Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Kelopak mata adalah bagian mata yang sangat penting. Kelopak mata

melindungi kornea dan berfungsi dalam pendisribusian dan eliminasi air mata.

Penutupan kelopak mata berguna untuk menyalurkan air mata ke seluruh

permukaan mata dan memompa air mata melalui punctum lakrimalis.1,2,3

Kelainan yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari

yang jinak sampai keganasan, proses inflamasi, infeksi mau pun masalah struktur

seperti ektropion, entropion dan blepharoptosis. Untungnya, kebanyakan dari

kelainan kelopak mata tidak mengancam jiwa atau pun mengancam

penglihatan.1,2,3

Hordeolum adalah salah satu penyakit yang cukup sering terjadi pada

kelopak mata. Secara klinis kelainan ini sering sulit dibedakan dengan kalazion

akut. Hordeolum merupakan infeksi lokal atau proses peradangan pada kelopak

mata. Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan

bila kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum eksternum.1,2,3

Hordeolum biasanya menyerang pada dewasa muda, namun dapat juga

terjadi pada semua umur, terutama orang-orang dengan taraf kesehatan yang

kurang. Mudah timbul pada individu yang menderita blefaritis dan konjungtivitis

menahun.1,2,3

Berikut ini akan dilaporkan seduab kasus hordeolum eksternum yang

terjadi pada seorang pasien yang datang ke Poli Penyakit Mata RSUD Ulin

Banjarmasin.

1
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS

Nama : Nn. R

Umur : 22 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Suku : Banjar

Agama : Islam

Alamat : Banjar Indah Permai No. 17 Jl. Kayu Balau

No. RMK :-

MRS : 6 September 2010

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Benjolan pada kelopak mata atas sebelah kiri

Riwayat Penyakit Sekarang :

Sekitar satu minggu sebelum datang ke poli kelopak mata kiri baggian atas

tiba-tiba bengkak saat bagun tidur. Tiga hari kemudian bengkak semakin

membesar dan muncul bintil sebesar ujung jarum pentul yang jika di raba

terasa lunak, terasa nyeri saat ditekan, dan terasa mengganjal pada kelopak

mata tersebut. Sebelum kelopak mata muncul, menurut os tidak ada sakit

mata, terasa gatal atau keluahan yang lain. Selama kelopak mata

membengkak tidak ada gangguan penglihatan (penglihatan tidak berkurang)

dan tidak ada mata merah ataupun kotoran mata dan air mata yang banyak.

2
Selama di rumah os tidak ada memberi obat apapun dan beum pergi ke

dokter atau puskesmas. Karena kelopak mata semakin membesar, maka os

datang ke poli untuk memeriksakannya.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien tidak memiliki riwayat menderita kencing manis, hipertensi, asma

ataupun pernah menderita penyakit mata tertentu sebelumnya.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Compos mentis

Status generalis : Dalam batas normal

TD : 120/70 mmHg

N : 90 x/menit

RR : 20 x/menit

Status Lokalis

Pemeriksaan OD OS
Visus > 5/9 5/6
Palpebrae superior Edema (-) Edema (+), hiperemi (+),
papul bintil (+) tampak
menonjol ke arah
konjungtiva palpebra
Palpebrae inferior Edema (-) Edema (-)
Konjungtiva bulbi Hiperemi (-) Hiperemi (-)
Konjungtiva palpebrae Hiperemi (-) Hiperemi (+)
Sklera Hiperemi (-) Hiperemi (-)
Kornea Jernih Jernih
Camera Occuli Anterior Jernir dan dalam Jernih dan dalam
Iris Regular Reguler
Pupil Refleks Cahaya (+) Refleks Cahaya (+)
Lensa Jernih Jernih

