Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

PENGUKURAN PANJANG, MASSA, DAN VOLUME

KELOMPOK IX
DHODI PRESETIA
CCA 118 037

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga
penyusun dapat mengerjakan dan menyelesaikan Laporan Praktikum Fisika
Pengukuran Panjang, Massa, dan Volume dengan baik.
Penyusun tentunya telah melalui berbagai macam hambatan dalam
menyusun laporan ini, maka dari itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada
para Asisten Praktikum yang telah membantu dan membina penyusun pada saat
pelaksanaan praktikum dan memberikan saran dalam penyusunan laporan ini.
Penyusun juga menyadari bahwa Laporan Praktikum Fisika Pengukuran
Panjang, Massa, dan Volume ini masih belum sempurna dan tentunya masih
terdapat kekurangan, oleh sebab itu penyusun menerima kritik dan saran untuk
dapat menyempurnakan laporan ini hingga menjadi lebih baik lagi. Akhir kata
penyusun ucapkan terima kasih.

Palangka Raya, 17 Mei 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL.............................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR......................................................................................... v
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................ 1
1.2 Tujuan Praktikum.................................................................................... 2
II . TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengukuran.............................................................................................. 3
2.1.1 Jangka Sorong................................................................................ 4
2.1.2 Mistar............................................................................................. 5
2.1.3 Neraca Analitik............................................................................... 5
2.1.4 Neraca Ohaus................................................................................. 6
2.2 Klasifikasi dan Morfologi Pohon Ketapang............................................ 7
2.3 Klasifikasi dan Morfologi Pohon Waru.................................................. 7
III. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat.................................................................................. 9
3.2 Alat dan Bahan....................................................................................... 9
3.3 Cara Kerja.............................................................................................. 9
3.3.1 Pengukuran Panjang...................................................................... 9
3.3.2 Pengukuran Massa........................................................................ 10
3.3.3 Pengukuran Volume...................................................................... 11
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil....................................................................................................... 13
4.2 Pembahasan............................................................................................ 18
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan............................................................................................. 22
5.2 Saran........................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Pengukuran Volume Balok Kayu Dengan Mistar...................... 13


Tabel 2. Hasil Pengukuran Volume Balok Stik Dengan Mistar........................ 13
Tabel 3. Hasil Pengukuran Panjang Log Kayu................................................. 14
Tabel 4. Hasil Pengukuran Massa Balok Dengan Neraca Ohaus...................... 14
Tabel 5. Hasil Pengukuran Massa Balok Dengan Timbangan Analitik............ 14
Tabel 6. Hasil Pengukuran Massa Kelereng Dengan Neraca Ohaus................ 15
Tabel 7. Hasil Pengukuran Massa Kelereng Dengan Timbangan Analitik....... 15
Tabel 8. Hasil Pengukuran Volume Kubus Dengan Jangka Sorong.................. 15
Tabel 9. Hasil Pengukuran Volume Kelereng Dengan Jangka Sorong............. 16
Tabel 10. Hasil Pengukuran Diameter Kayu Bulat Dengan Mistar.................... 16
Tabel 11. Hasil Pengukuran Diameter Kayu Bulat Dengan Jangka Sorong....... 17
Tabel 12. Hasil Pengukuran Volume Kelereng Dengan Gelas Ukur................... 18
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Keterangan Rumus Diameter Kayu Bulat......................................... 12


