Anda di halaman 1dari 10

Hidayat, Sistem Dinamik Spasial Untuk Meningkatkan Efektifitas Dan Efisiensi Logistik Pada Rantai Pasok Pangan 43

Sistem Dinamik Spasial Untuk Meningkatkan Efektifitas Dan Efisiensi


Logistik Pada Rantai Pasok Pangan
Syaiful Hidayat1, Erma Suryani2, Rully Agus Hendrawan3
1,2,3
Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
E-mail : 1syaifulits@gmail.com, 2erma.suryani@gmail.com, 3ruhendrawan@gmail.com

Abstract Food security is a cross-cutting issue which has become a national issue as the impact
of food insecurity in several regions in Indonesia. Food Logistics Systems focuses on
determining the location of the farm, to delivery points and distribution centers of commodities
that can improve system performance food logistics. In this case some of the factors considered,
commodities, the offender and logistics service provider, Transportation, policies and
regulations and food logistics. The integration of SD and GIS (SDS) involved in producing the
model output as input for policy formulation in order to improve the effectiveness and efficiency
of logistics in the food supply chain. The results of the dynamic system model scenario will be
visualized using GIS as a basis for decision-making related to increasing the effectiveness and
efficiency of logistics in the food supply chain, so as to enhance the competitiveness and
sustainability of food logistics in the future.

Keyword : System Dynamic, Logistics cost

Abstrak Ketahanan pangan merupakan isu lintas sektor yang telah menjadi isu nasional sebagai
dampak kerawanan pangan di beberapa daerah di Indonesia. Sistem Logistik Pangan berfokus
pada penentuan lokasi pertanian, titik-titik pengiriman dan pusat-pusat distribusi komoditas
yang bisa meningkatkan kinerja sistem logistik pangan. Dalam hal ini beberapa faktor yang
dipertimbangkan yaitu komoditas, pelaku dan penyedia layanan logistik, Transportasi dan
regulasi dan kebijakan logistik pangan. Integrasi SD dan SIG (SDS) berperan dalam
menghasilkan luaran model sebagai inputan untuk formulasi kebijakan dalam rangka
meningkatkan efektifitas dan efisiensi logistik pada rantai pasok pangan. Hasil yang didapat dari
scenario model system dinamik akan divisualisasikan menggunakan SIG sebagai dasar dalam
pengambilan keputusan terkait peningkatan efektifitas dan efisiensi logistik pada rantai pasok
pangan, sehingga dapat meningkatkan daya saing serta keberlanjutan logistik pangan dimasa
mendatang.

Kata kunci :Sistem Dinamik, Biaya Logistik


44 Integer Journal, Vol 1, No 2, September 2016: 43-52

1. Pendahuluan
Di seluruh dunia, jarak dan jumlah pengiriman pangan telah meningkat yang disebabkan
peningkatan perdagangan pangan internasional (Ljungberg, Gebresenbet, Kihlström, & Oritz,
2006). Penggabungan antara perkembangan kemajuan teknologi dan pangan diharapkan bisa
menghasilkan inovasi baru. Sistem Informasi Geografi (SIG) memungkinkan untuk menyusun
dan menganalisis informasi.
Rantai pasok pangan telah menerima banyak perhatian, dalam hal ini adalah Rantai pasok Beras
dan Gula yang merupakan bagian dari komoditas strategis di Jawa Timur. Faktor utamanya
adalah meningkatnya biaya logistik dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang produksi,
pemrosesan dan transportasi pangan berkelanjutan. Serta rendahnya kualitas pelayanan Logistik
yang ditandai dengan masih rendahnya tingkat penyediaan infrastruktur baik kuantitas maupun
kualitas, masih adanya pungutan tidak resmi dan biaya transaksi yang menyebabkan biaya
tinggi, masih terbatasnya kapasitas dan jaringan pelayanan penyedia jasa logistik, masih
terjadinya kelangkaan stok dan fluktuasi harga kebutuhan bahan pokok masyarakat terutama
pada hari-hari besar nasional dan keagamaan serta masih tingginya disparitas harga pada daerah
perbatasan, terpencil dan terluar.
Manajemen Logistik Rantai Pasok Pangan dapat mengintegrasikan kegiatan logistik
produsen, distributor dan konsumen yang memungkinkan produsen pangan lokal untuk menjadi
berdaya saing di pasar (Gimenez, 2006) untuk peningkatan pemenuhan permintaan produk
pangan, dan meningkatkan keberlanjutan sistem pangan local (Zarei, Fakhrzad, & Paghaleh,
2011).
Biaya transportasi darat merupakan komponen terbesar biaya logistik di Indonesia yaitu
66,8%, sisanya adalah biaya administrasi dan biaya persediaan serta ditambah lagi dengan biaya
bongkar muat, parkir, hingga pungutan liar (Wirabrata, 2013).
Secara umum, beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi logistik pangan adalah
distribusi, transportasi dan dampak lingkungan yang terkait, biaya logistik, dan kesadaran
masyarakat tentang peningkatan produksi pangan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan
untuk Mengembangkan model sistem logistik pangan ke dalam sistem distribusi pangan skala
regional, Mengurangi biaya logistic, Meningkatkan daya saing harga pangan, meningingkatkan
keberlanjutan logistik pangan.

