Anda di halaman 1dari 30

“Hubungan Komunikasi Interpersonal Orang Tua dan

Anak”

Disusun oleh:

Ayu Lestari 5535161031


Fildzah Nabila 5535161922
Zulfa Aulia F 5535161926
Neta Hanawara 5535161927
Rafika Nurmala 5535162067

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA RIAS


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
TAHUN 2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirt Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga kami mampu menyelesaikan makalah
inidengan baik dan sesuai waktu yang di tentukan. Penulisan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Etika Komunikasi di
Universitas Negri Jakarta prodi Pendidikan Vokasional Tata Rias.
Dalam memenuhi persyaratan tersebut kami mencoba membuat makalah
yang berjudul “Hubungan Komunikasi Interpersonal Orang Tua dan Anak”.
Dalam menyusun makalah ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran akan
sangatmembantu untuk melengkapi makalah ini menjadi lebih baik lagi. Akhir
kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.

Jakarta, 13 Juni 2019

Tim Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................................ i
Kata Pengantar ................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii
BAB I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ................................................................................ 2
1.3. Tujuan Penelitian .................................................................................... 2
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................. 3
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1. Komunikasi Antarpribadi ....................................................................... 4
2.1.1. Ciri-ciri Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal)....................... 5
2.1.2. Jenis Komunikasi Antarpribadi ..................................................... 6
2.1.3. Faktor Pembentuk Komunikasi Antar Pribadi .............................. 7
2.1.4. Faktor Personal yang Mempengaruhi Atraksi Interpersonal......... 11
2.1.5. Teori Hubungan Antarpribadi ....................................................... 13
2.2. Keluarga .................................................................................................. 19
2.2.1. Orang Tua ...................................................................................... 19
2.2.2. Anak .............................................................................................. 20
2.2.3. Komunikasi Keluarga .................................................................... 21
2.2.4. Komunikasi Interpersonal Orangtua-anak ................................... 23
BAB III Penutup
3.1. Kesimpulan ............................................................................................. 25
3.2. Saran ....................................................................................................... 25
Daftar Pustaka .................................................................................................. 26

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Komunikasi merupakan aktivitas dasar yang dilakukan manusia. Tidak ada
manusia yang tidak terlibat dalam komunikasi. Komunikasi pada hakikatnya
adalah sebuah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan.
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata
Latin communis yang berarti “sama”. Komunikasi menyarankan bahwa suatu
pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2010:46).
Cara berkomunikasi dengan masing-masing orang pasti memiliki perbedaan.
Termasuk cara berkomunikasi anak terhadap orangtua, tentunya juga akan
berbeda.
Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan
merupakan hasil dari sebuah pernikahan yang sah yang dapat membentuk sebuah
keluarga. Peranan orang tua adalah bertanggung jawab dalam mendidik,
mengasuh, dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang
menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut
Shochib (1998) ada sembilan upaya orang tua yang diaktualisasikan terhadap
penataan dalam mendidik, mengasuh dan membimbing, (1) lingkungan fisik, (2)
lingkungan sosial internal dan eksternal, (3) pendidikan internal dan eksternal, (4)
dialog / komunikasi dengan anak-anaknya, (4) suasana psikologis, (5) suasana
psikologis, (6) sosiobudaya, (7) perilaku yang ditampilkan pada saat terjadinya
“pertemuan” dengan anak-anaknya, (8) kontrol terhadap perilaku anak-anaknya,
(9) menentukan nilai-nilai moral kepada anak-anaknya. Orang tua mempunyai
peran yang penting untuk memberikan bekal kepada anak agar mampu
berinteraksi dengan cara yang bisa diterima masyarakat. Selain itu keluarga juga
merupakan media awal anak belajar mengenai nilai-nilai moral, disiplin, tanggung
jawab, dan nilai-nilai agama. Dengan pembelajaran tersebut anak diharapkan
dapat berinteraksi dengan lingkungan dan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut
saat berada di lingkungan.

1
2

Komunikasi anak terhadap orangtua dikategorikan dalam konteks


komunikasi antarpribadi. Menurut DeVito (Zuhri, 2009:82) Komunikasi
interpersonal ialah “proses pengiriman dan penerimaan pesan antar dua orang atau
diantara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa
umpan balik seketika”. Berdasarkan definisi DeVito, komunikasi interpersonal
dapat berlangsung antara dua orang yang sedang berdua-duaan seperti suami istri
yang sedang berbincang-bincang, atau antar dua orang dalam suatu pertemuan,
misalnya antara penyaji makalah dengan salah seorang peserta seminar dan ketika
seorang ayah memberi nasehat kepada anaknya yang nakal dan sebagainya.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana pola komunikasi
antara orang tua dengan anak. Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitiaan ini,
yakni pola komunikasi antara informan anak dengan informan orang tua maupun
sebaliknya pola komunikasi antara informan orang tua dengan informan anak
berdasarkan tipe keluarga antara lain; tipe keluarga karier, tipe keluarga protektif,
tipe keluarga gagap teknologi. Terdapat hambatanhambatan yang mempengaruhi
pola komunikasi seperti; hambatan ekonomi, waktu, profesi, dan jaringan
komunikasi. Hambatan-hambatan inilah yang mempengaruhi komunikasi tidak
berjalan dengan baik. Pola komunikasi antara informan anak dengan informan
orang tua maupun sebaliknya berdampak terhadap hubungan antara informan anak
dengan informan orang tua menjadi erat atau renggang.

1.2. Perumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahannya yaitu
“Bagaimana pola komunikasi pada hubungan interpersonal anak terhadap orang
tua dalam menjaga hubungan?”

