Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN DAN

ASUHAN KEPERAWATAN
Pada An. E dengan Diagnosa Medis Global Developmental Delay (Sindrom Down)
dengan Bronlopneumonia Di Perawatan Anak RSUD Genteng Banyuwangi

Disusun Oleh :
Kelompok 3
1. Siti Nur Indah Sari (2016.02.077)
2. Imam Nur Fauzi (2016.02.016)
3. Diah Waskito Rini (2016.02.009)
4. Dian Punky (2016.02.010)
5. Septiana Kurnia Dewi (2016.02.075)

PRODI STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI
BANYUWANGI
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan “Bronkopneumonia” di


Ruang Perawatan Anak RSUD Genteng Banyuwangi yang dilakukan oleh :

Kelompok 3 : 1. Siti Nur Indah Sari (2016.02.077)


2. Imam Nur Fauzi (2016.02.016)
3. Diah Waskito Rini (2016.02.009)
4. Dias Punky (2016.02.010)
5. Septiana Kurnia Dewi (2016.02.075)
Prodi : S1 Keperawatan STIKes Banyuwangi

Sebagai salah satu syarat dalam pemenuhan tugas praktik laboratorium


keperawatan klinik, yang dilaksanakan pada tanggal 29 Juli – 03 Agustus 2019.

Banyuwangi, 02 Agustus 2019

Mengetahui,

Pembimbing Klinik Pembimbing Institusi

(Agus Estu Priyanto,S.Kep.Ners) (Ns. Ukhtul Izzah, S.Kep.)

Kepala Ruangan

(Agus Estu Priyanto,S.Kep.Ners)


KONSEP PENYAKIT

A. Definisi
Bronkopneumonia merupakan salah satu jenis pneumonia yang memiliki
pola penyebaran berbercak,teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di
dalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan disekitarnya
(Smeltzer dan Suzanne C,2002).
Bronkopneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh bermacam-
macam etiologi jamur dan seperti bakteri, virus, dan benda asing
(Ngastiyah,2005)
Bronkopneumonia suatu cadangan pada parenkim paru yang meluas sampai
bronkioli atau dengan kata lain peradangan yang terjadi pada jaringan paru
melalui cara penyebaran langsung melalui saluran pernafasan atau melalui
hematogen sampai ke bronkus (Riyadi Sujono dan Sukarmin,2009)
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan
bronkus dan bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy
distribution), Pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada paru yang
disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh
penyebab non-infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi jangan paru dan
gangguan pertukan gas setempat (Bradley et al,2011).
B. Klasifikasi
Berikut merupakan klasifikasi pneumonia :
1. Community Acquired Pneunomia dimulai juga sebagai penyakit pernafasan umum &
dapat berkembang menjadi sebuah pneumonia. Pneumonia Streptococal ialah
suatu organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini umumnya menimpa kalangan
anak-anak atau kalangan orang lanjut usia.
2. Hospital Acquired Pneumonia dikenal juga sebagai pneumonia nosokomial.
Organisme seperti ini ialah suatu aeruginisa pseudomonas. Klibseilla / aureus
stapilococcus, ialah bakteri umum penyebab hospital acquired pneumonia.
3. Lobar & Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Saat
Ini ini pneumonia diklasifikasikan berdasarkan organisme, bukan cuma menurut
lokasi anatominya.
4. Pneumonia viral, bakterial & fungi dikategorikan berdasarkan dari agen
penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk dapat mengidentifikasikan organisme
perusak.( Reeves, 2001).

C. Etiologi
Umumnya individu yg terserang bronchopneumonia diakibatkan karena adanya
penurunan mekanisme pertahanan daya tahan tubuh terhadap virulensi organisme
patogen. Orang yg normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap
organ pernafasan yg terdiri atas : reflek glotis & batuk, adanya lapisan mukus, gerakan
silia yg menggerakkan kuman ke arah keluar dari organ, & sekresi humoral setempat.
Timbulnya bronchopneumonia biasanya disebabkan oleh virus, jamur, protozoa,
bakteri, mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia. (Sandra M. Nettiria, 2001 : 682) antara
lain:
1. Virus : Legionella pneumonia
2. Jamur : Aspergillus spesies, Candida albicans
3. Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella.
4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru
5. Terjadi karena kongesti paru yang lama.

