Anda di halaman 1dari 4

Jawaban UTS

Soal 1 :

Aliran kas keluar (Initial Cash Outlays):


Harga beli Mesin Baru: Rp. 190.000.000
Harga beli Mesin Lama = Rp. 160.000.000
Akumulasi Penyusutan = 5 x Rp. 15.000.000 = Rp. 75.000.000
Nilai Buku Mesin Lama = Rp. 85.000.000  Rp. 85.000.000
Harga Jual Mesin Lama = Rp. 105.000.000
Laba penjualan mesin lama = Rp. 20.000.000
Pajak penghasilan penjualan mesin, 40% = Rp 8.000.000
Laba bersih penjualan mesin lama = Rp. 12.000.000  Rp. 12.000.000 -
Capital Outlays (Investasi bersih) penggantian mesin Rp. 93.000.000
Menghitung biaya depresiasi per tahun:
Depresiasi mesin lama = (160.000.000 - 10.000.000) : 10 = Rp. 15.000.000
Depresiasi mesin baru = (190.000.000 - 10.000.000) : 5 = Rp. 36.000.000

Taksiran cash inflow setiap tahun dari penghematan biaya:


Penghematan biaya Rp. 50.000.000
Depresiasi mesin baru = Rp. 36.000.000
Depresiasi mesin lama = Rp. 15.000.000
Tambahan biaya depresiasi Rp. 21.000.000 –
Penghematan bersih sebelum pajak Rp. 29.000.000
Pajak penghasilan = 40% x Rp. 29.000.000 Rp. 11.600.000 –
Penghematan bersih setelah pajak (EAT) Rp. 17.400.000
Tambahan depresiasi Rp. 21.000.000 +
Aliran kas masuk bersih (penghematan biaya) Rp. 38.400.000

Setelah aliran kas keluar dan kas masuk dihitung, kemudian kita lakukan penilaian
kelayakan usulan investasi penggantian tersebut dengan metode NPV dan IRR.
a. Penilaian Net Present Value dengan discount rate 22%
PV dari penghematan biaya (tahun 1 - 5) = 38.400.000 (2,864) = Rp. 109.977.600
Present Value dari nilai residu (tahun ke 5) = 10.000.000 (0,370) = Rp. 3.700.000
Total Present Value dari cash inflow = Rp. 113.677.600
Total Present Value dari Outlays (Investasi) = Rp. 93.000.000
Net Present Value investasi penggantian mesin = Rp. 20.677.600
Karena NPV penggantian mesin sebesar Rp. 20.677.600 (positif), maka perusahaan
layak untuk mengganti mesin lama dengan mesin baru.

b. Penilaian dengan metode Internal Rate of Return (IRR)


NPV untuk discount rate 22% = Rp. 20.677.600
NPV untuk discount rate 35%:
PV penghematan biaya = 38.400.000 (2,222) = Rp. 85.324.800
PV nilai residu = 10.000.000 (0,223) = Rp. 2.230.000
Total PV aliran kas masuk = Rp. 87.554.800
PV investasi (outlays) = Rp. 93.000.000 –
NPV investasi penggantian, DR = 35% = -Rp. 5.445.200
Selisih NPV = Rp. 26.112.800
IRR = 22% + (20.667.600 / 26.112.800) x (35% - 22%)
IRR = 22% + 10,29% = 32,29%.
IRR sebesar 32,29 % lebih besar dari discount rate-nya (22%), maka investasi
penggantian layak dilaksanakan.

