Anda di halaman 1dari 42

MESIN SINKRON

PRINSIF KERJA

Mesin sinkron mempunyai kumparan jangkar pada stator dan kumparan


medan pada rotor Kumparan jangkarnya sama dengan mesin induksi
sedangkan kumparan medan mesin sinkron dapat berbentuk kutub
sepatu ( salient ) atau kutub dengan celah udara sama rata ( rotor
silinder ).
Arus searah DC untuk menghasilkan fluks pada kumparan medan dan
dialirkan ke rotor melalui cincin.
U

U S
δ Bs
Br

Apabila kumparan jangkar dihubungkan dengan sumber tegangan tiga


fasa akan ditimbulkan medan putar pada stator. Kutub medan rotor yang
diberi penguatanan arus searah mendapat tarikan dari kutub medan
putar stator hingga turut berputar dengan kecepatan yang sama
(sinkron).
Dilihat dari segi adanya interaksi dua medan magnet, kopel yang
dihasilkan motor sinkron merupakan fungsi sudut kopelnya ( δ )

T = Br Bs Sin δ

Pada beban nol, sumbu kutub medan putar berimpit dengan sumbu
kutub kumparan medan ( δ = 0 ) Setiap penambahan medan
membuat medan rotor “ tertinggal sebentar “ dari medan stator,
terbentuk sudut kopel (δ); untuk kemudian berputar dengan kecepatan
yang sama lagi, beban maksimum tercapai ketika δ = 90º. Penambahan
beban lebih lanjut mengakibatkan hilangnya kekuatan kopel dan motor
disebut kehilangan sinkronisasi.
REAKSI JANGKAR.
Apabila generator sinkron (alternator), melayani beban, maka pada
kumparan jangkar stator mengalir arus, dan arus ini menimbulkan fluks
jangkar. Fluks jangkar yang ditimbulkan arus (ØA) akan berinteraksi
dengan yang dihasilkan kumparan medan rotor (ØF), sehingga
menghasilkan fluks resultante (ØR).

ØR = ØF + ØA; Jumlah secara vector

Adanya interaksi ini dikenal sebagai reaksi jangkar.

Kondisi reaksi jangkar untuk berbagai macam jenis beban adalah


sebagai berikut:

ØF ØA Beban Kapasitif
Beban Resistif I Terdahulu sudut ø dari E
I Sefasa E
ØF ØA Ø

A B

ØF ØA ØF

C Jenis Beban Induktif Murni


D ØA
I Terbelakang 90º dari E
Beban Kapasitif Murni ØA Memperlemah ØF Terjadi
I Terdahulu 90º Dari E Pengaruh Pemagnetan
ØA Memperkuat ØF Terjadi
Pengaruh Pemagnetan
Gambar A :

Arus jangkar (I) sefasa dengan ggl (E)


Jenis beban : tahanan (resistif)
ØA tegak lurus terhadap ØF

Gambar B

Arus jangkar (I) terdahulu dengan sudut ø dari ggl (E)


Jenis beban : kapasitif
ØA terbelakang dengan sudut ( 90º - ø )

Gambar C

Arus jangkar (I) terdahulu 90º dari ggl (E)


Jenis beban : kapasitif murni
ØA memperkuat ØF, terjadi pengaruh pemagnetan

Gambar D

Arus jangkar (I) terbelakang 90º dari ggl (E)


Jenis beban : induktif murni
ØA memperlemah ØF, terjadi pengaruh pendemagnetan

Reaksi jangkar pada alternator (mesin sinkron) bergantung pada jenis


beban yang dilayani, dengan perkataan lain bergantung pada sudut
fasa antar arus jangkar (I) dengan tegangan induksi (ggl).
ALTERNATOR TANPA BEBAN

Dengan memutar alternator pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus
medan (If), tegangan (Eo), akan terinduksi pada kumparan jangkar
stator,

Eo = C n Ø

C = konstanta mesin
n = Putaran sinkron
Ø = Fluks yang dihasilkan oleh If

Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator,
karenanya tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya
dihasilkan oleh arus medan (If), apabila arus medan (If),diubah-ubah
harganya, akan diperoleh harga Eo, seperti yang terlihat pada kurva
pemagnetan gambar 3, pada celah udara kurva pemagnetan
merupakan garis lurus.
Ra Xa

Eo

Eo V

a b If
(a) (b)

ab = tambahan arus medan yang diperlukan untuk daerah


jenuh
Ra = Tahanan stator
Xa = Fluks bocor
Eo = V ( keadaan tanpa beban )
ALTERNATOR BER BEBAN

Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan


mengakibatkan terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar bersifat reaktif
karena itu dinyatakan sebagai reaktans dan disebut reaktans pemagnet
(Xm).Reaktans pemagnet (Xm) ini bersama-sama dengan reaktans fluks
bocor (Xa) dikenal sebagai reaktans sinkron (Xs).
Model rangkaian dan diagram vector dari alternator berbeban induktif
(factor kerja terbelakang ) dapat dilihat pada gambar 4
Xa Ra

E
Rf I δ
~ E v V IXa
I IRa

E = V + IRa + JI Xa ; Xs = Xm + Xa

V + I (Ra + jXa)

MENGGAMBAR DIAGRAM POTIER DARI HASIL PENGUJIAN

Panjang komponen vector yang diperlukan untuk konstruksi diagram


potier dapat diperoleh dari hasil pengujian. Pengujian dilakukan dengan
mengatur mesin pada kecepatan nominal konstan dan tanpa ada daya
yang keluar
Pengujian Beban Nol

Pengujian dilakukan dengan menaikan arus penguat sedikit demi sedikit


sampai tercapai tegangan terminal E. Ujung terminal dibiarkan terbuka
atau dalam keadaan tanpa beban. Data pengujian dibuat kurva
pemagnetan dengan tegangan E yang merupakan fungsi If.

Pengujian Hubungan Singkat

Pengujian dilakukan dengan menaikan arus penguat pada rotor sedikit


demi sedikit sampai pada keadaan arus beban penuh tercapai. Pada
pengujian ini ujung terminal dihubung singkat.

Dari kedua pengujian di atas dapat digambarkan kurva seperti di bawah


ini

IXa

a b E = j IXa
F1 Fa If
O Fa F1 If
F2
F2

Pada pengujian hubungan singkat If adalah penguatan untuk


menghasilkan arus kerja stator. Jika tahanan stator diabaikan, diagram
portier tampak seperti gambar diatas, hal ini karena V = 0, E = j I Xa
dan harga Fa kecil sekali, F1 dan F2 saling berlawanan , besarnya
hampir sama, harga Xo di hitung dari garis kebocoran fluks. Oa adalah
harga Fa atau gaya gerak magnet pada keadaan hubungan singkat
yang diperlukan untuk menghasilkan tegangan IXa pada beban nol,
sedangkan ab adalah arus penguat medan yang menghasilkan gaya
gerak magnet F2. Perbedaan harga F1 yang ekivalen dengan arus rotor.

