Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

KADAR AIR, KERAPATAN, DAN BERAT JENIS KAYU

KELOMPOK IX
DHODI PRESETIA
CCA 118 037

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga
penyusun dapat mengerjakan dan menyelesaikan Laporan Praktikum Fisika Kadar
Air, Kerapatan, dan Berat Jenis Kayu dengan baik.
Penyusun tentunya telah melalui berbagai macam hambatan dalam
menyusun laporan ini, maka dari itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada
para Asisten Praktikum yang telah membantu dan membina penyusun pada saat
pelaksanaan praktikum dan memberikan saran dalam penyusunan laporan ini.
Penyusun juga menyadari bahwa Laporan Praktikum Fisika Kadar Air,
Kerapatan, dan Berat Jenis Kayu ini masih belum sempurna dan tentunya masih
terdapat kekurangan, oleh sebab itu penyusun menerima kritik dan saran untuk
dapat menyempurnakan laporan ini hingga menjadi lebih baik lagi. Akhir kata
penyusun ucapkan terima kasih.

Palangka Raya, 15 Juni 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i


DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. iii
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Praktikum ..................................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kadar Air Kayu ....................................................................................... 3
2.2 Kerapatan Kayu ....................................................................................... 4
2.3 Berat Jenis Kayu ..................................................................................... 4
2.4 Klasifikasi dan Morfologi Tumbuhan Kelapa......................................... 5
III. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat .................................................................................. 7
3.2 Alat dan Bahan ........................................................................................ 7
3.3 Cara Kerja ............................................................................................... 7
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kadar Air ................................................................................................. 9
4.2 Kerapatan ................................................................................................ 10
4.3 Berat Jenis ............................................................................................... 13
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 16
5.2 Saran ........................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kadar Air Kayu Kering Udara (KA Ku) ............................................... 9


Tabel 2. Kerapatan Kayu Kering Udara (KKu) .................................................. 10
Tabel 3. Kerapatan Kayu Kering Tanur (KKt) ................................................... 11
Tabel 4. Berat Jenis Kayu Kering Udara (BJ Ku) ............................................... 13
Tabel 5. Berat Jenis Kayu Kering Tanur (BJ Kt) ................................................ 13
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kadar air adalah jumlah air yang terdapat pada kayu, air pada kayu
dikelompokkan menjadi dua yaitu air bebas dan air terikat. Menurut Suranto
(2015) di dalam kayu selalu terdapat air yang merupakan konsekuensi dari sifat
kayu yaitu higroskopik. Jumlah air di dalam kayu akan sangat mempengaruhi
proses karakteristik pengeringan.
Kerapatan adalah perbandingan massa benda dengan volumenya, kerapatan
pada kayu berhubungan langsung dengan porositasnya (proporsi volume rongga
kosong). Kerapatan kayu dalam suatu spesies bervariasi, dengan faktor seperti
kondisi tempat tumbuh dan genetik.
Berat jenis merupakan salah satu aspek penting dalam kayu, karena hampir
semua mekanika kayu berhubungan dengan berat jenis dan kerapatannya.
Kekuatan dan kekakuan kayu naik seiring dengan berat jenisnya, sehingga secara
tidak langsung kadar air dan kerapatan dari kayu berperan penting dalam
menentukan berat jenis atau kekuatan dan kekakuan dari kayu.
Ketiga hal diatas tidak lepas dari pengaruh sifat higroskopik kayu, kayu
dengan kerapatan yang rendah akan lebih mudah menyerap air dibandingkan kayu
dengan kerapatan yang tinggi, namun sebaliknya kayu dengan kerapatan yang
tinggi akan membutuhkan waktu yang lama agar dapat melepaskan kadar air dari
rongga sel dan dinding selnya. Hal itu juga mempengaruhi kadar air dalam kayu,
kerenggangan pada rongga sel kayu akan semakin mempermudah penyerapan air
sehingga kayu lebih cepat mencapai titik jenuh serat (TJS) yang menyebabkan
pertambahan berat kayu.
Pengeringan pada kayu akan mempengaruhi berbagai macam nilainya,
untuk itu pada praktikum ini akan dilakukan pengeringan dengan cara gravimetri,
pada selang waktu tertentu akan dilakukan pengukuran terhadap kayu, dimana
praktikan secara langsung mengamati perubahan nilai yang terjadi pada kayu saat
sedang dalam proses pengeringan.
Diharapkan dari praktikum ini praktikan dapat mengenal dan terampil
menggunakan berbagai jenis peralatan yang diperlukan; dapat melakukan
pencatatan dan analisis kadar air, kerapatan, dan berat jenis; dapat memahami
prosedur pelaksanaan penentuan kadar air, kerapatan, dan berat jenis kayu pada
keadaan kekeringan tertentu; dan dapat menyimpulkan besarnya nilai kadar air,
kerapatan, dan berat jenis kayu yang diuji berdasarkan standar yang diacu.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini yaitu:
1.iUntuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap teori yang telah
diperoleh,
2.iUntuk mengenalkan dan dapat menggunakan berbagai jenis peralatan yang
diperlukan,
3. Untuk dapat memahami prosedur pelaksanaan penentuan kadar air, kerapatan,
dan berat jenis kayu pada keadaan kekeringan tertentu (kering udara dan kering
tanur),
4. Untuk terampil menggunakan peralatan penentuan kadar air, kerapatan, dan
berat jenis kayu,
5. Untuk dapat melakukan pencatatan dan analisis kadar air, kerapatan, dan berat
jenis kayu,
6. Untuk dapat menyimpulkan besarnya nilai kadar air, kerapatan, dan berat jenis
kayu yang diuji berdasarkan standar yang diacu.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kadar Air Kayu