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengukuran adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi
atau menentukan besaran, dimensi, atau kapasitas terhadap suatu standar atau
satuan pengukuran, yang tidak terbatas pada kuantitas fisik tetapi dapat juga
mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan.
Menurut Pandiangan (2014) tidak semua hal yang diukur memiliki satuan,
karena hanya sesuatu yang dapat diwakili dengan angka yang dapat diukur dengan
alat ukur, karena besaran fisis merupakan sesuatu yang dapat dinyatakan
keberadaannya dengan suatu angka atau nilai. Pengukuran besaran fisis mencakup
berbagai besaran seperti panjang, waktu, temperatur, kuat arus listrik, kecepatan,
percepatan, gaya, dan masih banyak besaran lainnya.
Cara untuk mengukur besaran tersebut digunakan berbagai alat ukur yang
sistem mekanikanya sesuai dengan besaran yang diukur. Setiap alat ukur memiliki
ketelitian yang bervariasi, sehingga untuk mendapatkan perbandingan ketelitian
dilakukan dua kali pengukuran satuan yang sama dengan alat ukur yang berbeda.
Hasil dari pengukuran harus didasarkan kepada satuan standar untuk
menyatakan nilai suatu besaran agar lebih mudah dimengerti oleh berbagai
kalangan. Satuan standar besaran sedapat mungkin didefinisikan dalam besaran-
besaran di alam yang tidak berubah.
Tujuan dari pengukuran adalah untuk mendapatkan informasi kuantitas
sehingga mempermudah komunikasi atau hanya perekaman nilai. Tanpa dilakukan
pengukuran seorang peneliti akan kesusahan dalam melakukan eksperimen dan
menyusun teori.
Praktikum ini akan meliputi pengukuran berbagai macam besaran terhadap
balok kayu dan kelereng dengan menggunakan alat ukur yang berbeda, dengan
tujuan untuk membandingkan hasil yang didapat pada pengukuran yang sama
dengan alat yang berbeda sehingga bisa mendapatkan gambaran berapa selisih
nilain(kuantitas)ndannhubungannyakdengankakurasikalatkukur.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan melakukan praktikum fisika dasar mengenai pengukuran
ini diharapkan mahasiswa mampu untuk:
1. Untuk mengukur besaran panjang dengan berbagai alat ukur panjang,
2. Untuk mengukur besaran massa dengan alat ukur massa (neraca/timbangan),
3. Untuk mengukur besaran volume dengan berbagai cara.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengukuran
Menurut Pandiangan (2014) pengukuran adalah suatu kegiatan yang
dilakukan pada suatu objek dengan alat ukur yang sesuai dengan objek. Mengukur
adalah membandingkan objek yang diukur dengan suatu alat yang dianggap
sebagai ukuran standar, alat ukur yang digunakan juga harus memperhatikan nilai
dari objek yang akan diukur agar sesuai dengan peruntukkannya.
Pengukuran fisika fisis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengukuran
langsung dan tidak langsung. Pengukuran langsung dapat dilakukan dengan
menggunakan alat secara langsung hingga diperoleh besaran fisis, lalu
pengukuran tidak langsung yaitu mengukur besaran yang diperoleh dengan
besaran lain.
Setiap alat ukur memiliki kesesuaian terhadap objek yang akan diukur
seperti panjang, massa, dan waktu. Untuk pengukuran panjang misalnya dapat
menggunakan penggaris ataupun jangka sorong, massa dengan timbangan analitik
atau neraca ohaus.
Menurut Herayanti et al. (2014) pengukuran adalah bagian dari
keterampilan proses sains yang merupakan pengumpulan informasi baik secara
kuantitatif maupun secara kualitatif, dengan melakukan pengukuran maka dapat
diperoleh besarnya atau nilai suatu besaran atau bukti kualitatif, didalam
pengukuran ada yang namanya ketepatan dan ketelitian. Ketepatan adalah jika
suatu besaran diukur beberapa kali dan menghasilkan angka-angka yang
menyebar disekitar nilai yang sebenarnya maka pengukuran dapat dikatakan
akurat. Sedangkan ketelitian adalah jika hasil pengukuran terpusat pada suatu
daerah tertentu maka pengukuran tersebut disebut presisi.
Setiap pengukuran selalu ada ketidakpastian yang dapat disebabkan oleh
nilai skala terkecil (NST), kesalahan kalibrasi alat ukur, kesalahan titik nol,
kesalahan paralaks, fluktuasi parameter pengukuran, dan lingkungan yang saling
mempengaruhi dan tingkat keterampilan pengamat yang berbeda-beda. Dengan
alasan tersebut maka sulit untuk mendapatkan nilai sebenarnya suatu besaran
melalui pengukuran.
Setiap pengukuran fisis memiliki satuannya masing-masing, yang
digunakan sebagai perbandingan terhadap suatu standar. Satuan adalah sebutan
yang kita gunakan untuk mengukur besaran tersebut. Didalam pengukuran
terdapat besaran pokok yang satuannya telah didefinisikan terlebih dahulu
misalnya meter untuk besaran panjang, lalu ada besaran turunan yang diperoleh
dari besaran pokok misalnya volume, luas, massa jenis, kecepatan, daya,
percepatan, gaya, usaha, tekanan, dan momentum (Herayanti et al., 2014).
Menurut Selviana (2017) ketelitian dan keseksamaan merupakan salah
satu dari karakterisitik alat ukur disamping kecermatan/keterulangan, resolusi,
sensitifitas, kalibrasi, dan lainnya. Menurutnya kecermatan atau keterulangan
merupakan yang menyatakan seberapa jauh alat ukur dapat mengulangi hasilnya
untuk harga yang sama.
Bentuk ketidakpastian pengukuran dapat berupa ketidakpastian bersistem
atau ketidakpastian acak. Ketidakpastian bersistem contohnya seperti kesalahan
kalibrasi, kesalahan titik nol, dan kerusakan komponen alat. Ketidakpastian acak
merupakan kesalahan yang bersumber dari gejala yang tidak mungkin
dikendalikan dan berlangsung spontan.

2.1.1 Jangka Sorong


Menurut Wagiran (2013) jangka sorong adalah alat ukur yang lebih teliti
dibanding mistar, alat ukur ini memiliki sebutan lain misalnya vernier caliper dan
jangka geser, untuk pengukuran terdapat skala utama dan skala tambahan. Skala
utama dibaca sama seperti mistar ukur yang terdapat di bagian batang ukur, pada
ujung berlawanan terdapat dua rahang ukur yaitu rahang ukur tetap dan rahang
ukur gerak, yang berfungsi sebagai pengukur dimensi luar, dimensi dalam,
kedalaman, dan ketinggian dari benda ukur. Skala tambahan atau skala nonius
memiliki peran penting dalam pengukuran, karena skala tambahan inilah yang
membedakan tingkat ketelitiann jangka sorong dengan alat ukur lainnya.
Skala ukur jangka sorong dapat berupa sistem inchi atau metrik, biasanya
kedua sisi batang ukur mencantumkan dua skala, satu sisi dalam bentuk inchi dan
sisi lain dalam bentuk metrik. Dengan begitu, satu alat ukur dapat digunakan
untuk mengukur dengan dua sistem satuan secara bersamaan yaitu inchi dan
metrik. Jangka sorong memiliki ketelitian mencapai 0,001 in atau 0,05 mm, untuk
pembacaan dengan sisem metrik terdapat skala utama jangka sorong yang
bervariasi dari 150 mm, 200 mm, 250 mm, 300 mm, hingga 1000 mm (Wagiran,
2013).
Ada juga jangka sorong yang tidak dilengkapi dengan skala tambahan,
biasanya peran skala tambahan digantikan oleh jam ukur yang dipasangkan
sedemikian rupa sehingga besaran pengukuran dapat dilihat melalui jam ukur
tersebut. Angka yang ditunjukan oleh jam ukur adalah angka penambah dari skala
utama yang menunjukan tingkat ketelitian, dan umumnya sudah dicantumkan
tingkat kecermatannya. Selain itu, terdapat pula jangka sorong dengan skala
digital.

