Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bekasi merupakan wilayah sub urban, dan merupakan kota satelit penopang sebuah
kota besar yaitu Jakarta. Bekasi yang berkembang bukan hanya menjadi tempat tinggal
kaum urban namun juga berkembang menjadi sebuah kota industri barang dan jasa.
Daerah yang dahulunya merupakan wilayah agraris kemudian bertransformasi menjadi
kota yang di dominasi oleh kegiatan perindustrian. Arus modernisasi terus merambat
terlihat dari banyaknya pusat-pusat perbelanjaan dan pusat-pusat industri membuat Kota
Bekasi terus bertransformasi menjadi sebuah kota yang modern.
Banyak dari kota-kota di Indonesia terus bergerak menuju sebuah identitas baru dan
meninggalkan identitas lamanya. Perubahan yang terjadi banyak dimulai di abad 20
ketika kosmopolitanisme bergulir. Benda-benda yang menjadi simbol modernitas telah
menjadi orientasi baru pada masyarakat perkotaan, terlihat di dalam pembangunan

infrastruktur dan fisik kota yang kemudian menyesuaikan dengan gaya kosmopolit.1 Hal

seperti itu juga terjadi di wilayah kota Bekasi


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pola Kota dan Struktur Kota
a. Pola kota
Menurut Kostof, pola kota secara garis besar dapat dibagi dalam tiga bentuk, yaitu grid,
organik dan diagram.
1. Grid
Pola grid ini merupakan mekanisme yang cukup universal dalam mengatur lingkungan
dan pola ini terbentuk karena adanya kebutuhan suatu sistem yang berbentuk segi empat
(grid iron) guna memberikan suatu bentuk geometri pada ruangruang perkotaan (Kostof,
1991).
2. Organik
Pola organik merupakan organisme yang berkembang sesuai dengan nilai-nilai budaya
dan sosial dalam masyarakatnya dan biasanya berkembang dari waktu ke waktu tanpa
adanya perencanaan. Pola organik ini perubahaanya terjadi secara spontan serta bentuknya
mengikuti kondisi topografi yang ada. Sifat pola organik ini adalah fleksibel, tidak
geografis, biasanya berupa garis melengkung dan dalam perkembangan masyarakat
mempunyai peran yang besar dalam menentukan bentuk kotanya (Kostof, 1991).
3. Diagram
Pola kota dengan sistem diagram ini biasanya digambarkan dalam simbol atau hirarki
yang mencerminkan bentuk sistem sosial dan kekuasaan yang berlaku saat ini. Berbeda
dengan sistem grid yang lebih mengutamakan efisiensi dan nilai ekonomis, motifasi dasar
dari pola kota dengan sistem diagram ini adalah (Kostof, 1991) :
• Regitimation, sistem kota yang dibentuk berdasarkan simbol kekuasaan dan dari segi
politik berfungsi untuk mengawasi/mengorganisir sistem masyarakatnya.
• Holy City, kota yang dibangun berdasarkan sistem kepercayaan masyarakatnya seperti
kota Yerusalem.
Bentuk kota yang sering dijumpai dan dipakai sebagian, keseluruhan ataupun gabungan
adalah berupa garis, memusat, bercabang, melingkar, berkelompok, pola geometris dan
organisme hidup. Bentuk-bentuk tersebut erat pula berkaitan dengan sejarah kehidupan
kota tersebut, baik itu sejarah secara fisik ataupun ideologis. Perkembangan dan
pembentukan kota seringkali merupakan wujud dari ekpresi masyarakat yang hidup di
dalamnya. Sejumlah kota seringkali dipengaruhi oleh kondisi sosial politik dan kondisi
pemerintah atau pemerintahannya. Pada sisi lainnya perkembangan penduduk, juga
perkembangan karena proses urbanisasi menjadi sebab perubahan bentuk dan struktur
suatu kota.
b. Struktur Kota
Menurut Hadi Sabari Yunus secara garis besar terdapat tiga macam proses perluasan
area perkotaan menjadi lebih terstruktur, yaitu sebagai berikut :
1. Teori konsentris
Dapat dikatakan bahwa kota meluas secara merata dari suatu inti asal, sehingga
tumbuhlah zona-zona yang masing-masing meluas sejajar dengan pentahapan kolonisasi
ke arah zona yang letaknya paling luar. Dengan demikian dapat ditemukan sejumlah
sejumlah zona yang letaknya konsentris, sehingga strukturnya bergelang. Dalam
kenyataannya zona-zona konsentris ini tidak dapat ditemukan dalam bentuknya yang
murni. Konsentrasi pelayanan berada di suatu pusat, dengan jaringan transportasi yang
terarah ke suatu titik. Keterangan model teori konsentrik menurut Teori Konsentris Dari
Ernest W. Burgess (1929) :
 Zona pusat wilayah kegiatan
 Zona peralihan
 Zona permukiman kelas proletar
 Zona permukiman kelas menengah.
 Zona penglaju.