2. Tinjauan Pustaka
2.1 Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan merupakan kemampuan suatu negara untuk menghasilkan pangan
yang cukup untuk memberi makan penduduknya (Allen & Patricia, 1999). Ketahanan pangan
yang melibatkan domain saling berhubungan dengan pertanyaan pertanian, masyarakat,
lingkungan, pekerjaan dan pendapatan, pemasaran, kesehatan dan gizi, dan kebijakan public
(Pottier, 1999). Ada dua komponen kunci untuk ketahanan pangan : produksi atau ketersediaan
pangan yang aman dan cukup, dan akses atau kapasitas untuk memperoleh pangan yang cukup
dan memadai.

2.2 Produksi dan distribusi beras di Indonesia


Pada tahun 2015 Produksi beras Nasional sebesar 75,397,841 ton dimana Jawa Timur
memproduksi sebesar 13,154,967 ton beras dengan luas tanah 2,152,070 ha. Hasil panen petani
dalam bentuk gabah kering panen (GKP) sekitar 25% sebagian besar dijual kepada Pedagang
Pengumpul Desa, dan sebagian lainnya ke Pedagang Pengumpul Lintas Desa dan Penggilingan
Padi. Proses pengeringan GKP menjadi Gabah Kering Giling (GKG) pada umumnya dilakukan
oleh Penggilingan Padi karena mempunyai lantai jemur yang cukup luas dan gudang
penyimpanan gabah yang cukup besar. Beras dari Penggilingan Beras juga dijual kepada
BULOG dalam rangka program pengadaan beras nasional dan stabilisasi harga petani. Grosir
Beras kemudian menjual kepada Super Market dan Pengecer Beras, yang keduanya kemudian
menjual berasnya ke Konsumen Akhir. BULOG menyimpan beras hasil pembelian dari
Penggiingan Padi dan Impor (utamanya Raskin) sebagai Cadangan Beras Nasional (CBN), baik
Hidayat, Sistem Dinamik Spasial Untuk Meningkatkan Efektifitas Dan Efisiensi Logistik Pada Rantai Pasok Pangan 45

untuk stabilisasi harga beras di tingkat konsumen maupun untuk bantuan Raskin (PERTANIAN,
2013).

2.3 Produksi dan distribusi gula di indonesia


Alur pengolahan tebu dimulai dari lahan tebu, kemudian setelah ditebang, batang tebu
akan dikirim ke pabrik untuk dilakukan proses pengolahan menjadi gula kristal putih, setelah
pemrosesan selesai maka gula putih hasil pemrosesan akan disimpan sementara di gudang
pabrik. Tebu yang diproduksi oleh petani di daerah sentra produksi (Jawa, Lampung, Sulsel, dll)
digiling oleh pabrik gula milik negara (PTPN) dengan sistem bagi hasil. Setelah penggilingan
selesai, petani memperoleh gula bagiannya, yang disimpan di gudang pabrik gula
penggilingnya. Setelah akumulasi jumlahnya cukup, gula tersebut kemudian dilelang. Peserta
lelang adalah pedagang besar dan kuat yang jumlahnya tidak banyak (sekitar 5 orang) yang
disebut sebagai “Samurai”. Harga lelang tidak boleh lebih rendah dari HP (harga patokan) yang
ditetapkan pemerintah setiap tahunnya berdasarkan BPP (biaya pokok produksi per kg GKP)
dan pertimbangan aspek-aspek lainnya.
Pedagang yang menang lelang, tetap menyimpan gulanya di gudang milik PTPN dan baru
dikeluarkan setelah ada pembelinya. Para pembeli gula milik Samurai adalah Distributor
Tingkat 1 (D1). D1 kemudian menjual gulanya kepada Ditributor Tingkat 2 (D2) dan industri
makanan/minuman berskala besar. Selanjutnya, D2 menjual gulanya kepada Distributor Tingkat
3 (D3) dan Pengecer Besar (pasar swalayan). D3 kemduian menjual gulanya ke Pengecer Kecil
(kios) dan industri makanan/minuman kecil (industri rumah tangga), baru kemudian ke
konsumen (PERTANIAN, 2013).

2.4 Manajemen Logistik


Logistik adalah bagian dari rantai pasok (supply chain) yang menangani arus barang, arus
informasi dan arus uang melalui proses pengadaan (procurement), penyimpanan (warehousing),
transportasi (transportation), distribusi (distribution), dan pelayanan pengantaran (delivery
service) sesuai dengan jenis, kwalitas, jumlah, waktu dan tempat yang dikehendaki konsumen,
secara aman, efektif dan efisien, melalui titik asal (poin of origin) sampai titik tujuan (point of
destination) (Indonesia, 2012). Aktivitas pokok logistik meliputi pengadaan, produksi,
pergudangan, distribusi, transportasi, dan pengantaran barang yang dilakukan oleh setiap pelaku
bisnis dan industri baik pada sector primer, sekunder maupun tersier dalam rangka menunjang
kegiatan operasionalnya.