2.1.2 Mistar
Penggaris atau mistar memiliki berbagai macam bentuk misalnya lurus,
segitiga, dan meteran pipa yang biasanya terbuat dari plastik, logam, atau kayu.
Mistar memiliki batas ukur hingga 1 m dan meteran pipa mencapai jarak ukur 3
m. Mistar memiliki skala 1 mm atau 0,1 cm dan ketelitian 0,5 mm dimana posisi
mata harus tegak lurus terhadap skala ketika membaca skala mistar, hal ini
dilakukan untuk menghindari kesalahan baca hasil pengukuran akibat perbedaan
sudut kemiringan dalam melihat yang disebut sebagai kesalahan paralaks
(Herayanti et al., 2014).
Mistar digunakanp untuk mengukur panjang, lebar, dan tinggi yang
disesuaikan dengan batas ukur mistar itu sendiri dan merupakan alat ukur yang
paling sering kita jumpai dikehidupan sehari-hari, sehingga hampir setiap
kalangan dapat menggunakannya tanpa panduan.

2.1.3 Timbangan Analitik


Timbangan analitik atau neraca analitik merupakan alat yang sering kali
dijumpai di dalam laboratorium yang memiliki fungsi sebagai penimbang bahan
yang akan digunakan. Bahan yang ditimbang biasanya merupakan zat padat,
namun dapat juga berbentuk cairan.
Neraca analitik yang biasanya digunakan di laboratorium memiliki tingkat
akurasi 0,1 mg dengan kemampuan mendeteksi bobot pada kisaran 100 g hingga
0,0001 g. Neraca analitik terdiri dari beberapa komponen penyusun seperti
waterpass, piringan neraca, dan tombol pengaturan. Waterpass berfungsi sebagai
penanda posisi neraca pada saat digunakan, agar hasilnya akurat neraca harus
dalam keadaan posisi seimbang saat penggunaanya. Sedangkan piringan neraca
berfungsi sebagai tempat bahan yang akan diukur massanya, yang biasanya
berupa kaca arloji sebagai wadah bahan sebelum diletakkan pada piringan neraca
(Chairunnisa, 2016).

2.1.4 Neraca Ohaus


Menurut Herayanti et al. (2014) neraca ohaus adalah alat ukur massa yang
jenisnya tergantung pada batas ukurnya misalnya neraca ohaus 2610 g, 311 g, dan
310 g. Herayanti et al. (2014) juga menjelaskan tiga jenis neraca ohaus sebagai
berikut. Neraca ohaus 2610 g memiliki tiga lengan dengan batas ukur yang
berbeda-beda, pada ujung lengan dapat digandeng dengan dua buah beban yang
nilai masing-masingnya 1000 g yang menjadikan kemampuan alat ukur ini 2610
g. Untuk pengukuran dibawah 610 g, cukup dengan menggunakan semua lengan
neraca dan diatas 610 g hingga 2610 g ditambahkan beban gantung. Hasil
pengukuran didapat dari cara menjumlahkan penunjukan beban gantung dengan
semua penunjukan lengan-lengan neraca.
Neraca ohaus 311 g memiliki empat lengan dengan nilai skala yang
berbeda-beda, memiliki ketelitian 0,1 g, masing-masing lengan memiliki batas
ukur yang berbeda. Untuk menggunakan neraca ini terlebih dahulu menentukan
nilai skala masing-masing lengan NST dari empat lengannya. Hasil pengukuran
didapat dengan cara menjumlahkan penunjukan semua lengan neraca yang
digunakan.
Neraca ohaus 310 g mempunyai dua lengan dengan nilai skala yang
berbeda-beda yang dilengkapi dengan skala putar (skala utama) dan skala nonius.
NST neraca ohaus 310 ditentukan dengan cara yang sama seperti jangka sorong.
Hasil pengukuran didapat dengan menjumlahkan penunjukan semua lengan
neraca ditambahkan dengan nilai pengukuran dari skala putar dan noniusnya.

2.2 Klasifikasi dan Morfologi Pohon Ketapang


Pohon Ketapang, Katapang, atau Terminalia catappa dapat
diklasifikasikan secara ilmiah sebagai berikut:
Kingdom: Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Myrtales
Famili : Combretaceae
Genus : Terminalia
Spesies : Terminalia catappa
Pohon Ketapang adalah jenis pohon tepi pantai yang rindang asli Asia
Tenggara. Pohon Ketapang mempunyai bentuk tajuk dan cabang yang khas
menyerupai struktur pagoda.
Pohon dapat mencapai tinggi 25 m, batang silinder, beralur, dan
percabangan simpodial. Daun tidak lengkap, tangkai daun silinder dengan sisi
agak pipih dan menebal pada pangkal, helai berbentuk bundar telur terbalik, helai
di pangkal berbentuk jantung, memiliki rambut halus di bagian bawah daun, ujung
daun meruncing, tepi daun merata, daging daun tipis, dan tulang daun menyirip.
Bunga berwarna kuning, tanpa mahkota, kelopak berjumlah 5 berbentuk piring
atau lonceng, dan panjang 8-25 cm. Buah batu berbentuk bulat telur gepeng,
berwarna hijau; kuning; merah; atau ungu kemerahan saat setelah masak
(Dwingga, 2015).

