Anda di halaman 1dari 14

TUGAS SISTEM MUSKULOSKELETAL

”ASKEP FRAKTUR”

Disusun oleh:
EVITA MEGA WAHYU UTAMI
(11321096)
Kelas VC

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2013/2014
ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN FRAKTUR

A. Pengertian :
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang
lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2008).

Fracture is abreak in the continuity of bone and is defined according to its type and
extent. (Brunner &Suddarth, 2008)

Fraktur adalah rusaknya kontinuitas jaringan tulang yang disebabkan tekanan


eksternal yang datang lebih besar dari yang diserap oleh tulang (Lnda Juall Carpenito,
2009).

B. Penyebab :

a. Deformitas (Perubahan bentuk tubuh sebagian / umum)


Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dar
tempatnya.Perubahan keseimbangan dan kontur terjadi karena rotasi pemendekan
tulang dan penekanan tulang.
b. Bengkak
c. Echymosis dari pendarahan
d. Keempukan
e. Spasme Otot
f. Nyeri yang disebabkan oleh spasme otot Karena berpindahnya tulang dari tempatnya
dan kerusakan struktur didaerah yang berdekatan.
g. Kehilangan sensasi
h. Terjadi karena rusaknya saraf.
i. Pergerakan Abnormal
j. Peningkatan temperature lokal
k. Krepitasi Rasa (gemeretak yang terjadi jika bagian-bagian tulang digerakkan)
l. Shock Hipovolemik akibat hilangnya darah.
m. Trauma :
 Langsung
 Tak langsung
 Stress (tekanan yang berulang)
 Pathologis (osteoporosis)

Kategori :
1. Fraktur terbuka : fraktur yang mengakibatkan tulang menembus kulit (resiko infeksi besar).
2. Fraktur tertutup : fraktur yang tidak mengakibatkan terjadinya hubungan tulang dengan
dunia luar.
Patah tulang tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar. Pendapat lain menyatidakan bahwa patah tulang tertutup adalah
suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi
(Handerson, M. A, 1992).

Faktor predisposisi :
1. Usia.
2. Jenis kelamin.
3. Pathologis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
1) Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu,
dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2) Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya
fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau
kekerasan tulang.
( Ignatavicius, Donna D, 1995 )

C. Klasifikasi Fraktur
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi menjadi
beberapa kelompok, yaitu:
a. Berdasarkan sifat fraktur.
1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa
komplikasi.
2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
b. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
seperti:
 Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
 Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
 Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang.

c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.


1). Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2). Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
3). Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
4). Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5). Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot
pada insersinya pada tulang.
d. Berdasarkan jumlah garis patah.
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.
e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1). Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.
2). Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga
disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a) Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu
dan overlapping).
b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
f. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
g. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar
trauma, yaitu:
a. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak
sekitarnya.
b. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
c. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
d. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman
sindroma kompartement.

D. Tanda klasik fraktur :


1. Nyeri
2. Perubahan bentuk
3. Bengkak
4. Peningkatan temperatur lokal
5. Pergerakan abnormal.
6. Krepitasi
7. Kehilangan fungsi

E. Tahap-tahap penyembuhan tulang


1. Stadium Pembentukan hematom
 Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah yang
robek.
 Hematom dibungkus oleh jaringan lunak sekitarnya (periosteum dan otot)
 Terjadi pada 1 - 2 X 24 Jam.

2. Stadium proliferasi Sel


 Sel-sel berperoliferasi dari lapisan dalam periosteum, disekitar lokasi fraktur.
 Sel-sel ini prekursor osteoblas.
 Sel-sel ini aktif tumbuh kearah fragmen tulang.
 Terjadi setelah hari ke dua.

3. Stadium pembentukan kallus.


 Osteoblast membentuk tulang lunak ( kallus ).
 Kallus memberikan rigiditas pada fraktur.
 Terlihat massa kallus pada X Ray  fraktur telah menyatu.
 Terjadi 6 - 10 hari setelah kecelakaan
4. Stadium Konsolidasi (Kalsifikasi)
 Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba telah menyatu.
 Secara bertahap menjadi tulang mature
 Terjadi pada minggu ke 3 - 10 setelah kecelakaan.

5. Stadium Remodelling.
 Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi bekas fraktur.
 Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast
 Pada anak - anak remodelling dapat sempurna, dewasa masih ada tanda penebalan.
E. Tatalaksana
1. Reduksi, untuk memperbaiki kesegarisan tulang (menarik)
2. Immobilisasi, untuk mempertahankan posisi reduksi dan memfasilitasi union (eksternal 
gips, traksi, fiksasi eksternal. Internal  nail & plate).
3. Rehabilitasi, mengembalikan ke fungsi semula.