D. Patofisiologi
Sebagian besar penyebab dari bronkopneumonia ialah mikroorganisme (jamur,
bakter, virus) & sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (bensin, minyak
tanah, & sejenisnya). Serta aspirasi ( masuknya isi lambung ke dalam saluran napas).
Awalnya mikroorganisme dapat masuk melalui percikan ludah ( droplet) infasi ini dapat
masuk ke saluran pernapasan atas & menimbulkan reaksi imunologis dari tubuh. Reaksi
ini menyebabkan peradangan, di mana ketika terjadi peradangan ini tubuh dapat
menyesuaikan diri maka timbulah gejala demam pada penderita.
Reaksi peradangan ini dapat menimbulkan secret. Semakin lama secret semakin
menumpuk di bronkus maka aliran bronkus menjadi semakin sempit & pasien dapat
merasa sesak. Tidak Hanya terkumpul di bronkus, lama kelamaan secret dapat sampai
ke alveolus paru & mengganggu sistem pertukaran gas di paru.
Selain menginfeksi saluran napas, bakteri ini juga dapat menginfeksi saluran cerna
saat ia terbawa oleh darah. Bakteri ini akan membuat flora normal dalam usus menjadi
agen pathogen sehingga timbul masalah GI tract.
E. Pathway
F. Manifestasi Klinis
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktusrespiratoris bagian atas
selama beberapa hari suhu tubuh naik sangat mendadak sampai 39-40 derajat celcius
dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispenia
pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung serta sianosis sekitar
hidung dan mulut, kadang juga disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak
ditemukan pada permulaan penyakit tapi setelah beberapa hari mula-mula kering
kemudian menjadi produktif. Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis dengan
pemeriksaan fisik tetapi dengan adanya nafas dangkal dan cepat, pernafasan cuping
hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut dapat diduga adanya pneumonia. Hasil
pemeriksaan fisik tergantung luas daerah auskultasi yang terkena, pada perkusi sering
tidak ditemukan kelainan dan pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronchi basah
nyaring halus dan sedang. (Ngastiyah, 2005).

G. Pemeriksaan Penunjang
Untuk dapat menegakkan diagnose keperawatan dapat digunakan cara:
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
Pada kasus bronkopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis (
meningkatnya jumlah neutrofil) ( Sandra M,Nettina 2001: 684).
b. Pemeriksaan sputum
Bahan pemeriksaan diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam. Digunakan
untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes sensifitas untuk
mendeteksi agen infeksius (Barbara C, Long, 1996 : 435).
c. Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan status asam basa
(Sandra M, Nettina, 2001 : 684).
d. Kultur darah untuk mendeteksi bakterimia.
e. Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi untuk mendeteksi antigen
mikroba (Sandra M, Nettina 2001 : 684).
1. Pemeriksaan Radiologi
a. Rontgenogram thoraks
Menunujukan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada infeksi
pneumokokal atau klebsiella. Infilrate multiple seringkali dijumpai pada
infeksi stafilokokus dan haemofilus (Barbara C, Long, 1996 : 435).
b. Laringoskopi / bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan nafas tersumbat
oleh benda padat (Sandra M, Nettina, 2001).