Menurut Nugroho & Ismu (2016) kadar air dari suatu kayu sangat
dipengaruhi oleh sifat higroskopis kayu, yaitu sifat kayu yang mengikat dan
melepaskan air ke udara hingga mencapai keadaan keseimbangan dengan kadar air
lingkungan sekitarnya, dalam bagian xylem air umumnya lebih dari separuh berat
total, sehingga dapat dikatakan berat air dalam kayu umumnya sama atau lebih
besar dari berat kering kayu. Kemampuan kayu dalam menyimpan air dipengaruhi
oleh ada atau tidaknya zat ekstraktif yang bersifat hidrofobik yang mungkin
terdapat dalam dinding sel atau rongga sel (lumen).
Menurut Andari (2015) kadar air pada kayu dapat berubah-ubah sesuai
dengan suhu dan kelembapan. Kadar air didefinisikan sebagai berat air yang
dinyatakan sebagai persen berat kayu bebas air atau kering tanur. Pada kayu
dikenal tingkat kebasahan yaitu kayu basah; kayu yang baru saja ditebang, kayu
kering udara; kayu yang kandungan airnya sudah tetap sesuai dengan udara
disekitarnya, dan kayu kering mutlak/tungku/oven; yaitu kayu yang dikeringkan di
dalam tungku pada suhu 105℃ sehingga airnya menguap keluar.
Nugroho & Ismu (2016) juga menjelesakan bahwa air yang berada di
dalam kayu dapat berwujud gas (uap) ataupun cairan yang menempati rongga sel
dan air terikat secara kimiawi di dalam dinding sel. Contohnya pada kayu segar
dimana dinding sel serta rongga selnya jenuh dengan air, jika hanya dinding sel
yang jenuh air sedangkan rongga selnya tidak terisi air maka dinamakan kadar air
titik jenuh serat (TJS).
Suranto (2015) juga memaparkan bahwa sifat higroskopik kayu ini
menghadirkan konsekuensi, bahwa di dalam kayu selalu terdapat air. Keberadaan
air di dalam kayu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok status yaitu air
bebas dan air terikat. Air bebas adalah air yang berada pada rongga sel kayu,
sedangkan air terikat adalah air yang berada pada dinding sel kayu.
2.2 Kerapatan Kayu
Listyanto (2018) mendefinisikan kerapatan kayu sebagai perbandingan
berat kayu terhadap volume kayu. Kenaikan kerapatan terjadi pada kondisi di atas
kadar air titik jenuh serat, hal ini terjadi karena kayu telah berhenti mengembang
pada saat kadar air titik jenuh serat. Pengukuran kerapatan dilakukan dengan
menimbang berat kayu pada kondisi kering tanur dan mengukur volumenya.
Saat pengukuran kayu perlu dilapisi oleh lapisan kedap air seperti lilin
untuk menghindari penyerapan air oleh kayu. Listyanto (2018) menambahkan
kerapatan kayu juga sangat bervariasi baik dari antar jenis atau setiap jenis itu
sendiri. Dalam membuat suatu perbandingan yang lebih terstandar dari jenis atau
produk maka berat jenis lebih diutamakan daripada kerapatan.