Dari keterangan diatas kita dapat menentukan harga Xa bila parameter


lainnya diketahui, namun hasil yang diperoleh kurang teliti.

PENGUJIAN FAKTOR KERJA NOL

Menentukan harga reaktansi bocor Xa dapat dilakukan dengan


pengujian berbeban dengan factor kerja sama dengan nol. Pengujian
dilakukan seperti pada pengujian beban nol hanya saja dalam hal ini
pada factor kerja nol diberikan beban dan mesin kerja sebagai reactor.
Arus stator pada arus kerja harus dijaga supaya konstan dan demikian
pula pada factor kerja nolnya.
Kurva pada hasil pengujian yaitu V terhadap If tampak seperti kurva
pemagnetan beban nol yang telah bergeser sebelah kanan Perhatikan
gambar dibawah ini (a)
Untuk mendapatkan tegangan terminal sebesar V pada keadaan operasi
seperti ini diperlukan arus medan sebesar ab. Dalam hal ini gaya gerak
magnet jangkar (F1) ekivalen terhadap arus ab. Juga resultan gaya
gerak magnet (Fa) ekivalen terhadap arus medan dan dinyatakan
sebagai berikut :

Oa = ob - ab

Fa = F2 - F1,
Perhatikan gambar (b)

Ea
I JXa

F1a Fa
b i

F2
Resultan gaya gerak magnet Fa akan membangkitkan tegangan dari
kurva kejenuhan beban nol sebesar Ea volt. Karena pada operasi factor
kerja sama dengan nol, penjumlahan secara aljabar (biasa) V dan IXa
akan menghasilkan tegangan yang dibangkitkan, Jadi garis P’C
ekivalen dengan tegangan reaktans bocor

Tegangan P’C
Xs =
Arus kerja jangkar

Titik d diperoleh karena perpotongan garis yang dibuat dari titik P


sejajar karakteristik beban nol pada daerah tidak jenuh dengan garis
yang diluar dari titik P sejajar ob. Pada akhirnya diperoleh segi tiga
Potier (PP’d).

Reaktans Sinkron

Harga Xs diperoleh dari dua macam percobaan yaitu percobaan tanpa


beban dan percobaan hubungan singkat.
Dari percobaan tanpa beban diperoleh harga Eo sebagai fungsi arus
medan (If). Seperti telah diterangkan, hubungan ini menghasilkan kurva
pemagnetan; dan dari kurva ini harga yang dipakai adalah harga
liniernya (unsaturated). Pemakaian harga linier yang merupakan garis
lurus cukup beralasan mengingat kelebihan arus medan pada keadaan
jenuh sebenarnya dikompensasi oleh adanya reaksi jangkar
Percobaan hubungan singkat akan menghasilkan hubungan antara arus
jangkar (I) sebagai fungsi arus medan (If) dan ini merupakan garis lurus
(Ish)

Jadi, harga reaktans sinkron adalah:


E 0 oa
Xs =  ; harga Ra diabaikan.
I hs bc

Seperti telah diuraikan di atas reaktans sinkron X s diperoleh dari harga


liniernya atau dalam keadaan tidak jenuh (unsaturated). Karena itu hasil
yang diperoleh kurang teliti dan hanya dapat dipakai untuk menghitung
secara kasar. Untuk memperoleh harga Xs yang lebih tepat dapat
digunakan segitiga Potier (gambar 5.8a).
Dari uraian terdahulu diketahui bahwa segitiga Potier ditentukan dari
karakteristik kejenuhan beban nol dan karakteristik faktor kerja nol
sebuah mesin. Jika segitiga Potier digerakkan ke bawah, harus dijaga
agar Pc konstan dan P tetap pada kurva faktor kerja nol dan ternyata titik
P’ akan tetap pada kurva beban nol. Pada saat P mencapai titik f,
segitiga Potier PP’d berada pada posisi hgf, titik h akan menghasilkan
tegangan Ea1 pada kurva beban nol dan akan membangkitkan tegangan
terminal V1 pada kurva faktor kerja nol.
Harga reaktans sinkron dapat diperoleh dari karakteristik beban nol dan
karakteristik faktor kerja nol. Jika mesin mempunyai karakteristik seperti
gambar 5.8a yang dioperasikan pada faktor kerja nol dan tegangan
terminal per fasa V dengan arus medan yang diperlukan adalah ob. Jika
beban berubah arus medan ob akan menghasilkan tegangan terminal
per fasa Eo pada kurva tanpa beban. Karena faktor kerja beban nol,
praktis E0 merupakan jumlah tegangan terminal V dengan IXs.
Dari segitiga Potier tegangan IXs sama dengan eP. Untuk hal yang kedua
IXs sama dengan e’f.
tegangan eP
Xs = arus nominal / fasa untuk hal yang pertama (sebelum segitiga Potier
tegangan e' f
digeser) dan untuk hal yang kedua Xs = arus nominal per fasa
Dari kedua keadaan tersebut dapat dilihat bahwa e’f ;lebih besar dari
pada eP. Karena harga arus nominal kedua keadaan tersebut sama,
reaktans
E 0 sinkron keadaan kedua akan lebih besar daripada keadaan
pertama.
belum jenuh

a  sc

Pengujian beban nol

b
Pengujian hubung singkat

0 c f
K
5.7 Pengaturan tegangan
Diagram vektor pada gambar 5.10 memperlihatkan bahwa terjadinya
perbedaan antara tegangan terminal V dalam keadaan berbeban dengan
E
faktor kerja 
terbelakang
V IXs

faktor kerja = 1 E

V IXs

faktor kerja mendahului E


 IXs

Gambar 5.10

tegangan E0 pada saat tidak terbeban dipengaruhi selain oleh faktor


kerja juga oleh besarnya arus jangkar (I) yang mengalir.
Gambar dibuat berdasarkan n, It, dan E yang konstan.
Perubahan arus jangkar ( I ), dilakukan dengan mengubah faktor kerja
beban.
Dengan memperhatikan perubahan tegangan V untuk faktor kerja
berbeda-beda pada gambar diatas, karakteristik tegangan terminal V
terhadap arus jangkar I dapat digambarkan sebagai berikut :
Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal alternator
antara keadaan beban nol dengan beban penuh.
Hal ini dinyatakan sebagai :

E0  V
Pengaturan tegangan = V
V
faktor kerja mendahului

faktor kerja = 1

faktor kerja terbelakang

Gambar 5.11

Menentukan pengaturan tegangan

Ada tiga cara untuk menentukan pengaturan tegangan pada mesin yang
besar yaitu :
a.Impedansi sinkron atau metoda gaya gerak listrik.
b.Metoda amper lilitan atau metoda gaya gerak magnet.
c. Metoda faktor daya nol atau metoda Potier.