F. Komplikasi
Umum
 Syok
 Infeksi
 Crush syndrom pada otot
 Emboli lemak
Dini
 Cedera syaraf
 Cedera arteri
 Compartemen syndrome
 Cedera kulit & jaringan lunak
Lanjut
 Delayed Union
 Atrofi
 Nekrosis
PENGKAJIAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

Data Subyektif :
 Data biologis, Umur, jenis kelamin, pekerjaan.
 Pengkajian dapat difokuskan pada adanya nyeri, kekakuan, kram, sakit pinggang,
kemerahan, deformitas, terbatasnya pergerakan (ROM), gangguan sensasi dan faktor lain
yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari.
 Cara PQRST :
 Provokatif / palliatif : apa penyebabnya dan apa yang membuat keluhan bertambah
ringan atau bertambah berat.
 Quality / Quantity : bagaimana rasanya, kelihatannya dan seberapa besar.
 Region / Radiation : dimana dan apakah menyebar.
 Severity : apakah mengganggu aktifitas sehari-hari atau seberapa parah pada skala
1 - 10.
 Timing : kapan mulainya, seberapa sering hal ini dirasakan dan apakah munculnya
tiba-tiba atau seketika.

Data obyektif :
 Pengkajian fisik sistematik
 Inspeksi dan palpasi ROM dan kekuatan otot.
 Pengukuran kekuatan otot 0 - 5.
 Duduk, berdiri dan berjalan
 Kelemahan otot, deformitas.
Prosedur diagnostik
 Roentgenography ( X - ray )
 CT Scan
 Bone Scaning
 MRI (magnetic Resonance Imaging)
 EMG (Elektro MyoGraphy)
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN FRAKTUR
No Diagnosa Keperawatan/Data Tujuan/ kriteria Rencana tindakan
penunjang
1. Gangguan perfusi perifer sehu- Tujuan : Perfusi perifer  Observasi ada/tidak kualitas
bungan dengan berkurangnya dapat dipertahankan. nadi perifer dan bandingkan
aliran darah akibat adanya dengan pulses normal.
trauma jaringan/tulang Kriteria :  Kaji adanya gangguan pe-
 HR. 60 - 100 x per rubahan motorik/sensorik.
Data penunjang : menit.  Pertahankan posisi daerah
 Daerah perifer pucat /  Kulit hangat sensori yang fraktur lebih tinggi
sianosis. normal. kecuali bila ada kontra indikasi
 Pengisian kapiler darah  Sistolik 100 - 140 untuk meningkatkan aliran
yang trauma  5 detik. mmHg. vena dan menghilangkan
 Daerah perifer dengin.  RR. 16 - 24 x per udema.
menit.  Observasi adanya tanda
 Urine out put 30 - 50 cc iskemia daerah tungkai seperti,
per jam. pe-nurunan suhu, dingin dan
 Pengisian kapiler 3 - 5 pe-ningkatan rasa sakit.
detik.  Dorong klien untuk melakukan
mobilisasi secepatnya sesuai
indikasi untuk meningkatkan
sirkulasi, mengurangi terjadi-
nya trombus terutama pada
ektremitas bagian bawah.
 Observasi tanda vital, catat dan
laporkan bila ada gejala sia-
nosis, dingin pada kulit dan
gejala perubahan status mental.
 Kerja sama dengan Tim
kesehatan :
 Pemeriksaan
laboratorium ; Hb, Ht
 Pemberian cairan
parentral, tranfusi darah
bila perlu.
 Pemberian obat.
 Persiapan operasi bila
perlu.

2. Nyeri sehubungan dengan gese- Tujuan : Nyeri berkurang,  Mengkaji keadaan nyeri yang
ran/pergerakan fragmen tulang. dan dapat diatasi. meliputi : lokasi, intensitas,
lamanya, skala nyeri 1 - 10.
Data penunjang : Kriteria :  Batasi pergerakan pada daerah
 Nyeri saat digerakkan.  Klien tidak mengeluh fraktur, klien harus bed rest.
 Bengkak pada lokasi nyeri.  Tinggikan dan sokong
fraktur.  Pembengkakan hilang ekstremitas yang mengalami
 Spasme otot. atau berkurang. fraktur.
 Otot relaksasi.  Observasi perubahan tanda
vital.
 Berikan alternatif perubahan
posisi secara periodik.

 Ajarkan pasien tehnik relaksasi


nafas dalam dan tehnik
distraksi untuk mengurangi
rasa sakit pada skala nyeri 
5.
 Berikan penjelasan terhadap
klien setiap prosedur yang
akan dilakukan.
 Kerja sama dengan Tim
Medis : Pemberian obat
analgetika.

3. Keterbatasan aktifitas peme- Tujuan : Aktifitas sehari-  Jelaskan aktifitas-aktifitas apa


nuhan kebutuhan sehari-hari hari tetap terpenuhi. yang dapat dikerjakan sendiri
se-hubungan dengan oleh klien dan apa yang perlu
immobilisasi, kerusakan Kriteria : dibantu oleh perawat.
neuromuskuler, nye- ri.  Klien dapat melakukan  Bantu untuk pemenuhan ke-
aktifitas sehari-hari, se- butuhan sehari-hari yang tidak
Data penunjang : suai dengan dapat dilakukan klien.
 Klien terpasang gips / pembatasan gerak oleh  Ajarkan dan anjurkan untuk la-
traksi. gips seperti makan, tihan aktif pada kaki yang
minum, b.a.b, b.a.k dan cedera dan yang normal, je-
mandi. laskan bahwa latihan dapat
mencegah terjadinya kom-
plikasi, meningkatkan ke-
sembuhan.
 Ajarkan tehnik relaksasi.