2.3 Berat Jenis Kayu


Menurut Listyanto (2018) berat jenis kayu merupakan nilai rasio
perbandingan kerapatan kayu dengan kerapatan benda standar (air pada suhu 4℃)
yang memiliki kerapatan 1000 kg/m3. Berat jenis umumnya dihitung berdasarkan
berat kering tanur pada volume kayu dalam kadar air tertentu. Untuk
mempermudah berat jenis dicari dengan membagi berat kering tanur kayu dengan
berat air yang dipindahkan oleh volume kayu tersebut.
Listyanto (2018) juga menjelaskan bahwa kayu yang mempunyai berat
jenis (BJ) yang tinggi umumnya lebih lama dikeringkan daripada kayu yang
mempunyai BJ rendah. Hal ini dikarenakan beragam dan rapatnya susunan sel
pada kayu yang memiliki BJ tinggi sehingga lebih menyulitkan bagi air yang
berada dalam kayu untuk keluar. Pada kayu yang mempunyai BJ rendah, kayu
lebih cepat mengering dikarenakan susunan kayu (porositas) yang rendah sehingga
memperlancar keluarnya air dari dalam kayu.
Kurniawan (2016) menyatakan bahwa perbedaan pada berat jenis merujuk
kepada tingkat kekuatan suatu jenis kayu, dimana besaran berat jenis yang besar
umumnya menandakan bahwa kayu tersebut kuat sebaliknya semakin ringan
besaran berat jenisnya maka semakin lemah kekuatan kayu tersebut. Berat jenis
kayu ditentukan oleh ketebalan dinding sel dan kecilnya rongga sel yang
membentuk pori-pori, berat jenis dapat ditentukan dengan perbandingan berat
volume kayu terhadap volume air yang sama.
Indrosaptono et al. (2018) menggolongkan kayu Kelapa (Cocos nucifera)
dengan berat jenis rata-rata 0,74 ke dalam kelas kuat II (berat jenis 0,60 – 0,90),
kelas kayu agak berat (berat jenis 0,60 – 0,75), dan kelas awet III. Menurutnya
semakin besar berat jenis kayu Kelapa maka semakin berkurang kadar airnya,
sehingga kadar airnya berbanding terbalik dengan berat jenisnya.

2.4 Klasifikasi dan Morfologi Tumbuhan Kelapa


Tumbuhan Kelapa atau Cocos nucifera dapat diklasifikasikan secara ilmiah
sebagai berikut:
Kingdom: Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae
Genus : Cocos
Spesies : Cocos nucifera
Kelapa merupakan tumbuhan yang berasal dari pesisir Samudra Hindia di
Asia dan tumbuh hampir diseluruh pantai tropis. Secara morfologi tumbuhan
Kelapa memiliki batang yang tumbuh tegak tanpa cabang. Akar ketika tunas
berbentuk tunggang saat dewasa menjadi serabut, memiliki struktur lembut dan
bagian dalam berair dengan warna cokelat. Daun tumbuh ketika berkecambah,
susunan daun saling membalut satu sama lain, berwarna hijau muda. Bunga akan
tumbuh ketika berumur 3 atau 4 tahun, tumbuh di ketiak daun, diselubungi oleh
seludang. Buah berasal dari bunga betina yang sudah dibuahi dalam kurun waktu 3
sampai 4 minggu, berwarna hijau atau kuning tergantung varietas dan cokelat
ketika tua (Sukarlan, 2014). Berat jenis rata-rata kayu Kelapa adalah 0,74 sehingga
digolongkan kedalam kelas kayu agak berat, komposisi yang ada dalam kayu
Kelapa diperkirakan terdiri dari 66,7% holocellulose, 25,1% lignin dan 22,9%
pentosans. Pohon kelapa yang dapat dijadikan bahan kayu glugu adalah pohon
kelapa yang sudah berusia minimal 60 tahun, terutama yang tidak produktif
(Indrosaptono et al., 2018).
III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Pelaksanaan praktikum fisika kadar air, kerapatan, dan berat jenis kayu
dilakukan pada hari Sabtu tanggal 15 Juni 2019 yang berlangsung pada pukul
17.00 WIB hingga hari Minggu tanggal 16 Juni pukul 02.30 WIB dan bertempat di
Laboratorium Teknologi Hasil Hutan, Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Palangka Raya.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada saat pelaksanaan praktikum, yaitu:
1. Timbangan digital kapasitas minimum 500 g dengan ketelitian 0,01 g,
2. Mistar/jangka sorong,
3. Oven pengering yang dapat diatur suhu tetap 100 + 2℃,
4. Desikator,
5. Alat tulis, blanko isian pengamatan, dan alat hitung.
Adapun bahan yang digunakan pada saat pelaksanaan praktikum, yaitu:
1. Contoh uji balok kayu sebanyak 6 jenis,
2. Parafin/lilin,
3. Air.