1.3. Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pola komunikasi
interpersonal pada hubungan anak terhadap orangtua dalam menjaga hubungan
3

1.4. Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
1. Dapat memahami berbagai pengertian atau definisi komunikasi
interpersonal yang dikemukakan oleh para ahli.
2. Kita dapat memahami elemen-elemen dalam komunikasi interpersonal
antara orangtua dan anak.
3. Kita dapat memahami proses komunikasi interpersonal dalam keluarga.
4. Kita dapat memahami fungsi komunikasi interpersonal.
5. Kita dapat memahami teori-teori komunikasi interpersonal
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal)


Komunikasi pada hakikatnya adalah sebuah proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan. Kata komunikasi atau communication dalam
bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama”. Komunikasi
menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara
sama (Mulyana, 2010:46).
Komunikasi dapat didefinisikan sebagai penyampaina informasi antara dua
orang atau lebih. Komunikasi merupakan suatu proses yanh vital dalam organisasi
karena komunikasi diperlukan bagi evektifitas kepemimpinan, perencanaan,
pengendalian, koordinasi, latihan, manajemen konfilk, serta proses-proses
organisasi lainnya.
Komunikasi interpersonal biasanya didefinisikan oleh komunikasi ulama
dalam berbagai cara, biasanya menggambarkan peserta yang tergantung pada satu
sama lain dan memiliki sejarah bersama. Hal ini dapat melibatkan satu pada satu
percakapan atau individu berinteraksi dengan banyak orang dalam masyarakat. Ini
membantu kita memahami bagaimana dan mengapa orang berperilaku dan
berkomunikasi dengan cara yang berbeda untuk membangun dan menegosiasikan
realitas sosial . Sementara komunikasi interpersonal dapat didefinisikan sebagai
area sendiri studi, itu juga terjadi dalam konteks lain seperti kelompok dan
organisasi.
Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan
penerimaan pesan antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua
aspek komunikasi seperti mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi
nonverbal, dan banyak lagi. Sebuah konsep utama komunikasi interpersonal
terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada individu yang terlibat tidak seperti
bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana mungkin ada sejumlah
besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif.
Deddy Mulyana (2005) menyatakan: “komunikasi antarpribadi
(interpersonal communication) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap

4
5

muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara
langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.” (Mulyana, 2005:73).
Individu juga berkomunikasi pada tingkat interpersonal berbeda tergantung
pada siapa mereka terlibat dalam komunikasi dengan. Sebagai contoh, jika
seseorang berkomunikasi dengan anggota keluarga, bahwa komunikasi akan lebih
dari mungkin berbeda dari jenis komunikasi yang digunakan ketika terlibat dalam
tindakan komunikatif dengan teman atau penting lainnya.
Secara keseluruhan, komunikasi interpersonal dapat dilakukan dengan baik
dan tidak langsung media komunikasi langsung seperti tatap muka interaksi, serta
komputer-mediated-komunikasi. Sukses mengasumsikan bahwa baik pengirim
pesan dan penerima pesan akan menafsirkan dan memahami pesan-pesan yang
dikirim pada tingkat mengerti makna dan implikasi.
Tujuan komunikasi boleh jadi memberikan keterangan tentang sesuatu
kepada penerima, mempengaruhi sikap penerima, memberikan dukungan
psikologis kepada penerima, atau mempengaruhi penerima.

2.1.1. Ciri-ciri Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal)


Menurut Devito, komunikasi interpersonal mengandung lima ciri sebagai
berikut (dalam Liliweri, 1997):
1. Keterbukaan (openness)
Keterbukaan adalah sejauh mana individu memiliki keinginan untuk terbuka
dengan individu lain dalam berinteraksi. Keterbukaan yang terjadi dalam
komunikasi memungkinkan perilaku individu memberikan tanggapan secara jelas
terhadap segala pikiran dan perasaan yang diungkapkannya.
2. Empati (empathy)
Empati adalah suatu perasaan individu yang merasakan sama seperti yang
dirasakan individu lain tanpa harus secara nyata terlibat dalam perasaan ataupun
tanggapan individu tersebut.
3. Dukungan (suportiveness)
Adanya dukungan dapat membantu individu lebih bersemangat dalam
melakukan aktivitas serta meraih sesuatu yang diinginkan. Dukungan ini lebih
diharapkan dari individu yang terdekat yaitu keluarga.
6

4. Perasaan positif (positiveness)


Perasaan positif yaitu dimana individu mempunyai perasaan positif terhadap
apa yang dikatakan individu lain terhadap dirinya.
5. Kesamaan (equality)
Kesamaan adalah sejauh mana antara pembicara sebagai pengirim pesan
dengan penerima sebagai penerima pesan mencapai kesamaan dalam arti dan
pesan komunikasi. Dengan kata lain individu mempunyai kesamaan dengan
individu lain dalam hal berbicara dan mendengarkan.
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri komunikasi
interpersonal meliputi: keterbukaan, empati, dukungan, perasaan positif dan
adanya kesamaan.

2.1.2. Jenis Komunikasi Antarpribadi


Secara teoritis komunikasi interpersonal di klasifikasikan menjadi dua jenis
menurut sifatnya, yaitu:
1. Komunikasi Diadik (dyadic communication)
Komunikasi diadik adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua
orang dalam situasi tatap muka. Komunikasi diadik menurut Pace dapat
dilakukan dalam tiga bentuk, yakni percakapan, dialog dan wawancara.
Percakapan berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal.
Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam, dan lebih
personal, sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni adanya pihak
yang dominan pada sisi bertanya dan yang lainnya pada posisi menjawab.
2. Komunikasi Triadik (triadic communication)
Komunikasi triadic adalah komunikasi antarpribadi yang perilakuknya
terdiri dari tuga orang, yakni sekrang komunikator dan dua orang lainnya
adalah komunikan. Jika misalnya si A yang menjadi komunikator maka ia
pertama-tama menyampaikan kepada komunikan B, kemudian kalua
dijawab atau ditangapi, beralih kepada komunikan C juga secara dialogis.
Apabila dibandingkan dengan komunikasi triadic, maka komunikasi diadik
lebih efektif, karena komunikator hanya memusatkan perhatiannya kepada
komunikan, sehingga ia dapat menguasai frame of reference komunikan
7

sepenuhnya, juga umpan balik yang berlangsung, kedua faktor yang sangat
berpengaruh terhadap efektifitas tindaknya proses komunikasi.