3
Gambar1. Pasien dengan pembengkakan pada palpebra superior

IV. DIAGNOSIS KLINIS

Hordeolum internum OS

V. PENATALAKSANAAN

Gentamicin salep mata 3x1 OS

Supramox 3x1 tab

Mefinal 3x1 tab

Insisi palpebra superior

4
DISKUSI

Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat

menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea

dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata;

palpebra inferior menyatu dengan pipi. Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan

utama. Dari superfisial ke dalam terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis

okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa

(konjungtiva pelpebrae).1

Gambar 2. Anatomi palpebra4

5
Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis,

longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan. Bagian

posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva palpebra, yang

melekat erat pada tarsus. Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas

mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu

mata, glandula Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea

kecil yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula Moll

adalah modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu

mata. Tepian posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini

terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi

(glandula Meibom atau tarsal).1,2

Hordeolum adalah suatu peradangan supuratif kelenjar Zeis, kelenjar Moll

(hordeolum eksterternum) atau kelenjar Meibom (Hordeolum internum).

Hordeolum (sty) atau yang di Indonesia dikenal sebagai “bintitan”, adalah infeksi

pada kelenjar di tepi atau di bawah kelopak mata. Biasanya hordeolum ini berisi

nanah. Bila bertambah besar, akan menyebabkan sulit untuk melihat jelas, karena

tidak dapat membuka mata secara optimal. Lebih dari satu hordeolum dapat

terjadi dalam satu waktu, yang disebabkan karena peradangan yang meluas di

kelopak mata, sebuah kondisi yang disebut blefaritis. Hordeolum biasanya akan

sembuh sendiri secara spontan dan sementara itu dapat diberi kompres hangat.

Hordeolum bisa timbul secara berulang.2,3,4

6
Gambar 3. Hordeolum5

Penyebab dari hordeolum adalah infeksi bakteri, biasanya bakteri

Staphylococcus, yang menyerang kelenjar minyak kelopak mata. Staphylococcus

aureus adalah agent infeksi pada 90-95% kasus hordeolum. Faktor risiko

terjadinya hordeolum, antara lain3,4,5 :

1. Penyakit kronik

2. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk

3. Peradangan kelopak mata kronik, seperti blefaritis

4. Diabetes

5. Hiperlipidemia, termasuk hiperkolesterolemia

6. Riwayat hordeolum sebelumnya

7. Higiene dan lingkungan yang tidak bersih

8. Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik

Jenis hordeolum ada dua macam, yaitu hordeolum internum dan

hordeolum eksternum. Hordeolum internum adalah abses kecil yang disebabkan

infeksi kelenjar meibom. Kelenjar meibom yang merupakan kelenjar sebaceous

yang panjang. Infeksi biasanya menyebabkan peradangan dan edema kelenjar,

yang dapat mengakibatkan obstruksi.4,5,6

7
Gambar 4. Hordeolum internum5

Perubahan spesifik sekresi kelenjar meibom dikaitkan dengan hordeolum

internum. Stafilokokus adalah spesies yang sering menjadi penyebab infeksi,

terapi medis yang utama terdiri dari penisilin. Dosis 125-250 mg tiap enam jam.

Pasien yang alergi terhadap penisilin dapat diberikan kloramfenikol atau

aminoglikosid. Gejalanya lebih berat dan jarang pecah sendiri, karena itu biasanya

dokter akan menyayatnya supaya nanah keluar.5,6,7

Hordeolum eksternum adalah infeksi bakteri pada kelenjar dari Zeis atau

Moll yang berhubungan dengan folikel rambut di kelopak mata.5,6,7

Gambar 5. Hordeolum eksternum5

Dalam kebanyakan kasus, infeksi terlokalisir dan tampak papul bintil atau

peradangan. Kelopak mata bisa sedikit bengkak dan eritem di sekitarnya. Ini

biasanya berlangsung beberapa hari sampai seminggu dan dapat sembuh spontan.