Soal 2 :
a. Make or buy decision
a)
Membuat Tawaran Membeli Differential cost
Biaya bahan baku Rp 5.000.000,00 Rp 0 Rp 5.000.000,00
Biaya tenaga kerja variabel Rp 10.000.000,00 Rp 0 Rp 10.000.000,00
Biaya overhead pabrik variabel Rp 3.000.000,00 Rp 0 Rp 3.000.000,00
Biaya overhead pabrik tetap terhindarkan Rp 4.000.000,00 Rp 0 Rp 4.000.000,00
Biaya overhead pabrik tetap bersama Rp 5.000.000,00 Rp 0 Rp 5.000.000,00
Biaya Pembelian Rp 0 Rp 25.000.000,00 (Rp 25.000.000,00)
Total Biaya Relevan Rp 27.000.000,00 Rp 25.000.000,00 Rp 2.000.000,00
Analisa diatas menunjukkan bahwa membeli suku cadang A maka biaya yang dikeluarkan
Rp 2.000.000 lebih murah dari pada membuat sendiri. Dengan demikian manajer akan
memutuskan untuk membeli dari pada membuat sendiri suku cadang A.

b)
Apabila menyewakan fasilitas produksi maka differential cost akan bertambah positif
menjadi : Rp 2.000.000 + Rp 4.000.000 = Rp 6.000.000,00 Dengan demikian manajer akan
memutuskan untuk membeli dari pada membuat sendiri suku cadang A.

b. Menjual or Proses lebih lanjut

Penyelesaian :
Laba diferensial = Pendapatan diferensial - Biaya diferensial
= [(Rp 18.000 – Rp 10.000) x 10.000] – [Rp 4.000 x 10.000]
= Rp 80.000.000 - Rp 40.000.000
= Rp 40.000.000

Nilai Tunai laba diferensial :


Tahun ke 1 = 0.83333 x Rp 40.000.000 = Rp 33.333.200
Tahun ke 2 = 0.69444 x Rp 40.000.000 = Rp 27.777.600
Tahun ke 3 = 0.57870 x Rp 40.000.000 = Rp 23.148.000
Jumlah Nilai Tunai laba diferensial = Rp 84.258.800 (A)
Investasi = Rp 50.000.000 (B)
Nilai Tunai Bersih = Rp 34.258.800
Karena nilai tunai bersih yang dihasilkan adalah positif, dimana jumlah nilai tunai A lebih
besar dari pada jumlah nilai tunai B, maka keputusan untuk memproses lebih lanjut
untuk produk A menjadi produk A-1 dapat diterima.

c. Menghentikan or Melanjutkan
data laporan laba/rugi ketiga departemen tersebut adalah sebagai berikut :
Depatermen A Depatermen B Depatermen C Jumlah (Rp)
Penjualan Rp 50.000.000 Rp 25.000.000 Rp 25.000.000 100,000,000.00
Biaya variabel Rp 25.000.000 Rp 10.000.000 Rp 12.000.000 47,000,000.00
Laba kontribusi Rp 25.000.000 Rp 15.000.000 Rp 13.000.000 53,000,000.00
-
Biaya tetap terhindarkan Rp 10.000.000 Rp 8.000.000 Rp 11.000.000 29,000,000.00
Biaya tetap tak terhindarkan Rp 3.000.000 Rp 3.000.000 Rp 3.000.000 9,000,000.00
Total biaya tetap Rp 13.000.000 Rp 11.000.000 Rp 14.000.000 38,000,000.00
-
Laba (rugi) bersih Rp 12.000.000 Rp 4.000.000 (Rp 1.000.000) 15,000,000.00
Analisis pendapatan dan biaya diferensialnya adalah sebagai berikut:
Menerusakan Menghentikan Perbedaan (Rp)
Depatermen C Depatermen C
(Rp) (Rp)
Pendapatan 100.000.000,00 75.000.000,00 25.000.000,00
Biaya variabel 47.000.000,00 35.000.000,00 12.000.000,00
Biaya tetap terhindarkan 29.000.000,00 18.000.000,00 11.000.000,00
Jumlah Biaya 76.000.000,00 53.000.000,00 23.000.000,00
Laba sebelum biaya tetap tak 24.000.000,00 22.000.000,00 2.000.000,00
terhindarkan

