Anda di halaman 1dari 17

Jl. TirtaGiriKutri L.C. Subak Aya, BangliTelp.

(0366) 91555 – 93444 Email :


rsbmc_bangli@ymail.com

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BANGLI MEDIKA CANTI


NOMOR 188 / 1164 / RSU
TENTANG
PEDOMAN PENGORGANISASIAN DAN PELAYANAN
KOMITE KEPERAWATAN FUNGSIONAL
PADA RUMAH SAKIT BANGLI MEDIKA CANTI

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu Pengorganisasian dan


Pelayanan Komite Keperawatan Fungsional pada Rumah Sakit
Bangli Medika Canti, maka diperlukan penyelenggaraan
Pengorganisasian dan Pelayanan Komite Keperawatan Fungsional
yang bermutu tinggi;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, diperlukan suatu pedoman Pengorganisasian dan
Pelayanan Komite Keperawatan Fungsional di Rumah Sakit
Bangli Medika Canti.
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a dan huruf b, maka perlu menetapkan keputusan Direktur
tentang Pedoman Pengorganisasian dan Pelayanan Komite
Keperawatan Fungsional di Rumah Sakit Bangli Medika Canti.

Menimbang : 1. Undang - Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 44,
Tambahan Lembaran Negara
2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
3. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 298, Tambahan
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2014
Tentang Keperawatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 307, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5612);
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 49
Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan Rumah Sakit (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1053);
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 40
Tahun 2017 Tentang Pengembangan Jenjang Karir Profesional
Perawat Klinis (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017
Nomor 1129);
7. Keputusan Direktur PT Bangli Medical Center Nomor: 001/SK-
DK/I/2018 Tertanggal 02 Januari 2018 tentang Struktur
Organisasi dan Tata Kelola Rumah Sakit Bangli Medika Canti.
8. Keputusan Direktur Rumah Sakit Bangli Medika Canti Nomor :
049/SK-DK/XII/2018 Tertanggal 31 Desember 2018 tentang
Kebijakan Pelayanan di Rumah Sakit Bangli Medika Canti.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Pertama : Pedoman Pengorganisasian dan Pelayanan Komite Keperawatan


Fungsional pada Rumah Sakit Bangli Medika Canti

Kedua : Pedoman Pengorganisasian dan Pelayanan Komite Keperawatan


Fungsional pada diktum KESATU sebagaimana tercantum dalam
Lampiran Keputusan ini.

Ketiga : Pedoman Pengorganisasian dan Pelayanan Komite Keperawatan


Fungsional sebagaimana dimaksud pada diktum KESATU dijadikan
acuan untuk meningkatkan standar kualitas pelayanan keperawatan di
Rumah Sakit Bangli Medika Canti.

Keempat : Keputusan Direktur ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Tembusan ini disampaikan kepada Yth;


Ditetapkan di : Bangli
1. Komite Medis RS BMC
Pada tanggal : Januari 2019
2. Kabid Pelayanan, dan
Direktur
Kepegawaian RS BMC Bangli.
3. Arsip

: dr. I WayanRinartha, MM
NIK..05.2013.070
LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BANGLI MEDIKA CANTI
NOMOR 188 / 1164 / RSU
TENTANG PEDOMAN PENGORGANISASIAN KOMITE KEPERAWATAN
FUNGSIONAL PADA RUMAH SAKIT BANGLI MEDIKA CANTI

BAB V
STRUKTUR ORGANISASI KOMITE KEPERAWATAN FUNGSIONAL

Susunan organisasi Komite Keperawatan Fungsional sekurang-kurangnya terdiri dari:


1. Ketua Komite Keperawatan Fungsional;
2. Sekretaris Komite Keperawatan Fungsional; dan
3. Subkomite

DIREKTUR

KETUA KOMITE

SEKRETARIS KOMITE

SUB KOMITE SUB KOMITE SUB KOMITE


KREDENSIAL MUTU PROFESI ETIKA DISIPLIN
BAB VI
URAIAN JABATAN

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh personil Komite Keperawatan