Seluruh metoda diatas, digunakan untuk mendapatkan harga E0 atau


tegangan tanpa beban. Untuk maksud tersebut perlu diketahui harga
tahanan jangkar Ra, karakteristik beban nol, dan karakteristik hubung
singkat.

1.Tahanan stator Ra per fasa dapat diukur langsung dengan


menggunakan voltmeter dan ampermeter atau dengan menggunakan
jembatan Wheatstone. Namun harga tahanan ini dalam keadaan kerja
akan berbeda dengan hasil pengukuran karena ada pengaruh
permukaan (skin effect) penghantar. Harga Ra kira-kira 1,6 kali harga
Ra pengukuran dengan arus searah.

2.Karakteristik beban nol diperoleh dari data hasil pengujian dalam


keadaan tanpa beban.
3.Karakteristik hubung singkat diperoleh dari data hasil pengujian
hubung singkat.

Perhatikan uraian terdahulu.

Metoda impedansi sinkron


1.Menentukan harga impedansi sinkron dari karakteristik beban nol dan
karakteristik hubung singkat.
2.Menentukan harga Xs atau reaktansi sinkron seperti telah diuraikan
sebelumnya.
3.Menentukan harga tegangan dalam E0.
4.Menentukan harga pengaturan tegangan.
Hasil yang diperoleh dengan menggunakan metoda ini kurang teliti.
Pengaturan dapat dilakukan untuk faktor kerja terdahulu, unity ataupun
terbelakang.

Contoh 1 (Pengaturan tegangan dengan cara impedansi sinkron)


Diketahui sebuah alternator satu fasa dengan tegangan nominal V = 1
pu. Dan arus jangkar Ia = 1 pu, arus jangkar 1 pu diperoleh dari
pengujian hubung singkat dengan mengalirkan arus eksitasi (penguatan)
sebesar I pu. If dan tegangan beban nol untuk If = 1 pu sebesar 0,25 pu.
Tahanan stator Ra = 0,04 pu.
Tentukan pengaturan tegangan pada faktor kerja a unity, b 0,81
terdahulu, c 0,71 terbelakang.

Pemecahan
a Zs dalam pu = 0,25 : 1 = 0,25 (untuk faktor kerja 1,0)
Xs  Z  R  = 0,24677pu.
2
s
2
a

E = 1 + 0,04 + j 0,24677 = 1,0688 pu


1,0688 1
% Pengaturan tegangan = 1
= 0,0688/ x 100% = 6,88%

b Untuk faktor kerja 0,8 terdahulu (head).


E = 0,8 + 0,04 + 0,6 j – j 0,24677 = 0,9112 pu.
0 ,9112 1
% Pengaturan tegangan = 1
x 100% = -8,875%
c Untuk faktor kerja = 0,71 terbelakang (lag).
E = 0,71 + 0,04 = j (0,7042 + 0,24677) = 1,2111 pu.
1,2111  1
% Pengaturan tegangan = 1
x 100% = 21,11%.

Perhatikan gambar 5.12


E E
E IXs
IXs I

V V IRa V
IXs   IRa
I
IRa

Gambar 5.12

Metoda gaya gerak magnet


Pada cara ini reaktans bocor Xa diabaikan dan reaksi jangkar
diperhitungkan. Ampere lilitan yang diperlukan untuk membangkitkan
tegangan V pada beban penuh adalah jumlah vektor sebagai berikut :
V adalah tegangan terminal yang jika dijumlahkan dengan tegangan
jatuh IRa akan menghasilkan E. Medan yang diperlukan untuk
membangkitkan tegangan ini adalah Fe. Pada pengujian hubung singkat
arus medan disesuaikan sampai keadaan arus nominal dicapai, yang
dalam hal ini adalah sebesar F1. Kemudian ditentukan harga F2 untuk
mendapatkan tegangan E0.
Ditentukan pula harga prosentase pengaturan tegangan
E0  V
= V
x 100%

Contoh 2
Hasil pengujian sebuah alternator adalah sebagai berikut :
Tegangan beban nol (volt) 3100 4900 6600 7500 8300
arus medan (Amp) 16 25 37,5 50 70

Tegangan normal alternator adalah 6600 volt.


Arus medan sebesar 20 ampere diperlukan untuk mendapatkan arus
sirkulasi beban penuh pada pengujian hubung singkat. Tentukan
pengaturan tegangan dengan metoda gaya gerak magnet untuk faktor
kerja 0,8 terbelakang dan tahanan jangkar efektif Ra = 0,04 pu.

Pemecahan
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan sistem per unit, tegangan
pangkal 6600 volt dan arus medan pangkal If = 37,5 ampere.s
Tegangan beban nol (pu)0,46970,7424 11,1364 1,2575
Arus medan If (pu)0,42670,6667 1 1,13331,8667
Tegangan V = 1 pu dan arus penguat If – 1 py; arus kerja alternator = 1
pu; Ra = 0,04 pu. Perhatikan gambar 5.13.
E
1,2
1,1333 PU Ea
1,0 E
Tegangan fasa E[P.U]

0,8

IRa
0,6
V Ea

0,4 F1 Fa
F2
arus kerja a 
0,2
  90 + 
h a 

0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 1,4 1,6 1,8

arus medan If [P.U]


(b)
(a)

Ea = V + V
= 1(0,8 + j 0,6) + 0,04
= 0,84 + j 0,6 = 1,032 pu 35,53º
cos Φ = 0,8; Φ = 36,9º
= 36,9 – 35,53 = 1,37º (diabaikan karena terlalu kecil).
Dari gambar 5.13 a tampak Ea = 1,032 pu mempunyai arus medan If =
1,08 pu ekivalen dengan gaya gerak magnet Fa. Arus kerja 20 ampere
mempunyai arus medan If = 0,5333 pu ekivalen terhadap gaya gerak
magnet F1.
F2 = 1,08 pu + (0,8 j + 0,6) 0,5333
= 1,3998 + j 0,4266
= 1,4633
F2 dinyatakan pada gambar 5.13 a sepanjang oa dan oa = oa’.
Diperoleh E0 – 1,1333 pu
1,1333  1
% Pengaturan tegangan = 1
x 100% = 13,33%

5.8 Metoda Potier

Contoh 3
Pada gambar 5.14 a diperliuhatkan karakteristik beban nol dan
karakteristik faktor kerja nol untuk sebuah alternator water whell 10 MVA,
tegangan terminal 6900 volt hubung bintang (Y) dengan faktor kerja 0,8
dan frekuensi 60 hertz. Tegangan fasa terhadap netral DP’ adalah 3.980
volt.
Tahanan efektif jangkar 0,06 ohm per fasa.
Tentukan dengan metoda diagram Potier :
a.Reaktan bocor jangkar (Xa).
b.Reaksi jangkar.
c. Induksi gaya gerak listrik E pada faktor kerja 0,8 terbelakang.
d.Pengaturan tegangan pada faktor kerja 0,8 terbelakang.