Hal ini biasanya disebabkan oleh infeksi Stafilokokal dan dapat berhubungan

8
dengan blepharitis akibat streptokokkus. Lesi ini sering terkait dengan kelelahan,

diet yang buruk dan stres dan dapat berulang. Antibiotik sistemik seperti

eritromisin atau dicloxacillin oral mungkin diperlukan jika ada selulitis yang

parah.6,7,8,9

Hordeolum terjadi akibat dari pembentukan nanah dalam lumen kelenjar

akibat infeksi. Nanah ini mengenai kelenjar Meibom, Zeis, dan Moll. Apabila

mengenai kelenjar Meibom, pembengkakan agak besar, disebut hordeolum

internum. Penonjolan pada hordeolam ini mengarah ke kulit kelopak mata atau ke

arah konjungtiva. Kalau yang terkena kelenjar Zeis dan Moll, penonjolan ke arah

kulit palpebra, disebut hordeolum ekstenum.5,6

Gejala subyektif dirasakan mengganjal pada kelopak mata, rasa sakit yang

bertambah kalau menunduk, dan nyeri bila ditekan. Hordeolum memberikan

gejala radang pada kelopak mata seperti bengkak, mengganjal dengan rasa sakit,

merah, dan nyeri bila ditekan.5,6

Gejala obyektif tampak suatu benjolan pada kelopak mata atas atau bawah

yang berwarna merah dan sakit bila ditekan didekat pangkal bulu mata. Pada

pasien dengan hordeolum, kelenjar preaurikel, yaitu kelenjar yang terdapat di

belakang telinga, biasanya turut membesar. Mata mungkin berair dan peka

terhadap cahaya terang.5,6

Secara umum gambaran ini sesuai dengan suatu abses kecil. Biasanya

sebagian kecil kelopak akan membengkak, walaupun dapat terjadi pada seluruh

kelopak yang menyebabkan kelopak mata sukar diangkat karena bertambah

9
beratnya kelopak. Sering hordeolum ini membentuk abses (kantung nanah) dan

pecah dengan sendirinya.5,6,7

Untuk mempercepat peradangan kelenjar dapat dapat diberikan kompres

hangat, 4 kali sehari selama 10 menit sampai nanah keluar. Kompres hangat dapat

mempermudah drainase spontan. Pengangkatan bulu mata dapat memberikan

jalan untuk penyerapan nanah.4,10

Bila kompres mata sudah dilakukan beberapa kali namun rasa mengganjal

di kelopak mata tak kunjung hilang, atau bahkan ada benjolan lain yang kian

membesar, dapat diberikan terapi medikamentosa, yaitu11,12,13,14 ;

1. Tetes mata

Tetes mata yang diresepkan umumnya adalah tetes mata yang mengandung

antibiotik dan steroid. Diberi antibiotik lokal terutama bila berbakat berulang

atau terjadinya pembesaran kelenjar aurikel. Biasanya tidak diperlukan

antibiotik oral bila tidak terjadi peradangan menyeluruh di kelopak mata.

2. Salep mata

Salep mata yang diresepkan biasanya juga mengandung antibiotik dan steroid.

Tujuan utama terapi topikal adalah untuk mencegah penyebaran infeksi ke

daerah yang berdekatan dengan akar rambut.

3. Obat oral

Obat oral yang dapat diberikan antara lain eritromisin 250 mg atau 125-250 mg

diklosasilin 4 kali sehari, dapat juga diberi tetrasiklin. Bila terdapat infeksi

stafilokokus di bagian tubuh lain maka sebaiknya diobati juga bersama-sama.

10
Pada nanah dan kantong nanah yang tidak dapat keluar, dilakukan operasi

untuk mengeluarkan nanah. Operasi ini sebenarnya adalah pembedahan kecil

(insisi) di tempat munculnya benjolan. Kemudian dengan alat khusus (semacam

“sendok”), isi benjolan akan “dikerok” untuk dibuang. Setelah selesai, sementara

waktu mata akan ditutup dengan perban guna mencegah agar tidak terjadi

perdarahan lebih lanjut. Cara insisi4 :

 Diberikan anestesi setempat dengan tetes mata Pantokain.

 Kalau perlu diberikan anestesi umum, misal pada anak-anak atau orang-orang

yang sangat takut sebelum diberi anestesi umum.

 Untuk lokal anestesi bisa dipakai Prokain 2% dilakukan secara infiltratif dan

tetes mata Pantocain 2%.

 Pada hordeolum internum insisi dilakukan pada konjungtiva, kearah muka dan

tegak lurus terhadapnya (vertikal) untuk menghindari banyaknya kelenjar-

kelenjar yang terkena.