2.1.3. Faktor Pembentuk Komunikasi Antar Pribadi


Komunikasi merupakan bagian penting dalam kehidupan. Dengan adanaya
komunikasi individu dapat saling mengenal. Menurut Halloran (1980) dalam
berkomunikasi individu di dorong oleh beberapa faktor yaitu: tiap-tiap individu
memiliki perbedaan antarpribadi yang menjadikan individu tersebut unik. Adanya
perbedaan tersebut mendorong individu untuk memenuhi kekurangan yang
dimilikinya sehingga dapat tetap berpartisipasi dalam masyarakat.
Komunikasi dilatarbelakangi oleh motivasi yang berbeda. Motif tersebut
merupakan semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri
manusia yang menyebabkan individu berbuat sesuatu (Gerungan, 1996). Yang
dijadikan individu untuk memenuhi harga dirinya. Dengan terpenuhinya
kebutuhan akan harga diri menimbulkan perasaan dan sikap percaya diri, perasaan
berguna dan penting di dunia (Alwisol, 2004). Sehingga individu mendapat
pengakuan dari orang lain (dalam Liliweri, 1997).
Pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada
hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang
melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan
mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan, tetapi
bagaimana komunikasi itu dilakukan.
8

Jadi, berdasarkan teori yang telah diulas maka faktor-faktor yang


mempengaruhi atau membentuk komunikasi antar pribadi adalah sebagai berikut:
1. Percaya (trust)
Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal,
Faktor percaya adalah paling penting.Percaya didevinisikan sebagai
mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki,
yang pencapaiannya tidak pasti dalam situasi yang penuh resiko. Ada 3
Unsur percaya :
a. Ada situasi yang menimbulkan resiko. Bila orang menaruh
kepercayaan kepada seseorang, ia akan menghadapi resiko. Resiko itu
dapat berupa kerugiaan yang anda alami.
b. Faktor yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti
menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung kepada orang lain
c. Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik
baginya.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap percaya:


a. Karakteristik dan maksud orang lain. Orang yang menaruh
kepercayaan kepada orang yang dianggap memiliki kemampuan,
keterampilan atau pengalaman dalam bidang tertentu.
b. Hubungan kekuasaan. Percaya apabila orang-orang mempunyai
kekuasaan terhadap orang lain.
c. Sifat dan kualitas komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, bila
maksud dan tujuan sudah jelas, ekspektasi sudah dinyatakan maka
akan tumbuh sikap percaya.

Ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau
mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya :
a. Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tampa
menilai dan berusaha mengendalikan. Menerima adalah sikap melihat
orang lain sebagai manusia, sebagai individu yang patut dihargai.
9

b. Empati adalah memahami orang lain yang tidak mempunyai arti


emosinal bagi kita, sebagai keadaan ketika pengamat bereaksi secara
emosional karena ia menanggapi orang lain siap mengalami suatu
emosional.
c. Kejujuran adalah faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya.
Kejujuran mengakibatkan perilaku kita dapat diduga, ini mendorong
orang-orang untuk percaya pada kita.
2. Sikap suportif
Sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersifat
defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis. Sudah jelas
dengan sikap defensif komunikasi interpersonal akan gagal, karena orang
defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang
ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbang memahami pesan orang
lain. Perilaku Defensif dan Suportif dari Jack Gibb :
a. Evaluasi dan Deskripsi. Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain,
memuji atau mengancam. Deskripsi artinya penyampaian pesan dan
persepsi antara tampa menilai.
b. Control dan Orientasi Masalah. Perilaku kontrol adalah berusaha
untuk mengubah orang lain, mengendalikan perilakunya, mengubah
sikap, pendapat dan tindakannya.
c. Strategi dan spontanitas. Stategi adalah penggunaan tipuan-tipuan atau
manipulasi untuk mempengaruhi orang lain.
d. Netralitas dan Empati. Netralitas berarti sikap inpersonal
memperlakukan orang lain tidak sebagai persona, melainkan sebagi
objek.
e. Superioritas dan Persamaan. Superioritas berarti sikap menunjukkan
anda lebih tinggi atau lebih baik dari pada orang lain karena status,
kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan atau kecantikan.
f. Kepastian dan Provisionalisme. Orang yang memiliki kepastian berarti
memiliki dogmatis, keinginan menang sendiri dan melihat
pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu
gugat
10

3. Sikap Terbuka
Sikap terbuka (open-mindedness) amat besar pengaruhnya dalam
menumbuhkan komunikasi yang efektif. Lawan dari sikap terbuka adalah
dogmatisme. Menurut Brooks dan Emmert dalam Jalaluddin Rakhmat
(2011), terdapat beberapa karakteristik sikap terbuka dan dogmatis.
Karakteristik orang yang dogmatis atau bersikap tertutup :
a. Menilai pesan berdasarkan motif pribadi. Orang dogmatis tidak akan
memperhatikan logika suatu proposisi, ia lebih banyak melihat
dan membaca sejauh mana proposisi itu sesuai dengan dengan dirinya.
Argumentasi yang obyektif, logis, cukup bukti akan ditolak mentah-
mentah. “Pokoknya aku tidak percaya” begitu sering diucapkan orang
dogmatis. Setiap pesan akan dievaluasikan berdasarkan desakan dari
dalam diri individu (inner pressures). Rokeach menyebut desakan ini,
antara lain, kebiasaan, kepercayaan, petunjuk perseptual,
motif egoirasional, hasrat berkuasa, dan kebutuhan untuk
membesarkan diri. Orang tua dogmatis sukar menyesuaikan dirinya
dengan perubahan lingkungan.
b. Berpikirnya simplistis. Bagi orang dogmatis, dunia ini hanya hitam
dan putih, tidak ada kelabu. Ia tidak sanggup membedakan yang
setengah benar setengah salah, yang tengah-tengah. Baginya kalau
tidak salah, ya benar. Tidak mungkin ada bentuk antara. Dunia dibagi
dua: yang pro-kita dimana segala kebaikan terdapat, dan kontra-kita
dimana segala kejelekan berada.
c. Berorientasi pada sumber. Bagi orang dogmatis yang paling penting
ialah siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan. Ia terikat
sekali pada otoritas yang mutlak. Ia tunduk pada otoritas, karena
seperti umumnya orang dogmatis ia cenderung lebih cemas dan
mempunyai rasa tidak aman yang tinggi.
d. Mencari informasi ia akan mencari dari sumber-sumbernya sendiri.
Orang-orang dogmatis hanya mempercayai sumber informasi mereka
sendiri. Mereka tidak akanmeneliti tentang orang lain dari sumber
yang lain. Pemeluk aliran agama yang dogmatis hanya mempercayai
11