Pemecahan
10.000.000
Arus kerja I = 6900 3 = 837 ampere.
6900
Tegangan kerja fasa terhadap netral =  3  = 3980 volt
Panjang garis P’c = 500 volt. (gambar 5.14 a)
500
Xa = 837 = 0,597ohm
Panjang Pc = 107 Amp ekivalen terhadap gaya gerak magnet F1.
Ea = V + I(0,8 – j 0,6) (0,06 + j 0,597) = 3980 + 837(0,8-j 0,6) (0,06 + j
0,597)
= 3980 + 40,2 – j 30,1 + j 399,5 + 299,5 = 4.320 + j 369,4.

E
5 P P E
tegangan terminal (kilovolt)

4.33 P
V d c
3.75
Ea

2.5
jfXa
IRa
1.25 V
F1
Fa 
F2
0 100 167 200 300
Arus medan If [Amp]
  I
Fa F1 X
 = 90 - x
F2
= 90 - ( + )
(a) (b)

Ea = 4.330 volt atau 4,33 kV 4,9º pada gambar 5.14 b.


369,4
Tan α = 4320 =0,0855;  = 4,9.
Dari gambar 4.14 a terlihat tegangan 4,33 kV mempunyai arus medan If =
167 ampere. Harga ini ekivalen terhadap gaya gerak magnet Fa.
Cos Φ = 0,8; Φ = 36,9º; Φ + α = 36,9º = 4,8º.
Ψ = 90º - X = 90º - (Φ + α) = 48,2º
F2 = Fa – F1 = 167(0,6665 + j 0,7455) + 107 = 251,3108 Amp. Dari
gambar 4.14 a tampak bahwa untukt If sama dengan 251 ampere
diperoleh gaya gerak listrik E = 5230 volt.
5230  3980
% Pengaturan tegangan = 3980 x 100% = 31,4%

5.10 Kerja parallel alternator


Untuk melayani beban berkembang, ada kalanya kita harus
memparalelkan dua atau lebih alternator dengan maksud memperbesar
kapasitas daya yang dibangkitkan.
Selain untuk tujuan diatas, kerja parallel juga sering dibutuhkan untuk
menjaga kontinuitas pelayanan apabila ada mesin (alternator) yang
harus dihentikan, misalnya untuk istirahat atau reparasi.
Untuk maksud memparalel ini, ada beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi, yaitu :
1. Harga sesaat ggl kedua alternator harus sama besar, dan
bertentangan arah, atau harga tegangan efektif terminal alternator
harus sama besar dan bertentangan arah dengan harga efektif
tegangan jala-jala.
2. Frekuensi kedua alternator atau frekuensi alternator dengan jala-
jala harus sama.
3. Fasa kedua alternator harus sama dan bertentangan setiap saat.
4. Urutan fasa kedua alternator harus sama.

Misalkan saat generator G akan diparalelkan dengan jala-jala. Mula-mula


G diputar oleh penggerak mula mendekati putaran singkronnya, lalu
penguatan If diatur hingga tegangan terminal generator tersebut sama
dengan tegangan jala-jala.
Untuk mendekati frekuensi dan urutan fasa kedua tegangan (generator
dan jala-jala) digunakan alat pendeteksi yang pada gambar 5.15 berupa
lampu sinkronoskop hubungan terang. Benar tidaknya hubungan parallel
tadi, dapat dilihat dari lampu tersebut.
Jika rangkaian untuk paralel itu benar (urutan fasa sama), lampu L1, L2
dan L3 akan hidup mati dengan frekuensi fL - fG cycle. Sehingga apabila
ke 3 lampu sedang tidak berkedip berarti fL = fG atau frekuensi tegangan
generator dan jala-jala sudah sama.
Untuk mengetahui bahwa fasa kedua tegangan (generator dan jala-jala)
sama dapat dilihat dari lampu L1, L2, dan L3 yang untuk hubungan seperti
pada gambar 5.16, L1 akan mati dan L2, L3 menyala sama terang.
Frekuensi tegangan generator diatur oleh penggerak mula sedang besar
tegangan diatur oleh penguatan medan.
Jika rangkaian untuk parallel itu salah (urutan fasa tidak sama), lampu L1,
L2, dan L3 akan hidup mati bergantian dengan frekuensi (fL + fG) cycle.
Dalam hal ini dua buah fasa (sebarang) pada terminal generator harus
kita pertukarkan. Untuk jelasnya lihat diagram pada gambar 5.16 dan
gambar 5.17.

R, S dan T urutan fasa tegangan jala-jala. U, V dan W urutan fasa


tegangan generator.
Jika urutan fasa kedua sistem tegangan sama, lampu L1, L2, dan L3 akan
hidup-mati bergantian dengan frekuensi fL – fG cycle.
Saat memparalelkan adalah pada keadaan L1 mati sedang L2 dan L3
menyala sama terang, dan keadaan ini berlangsung agak lama (yang
berarti fL dan fG sudah sangat dekat atau benar-benar sama).
Dalam keadaan ini, posisi semua fasa sistem tegangan jala-jala berimpit
dengan semua fasa sistem tegangan generator.
L1; mendapat tegangan VRU = 0 (lampu mati) karena R berimpit dengan
U(VMU = VOR – VUO = 0)
L2; mendapat tegangan VTS ≠ 0 (lampu hidup)
VWS = VWO – VSO = 3 VWO =
3 VSO
L3 ; mendapat tegangan VTV  0 (lampu hidup)
VTV = VTO – VVO = 3 VTO = 3 VVO

5.11 Arus Sinkronisasi


Dua alternator yang bekerja parallel dalam keadaan sinkron
berkecendrungan mempertahankan keadaan tersebut. Pada saat
alternator