H. Komplikasi
Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :
1. Atelektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna atau kolaps paru yang
merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau reflek batuk hilang.
2. Empyema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalm rongga pleura
yang terdapat disatu tempat atau seluruh rongga pleura.
3. Abses paru adalah pengumpulan pus dala jaringan paru yang meradang.
4. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
5. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak. (Whaley Wong, 2006)
I. Penatalaksanaan
a. Antibiotic seperti ; penisilin, eritromicin, kindomisin, dan sefalosforin.
b. Terapi oksigen (O2)
c. Nebulizer, untuk mengencerkandahak yang kental dan pemberian bronkodilator.
d. Istirahat yang cukup.
e. Kemoterafi untuk mikoplasma pneumonia dapat diberikan eritromicin 4x 500 mg/
hari atau tetrasiklin 3-4 x 500mg/ hari.
J. Pencegahan Pada Anak
a. Hindari anak dari paparan asap rokok, polusi dan tempat keramaian yang berpotensi
penularan.
b. Hindari kontak anak dengan penderita ISPA
c. Membiasakan pemberian ASI.
d. Segera berobat jika terjadi demam, batuk, dan pilek, terlebih disertai suara sesak dan
sesak pada anak.
e. Imunisasi Hb untuk kekebalan terhadapa hameophilus influenza.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1) Identitas.
2) Riwayat Keperawatan.
a. Keluhan utama.
Anak sangat gelisah, dispnea, pernapasan cepat dan dangkal, diserai pernapasan
cuping hidupng, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang disertai muntah
dan diare.atau diare, tinja berdarah dengan atau tanpa lendir, anoreksia dan muntah.
b. Riwayat penyakit sekarang.
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas
selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sangat mendadak sampai 39-40oC dan
kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.
c. Riwayat penyakit dahulu.
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun.
d. Riwayat kesehatan keluarga.
Anggota keluarga lain yang menderita penyakit infeksi saluran pernapasan dapat
menularkan kepada anggota keluarga yang lainnya.
e. Riwayat kesehatan lingkungan.
Menurut Wilson dan Thompson, 1990 pneumonia sering terjadi pada musim hujan
dan awal musim semi. Selain itu pemeliharaan ksehatan dan kebersihan lingkungan
yang kurang juga bisa menyebabkan anak menderita sakit. Lingkungan pabrik atau
banyak asap dan debu ataupun lingkungan dengan anggota keluarga perokok.
f. Imunisasi.
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk mendapat penyakit
infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena system pertahanan tubuh yang
tidak cukup kuat untuk melawan infeksi sekunder.
g. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak :
a. Faktor Keturunan : yaitu faktor gen yang diturunkan dari kedua orang tuanya.
b. Faktor Hormonal : banyak hormon yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan perkembangan anak, namun yang paling berperan adalah Growth
Hormon (GH).
c. Faktor Gizi : Setiap sel memerlukan makanan atau gizi yang baik. Untuk
mencapai tumbuh kembang yang baik dibutuhkan gizi yang baik.
d. Faktor Lingkungan : Terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan biologi dan
lingkungan psikososial.
Teori kepribadian yang dikemukakan oleh ahli psikoanlisa Sigmund freud
meliputi tahap : Fase oral, usia antara 0 - 11/2 Tahun
a. Fase anal, usia antara 11/2 - 3 Tahun
b. Fase Falik, usia antara 3 - 5 Tahun
c. Fase Laten, usia antara 5 - 12 Tahun
d. Fase Genital, usia antara 12 - 18 Tahun
Tahap perkembangan anak menurut Teori Psikososial
a. Bayi (oral) usia 0 - 1 Tahun
b. Usia bermain (Anal ) yakni 1 - 3 Tahun
c. Usia prasekolah (Phallic) yakni 3 - 6 Tahun
d. Usia sekolah (latent) yakni 6 - 12 tahun
e. Remaja (Genital) yakni 12 tahun lebih
f. Remaja akhir dan dewasa muda
g. Dewasa
h. Dewasa akhir
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak
a. Faktor keturunan (genetik)
Yaitu faktor yang diturunkan dari kedua orang tuanya ketika sel sperma
dan sel ovum bertemu maka akan terbentuk 46 pasang kromosom,23
kromosom dan sel ovum dan 23 kromosom dari sel sperma dan kromosom
ini yang nantinya akan membawa sifat yang diturunkan pada anak.
b. Faktor Hormonal
Kelenjar petuitari anterior mengeluarkan hormon pertumbuhan (Growth
Hormone, GH) yang merangsang pertumbuhan epifise dari pusat tulang
panjang. Tanpa GH anak akan tumbuh dengan lambat dan kematangan
seksualnya terhambat.
c. Faktor gizi
Untuk mencapai pertumbuhan yang optimal maka diperlukan juga gizi
yang baik
d. Faktor lingkungan
- Lingkungan fisik; termasuk sinar matahari, udara segar, sanitas, polusi,
iklim dan teknologi
- Lingkungan biologis; termasuk didalamnya hewan dan tumbuhan.
Lingkungan sehat lainnya adalah rumah yang memenuhi syarat
kesehatan.
- Lingkungan psikososial; termasuk latar belakang keluarga, hubungan
keluarga.
Tugas perkembangan anak
a. Bayi (0 - 1 tahun)
- Rasa percaya mencapai harapan,
- Dapat menghadapi frustrasi dalam jumlah kecil
- Mengenal ibu sebagai orang lain dan berbeda dari diri sendiri.
b. Usia bermain (1 - 3 Tahun)
- Perasaan otonomi.
- Mencapai keinginan
- Memulai kekuatan baru
- Menerima kenyataan dan prinsip kesetiaan
c. Usia pra sekolah ( 3 - 6 Tahun)
- Perasaan inisiatif mencapai tujuan
- Menyatakan diri sendiri dan lingkungan
- Membedakan jenis kelamin.
d. Usia sekolah ( 6 - 12 Tahun)
- Perasaan berprestasi
- Dapat menerima dan melaksanakan tugas dari orang tua dan guru
e. Remaja ( 12 tahun lebih)
- Rasa identitas
- Mencapai kesetiaan yang menuju pada pemahaman heteroseksual.
- Memilih pekerjaan
- Mencapai keutuhan kepribadian
f. Remaja akhir dan dewasa muda
- Rasa keintiman dan solidaritas
- Memperoleh cinta.
- Mampu berbuat hubungan dengan lawan jenis.
- Belajar menjadi kreatif dan produktif.
g. Dewasa
- Perasaan keturunan
- Memperoleh perhatian.
- Belajar keterampilan efektif dalam berkomunikasi dan merawat anak
- Menggantungkan minat aktifitas pada keturunan
h. Dewasa akhir
- Perasaan integritas
- Mencapai kebijaksanaan
h. Nutrisi.
Riwayat gizi buruk atau meteorismus (malnutrisi energi protein = MEP).
3) Pemeriksaan fisik
a. Sistem kardiovaskuler.
Takikardi, irritability.
i. Sistem pernapasan.
Sesak napas, retraksi dada, melaporkan anak sulit bernapas, pernapasan cuping
hidung, ronki, wheezing, takipnea, batuk produktif atau non produktif, pergerakan
dada asimetris, pernapasan tidak teratur/ireguler, kemungkinan friction rub, perkusi
redup pada daerah terjadinya konsolidasi, ada sputum/sekret. Orang tua cemas
dengan keadaan anaknya yang bertambah sesak dan pilek.
j. Sistem pencernaan.
Anak malas minum atau makan, muntah, berat badan menurun, lemah. Pada orang
tua yang dengan tipe keluarga anak pertama, mungkin belum memahami tentang
tujuan dan cara pemberian makanan/cairan personde.
k. Sistem eliminasi.
Anak atau bayi menderita diare, atau dehidrasi, orang tua mungkin belum
memahami alasan anak menderita diare sampai terjadi dehidrasi (ringan sampai
berat).
l. Sistem saraf.
Demam, kejang, sakit kepala yang ditandai dengan menangis terus pada anak-anak
atau malas minum, ubun-ubun cekung.
m. Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Tonus otot menurun, lemah secara umum,
n. Sistem endokrin.
Tidak ada kelainan.
o. Sistem integumen.
Turgor kulit menurun, membran mukosa kering, sianosis, pucat, akral hangat, kulit
kering.
p. Sistem penginderaan.
Tidak ada kelainan.
4). Pemeriksaan penunjang
Secara laboratorik ditemukan lekositosis, biasanya 15.000 - 40.000 / m3 dengan
pergeseran ke kiri. LED meninggi. Pengambilan sekret secara broncoskopi dan fungsi
paru-paru untuk preparat langsung; biakan dan test resistensi dapat
menentukan/mencari etiologinya.
Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar. Pada punksi misalnya dapat
terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman dari luar. Foto roentgen (chest x ray)
dilakukan untuk melihat :
a. Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis, dan OMA.
b. Luas daerah paru yang terkena.
c. Evaluasi pengobata
d. Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu atau
beberapa lobur.
e. Pada pemeriksaan ABGs ditemukan PaO2 < 0 mmHg.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan jalan nafas bersihan jalam nafas berhubungan dengan peningkatan
roduksi sputum dengan di tandai adanya ronchi dan ketidakefektifan batuk.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi pada jaringan paru di
tandai dengan sianosis ,PaO2 menurun ,sesak nafas
3. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi terhadap infeksi saluran nafas ditandai
dengan peningkatan suhu tubuh ,mengggigil ,akral teraba panas .
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme
sekunder terhadap demam dan proses infeksi di tandai dengan mafsu makan
menurun,BB turun ,mual dan muntah ,turgor kulit tidak elastis .
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dengan kebutuhan oksigen ditandai dengan tidak mampu berpartisipasi
dalam kegiatan sehari-hari sesuai kemampuan tanpa bantuan .
6. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
ditandai dengan kehilangan cairan karena berkeringat banyak ,muntah dan diare .
7. Resiko infeksi berhubungan dengan resiko terpajan bakteri patogen .