1. Teori Sektoral
Menurut Hommer Hoyt (1939), pengelompokkan tata guna lahan di kota menyebar dari
pusat ke arah luar berupa sektor. Hal ini disebabkan oleh sifat masyarakat kotanya, latar
belakang ekonomis, kondisi fisik geografis kotanya, serta rute pengangkutan. Namun pada
dasarnya teori ini merupakan modifikasi dari teori konsentris Burgess. Dari teori ini,
terjadi proses penyaringan (filtering process) dari penduduk yang tinggal pada sektor-
sektor yang ada. Keterangan Teori Sektoral (Sector Theory) dari Homer Hoyt :
 Zona 1: Zoona pusat wilayah kegiatan.
 Zona 2: Zona dimana terdapat grossier dan manufactur.
 Zona 3: Zona wilayah permukiman kelas rendah.
 Zona 4: Zona permukiman kelas menengah.
 Zona 5: Zona permukiman kelas tinggi.

2. Teori inti ganda (multiple nuclei).


Menurut Harris dan Ullman (1945), pola konsentris dan sektoral itu akan ada, namun
dalam kenyataannya sifatnya lebih rumit lagi. Pertumbuhan kota mulai dari intinya
dirumitkan lagi oleh adanya beberapa pusat tambahan. Di sekeliling suatu inti tata guna
lahan yang saling bertalian, munculah sekelompok tata guna tanah yang akan menciptakan
suatu struktur perkotaan yang memiliki sel-sel pertumbuhan lengkap. Teori ini disebut
teori multiple nuclei yang sifatnya serba akurat, tertib, dan fleksibel. Pembentukan inti-inti
ganda merupakan gejala lanjut dari kota yang berpola sektoral, sedangkan makin menuju
ke kota makin jelas adanya pola konsentris teori inti ganda ini sesuai dengan keadaan kota-
kota besar. Keterangan:
 Zona 1: Zona pusat wilayah kegiatan.
 Zona 2: Zona wilayah terdapat para grossier dan manufactur.
 Zona 3: Zona wilayah permukiman kelas rendah.
 Zona 4: Zona permukiman kelas menengah.
 Zona 5: Zona permukiman kelas tinggi.
 Zona 6: Zona manufactur berat
 Zona 7: Zona wilayah di luar pusat wilayah Kegiatan (PWK)
 Zona 8: Zona wilayah permukiman suburb
 Zona 9: Zona wilayah industri suburb

2.2 Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Bekasi


Letak geografis Kabupaten Bekasi ada pada koordinat : 1060 58’ 5” – 1070 17’ 45”
BT dan 05054’ 50” – 060 29’ 15” LS. Adapun batas – batas dari Kabupaten Bekasi sebagai
berikut:
Utara : Laut Jawa
Selatan : Kabupaten Bogor
Barat : DKI Jakarta dan Kota Bekasi
Timur : Kabupaten Karawang

2.2 Cikarang dalam RTRW Kabupten Bekasi 2011-2031 (Perda No 12


Tahun 2011 Tentang RTRW Kabupaten Bekasi Tahun 2011-2031)

Berdasarkan Perpres No 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan


JABOTEDABEKPUNJUR, Kota Cikarang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan
Wilayah (PKW) dengan kegiatan utama berupa industri dan permukiman.
Sedangkan menurut rencana sistem perkotaan Kabupaten Bekasi, yaitu:
a) Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Jabodetabekpunjur, meliputi perkotaan
Tarumajaya, Setu, dan Tambun Selatan;

b) Pusat Kegiatan Lokal (PKL), meliputi perkotaan Cikarang Pusat,


Cibarusah, Sukatani dan Cibitung;

c) Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) meliputi, perkotaan Cikarang