Dalam keadaan tepat sinkron, tegangan kedua alternator tersebut sama


besar dan saling berlawanan. Perhatikan gambar 5.19a, dalam hal ini
tidak ada arus sirkulasi. E1 adalah gaya gerak listrik alternator nomor 1
dan fasanya akan saling berlawanan dengan gaya gerak listrik E 2 dari
alternator nomor 2.
Pada gambar 5.19b terlihat tegangan E2 terbelakang. Dianggap E1 = E2
sehingga pada tegangan Er yang menyebabkan adanya arus sirkulasi.
Er
Harga arus sinkronisasi ini diketahui sebesar I sy = Zs , dengan ZS adalah
impedansi dari kedua masin tersebut. Arus Isy terbelakang terhadap Er
 Xs 
dengan sudut  sebesar arc tg   dengan Xs adalah jumlah reaktansi
 Ra 
kedua mesin tersebut. Juga Ra merupakan tahanan jangkar kedua mesin
tersebut. Karena harga Ra biasanya kecil dan diabaikan maka besar
sudut  kira – kira = 900. di sini mesin nomor satu akan bekeja sebagai
generator dan mesin nomor 2 akan bekerja sebagai motor. Arus sinkron
akan membangkitkan kopel yang akan menyebabkan vector tegangan E2
bergeser ke kanan untuk mendapatkan keadaan sinkron.
Jika E2 terdahulu seperti gambar 5.19c, Isy akan dibangkitkan mesin
nomor 2 dan mesin nomor 1 akan bekerja sebagai motor. Tegangan E2
tetap dan tegangan E1 akan bergeser ke kiri karena adanya kopel yang
dibangkitkan oleh arus Isy untuk mendapatkan keadaan sinkron.

5.12 Daya Sinkronisasi


Dalam gambar 5.19b terlihat mesin nomor 1 bekerja sebagai pembangkit
dan mensuplai daya sinkronisasi sebesar E1 Isy cos  1, dengan harga 
1 kecil. Daya keluar mesin tersebut disuplai sebagai : a masukan bagi
mesin nomor 2, b rugi tembaga rangkaian jangkar kedua mesin tersebut.
Daya masuk ke mesin nomor 2 adalah E2 Isy cos  2 yang diperkirakan
sama dengan E2 Isy.
Jadi Isy E1 = E2 Isy + rugi tembaga
E1 = E2 diperkirakan
180  a 
0
   
Er = 2E cos = 2E cos  90   = 2E sin   2Ex = E
0

2  2 2 2
Dengan  dalam radian listrik.

3 E 2  5.775
Psy   3x 0
x  873,4k
Xs 90 4 x 1000
60 x 873,4 x 100
Tsy = 2 x 1500
 5.564 Nm

5.564
Tsy untuk pergeseran 0,50 = 2  2782 Nm
b pada beban penuh pf = 0,8 terbelakang
Sebagai langkah pertama dicari E0
Perhatikan gambar 5.20.
OA – 5775 V dan digambar  terhadap vector OI ; OB = E 0 di atas V
0

sudut  .
E0 =  V cos    V sin   I X 
2
sy s
2

Cos  = 0,8 dan sin  = 0,6 ; XS = 4 ohm V cos  = 5.775 x 0,8 = 4.620
Volt ; V sin  = 5775 x 0,6 = 3465 volt. IXs = 288,7 x 4 = 1155 volt.
E0 =  4.620  4620  = 6533 volt
2 2

BD = OD jadi  BOD = 450 dan  AOD = arc cos (0,8) = 36050`


 = 450 – 36050` = 8010`.
Pada gambar 5.20 tampak E0 bergeser sebesar 200 listrik. Esy = BC akan
menghasilkan arus sinkronisasi Isy. Arus ini ditunjukkan oleh vector IM
terbelakang terhadap E 900.
Esy = 2E0 sin 20 / 2 = 2 x 6.533 x 0,0175 = = 228,7 volt
E sy 228,7
Isy = Xs
= 4
= 57,2 Amp
Dari gambar 5.20 dapat pula dilihat E sy mendahului E0 sebesar sudut
 0 20 
 90  
 2 
dans eperti Isy juga terbelakang terhadap Esy 900, karena Isy
mendahului V dengan sudut   1  = 8010` + 10 = 90010`. Psy per pasa =
0

V X Isy cos 9010` = 5.775 x 57,2 x 0,987 = 326 Kw


Total daya sinkronisasi = 3 x 326 = 978 kW
60 x 978.000
Tsy per unit = 2 x 1500 = 6.237 Nm
6.237
Tsy untuk 0,50 = 2
= 3.118,5 Nm

5.14 Pembagian Beban pada alternator parallel


Jumlah beban yang diterima alternator yang bekerja parallel bergantung
pada pengaturan kopel daya masuk pada mesin penggerak mula.
Perubahan penguatan hanya akan merubah kVA yang keluar dan dapat
mengubah factor kerja beban yang dibangkitkan, dengan tidak
mengubah kW mesin tersebut.
Pada gambar 5.21 I1 dan I2 masing – masing mempunyai factor kerja cos
 1 dan cos  2. arus total yang dusuplai beban merupakan jumlah
vector arus I1 dan I2. bila daya masuk untuk mesin penggerak mula
generator nomor 2 dinaikan, vector gaya gerak magnet bergeser ke
kanan seperti tampak pada gambar.
Resultan tegangan Esy yang dihasilkan akan menimbulkan arus sirkulasi
Isy yang terbelakang hampir 900 terhadap vector tegangan Esy.

I`2 adalah arus jangkar baru dari mesin nomor 2 merupakan jumlah
vector Isy dan I2. ternyata I`2 lebih besar daripada I2 dan sudut  `2 lebih
kecil dari pada  2. arus Isy menyebabkan arus I1 dan menyebabkan arus
I1 berubah menjad I`1 yang lebih kecil daripada I1, sedangkan sudut  `1.
dari uraian diatas dapat diketahui bahwa kenaikan daya masuk pada
mesin penggerak mula dapat menyebabkan mesin tersebut mengambil
beban yang lebih besar pada factor kerja yang berbeda. Ada bebarapa
hal yang perlu diingat :
1. Beban yang diambil masing – masing alternator bergantung pada
pengaturan kopel
2. Penguatan hanya mengubah factor kerja
3. Jika daya yang masuk ke mesin penggerak di jaga konstan tapi
penguatan diubah, komponen kVA yang keluar dari mesin tersebut
dapat berubah sedangkan komponen kW nya tetap.

