Anda di halaman 1dari 4

Urgensi Memahami Islamic Worldview

Oleh : Arif Setya

Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, terdapat sekurang-kurangnya tiga alasan mengapa
kajian mengenai pandangan hidup (worldview) menjadi penting dalam era globalisasi dan
perang pemikiran dewasa ini. Pertama, ketika institusi agama-agama berhadapan dengan
proses globalisasi, penegasan identitas diri secara konprehensif hanya dapat dilakukan
melalui worldview. Kedua, di tengah masyarakat yang pluralistis, denominasi kultural perlu
memiliki pandangannya sendiri dalam melihat realitas sosial dan kultural di sekitarnya.
Ketiga, sebagai kombinasi dari poin pertama dan kedua, peristiwa 11 September 2001 di New
York dan Washington DC dipahami oleh banyak pengamat sebagai contoh kongkret dari
benturan peradaban (clash of civilization) dalam istilah Samuel Huntington atau benturan
presepsi (collision of consciousness) dalam istilah Peter Berger.1
Benturan peradaban ataupun presepsi tidak lain adalah benturan pandangan hidup
(worldview), sebab setiap agama, bangsa dan peradaban memiliki pandangan hidup masing-
masing. Sayang masih banyak yang mencoba memahami Islam hanya sebatas Islam sebagai
agama, dan bukan sekaligus sebagai pandangan hidup. Karena itu dalam konteks era
globalisasi, penjelasan Islam sebagai agama dan worldview tidak saja relevan tapi juga urgent.
Islam adalah agama (din) dengan seperangkat ritus peribadatan dengan hukum-
hukumnya, konsep-konsep tentang Tuhan, manusia, alam semesta dan konsep-konsep
lainnya yang kokoh sehingga berkembang menjadi peradaban (madaniiyah). Bagunan konsep
Islam sebagai agama dan peradaban ini mencerminkan sebuah pandangan hidup yang
memiliki struktur konseptualnya sediri yang eksklusif dan berbeda dari peradaban lain.
Namun sebelum membahas islamic worldview, pertama-tama perlu dijelaskan pengertian
secara umum apa itu pandangan hidup.2
Istilah yang umum digunakan untuk memaknai pandangan hidup adalah worldview
(Inggris), weltanschauung atau weltansicht (Jerman), yang terkadang disebut juga dengan
paradigma. Worldview adalah suatu konsep yang dapat digunakan untuk menggambarkan
cara pandang manusia secara umum tanpa melihat bangsa atau agama. Karenanya, beberapa
definisi tentang worldview dari berbagai tokoh memiliki perbedaan spektrum.
Menurut Ninian Smart worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang
terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan

1
Hamid Fahmy Zarkasyi, Islam Sebagai Worldview, dalam Laode M. Kamaluddin, On Islamic Civilization:
Menyalakan Kembali Lentera Peradaban Islam yang Sempat Padam, (Semarang: UNISSULA Press, 2010) hal. 95-
6. Selajutnya diringkas Islam Sebagai Worldview.
2
Ibid, 97-101
perubahan sosial dan moral.3 Sementara menurut Thomas Wall worldview adalah sistem
kepercayaan asas yang integral tentang hakikat diri kita, realitas, dan tentang makna
eksistensi.4 Lebih luas dari dua definisi sebelumnya, Prof. Alparslan mendefinisikan worldview
sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiah dan teknologi.
Maka setiap aktivitas manusia akhirnya dapat dilacak pada worldview-nya masing-masing.5
Ada tiga poin penting dari penjelasan worldview diatas, yakni bahwa worldview adalah
motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas, dan asas bagi aktivitas ilmiah.
Dalam konteks sains, worldview dapat dikaitkan dengan konsep ‘perubahan paradigma’
(paradigm shift) ala Thomas S. Kuhn.6 Sebab paradigma menyediakan konsep nilai; standar-
standar dan metodologi atau ringkasnya merupakan worldview dan framework konseptual
yang diperlukan dalam kajian sains.7
Ketiga definisi di atas berlaku bagi peradaban atau agama secara umum. Namun definisi
untuk Islam mempunyai nilai tambah karena sumber dan spektrumnya yang luas dan
menyeluruh. Istilah worldview sebenarnya tidak sesuai dengan makna yang dimaksud Islam,
sebab istilah yang terjemahannya pandangan dunia itu tidak mampu menapung makna yang
berdimensi dunia dan akhirat.8 Namun bahasa Inggris tidak memiliki istilah lain kecuali itu.
Untuk mempermudah pengertian, dalam diskursus ini istilah worldview dipakai sebagai kata
pinjaman. Namun ketika ia diberi kata sifat Islam maka ia telah berubah definisinya. Itulah
yang kita sebut dengan Islamic Worldview.9
Perlu dipahami juga, walaupun dalam tradisi klasik terma khusus untuk pengertian
worldview belum diketahui, tidak berarti Islam tidak memiliki worldview. Para ulama abad 20
menggunakan terma khusus untuk pengertian worldview ini, meskipun berbeda antara satu
dengan yang lain. Maulana al-Maududi mengistilahkannya dengan Islami nazariat (Islamic
Vision), Sayyid Qutb menggunakan istilah al-Tasawwur al-Isalami (Islamic Vision),
Muhammad Atif al-Zayn menyebutnya al-Mabda’ al-Islami (Islamic Pronciple), Prof. Naquib
al-Attas menamakannya Ru’yatul Islam lil wujud (Islamic Worldview).10
Menurut al-Maududi, yang dimaksud Islami Nazariat adalah pandangan hidup yang
dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan

3
Ninian Smart, Worldview: Crossciltural Exploration of Human Belief, (New York: Charles Scibner’s Son) hal. 1-2
dalam Islam Sebagai Worldview, hal. 98
4
Thomas Wall, Thinking Critically About Philosopical Problem: A Modern Introduction, (Australia: Thomson
Learning, 2001) hal. 532 dalam Islam Sebagai Worldview, hal. 98
5
Alparslan Acikgence, The Framework for A History of Islamic Philosophy, Al-Shajarah, Journal of the
International Institute of Islamic Thought and Civilization, (ISTAC, 1996, vol. 1. Nos. 1&2, 6.), dalam Islam
Sebagai Worldview, hal. 98
6
Thomas S. Kuhn, Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, (Surabaya: Remaja Rosda Karya, 1993)
7
Edwin Hung, The Nature of Science: Problem and Perspectives, (Belmont, California, Wardsworth, 1997) hal.
240, 355, 368, 370, dalam Islam Sebagai Worldview, hal. 98
8
Kajian Ninian Smart menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris worldview tidak mencakup makna pandangan
hidup yang menggambarkan visi keagamaan dan ideologi. Ninian Smart, Worldview: Crosscultural Exploration of
Human Belief, hal. 1-2
9
Hamid Fahmy Zarkasyi, Islamic Worldview sebagai Paradigma Sains Islam, dalam Syamsuddin Arif, Islamic
Science : Paradigma, Fakta, dan Agenda, (Jakarta: INSISTS, 2016) hal. 3. Selajutnya diringkas Paradigma Sains
Islam
10
Islam Sebagai Worldview, hal. 100-101
kehidupan manusia di dunia. sebab shahadah adalah peryataan moral yang mendorong
manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupan secara menyeluruh.
Syaikh Atif al-Zayn mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah (kepercayaan yang
rasional) yang berdasarkan pada akal. Sebab setiap Muslim wajib beriman hakikat wujud
Allah, kenabian Muhammad Saw., dan kepada al-Qur’an dengan akal. Iman kepada hal-hal
yang ghaib itu berdasarkan cara penginderaan yang diteguhkan oleh akal sehingga tidak dapat
dipungkiri lagi. Iman kepada Islam sebagai Din yang diturunkan melalui Nabi Muhammad
Saw., untuk menganut hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya, dan lainnya.
Sayyid Qutb mengartikan al-Tasawwur al-Islami, sebagai akumulasi dari keyakinan asasi
yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus
tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibaliknya itu.
Sedangkan bagi Prof. Naquib al-Attas, Islamic Worldview adalah pandagan Islam
tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan
hakikat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka Islamic
Worldview berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yatul Islam lil wujud).
Pandangan-pandangan diatas telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai
suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Namun, jika
kita kaji keseluruhan pemikiran dibalik definisi para ulama tersebut kita dapat beberapa
orientasi yang berbeda. Al-Maududi lebih mengarahkan kepada kekuasaan Tuhan yang
mewarnai segala aktivitas kehidupan manusia, yang berimplikasi politik. Syaikh Atif al-Zayn
dan Sayyid Qutb lebih cenderung memahaminya sebagai seperangkan doktrin kepercayaan
rasional yang implikasinya adalah ideologi. Sedangkan Prof. Naquib al-Attas lebih cenderung
kepada makna metafisis dan epistemologis. Jika keempat penekanan di atas disinthesiskan
maka pandangan hidup Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang
menjelaskan tentang hakikat wujud yang berakumulasi dalam akal pikiran dan memancar
dalam keseluruhan kehidupan umat Islam di dunia yang membentuk suatu aturan atau
paradigma (nizam).11
Berangkat dari makna worldview yang telah dijelaskan, dapat ditekankan kembali
urgensi kajian worldview di era kontemporer ini. Terlebih bagi seorang Muslim, yang memiliki
ajaran dengan sistem pandangan hidup yang khas dan komprehensif. Ia mesti memahami
konsep-konsep kunci yang Islam membentuk struktur berfikir koheren, “architectonic whole”,
dan memengaruhi segala aspek kehidupan.12 Seorang muslim yang tidak memiliki pola
pandang Islam dengan begitu, bisa dikatakan ia belum benar-benar berislam secara kaffah.

11
Paradigma Sains Islam, hal. 6
12
Prof. Al-Attas menunjukkan bahwa elemen asas bagi pandangan hidup Islam sangat banyak dan ia merupakan
jalinan konsep-konsep yang tak terpisahkan. Al-Attas menyebutkan beberapa aspek asasi bagi islamic worldview
tanpa pembatasan secara khusus, yang paling penting diantaranya adalah : (1) Konsep tentang hakikat Tuhan,
(2) Konsep tentang wahyu al-Qur’an, (3) Konsep tentang penciptaan (Alam), (4) Konsep tentang kejiwaan
manusia, (5) Konsep tentang ilmu, (6) Konsep tentang agama, (7) Konsep tentang kebebasan, (8) Konsep tentang
nilai dan kebajikan, (9) Konsep tentang kebahagiaan, dan lain sebagainya. Lihat lebih jauh dalam S.M.N. al-Attas,
Prolegomena of Metaphysics Islam, An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, (Kuala
Lumpur : ISTAC, 1995), hal. 5
Keislamannya bisa jadi hanya terhenti pada level ritual, kepercayaan, atau bahkan hanya pada
status semata.