3.3 Cara Kerja


Adapun prosedur pengukuran kadar air, kerapatan, dan berat jenis kayu
dengan perlakuan sebagai berikut:
1.iMengukur kadar air contoh uji dalam bentuk balok kayu menggunakan alat
moisture meter untuk memperoleh nilai kadar air kayu kering udara (KA Ku),
2. Membuat contoh uji berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 2 x 2 x 2 cm,
3.iMengukur volume kayu dengan mengukur panjang masing-masing sisi kayu
menggunakan jangka sorong kemudian menghitung dengan menggunakan
rumus v = p × l × t,
4.iMenimbang sampel kayu sebagai berat awal (Bku), kemudian memasukkan
sampel ke dalam oven pada suhu 103 ± 2℃. Setiap selang waktu tertentu
contoh uji ditimbang sampai diperoleh berat yang konstan (Bkt),
5. Mencatat hasil penimbangan yang diperoleh ke dalam lembar pengamatan.
Adapun penentuan perhitungan, analisis data, dan pernyataan hasil yang
berlaku yaitu sebagai berikut:
1. Kadar air
𝐵𝑘𝑢−𝐵𝑘𝑡
iiiia. Kadar Air Kayu Kering Udara (KA Ku) = 𝑥 100%
𝐵𝑘𝑡
𝐵𝑘𝑡−𝐵𝑘𝑡
iiiib. Kadar Air Kayu Kering Tanur (KA Kt) = 𝑥 100%
𝐵𝑘𝑡

2. Kerapatan
𝐵𝑘𝑢 𝑔
iiiia. Kerapatan Kayu Kering Udara (Kr Ku) = 𝑉𝑘𝑢 (𝑐𝑚3 )
𝐵𝑘𝑡 𝑔
iiiib. Kerapatan Kayu Kering Tanur (Kr Kt) = 𝑉𝑘𝑡 (𝑐𝑚3 )

3. Berat jenis
𝐵𝑘𝑡
Iiiia. Berat Jenis Kayu Kering Udara (Bj Ku) = 𝑉𝑘𝑢
𝐵𝑘𝑡
Iiiib. Berat Jenis Kayu Kering Tanur (Bj Kt) = 𝑉𝑘𝑡

Iiiic. Klasifikasi Berat Jenis Kayu:


1) BJ ≥ 0,90
2) BJ 0,60 - 0,90
3) BJ 0,40 - 0,60
4) BJ 0,30 - 0,40
5) BJ ≤ 0,30
d. Klasifikasi Berat Jenis Kayu:
1) Ringan: BJ ˂ 0,60
2) Sedang/agak berat: BJ 0,60 - 0,75
3) Berat: BJ ˂ 0,75 - 0,90
4) Sangat Berat: BJ ˃ 0,90
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kadar Air


Berdasarkan pengukuran kadar air yang dilakukan terhadap kayu Kelapa
maka diperoleh hasil sebagaimana yang tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Kadar Air Kayu Kering Udara (KA Ku)


Penimbangan Setelah di Oven ke- (g)
Kode Bku (g)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
IXA 3,44 2,98 2,94 2,96 2,97 2,95 2,94 2,95 2,96 2,96 2,96
IXB 3,36 2,91 2,86 2,87 2,85 2,88 2,87 2,87 2,87 2,85 2,89
IXC 3,34 2,93 2,87 2,88 2,89 2,89 2,87 2,89 2,89 2,88 2,88

Lanjutan Tabel 1. Kadar Air Kayu Kering Udara (KA Ku)

Penimbangan Setelah di Oven ke- (g)


Kode Bkt (g) KA (%) Rata-rata
11 12
IXA 2,95 2,96 2,96 16,22
IXB 2,87 2,87 2,87 17,07 16,29
IXC 2,89 2,89 2,89 15,57

Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah kayu Kelapa (Cocos
nucifera) berbentuk kubus dengan dimensi 2 x 2 x 2 cm sebanyak 3 buah. Untuk
pengeringan digunakan oven elektrik yang telah diatur suhunya antara 98℃ -
104℃. Pengovenan dilakukan sebanyak 12 kali selama 24 jam, setiap selang waktu
2 jam ketiga sampel kayu dikeluarkan dari oven lalu dimasukkan ke dalam
desikator selama 15 menit, setelah itu sampel ditimbang beratnya dengan
timbangan digital dan diukur panjang, lebar, dan tebalnya menggunakan jangka
sorong.
Sebelum dilakukan pengovenan sampel terlebih dahulu diukur berat dan
dimensinya, untuk pengukuran volume dilakukan dengan cara pencelupan ke air
lalu ditimbang beratnya bersamaan dengan wadah air. Perlu diketahui bahwa
sampel kayu kubus yang digunakan tidaklah sepenuhnya simetris karena kesalahan
pemotongan dan kondisi kayu.
Setelah pengukuran ke-12 maka diperoleh hasil data berat kayu kering
tanur atau konstan. Kubus kemudian dilapisi dengan lilin sebelum diukur
volumenya dengan cara dicelupkan ke air untuk menghindari penyerapan air.
Setelah itu, dilakukan pengukuran panjang, lebar, dan tebal kayu menggunakan
jangka sorong untuk memperoleh hasil data dimensi kayu kering tanur.
Pengukuran pertama yang dilakukan setelah pengovenan adalah penentuan
kadar air kayu kering udara (KA Ku) dan diperoleh hasil yaitu KA Ku rata-rata
sebesar 16,29%. Ini berarti bahwa kayu Kelapa dalam kondisi kering udara sudah
termasuk ke dalam kategori kayu yang aman untuk digunakan dalam bangunan
(Santoso et al., 2019).
Kadar air yang tersimpan di dalam kayu merupakan konsekuensi dari sifat
higroskopik, yaitu sifat yang memungkinkan kayu untuk dapat menyerap dan
melepas air. Menurut Andari (2015) kadar air pada kayu dapat berubah-ubah
sesuai dengan suhu dan kelembapan lingkungannya.

4.2 Kerapatan
Berdasarkan pengukuran kerapatan yang dilakukan terhadap kayu Kelapa
sebelum dan sesudah pengovenan maka diperoleh hasil sebagaimana yang tertera
pada Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 2. Kerapatan Kayu Kering Udara (KKu)


Vku
Kode Bku (g) KKu (g/cm3) Rata-rata
3
P (cm) L (cm) T (cm) V (cm )
IXA 3,44 2,02 1,98 1,97 7,87 0,43
IXB 3,36 1,95 1,92 2,05 0,43
7,67 0,43
IXC 3,34 2,01 1,96 1,97 7,76 0,43
Tabel 3. Kerapatan Kayu Kering Tanur (KKt)
Pengukuran dan Penimbangan Setelah di Oven ke- (cm) (g)
Kode 1 2
B (g) P (cm) L (cm) T (cm) B (g) P (cm) L (cm) T (cm)
IXA 2,98 1,94 1,91 1,96 2,94 1,96 1,94 1,96
IXB 2,91 1,99 1,89 2,02 2,86 1,91 1,82 2,07
IXC 2,93 1,93 1,81 1,98 2,87 1,95 1,87 2,03

Lanjutan Tabel 3. Kerapatan Kayu Kering Tanur (KKt)


Pengukuran dan Penimbangan Setelah di Oven ke- (cm) (g)
Kode 3 4
B (g) P (cm) L (cm) T (cm) B (g) P (cm) L (cm) T (cm)
IXA 2,96 1,98 1,94 1,97 2,97 1,96 1,91 1,94
IXB 2,87 1,91 1,85 2,05 2,85 1,89 1,85 2,03
IXC 2,88 1,95 1,91 2,01 2,89 1,92 1,88 1,98

Lanjutan Tabel 3. Kerapatan Kayu Kering Tanur (KKt)