 Pada bordeolum ekstrnum arah insisi horisontal sesuai dengan lipatan kulit.

Keuntungan dari tindakan insisi ini adalah, hordeolum tidak akan muncul

lagi di tempat yang sama karena permukaan kelenjar tersebut sudah rusak.

Kalaupun bintitan muncul lagi, terjadinya pasti di tempat lain. Suatu hordeolum

yang besar dapat menimbulkan abses palpebra dan selulitis palpebra.4

Pada pasien ini dari anamnesis didapatkan keluhan adanya benjolan pada

kelopak mata atas sebelah kiri. Benjolan terasa mengganjal dan nyeri bila ditekan.

Daerah di sekitar benjolan terihat eritem. Benjolan terasa semakin membesar dan

muncul benjolan kecil yang lunak. Hal ini sesuai dengan gejala hordeolum.

11
Dari pemeriksaan fisik, visus mata kanan sebesar 5/9 dan mata kiri 5/6,

pada palpebra superior mata kiri ditemukan adanya edem, hiperemi, dan terdapat

papu bintil sebesar ujung jarum pentul. Penonjolan pada palpebra superior tampak

menonjol ke dalam konjungtiva palpebra. Pada konjungtiva palpebra superior kiri

terdapat hiperemi. Sedangakan pada pemeriksaan mata kanan dalam batas normal.

Berdasarkan pemeriksaan fisik ini sesuai gejala dan tanda hordeolum internum.

Terapi yang diberikan di poli adalah terapi medikamentosa dan insisi.

Teapi medikamentosa yang diberikan adalah asam mefenamat tablet 3x1,

gentamicin salep mata 3x1 pada mata kiri, dan antibiotik suprimox 3x1 tablet.

Terapi ini sesuai dengan terapi untuk hordeolum. Insisi pada pasien ini dilakukan

dengan melakukan sayatan pada bagian konjungtiva palpebra dengan terlebih

dahulu diberi anestesi lokal berupa tetes mata pentokain dan infiltrasi prokain

pada palpebra superior. Setelah dilakukan insisi dan nanah dikeluarkan, kata

ditutup dengan perban dan diberi gentamicin salep mata untuk menghindari

infeksi.11,14

Gentamisin adalah antibiotika derivat aminoglikosida dengan spektrum

yang luas dan aktif untuk melawan organisme gram positif dan gram negatif

termasuk Pseudomonas sp., Proteus sp. dan Staphylococcus sp. Pemberian jangka

pendek gentamisin 0,3% secara tunggal tanpa kombinasi di samping biayanya

murah juga sangat efektif untuk melawan organisme berspektrum luas terutama

Pseudomonas aeruginosa. 11,14

Sebenarnya, salep mata memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan

dengan obat tetes mata. Salep mata cenderung lebih awet (dalam penyimpanan),

12
penggunaannya juga lebih efisien dan tahan lama. Tidak seperti tetes mata yang

cepat menguap habis akibat terbuang bersama air mata sehingga kita harus lebih

sering menggunakannya, salep mata lebih lama menempel di mata sehingga

pengobatannya pun menjadi lebih efektif. Pada penderita akut, salep mata sangat

dianjurkan daripada tetes mata yang harus diteteskan setiap 3 sampai 4 jam sekali,

karena daya kerjanya cepat menghilang, terbuang bersama air mata. Dengan

penggunaan yang dioleskan pada kelopak mata bagian dalam, diharapkan zat aktif

dalam salep mata dapat bekerja optimal. Sehingga diharapkan penyembuhan

menjadi lebih cepat.11,14

Cara penggunaan salep mata tidak jauh berbeda dengan penggunaan obat

tetes mata. Kedua jenis obat ini ( salep mata dan tetes mata ) merupakan obat

steril. Jadi untuk mencegah kontaminasi, ujung wadah obat jangan sampai terkena

permukaan lain dan tutup rapat sesudah digunakan. Selain itu, satu obat mata

hanya boleh digunakan untuk satu orang saja. Hal ini penting, karena sakit mata

yang diderita oleh satu orang dengan yang lain mungkin berbeda sehingga

membutuhkan jenis obat yang berbeda. Selain itu juga untuk mencegah penularan

penyakit mata ke orang lain. Selanjutnya, obat mata yang masih tersisa satu bulan

setelah tutup dibuka harus segera dibuang, karena obat mata akan cepat rusak

setelah dibuka.11,14

Amoksisilin merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas

anti bakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan

ampisilina, efektif terhadap sebagian bakteri gram-positif dan beberapa gram-

negatif yang patogen. Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilina adalah