2.3 Klasifikasi dan Morfologi Pohon Waru


Pohon Waru, Lamogu, atau Hibiscus tiliaceus dapat diklasifikasikan secara
ilmiah sebagai berikut:
Kingdom: Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Dikotil
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus tiliaceus
Tumbuh di daerah tropis, berbatang sedang, dan dapat tumbuh pada
berbagai kondisi tanah. Di daerah yang subur batangnya dapat tumbuh lurus
sedangkan di tanah yang kurang subur batangnya cenderung tumbuh bengkok.
Tinggi pohon 5-15 m, batangnya bulat, bercabang banyak, berwarna
cokelat. Daun bertangkai, tunggal, berbentuk jantung atau bundar telur,
berdiameter 19 cm, pertulangan menjari, berwarna hijau, bagian bawah daun
berambut abu-abu rapat. Bunga dapat sendiri atau tandan, berwarna kuning
disertai dengan noda ungu pada pangkal mahkota bagian dalam (Suwandi &
Hendrati, 2014).
III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum fisika pengukuran
panjang, massa, dan volume dilakukan pada hari Jumat tanggal 17 Mei 2019 yang
berlangsung pada pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.30 WIB dan bertempat di
Laboratorium Manajemen Hasil Hutan, Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Palangka Raya.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada saat pelaksanaan praktikum, yaitu:
1. Mistar millimeter,
2. Jangka sorong,
3. Timbangan analitik/neraca ohaus/digital,
4. Gelas ukur,
5. Alat tulis menulis.
Adapun bahan yang digunakan pada saat pelaksanaan praktikum, yaitu:
1. Contoh uji kayu bulat (log) dan balok kayu sebanyak 5 jenis,
2. Kelereng,
3. Air.

3.3 Cara Kerja


Adapun prosedur pengukuran panjang, massa, dan volume balok kayu dan
kayu bulat (log) dengan kelereng sebagai perbandingannya.

3.3.1 Pengukuran Panjang


Pengukuran panjang yang dilakukan pada balok kayu dengan alat ukur,
yaitu mistar millimeter dan jangka sorong.
a. Mengukur panjang balok
1) Mengukur panjang masing-masing sisi balok dengan mistar millimeter,
2) Mengulangi pengukuran untuk 5 jenis kayu,
3) Menuliskan data yang didapat ke dalam tabel pengamatan,
4) Mengganti mistar millimeter dengan jangka sorong lalu mengulangi langkah 1
sampai 3.
b. Mengukur panjang kayu bulat (log)
1) Mengukur panjang kayu bulat (log) dengan mistar millimeter,
2) Mengulangi pengukuran untuk 5 jenis kayu,
3) Menuliskan data yang didapat ke dalam tabel pengamatan,
4) Mengganti mistar millimeter dengan jangka sorong lalu mengulangi langkah 1
sampai 3.
c. Mengukur tebal balok
1) Mengukur tebal masing-masing sisi balok dengan mistar millimeter,
2) Mengulangi pengukuran untuk 5 jenis kayu,
3) Menuliskan data yang didapat ke dalam tabel pengamatan,
4) Mengulangi langkah 1 sampai 3 dengan menggunakan jangka sorong.
d. Mengukur lebar balok kayu
1) Mengukur lebar masing-masing sisi balok dengan mistar millimeter,
2) Mengulangi pengukuran untuk 5 jenis kayu,
3) Menuliskan data yang didapat pada tabel data,
4) Mengulangi langkah 1 sampai 3 dengan menggunakan jangka sorong.

3.3.2 Pengukuran Massa


Pengukuran massa dilakukan terhadap balok dan kelereng dengan sebuah
timbangan analitik/neraca ohaus/digital sebagai alat ukut. Prosedur yang
dilakukan:
1) Menimbang massa balok dengan cara timbangan analitik/neraca ohaus/digital,
2)iMelihat nilai yang tertera pada timbangan lalu menulisnya pada tabel data
pengamatan,
3) Mengulangi pengukuran untuk 5 jenis kayu,
4) Mengulangi langkah 1 sampai 2 untuk 5 buah kelereng.
3.3.3 Pengukuran Volume
a. Menghitung volume balok
Untuk mengukur volume zat padat yang teratur bentuknya dapat dilakukan
secara tidak langsung dengan mengukur perubah (variabel) yang membangunnya
(volume). Perhitungan volume balok dilakukan dengan cara mengukur panjang
lebar dan tinggi dari balok itu sehingga:
V balok = p ×l ×t
Keterangan:
p = panjang balok
l = lebar balok
t = tinggi balok
b. Mengukur volume kelereng secara matematis
1) Mengukur diameter kelereng dengan menggunakan jangka sorong, untuk 5
buah kelereng,
2) Menulis data yang didapat pada tabel data pengamatan,
3) Menghitung volume kelereng dengan menggunakan rumus volume bola
4
V bola= π r 3
3
Keterangan:
r = jari-jari bola
22
π = 3,14 atau
7
c. Menghitung volume kayu bulat (log)
1)iMengukur diameter kayu bulat (log) dengan menggunakan jangka sorong,
untuk 5 buah jenis kayu bulat (log),
2) Menulis data yang didapat pada tabel pengamatan,
3) Menghitung volume kayu bulat (log) dengan menggunakan rumus volume bola
4) Berdasarkan SNI 7533.2-2011 – Kayu Bundar Bagian 2 Pengukuran dan Tabel
Isi, bahwa penetapan isi menggunakan rumus:
1
π d2 p 2
0,7854 ×d p
4 atau I=
I= 6 106
10
Keterangan:
I = isi kayu bundar (m3)
π = 3,1416
1
π = 0,7854
4
d = diameter kayu bundar (cm)
p = panjang kayu bundar (cm)
106 = nilai konversi cm ke m