C. Intervensi Keperawatan
1 Diagnosa keperawatan : Ketidakefektifan jalan nafas bersihan jalam nafas
berhubungan dengan peningkatan roduksi sputum dengan di tandai adanya ronchi dan
ketidakefektifan batuk.
Tujuan dan Kriteria hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama (…x…)
diharapkan jalan nafas pasien efektif dengan criteria hasil : jalan nafas paten, tidak
ada bunyi nafas tambahan, tidak sesak, RR normal (35-40x/menit), tidak ada
penggunaan otot bantu nafas, tidak ada pernafasan cuping hidung.
Intervensi
1 Observasi TTV terutama respiratory rate
-Rasional : Member informasi tentang pola pernafasan pasien, tekanan darah,
nadi, suhu pasien
2 Auskultasi area dada atau paru, catat hasil pemeriksaan
- Rasional :Crekcels, ronkhi dan mengi dapat terdengar saat inspirasi dan
ekspirasi pada tempat konsolidasi sputum
3 Latih pasien batuk efektif dan nafas dalam
- Rasional :Memudahkan bersihan jalan nafas dan ekspansi maksimum paru
4 Lakukan suction sesuai indikasi
- Rasional :Mengeluarkan sputum pada pasien tidak sadar atau tidak mampu
batuk efektif
5 Memberi posisi semifowler atau supinasi dengan elevasi kepala
- Rasional: Meningkatkan ekspansi paru
6 Anjurkan pasien minum air hangat
-Rasional :Air hangat dapat memudahkan