13
Staphylococci, Streptococci, Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H.

influenzae, E. coli dan P. mirabilis. Dosis amoksisilina disesuaikan dengan jenis

dan beratnya infeksi. Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg: 20 - 40 mm/kg

berat badan sehari, terbagi dalam 3 dosis. Dewasa atau anak dengan berat badan

lebih dari 20 kg: 250 - 500 mg sehari, sebelum makan.12

Asam mefenamat merupakan NSAID yang sering digunakan untuk

menghilangkan nyeri. Kerja Asam mefenamat adalah seperti obat golongan

NSAID lain yaitu menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja

enzim cyclooxygenase/PGHS (COX-1 & COX-2). Efek anti inflamasi, analgetik

dan antipiretik merupakan hasil kerja asam mefanamat dengan menghambat

COX-2. Efek anti inflamasi mungkin juga dihasilkan dari kerja menghambat

biosintesis dari mukopolisakarida. Efek antipiretik diduga akibat hambatan sintesa

prostaglandin di CNS. Untuk nyeri, dosis awal 500 mg, dilanjutkan dengan dosis

250 mg setiap 6 jam jika diperlukan. Penggunaan sebaiknya tidak lebih dari 1

minggu.13

14
PENUTUP

Telah dilaporkan kasus seorang pasien atas nama Nn. R, umur 22 tahun

dengan diagnosis hordeolum internum. Dari anamnesis diketahui bahwa sejak satu

minggu sebelum datang ke poli muncul benjolan pada kelopak mata atas sebelah

kiri yang terasa nyeri saat di tekan, dan terasa mengganjal. Dari pemeriksaan fisik

terlikah edem, hiperemi, dan benjolan yang tampak menonjol ke arah konjungtiva

pada palpebra superior kiri. Pasien mendapatkan terapi edika mentosa berupa

antibiotik salep mata, asam mefenamat, dan antibiotik oral. Selain itu juga

dilakukan insisi pada palpebra superior untuk mengeluarkan nanah. Setelah

mendapatkan terapi tersebut, keluhan pasien terasa berkurang.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika,

Jakarta, 2000: Hal 17-20 6.

2. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I, Balai Penerbit FK UI,

Jakarta. 2004: Hal 92-94 7.

3. Sidarta, I, dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata, Cetakan III, Balai Penerbit FK UI,

Jakarta 2003: Hal15 -16 8.

4. Kastam. Bintit atau timbil atau hordeolum. 2008. Available on :

www.optikoline.info.com

5. Huang JT, Huang PT. Taking a look at common eye infections. The Canadian

Jaournal of CME. 2005; 4: 58-62

6. Wald ER. Periorbital and orbital infections. Pediatr.Rev. 2004; 25: 312-320

7. Ehon M. ocular condotions from A to Z. The pharmaceutical Journal 2007;

278: 255-258

16
8. Asyari F. Dry eye syndrome (sindrom mata kering). Dexa media. 2007; 20:

14-15

9. Sexton B. Red eye. The Canadian Journal of EMC. 2003; 6: 113-119

10. Skorin L. Hordeolum and chalazion treatment the full gamut. 2002. Available

on : www.optometry.co.uk

11. Hayes, C, Peter., Mackay, W, Thomas., 1997, Diagnosis dan Terapi, Penerbit

Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

12. Anonimous. Amoxicillin. 2006. Available on : www.dechacare.com

13. Veronika. Efek neuroprotektif asam mefenamat dan ketoprofen pada penyakit

alzeimer. 2008. Available on ; www.kalbe.com

14. Hayes, C, Peter., Mackay, W, Thomas., 1997, Diagnosis dan Terapi, Penerbit

Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

17