Gambar 1. Keterangan Rumus Diameter Kayu Bulat

d 1+d 2 d 3+d 4
dp= du=
2 2

dp+ du
d=
2

Keterangan:
dp = diameter pangkal
d1 = diameter terpendek pada pangkal
d2 = diameter terpanjang pada pangkal
du = diameter ujung
d3 = diameter terpendek pada ujung
d4 = diameter terpanjang pada ujung
d. Mengukur volume kelereng menggunakan gelas ukur
1) Menuangkan air ke dalam gelas ukur kira-kira 50 ml,
2)iMemasukan kelereng ke dalam gelas ukur, kemudian mencatat volume air.
Sekarang menghitung selisih volume air, yaitu volume sesudah dan sebelum
kelereng dicelupkan. Selisih volume air tersebut adalah volume kelereng,
3) Mencatat pada tabel data pengamatan dan mengulangi untuk 5 buah kelereng.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan dari pengukuran yang telah dilakukan dengan berbagai alat
ukur terhadap balok kayu dan kelereng, maka didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil Pengukuran Volume Balok Kayu Dengan Mistar

Kelompo Pengukura Panjang Lebar Tinggi Volume


k n Jenis Ke cm m cm m cm m (m3)
15,0 0,1 4,8 352,80x10-
VI 1 0,05 4,90 0,05 6
0 5 0
10,2 0,1 4,9 244,90x10-
VII 2 0,05 4,90 0,05 6
0 0 0
15,0 0,1 4,8 352,80x10-
VIII 3 0,05 4,90 0,05 6
0 5 0
15,0 0,1 5,0 375,00x10-
IX 4 0,05 5,00 0,05 6
0 5 0
15,1 0,1 4,7 333,56x10-
X 5 0,05 4,70 0,05 6
0 5 0
14,0 0,1 4,8 333,28x10-
Rata-rata - 0,05 4,88 0,05 6
6 4 4

Tabel 2. Hasil Pengukuran Volume Balok Stik Dengan Mistar

Kelompo Pengukura Panjang Lebar Tinggi Volume


k n Jenis Ke cm m cm m cm m (m3)
36,0 0,3 2,0
VI 1 0,02 2,10 0,02 1,44x10-4
0 6 0
35,8 0,3 2,0
VII 2 0,02 2,00 0,02 1,44x10-4
0 6 0
30,0 0,3 1,8
VIII 3 0,02 1,80 0,02 1,20x10-4
0 0 0
35,5 0,3 2,0
IX 4 0,02 2,00 0,02 1,40x10-4
0 5 0
35,9 0,3 2,0
X 5 0,02 1,90 0,02 1,44x10-4
0 6 0
34,6 0,3 2,0
Rata-rata - 0,02 1,96 0,02 1,38x10-4
4 5 0

Tabel 3. Hasil Pengukuran Panjang Log Kayu


Panjang
Panjang
(Jangka
Kelompok Pengukuran Jenis Ke (Mistar)
Sorong)
cm m cm m
VI Waru (Hibiscus tiliaceus) 14,70 0,15 14,74 0,15
VII Ketapang (Terminalia catappa) 14,20 0,14 14,28 0,14
VIII Waru (Hibiscus tiliaceus) 14,82 0,15 14,70 0,15
IX Ketapang (Terminalia catappa) 14,70 0,15 14,71 0,15
X Waru (Hibiscus tiliaceus) 14,90 0,15 14,96 0,15
Rata-rata - 14,66 0,15 14,68 0,15
Tabel 4. Hasil Pengukuran Massa Balok Dengan Neraca Ohaus

Kelompok Pengukuran Jenis Ke Berat Balok (g)


VI 1 5,60
VII 2 5,90
VIII 3 13,50
IX 4 5,80
X 5 7,50
Rata-rata - 7,66

Tabel 5. Hasil Pengukuran Massa Balok Dengan Timbangan Analitik

Kelompok Pengukuran Jenis Ke Berat Balok (g)


VI 1 5,24
VII 2 5,50
VIII 3 13,17
IX 4 5,51
X 5 7,21
Rata-rata - 7,33

Tabel 6. Hasil Pengukuran Massa Kelereng Dengan Neraca Ohaus


Berat Kelereng
Kelompok Pengukuran Jenis Ke
(g)
VI 1 5,80
VII 2 6,10
VIII 3 5,70
IX 4 6,10
X 5 5,60
Rata-rata - 5,86

Tabel 7. Hasil Pengukuran Massa Kelereng Dengan Timbangan Analitik


Berat Kelereng
Kelompok Pengukuran Jenis Ke
(g)
VI 1 5,53
VII 2 4,89
VIII 3 5,23
IX 4 5,75
X 5 5,20
Rata-rata - 5,32