Selatan, Cikarang Utara, Cikarang Barat, dan Cikarang Timur;

d) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) melputi perkotaan Serang Baru,


Bojomangu, Kedungwaringin, Karang Bahagia, Tambelang, Pebayuran,
Babelan, Tambun Utara, Sukakarya, Cabangbungin, Muaragembong dan
Sukangi;

e) Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) meliputi, Nagasari, Hegarmukti,


Sukabungah, Cibarusah kota, Serang, Sukaragam, Cibening, Tamansari,
Tanjungbaru, Karang Satria, Bahagia, Pusaka Rakyat, Pantai Bahagia,
Sindang Jaya, Sukamantri, Karanghaur, Karang Mukti, Karang Mekar,
Sukatenang, Sukamulya (lihat Gambar 3.1).

Ditinjau dari sisi Tata Ruang Wilayah Jawa Barat, sektor yang unggul
(dominan) atau sektor yang memiliki peran relatif besar di Jawa Barat dan
cenderung untuk terus berkembang untuk Kabupaten Bekasi adalah Industri
Pengolahan. Provinsi Jawa Barat terbagi ke dalam 7 kawasan andalan. Kabupaten
Bekasi termasuk dalam Kawasan Andalan Metropolitan Bodebek (Bogor, Depok,
Bekasi) dengan sektor unggulan: industri manufaktur, pariwisata dan jasa.

Untuk mendistribusikan pembangunan di wilayah Kabupaten Bekasi,


dibutuhkan pusat-pusat yang mendukung perkembangan tiap zona wilayah. Dengan
pertimbangan utama keseimbangan dan daya dukung wilayah. Pengembangan
beberapa kota sebagai pusat pertumbuhan wilayah, berdasarkan daya tarik masing-
masing kota kecamatan, kondisi eksisting aktivitas interaksi antar kota kecamatan
di dalam wilayah Kabupaten Bekasi menunjukkan adanya beberapa kota kecamatan
berfungsi sebagai pusat pertumbuhan, yaitu: Cikarang Pusat, Tambun Selatan,
Cikarang Barat, Cikarang Selatan, Cikarang Utara, Setu, Cibitung dan Tarumajaya.
Kedelapan kecamatan tersebut mengakomodir aktivitas sosial ekonomi penduduk
kota-kota kecamatan lain yang menjadi hinterland-nya.

Sebagaimana yang tertulis pada RTRW Kabupaten Bekasi Tahun 2011 –


2031 tentang Rencana Perwilayahan Pembangunan, adapun pembagian Wilayah
Pengembangan (WP) Kabupaten Bekasi yang terdiri atas 4 WP, adalah sebagai
berikut:

a) Wilayah Pengembangan I yaitu Bekasi bagian tengah, dengan pusat di


perkotaan Tambun dan meliputi wilayah pelayanan Tambun Selatan,
Cibitung, Cikarang Utara, Cikarang Barat, Cikarang Timur, dan Cikarang
Selatan;

b) Wilayah Pengembangan II yaitu Bekasi bagian selatan, dengan pusat di


perkotaan Sukamahi dan meliputi wilayah pelayanan Cikarang Pusat, Setu,
Serang Baru, Cibarusah, dan Bojongmangu;

c) Wilayah Pengembangan III yaitu Bekasi bagian timur, dengan pusat di


perkotaan Sukamulya dan meliputi wilayah pelayanan Sukatani, Karang
Bahagia, Pebayuran, Sukakarya, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi,
dan Cabangbungin;

d) Wilayah Pengembangan IV yaitu Bekasi bagian utara, dengan pusat di


perkotaan Pantai Makmur, dan meliputi wilayah pelayanan Tarumajaya,
Muaragembong, Babelan, dan Tambun Utara (lihat Tabel 3.1 dan Gambar
3.2).
Tabel 3.1 Orde Kota Kabupaten Bekasi Tahun 2011 – 2031.