Empat dari enam kunci penggerak utama logistik (Indonesia, 2012) :


1. Komoditas
komoditas sebagai penggerak utama (key commodity factor) yakni penggerak aktivitas
logistik yang terkoordinasi secara efektif, dalam hal ini fokus komoditas yang ditetapkan
adalah bahan pokok diantaranya yaitu beras dan gula
2. Infrastruktur Transportasi
Infrastruktur transportasi berperan memperlancar pergerakan arus barang secara efektif dan
efisien.
3. Pelaku Dan Penyedia Jasa Logistik
Pelaku Logistik (PL) merupakan pemilik dan penyedia barang yang dibutuhkan konsumen,
yang terdiri atas : Produsen dan Penyalur
Penyedia Jasa Logistik (Logistics Service Provider) merupakan institusi penyedia jasa
pengiriman barang (transporter, freight forwarder, shipping liner, EMKL, dsb) dari tempat
asal barang (shipper) ke tempat tujuannya (consignee), dan jasa penyimpanan barang
(pergudangan, fumigasi, dan sebagainya).
4. Regulasi Dan Kebijakan
Pemerintah merupakan (a) regulator yang menyiapkan peraturan perundangan dan kebijakan,
(b) fasilitator yang meyediakan dan membangun infrastruktur logistik yang diperlukan untuk
terlaksananya proses logistik, dan (c) integrator yang mengkoordinasikan dan
46 Integer Journal, Vol 1, No 2, September 2016: 43-52

mensinkronkan aktivitas logistik sesuai dengan visi yang ingin dicapai, dan pemberdayaan
baik kepada pelaku logistik, penyedia jasa logistik maupun pendukung logistik.

2.4 Rantai Pasok Pangan Lokal


Pangan lokal dikaitkan dengan kedekatan pertanian (tempat produksi) kepada konsumen
(Zajfen, 2010). Dalam kasus rantai pasok pangan lokal, dapat didistribusikan oleh mitra
perantara atau langsung dari produsen ke konsumen

2.5 Sistem Informasi Geografis (SIG)


Menurut Environmental Systems Research Institute (ESRI, 2009), "Sistem Informasi
Geografis (SIG) mengintegrasikan perangkat keras, perangkat lunak, dan data untuk
menangkap, mengelola, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi yang berbasis
spasial (ESRI, 2009).

2.6 Model
Model adalah penyederhanaan dari sesuatu.Istilah lainya disebut tiruan model dunia nyata
yang dibuat secara virtual (System Dynamics Society, 2009). Karena bentuk tiruan model tidak
harus sama persis dengan aslinya, tetapi minimal memiliki keserupaan. Model adalah
representasi dari sistem yang menyerupai, namun lebih sederhana. Tujuan dari dibuatkannya
model adalah untuk memungkinkan para analis memprediksi dampak dari perubahan system
(Sterman, 2000).

2.7 Pemodelan Simulasi


Pemodelan adalan sebuah cara untuk menyelesaikan masalah yang terjadi didunia nyata.
Pemodelan dilakukan jika implementasi langsung atau ekperimen terlalu mahal untuk dilakukan
atau sulit dilakukan. Pemodelan memungkinkan sistem dioptimalkan sebelum
diimplementasikan di dunia nyata. Pemodelan meliputi proses pemetaan masalah dari dunia
nyata untuk dimodelkan dalam dunia model (proses abstraksi) untuk kemudian dianalisa dan
dioptimalkan sehingga didapat solusi yang dapat diimplemetasikan didunia nyata (Sterman,
2000).
Simulasi adalah operasi dari model suatu sistem. Simulasi digunakan sebelum mengubah
sesuatu terhadap sistem yang telah ada, untuk mengurangi dampak kegagalan, untuk
mengeliminasi kemacetan yang tak terduga, untuk mencegah penggunaan sumber daya yang
berlebihan, dan untuk mengoptimalkan kinerja system (Forrester, 1971).

2.8 Sistem Dinamik (SD)


Simulasi Sistem Dinamik merupakan simulasi kontinyu yang dikembangkan oleh Jay
Forrest (MIT) tahun 1960-an, berfokus pada struktur dan prilaku sistem. Sistem Dinamik (SD)
berasal dari Forrester’s World Dynamics (Forrester, 1971).
System Dynamics Society menawarkan update definisi dengan menyatakan bahwa SD
adalah "metodologi untuk mempelajari dan mengelola sistem umpan balik yang kompleks"
(System Dynamics Society, 2009).