4. Potensial infeksi sehubungan Tujuan : Infeksi tidak  Observasi adanya tanda-tanda


de-ngan adanya luka fraktur terjadi. infeksi pada lokasi luka
terbu-ka. (kemerahan, bengkak dan rasa
Kriteria : sakit)
Data penunjang :  Penyembuhan luka  Observasi adanya peningkatan
 Adanya luka pada daerah sem-purna. HR, anemia, delirium dan
fraktur.  Tidak ada tanda infeksi. penurunan kesadaran berlanjut.
 Bagian yang  Observasi penampilan kulit ;
fraktur/luka dapat pucat, kemerahan, adanya
berfungsi seperti vesikel yang berisi cairan
semula. berwarna merah dan adanya
gejala-gejala awal gas gangren.
 Monitor output urine.
 Observasi keadaan luka, ganti
balutan secara teratur dengan
tehnik septik aseptik dan buang
bekas ganti balutan dalam
plastik yang diikat.
 Kerja sama dengan Tim
kesehatan :
 Pemberian cairan
parentral.
 Observasi tindakan invasif
 Pemberian antibiotika.

5. Kurangnya pengetahuan Tujuan :  Berikan penjelasan tentang


tentang pembatasan aktifitas Pengetahuan klien latihan yang harus dilakukan.
dan pera-watan luka tentang mobilisasi dan  Demonstrasikan cara latihan
sehubungan dengan kurangnya perawatan di Rumah mobilisasi aktif.
informasi. meningkat.  Anjurkan klien untuk me-
lakukan mobilisasi aktif
Data penunjang : Kriteria : dengan menggerakkan
 Klien menyatakan belum  Klien menyatakan telah persendian pada bagian bawah
memahami tentang memahami tentang mo- dari daerah yang fraktur.
aktifitas yang boleh/tidak bilisasi dan cara pera-  Diskusikan dengan klien ten-
boleh dilakukan. watan dirumah. tang gejala & tanda abnormal
 Klien kurang kooperatif  Klien dapat mengulangi yang timbul selama perawatan
dalam program mobilisasi. kembali secara seder- dan dianjurkan klien melapor
hana tentang hal-hal kepada perawat, gejala yang
yang telah dijelaskan. diobservasi : rasa sakit,
 Klien dapat mendemon- perasaan dingin, adanya bau
strasikan kembali tidak enak dari daerah luka
latihan mobilisasi yang dan perubahan sensasi.
telah diajarkan.  Diskusikan tentang pentingnya
 Klien kooperatif dalam klien kontrol secara teratur ke
program mobilisasi. Poliklinik sesuai perjanjian.
 Jelaskan rehabilitasi yang
boleh dilakaukan di rumah
sesuai kemampuan klien.
No Diagnosa Tujuan/ kriteria Rencana tindakan
Keperawatan/Data
penunjang
1. Gangguan per-fusi perifer Tujuan : Perfusi perifer dapat diper-  Observasi ada/tidak kualitas nadi perifer dan
se-hubungan de-ngan tahankan. bandingkan dengan pulses normal.
berkurang nya aliran da-rah  Kaji adanya gangguan pe-rubahan motorik/sensorik.
akibat ada nya trauma ja- Kriteria :  Pertahankan posisi daerah yang fraktur lebih tinggi
ringan/tulang  HR. 60 - 100 x per menit. kecuali bila ada kontra indikasi untuk meningkatkan
 Kulit hangat sen-sori normal. aliran vena dan meng-hilangkan udema.
Data penunjang :  Sistolik 100 - 140 mmHg.  Observasi adanya tanda iskemia daerah tungkai
 Daerah perifer pucat /  RR. 16 - 24 x per menit. seperti, penurunan suhu, dingin dan peningkatan
sianosis.  Urine out put 30 - 50 cc per jam. rasa sakit.
 Pengisian ka-piler darah  Pengisian kapiler 3 - 5 detik.  Dorong klien untuk mela-kukan mobilisasi
yang trauma  5 detik. secepatnya sesuai indikasi untuk me-ningkatkan
 Daerah peri-fer dengin. sirkulasi, me-ngurangi terjadinya trombus terutama
pada ektremitas ba gian bawah.
 Observasi tanda vital, catat dan laporkan bila ada
gejala sia-nosis, dingin pada kulit dan gejala
perubahan status mental.
 Kerja sama dengan Tim kesehatan :
 Pemeriksaan laboratorium ; Hb, Ht
 Pemberian cairan paren-tral, tranfusi darah bila
perlu.
 Pemberian obat.
 Persiapan operasi bila perlu