Fungsional yaitu memiliki kompetensi yang tinggi sesuai jenis pelayanan
atau area praktik, mempunyai semangat profesionalisme, serta reputasi baik.
Jumlah personil keanggotaan Komite Keperawatan Fungsional disesuaikan
dengan jumlah tenaga keperawatan di Rumah Sakit. Berdasarkan
Keputusan Direktur Rumah Sakit Bangli Medika Canti Nomor 188 / 7656
/RSU tentang Pembentukan Komite Keperawatan Fungsional Fungsional
(KKF) pada Rumah Sakit Bangli Medika Canti, maka ditetapkan uraian
jabatan sebagai berikut :maka ditetapkan uraian jabatan sebagai berikut :

1. Ketua Komite
Ketua komite ditetapkan oleh kepala/direktur Rumah Sakit dengan
memperhatikan masukan dari tenaga keperawatan yang bekerja di
Rumah Sakit.

a. Ketua komite keperawatan memiliki latar belakang pendidikan


keperawatan (DIII Keperawatan, S1 Keperawatan Ners), atau
pendidikan kebidanan (DIII kebidanan, DIV Kebidanan).
b. Ketua Komite Keperawatan Fungsional ditetapkan oleh direktur rumah
sakit dengan memperhatikan masukan dari tenaga keperawatan yang
bekerja aktif di rumah sakit melalui voting pemilihan ketua komite.
c. Masa jabatan : tiga tahun.

2. Sekretaris Komite
a. Sekretaris komite keperawatan memiliki latar belakang pendidikan
keperawatan (DIII Keperawatan,S1 Keperawatan Ners), atau
pendidikan kebidanan (DIII kebidanan, DIV Kebidanan).
b. Sekretaris komite keperawatan ditetapkan oleh direktur rumah sakit
berdasarkan rekomendasi dari ketua Komite Keperawatan Fungsional.
c. Masa jabatan : tiga tahun.

3. Sub Komite Keperawatan Fungsional


a. Sub komite keperawatan memiliki latar belakang pendidikan
keperawatan (DIII Keperawatan, S1 Keperawatan Ners), pendidikan
kebidanan (DIII kebidanan, DIV Kebidanan).
b. Masa jabatan : tiga tahun.
c. Untuk menyelesaikan pekerjaannya, sub komite dapat membentuk tim
sesuai kebutuhan atau permasalahan yang teridentifikasi saat itu.

4. Sub Komite Kredensial


Proses Kredensial menjamin tenaga keperawatan kompeten dalam
memberikan pelayanan keperawatan dan kebidanan kepada pasien sesuai
dengan standar profesi. Proses Kredensial mencakup tahapan review,
verifikasi dan evaluasi terhadap dokumen-dokumen yang berhubungan
dengan kinerja tenaga keperawatan. Berdasarkan hasil proses Kredensial,
Komite Keperawatan Fungsional merekomendasikan kepada kepala/direktur
Rumah Sakit untuk menetapkan Penugasan Klinis yang akan diberikan
kepada tenaga keperawatan berupa surat Penugasan Klinis. Penugasan
Klinis tersebut berupa daftar Kewenangan Klinis yang diberikan oleh
kepala/direktur Rumah Sakit kepada tenaga keperawatan untuk melakukan
asuhan keperawatan atau asuhan kebidanan dalam lingkungan Rumah
Sakit untuk suatu periode tertentu.

1. Tujuan
a. Memberi kejelasan Kewenangan Klinis bagi setiap tenaga
keperawatan;
b. Melindungi keselamatan pasien dengan menjamin bahwa tenaga
keperawata n yang memberikan asuhan keperawatan dan
kebidanan memiliki kompetensi dan Kewenangan Klinis yang jelas;
c. Pengakuan dan penghargaan terhadap tenaga keperawatan yang
berada di semua level pelayanan.