Pengukuran dan Penimbangan Setelah di Oven ke- (cm) (g)
Kode 5 6
B (g) P (cm) L (cm) T (cm) B (g) P (cm) L (cm) T (cm)
IXA 2,95 1,91 1,94 1,91 2,94 1,96 1,95 1,96
IXB 2,88 1,90 1,80 2,05 2,87 1,90 1,80 2,04
IXC 2,89 1,92 1,87 1,90 2,87 1,92 1,87 1,90

Lanjutan Tabel 3. Kerapatan Kayu Kering Tanur (KKt)


Pengukuran dan Penimbangan Setelah di Oven ke- (cm) (g)
Kode 7 8
B (g) P (cm) L (cm) T (cm) B (g) P (cm) L (cm) T (cm)
IXA 2,95 1,96 1,92 1,96 2,96 1,96 1,93 1,96
IXB 2,87 1,90 1,80 2,05 2,87 1,91 1,84 2,06
IXC 2,89 1,93 1,87 1,90 2,89 1,93 1,88 1,92
Lanjutan Tabel 3. Kerapatan Kayu Kering Tanur (KKt)
Pengukuran dan Penimbangan Setelah di Oven ke- (cm) (g)
Kode 9 10
B (g) P (cm) L (cm) T (cm) B (g) P (cm) L (cm) T (cm)
IXA 2,96 1,94 1,92 1,95 2,96 1,96 1,93 1,96
IXB 2,85 1,80 1,79 2,05 2,89 1,90 1,79 2,06
IXC 2,88 1,93 1,89 1,99 2,88 1,94 1,89 1,93

Lanjutan Tabel 3. Kerapatan Kayu Kering Tanur (KKt)


Pengukuran dan Penimbangan Setelah di Oven ke- (cm) (g)
Kode 11 12
B (g) P (cm) L (cm) T (cm) B (g) P (cm) L (cm) T (cm)
IXA 2,95 1,95 1,91 1,94 2,96 1,95 1,92 1,95
IXB 2,87 1,89 1,83 2,06 2,87 1,87 1,81 2,06
IXC 2,89 1,93 1,86 1,91 2,89 1,92 1,87 1,91

Lanjutan Tabel 3. Kerapatan Kayu Kering Tanur (KKt)

Vkt
Kode Bkt (g) KKt (g/cm3) Rata-rata
3
P (cm) L (cm) T (cm) V (cm )
IXA 2,96 1,96 1,91 1,96 7,33 0,40
IXB 2,87 1,90 1,80 2,05 7,01 0,40 0,40
IXC 2,89 1,93 1,87 1,90 6,85 0,42

Pengukuran kedua adalah penentuan kerapatan kayu kering udara (KKu),


data yang digunakan adalah data sebelum dilakukan pengovenan sehingga nilai
berat kayu kering tanur tidak diperlukan dalam penentuan ini. Hasil pengukuran
KKu rata-rata yang diperoleh adalah 0,43 g/cm3. Sebagai perbandingan setelah
pengovenan sampel, maka dilakukan pengukuran kerapatan kayu kering tanur
(KKt) dan diperoleh hasil rata-rata 0,40 g/cm3.
Kerapatan kayu Kelapa mengalami penurunan setelah dilakukan
pengovenan, menurut Listyanto (2018) kenaikan kerapatan terjadi pada kondisi
diatas kadar air titik jenuh serat (TJS), hal tersebut terjadi karena kayu telah
berhenti mengembang pada saat kadar air titik jenuh serat. Berdasarkan pernyataan
tersebut dapat dikatakan bahwa kayu Kelapa setelah dilakukan pengovenan
mengalami penurunan kadar air pada rongga dan dinding sel sehingga kayu berada
pada kondisi dibawah TJS, hal ini menyebabkan kerapatan kayu menurun.

4.3 Berat Jenis


Berdasarkan pengukuran berat jenis yang dilakukan terhadap kayu Kelapa
sebelum dan sesudah pengovenan maka diperoleh hasil sebagaimana yang tertera
pada Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 4. Berat Jenis Kayu Kering Udara (BJ Ku)


Vku Penimbangan Setelah di Oven ke- (g)
Kode
A (g) B (g) C (g) 1 2 3 4 5 6 7
IXA 1039,91 1047,47 7,56 2,98 2,94 2,96 2,97 2,95 2,94 2,95
IXB 1039,49 1046,27 6,78 2,91 2,86 2,87 2,85 2,88 2,87 2,87
IXC 1038,98 1046,00 7,02 2,93 2,87 2,88 2,89 2,89 2,87 2,89