Contoh 5
Dua buah alternator 3 fasa yang identik dioperasikan parallel dan
memberikan daya sebesar 1500 kW pada tegangan 11 kV dengan factor
kerja cos  = 0,867 terbelakang. Masing – masing mesin memberikan
setengah daya totalnya. Reaktans sinkron masing – masing mesin 50
ohm per fasa dan tahanan efektifnya 4 ohm per fasa. Bila penguatan
mesin pertama disesuaikan agar arus yang mengalir pada jangkar
sebesar 50 ampere terbelakang, tentukan arus jangkar pada alternator
kedua dan tegangan yang dibangkitkan mesin pertama.

Pemecahan
Arus beban pada fektor kerja 0,867 terbelakang adalah
1.500.000
I = 3 x 11 x 1000 x 0,867 = 90,4 ampere. Cos  = 0,867 ; sin  = 0,4985
Komponen arus daya nyata = 90,4 x 0,867 = 78,5 ampere
Komponen arus daya maya = 90,4 x 0,4985 = 45,06 ampere
Karena masing – masing alternator memberikan setengah daya totalnya,
90,4
maka arus yang disuplai masing – masing mesin adalah 2 = 45,2
ampere.
Arus jangkar mesin pertama berubah dari 45,2 ampere menjadi 50
ampere.
Karena uap yang disuplai ke mesin penggerak nomor 1 tetap, maka
78,5
komponen kerja kedua mesin tersebut adalah sebesar 2 = 39,25
ampere.
Tetapi komponen daya maya telah berubah karena adanya perubahan
penguatan.

Komponen daya maya mesin pertama = 502 – 39,252 = 31 Amp


Komponen daya maya mesin nomor 2 45, 2 – 31 = 14,1 Amp
Diagram arus diperlihatkan pada gambar 5.22a
Arus jangkar alternator dua adalah :
I2 = 39,25 11,15 = 41,75 ampere
2 2

11 .000
Tegangan terminal per fasa = 3
= 6.350 volt.
Pada alternator pertama :
Jatuh tegangan IR = 4 x 50 = 200 volt. Jatuh tegangan
IX = 50 X 50 = 2500 volt.
39,25
Cos  1 = 50 = 0,785 dan sin  1 = 0,62
E0 =  6.350 x 0,785  200   6.350 x 0,62  2500 = 8.350 volt
2 2

Ggl fasa ke fasa = 8.350 x 3 = 14.450 volt.

5.13 Motor Sinkron


Telah diketahui bahwa pada motor induksi tidak terdapat kumparan
medan, sehingga sumber pembangkit fluks hanya diperoleh dari daya
masuk, stator. Daya masuk untuk pembangkit fluks merupakan daya
induktif, oleh karenanya motor induksi bekerja pada factor kerja
terbelakang. Sedangkan pada motor sinkron terdapat dua sumber
pembangkit fluks yaitu arus bolak – balik (a-c) pada stator dan arus
searah (d-c) pada rotor.
Bila arus medan pada rotor cukup untuk membangkitkan fluks (ggm)
yang diperlukan motor, maka stator tidak perlu memberikan arus
pemagnetan atau daya reaktif dan motor bekerja pada factor kerja = 1,0.
Kalau arus medan pada rotor kurang (penguat berkurang), stator akan
menarik arus pemagnetan dari jala – jala, sehingga motor bekerja pada
factor kerja terbelakang. sebaliknya bila arus medan pada rotor berlebih
(penguat berlebih), kelebihan fluks (ggm) ini harus diimbangi, dan stator
akan menarik arus yang bersifat kapasitif dari jala – jala ; dan karenanya
motor bekerja pada factor kerja terdahulu.
dengan demikian jelas factor kerja motor sinkron dapat diatur dengan
mengubah – ubah harga arus medan (If).

5.16 Pengaruh Penguatan Medan


diagram pada gambar 5.23 menunjukkan keadaan motor sinkron untuk
factor kerja yang bereda – beda pada keadaan beban (P) tetap.
diagram vector memperlihatkan, bahwa untuk beban tetap arus jangkar
yang ditarik dari jala – jala oleh motor harganya besar pada saat penguat
berkurang (factor kerja terbelakang), bertambah kecil untuk harga factor
kerja = 1,0 ; untuk kemudian menjadi besar lagi ketika penguatan dibuat
berlebih (factor kerja terdahulu).
dengan demikian hubungan antara arus jangkar I dengan arus penguat
(arus medan If) untuk suatu beban (P) yang tetap akan merupakan kurva
yang berbentuk V seperti tampak pada gambar 5.24.

5.17 Kondensor Sinkron


telah diterangkan pada pembahasa terdahulu bahwa apabila motor
sinkron diberi penguat berlebih, maka untuk menkompensasi kelebihan
fluks, dari jala – jala akan ditarik arus kapasitas. karena motor sinkron
(tanpa beban 0 yang diberi penguat berlebih akan berfungsi sebagai
kapasitor dan mempunyai kemampuan untuk memperbaiki factor kerja.
motor sinkron demikian disebut kondensor sinkron.
Daya Reaktif ; motor sinkron tanpa beban dalam keadaan penguatan
tertentu dapat menimbulkan daya reaktif. perhatikan diagram vector
motor sinkron tanpa beban seperti terlihat pada gambar 5.25.

gambar a : Penguatan normal ; hingga V = E


Motor dalam kedaan mengambang karena tidak memberikan ataupun
menarik arus. V berimpit dengan E karena dalam keadaan tanpa beban
sudut daya  = 0
gambar b : penguatan berlebih, sehingga E > V
Arus kapasitif (leading current) ditarik dari jala – jala
Daya aktif P = V.I cos  = 0
Jadi, motor berfungsi sebagai pembangkit daya reaktif yang bersifat
kapaitif (kapasitor)
gambar c : penguatan berkurang, sehingga E < V.
Arus gambar magnetasi (lagging current) ditarik dari jala – jala.
Jadi, motor berfungsi sebagai pembangkit daya reaktif yang bersifat
induktif (indikator).