Wilayah
Pusat
No Pengembangan Kecamatan Fungsi WP
WP
(WP)
1 Tambun Selatan ● Pengembangan industri,
2 Cibitung perdagangan dan jasa,
3 Cikarang Timur perumahan dan
I
4 Cikarang Barat permukiman, pariwisata

5 Cikarang Utara dan pendukung kegiatan

6 Cikarang Selatan industri


7 Cikarang Pusat ● Pengembangan pusat
8 Cibarusah pemerintahan kabupaten,
9 II Bojongmangu industri, perumahan dan
10 Setu permukiman skala besar,

11 Serang Baru pertanian dan pariwisata


12 Sukatami ● Pengembangan pertanian
13 Pebayuran lahan basah, perumahan dan
14 Sukakarya permukiman
15 Tambelang
III
16 Sukawangi
17 Cabangbungin
18 Karang Bahagia
19 Kedungwaringin
20 Trumajaya ● Pengembangan wilayah,
21 Muaragembong simpul transportasi laut dan
22 Babelan udara, pertambangan,
IV perumahan dan
permukiman, pertanian
23 Tambun Utara
lahan basah dan pelestarian
kawasan hutan lindung
Sumber: RTRW Kabupaten Bekasi Tahun 2011 – 2013.

Berdasarkan pemaparan diatas, terlihat bahwa adanya kesesuaian pemilihan lokasi


penelitian yakni Cikarang, karena berdasarkan Rencana Pola Ruang RTRW
Kabupaten Bekasi Tahun 2011-2031 lokasi yang diteliti yakni Cikarang Utara,
Cikarang Selatan, Cikarang Barat, Cikarang Timur, dan Cikarang Pusat termasuk
kedalam wilayah pengembangan rencana yang dimana sebagian besar lahannya
diperuntukan untuk kegiatan Industri (lihat Gambar 3.3).
3.2 Kondisi Geografis Cikarang
3.2.1 Administrasi
Cikarang adalah ibukota Kabupaten Bekasi yang diresmikan pada tanggal 6
Juni 2004, dan juga merupakan salah satu daerah penyangga Ibukota Negara DKI
Jakarta. Hal ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang
Pengembangan JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi). Luas
wilayah perkotaan Cikarang mencapai 243,8 km2 yang terbagi menjadi 5
kecamatan diantaranya yaitu kecamatan Cikarang Pusat dengan luas wilayah 47,60
km2, Cikarang Barat dengan luas wilayah 52,78 km2, Cikarang Timur dengan luas

wilayah 50,63 km2, Cikarang Utara dengan luas wilayah 43,30 km2 dan Cikarang

Selatan dengan luas 49,49 km2 di Kabupaten Bekasi (BPS, 2015). Adapun batas-
batas administrasi Cikarang tahun 2013, antara lain (lihat Peta 1):

 Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sukatani dan Kecamatan


Cikarang Bahagia Kabupaten Bekasi.

 Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tambun Selatan Kecamatan
Cibitung Kabupaten Bekasi.

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Serang Baru dan Kecamatan
Setu Kabupaten Bekasi.

 Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang.

Pusat Pemerintahan Kabupaten Bekasi berada di Kecamatan Cikarang Pusat


yang sebelumnya berada di Kota Bekasi. Posisi Cikarang sangat strategis karena
berada diantara DKI Jakarta, Kabupaten Karawang, Bogor, serta Kota Bekasi.
Posisi Cikarang tersebut menjadikan pertumbuhannya meningkat pesat. Pada satu
sisi wilayah Cikarang menjadi daerah limpahan berbagai kegiatan di DKI Jakarta
dan juga menjadi daerah kolektor pengembangan wilayah Kabupaten Bekasi
sebagai daerah dengan sumber daya alam yang produktif.
3.3 Kondisi Fisik dan Non Fisik
3.3.1 Topografi
Wilayah perkotaan Cikarang rata-rata berada pada ketinggian 0-25 meter di
atas permukaan laut. Bagian Utara memiliki rata-rata ketinggian 11-16 meter di atas
permukaan laut seperti Kecamatan Cikarang Utara, sedangkan Bagian Selatan
memiliki rata-rata ketinggian 15 meter di atas permukaan laut. Dilihat dari kemiringan
tanahnya, sebagian besar wilayah perkotaan Cikarang mempunyai tingkat kemiringan

tanah yang tergolong landau yaitu sebesar 10o-25o (BPS, 2015).

