Anda di halaman 1dari 2

Organoleptik

Organoleptis sediaan emulgel dari ekstrak aseton kulit buah matoa yang dihasilkan diamati.
Organoleptis yang diamati meliputi bau, warna, tekstur dan konsistensi. Pengamatan
organoleptis ini dilakukan karena berkaitan dengan acceptability dari sediaan emulgel
tersebut. Pengujian dilakukan setelah 28 hari pembuatan sediaan emulgel. Hasil pengamatan
uji organoleptis ekstrak emulgel dari ekstrak aseton kulit buah matoa ditunjukkan pada
tabel ...........
Dari tabel .........., dapat dilihat bahwa secara keseluruhan emulgel yang dihasilkan memiliki
bau khas RH 40, berwarna jingga bening dengan tekstur yang lembut serta memiliki rata-rata
konsistensi kental. Pengamatan yang dilakukan oleh penguji pada sediaan emulgel dari
ekstrak aseton kulit buah matoa tidak terjadi perubahan yang berarti pada sediaan tersebut
hingga hari ke 28 pengamatan. Berdasarkan data tersebut, diharapkan emulgel dari ekstrak
aseton kulit buah matoa yang dibuat dapat memenuhi aspek acceptability.

Homogenitas
Hasil pemeriksaan homogenitas sediaan emulgel dari ekstrak aseton kulit buah matoa hingga
hari ke 28 pengamatan adalah homogen. Pengujian homogenitas dilakukan dengan cara
sampel gel dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, sediaan
harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen
POM, 1985). Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada saat proses
pembuatan emulgel bahan aktif obat dengan bahan dasarnya dan bahan tambahan lain yang
diperlukan tercampur secara homogen sehingga jumlah zat aktif yang dilepaskan akan
terkendali.

pH
emulgel yang dibuat harus memiliki pH yang masuk dalam rentang pH fisiologis kulit. Hal
ini dikarenakan jika pH dari sediaan diluar pH fisiologis kulit maka dapat memicu reaksi
iritasi pada kulit. Kulit memiliki rentang pH antara 4,5 hingga 6,5. Semakin asam atau
semakin basa suatu bahan mengenai kulit, maka kulit akan sulit menetralisirnya dan akan
menyebabkan kulit menjadi pecah-pecah, sensitif dan mudah terkena infeksi (Tranggono dan
Latifah, 2007). Uji pH pada sediaan dilakukan dengan menimbang 1 gram yang telah
dilarutkan dengan aquadest 10 mL. Setelah itu pH meter dicelupkan ke dalam larutan tersebut
dan dicatat hasilnya(29). pH dari sediaan akan mempangaruhi solubilitas dan stabilitas selama
penyimpanan. Hasil penentuan pH sediaan emulgel dengan menggunakan pH meter dapat
dilihat pada Tabel ....
Berdasarkan pada hasil pengamatan pH dari masing-masing formula sediaan emulgel selama
penyimpanan 28 hari pengamatan pada suhu kamar, dapat dilihat bahwa terjadi kenaikan pH
pada sediaan emulgel dari ekstrak aseton kulit buah matoa perubahan pH tidak terjadi secara
signifikan sehingga dapat dikatakan pH sediaan relatif stabil padapenyimpanan dan masih
berada dalam range pH normal kulit yaitu 5,0-6,8 (Ansari, 2009). Mengacu pada nilai pH
tersebut, sediaan gel ekstrak rimpang jahe merah masih memenuhi persyaratan.

Viskositas

Daya Sebar
Yang terakhir uji daya sebar, uji ini dilakukan untuk mengetahui kecepatan penyebaran
emulgel pada kulit dan mengetahui kelunakan dari salep untuk menyebar pada kulit. Uji ini
dilakukan dengan sediaan sebanyak setengah gram diletakkan pada kaca transparan, kaca
lainnya diletakkan diatasnya dan dibiarkan selama 1 menit. Diameter penyebaran sediaan
diukur.Kemudian ditambahkan beban 50 gram, didiamkan selama 1 menit. Diameter
penyebaran sediaan diukur kembali pada beberapa sisi. Dilakukan penambahan beban hingga
sediaan tidak mampu untuk menyebar lagi (palupi 2018). Hasil uji daya sebar yang dilakukan
adalah diameter penyebarannya sebesar ...... cm dengan berat beban 50 gram. Berdasarkan
Garg et al (2002), rentang daya sebar yang disyaratkan untuk sediaan topikal adalah sebesar
5-7 cm.

Iritasi