3. Metode Penelitian
Kerangka penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan :
Hidayat, Sistem Dinamik Spasial Untuk Meningkatkan Efektifitas Dan Efisiensi Logistik Pada Rantai Pasok Pangan 47

Definisi Masalah Dan Ruang Lingkup Penelitian

Pengumpulan Data

Sistem Informasi Geografi (SIG)

Pengembangan Model Spasial Sistem Dinamik

Skenario

Gambar 1. Metodologi Penelitian

Berikut penjelasan dari tahapan metodologi penelitian :


1) Definisi Masalah dan Ruang Lingkup Penelitian
Dalam tahap ini, kami belajar tentang sistem logistik pangan dan mencirikan perilaku
sistem. Kami berencana untuk memanfaatkan Jawa Timur sebagai studi kasus.
2) Pengumpulan Data
Wawancara, observasi fisik, pertemuan untuk diskusi dan survei berbasis internet akan
digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi terkait.
3) Sistem Informasi Geografis (SIG)
SIG akan digunakan untuk merekam lintang dan bujur dari lokasi pertanian yaitu tempat
di mana kendaraan mulai muat, Pusat Distribusi yaitu tempat dimana kendaraan bongkar
bahan baku dan muat barang jadi, Titik pengiriman yaitu tempat dimana kendaraan
bongkar barang jadi
4) Pengembangan Model Sistem Dinamik Spasial
Model sistem dinamik dibangun untuk menunjukkan kondisi yang ada terkait pasokan,
permintaan, distribusi beras dan gula dengan mempertimbangkan faktor-faktor ekternal
seperti perubahan regional untuk menguji sistem logistik.
5) Skenario
Dalam rangka menfasilitasi koordinasi dan integrasi proses pengiriman pangan, skenario
yang berbeda akan ditetapkan

4. Hasil dan Pembahasan


4.1 Diagram Kausatik
Awal dari pengembangan model ini adalah dengan melalui diagram kausatik atau yang
biasa disebut causal loop diagram. Hasil pemodelan diagram kausatik pada ketersediaan
beras dan gula untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi logistic pada rantai pasok
pangan di Jawa Timur, dapat dilihat pada Gambar 2.
48 Integer Journal, Vol 1, No 2, September 2016: 43-52

Biaya proses gula

Profit margin gula


+ -
Dampak Inflasi
+ gula
Biaya marketing <Bibit tebu lahan
+ gula +Harga gula +
tebu>
konsumen +
+ Biaya produksi <Pupuk lahan
+ tebu +
+ logistik gula
Biaya + tebu>
Jarak pengiriman
+
Gula Distribusi ke Biaya pekerja tebu
Biaya lain-lain gula + ++ + +
+ distributor gula
Biaya pestisida
Biaya +
+ lahan tebu
transportasi gula
Distribusi
+ Impor gula gula ke
- retail gula
Distribusi gula ke
+ pabrik gula +
+
+ Pemenuhan
Biaya Persediaan gula
administrasi gula permintaan gula
+ +
Biaya kemasan gula +
+ + Konsumsi gula per
Biaya penangan persediaan gula Produksi Gula Permintaan
+ Gula +
Lahan tebu untuk + + + kapita
pembangunan perumahan Biaya pergudangan gula +
Curah hujan Rendemen
- tebu
+
Tingkat conversi
+ lahan tebu + Nira Tingkat kelahiran
Lahan tebu untuk Produksi Tebu +
industri + lahan tebu - +
Hama lahan tebu -
+ +
+ +
Kelembaban Produktivitas
Lahan tebu untuk +
lahan tebu Bibit tebu lahan Tingkat kesuburan
fasilitas lain Luas lahan tebu lahan tebu + + + + +
+ + tebu
Suhu lahan tebu
Tingkat Pembukaan- Populasi
Pupuk Ketinggian permuk -
lahan baru tebu lahan tebu Irigasi lahan tebu aan laut lahan tebu
Harga GKP petani
+
Dampak Inflasi + Angka kematian
Profit margin beras beras + Harga beras di
konsumen <Biaya produ +
Biaya proses beras Biaya marketing ksi padi> Rata-rata usia
Biaya lain-lain beras Persediaan beras Konsumsi beras
Biaya Logistik + per kapita
+ Biaya Kemasan Beras +
Beras +
+ +
+ + + Biaya Pergudangan -
Permintaan +
Beras
Beras + - - - Distribusi ke
Biaya Administrasi beras + Produksi Beras+ pengecer
+ Biaya Penanganan -
persediaan beras + Rasio pemenuhan Distribusi ke +
beras -
Impor Beras RTS
Distribusi Distribusi ke
Jarak pengiriman + Biaya Transportasi beras beras +
+ Agen
Beras + +
Rendemen +
Pupuk lahan padi
Teknologi
beras + Distribusi beras ke
+ pemrosesan beras BULOG
+ + +
+ Penanganan
Hara laha Sistem tanam + setelah +
jajar legowo Distribusi ke Distribusi ke
n padi panen padi Distribusi ke + distributor
Produksi padi pasar
+
Biaya kerja Kwalitas bibit + Operasi pasar
lahan padi +
+
Luas panen padi
Biaya produksi Ketersediaan Lahan padi untuk
irigasi lahan padi + + Pembangunan Perumahan
padi
Intensitas panen
+ + + +
+
Luas lahan padi Tingkat conversi +
+ Lahan padi untuk
Pengendali hama Produktivitas + lahan +
Curah hujan + + Industri
lahan padi +
+ + lahan padi Tingkat Pembukaan Lahan padi untuk
+Dampak hama lahan baru Fasilitas lain
dan penyakit Suhu laha
lahan padi n padi