penjelasan tentang keyakinan aliran lain dari sumber-sumber yang


terdapat pada aliran yang dia anut.
e. Secara kaku mempertahankan dan membela sistem kepercayaannya.
Berbeda dengan orang terbuka yang menerima kepercayaannya secara
provisional, orang dogmatis menerima kepercayaannya secara
mutlak. Orang dogmatis kuatir, bila satu butir saja dari kepercayaanya
yang berubah, ia akan kehilangan seluruh dunianya. Ia akan
mempertahankan setiap jengkal dari wilayah kepercayaanya sampai
titik darah penghabisan.
f. Tidak mampu membiarkan inkonsistensi. Orang dogmatis tidak
tahan hidupdalam suasana inkonsisten. Ia menghindari kontradiksi
atau benturan gagasan. Informasi yang tidak konsisten dengan
desakan dari dalam dirinya akan ditolak, didistorsi, atau tidak
dihiraukan sama sekali.
Agar komunikasi interpersonal yang kita lakukan melahirkan hubungan
interpersonal yang efektif, dogmatisme harus digantikan dengan sikap
terbuka.Tentu, bersama-sama dengan sikap percaya dan sikap sportif.Sikap
terbuka mendorong timbulnya saling pengertian, saling menghargai, dan –
yang paling penting- saling mengembangkan kualitas hubungan kita sendiri.

2.1.4. Faktor – faktor personal yang Mempengaruhi Atraksi Interpersonal


Orang – orang yang memiliki kesamaan dalam nilai nilai, sikap, keyakinan,
tingkat sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Reader dan
englosh mengukur kepribadian subjek – subjeknya dengan rangkaian tes
kepribadia. Diketemukan, mereka yang bersahabat menunjukan korelasi yang erat
dalam kepribadiannya . penelitian tentang pengaruh kesamaan ini banyak
dilakukan dengan berbagai kerangka teori.
Menurut teori Cognitive Consistency dari Fritz Heider, manusia selalu
berusaha mencapai konsisten dalam sikap dan perilakunya. Kata Heider, “…kita
cenderung menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang samadengan
kita, dan jika kita menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama
dengan kita.”
12

Asas kenyamaan ini pada kenyataan bukanlah satu – satunya determinan


atraksi. Atraksi interpersonal akhirnya merupakan gabungan dari efek keseluruhan
interaksi di antara individu . walaupun begitu, bagi komunikator, lebih tepat untuk
memulai komunikasi dengan mencari kesamaan diantara semua peserta
komunikasi. Berikut adalah faktor personal yang mempengaruhi atraksi
interpersonal:
1. Tekanan emosional (stress)
Schachter menyimpulkan bahwa situasi penimbul cemas meningkatkan
kebutuhan akan kasih sayang. Orang – orang yang pernah mengalami
penderitaan bersama – sama akan membentuk kelompok yang bersolidaritas
tinggi. Ada orang menafsirkan penelitian ini lebih lanjut.
2. Harga diri yang rendah
Menurut wlster dalam jalaluddin rakhmat ( 2011 ) bila harga diri seseorang
direndahkan, hasrat afiliasi (bergabung dengan orang lain) bertambah, dania
makin responsive untuk menerima kasih sayang orang lain. Orang yang
rendah diri cenderung mudah mencintai orang lain
3. Isolasi social
Manusia adalah makhluk social. Manusia mungkin tahan dengan hidup
terasing untuk beberapa waktu dan bukan untuk waktu yang lama. Isolasi
social merupakan pengalaman yang tidak enak. beberapa penelitian
menyimpulkan bahwa tingkat isolasi sosisal sangat berpengaruh terhadap
kesukaan kita kepada orang lain.
13

2.1.5. Teori Hubungan Antapribadi (Interpersonal Relationship)


a. Memahami Hubungan Antarpribadi
Di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, hubungan antarpribadi
memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan masyarakat, terutama
ketika hubungan antarpribadi itu mampu memberi dorongan kepada orang tertentu
yang berhubungan dengan perasaan, pemahaman informasi, dukungan, dan
berbagai bentuk komunikasi yang memengaruhi citra diri orang serta membantu
orang untuk memahami harapan-harapan orang lain.
Komunikasi antarpribadi dalam keluarga dan tempat kerja yang penuh
ketegangan, bisa jadi meningkatkan kemungkinan seseorang untuk terserang
stroke, hipertensi, dan berbagai penyakit lainnya.Sebaliknya pasangan suami istri
yang saling mencintai dan mereka yang memiliki jaringan teman yang
menyenangkan cenderung terhindar dari hipertensi.Uraian ini menunjukkan,
bahwa manusia tidak dapat menghindar dari jalinan hubungan dengan sesamanya.
Kita memiliki kadar yang berbeda dalam membutuhkan orag lain, demikian pula
mengenai nilai penting kuantitas dan kualitas hubungan antarpribadi. Meskipun
demikian, secara pasti dapat dikatakan bahwa kita memerlukan hubungan
antarpribadi. Bagian berikut akan membahas teori-teori mengenai pengembangan,
pemeliharaan, dan mengakhiri hubungan (Reardon, 1987: 159, Sendjaja,
2001:2.39).
b. Teori – teori pengembangan hubungan
Pemahaman mengenai hubungan merupakan suatu aspek penting dari studi
tentang komunikasi antarpribadi, karena hubungan berkembang dan berakhir
melalui komunikasi.Para ahli mencoba untuk menentukan bagaimana hubungan
terbentuk dan bagaimana hubungan berakhir.
1. Self Disclosure
Proses pengungkapan diri (self disclosure) adalah proses pengungkapan
informasi diri pribadi seseorang kepada orang lain atau sebaliknya.
Pemngungkapan diri merupakan kebutuhan seseorang sebagai jalan keluar
atas tekanan-tekanan yang terjadi pada dirinya.Proses pengungkapan diri
dilakukan dalam dua bentuk.
14