2. Tugas
Tugas sub komite Kredensial adalah:
a. Menyusun daftar rincian Kewenangan Klinis.
b. Menyusun buku putih (white paper) keperawatan yang merupakan
dokumen persyaratan terkait kompetensi yang dibutuhkan
melakukan setiap jenis pelayanan keperawatan dan kebidanan
sesuai dengan standar kompetensinya. Buku putih disusun oleh
Komite Keperawatan Fungsional dengan melibatkan Mitra Bestari
(peer group) dari berbagai unsur organisasi profesi keperawatan dan
kebidanan, kolegium keperawatan, unsur pendidikan tinggi
keperawatan dan kebidanan.
c. Menerima hasil verifikasi persyaratan Kredensial dari bagian SDM
meliputi:
1) Ijazah
2) Surat Tanda Registrasi (STR)
3) Sertifikat kompetensi
4) Surat penyataan telah menyelesaikan program orientasi Rumah
Sakit atau orientasi di unit tertentu bagi tenaga keperawatan
baru
d. Merekomendasikan tahapan proses Kredensial:
Tahap Persiapan :
1) Calon asesi mempersiapkan dokumen sebelum dilakukan
kredensialing tenaga keperawatan antara lain melengkapi : form
permohonan beserta self assesment, ijazah terakhir, Surat Tanda
Registrasi (STR), SIPP (Surat Ijin Praktik Perawat), sertifikat
keahlian/terbaru, serta bukti telah melakukan orientasi rumah
sakit.
2) Calon asesi mengisi formulir permohonan kredensial /
rekredensial beserta melampirkan bukti seperti nomor 1 yang
selanjutnya di verifikasi kesesuaian dokumen oleh komite
kredensial dan direkomendasikan untuk mengikuti tahap
pelaksanaan assesmen kompetensi.
3) Melaksanakan pra konsultasi dengan asesor serta melengkapi
formulir konsultasi pra assesmen yang disesuaikan dengan bukti
yang valid, asli, terkini dan memadai, yang selanjutnya diisi
penilaian lanjut oleh Assesor serta validasi kesiapan asesmen
dan kontrak pelaksanaan assesment.
4) Pelaksanaan uji kredensial / re-kredensial tenaga keperawatan
oleh Asesor dilakukan dengan metode uji lisan (wawancara).
5) Asesi diberikan umpan balik / masukan dan diinformasikan
hasil penilaian / asesmen kompetensi serta keputusan yang
dibuat.
6) Hasil penilaian uji kredensial / re-kredensial tertera dalam
formulir keputusan asesment, yang menyatakan asesi
direkomendasikan / tidak direkomendasikan untuk naik jenjang
ke PK selanjutnya.

e. Penetapan Kewenangan Klinik :


1) Mengajukan permohonan untuk memperoleh Kewenangan Klinis
kepada Ketua Komite Keperawatan Fungsional sesuai Rincian
Kewenangan Klinis.
2) Mengikuti proses kredensial dengan cara review, verifikasi dan
evaluasi dengan metode lisan, yang dilakukan oleh Assesor dari
Sub Bidang Kredensial serta melibatkan Mitra Bestari yang
ditentukan.
3) Memperoleh hasil kredensialing berupa daftar kewenangan klinis
bagi perawat klinis perawat / bidan selanjutnya
direkomendasikan oleh Komite Keperawatan Fungsional untuk
mendapatkan surat penugasan klinis dari Direktur Rumah
Sakit.
4) Surat penugasan kewenangan klinik berlaku selama 3 tahun
dan bisa direvisi jika ada kompetensi klinik baru.
5) Bila terdapat hal yang tidak sesuai dengan kewenangan maka
sub kredensial melakukan kajian ulang terhadap kompetensi
staf keperawatan.
6) Komite Keperawatan Fungsional melakukan monitoring dan
evaluasi proses pelaksanaan jenjang karir perawat secara
berkala (setiap tahun) yang mencakup evaluasi hasil
implementasi jenjang karir profesional perawat yang meliputi :
peningkatan kinerja perawat dalam melakukan asuhan
keperawatan, peningkatan kepuasan kerja perawat, peningkatan
kepuasan klien, dan peningkatan kualitas pelayanan
keperawatan.
f. Kewenangan
Sub komite Kredensial mempunyai kewenangan memberikan
rekomendasi rincian Kewenangan Klinis untuk memperoleh surat
Penugasan Klinis (clinical appointment), serta bila terdapat hal yang tidak
sesuai dengan kewenangan maka sub kredensial melakukan kajian
ulang terhadap kompetensi staf keperawatan.