Gambar 2. CLD Persediaan Beras dan Gula

4.2 Diagram Flow


Diagram flow dari ketersediaan beras dan gula untuk meningkatkan efektivitas dan
efisiensi manajemen rantai pasok di Jawa Timur ini, dibuat untuk menggambarkan
bagaimana jumlah produksi beras dan gula dapat memenuhi permintaan konsumen.
sugar industry
rate of sugar east java
Fertility Rate east Mortality Rate
industry east java java east java

Sugar Rice
Sugar Consumption Rice Consumption per
demand Population deaths Rate east demand
per Capita east java Capita east java
east java births Rate east java java east java
east java

Gambar 3. Sub Model Populasi dan permintaan beras dan gula


Hidayat, Sistem Dinamik Spasial Untuk Meningkatkan Efektifitas Dan Efisiensi Logistik Pada Rantai Pasok Pangan 49

<Average Rice <Rice other costs


Paddy milling cost <Rice Transportation
Unit/Cost (Rp/Kg)> from farmer> <Rice handling inv
Rice other costs costs from retail>
from milling entory from retail>
Rice profit from Rice profit from <Rice administration
milling Farmer costs from farmer>
<Time> <Rice administration
costs from Retail>
Rice other costs
from farmer <Rice transportation
purchase price at
Rice handling costs from farmer>
distributor
inventory from milling Rice price at Rice price a Logistic Cost
t farm level Rice administration Logistic Cost <Rice packaging
milling level s from Retail
costs from farmer s from farm from retail>
<Rice handling inve
Rice packaging <Rice other costs
Costs from milling <Time> ntory from farmer>
Rice administration from retail>
Rice transportation
costs from milling Rice packaging Costs costs from farmer
from farmer <rice price at
<Rice packaging consumen>
Rice Transportation Rice handling
purchase price at Costs from farmer> Rice Logistic
costs from milling inventory from farmer
wholesalers Distances 1 <Time> Cost with
Distances 2
PDB
Total Rice
Rice profit from Rice other costs Rice profit from <Rice Fulfillment> Logistic Costs
Wholesalers from retail retail
Rice other costs from
<Rice other costs
wholesalers
from milling> <Rice administration
costs from Wholesalers>
Rice price at purchase price at Rice price at rice price at <Rice handling inventory Logistic Costs
<Rice administration
<Time> Wholesalers retail retail level consumen from milling> from
costs from milling>
level Logistic Wholesalers <Rice packaging Costs
Costs from <Rice Storage costs
from Wholesalers>
Rice Storage costs penggilingan from Wholesalers>
from Wholesalers <Time> <Rice packaging Costs
Rice handling
from milling> <Rice handling inventory
inventory from retail
Rice packaging from wholesalers>
Rice handling inventory
from retail Inflasi for Rice
from wholesalers Rice packaging Costs
<Rice Transportation <Rice Transportation costs
from Wholesalers Rice Transportation
costs from milling> from Wholesalers> <Rice other costs from
Rice Transportation costs from retail Rice administration
costs from Wholesalers costs from Retail wholesalers>
<Time>
Rice administration
costs from Wholesalers
Distances 3
Distances 4

Gambar 4. Sub Model Harga dan Biaya logistik beras

<Sugar Transportation
<Sugar administrative from in retail>
Outher Cost from Sugar profit from costs from farmer> <Sugar transportation
Distributor 1 Outher Cost from Samurai costs from farmer> <Sugar packaging
Sugar profit from Samurai Sugar transportation <Sugar Administrative Costs from Retail>
Distributor 1 Distance 1 costs from farmer <Outher Cost from costs from retail>
farmer>

Sugar handling cost


from Distributor 1 Sugar administrative Logistic <Sugar handling cost
costs from farmer <Sugar packaging
Costs farm Logistic from retail>
Costs from farmer>
Costs Retail
sugar purchase price Samurai sugar purchase price Sugar
Sugar Storage costs Outher Cost from
at distributor 1 at Samurai price at
from Distributor 1 Distributor farmer <Sugar Handling <Outher Cost
<Time> farm level Costs from farmer>
1 level from retail>
<Time>