a. Dilakukan secara tertutup


Yaitu seseorang mengungkapkan informasi diri kepada orang lain
dengan cara sembunyi-sembunyi melalui ungkapan dan tindakan,
dimana ungkapan dan tindakan itu merupakan sebuah keterbukaan
tentang apa yang terjadi pada diri seseorang. Namun cara
pengungkapan diri semacam ini jarang dipahami orang lain, kecuali
orang lain memiliki perhatian terhadap orang yang melakukan
pengungkapan diri itu.
b. Dilakukan secara terbuka
Keterbukaan diri bersifat resiprokal ( timbal balik ), terutama pada
tahap awal dalam suatu hubungan kedua belah pihak biasanya akan
saling antusias untuk membuka diri, dan keterbukaan ini bersifat
timbale balik . akan tetapi semakin dalam wilayah yang pribadi,
biasanya keterbukaan tersebut semakin berjalan lambat, tidak secepat
pada tahap awal hubungan mereka. Dan juga semakin tidak bersifat
timbal balik.
2. Social Penetration
Altman dan Taylor (1973, Sendjaja, 2002: 2.42) mengemukakan suatu
model perkembangan hubungan yang disebut social penetration atau penetrasi
social yaitu proses dimana orang saling mengenal satu sama lainnya. Model ini
selain melibatkan self disclosure juga menjelaskan bagaimana harus melakukan
self disclosure dalam perkembangan hubungan.Penetrasi social merupakan prses
yang bertahap, dimulai dari komunikasi basa basi yang tidak akrab dan terus
berlangsung hingga menyangkut topic pembicaraan yang lebih pribadi dan akrab,
seiring dengan berkembangnya hubungan
3. Process View
Process View menganggap bahwa kualitas dan sifat hubungan dapat
diperkirakan hanya dengan menggunakan atribut masing-masing sebagai individu
dan kombinasi antara atribut-atribut tadi. Hubungan intensif antara orang-orang
dalam kelompok primer dapat menyebabkan lahirnya process view.Jadi,
umpamanya suami istri memahami perilaku masing-masing, istri memahami
makna senyum suami, sedangkan suami juga memahami kerutan istri.Namun
15

pemaknaan makna itu berhubungan secara spesifik dengan objek tertentu. Jadi
umpamanya pemahaman istri terhadap senyuman suami itu ketika suami
menyentuh istri, begitu pula pemaknaan suami terhadap senyum istri ketika
berada di toko pakaian. Atribut yang sama yaitu “senyuman”, namun memiliki
makna yang berbeda apabila dilakukan oleh orang dan objek serta situasi yang
berbeda. Process view membutuhkan waktu dalam memahami atribut-atribut yang
digunakan di antara orang-orang dalam kelompok primer itu.
4. Social Exchange
Teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan,
dimana hubungan itu memengaruhi kontribusi orang lain. Thibaut dan Kelly,
(Sendjaja, 2002: 2.43) pencetus teori ini, megemukakan bahwa orang
mengevaluasi hubungannya dengan orang lain dengan mempertimbangkan
konsekuensinya, khususnya terhadap ganjaran yang diperoleh dan upaya yang
telah dilakukan, orang yang memutuskan untuk tetap tinggal dalam hubungan
tersebut atau pergi meninggalkannya. Ukuran bagi keseimbangan pertukaran
antara untung dan rugi dalam hubungan dengan orang lain itu disebut comparison
levels, dimana apabila orang mendapatkan keuntungan dari hubungan dengan
orang lain, maka orang akan merasa puas dengan hubungan itu.
Sebaliknya, apabila orang merasa rugi berhubungan dengan orang lain
dalam konteks upaya dan ganjaran, maka orang cenderung menahan diri atau
meninggalkan hubungan tersebut. Biasanya dalam konteks hubungan ini,
seseorang memiliki banyak alternatifyang dapat diberikan dalam model
pertukaran social dimana pilihan-pilihan dan alternative tersebut memiliki ukuran
yang dapat ditoleransi seseorang dengan mempertimbangkan alternatif-alternatif
yang dia miliki.
Selain model diatas ada sejumlah model untuk menganalisis hubungan
interpersonal seperti yang di ikhtisarkan oleh Goleman dan Hammen (1974: 224
231) terdapat empat buah model:
1. Model pertukaran social (social exchange model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi
dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapka sesuatu
yang memenuhi kebutuhannya. Model ini sama seperti halnya yang
16

diungkapkan oleh Thibaut dan Kelley di sudah dijelaskan diatas dimana


mereka mengatakan bahwa empat konsep pokok dalam teori ini adalah
ganjaran, biaya, laba dan tingkat perbandingan.
a. Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai postif yang diperoleh
seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, penerimaan
social, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu
ganjaran berbeda beda antara seseorang dengan yang lain, dan
berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain.
b. Biaya adalah akibat yang dinilai negative, yang terjadi dalam suatu
hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan,
dan keruntuhan harga diri dan kondisi kondisi lain yang dapat
menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan
efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun
berubah ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di
dalamnya.
c. Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang indovidu
merasa dalam suatu hubungan interpersonal bahwa ia tidak
memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang
mendatangkan laba.
d. Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang
dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu
sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada
masa lalu atau alternative hubungan lain yang terbuka baginya. Bila
pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan interpersonal
yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun. Makin bahagia
seseorang pada hubungan interpersonal sebelumnya, makin tinggi
tingkat perbandingannya yang berarti makin sukar untuk memeroleh
hubungan interpersonal yang memuaskan.
2. Model peranan (role model)
Model peranan memandang hubungan interpersonal sebagai panggung
sandiwara.Di sini setiap orang harus memainkan peranannya sesuai naskah
yang telah dibuat di masyarakat.Hubungan interpersonal berkembang baik
17

bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspedisi peranan (role


expectation) dan tuntutan peranan (role demands), memiliki keterampilan
peranan (role skills), dan terhindar dari konflik peranan dan kerancuan
peranan.
Ekspektasi peranan mengacu pada kejiwaan, tugas, dan hal yang berkaitan
dengan posisi tertentu dengan kelompok. Guru diharapkan berperan sebagai
pedidik yang bermoral dan menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya.
Tuntutan peranan adalah desakan social yang memaksa individu untuk
memenuhi peranan yang telah dibebankan kepadanya.Desakan social dapat
berwujud sebagai sanksi social dan dikenakan bila individu menyimpang
dari peranannya.
Keterampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan
tertentu.Kadang-kadang disebut juga kompetensi social (social competence).
Disini, sering dibedakan antara keterampilan kognitif dan keterampilan
tindakan. Keterampilan kognitif menunjukkan kemampuan individu untuk
memersepsi apa yang diharapkan orang lain dari dirinya – ekspektasi
peranan. Keterampilan tindakan menunjukkan kemampuan melaksanakan
peranan sesuai dengan harapan harapan ini. Dalam kerangka kompetensi
social, keterampilan peranan juga tampak pada kemampuan “menangkap”
umpan balik dari orang lain sehingga dapat menyesuaikan pelaksanaan
peranan sesuai dengan harapan orang lain. Hubungan interpersonal amat
bergantung pada kompetensi social ini.
Konflik peranan terjadi bila individu tidak sanggup mempertemukan
berbagai tuntutan peranan yang kontradiktif, misalnya seorang bapak yang
berperan juga sebagai polisi untuk menangani perkara anaknya, atau wanita
muda yang memainkan peran istri, ibu, dan pengacara sekaligus.Atau bila
individu merasa bahwa ekspektasi peranan tidak sesuai dengan nilai-nilai
yang dianutnya dan konsep diri yang dimilikinya.Agak dekat dengan
konflik peranan ialah kerancuan peranan.Ini terjadi bila individu berhadapan
dengan situasi ketika ekspektasi peranan tidak jelas baginya.
18

3. Model permainan (the “games people play” model)


Model ini bersal dari psikiater Erie Berne (1964, 1972) yang
menceritakannya dalam buku Games People Play.Analisinya kemudian
dikenal dengan analisis transaksional.Dalam model ini, orang-orang
berhubungan dalam bermacam-macam permainan.Mendasari permainan ini
adalah tiga bagian kepribadian manusia – orang tua, orang dewasa, dan anak
(parent, adult, child).Orang tua adalah aspek kepribadian yang merupakan
asumsi dan perilaku yang kita terima dari orang tua kita atau orang yang kita
anggap orang tua kita.Orang dewasa adlah bagian kepribadian yang
mengolah informasi secara rasional, sesuai dengan situasi, dan biasanya
berkenaan dengan masalah-masalah penting yang memerlukan pengambilan
keputusan secara sadar.Anak adlah unsur kepribadian yang diambil dari
perasaan dan pengalaman kanak-kanak dan mengandung potensi intuisi,
spontanitas, kreativitas, dan kesenangan.
Dalam hubungan interpersonal, kita menampilakam salah satu aspek
kepribadian kita (orang tua, orang dewasa, anak) dan orang lain
membalasnya dengan salah satu aspek tersebut juga.
4. Model interaksional (interactional model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu system. Setiap
system memiliki sifat-sifat structural, integrative, dan medan. Semua
system, terdiri dari subsistem-subsistem yang saling bergantung dan
bertindak bersama sebagai satu kesatuan.Untuk memahami system kita
harus melihat struktur.Selanjutnya semua system mempunyai
kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan satu kesatuan.
Hubungan interpersonal dapat dipandang sebagai system dengan sifat-
sifatnya.Untuk menganalisanya kita harus melihat pada karakteristik
individu-individu yang terlibat, sifat-sifat kelompok, dan sifat-sifat
lingkungan.Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama,
metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan
yang dilakukan.Dengan singkat, model interaksional mencoba
menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
19

2.2. Keluarga
Menurut Goode (Fitrianto, 2010:3) menyatakan sebuah keluarga adalah
sebuah lembaga atau institusi yang sah dalam masyarakat yang terdiri dari
pribadi-pribadi yang membentuk suatu jaringan sosial serta mempunyai
peranannya masing-masing.
Keluarga adalah sebagai sebuah institusi yang terbentuk karena ikatan
perkawinan. Pada dasarnya keluarga itu adalah sebuah komunitas dalam “satu
atap”. Kesadaran untuk hidup bersama dalam satu atap sebagai suami-istri dan
saling interaksi dan berpotensi punya anak akhirnya membentuk komunitas baru
yang disebut keluarga. Jadi, keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu
kesatuan sosial yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak yang belum dewasa
(Djamarah, 2004:16-17).
Hubungan Anak Dan Orangtua Dalam Keluarga Menurut Sutcliffe,
hubungan anak dengan orang tua merupakan sumber emosional dan kognitif bagi
anak. Hubungan 10 tersebut memberi kesempatan bagi anak untuk
mengeksplorasi lingkungan maupun kehidupan sosial. Hubungan anak pada
masamasa awal dapat menjadi model dalam hubungan-hubungan selanjutnya.
Hubungan awal ini dimulai sejak anak terlahir ke dunia, bahkan sebetulnya sudah
dimulai sejak janin berada dalam kandungan (Ervika, 2005:2).
Dalam pandangan psiko analitik kuno, yang agak sukar untuk untuk
dibuktikan secara jelas tetapi sesuai dengan banyak penelitian secara wajar, ialah
bahwa anak kecil akan mengakhiri masa kanak-kanaknya dengan mengikat diri
secara emosional pada orang tua yang berlainan jenis. Yaitu, anak laki-laki secara
emosional lebih terikat pada ibunya, sedangkan anak perempuan lebih terikat pada
ayahnya. Hubungan itu memberikan kepuasan kepada kedua belah pihak (Goode,
2004:158).

2.2.1. Orang Tua


Secara etimologi, istilah orang tua menurut kamus bahasa Indonesia,
mencakup ayah ibu kandung, orang yang dianggap tua (cerdik, pandai, ahli, dan
sebagainya, orang yang dihormati (dianggap tua) di kampung, tertua. Orang tua
memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan dan mempersiapkan
20

anak menuju kedewasaan dengan memberikan bimbingan dan pengarahan yang


dapat membantu anak dalam menjalani kehidupan. Menurut M.Arifin adalah
orang yang menjadi pendidik dan membina yang berbeda di lingkungan keluarga.
Orang tua dalam konteks penelitian ini ialah orang tua yang memiliki peran yang
fundamental untuk membentuk karakter dan kepribadian seorang anak untuk tidak
melakukan kekerasan, begitu pula pada anak yang memiliki sifat agresif dan anak
yang jauh dari perilaku kekerasan.