5. Sub Komite Mutu Profesi


Dalam rangka menjamin kualitas pelayanan/asuhan keperawatan dan
kebidanan, maka tenaga keperawatan sebagai pemberi pelayanan harus
memiliki kompetensi, etis dan peka budaya. Mutu profesi tenaga
keperawatan harus selalu ditingkatkan melalui program pengembangan
profesional berkelanjutan yang disusun secara sistematis, terarah dan
terpola/terstruktur.
Mutu profesi tenaga keperawatan harus selalu ditingkatkan secara terus
menerus sesuai perkembangan masalah kesehatan, ilmu pengetahuan dan
teknologi, perubahan standar profesi, standar pelayanan serta hasil-hasil
penelitian terbaru. Kemampuan dan keinginan untuk meningkatkan mutu
profesi tenaga keperawatan di Rumah Sakit masih rendah, disebabkan
karena beberapa hal antara lain: kemauan belajar rendah, belum terbiasa
melatih berpikir kritis dan reflektif, beban kerja berat sehingga tidak
memiliki waktu, fasilitas-sarana terbatas, belum berkembangnya system
pendidikan berkelanjutan bagi tenaga keperawatan.
Berbagai cara dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu profesi
tenaga keperawatan antara lain audit, diskusi, refleksi diskusi kasus, studi
kasus, seminar/simposium serta pelatihan, baik dilakukan di dalam
maupun di luar Rumah Sakit. Mutu profesi yang tinggi akan meningkatkan
percaya diri, kemampuan mengambil keputusan klinik dengan tepat,
mengurangi angka kesalahan dalam pelayanan keperawatan dan kebidanan.
Akhirnya meningkatkan tingkat kepercayaan pasien terhadap tenaga
keperawatan dalam pemberian pelayanan keperawatan dan kebidanan.

1. Tujuan
Memastikan mutu profesi tenaga keperawatan sehingga dapat
memberikan asuhan keperawatan dan kebidanan yang berorientasi
kepada keselamatan pasien sesuai kewenangannya.

2. Tugas
Tugas sub komite mutu profesi adalah:
a. Menyusun data dasar profil tenaga keperawatan sesuai area
praktik;
b. Merekomendasikan perencanaan pengembangan professional
berkelanjutan tenaga keperawatan;
c. Melakukan audit asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan;
d. Memfasilitasi proses pendampingan sesuai kebutuhan.
3. Kewenangan
Subkomite mutu profesi mempunyai kewenangan memberikan
rekomendasi tindak lanjut audit keperawatan dan kebidanan,
pendidikan keperawatan dan kebidanan berkelanjutan serta
pendampingan. Untuk melaksanakan tugas subkomite mutu profesi,
maka ditetapkan mekanisme sebagai berikut:

a. Koordinasi dengan bidang keperawatan untuk memperoleh data


dasar tentangprofil tenaga keperawatan di RS sesuai area
praktiknya berdasarkan jenjang karir.
b. Mengidentifikasi kesenjangan kompetensi yang berasal dari data
subkomite Kredensial sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dan perubahan standar profesi. Hal tersebut menjadi
dasar perencanaan CPD (Continuing Professional Development).
c. Merekomendasikan perencanaan CPD (Continuing Professional
Development) kepada unit yang berwenang.
d. Koordinasi dengan praktisi tenaga keperawatan dalam melakukan
pendampingan sesuai kebutuhan.
e. Melakukan audit keperawatan dan kebidanan dengan cara:
1. Pemilihan topik yang akan dilakukan audit
2. Penetapan standar dan kriteria
3. Penetapan jumlah kasus/sampel yang akan diaudit
4. Membandingkan standar/kriteria dengan pelaksanaan
pelayanan
5. Melakukan analisis kasus yang tidak sesuai standar dan kriteria
6. Menerapkan perbaikan
7. Rencana reaudit
f. menyusun laporan kegiatan subkomite untuk disampaikan kepada
Komite Keperawatan Fungsional.

6. Sub Komite Etik


Setiap tenaga keperawatan harus memiliki disiplin profesi yang tinggi
dalam memberikan asuhan keperawatan dan kebidanan dan menerapkan
etika profesi dalam praktiknya. Profesionalisme tenaga keperawatan dapat
ditingkatkan dengan melakukan pembinaan dan penegakan disiplin profesi
serta penguatan nilai-nilai etik dalam kehidupan profesi.
Nilai etik sangat diperlukan bagi tenaga keperawatan sebagai landasan
dalam memberikan pelayanan yang manusiawi berpusat pada pasien. Prinsip
“caring” merupakan inti pelayanan yang diberikan oleh tenaga keperawatan.
Pelanggaran terhadap standar pelayanan, disiplin profesi keperawatan dan
kebidanan hampir selalu dimulai dari pelanggaran nilai moral-etik yang
akhirnya akan merugikan pasien dan masyarakat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pelanggaran atau timbulnya
masalah etik antara lain tingginya beban kerja tenaga keperawatan,
ketidakjelasan Kewenangan Klinis, menghadapi pasien gawat-kritis dengan
kompetensi yang rendah serta pelayanan yang sudah mulai berorientasi pada
bisnis.
Berdasarkan hal tersebut, penegakan disiplin profesi dan pembinaan
etika profesi perlu dilakukan secara terencana, terarah dan dengan semangat
yang tinggi sehingga pelayanan keperawatan dan kebidanan yang diberikan
benar-benar menjamin pasien akan aman dan mendapat kepuasan.

1. Tujuan
a. Subkomite etik dan disiplin profesi bertujuan:
b. Agar tenaga keperawatan menerapkan prinsip-prinsip etik dalam
memberikan asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.
c. Melindungi pasien dari pelayanan yang diberikan oleh tenaga
keperawatan yang tidak profesional.
d. Memelihara dan meningkatkan profesionalisme tenaga
keperawatan.
2. Tugas
a. melakukan sosialisasi kode etik profesi tenaga keperawatan.
b. Melakukan pembinaan etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan.
c. Melakukan penegakan disiplin profesi keperawatan dan kebidanan;
d. Merekomendasikan penyelesaian masalah-masalah pelanggaran
disiplin dan masalah-masalah etik dalam kehidupan profesi dan
asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.
e. Merekomendasikan pencabutan Kewenangan Klinis dan/atau surat
Penugasan Klinis (clinical appointment).
f. Memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan etis dalam
asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.