Sugar packaging <Sugar price at


Costs from farmer consumen>
Sugar administrative Sugar Handling Costs <Time> <Sugar administrative
Sugar Administrative costs from Samurai costs from Samurai>
costs from Distributor 1 from farmer Logistic Cost
Distance 2
sugar purchase price s Samurai Total Sugar Logistic Costs Sugar Logistic
Sugar profit from Cost with PDB
at distributor 2 <Average Sugar farmer
Sugar Transportation Unit/Cost (Rp/Kg)> <Sugar Administrative
<Outher Cost from costs from retail>
costs from Distributor 1
Samurai>
<Time>
Sugar profit from <Sugar
Sugar profit from retail Fulfillment> Logistic <Sugar Transportation
Outher Cost from Costs costs from Distributor 3>
Distributor 3 <Outher Cost from
Outher Cost from retail Distributor 1> Distributor 1
Distributor 3 <Time>
Sugar profit from
Outher Cost from Distributor 2 <Sugar handling cost
Logistic Costs <Sugar packaging Costs
Distributor 2 from Distributor 1>
Distributor 3 from Distributor 3>
Sugar
sugar purchase Sugar price price at
sugar purchase price Sugar price price at retail at retail level <Sugar Storage costs
Sugar price at consumen from Distributor 1> <Outher Cost from
at Distributor 3 at Distribut
Sugar handling cost Distributor 2 Distributor 2>
or 3 level Logistic <Sugar handling cost
from Distributor 2 level Sugar Administrative <Sugar Transportation Costs from Distributor 3>
costs from retail costs from Distributor 1> <Sugar handling cost Distributor 2 <Outher Cost from
Sugar Storage costs Sugar Administrative from Distributor 2> Distributor 3>
from Distributor 3 costs from Distributor 3 Inflasi for Sugar
Sugar Storage costs
from Distributor 2 <Sugar Administrative <Sugar Storage costs
Sugar handling cost Sugar Transportation costs from Distributor 1> from Distributor 3>
from Distributor 3 from in retail <Sugar Administrative
Sugar Transportation <Sugar Storage costs costs from Distributor 2>
<Time> costs from Distributor 3 Sugar handling cost
<Time> from Distributor 2>
Sugar packaging Costs from retail Sugar packaging
Sugar Administrative from Distributor 3 <Time> <Sugar Transportation
Costs from Retail
costs from Distributor 2 costs from Distributor 2>

Distance 5
Sugar Transportation Distance 4
costs from Distributor 2

Distance 3

Gambar 5. Sub Model Harga dan Biaya logistik gula

4.3 Verifikasi dan Validasi


4.3.1 Verifikasi
Tahapan ini digunakan untuk memastikan apakah model yang telah dibuat sudah
merepresentasikan konsep secara tepat atau tidak antara model dengan kondisi terkini.
Dengan menggunakan Vensim (Ventana Simulation) untuk menampilkan hasil simulasi.
Ketika vensim tidak menampilkan pesan error maka model tersebut dikatan verified
(bebas error).
4.3.2 Validasi
Untuk dapat memastikan bahwa model sudah sesuai dengan kondisi saat ini, maka
dilakukan validasi seperti pada Tabel 4. Dari tabel tersebut ditampilkan bahwa model
dikatakan valid apabila mean comparison < 5% dan error variance < 30%.

4.4 Skenario
Skenario yang dibuat bertujuan untuk meningkatkan produksi beras dan gula sehingga
rasio pemenuhan dapat meningkat serta meminimalisir biaya logistik dengan
mengefisiensikan rantai distribusi beras dan gula.
Skenario 1 : Pengurangan Jarak Distribusi beras
Skenario 2 : Pengurangan Jarak Distribusi gula.
Skenario 3 : Pengurangan pelaku distribusi untuk mengurangi biaya logistik Beras.
Skenario 4 : Pengurangan pelaku distribusi untuk mengurangi biaya logistik Gula.
50 Integer Journal, Vol 1, No 2, September 2016: 43-52

Paddy milling cost


<Rice other costs <Rice Transportation
Rice other costs from SCN 3 from farmer> <Rice handling
costs from retail SCN 3>
milling SCN 3 <Average Rice inventory from retail>
Rice profit from Unit/Cost (Rp/Kg)> Rice profit from <Rice administration
milling SCN 3 Farmer SCN 3 costs from farmer> <Rice administration
<Time>
costs from Retail>

Rice handling inventory purchase price at <Rice transportation costs


distributor SCN 3 Rice other costs from from farmer SCN 3>
from milling SCN 3 farmer SCN 3 Logistic
Rice price at Logistic <Rice packaging
Costs from
milling level Rice price a Costs from from retail>
Retail SCN 3
SCN 3 Rice administration costs t farm level farm SCN 3
<Rice handling
from milling SCN 3 SCN 3 <Rice other costs
inventory from farmer>
Rice packaging Costs Rice administration costs from retail>
from milling SCN 3 from farmer SCN 3