Lanjutan Tabel 4. Berat Jenis Kayu Kering Udara (BJ Ku)


Penimbangan Setelah di Oven ke- (g)
Kode Bkt (g) BJ Ku Rata-rata
8 9 10 11 12
IXA 2,96 2,96 2,96 2,95 2,96 2,96 0,39
IXB 2,87 2,85 2,89 2,87 2,87 2,87 0,42 0,40
IXC 2,89 2,88 2,88 2,89 2,89 2,89 0,41

Tabel 5. Berat Jenis Kayu Kering Tanur (BJ Kt)


Vkt Penimbangan Setelah di Oven ke- (g)
Kode
A (g) B (g) C (g) 1 2 3 4 5 6 7
IXA 1046,91 1053,63 6,72 2,98 2,94 2,96 2,97 2,95 2,94 2,95
IXB 1046,54 1053,35 6,81 2,91 2,86 2,87 2,85 2,88 2,87 2,87
IXC 1046,40 1053,38 6,98 2,93 2,87 2,88 2,89 2,89 2,87 2,89
Lanjutan Tabel 5. Berat Jenis Kayu Kering Tanur (BJ Kt)
Penimbangan Setelah di Oven ke- (g)
Kode Bkt (g) BJ Kt Rata-rata
8 9 10 11 12
IXA 2,96 2,96 2,96 2,95 2,96 2,96 0,44
IXB 2,87 2,85 2,89 2,87 2,87 2,87 0,42 0,42
IXC 2,89 2,88 2,88 2,89 2,89 2,89 0,41

Pengukuran ketiga adalah penentuan berat jenis kayu kering udara (BJ Ku),
nilai volume yang digunakan dalam perhitungan kali ini adalah volume celup air
sebelum dilakukan pengovenan dan diperoleh hasil perhitungan rata-rata sebesar
0,40. Sebagai perbandingan maka dilakukan penentuan berat jenis kayu kering
tanur (BJ Kt) dengan menggunakan nilai volume celup air setelah pengovenan dan
diperoleh rata-rata sebesar 0,42. Berdasarkan ketentuan hasil analisis data berat
jenis kayu Kelapa setelah dan sebelum dioven masih diklasifikasikan BJ ringan,
menurut Listyanto (2018) kayu dengan BJ yang rendah akan lebih cepat kering
karena susunan kayu (porositas) yang rendah sehingga memperlancar keluarnya air
dari dalam kayu, Kurniawan (2016) menjelaskan bahwa berat jenis kayu
ditentukan oleh ketebalan dinding sel dan kecilnya rongga sel yang membentuk
pori-pori. Berdasarkan pernyataan tersebut bahwa pertambahan BJ kayu Kelapa
dikarenakan perubahan pada ketebalan dinding sel dan ukuran rongga sel setelah
di oven selama 24 jam.
Peningkatan berat jenis yang dialami oleh sampel (kayu Kelapa)
berbanding terbalik dengan jumlah kadar airnya, semakin besar berat jenisnya
makan semakin rendah kadar airnya (Indrosaptono et al., 2018). Berdasarkan
pernyataan tersebut kadar air yang berkurang setelah pengovenan juga
menyebabkan berat jenis kayu Kelapa meningkat. Peningkatan berat jenis
merupakan hal yang baik karena semakin tinggi berat jenis maka semakin kuat
kayu tersebut (Kurniawan, 2016).
Indrosaptono et al. (2018) menggolongkan kayu Kelapa ke dalam kayu
agak berat berdasarkan berat jenis rata-rata 0,74. Ketiga sampel uji yang
digunakan memiliki berat jenis kering udara rata-rata 0,40 dan kering tanur 0,42,
perbedaan yang signifikan antara sampel terjadi karena beberapa faktor seperti
kualitas kayu, umur, atau perlakuan terhadap kayu sebelum dijadikan sampel.
Pengeringan kayu akan menurunkan kadar air sehingga proses
pengangkutan akan lebih mudah dan cepat karena berat kayu yang lebih ringan.
Manfaat lainnya dari pengeringan kayu dapat mencakup beberapa hal seperti
meningkatkan stabilitas dimensi kayu dan meningkatkan kemudahan dalam proses
pengawetan kayu.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil dan pembahasan
praktikum fisika tentang kadar air, kerapatan, dan berat jenis, yaitu:
1. Kadar air, kerapatan, dan berat jenis kayu sangat dipengaruhi oleh sifat
higroskopik kayu, pelepasan air akibat pengeringan pada kayu akan berdampak
pada ketiga nilai tersebut,
2. Metode gravimetri atau pengeringan dengan oven juga dapat diaplikasikan
untuk pengeringan kayu dengan hasil yang cukup memuaskan, peran
timbangan digital dan jangka sorong juga berpengaruh besar terhadap hasil,
3. Untuk pengeringan, penentuan data atau hasil yang diinginkan sangatlah
penting untuk dilakukan begitu juga sebelum dilakukan pengeringan, sebagai
perbandingan maka perekaman nilai perlu dilakukan,
4. Proses pencatatan dan analisis data tidak akan berhasil jika praktikan tidak
memahami bagaimana suatu alat bekerja, sehingga keterampilan dan
pemahaman sangat diperlukan,
5. Pencatatan dan analisis data memerlukan ketelitian dan kesadaran yang tinggi,
sehingga dalam kelompok diperlukan kerja sama tim yang baik,
6. Besaran nilai yang berubah setelah masa pengovenan menunjukan bahwa kayu
adalah material yang peka terhadap suhu lingkungannya.