5.18 Sudut daya mesin sinkron


Untuk alternator berlaku hubungan : V = E – (IRs + j IXs)
Bila Ra diabaikan maka :
V = E – j IXs
E V
I= jX s
dalam polar dapat ditulis
 E 0 V0 0 
I = -j  X  X 
 s s 
 E (cos   jsin ) V
I = -j  
 Xs X s 
E
komponen nyata dari arus I di atas adalah Xs sin 

komponen nyata dari suatu arus dapat juga ditulis dengan I cos 
E
Oleh karena itu bila daya P = VI cos  dan I cos  = xs sin 

maka ;
VE P VE
P= sin  dan T =  sin 
Xs W wX s
Terlihat harga kopel (T) merupakan fungsi sin  , sehingga akan
mencapai harga maksimum pada saat  = 900.
Perubahan sudut daya  untuk setiap penambahan beban dapat terlihat
apabila rotor disinari dengan Cahaya stroboskopik

contoh 6
a. Suatu motor sinkron, 2000 hp, cos  = 1,0, 3 fasa hubungan
bintang, 2300 volt, 30 kutub, 60 cps. motor mempunyai tegangan dan
freakuensi konstan.
Tegangan medan rotor dijaga agar konstan, yaitu mempunyai harga
yang sama dengan tegangan medan pada saat cos  = 1,0 pada
beban penuh.
Abaikan semua rugi yang terjadi
b. Sumber adalah generator sinkron, 3 fasa hubungan bintang, 2300
volt, 1750 kVA,2 KUTUB, 3600 rpm dan mempunyai reaktans sinkron
2,65 ohm per fasa. generator dijalankan dengan kecepatan nominal
dan tegangan medan generator dan motor diatur, sehingga motor
berputar dengan cos  = 1,0 pada beban penuh. hitunglah kopel
maksimum pada keadaan ini (tegangan medan generator dan motor
konstan), dan hitung pula tegangan terminalnya pada saat motor
memberikan kopel maksimum tersebut.

Pemecahan
a. Di sini dimisalkan mesin adalah mesin sinkron dengan rotor silinder,
sehingga kopel reluktans diabaikan.
Rangkaian ekivalen motor dapat digambarkan seperti gambar 5.27a,
dengan Xsm = reaktans sinkron dan Efm = tegangan medan.
kVA = 2000 x 0,746 = 1,492 kVA, untuk 3 fasa
= 497 kVA, untuk 1 fasa
2300
Tegangan nominal (Vt) = 3 = 1330 volt (tegangan fasa)
497000
Tegangan nominal (Vt) = 1330 = 374 Amp per fasa, maka
Ia. Xsm = 374 x 1,95 = 730 volt per fasa.
Dari diagram fasor 9untuk cos  = 1,0) pada gambar 5.27b, didapat
Efm = Vt 2  (I a X sm ) 2 = 1,515 volt
Daya maksimum bila  = 900, dan jika Efm dan Vt konstan maka :
Vt . E sm 1330 x 1515
Pmaks = X sm = 1,95 = 1030 x 103 watt
Untuk 3 fasa = 3 x 1030 kW = 3090 kW
120f
Kecepatan sinkron = p = 240 rpm = 4rps
Pmaks 3090 x 10 3
Tmaks = Ws = 2 x 4 = 123 x 103 newton meter
= 0,738 (123 x 103) = 90.600 lb-ft

b. Jika sumber daya adalah generator sinkron, rangkaian ekivalen


seluruhnya (generator + motor) dapat digambarkan seperti gambar
5.27c dan diagram fasornya untuk cos  = 1,0 seperti gambar 5.27d.
Di sini :Vt = 1330 volt, dan Efm = 1515 volt.
Tegangan drop pada reaktans sinkron generator :
Ia.Xsg = 374 x 2,65 = 991 volt
dan dari diagram fasor :
Efg = V  (I X ) = 1655 volt
2 2
t a sg

daya maksimum terjadi bila Efg terdahulu 900 terhadap Efm, dan bila Efg
dan Efm konstan, diagram fasornya adalah seperti gambar 5.27e
dengan Vt tidak lagi sama dengan 1330 dan faktor kerja juga tidak
sama dengan 1,0.
E fg . E fm 1655 x 1515
Maka Pmaks = X sg  X = 4,60
sm

3
= 545 x 10 watt per fasa untuk 3 fasa = 1635 kW
Pmaks 1635 X10 3
Jadi Tmaks = W
= 2 x 4 = 65 x 103 n-m = 48000 lb-ft
Dari diagram fasor pada gambar 5.27e didapat

2
I a  X sg  Xsm   E 2 fg  E 2 fm  15152  1655  2240 volt
2240
Ia   488 amp
4,60
IaXsm  488 x 1,95  951volt
Efg 1515
cos     0,739
Ia ( Xsg  Xsm) 2240

Maka
Vt  Efm  IaXsm  Efm  IaXsm cos   j IaXm sin 
 1515  643  j 703  872  j 703

Dan Kebesarannya adalah:


Vt  1.120 volt  tegangan 
 1.940 volt  tegangan jala  jala 

Contoh 7

Suatu motor sinkrom, 100 hp, 600 volt, 1200 rpm, 3 fasa hubungan
bintang mempunyai tahanan jangkar = 0,052 ohm per fasa dan reaktans
sinkron = 0,42 ohm per fasa.
a. Pada beban maksimum dengan cos  = 0,8 terdahulu, tentukan
tegangan induksi Ef, untuk 1 fasa, sudut , yaitu sudut antara
tegangan terminal Vt  dengan tegangan  E f  dan daya mekaniknya.
Motor pada beban ini mempunyai efisiensi = 0,92
b. Ulangi pertanyaan a, untuk beban dengan faktor kerja 0,8 terbelakang.

Pemecahan
100 x 746
a. Daya masukan = 0,92
 81.000watt

I 81.000
Arus a
3 x600 x0,80
 97,6 Amp per fasa
V
Tegangan terminal t  600
3
 346  tegangan fasa 

Diagram fasor untuk motor sinkron dengan beban cos  = 0,8 terdahulu
untuk suatu fasa dapat dilihat pada gambar 5.28a.

maka kebesaran Ef adalah:


E
f V
t cos   I a R
a2
V t sin   I a X a 2

  346x0,8  97 ,6 x0,052 2   346 x0 ,60  97 ,6 x0,42 2


 368,3 volt
dari diagram fasor didapat:
bd Vt sin   I s xs 248,8
tan     0,0915
Ob Vt cos   I aRa 271,7
Jadi,   42,5 o

Maka       5,6 o

Daya mekanik:
Pm  3 xE f x I a cos 
 3 x368,3 x97 ,6 x 0 ,61  79.600 watt

b Diagram fasor untuk motor dengan cos  = 0,8 terbelakang, untuk satu
fasa terlihat pada gambar 5.28b.

Dari diagram vetor didapat:


E 2   Vt cos   I a Ra   Vt sin   I a xa 
2 2

Ef   346 x0 ,8  97 ,6 x0,052 2   346 x0 ,60  97 ,6 x0,42 2


 319 volt
Harga Efini dapat juga dihitung memakai rumus:
E f Vt  Z  V  I  cos   j sin    R j X 
s t a a; s

bd V sin   I a X s 166,6
tan    t   0 ,613
Ob Vt cos   I a Ra 271,7
  31,3o
      36,9  31,3o  5,6o
daya mekanik:
Pm= 3 x 319 x 97,6 cos 31,3o = 79.600 watt

Contoh 8

Alternator 1 fasa, 4 kutub, 50 Hz, 50 kVa, 550 Volt mempunyai tahanan


jangkar 0,48 ohm. Arus medan 8 ampere memberikan 160 ampere pada
hubung singkat dan ggl 500 volt pada keadaan beban nol. Carilah:
1. Reaktansi dan impedansi sinkron.
2. Persentase pengatuiran pada beban bila:
a. faktor daya 1(satu)
b. faktor daya 0,8 (tertinggal).