3.3.2 Guna Lahan

Cikarang merupakan ibukota kabupaten bekasi dengan luas wilayah 243,8


km2. Dari luas wilayah tersebut pertumbuhan fisik kota ditunjukkan oleh besarnya
kawasan terbagun kota. Data terakhir tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Badan
Pusat Statistik menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan di wilayah perkotaan
Cikarang pada setiap kecamatan meliputi (lihat Peta 2):

1. Kecamatan Cikarang Utara (BPS, 2015f):


 Sawah Irigasi (260 Ha)
 Sawah Non Irigasi (108 Ha)
 Pertanian Non Sawah (257 Ha)
 Non Pertanian (2980 Ha)

2. Kecamatan Cikarang Barat (BPS, 2015g):

 Perumahan (2071,47 Ha)


 Sawah (126 Ha)
 Ladang/Tegalan (67 Ha)
 Industri (2556,13 Ha)
3. Kecamatan Cikarang Selatan (BPS, 2015h):
 Sawah Irigasi (54 Ha)
 Sawah Non Irigasi (486 Ha)
 Pertanian Non Sawah (80 Ha)
 Non Pertanian (4246 Ha)
4. Kecamatan Cikarang Timur (BPS, 2015i):
 Sawah Irigasi (15 Ha)
 Sawah Non Irigasi (5 Ha)
 Pertanian Non Sawah (5 Ha)
 Non Pertanian (24 Ha)
5. Kecamatan Cikarang Pusat (BPS, 2015j):
 Sawah Irigasi (0 Ha)
 Sawah Non Irigasi (518 Ha)
 Pertanian Non Sawah (499 Ha)
 Non Pertanian (3577 Ha)
3.3.3 Jumlah Penduduk dan Tenaga Kerja
Jumlah penduduk Cikarang mencapai 1.791.250 jiwa (BPS, 2015). Tiap
kilometer rata-rata dihuni oleh 7.347 jiwa, dan Kecamatan Cikarang Utara
menduduki daerah terpadat dengan jumlah penduduk 6.205 jiwa/km2. Jumlah
penduduk terbanyak adalah kelompok umur produktif (15-64) dengan rasio
ketergantungan sebesar 36,41% (tiap 100 orang penduduk usia produktif harus
menanggung 36 orang penduduk non produktif) (BPS, 2015a)

3.3.4 Sektor Industri


Pembangunan industri di Cikarang diarahkan untuk mendorong terciptanya
struktur ekonomi yang seimbang dan kokoh dalam rangka menciptakan landasan
perekonomian yang kuat agar tumbuh dan berkembang atas kekuatannya sendiri.
Pembangunan sektor industri mencakup industri besar, industri sedang, industri
kecil dan industri rumah tangga. Berdasarkan hasil survey Industri Besar dan
Sedang Menurut Kelompok Industri Tahun 2011 di Cikarang oleh Dinas
Perindustrian, terdapat sebesar 46,33% industri besar dan sedang memproduksi
barang-barang dari logam mesin dan perlengkapannya, kemudian disusul dengan
21,45% industri besar dan sedang memproduksi kimia dan barang-barang dari
bahan kimia, dan yang terkecil sebesar 1,42% industri pengolahan lainnya. Lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Presentase Perusahan Industri Besar dan Sedang Menurut
Kelompok Industri, data tahun 2011

50 46.33
45
40
35
30
25 21.45
20
15
7.23 7.94
10
5 3.67 4.85 3.79 3.32 1.42
0
Persentase
Makanan, minuman dan tembakau 7.23
Tekstil, pakaian jadi dari kulit 7.94
Kayu dan rumah tangga dari kayu 3.67
Kertas, percetakan dan penerbitan 4.85
Kimia, minyak bumi, dan batu bara 21.45
Barang-barang galian bukan logam 3.79
Logam Dasar 3.32
Logam, mesin, dan perlengkapannya 46.33
Industri pengolahan lainnya 1.42

Gambar 3.6 Grafik Persentase Perusahaan Industri Besar dan Sedang


Menurut Kelompok Industri di Cikarang Tahun 2011. (Dinas
Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Bekasi,
2011)

Berdasarkan Perda Nomor 12 Tahun 2011 tentang RTRW


Kabupaten Bekasi, Cikarang termasuk dalam Wilayah Pengembangan
(WP) I, arah fungsi WP I diarahkan dengan fungsi utama pengembangan
industri, perdagangan dan jasa, perumahan dan pemukiman, pariwisata
dan pendukung kegiatan industri. Kawasan peruntukan industri di
Kabupaten Bekasi sebesar 23.437 Ha, meliputi; Industri Besar, Industri
Menengah, Industri Mikro dan Rumah Tangga.
3.4 Kondisi Industri Pengolahan di Cikarang Tahun 2006 (data
tahun 2006 dan 2007)