Rice Transportation <Time> <Rice packaging


Costs from farmer>
costs from milling SCN 3 Rice packaging Costs <Time>
from farmer SCN 3 Rice transportation costs
purchase price at Total Rice
wholesalers SCN 3 Distances 2 Rice handling inventory from farmer SCN 3 Logistic Costs
SCN 3 from farmer SCN 3 Distances 1 SCN 3 Rice Logistic <rice price at
SCN 3 <Rice other costs Cost with consumen>
from milling> PDB SCN 3
Rice other costs from
retail SCN 3 Rice profit from <Rice Fulfillment>
retail SCN 3 <Rice handling
<Rice administration
inventory from milling>
Logistic costs from milling>
Costs from
purchase price at penggilingan
retail SCN 3 <Rice packaging SCN 3
Rice price at rice price at Costs from milling>
retail level consumen
SCN 3 SCN 3

Rice handling inventory <Rice Transportation costs


from retail SCN 3 <Time> from milling SCN 3>

Rice packaging from


Inflasi for Rice
Distances 4 retail SCN 3
SCN 3
SCN 3
Rice Transportation
costs from retail SCN 3 Rice administration costs
from Retail SCN 3 <Time>

Gambar 6. Skenario 3 Harga dan Biaya logistik beras

Outher Cost from Sugar profit from


Distributor 1 SCN 4 Outher Cost from Samurai SCN 4
Sugar profit from Samurai SCN 4 Sugar transportation <Sugar Transportation
Distributor 1 SCN 4 Distance 1 SCN 4 costs from farmer SCN 4
from in retail SCN 4>
<Sugar transportation
costs from farmer SCN 4>
Sugar handling cost from
Distributor 1 SCN 4 Sugar administrative <Sugar administrative
costs from farmer SCN 4 costs from farmer> <Sugar transportation
costs from farmer> <Sugar packaging
Samurai sugar purchase price at Sugar <Sugar Administrative Costs from Retail>
sugar purchase price at SCN 4 price at Outher Cost from
Sugar Storage costs from Distributor Samurai SCN 4 <Outher Cost from costs from retail>
distributor 1 SCN 4 farm level farmer SCN 4
Distributor 1 SCN 4 1 level SCN <Time> farmer>
SCN 4
4 <Time>
Sugar Administrative costs Logistic <Sugar handling cost
Sugar packaging Costs <Sugar packaging Costs farm Logistic
from Distributor 1 SCN 4 from retail>
Costs from farmer> SCN 4 Costs Retail
Sugar administrative cost from farmer SCN 4
Sugar Handling Costs <Time> SCN 4
s from Samurai SCN 4 from farmer SCN 4 <Sugar Handling <Outher Cost
Costs from farmer> from retail>
Sugar Transportation costs Sugar profit from
sugar purchase price <Average Sugar farmer SCN 4
from Distributor 1SCN 4 sugar purchase price at at retail 0 Unit/Cost (Rp/Kg)> <Sugar price at
distributor 2 SCN 4 consumen>
<Sugar administrative
costs from Samurai> Logistic Cost
s Samurai S Total Sugar Logistic Sugar Logistic
Distance 2 SCN 4 Sugar profit from <Sugar Costs SCN 4
CN 4 Cost with PDB
retail SCN 4 Fulfillment> SCN 4

<Time> <Outher Cost from


Samurai>
<Time>

Logistic Cost
Sugar s Distributor
Outher Cost from Sugar price price at <Outher Cost from
retail SCN 4 at retail level Distributor 1> 1 SCN 4
consumen
SCN 4 SCN 4 <Sugar handling cost
from Distributor 1>
Sugar Administrative
costs from retail SCN 4
Inflasi for Sugar <Sugar Storage costs
SCN 4 from Distributor 1> <Sugar Transportation
Sugar handling cost costs from Distributor
Sugar Transportation 1SCN 4>
from retail SCN 4 <Sugar Administrative
from in retail SCN 4 costs from Distributor 1>

<Time>
Sugar packaging Costs
from Retail SCN 4

Distance 5 SCN 4

Gambar 7. Skenario 3 Harga dan Biaya logistik gula


Selected Variables Selected Variables
9,000 2,000
9,000

1,500

4,500
Rp

4,500 1,000

500
0
0
0
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Time (Year) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Time (Year)
rice price at consumen : Logistik jatim v23
rice price at consumen SCN 3 : Logistik jatim v23 Total Rice Logistic Costs : Logistik jatim v23
Total Rice Logistic Costs SCN 3 : Logistik jatim v23

Gambar 8. Hasil scenario 3 untuk komoditas beras


Selected Variables
Selected Variables
2,000
20,000

1,500
15,000
Rp

1,000
Rp

10,000

5,000 500

0 0
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Time (Year) Time (Year)
Sugar price at consumen : Logistik jatim v23 Total Sugar Logistic Costs : Logistik jatim v23
Sugar price at consumen SCN 4 : Logistik jatim v23 Total Sugar Logistic Costs SCN 4 : Logistik jatim v23

Gambar 9. Hasil scenario 4 untuk komoditas beras


Hidayat, Sistem Dinamik Spasial Untuk Meningkatkan Efektifitas Dan Efisiensi Logistik Pada Rantai Pasok Pangan 51