Pemecahan

1. Arus beban penuh dari mesin = (50 x 1000)/550 = 90,9 ampere


Impedansi sinkron Zs = 500/160 = 3,12
2a. Untuk faktor daya 1 (satu):
V  550  j 0
I  90,91  j 0 
Z s  0 ,48  j 3,08
Gaya gerak listrik E V  IZ s
 550  j 0  90,91 j   0,48  j 3,08
 593,6  j 270  640 volt
640  550
% Pengaturan  x100%  90 / 550 x100% 16 ,3%
550
2b. Untuk faktor daya 0,8 (tertinggal)
E  550  j 0  90 ,9 0 ,8  j 0 ,6   0 ,48  j 3 ,08
E  754 volt
754  550
% Pengaturan  x100%  37%
550
Contoh 9

Alternatif 3 fasa, 600 KVA, 3300 V, mempunyai 25% reaktansi dan


tahahan diabaikan. Faktor daya 0,8 tertinggal pada keadaan beban
penuh. Bila pada saat medan penguat ditambah, ggal naik 20% dari
keadaan berbeban penuh, hitunglah arus dan faktor daya yang baru.
Alternator dihubungkan pada busbar (rel).

Pemecahan
500 x1000
Arus beban penuh   87 ,5 ampere
3 x 3300
330
Tegangan/fasa  3 1905 volt
Reaktansi: 25% x1905  87 ,5 X s

X s  5,44 ohm
E 1905  87 ,5  0 ,8  j 0 ,6  j 5,44
E 1905  j 371  272 ,4
E  2177 ,4 2  3712  2190 volt
Pada saat penguat dinaikkan 20% maka:
E  0 ,20 x 2190  2608 volt

Bagian daya aktif tidak berubah sehingga diperoleh


2608  besaran dari 1905   70  jI x  j 5,44
 1905  5,44 I x  2  370,82
Ix 134 ampere

Arus yang baru  70 134 151,5 ampere


2 2

Faktor daya yang baru = 70/151,4 terbelakang = 0,462 terbelakang.

Contoh 10

Dua buah alternator 750 kW beroperasi secara paralel. Pengaturan


kecepatan alternator yang pertama dari keadaan beban penuh ke
keadaan tanpa beban adalah 100% ke 130%, sedangkan alternator yang
lain 100% ke 104%. Berapakah beban yang harus dipikul masing-masing
alternator bila diberikan beban 1000 kW. Dan pada saat bagaimanakah
salah satu mesin berhenti mensulpai beban.

Pemecahan

Buat garis asumsi pengaturan kecepatan mesin. Misalkan pengaturan


dari 100 ke 104% adalah Q dan yang lain P, lihat gambar:

Gambar 5.29

Titik operasi di A, pada saat frekuensi sama, pada keadaan alternator


bekerja parallel. Dari kedu segitiga yang sama diperoleh:

104  f \  4 / 750
Pp adalah beban yang disulpai dengan me sin .
103  f
Serupa dengan :  3 / 750
PQ
4Pp
oleh karena itu :104  f 
750
dari :103  f  3 PQ / 750
4Pp  3PQ
Substitusi 1 
750
4Pp  3PQ  750
 
4 Pp  PQ  4000 bila beban 1000 kW
7 PQ  3250 PQ  3250 / 7  464 kW
Pp  536 kW
Bila beban naik; kecepatan turun dan bila kecepatan berada antara
103% ke 104% hanya mesin P mensulpai daya sedang mesin Q menjadi
daya cadangan:
Besar beban yang disulpai mesin P
104 103
 x 750 187 ,5 kW
4
Contoh 11
Alternator satu fasa 600 volt, 60 kVA mempunyai tahanan jangkar efektif
0,3 ohm. Dengan arus penguat 5 ampere menghasilkan ggl 400 volt
pada keadaan sirkuit twrbuka dan arus jangkar 200 ampere pada
keadaan hubung singkat. Hitung persen pengaturan pada saat beban
penuh dengan faktor daya 0,8 tertinggal.

Pemecahan

Pada saat arus medan 5 ampere, induksi tegangan 400 volt pada sirkuit
terbuka. Dan dengan arus medan yang sama dihasilkan arus jangkar
200 ampere pada keadan hubung singkat.
Voc 400
Zs   ohm
I sc 200
Rs  0 ,3 ohm , X s  2  0,32 1,974 ohm
Tegangan ter min al :Vt  600  j0.
Arus beban penuh I t  600 x1000 / 600 100 ampere
Z s  0 ,3  j1,974
E  Vt  IZ s
E  600  j 0   j1,974  100 0 ,8  j 0 ,6 
Pada saat arus tertinggal tegangan dengan sudut
 ,cos   0 ,8 dan sin   0 ,6
E  742,5  j140
E   742 ,5 2  140 2  753 volt
% pengaturan pada beban penuh 0,8 tertinggal
753  600
 x100% 153 / 600 x100%  25,5%
600

Contoh 12

Motor sinkron 3, 12 kutub, mempunyai impedansi jangkar 100 ohm, dan
reaktansi 0,5 ohm/fasa. Beroperasi dengan 2000 V, 3, 25Hz. Bila
pengaturan 80% dari kemampuan, hitunglah daya maksimum dan torsi
dalam Nm sebelum mesin keluar dari sinkronisasi.

Pemecahan
V1 = 2000 volt dan Eb = 80%, sehingga V2 = 1600 volt R = 0,5 ohm dan
Zs = 10 ohm. Daya maksimum yang dihasilkan oleh mesin sinkron :

V1V2 V2 2R
Pd maks. = 
Zs Zs 2
Pd maks. Dari ketiga fasa =
 2000 1600  1600  0,5 
2
 x     x3
 3 10 3  3  10 2 
 
2090x1600 1600x1
= 10

200
 307.200 watt

kecepatan mesin sinkron dengan 12 kutub


= 120 x 25/12 = 250 rpm
Tmaks pada kondisi daya maksimum :
Tmaks. X @ = 307.200
2x 250
Tmaks X 60  307.200
307.200 x 60
Tmaks = 2 xx 250
 11 .724 Nm

Anda mungkin juga menyukai