5.2 Saran
Adapun saran dari penyusun untuk praktikum ini yaitu, agar kedepannya
jumlah desikator untuk pelaksanaan praktikum tidak hanya dua, hal ini
menyebabkan proses pelepasan kadar air terganggu karena praktikan saling
bergantain menggunakan desikator yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

Andari, M. 2015. Instrumentasi Acoustic Spectroscopy untuk Identifikasi Tingkat


Kadar Air Pada Kayu. Bandar Lampung: Universitas Lampung. (Tersedia
online di: digilib.unila.ac.id/16362) (Diakses pada 19 Juni 2019).

Indrosaptono, D., Sukawi & Indraswara, M. S. 2018. Kayu Kelapa (glugu)


sebagai Alternatif Bahan Konstruksi Bangunan. Modul. 14(1): 53-58.
(Tersediaionlineidi:iejournal.undip.ac.id/index.php/modul/article/view/655
0) (Diakses pada 19 Juni 2019).

Kurniawan, R. 2016. Pengenalan Sifat-sifat Kayu. Malang: Universitas Merdeka


Malang. (Tersedia online di: www.academia.edu/37746629) (Diakses pada
20 Juni 2019).

Listyanto, T. 2018. Teknologi Pengeringan Kayu dan Aplikasinya di Indonesia.


Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (Tersedia online di:
ugmpress.ugm.ac.id/id/product/agro-fauna/teknologi-pengeringan-kayu-
dan-aplikasinya-di indonesia) (Diakses pada 19 Juni 2019).

Nugroho & Ismu, R. 2016. Efek Variasi Jenis Kayu Terhadap Kecepatan
Gelombang Ultrasonik dengan Menggunakan Metode Direct. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta. (Tersedia online di:
eprints.uny.ac.id/62075) (Diakses pada 20 Juni 2019).

Santoso, M., Jemi, R., Mujaffar, A., Luhan, G., Herianto & Yanciluk. 2019.
Penuntun Praktikum Fisika. Palangka Raya: Universitas Palangka Raya,
Fakultas Pertanian, Jurusan Kehutanan.

Sukarlan, Y. M. 2014. Penyusunan Draft Standard Operating Procedure


Pembuatan Gula Merah Kelapa (Studi Kasus di Pengrajin Gula Merah
Kelapa Desa Purworejo Kecamatan Negeri Katon Kabupaten
Pesawaran). Bandar Lampung: Universitas Lampung, Fakultas
Pertanian.i(Tersediaionlineidi:ijurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JTHP/article
/ view/423) (Diakses pada 20 Juni 2019).

Suranto, Y. 2015. Pengaruh Konsentrasi Larutan dan Durasi Perendaman terhadap


Efektivitas Bahan Konservan Poly Etilen Glikol dalam Pelestarian Cagar
Budaya Material Kayu (Studi Kasus pada Kayu Waru Gunung). Jurnal
Konservasi Cagar Budaya Borobudur. 9(2): 52-62. (Tersedia online di:
borobudur.kemdikbud.go.id/index.php/jurnalkonservasicagarbudaya/articl
e /view/141) (Diakses pada 20 Juni 2019).
LAMPIRAN