi sangat diperlukan dan ditantang
untuk memenuhi kebutuhan ini.

10. Bidang gizi klinik dan dietetika


Dewasa ini sudah banyak
profesi pangan dan gizi (dalam hal ini
ahli gizi) bekerja di rumah sakit.
Hampir semua rumah sakit di
Indonesia dari berbagai kelas telah
mempekerjakan profesi pangan dan
gizi.Dalam riwayat berdirinya Akademi
Gizi pun pekerjaan utama ahli gizi
pada awalnya adalah sebagian
dietisien di rumah sakit. Namun
pengetahuan dan ketrampilan
dietetika tidak akan pernah cukup,
karena ilmu dan teknologi yang
senantiasa berubah dan bertambah.
Semakin banyak tantangan yang
harus dihadapi oleh mereka yang
bekerja sebagai profesi pangan dan
gizi di rumah sakit. Persiapan untuk
bekerja di bidang ini harus dilakukan
sedini mungkin dan peningkatan diri
dalam ilmu-ilmu yang berkaitan
dengan dietetika harus selalu
dilakukan.
Wirausaha yang bisa dikembangkan
di bidang ini adalah :
a) Klinik konsultasi gizi
Perubahan gaya hidup
masyarakat Indonesia, dan tentu saja
diikuti dengan meningkatnya penyakit
degeneratif, menuntut masyarakat
untuk melakukan tindakan preventif
dengan lebih mengetahui tentang
makanan sehat, juga kuratif dengan
melakukan diet untuk menyembuhkan
nya dengan mengubah pola makan.Di
sisi lain profesionalisme di kalangan
medis akhirnya melakukan tindakan
secara paripurna dengan melakukan
edukasi tentang hal di atas dengan
mengkonsulkan hal-hal yang
berkaitan dengan diet / makanan
kepada profesi pangan dan gizi. Dan
yang dituju adalah Klinik Konsultasi
Gizi.
Rumah sakit-rumah sakit swasta
dan klinik-klinik telah menjadi acuan
dalam pengembangan wira usaha di
bidang ini.
a. Home care konsultasi gizi
Masih merupakan
lanjutan dari point a), bahwa
beberapa strata
masyarakat high class telah
terbiasa dengan home base
system. Mulai dari home
schooling dll. Demikian juga
dengan prifate medical
therapi, nurse home
care, dan harus dikambangkan
lagi adalah nutrition/diet home
care.Ini bisa merupakan
service tambahan dari klinik
konsultasi di poin a, atau juga
merupakan core bisnis nya.
Daftar Pustaka

Agustina, Tri Siwi. 2015. Kewirausahaan, Teori dan


Penerapan pada Wirausaha dan UKM di Indonesia.
Mitra Wacana Media:Jakarta.

Ansyari, Isya. 2013. Konsep Dasar Kewirausaaan.


Diakses melalui https://learnmine.blogspot.com.
Pada tanggal 6 Agustus 2019.

Rye, E David. 1996. Tools for Executives:


Wirausahawan. Prenhallindo: Jakarta.

Dun Steinhoff, John F. Burgess. (1993). Small


Business Management Fundamentals 6th ed. New
York: Mcgraw Hill, Inc.

Ichyaudin, Zuhad, MBA. dan Amperaningrum, SE,


MM 2009. Hakekat Kewirausahaan, diakses melalui
http://adesyams.blogspot.com. Diakses pada
tanggal 6 Agustus 2019.

lampiran Keputusan Menteri Koperasi dan


Pembinaan Pengusahan Kecil Nomor
961/KEP/M/XI/1995,

Saiman, Leonardus. 2009. Kewirausahaan: Teori,


Praktik dan Kasus-Kasus. Salemba Empat:Jakarta.

Suryana. 2003. Kewirausahaan. Edisi Kedua.


Penerbit Erlangga:Jakarta.

Wijardi, 1988. Unsur-Unsur Kewirausahaan.


Diakses melalui http://yusufratna.blogspot.com/.
Diakses melalui 5 Agustus 2019.
Pertanyaan multiple choice tentang konsep dasar
kewirausahaan.

1. Suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang


nilai, kemampuan (ability), dan perilaku
seseorang dalam menghadapi tantangan
hidup untuk memperoleh peluang dengan
berbagai risiko yang mungkin dihadapinya,
merupakan definisi ilmu..
a. Usaha
b. Berwirausaha
c. Wirausahawan
d. Kewirausahaan
e. Wirausahawati
2. Sebelum kita memutuskan untuk
berwirausaha, tentunya kita harus
mengetahui tujuan dalam berwirausaha.
Berikut yang bukan merupakan tujuan
wirausaha adalah…
a. Untuk memperoleh Kemandirian
b. Untuk mendapatkan laba
c. Untuk memperoleh kekebasan dalam
usaha
d. Untuk mewujudkan impian secara
personal
e. Untuk kaya raya
3. Dalam wirausaha tentunya ada unsur-unsur
wirausa, berikut merupakan unsur-unsur
dalam wirausaha menurut Wijardi (1988)
adalah kecuali…
a. Sikap mental
b. Pengetahuan
c. Keterampilan
d. Ketelitian
e. Kewaspadaan
4. Tantangan-tantangan dalam berwirausaha
merupakan suatu yang harus dapat kita
hadapi dalam berwirausaha, salah satu
tantangan berwirausa Zimmerer dan
Scarbough (2005) yaitu…
a. Kekuatan pesaing sangat kuat
b. Pendapatan yang tidak menentu
c. Mencari modal yang susah
d. Sulit menemukan tenaga ahli
e. Tidak pandai memanfaatkan peluang.
5. Sebuah majalah membuat rubik tentang gizi
sebagai kebutuhan masyarakat akan
pengetahuan gizi adalah salah satu bentuk
wirausaha gizi pada bidang...
a. Bidang gizi klinik dan dietetika
b. Bidang gizi Olahraga
c. Bidang Kewartawanan Pangan & Gizi
d. Bidang Gizi Keluarga
e. Bidang Penanggulangan Masalah Gizi
6. Ibu Rima memiliki sebuah catering yang
khusus melayani menu diet tertentu. Ia biasa
menangani klien yang ingin mengatur berat
badan atau diet untuk penyakit yang lain.
Catering yang dijalani ibu ani merupakan
usaha gizi dibidang….
a. Gizi klinik
b. Jasa boga
c. Olahraga
d. Kewartawanan pangan dan gizi
e. Penanggulangan masalah gizi
7. Seorang lulusan Akademi Gizi memberikan
penerangan kepada calon konsumen,
supaya konsumen tidak terjebak dengan
rasa takut kalau tidak mengkonsumsi
suplemen atau takut akibat buruk kalau
mengkonsumsi dan sebagainya. Termasuk
jenis wirausaha bidang apapkah seorang
ahli gizi tersebut?
a. Gizi Klinik
b. Gizi Olahraga
c. Gizi Makanan dan Suplemen
d. Gizi Penyakit Degeneratif
e. Gizi Keluarga