Tabel 8. Hasil Pengukuran Volume Kubus Dengan Jangka Sorong

Kelompo Pengukura Panjang Lebar Tebal Volume


k n Jenis Ke cm m cm m cm m (m3)
0,0
VI 1 4,72 4,77 0,05 5,10 0,05 1,14x10-6
5
0,0
VII 2 4,60 4,63 0,05 5,01 0,05 1,06x10-6
5
0,0
VIII 3 4,76 4,74 0,05 5,08 0,05 1,14x10-6
5
0,0
IX 4 5,25 4,75 0,05 4,70 0,05 1,17x10-6
5
0,0
X 5 5,06 4,77 0,05 4,77 0,05 1,15x10-6
5
0,0
Rata-rata - 4,88 4,73 0,05 4,93 0,05 1,13x10-6
5

Tabel 9. Hasil Pengukuran Volume Kelereng Dengan Jangka Sorong

Pengukuran Diameter Jari-jari Volume


Kelompok
Jenis Ke cm m cm m (m3)
VI 1 1,54 0,01 0,77 7,70x10-3 1,91x10-6
VII 2 1,54 0,01 0,77 7,70x10-3 1,91x10-6
VIII 3 1,57 0,01 0,78 7,85x10-3 2,02x10-6
IX 4 1,66 0,01 0,83 8,30x10-3 2,39x10-6
X 5 1,58 0,01 0,79 7,90x10-3 2,06x10-6
Rata-rata - 1,58 0,01 0,78 7,89x10-3 2,06x10-6

Tabel 10. Hasil Pengukuran Diameter Kayu Bulat Dengan Mistar

Pengukuran d1 d2 dp
Kelompok
Jenis Ke cm m cm m cm m
VI 1 5,50 0,06 5,90 0,06 5,70 0,06
VII 2 5,20 0,05 4,90 0,05 5,05 0,06
VIII 3 6,00 0,06 5,90 0,06 5,95 0,06
IX 4 4,80 0,05 5,40 0,05 4,95 0,05
X 5 5,90 0,06 5,80 0,06 5,85 0,06
Rata-rata - 5,54 0,06 5,58 0,06 5,50 0,06

Lanjutan Tabel 10. Hasil Pengukuran Diameter Kayu Bulat Dengan Mistar

Pengukuran d3 d4 du
Kelompok
Jenis Ke cm m cm m cm m
VI 1 5,50 0,06 5,90 0,06 5,70 0,06
VII 2 5,20 0,05 4,90 0,05 5,05 0,06
VIII 3 6,00 0,06 5,90 0,06 5,95 0,06
IX 4 4,80 0,05 5,40 0,05 4,95 0,05
X 5 5,90 0,06 5,80 0,06 5,85 0,06
Rata-rata - 5,54 0,06 5,58 0,06 5,50 0,06
Lanjutan Tabel 10. Hasil Pengukuran Diameter Kayu Bulat Dengan Mistar

Pengukuran D P Volume (m3)


Kelompok
Jenis Ke cm m cm m m
VI 1 5,70 0,06 14,70 0,15 374,92x10-6
VII 2 5,05 0,06 14,20 0,14 204,28x10-6
VIII 3 5,95 0,06 14,82 0,14 411,86x10-6
IX 4 4,95 0,06 14,70 0,15 282,75x10-6
X 5 5,85 0,06 14,90 0,15 400,28x10-6
Rata-rata - 5,50 0,06 14,66 0,15 350,80x10-6

Tabel 11. Hasil Pengukuran Diameter Kayu Bulat Dengan Jangka Sorong

Pengukuran d1 d2 dp
Kelompok
Jenis Ke cm m cm m cm m
VI 1 6,15 0,06 5,93 0,06 6,04 0,06
VII 2 5,13 0,05 4,92 0,05 5,03 0,05
VIII 3 6,00 0,06 6,00 0,06 6,00 0,06
IX 4 4,81 0,48 5,12 0,05 4,97 0,05
X 5 5,58 0,55 6,08 0,06 5,81 0,06
Rata-rata - 5,53 0,24 5,60 0,05 5,57 0,06

Lanjutan Tabel 11. Hasil Pengukuran Diameter Kayu Bulat Dengan Jangka
.Sorong

Pengukuran d3 d4 du
Kelompok
Jenis Ke cm m cm m cm m
VI 1 6,15 0,06 5,93 0,06 6,04 0,06
VII 2 5,13 0,05 4,92 0,05 5,03 0,05
VIII 3 6,00 0,06 6,00 0,06 6,00 0,06
IX 4 4,81 0,48 5,12 0,05 4,97 0,05
X 5 5,58 0,55 6,08 0,06 5,81 0,06
Rata-rata - 5,53 0,24 5,60 0,05 5,57 0,06
Lanjutan Tabel 11. Hasil Pengukuran Diameter Kayu Bulat Dengan Jangka
.Sorong

Pengukuran D P Volume (m3)


Kelompok
Jenis Ke cm m cm m m
VI 1 6,04 0,06 14,74 0,15 422,12x10-6
VII 2 5,03 0,05 14,28 0,14 283,62x10-6
VIII 3 6,00 0,06 14,70 0,15 415,42x10-6
IX 4 4,97 0,05 14,71 0,15 285,23x10-6
X 5 5,81 0,06 14,46 0,14 383,17x10-6
Rata-rata - 5,57 0,06 14,58 0,15 357,91x10-6