Berdasarkan data yang diperoleh dari daftar perusahaan industri


yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan
UMKM Kabupaten Bekasi tahun 2006 dan 2007, tercatat sebanyak 120
perusahaan industri terdapat pada wilayah penelitian. Jika
diklasifikasikan berdasarkan tenaga kerja yang dikeluarkan oleh Badan
Pusat Statistik, dimana 5>19 orang (industri kecil), 20>99 orang
(industri menegah) dan 100+ (industri besar) dari 120 perusahaan
industri di seluruh Kecamatan Cikarang, terdapat 84 perusahaan industri
besar dan menengah dan 35 perusahaan industri kecil/rumah tangga, dan
1 perusahaan industri tidak teridentifikasi.

Secara administratif, 84 perusahaan industri besar dan


menengah tersebar di seluruh Kecamatan Cikarang, sebagai berikut
(lihat Gambar 3.2):

 26 perusahaan atau sekitar 31% berlokasi di Kecamatan Cikarang


Utara
 34 perusahaan atau sekitar 41% berlokasi di Kecamatan Cikarang
Selatan
 20 perusahaan atau sekitar 24% berlokasi di Kecamatan Cikarang
Barat
 2 perusahaan atau sekitar 2% berlokasi di Kecamatan Cikarang Timur
 2 perusahaan atau sekitar 2% berlokasi di Kecamatan Cikarang Pusat

Pada tahun 2006 terdapat 9504 orang Tenaga Kerja Indonesia dan 100
orang Tenaga Kerja Asing yang bekerja pada perusahaan-perusahaan
industri besar dan menengah.









Gambar 3.7 Grafik Presentase Industri Besar dan Menengah di Cikarang Tahun
2006 (data tahun 2006 dan 2007). (Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan
UMKM Kabupaten Bekasi, 2007)

3.5 Kondisi Industri Pengolahan di Cikarang Tahun 2013


Berdasarkan data-data yang diperoleh dari Dinas Perindustrian
Kabupaten Bekasi, tercatat jumlah perusahaan industri di Cikarang pada tahun
2013 kurang lebih mencapai 666 perusahaan industri. Jika dilihat secara
administratif sebanyak 461 perusahaan berlokasi di Kecamatan Cikarang
Selatan, 99 perusahaan berlokasi di Kecamatan Cikarang Utara, 19 perusahaan
berlokasi di Kecamatan Cikarang Timur, 26 perusahaan berlokasi di
Kecamatan Cikarang Pusat, dan 61 perusahaan berlokasi di Kecamatan
Cikarang Barat.

Pengolahan data klasifikasi industri berdasarkan tenaga kerja


yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, dimana 5>19 orang
(industri kecil), 20>99 orang (industri menegah) dan 100+ (industri
besar) dari 666 perusahaan industri di seluruh Kecamatan Cikarang,
terdapat 152 perusahaan industri besar dan menengah, 73 perusahaan
industri kecil, dan 438 perusahaan industri tidak teridentfikasi. Tidak
teridentifikasinya perusahaan industri tersebut dikarenakan minimnya
data yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi
dan UMKM dan juga dikarenakan perusahaan bangkrut atau berpindah
lokasi.

Secara administratif, 152 perusahaan industri besar dan menengah


tersebar di seluruh Kecamatan Cikarang, sebagai berikut (lihat Gambar
3.3):

 39 perusahaan atau sekitar 26% berlokasi di Kecamatan Cikarang


Utara
 62 perusahaan atau sekitar 41% berlokasi di Kecamatan Cikarang
Selatan
 33 perusahaan atau sekitar 22% berlokasi di Kecamatan Cikarang
Barat
 8 perusahaan atau sekitar 5% berlokasi di Kecamatan Cikarang Timur
 10 perusahaan atau sekitar 6% berlokasi di Kecamatan Cikarang
Pusat

Pada tahun 2013 terdapat 15174 orang Tenaga Kerja Indonesia dan 9
orang Tenaga Kerja Asing yang bekerja pada perusahaan-perusahaan
industri besar dan menengah.
Gambar 3.8 Grafik Presentase Industri Besar dan Menengah di Cikarang Tahun
2013. (Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Bekasi,
2013)