3. Kewenangan
Subkomite etik dan disiplin profesi mempunyai kewenangan
memberikan usul rekomendasi pencabutan Kewenangan Klinis (clinical
privilege) tertentu, memberikan rekomendasi perubahan/modifikasi
rincian Kewenangan Klinis (delineation of clinical privilege), serta
memberikan rekomendasi pemberian tindakan disiplin. Tindakan
pendisiplinan terhadap pelanggaran etika dan disiplin profesi berupa:

a. Peringatan tertulis
b. Limitasi (reduksi) kewenangan klinis Pembatasan kewenangan
klinis dilakukan apabila tenaga keperawatan tersebut dalam
melaksanakan tugasnya di RSUP Sanglah tidak sesuai dengan
standar pelayanan keperawatan dan standar standar prosedur
operasional yang berlaku, tidak sesuia dengan etika dan disiplin
profesi yang berlaku, tidak sesuai dengan standar kinerja klinis dan
hukum serta peraturan yang berlaku.
c. Pencabutan kewenangan klinis (sementara atau selamanya)
Berdasarkan kajian yang dilakukan sub komite etik dan disiplin
profesi maka Ketua Komite Keperawatan Fungsional
merekomendasikan pencabutan kewenangan klinis, biak bersifat
sementara maupun selamanya. Pencabutan kewenangan klinis
dilaksanakan oleh Direktur Rumah Sakit Bangli Medika Canti.
d. Pengakhiran kewenangan klinis
Pengakhiran kewenangan klinis dapat dilakukan apabila Surat
Penugasan Klinis Keperawatan (SPK) habis masa berlakunya,
adanya gangguan kesehatan (fisik dan atau mental), mendapat
tindakan disiplin dari Komite Keperawatan Fungsional berdasarkan
kajian sub komite etik dan disiplin profesi. Pengakhiran
kewenangan klinis dilaksanakan oleh Direktur Rumah Sakit Bangli
Medika Canti atas rekomdasi dari ketua Komite Keperawatan
Fungsional.

e. Pemulihan kewenangan klinis


Pemulihan kewenangan klinis dilaksanakan oleh Direktur Rumah
Sakit Umum Bangli Medika Canti atas rekomendasi dari ketua
Komite Keperawatan Fungsional, setelah dilakukan evaluasi oleh
sub komite etik dan disiplin profesi. Sub komite kredensial akan
melakukan proses rekredensial sehingga hasil penilaian tersebut
menjadi dasar rekomendasi pemulihan kewenangan klinis.
BAB VII
TATA HUBUNGAN KERJA

Hubungan kerja keanggotaan Komite Keperawatan Fungsional yang ada di


Rumah Sakit Bangli Medika Canti :

A. Semua pelayanan keperawatan dilakukan oleh setiap staf keperawatan di


Rumah Sakit berdasarkan surat penugasan kerja klinis dari Direktur
Rumah Sakit Bangli Medika Canti.
B. Dalam keadaan kegawat daruratan staf keperawatan dapat diberikan
penugasan kerja klinis untuk melakukan asuhan keperawatan di luar
kewenangan klinis yang dimiliki, sepanjang yang bersangkutan memiliki
kemampuan untuk melakukannya.
C. Dalam melaksanakan tugas, wajib menerapkan prinsip koordinasi,
integrasi dan sinkronisasi baik dilingkungannya maupun dengan staf
keperawatan fungsional lain atau instansi lain yang terkait.
D. Untuk menangani pelayanan keperawatan tertentu, Direktur Rumah Sakit
dapat membentuk panitia atau kelompok kerja.
BAB VIII
POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI PERSONIL

No Nama Kualifikasi Pengalaman Kerja


Jabatan Formal Sertifikat
1 Ketua Pendidikan 1. Manajemen Pengalman kerja 5
Komite Sarjana Keperawatan tahun
Keperawatan 2. Pembimbing  Mampu
Klinik mengembangkan
Keperawatan pelayanan
keperawatan
 Mempunyai semngat
profesionalisme
 Reputasi baik

2 Sekretaris Pendidikan 1. Manajemen Pengalaman kerja 5


Sarjana Keperawatan tahun
Keperawatan 2. Pembimbing  Mampu
/ DIII Klinik mengembangkan
Keperawtan Keperawtan pelayanan
keperawatan
 Mampunyai
semangat
professional
 Reputasi baik