2. Diagnosa keperawatan : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan proses


infeksi pada jaringan paru di tandai dengan sianosis ,PaO2 menurun ,sesak nafas
Tujuan dan kriteria hasil: setelah dilakukan asuhan (..x..) diharapkan ventilasi pasien
tidak terganggu dengan KH : GDA dalam rentang normal ( PO2 = 80 – 100 mmHg,
PCO2 = 35 – 45 mmHg, pH = 7,35 – 7,45, SaO2 = 95 – 99 %), tidak ada sianosis,
pasien tidak sesak dan rilex
Intervensi ;
1. Kaji frekuensi, kedalaman, kemudahan bernapas pasien.
Rasional : Memberi informasi tentang pernapasan pasien
2. Observasi warna kulit, membran mukosa bibir.
Rasional : Kebiruan menunjukkan sianosis.
3. Berikan lingkungan sejuk, nyaman, ventilasi cukup.
Rasional : Untuk membuat pasien lebih nyaman.
4. Tinggikan kepala, anjurkan napas dalam dan batuk efektif.
Rasional: Meningkatkan inspirasi dan pengeluaran sekret.
5. Pertahankan istirahat tidur.
Rasional : Mencegah terlalu letih.
6. Kolaborasikan pemberian oksigen dan pemeriksaan lab (GDA)
Rasional : Mengevaluasi proses penyakit dan mengurangi distres respirasi.
3. Diagnosa keperawatan : Hipertermi berhubungan dengan inflamasi terhadap infeksi
saluran nafas ditandai dengan peningkatan suhu tubuh ,mengggigil ,akral teraba
panas
Tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama (...x...)
diharapkan suhu pasien turun atau normal (36,5 – 37,5°C) dengan KH: pasien tidak
gelisah, pasien tidak menggigil, akral teraba hangat, warna kulit tidak ada
kemerahan.
Intervensi
1. Kaji suhu tubuh pasien
Rasional : Data untuk menentukan intervensi
2. Pertahankan lingkungan tetap sejuk
Rasional : Menurunkan suhu tubuh secara radiasi
3. Berikan kompres hangat basah pada ketiak, lipatan paha, kening (untuk
sugesti)
Rasional : Menurunkan suhu tubuh secara konduksi
4. Anjurkan pasien untuk banyak minum
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh
meningkat, sehingga diimbangi dengan intake cairan yang banyak
5. Anjurkan mengenakan pakaian yang minimal atau tipis
Rasiona :Pakaian yang tipis mengurangi penguapan cairan tubuh
6. Berikan antipiretik sesuai indikasi
Rasional : Antipiretik efektif untuk sesuai indikasi
7. Berikan antimikroba jika disarankan
Rasional : Mengobati organisme penyebab

4. Diagnosa keperawatan : Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan


peningkatan metabolisme sekunder terhadap demam dan proses infeksi di tandai
dengan mafsu makan menurun,BB turun ,mual dan muntah ,turgor kulit tidak elastis
Tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama (...x...)
diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat dengan KH: nafsu makan pasien
meningkat, BB pasien ideal, mual muntal berkurang, turgor kulitelastis, pasien tidak
lemas
Intervensi