Tabel 12. Hasil Pengukuran Volume Kelereng Dengan Gelas Ukur

Pengukuran ∆V
Kelompok Sebelum (V0) Sesudah (Vs)
Jenis Ke Vs - V0
VI 1 60 62 2
VII 2 60 62 2
VIII 3 60 62 2
IX 4 60 62 2
X 5 60 62 2
Rata-rata - 60 62 2

4.2 Pembahasan
Sampel yang digunakan dalam pengukuran memiliki ukuran yang
bervariasi, yang tujuannya untuk dipergunakan sebagai pembanding besaran,
keterampilan pengukur, dan ketelitian alat ukur. Terdapat tiga jenis sampel yang
digunakan yaitu balok kayu, kayu bulat (log), dan kelereng. Bentuk sampel kayu
terbagi menjadi tiga yaitu stik, kubus, dan balok. Alat yang digunakan untuk
mengukur panjang adalah mistar 30 cm dan jangka sorong dengan skala
tambahan, sedangkan pengukuran massa digunakan timbangan analitik dan neraca
ohaus.
Pengukuran panjang yang dilakukan terhadap kayu bulat (log) dengan
menggunakan mistar dan jangka sorong menunjukkan perbedaan hasil ukur. Perlu
diketahui bahwa setiap sampel kayu bulat (log) memiliki panjang dan diameter
yang bervariasi karena cara pemotongan dan kondisi kayu. Berdasarkan hasil
pengukuran dengan mistar didapatkan rata-rata 14,66 cm sedangkan jangka
sorong 14,68 cm, perbedaan pada hasil ukur terjadi karena perbedaan ketelitian
dua alat ukur yang berbeda. Alat ukur yang lebih teliti berdasarkan hasil
pengukuran tersebut adalah jangka sorong karena memiliki ketelitian 0,05 mm
dibandingkan dengan mistar 0,5 mm.
Pengukuran diameter kayu bulat (log) dengan menggunakan mistar dan
jangka sorong juga menunjukkan hasil yang berbeda. Berdasarkan hasil
pengukuran dengan menggunakan mistar didapatkan rata-rata diameter pangkal
5,50 cm dan diameter ujung 5,50 cm sedangkan dengan jangka sorong didapatkan
rata-rata diameter pangkal 5,57 cm dan diameter ujung 5,57 cm. Perbedaan pada
hasil ukur terjadi karena ketelitian alat ukur yang berbeda, jangka sorong lebih
teliti dengan ketelitian 0,05 mm dibandingkan dengan mistar 0,5 mm.
Pengukuran kelereng untuk menentukan volume dilakukan dengan dua
cara, yaitu secara matematis (jangka sorong) dan gelas ukur. Perlu diketahui
bahwa gelas ukur yang digunakan memiliki batas garis penanda maksimal 60 ml
sehingga air yang dituangkan kedalam gelas ukur adalah 60 ml. Pengukuran yang
dilakukan dengan jangka sorong melibatkan diameter dari kelereng yang
dikonversi ke besaran jari-jari untuk mencari volume, diameter rata-rata yang
didapatkan dari hasil ukur adalah 1,58 cm dengan rata-rata volume akhir 2,06x10 -6
m3. Pengukuran volume kelereng dengan cara dicelup ke air menghasilkan rata-
rata selisih volume air 2 ml yang sama dengan volume kelereng. Secara jelas
bahwa pengukuran dengan jangka sorong lebih teliti dibandingkan selisih volume
air karena melibatkan diameter dari kelereng yang tidak dapat diukur dengan cara
dicelupkan.
Pengukuran massa yang dilakukan terhadap balok kayu berbentuk kubus
dilakukan dengan dua alat ukur yaitu neraca ohaus dan timbangan analitik.
Pengukuran dengan neraca ohaus menghasilkan rata-rata 7,66 g sedangkan
timbangan analitik 7,33 g. Berdasarkan rata-rata yang didapatkan dari masing-
masing alat ukur memiliki selisih nilai, hal ini terjadi karena perbedaan ketelitian
alat ukur yang digunakan, timbangan analitik memiliki tingkat ketelitian 0,1 mg
sedangkan neraca ohaus 0,1 g. Berdasarkan tingkat ketelitian maka hasil ukur
neraca ohaus lebih akurat dibandingkan timbangan analitik.
Pengukuran massa kelereng juga memiliki perlakuan yang sama dengan
balok kayu berbentuk kubus, dengan hasil rata-rata yang diperoleh neraca ohaus
5,86 g dan timbangan analitik 5,32 g. Sama seperti pengukuran massa sebelumnya
dari hasil yang diperoleh terdapat selisih nilai, hal ini terjadi karena perbedaan
tingkat ketelitian alat ukur. Timbangan analitik memiliki ketelitian 0,1 mg
sedangkan neraca ohaus 0,1 g. Jadi dapat disimpulkan bahwa timbangan analitik
lebih akurat dibandingkan neraca ohaus.
Kegiatan pengukuran tersebut dipengaruhi oleh ketelitian alat ukur, faktor
keterampilan pengukur, dan waktu. Herayanti et al. (2014) mendefinisikan
ketepatan adalah jika suatu besaran diukur beberapa kali sehingga menghasilkan
angka yang menyebar disekitar nilai yang sebenarnya maka pengukuran dapat
dikatakan akurat.
Pengukuran yang dilakukan terhadap sampel yang sama dalam praktikum
ini tidak dilakukan berulang kali sehingga kurang akurat, hal ini disebabkan oleh
waktu yang terbatas. Selviana (2017) menyatakan bahwa kecermatan atau
keterulangan merupakan salah satu dari karakteristik alat ukur. Jadi, dapat
dikatakan bahwa pengukuran yang telah dilakukan tidak sesuai dengan
karakteristik alat ukur.
Keterampilan pengukur juga mempengaruhi proses pengukuran, seperti
kesalahan paralaks pada pengukuran dengan mistar yang dijelaskan oleh
Herayanti et al. (2014) adalah kesalahan pembacaan hasil pengukuran akibat beda
sudut kemiringan dalam melihat, atau kesalahan dalam membaca skala nonius
jangka sorong. Selain itu pengukuran juga dilakukan secara bergantian sehingga
kesalahan penulisan data sangat mungkin terjadi.
Menurut Herayanti et al. (2014) setiap pengukuran fisis memiliki
satuannya masing-masing, yang digunakan sebagai perbandingan terhadap suatu
standar. Berdasarkan hal tersebut, ketika pengukuran dilakukan dengan alat ukur
yang menghasilkan ukuran standar maka itu disebut sebagai pengukuran standar.
Dari pengukuran yang telah dilakukan terdapat satu cara yang tidak termasuk ke
dalam pengukuran standar yaitu pengukuran volume kelereng dengan cara
dicelupkan ke dalam air karena tidak melibatkan alat ukur sehingga hasilnya
hanya berupa estimasi volume dengan bentuk besaran lain (ml).