3. Sub Perndidikan 1. Manajemen Pengalaman kerja 5


Komite Sarjana Keperawatan tahun
Kredensial Keperawatan/ 2. Pembimbing  Mampu
DIII Klinik mengembangkan
Keperawtan Keperawtan pelayanan
keperawatan
 Mampunyai
semangat
professional
 Reputasi baik

4 Sub Perndidikan 3. Manajemen Pengalaman kerja 5


Komite Sarjana Keperawatan tahun
Mutu Keperawatan/ 4. Pembimbing  Mampu
DIII Klinik mengembangkan
Keperawtan Keperawtan pelayanan
keperawatan
 Mampunyai
semangat
professional
 Reputasi baik
Sub Perndidikan 5. Manajemen Pengalaman kerja 5
Komite Sarjana Keperawatan tahun
Etik Keperawatan/ 6. Pembimbing  Mampu
Disiplin DIII Klinik mengembangkan
Keperawtan Keperawtan pelayanan
keperawatan
 Mampunyai
semangat
professional
 Reputasi baik
BAB IX
KEGIATAN ORIENTASI

Orientasi merupakan kegiatan pengenalan mengenai Komite


Keperawatan Fungsional di Rumah Sakit yang meliputi tentang
penyelenggaraan Komite Keperawatan Fungsional, susunan organisasi, tata
kerja serta prosedur tetap di Komite Keperawatan Fungsional. Kegiatan
orientasi tentang Komite Keperawatan Fungsional meliputi :

A. Sasaran orientasi Komite Keperawatan Fungsional


1. Calon tenaga keperawatan di Rumah Sakit Bangli Medika Canti

B. Tanggung Jawab
1. Direktur Rumah Sakit Umum Bangli Medika Canti bertanggung jawab
untukmenyediakan sarana, prasarana bagi program orientasi.
2. Ketua Komite Keperawatan Fungsional bertanggung jawab untuk
membuat usulan tentang materi, waktu pelaksanaan, metode dan
biaya yang berhubungan dengan program orientasi.

C. Tujuan
1. Agar calon tenaga keperawatan di Rumah Sakit mengetahui /
memahami falsafah dan tujuan serta penyelenggaraan Komite
Keperawatan Fungsional.
2. Mengetahui Struktur Organisasi dan Tata Kerja di Komite Keperawatan
Fungsional.
3. Mengetahui dan memahami Prosedur Kerja di Komite Keperawatan
Fungsional

D. Metode
1. Ceramah, tanya jawab.
2. Melihat langsung pelaksanaan kegiatan Komite Keperawatan
Fungsional.

E. Waktu
Waktu kegiatan orientasi disesuaikan dengan jadwal orientasi bagi
pegawai baru di Rumah Sakit.
BAB X
PERTEMUAN KEANGGOTAAN KOMITE KEPERAWATAN FUNGSIONAL

Rapat merupakan suatu pertemuan yang terdiri dari beberapa orang yang
memiliki kepentingan dan tujuan yang sama untuk membicarakan atau
memecahkan suatu masalah tertentu untuk menetukan program kerja
Komite Keperawatan Fungsional guna peningkatan mutu pelayanan Rumah
Sakit.
Penyelenggaraan rapat :
A. Rapat Komite Keperawatan Fungsional adalah rapat yang
diselenggarakan oleh Komite Keperawatan Fungsional
untukmembahas hal-hal yang berhubungan dengan keprofesian
tenaga keperawatan sesuai tugas dan kewajibannya.
B. Rapat Komite Keperawatan Fungsional terdiri dari rapat rutin, rapat
dengan Bagian Pelayanan, dan rapat khusus.
C. Peserta rapat Komite Keperawatan Fungsional selain Anggota Komite
Keperawatan Fungsional, apabila diperlukan dapat juga dihadiri oleh
pihak lain yang terkait dengan agenda rapat, baik internal maupun
eksternal Rumah Sakit yang ditentukan oleh Komite Keperawatan
Fungsional.
D. Setiap rapat Komite Keperawatan Fungsional dibuat notulen rapat.