2.2.2. Anak
Anak menurut bahasa adalah keturunan kedua sebagai hasil antara
hubungan pria dan wanita. Dalam konsideran Undang-Undang No. 23 Tahun
2002 tentang perlindungan anak, dikatakan bahwa anak adalah amanah dan karuni
Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai
manusia seutuhnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda
penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri
dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada
masa depan. Oleh karena itu agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung
jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk
tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan
berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan
kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya
serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi.
Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa pembuat undang- undang
(DPR dan Pemerintah) memiliki politik hukum yang responsif terhadap
perlindungan anak. Anak ditempatkan pada posisi yang mulia sebagai amanah
Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki peran strategis dalam menjamin
kelangsungan eksistensi negara ini. Melalui UU No. 35 tahun 2014 tersebut,
jaminan hak anak dilindungi, bahkan dibentuk Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) yang memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan efektivitas
perlindungan anak.
21

2.2.3. Komunikasi Keluarga


Komunikasi interpersonal menurut DeVito (1997) memiliki lima aspek,
yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung
(supportiveness), sikap positif (positiveness) dan kesetaraan (equality). Dimana
dari masing-masing aspek dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Keterbukaan adalah kemauan ibu dan anak untuk menanggapi dengan
senang hati informasi yang diterima disaat berkomunikasi. Berdasarkan
hasil wawancara dari empat belas ibu dari kelas 6 “SD X” Bandung
ditemukan bahwa ibu kurang terbuka pada anaknya, yaitu ibu merasa
enggan untuk berkomunikasi dengan anaknya ketika ibu sedang lelah atau
sedang mengerjakan pekerjaan rumah, ibu juga tidak memperdulikan anak
ketika anak meminta ibu untuk menemaninya mengerjakan tugas dari
sekolah.
2. Aspek kedua dari komunikasi interpersonal adalah aspek empati (empathy).
Empati adalah merasakan apa yang dirasakan. Dimana ibu dan anak dapat
memahami apa yang rasakan dan alasan dari perilaku tertentu yang
ditampilkan. Kemampuan ibu memahami kondisi anak dapat ditampilkan
melalui perilaku mengenali dan mengetahui hal-hal yang menyebabkan anak
dalam kondisi tertentu. Dengan pemahaman ibu akan apa yang dirasakan
oleh anak diharapkan dapat membantu ibu dalam memenuhi kebutuhan anak
dengan sesuai. Berdasarkan hasil wawancara terhadap empat belas ibu dari
kelas 6 SD X, 6 Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha
Bandung, ditemukan bahwa ibu kurang memiliki rasa empati terhadap
anaknya, yaitu ibu memaksa anak segera mengerjakan tugas sekolahnya
setibanya anak pulang sekolah, memarahi anak ketika ia tidak mau belajar,
memarahi anak ketika bangun kesiangan dan terkadang ibu tidak segan-
segan untuk memukul anaknya agar bangun pagi.
3. Aspek ketiga dari komunikasi interpersonal adalah aspek dukungan
(supportiveness). Aspek ini adalah, Dimana ibu dan anak dapat menciptakan
situasi yang mendukung (menyenangkan) agar terjalin komunikasi
interpersonal yang efektif. Dengan adanya terciptanya situasi yang
menyenangkan ketika melakukan proses komunikasi, diharapkan ibu dan
22

anak dapat merasa nyaman dan aman sehingga terdorong untuk selalu
melakukan kegiatan komunikasi yang efektif. Berdasarkan hasil wawancara
terhadap empat belas ibu dari anak kelas 6 SD X, Bandung ditemukan
bahwa ibu yang kurang bisa menciptakan suasana yang nyaman ketika
berkomunikasi dengan anak, ibu cenderung memaksa ketika meminta anak
untuk menjaga / menemani adiknya bermain dan si ibu sedang mengerjakan
pekerjaan rumah yang lain (memasak, membersihkan rumah, memcuci dan
misal ketika sedang menyetrika).
4. Aspek keempat dari komunikasi interpersonal adalah Ibu dan anak harus
memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong agar lebih aktif
berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi
yang efektif. Dalam penelitian ini, ibu memiliki penilaian diri yang positif
(baik) dan optimisme untuk dapat mendidik atau membimbing anaknya
yang sesuai dengan kondisi anak sehingga komunikasi ibu dan anak menjadi
lebih efektif. 7 Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha
Berdasarkan hasil wawancara dari empat belas ibu anak kelas 6 SD X,
Bandung, ditemukan bahwa ibu kurang memiliki perasaan positif terhadap
dirinya sendiri, misalnya ibu merasa bersalah karena anaknya kurang
berprestasi dan ibu merasa tidak mampu dalam mendidik anak. Hal ini
berdampak kepada emosi ibu, jika anak mendapatkan nilai rendah, sebagian
ibu ada yang memarahi anak dan sebagian lainnya bahkan menyalahkan diri
sendiri dengan cara menangis.
5. Aspek kelima dari komunikasi interpersonal adalah kesetaraan (equality),
yaitu Pengakuan bahwa ibu dan anak memiliki kepentingan, kedua pihak
samasama bernilai dan berharga dan saling memerlukan, sehingga ketika
menjalin komunikasi interpersonal ibu dapat tampil sebagai seorang
individu yang memberikan perasaan aman dan nyaman bagi anak, dan ibu
dapat memposisikan dirinya sebagai teman dan sahabat bagi anaknya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada empat belas ibu dan
anak kelas 6 SD X, Bandung ditemukan bahwa ibu kurang menghargai
pendapat anak, ibu memarahi anak jika anak memberikan alasan mengapa ia
23

pulang telat sekolah dan ibu tidak memberikan kesempatan kepada anak
untuk mengungkapkan pendapatnya.