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil dan pembahasan
yaitu:
1. Pengukuran besaran panjang dapat dilakukan dengan berbagai alat ukur yang
sesuai dengan besarannya, contohnya seperti mistar dan jangka sorong untuk
pengukuran panjang balok kayu dan kayu bulat (log). Hasil yang diberikan
oleh setiap alat ukur memiliki selisih yang dipengaruhi oleh tingkat ketelitian,
2. Pengukuran besaran massa juga dapat dilakukan dengan berbagai alat ukur,
contohnya seperti timbangan analitik dan neraca ohaus. Namun setiap alat ukur
memiliki tingkat ketelitiannya masing-masing sehingga dapat mempengaruhi
hasil pengukuran, agar mendapatkan hasil yang akurat diperlukan alat ukur
dengan tingkat ketelitian yang tinggi,
3. Pengukuran dapat dilakukan dengan cara standar atau tidak standar, salah satu
contohnya adalah pengukuran volume kelereng yang telah dilakukan dengan
mencelupkannya ke dalam air lalu melihat selisih volume air untuk
menentukan volume kelereng. Hal tersebut dikategorikan ke dalam pengukuran
tidak standar karena tidak menghasilkan suatu besaran yang diinginkan
melainkan estimasi.

5.2 Saran
Adapun saran dari penyusun untuk praktikum ini yaitu agar penulisan
panduan praktikum lebih diperhatikan lagi terutama dalam penulisan rumus
hitung dan penentuan aturan seperti pembulatan angka.
DAFTAR PUSTAKA

Chairunnisa, R. 2016. Laporan Praktikum Pengukuran Massa Bahan dengan


Menggunakan Neraca Analitik & Ohaus. Palangka Raya: Universitas
Muhammadiyah Palangka Raya, Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi Farmasi.
(Tersedia online di: www.academia.edu/20615679) (Diakses pada 18 Mei
2019).

Dwingga, W. 2015. Pemanfaatan Daun Ketapang (Terminalia catappa) Menjadi


Zat Warna Alami Tekstil dengan Menggunakan Variasi Pelarut.
Palembang: Politeknik Negeri Sriwijaya. (Tersedia online di:
eprints.polsri.ac.id/1966) (Diakses pada 18 Mei 2019).

Herayanti, Lisna, Basri, A., Rahmatia, R. & Syawal, R. 2014. Dasar Pengukuran
dan Ketidakpastian. Makassar: Universitas Negeri Makassar. (Tersedia
online di: www.academia.edu/13375363) (Diakses pada 18 Mei 2019).

Pandiangan, P. 2014. Pengukuran dan Sistem Satuan dalam Fisika. Tangerang


Selatan: Universitas Terbuka. (Tersedia online di: repository.ut.ac.id/4381)
(Diakses pada 18 Mei 2019).

Santoso, M., Jemi, R., Mujaffar, A., Luhan, G., Herianto & Yanciluk. 2019.
Penuntun Praktikum Fisika. Palangka Raya: Universitas Palangka Raya,
Fakultas Pertanian, Jurusan Kehutanan.

Selviana, W. 2017. Analisis Kinerja Kotak Pendingin dan Penghangat


Menggunakan Modul Termoelektrik TEC-12706. Bandar Lampung:
Universitas Lampung, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Elektro. (Tersedia
online di: digilib.unila.ac.id/27534) (Diakses pada 18 Mei 2019).

Suwandi & Hendrati, L. R. 2014. Perbanyakan Vegetatif dan Penanaman Waru


(Hibiscus tiliaceus) Untuk Kerajinan dan Obat. Jakarta: IPB Press.
(Tersedia online di: www.forda-mof.org/files/buku_11_Waru.pdf)
(Diakses pada 18 Mei 2019).

Wagiran. 2013. Penggunaan Alat-alat Ukur Metrologi Industri. Yogyakarta:


Deepublish.i(Tersediaionlineidi:istaffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pe
n didikan/BAHAN+AJAR+METROLOGI.pdf) (Diakses pada 18
Mei 2019).
LAMPIRAN