Jenis pertemuan atau rapat di keanggotaan Komite Keperawatan Fungsional


:
A. Rapat rutin
1. Rapat rutin diselenggarakan terjadwal paling sedikit 1 (satu) kali dalam
3 (tiga) bulan dengan interval yang tetap pada waktu dan tempat yang
ditetapkan oleh Komite Keperawatan Fungsional;
2. Rapat rutin merupakan rapat koordinasi untuk mendiskusikan,
melakukan klarifikasi, mencari alternatif solusi berbagai masalah
pelayanan keperawatan dan membuat usulan tentang kebijakan
pelayanan keperawatan;
3. Notulen rapat rutin disampaikan pada setiap penyelenggaraan rapat
rutin berikutnya.

B. Rapat Komite Keperawatan Fungsional dengan Bidang Pelayanan


1. Rapat dengan Bidang Pelayanan diselenggarakan terjadwal paling
sedikit 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan dengan interval yang tetap
pada waktu dan tempat yang ditetapkan oleh Komite Keperawatan
Fungsional Fungsional dan Bagian pelayanan.
2. Rapat bertujuan untuk menginternalisasikan kebijakan dan
peraturan-peraturan yang berhubungan dengan profesi dan pelayanan
keperawatan, mendiskusikan berbagai masalah pelayanan
keperawatan, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, keuangan
serta menampung usulan tentang kebijakan pelayanan keperawatan;
3. Hasil rapat dengan Bidang Pelayanan disampaikan pada setiap
penyelenggaraan rapat dengan Bidang Pelayanan berikutnya.

C. Rapat khusus Komite Keperawatan Fungsional:


1. Rapat khusus diselenggarakan atas permintaan yang ditanda tangani
oleh paling sedikit 3 (tiga) orang anggota Komite Keperawatan
Fungsional.
2. Rapat khusus bertujuan untuk membahas masalah mendesak/penting
yang segera memerlukan penetapan/keputusan Direktur Rumah Sakit.
3. Undangan rapat khusus disampaikan oleh Sekretaris Komite
Keperawatan Fungsional kepada peserta rapat melalui telepon sebelum
rapat diselenggarakan dengan memberitahukan agenda rapat.
BAB X
PELAPORAN

A. Monitoring
Monitoring kegiatan Komite Keperawatan Fungsional dilakukan oleh
Ketua Komite.

B. Evaluasi
1. Evaluasi program kerja Komite Keperawatan Fungsional dilakukan
oleh Ketua Komite dengan frekuensi minimal setiap bulan.
2. Analisa evaluasi program kerja Komite Keperawatan Fungsional oleh
Komite Keperawatan Fungsional setiap 3 bulan.

C. Laporan
Prinsip pelaporan mutu pelayanan keperawatan :
1. Laporan kegiatan Komite Keperawatan Fungsional dilaporkan oleh
Komite Keperawatan Fungsional.
2. Laporan dibuat sistematik, singkat, tepat waktu dan informative.
3. Laporan dibuat dalam bentuk grafik atau table (bila perlu)
4. Laporan dibuat, triwulan, semester, tahunan.
5. Laporan disertai analisis masalah dan rekomendasi penyelesaian.
6. Laporan dipresentasikan dalam bentuk rapat koordinasi dengan
pimpinan.

Tujuan diseminasi agar pihak terkait dapat memanfaatkan informasi


tersebut untukmenetapkan strategi selanjutnya. Laporan disampaikan pada
seluruh anggota komite,keperawatan, pimpinan Rumah Sakit, ruangan atau
unit terkait.

Ditetapkan di : Bangli
Pada tanggal : Januari 2019
Direktur

dr. I WayanRinartha, MM
NIK..05.2013.070