1. Kaji penyebab mual muntah pasien


Rasional : Untuk menentukan intervensi selanjutnya
2. Berikan perawatan mulut
Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan
3. Bantu pasien membuang atau mengeluarkan sputum sesering mungkin
Rasional : Sputum dapat menyebabkan bau mulut yang nantinya dapat
menurunkan nafsu makan
4. Anjurkan untuk menyajikan makanan dalam keadaan hangat
Rasional : Membantu meningkatkan nafsu makan
5. Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
Rasional : Meningkatkan intake makanan
5. Diagnosa keperawatan: Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berhubungan
dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen ditandai dengan
tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari sesuai kemampuan tanpa
bantuan .
Tujuan dan kriteria hasil :setelah diberikan asuhan keperawatan selama (…x…)
diharapkan toleransi pasien terhadap aktifitas meningkat dengan KH : pasien mampu
berpartisipasi dalam kegiatan sehari – hari sesuai kemampuan tanpa bantuan, pasien
mampu mempraktekkan teknik, penghematan energy, TTV stabil (S = 36,5°C –
37,5°C, N = 75 – 100x/menit, RR = 35 -40 x/ menit.
Intervensi:
1. Evaluasi tingkat kelemahan dan toleransi pasien dalam melakukan kegiatan
Rasional : Sebagai informasi dalam menentukan intervensi selanjutnya
2. Berikan lingkungan yang tenang dan periode istirahat tanpa ganguan
Rasional : Menghemat energy untuk aktifitas dan penyembuhan
3. Bantu pasien dalam melakukan aktifitas sesuai dengan kebutuhannya
Rasional : Oksigen yang meningkat akibat aktifitas
4. Kolaborasi berikan oksigen tambahan
Rasional : Mengadekuatkan persediaan oksigen

6. Diagnosa keperawatan : Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan


dengan peningkatan suhu tubuh ditandai dengan kehilangan cairan karena
berkeringat banyak ,muntah dan diare .
Tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama (…x…)
diharapkan volume cairan tubuh pasien seimbang dengan KH : membrane mukosa
pasien lembab, turgor kulit baik, pengisian capiler cepat / < 3detik, input dan output
seimbang, pasien tidak muntah. Pasien tidak diare, TTV normal (S = 36,5°C –
37,5°C, N = 75 – 100x/menit, RR = 35 -40 x/ menit)
Intervensi:
1 Observasi TTV @ 2- 4 jam, kaji turgor kulit.
Rasional : Peningkatan suhu menunjukkan peningkatan metabolic
2 Pantau intake dan output cairan
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan volume cairan
3 Anjurkan pasien minum air yang banyak
Rasional : Menurunkan resiko dehidrasi
4 Kolaborasi :
Berikan terapi intravena seperti infuse sesuai indikasi
Rasional : Melengkapi kebutuhan cairan pasien
5. Pasang NGT sesuai indikasi untuk pemasukan cairan
Rasional : Membantu memenuhi cairan bila tidak bias dilakukan secara oral
7. Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi berhubungan dengan resiko terpajan bakteri
patogen .
Tujuan dan kriteria hasil: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam
diharapkan infeksi tidak terjadi dengan KH: klien bebas dari tanda dan gejala infeksi,
menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi, jumlah leukosit dalam
batas normal, menunjukkan perilaku hidup
Intervensi
1. Kaji suhu badan 8 jam
Rasional : Mendeteksi adanya tanda dari infeksi
2. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
Rasional : Mempermudah untuk penanganan jika infeksi terjadi
3. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas
Rasional : Panas, kemerahan merupakan tanda dari infeksi
4. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
Rasional : Dengan melibatkan keluarga tanda infeksi lebih cepat diketahui
5. Kolaborasi Berikan terapi antibiotik
Rasional : Antibiotik efektif untuk mencegah penyebaran bakteri

D. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah di buat sebelumnya.

E. Evaluasi
Evaluasi tentang semua tindakan atau terapi yang telah dilakukan oleh perawat kepada
pasien, apakah pasien mengalami kemajuan tentang kesehatannya atau justru mengalami
kemunduran. Selain iu evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui rencana keperawatan
selanjutnnya.
F. Dokumentasi
Semua tindakan keperawatan dariproses keperawatan semua didokumentasikan,
dicatat didokumentasikan sebagai bukti untuk untuk pasien dan tanggung jawab sebagai
perawat.