5. Kesimpulan
Dari hasil pengembangan model berdasarkan kondisi saat ini (base model) dan skenario
maka kesimpulan dari penelitian ini adalah :
1. Jalur distribusi utama pada komoditas beras dan gula cenderung lebih panjang karena
melibatkan beberapa pelaku distribusi. Dari masing-masing rantai distribusi tersebut,
terjadi peningkatan biaya logistic dan harga komoditas dikarenakan setiap pelaku
membutuhkan biaya logistic seperti Biaya transportasi, biaya administrasi, biaya
penanganan persediaan, biaya pergudangan, biaya packing, biaya lain-lain. Serta masing-
masing yang melibatkan profit untuk pelaku distribusi.
2. Dengan mengurangi pelaku distribusi beras dan gula bisa mengurangi jarak dan waktu
transportasi. Untuk komoditas beras dari penggilingan langsung ke retail, tidak perlu ke
grosir/agen sehingga bisa menurunkan harga beras sebesar 6.04% per tahun dan biaya
logistic beras 19.3% per tahun, sedangkan untuk komoditas gula dari distributor 1
langsung ke retail tidak perlu ke distributor 2 dan distributor 3 sehingga jarak jarak
transportasi bisa berkurang dan waktu pengiriman pun lebih cepat. Aktor yang dikurangi
untuk komoditas beras ada grosir/agen sedangkan untuk gula adalah distributor 2 dan
distributor 3 sehingga bisa menurunkan harga gula 8.13% per tahun dan biaya logistic
gula 27.71% per tahun
3. Setelah dilakukan scenario, diusulkan bagi pemangku kebijakan agar dilakukan
pemotongan arus distribusi beras dan gula yaitu pada komoditas beras adalah Grosir/agen
jadi retail langsung beli dari penggilingan sehingga system distribusi beras lebih efektif
dan biaya logistic lebih efisien juga harga beras lebih murah , pelaku yang dihapus untuk
komoditas gula adalah Distributor 2 dan Distributor 3 jadi retail langsung beli dari
Distributor 1 sehingga system distribusi gula lebih efektif dan biaya logistic lebih efisien
juga harga gula lebih murah.

Referensi
Allen, & Patricia. (1999). Reweaving the Food Security Safety Net: Mediating Entitlement and
Entrepreneurship. Agriculture and Human Values 16 , 11.
Aronsson, H., & Brodin, M. H. (2006). The environmental impact of changing logistics
structures. The international journal of logistics management 17(3) , 394-415.
Christopher, M. (2005). Logistics and Supply Chain Management: Creating value-Adding
Networks. Great Britain.
Engblom, J. (2012). Multiple-methodanalysisoflogisticscosts. ProductionEconomics , 29-35.
ESRI. (2009). ArcGIS desktophelp. New York: Environmental Systems Research Institute.
Forrester, J. W. (1971). System Dynamics : the Foundation Under Systems Thinking. System
Dynamic D-402.
Gimenez, C. (2006). Logistics integration processes in the food industry. International journal of
physical distribution and logistics management 36(3) , 231-249.
Indonesia, P. R. (2012). CETAK BIRU PENGEMBANGAN SISTEM LOGISTIK NASIONAL.
Jakarta: PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.
Ljungberg, D., Gebresenbet, G., Kihlström, M., & Oritz, C. (2006). ASCI:Improving the
Agricultural Supply Chain - Case Studies in Uppsala Region. Uppsala: VINNOVA
Report VR.
PERTANIAN, D. P. (2013). RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH
NASIONAL (RPJMN) BIDANG PANGAN DAN PERTANIAN 2015-2019. Jakarta.
Pottier, j. (1999). Anthropology of Food: The Social Dynamics of Food Security. Cambridge:
Polity Press.
Sterman, J. D. (2000). Business Dynamics: Systems Thinking and Modeling for a Complex
World. Boston : McGraw-Hill , 1-10.
System Dynamics Society. (2009). Proceedings of the International Conference. New Mexico:
Homeland Security.
52 Integer Journal, Vol 1, No 2, September 2016: 43-52

Wirabrata, A. (2013). PENINGKATAN LOGISTIC PERFORMANCE INDEX (LPI) DAN


RENDAHNYA INFRASTRUKTUR PENDUKUNG. EKONOMI DAN KEBIJAKAN
PUBLIK , 13-16.
Zajfen, V. (2010). Fresh food distribution models for the greater Los Angeles region: Barriers
and opportunities to facilitate and scale up the distribution of fresh fruits and vegetables.
Dipetik March 1, 2011, dari departments.oxy.edu: http://departments.oxy.edu/
uepi/publications/TCEFinalReport.pdf
Zarei, M., Fakhrzad, M. B., & Paghaleh, J. M. (2011). Food supply chain leanness using a
developed QFD model. Journal of Food Engineering 102 , 25-33.