Analisis:
 Apabila menghentikan departemen C maka jumlah biaya yang dikeluarkan sebesar Rp.
23.000.000, dan pendapatan sebesar Rp. 25.000.000, akan dikorbankan.
 Pada tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah biaya kesempatan (opportunity cost)
adalah sebesar Rp. 25.000.000, lebih besar dari pada biaya terhindarkan maka sebaiknya
perusahaan meneruskan departemen C.
 Sebaliknya, jika biaya kesempatan lebih kecil dari pada biaya terhindarkan sebaiknya
perusahaan memutuskan untuk menghentikan departemen tersebut.
 Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis tersebut sebaiknya PT. ABC meneruskan
departemen C.

d. Menerima/Menolak Pesanan Khusus


Data PT ABC sebagai berikut :
Biaya/unit Total
Penjualan 150.000 Unit Rp 1.250 Rp 187.500.000
Biaya variabel :
Biaya produksi variabel Rp 400 Rp 60.000.000
Biaya komersial variabel Rp 120 Rp 18.000.000
Biaya tetap :
Biaya produksi tetap Rp 300 Rp 45.000.000
Biaya komersial tetap Rp 150 Rp 22.500.000
Jumlah biaya Rp 970 Rp 145.500.000
Laba perusahaan Rp 42.000.000

Maka untuk pengambilan keputusan tersebut diperlukan analisis dengan perhitungan sebagai berikut:

Keterangan Produksi Pesanan Selisih


Reguler Khusus
Hasil Penjualan :
150.000 unit @ Rp1.250 Rp 187.000.000
(150.000 unit @ Rp 1.250)+(30.000 unit @ Rp 211.000.000 Rp 24.000.000
Rp 800)

Biaya Produksi Variabel :


150.000 x Rp 520 Rp 78.000.000
(150.000+30.000) x Rp 520 Rp 93.600.000 Rp 15.600.000
Margin Kontribusi Rp 109.000.000 Rp 117.400.000 Rp 8.400.000

Kesimpulan:
Pesanan khusus diatas sebaiknya diterima karena jumlah margin kontribusinya positif dari Rp.
109.000.000, menjadi Rp. 117.000.000, terdapat jumlah peningkatan laba jika pesanan tersebut
diterima yaitu sebesar Rp. 8.400.000, dan PT ABC tidak perlu mengeluarkan biaya tetap lagi jika
mendapat pesanan dengan harga khusus.

e. Bauran Produk ?
Kasus 1 PT Alya ?

Kasus 1 Sherwood?

Kasus 2

Keputusan Manajerial :

1. Hitunglah titik impas untuk setiap proses :

BEP = Penjualan – Biaya variable – biaya tetap

Proses Pertama :
0 = ($30 x a) - ($10 x a) - $100.000
0 = ($20 x a) – $100.000
$20 x a = $100.000
a = 50000

Proses Kedua :
0 = ($30 x a) - ($6 x a) – $200.000
0 = ($24 x a) - $200.000
$24 x a = $200.000
a = 8.333,34

2. ($30 x a) - ($10 x a) - $100.000 = ($30 x a) - ($6 x a) – $200.000


($20 x a) - $100.000 = ($24 x a) - $200.000
$20a - $100.000 = $24a - $200.000
$200.000 - $100.000 = $24a - $20a
$100.000 = $4a
a = 25.000

Proses manual lebih menguntungkan jika penjualan < 25.000 kotak, sedangkan
proses otomatisasi lebih menguntungkan pada tingkat penjualan > 25.000 kotak.
manajer divisi menginginkan prakiraan penjualan untuk membantu dalam
memutuskan proses produksi yang harus dipilih.

3. Manajer divisi memiliki hak untuk memutuskan proses mana yang lebih baik. Danna
secara moral berkewajiban untuk melaporkan informasi yang benar ke atasannya.
Dengan mengubah prakiraan penjualan, disini dia tidak adil dan tidak etis yang
akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Manajer yang memiliki
kewajiban moral untuk menilai dampak dari keputusan mereka pada karyawan, dan
untuk bersikap adil dan jujur dengan karyawan. Perilaku Danna ini tidak dibenarkan
oleh fakta bahwa itu membantu sejumlah karyawan mempertahankan pekerjaan
mereka.

Anda mungkin juga menyukai