2.2.4. Komunikasi Interpersonal Orangtua-anak


Komunikasi yang terjalin antara orangtua dan anak dalam suatu ikatan
keluarga bersifat dua arah, disertai dengan pemahaman bersama terhadap suatu
hal yakni antara orangtua dan anak berhak menyampaikan pendapat, pikiran,
informasi atau nasehat. Oleh karena itu, hubungan yang terjalin dapat
menimbulkan kesenangan yang berpengaruh pada hubungan orangtua-anak agar
hubungan menjadi lebih baik. Hubungan komunikasi yang efektif ini terjalin
karena adanya rasa keterbukaan, empati, dukungan, perasaan positif serta
kesamaan orangtua dan anak.
Komunikasi interpersonal yang efektif antara orangtua-anak dapat terjalin
apabila orangtua dapat menyediakan waktu luang yang cukup untuk percakapan
yang sifatnya pribadi terhadap anak. Sebab dengan adanya waktu bersama,
barulah keintiman dan keakraban dapat diciptakan antara anggota keluarga. Rasa
asing terhadap anak tentu akan hilang dan masalah-masalah yang dirasakan anak
akan lebih mudah diketahui dan diatasi.
Keterampilan orangtua dalam berkomunikasi dapat menciptakan iklim
persahabatan yang hangat, sehingga anak merasa aman bercerita dengan
orangtuanya. Menurut Thomas Gordon, salah satu cara komunikasi yang efektif
dan konstruktif dalam menghadapi ungkapan perasaan dan persoalan anak adalah
membuka pintu atau mengundang anak untuk berbicara lebih banyak. Membuka
pintu atau mempersilahkan berbicara dapat memudahkan komunikasi. Mendorong
anak untuk mulai atau meneruskan bicara (Sobur,1985).
Komunikasi interpersonal orangtua merupakan komunikasi antara suami
dan istri yang lebih menekankan pada peran penting suami dan istri sebagai
penentu dalam keluarga. Keluarga dengan anggota keluarga, ayah, ibu, dan anak.
Komunikasi antar anggota keluarga yang terpenting adalah komunikasi
orang tua dengan anak. Komunikasi yang harmonis antara orang tua dan anak
adalah komunikasi yang penuh pengertian dan kasih saying, disertai bimbingan
dan bila perlu hukuman-hukuman untuk menyukseskan belajar anak sendiri.
24

Orang tua harus menciptakan suasana rumah menjadi tenang dan tentram
sehingga anaknya betah dan bergairah untuk belajar. Disamping itu yang tidak
kalah pentingnya adalah bagaimana orangtua mengkomunikasikan kebutuhan
fasilitas untuk anak.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa komunikasi orang tua sangat diperlukan
untuk lebih menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya baik sebagai orang tua
maupun sebagai pendidik. Karena itu, komunikasi orang tua sebagai pendidik
meliputi kesadaran akan kemajuan pendidikan anak, keterlibatan dalam kegiatan
belajar anak dirumah maupun diluar sekolah
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang
positif antara komunikasi interpersonal orangtua-anak yang artinya remaja awal
yang memiliki komunikasi interpersonal orangtu-anak yang baik akan mengalami
penyesuaian diri yang baik, sebaliknya remaja awal yang memiliki komunikasi
interpersonal orangtua-anak yang buruk akan megalami penyesuaian diri yang
buruk juga.

3.2. Saran
Ada beberapa saran yang ingin peneliti sampaikan didalam penelitian
ini.saran-saran tersebut antara lain:
1. Untuk remaja awal Komunikasi interpersonal orangtua dan anak yang
terjalin dengan baik akan menimbulkan penyesuaian diri yang baik pula
pada remaja awal. Remaja awal diharapkan dapat menjalin komunikasi yang
baik dengan orangtua agar dapat mengatasi permasalahan yang berkaitan
dengan penyesuaian dirinya.
2. Untuk orangtua Komunikasi interpersonal orangtua dan anak mempengaruhi
penyesuaian diri remaja awal. Saran dari penulis, utuk keluarga terutama
orangtua dapat membantu remaja dalam mengatasi permasalahan yang
berkaitan dengan penyesuaian diri remaja untuk dapat bersikap terbuka,
berempati dengan permasalahan remaja dan saling bertukar pikiran.
3. Untuk peneliti selanjutnya Berdasarkan hasil penelitian ternyata komunikasi
interpersonal orangtuaanak hanya memberikan sebagian terhadap
penyesuaian diri remaja awal, sehingga diperkirakan masih ada faktor lain
lebih besar yang juga berpengaruh terhadap penyesuaian diri remaja awal.

25
26

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Rita. 1999. Pengantar Psikologi. Jakarta:Erlangga.


Azwar, Saifuddin. 2000. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. . 2004. Metodelogi Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. . 2007.
Dasar-Dasar Psikomteri. Yogykarta : Pustaka Pelajar. ______________.
2009. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fahmy M. 1982. Penyesuaian Diri, Terjemahan Oleh Zakiah Drajat. Jakarta:
Bulan Bintang.
Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan, Perkembangan Peserta Didik.
Bandung: CV. Pustaka Setia.
Gerungan,W.A. 1996. Psikologi Sosial, Cetakan ke-13 Edisi ke-2. Bandung:
Eresco.
Gunarsa, Singgih. 1995. Psikologi Remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
______________. 1995. Psikologi perawatan. Jakarta: Gunung Mulia.
Haber & Runyon. 1984. Psychology of Adjustment. The Dorsey pers.
Hadi, Sutrisno. 2004. Statistik. Jilid dua. Yogyakarta: Andi.
Hartono. 2005. SPSS Analisis Data Statistik Dan Penelitian Dengan Komputer.
Yogyakarta: Aditya Media LSFK2P.
Hurlock,E.B. 1980. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Indriyani. 2007. Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Anak
Dengan Rasa Percaya diri Remaja Putri Awal SMPN 3 Salatiga.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/wrdpdfe/index/assoc/HASH343e.di
r/doc.pdf. diakses pada tgl 25 januari pukul 14:25.
Jayati, S. D. 2007. Hubungan Komunikasi Interpersonal Orangtua Dan Anak
Dalam Menyampaikan Ajaran Agama Islam Dengan Sikap Terhadap Ajaran
Agama Islam Pada Remaja Di Kelurahan Delima Kecamatan Tampan
Pekanbarui. Skripsi (tidak dipublikasikan). Pekanbaru: Fakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti.
27

Monks, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan, Pengantar dalam Berbagai


Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mulyana, Dedy. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Rahmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Raudatussalamah,dkk. 2007. Hubungan Antara Pola Asuh Orangtua Dengan
Penyesuaian Diri Remaja Awal Pada Masyarakat Di Desa Pangkalan Jambi
Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis. Jurnal Psikologi Volume 3 no
2 desember 2007(Tidak dipublikasikan). Riau: Fakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Sobur, Alex. 1985. Komunikasi Orangtua dan Anak. Bandung. Angkasa.